TS
Ariel.Matsuyama
[FanFic] Kamen Rider Blitzer
![[FanFic] Kamen Rider Blitzer](https://dl.kaskus.id/ic.pics.livejournal.com/arielmatsuyama/83052924/5659/5659_900.png)
Kamen Rider Blitzer (仮面ライダー ブリッツァー)
Genre:Action | Drama | Adventure
Quote:
ATTENTION:
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Spoiler for List Episode:
Episode 1: Hobi Membunuh
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
Spoiler for Realms:
*Theme Song
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
Quote:
Cerita ini juga diterbitkan di: WATTPAD
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 08-02-2020 18:50
0
12.1K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#45
Spoiler for Episode 15 Act 2:
Komplek Hanabi, Kota Zippon - Jepang, pukul 22:55.
Hujan turun cukup deras. Di kamarnya, Izumi nampak sedang asyik menikmati sekaleng biskuit dan teh hangat sambil memainkan laptopnya. Sesekali, ia memikirkan kejadian di kampus tadi. 'Kapan sifat Ariel akan berubah? Apakah semua yang kulakukan masih belum cukup? Ataukah trauma Ariel masih belum menghilang hingga saat ini?' batinnya.
CTARR!! GRUDUK... GRUDUK...
"Ah!" kilat dan petir itu mengejutkan Izumi.
DRSSS...
Hujan terdengar semakin deras dan sesekali terdengar bunyi petir, dari suara gemerisik dahan pohon di luar sana dapat dipastikan angin juga berhembus tidak pelan. Sepuluh menit sudah Izumi berada di depan laptop. Sesekali, ia menguap, dan kantuk mulai menyerangnya.
TOK! TOK! TOK!
Di sela bunyi derasnya
hujan samar-samar Izumi dapat mendengar suara ketukan, 'sepertinya dari pintu depan, tapi mana mungkin di tengah derasnya hujan begini ada orang bodoh yang mau bertamu,' batin Izumi. Ia lalu beranjak dari bangku, keluar kamar, lalu pergi ke lantai bawah dan menuju pintu depan.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu terdengar lagi.
Izumi mencoba berjalan tanpa suara dan mengintip di balik lubang pintu.
"Hah??" Izumi terkejut
melihat sosok yang ia kenal tengah berdiri di depan pintu, kedinginan.
TOK! TOK!
KRIEETT...
Izumi membuka pintu secara perlahan dan hanya setengah terbuka.
"A-Ariel?!"
CTARRR!!
"Kyaaa!" Izumi menjerit menutup kedua matanya terkejut.
"Kau masih mau membiarkanku berada di luar, eh?" kata Ariel dingin, sedingin cuaca hari ini.
"Ah, i-iya, masuklah," balas Izumi
"Hn."
"Ng, Ariel, sebaiknya
motormu kau letakkan di dalam pagar saja." Izumi
mengingatkan Ariel tentang motornya yang masih terparkir di jalanan.
"Baiklah," ucap Ariel.
Sementara Ariel memarkirkan motor, Izumi menyiapkan teh
untuk Ariel. Setelah selesai memarkirkan motornya, Ariel pun masuk menuju ruang tengah.
"Ini, minumlah!" Izumi menyodorkan secangkir teh yang masih mengepul ke hadapan Ariel.
Ariel menerimanya dan menyesap teh itu dalam keadaan basah kuyup, mungkin karena kelamaan di luar.
"Aku bisa meminjamimu baju kakakku kalau kau mau? Kebetulan aku punya kakak laki-laki," tawar Izumi ragu, mengingat Ariel adalah orang terpandang, rasanya dia tidak akan sudi memakai pakaian sederhana dari keluarga Izumi.
Ariel hanya diam tanpa berkata apa-apa.
"I-itu juga kalau kau mau." Izumi menunduk dan tersenyum kecut, mencoba mengerti keadaan yang ada.
"Baiklah." Ariel pun akhirnya mengeluarkan suara.
"Eh? Jadi kau mau?"
"Hn."
"Biar kusiapkan!" Izumi beranjak pergi menyiapkan handuk dan pakaian milik kakaknya yang akan dikenakan Ariel. "Silahkan, kamar mandinya sebelah kanan ya."
Tanpa berkata apapun
Ariel yang sudah menerima pakaian dari Izumi pergi menuju tempat yang Izumi tunjukkan.
"Kemana yang lain?"
suara Ariel yang sudah selesai berganti pakaian tiba-tiba
menyadarkan Izumi dari lamunan.
"Eh? Itu, ibuku sedang pergi ke rumah bibi, dan kakakku sedang ada urusan di luar kota." Meski canggung, Izumi mencoba untuk tersenyum. "Ngomong-ngomong, kau sendiri kenapa bisa ada di komplek ini?"
"Sedang ada urusan dengan partner bisnisku, tapi dia tidak ada di rumah," jawab Ariel.
CEKLEK! CTARR!!
"Kyaaa!!" Lampu yang tiba-tiba padam dan suara petir mengejutkan Izumi, membuatnya menjerit, memejamkan kedua mata dan menutup telinga dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba, Ariel terpeleset.
DUK! DUK! BRUK!
"Aww! sakit!" Izumi merasakan tubuhnya ditubruk oleh sesuatu dan dapat Izumi rasakan hembusan napas menerpa
wajahnya, membuat wajah Izumi memanas dan rasanya ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Sekilas tercium aroma mint menguar, Ariel telah menindihnya.
"A-Ariel?" jantung Izumi berdebar tidak karuan, tapi ia merasa senang dan menikmati tindihan itu.
Dengan segera Ariel menyingkir dari atas tubuh Izumi.
"Hmm." Izumi hanya
bergumam dan segera
bangkit. 'Huh, padahal aku berharap lebih dari ini,' batinnya sambil memeletkan lidah.
"Kau, kenapa berteriak?" tanya Ariel.
"I-itu ... Aku... Aku takut gelap." Izumi menunduk dan suaranya terdengar lirih.
"Sebaiknya kita
menyalakan lilin atau semacamnya."
"Iya, tapi di dapur." kata Izumi ragu. "Se-sebenarnya a-aku takut untuk mengambilnya seorang diri."
"Kau ini pengecut sekali. Baiklah, kita ambil bersama." Suara Ariel kini terdengar lebih berat dari biasanya.
"Be-benarkah??"
"Ya."
"Baiklah."
Selama perjalanan ke dapur Izumi selalu berada di belakang punggung Ariel, bahkan tanpa sadar ia mengenggam bagian belakang kaos Ariel saat kilat dan petir menampakkan diri--yang sebenarnya--sedikit membantu mereka mencapai dapur dan menyalakan lilin.
Saat kembali ke ruang tengah mereka duduk berseberangan di sofa, saling berdiam diri memandangi lilin yang diletakkan di tengah meja. Izumi benar-benar tidak menyukai gelap. Gelap membuatnya terkekang dan sesak. Jika sendirian, biasanya Izumi memanggil ibunya
apabila tengah malam tiba-tiba listrik padam. Tapi sekarang tidak ada siapapun di sini kecuali Ariel.
"Kalau begini, aku akan tetap di sini
sampai listrik menyala," kata Ariel.
"Benarkah?" tanya Izumi meyakinkan.
Dalam temaram lilin, Izumi dapat melihat Ariel mengangguk.
"Terima kasih, maaf
merepotkan." Izumi
tersenyum lega mendengarnya.
CEKLEK!
"Ngh?" Sebuah sinar
mengejutkan mata Izumi yang tengah terpejam. Ia mengerjap sebentar, duduk dan berusaha mengingat apa yang terjadi. 'Syukurlah listrik sudah menyala,' batinnya. Ia menghela napas lega. "Ah, Ariel?" Ia
menemukan Ariel masih berada di tempatnya tengah berbaring lelap sekali.
"Ng, Izu..."
'Eh? Apa itu? Ariel menyebut namaku?' batin Izumi.
"Izu...mi..."
'Iya, dia menyebut namaku. Dia mengigau atau apa?' batin Izumi lagi.
"Ng..."
'Aneh, dia kenapa?' Izumi mendekati Ariel, mencermati wajahnya, pucat. Diletakkannya tangannya di kening Ariel.
'Astaga! Panas?! Dia pasti demam' Izumi sedikit panik menghadapinya, ditambah ini sudah larut malam. Jam dinding menunjukan pukul 23.20 dan di luar masih hujan meski tanpa kilat dan
petir. Ia mencoba untuk tenang, menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. 'Ok, air es, aku harus mengompresnya dengan air es!'
Secepat kilat Izumi menuju dapur dan kembali dengan membawa baskom berisi air es dan handuk kecil. Kemudian ia menyingkap rambut Ariel, menyisirnya ke belakang. Ia pun terkejut melihat tahi lalat di kening Ariel, sama persis seperti milik Arai.
"Ya ampun... Apa kau benar-benar Arai?" ucap Izumi dalam hati. Tak terasa air matanya meleleh. Namun, ia menggeleng cepat dan menyeka air matanya. Ia kemudian duduk di samping bawah sofa tempat Ariel tertidur, memeras handuk dan meletakkannya di kening Ariel.
"Izu...." Meski parau, dan lemah, Izumi masih dapat mendengar suara Ariel dengan
jelas.
"I-iya, Ariel...." Meski Izumi tahu menjawabnya adalah hal yang percuma tapi tetap ia lakukan karena berharap Ariel akan cepat sadar.
Tubuh Ariel menggigil meski panas ketika Izumi sentuh. Segera Izumi berlari menuju kamar dan membawakan Ariel selimut dari kamarnya dan menyelimuti pemuda itu. Setelah itu Izumi tertidur di samping bawah sofa tempat Ariel tidur.
Tak terasa pagi telah menjemput. Begitu bangun dari tidurnya, Izumi mendengar suara aneh.
KRUYUUUKK!
Sinar mentari yang menerobos celah jendela terasa menusuk mata Izumi. Ia mengerjap pelan berusaha untuk mengurangi intensitasnya.
KRUYUK! KRUYUUKK!!
"Uh!" Ariel mengeluh dan membalikan badannya memunggungi Izumi yang berada tepat di samping bawah sofa tempatnya tertidur.
"Eh? Pft, pfuahahah!" Izumi benar-benar tidak dapat menahan ledakan tawanya mengetahui kelakuan Ariel yang menurutnya benar-benar... Memalukan.
BUK!
"Aww! Sakit Ariel!" rintih Izumi, wajahnya dilempar bantal sofa oleh Ariel.
"Menyebalkan!" Ariel mendengus dan tidak lagi memunggungi Izumi.
"Haha, kau lucu Ariel. Kenapa tidak bilang padaku? Aku kan bisa membuatkan makanan untukmu." Izumi masih saja tidak habis pikir dengan kelakuan Ariel yang memilih menahan lapar dibanding
memberitahunya.
Ariel hanya terdiam
dan menyembunyikan wajahnya di lengan kirinya.
"Hey, bagaimana
keadaanmu? Apa kau merasa lebih baik? Semalam sepertinya kau terkena demam," tanya Izumi.
"Hn, lumayan," jawab Ariel.
"Emm, baiklah. Aku akan buatkan kau makanan, bagaimana jika bubur saja?"
"Ekstra tomat."
"Eh? Ekstra tomat? Kau suka tomat ya? Oke, bubur dengan ekstra tomat. Kuharap perutmu bisa sabar menunggu, hihi." Izumi tertawa kecil menggoda Ariel.
"Hentikan, Izu!"
Izumi kembali tertawa kecil. Setelah itu langsung pergi ke dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa semangkuk bubur dengan ekstra tomat.
"Ini, bubur ekstra tomat." Izumi lalu meletakkan semangkuk bubur hangat tersebut ke hadapan Ariel yang sudah terduduk ketika ia kembali.
"Hn."
'Lagi-lagi bergumam,' batin Izumi seraya memutar bola matanya bosan. 'Tunggu dulu, rasanya ada yang janggal, tapi apa ya?' Ia berpikir keras berusaha mengingat sesuatu yang sepertinya aku lupakan. "YA AMPUN, ARIEL!" Ia berteriak histeris, membuat Ariel tersedak karena terkejut mendengarnya.
"Uhuk! Uhuk! Ada apa?!" tanya Ariel ketus.
"Ini jam berapa?" tanya Izumi panik.
"Jam setengah sembilan, kenapa?" Masih dengan wajah tanpa dosanya, Ariel menjawab pertanyaan Izumi.
"Kita seharusnya sudah berada di kampus, Ariel," ucap Izumi menahan diri untuk tidak meledak karena sikap tenang Ariel yang justru membuatnya tidak tenang.
"Sudah terlambat. Lagipula ini hari Jum'at, pelajaran hanya sampai jam sebelas saja kan? Sisanya paling hanya main-main." Dengan enteng Ariel mengatakan class meeting sebagai main-main.
"Seenaknya saja kau ini! Uh, kau sih enak bisa dengan mudah menerima pelajaran, tapi bagaimana denganku?" Izumi memajukan bibirnya karena kesal dengan sikap Ariel yang meremehkan itu.
"Makanya, rajin-rajinlah belajar," ucap Ariel. Ia kemudian menaruh mangkuknya di meja, lalu berdiri. "Aku pulang dulu!"
"Baiklah!" Angguk Izumi. "Kapan-kapan kesini lagi yaa..."
Ariel hanya diam tak menanggapi. Ia berjalan keluar, diikuti oleh Izumi di belakangnya. Setelah sampai dekat pagar, Ariel menaiki motor sport merahnya dan keluar dari pagar yang tidak dikunci dari semalam itu, lalu ia langsung tancap gas. Bersamaan dengan itu, Izumi melambai-lambaikan tangannya ke arah Ariel.
Di tempat yang tidak jauh dari komplek Hanabi, Godai tengah dikejar-kejar oleh sosok yang mirip Kamen Rider Black RX, hanya saja seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali mulut, lensa matanya berwarna ungu gelap, dan tubuhnya terlihat ramping seperti tubuh wanita. Namanya adalah Yami RX.
DUKH!
Tiba-tiba kaki kanan Godai tersandung batu dan terjatuh. Ia terpaksa menyeret tubuhnya ke belakang, karena kaki kanannya terasa sakit dan keram.
"Inilah yang terjadi jika menghalangiku!" geram Yami RX dengan suara wanita. Ia lalu melompat ke arah Godai, mencoba menerkamnya.
Namun...
RRNNN!! DUAKH!!!
Sebuah sepeda motor terbang dan menabrak bagian kanan tubuh Yami RX hingga ia terlontar ke kiri serta terguling-guling di tanah. Di waktu yang hampir bersamaan, motor yang menabrak Yami RX berhenti di samping Godai. Rupanya yang menabrak adalah Ariel dengan motor sport merah kesayangannya.
"Ariel? Terimakasih," ucap Godai yang kemudian tersenyum.
"Dia ... Mirip RX," gumam Ariel sambil menatap Yami RX.
"Kau!" geram Yami RX sambil memandang Ariel dan kemudian berdiri. "Aku juga akan menghabisimu!"
"Silahkan jika kau mampu," balas Ariel. Ia kemudian mengambil Blitzdrive dari balik jaketnya, menempelkan benda itu di depan pinggangnya, lalu menekan permata bulat merahnya.
Tali sabuk besi perak dengan garis tebal hitam keluar dari kedua sisi Blitzdrive dan kemudian merekat di belakang pinggangnya, membentuk sebuah sabuk dengan Blitzdrive sebagai kepalanya.
Setelah itu, Ariel mengambil kartu bergambar Blitz Crest dari kotak sebelah kanan sabuknya, mengapitnya dengan jari telunjuk dan tengah kanannya, lalu menekuk lengannya tersebut ke arah kiri badannya, kemudian berteriak, "Henshin!!" Dan menurunkan lengan kanannya itu seraya memasukkan kartu yang diapitnya ke dalam lubang kotak tipis di permukaan atas kepala sabuknya.
Sinar hologram merah keluar dari Blitzdrive yang menyala terang dan memancar sejauh 1,5 meter. Sinar tersebut kemudian mundur ke arah Ariel, melapisinya, terserap ke dalam tubuhnya, dan mengubahnya menjadi Kamen Rider Blitzer. Lensa mata biru Blitzer berkedip ketika Ariel sudah berubah sepenuhnya.
"Revolcane!" seru Yami RX sambil mengepalkan tangannya sedikit di depan kepala sabuknya.
Sebuah gagang pedang yang ujungnya membulat muncul di genggaman tangan Yami RX. Ia lalu menarik gagang itu. Sebuah mata pedang laser berwarna ungu gelap yang tersambung pada ujung gagang yang membulat tadi perlahan keluar dari kepala sabuk Yami RX. Setelah itu, Yami RX langsung berlari menghampiri Blitzer. Saat itu, Blitzer sudah menggenggam Techno Blade di tangan kanannya.
Begitu mencapai jarak yang dapat dijangkaunya, Yami RX mengayunkan Revolcane ke arah dada Blitzer.
TRANK!!
Namun serangan itu berhasil ditahan oleh Blitzer dengan bilah Techno Blade miliknya.
Yami RX kembali mengayunkan Revolcane-nya. Blitzer pun sama. Akhirnya, mereka saling bertukar serangan fisik, entah itu sabetan pedang, pukulan, atau tendangan. Masing-masing dari mereka berusaha untuk tetap bisa berdiri di tempatnya. Masing-masing mengeluarkan serangan yang seolah tidak mengizinkan lawan mereka untuk bernapas. Entah kenapa pertarungan ini terus berlangsung dalam kondisi seimbang, di mana tidak jelas siapa yang memimpin atau siapa yang dalam posisi terjepit. Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama. Blitzer menemukan daerah yang terbuka di pertahanan Yami RX, setelah Yami RX gagal menyarangkan sabetan besarnya ke arah Blitzer. Blitzer pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan menyarangkan tendangan ke arah perut Yami RX yang terbuka, menyebabkan Yami RX terpental sejauh beberapa langkah ke belakang serta terguling di tanah.
Sampai Yami RX berhenti terguling dan berusaha berdiri kembali, Blitzer menekan permata merah di kepala sabuknya.
"POWER!!" Kepala sabuk Blitzer mengeluarkan suara. Permata di kepala sabuk itu mengeluarkan sinar yang terus menyala.
Bilah Techno Blade langsung dilapisi petir yang menyambar-nyambar. Tanpa membuang waktu, Blitzer langsung mengayunkan Techno Blade ke depan dengan kedua tangannya, membuat petir yang melapisi pedang itu melesat ke depan, mengarah persis ke Yami RX.
Akan tetapi, ketika petir tersebut hampir menghantam Yami RX, petir tersebut terlempar ke arah lain oleh sebuah sabetan pedang dari seseorang berjubah hitam hingga mengenai pilar sebuah rumah kosong dan membuat pilar tersebut hancur dan roboh. Orang itu adalah Darker dengan pedang bergagang perak terlilit kabel hitam dan batangnya berbentuk gir berwarna perak.
"Kau!" ucap Blitzer terkejut dengan kemunculan Darker.
"Pergilah! Biar aku yang mengurusnya!" perintah Darker sambil menoleh ke belakang, ke arah Yami RX.
Yami RX pun segera menyingkir dari sana.
Darker langsung berlari menuju ke arah Blitzer lalu menyabetkan pedangnya ketika sudah dekat.
TRANK!!
Blitzer mengadu sabetan Darker yang cukup cepat.
TRINK! TRANK!!
Darker kembali mengadu pedangnya dengan Blitzer sampai dua kali.
Darker mengayunkan pedangnya ke kepala Blitzer. Tapi dengan sigap, Blitzer merunduk lalu melancarkan tusukan ke arah perut Darker. Dengan cepat Darker memutar tangan kanannya yang memegang pedang ke arah bawah dan berhasil menahan serangan Blitzer dengan bilah pedangnya.
Blitzer langsung menyentakkan pedangnya ke atas, membuat pedang Darker yang menempel di pedangnya terlepas. Kemudian ia melancarkan tebasan miring ke arah pundak Darker. Tentu saja Darker tidak membiarkannya dan menepis pedang Blitzer yang hampir mengenai pundaknya dengan pedangnya hingga menyingkir dari tempat semestinya. Setelah itu, Darker mengayunkan pedangnya menuju ke kepala bagian atas Blitzer. Pada waktu yang hampir bersamaan, Blitzer mengangkat bilah pedangnya ke atas kepalanya untuk menangkis serangan Darker. Kedua pedang itu kembali beradu dan berdentang keras. Darker memundurkan pedangnya. Di saat bersamaan, Blitzer juga melakukannya. Kemudian mereka berdua kembali mengayunkan pedang masing-masing ke arah depan.
TRANKK!!
Pedang mereka berdua kembali beradu. Setelah itu, beradu lagi dengan berbagai kombo-kombo gerakan yang apik dan seolah tidak mau kalah dari lawan masing-masing. Bunyi dentingan pedang terdengar nyaring ketika beradu beberapa kali. Sampai pada akhirnya, Blitzer berhasil membuat mundur Darker dengan menebas topengnya hingga terbelah dua, menampakkan wajah aslinya yang dihiasi kacamata besar.
Blitzer kaget bukan main begitu melihat wajah asli Darker ternyata adalah wajah yang tak asing baginya. "Tokichi???"
"Hari ini kita sudahi saja pertarungannya. Kapan-kapan kita bertarung lagi!" ucap Darker yang kemudian menjadi hologram dan menghilang.
Hujan turun cukup deras. Di kamarnya, Izumi nampak sedang asyik menikmati sekaleng biskuit dan teh hangat sambil memainkan laptopnya. Sesekali, ia memikirkan kejadian di kampus tadi. 'Kapan sifat Ariel akan berubah? Apakah semua yang kulakukan masih belum cukup? Ataukah trauma Ariel masih belum menghilang hingga saat ini?' batinnya.
CTARR!! GRUDUK... GRUDUK...
"Ah!" kilat dan petir itu mengejutkan Izumi.
DRSSS...
Hujan terdengar semakin deras dan sesekali terdengar bunyi petir, dari suara gemerisik dahan pohon di luar sana dapat dipastikan angin juga berhembus tidak pelan. Sepuluh menit sudah Izumi berada di depan laptop. Sesekali, ia menguap, dan kantuk mulai menyerangnya.
TOK! TOK! TOK!
Di sela bunyi derasnya
hujan samar-samar Izumi dapat mendengar suara ketukan, 'sepertinya dari pintu depan, tapi mana mungkin di tengah derasnya hujan begini ada orang bodoh yang mau bertamu,' batin Izumi. Ia lalu beranjak dari bangku, keluar kamar, lalu pergi ke lantai bawah dan menuju pintu depan.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu terdengar lagi.
Izumi mencoba berjalan tanpa suara dan mengintip di balik lubang pintu.
"Hah??" Izumi terkejut
melihat sosok yang ia kenal tengah berdiri di depan pintu, kedinginan.
TOK! TOK!
KRIEETT...
Izumi membuka pintu secara perlahan dan hanya setengah terbuka.
"A-Ariel?!"
CTARRR!!
"Kyaaa!" Izumi menjerit menutup kedua matanya terkejut.
"Kau masih mau membiarkanku berada di luar, eh?" kata Ariel dingin, sedingin cuaca hari ini.
"Ah, i-iya, masuklah," balas Izumi
"Hn."
"Ng, Ariel, sebaiknya
motormu kau letakkan di dalam pagar saja." Izumi
mengingatkan Ariel tentang motornya yang masih terparkir di jalanan.
"Baiklah," ucap Ariel.
Sementara Ariel memarkirkan motor, Izumi menyiapkan teh
untuk Ariel. Setelah selesai memarkirkan motornya, Ariel pun masuk menuju ruang tengah.
"Ini, minumlah!" Izumi menyodorkan secangkir teh yang masih mengepul ke hadapan Ariel.
Ariel menerimanya dan menyesap teh itu dalam keadaan basah kuyup, mungkin karena kelamaan di luar.
"Aku bisa meminjamimu baju kakakku kalau kau mau? Kebetulan aku punya kakak laki-laki," tawar Izumi ragu, mengingat Ariel adalah orang terpandang, rasanya dia tidak akan sudi memakai pakaian sederhana dari keluarga Izumi.
Ariel hanya diam tanpa berkata apa-apa.
"I-itu juga kalau kau mau." Izumi menunduk dan tersenyum kecut, mencoba mengerti keadaan yang ada.
"Baiklah." Ariel pun akhirnya mengeluarkan suara.
"Eh? Jadi kau mau?"
"Hn."
"Biar kusiapkan!" Izumi beranjak pergi menyiapkan handuk dan pakaian milik kakaknya yang akan dikenakan Ariel. "Silahkan, kamar mandinya sebelah kanan ya."
Tanpa berkata apapun
Ariel yang sudah menerima pakaian dari Izumi pergi menuju tempat yang Izumi tunjukkan.
"Kemana yang lain?"
suara Ariel yang sudah selesai berganti pakaian tiba-tiba
menyadarkan Izumi dari lamunan.
"Eh? Itu, ibuku sedang pergi ke rumah bibi, dan kakakku sedang ada urusan di luar kota." Meski canggung, Izumi mencoba untuk tersenyum. "Ngomong-ngomong, kau sendiri kenapa bisa ada di komplek ini?"
"Sedang ada urusan dengan partner bisnisku, tapi dia tidak ada di rumah," jawab Ariel.
CEKLEK! CTARR!!
"Kyaaa!!" Lampu yang tiba-tiba padam dan suara petir mengejutkan Izumi, membuatnya menjerit, memejamkan kedua mata dan menutup telinga dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba, Ariel terpeleset.
DUK! DUK! BRUK!
"Aww! sakit!" Izumi merasakan tubuhnya ditubruk oleh sesuatu dan dapat Izumi rasakan hembusan napas menerpa
wajahnya, membuat wajah Izumi memanas dan rasanya ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Sekilas tercium aroma mint menguar, Ariel telah menindihnya.
"A-Ariel?" jantung Izumi berdebar tidak karuan, tapi ia merasa senang dan menikmati tindihan itu.
Dengan segera Ariel menyingkir dari atas tubuh Izumi.
"Hmm." Izumi hanya
bergumam dan segera
bangkit. 'Huh, padahal aku berharap lebih dari ini,' batinnya sambil memeletkan lidah.
"Kau, kenapa berteriak?" tanya Ariel.
"I-itu ... Aku... Aku takut gelap." Izumi menunduk dan suaranya terdengar lirih.
"Sebaiknya kita
menyalakan lilin atau semacamnya."
"Iya, tapi di dapur." kata Izumi ragu. "Se-sebenarnya a-aku takut untuk mengambilnya seorang diri."
"Kau ini pengecut sekali. Baiklah, kita ambil bersama." Suara Ariel kini terdengar lebih berat dari biasanya.
"Be-benarkah??"
"Ya."
"Baiklah."
Selama perjalanan ke dapur Izumi selalu berada di belakang punggung Ariel, bahkan tanpa sadar ia mengenggam bagian belakang kaos Ariel saat kilat dan petir menampakkan diri--yang sebenarnya--sedikit membantu mereka mencapai dapur dan menyalakan lilin.
Saat kembali ke ruang tengah mereka duduk berseberangan di sofa, saling berdiam diri memandangi lilin yang diletakkan di tengah meja. Izumi benar-benar tidak menyukai gelap. Gelap membuatnya terkekang dan sesak. Jika sendirian, biasanya Izumi memanggil ibunya
apabila tengah malam tiba-tiba listrik padam. Tapi sekarang tidak ada siapapun di sini kecuali Ariel.
"Kalau begini, aku akan tetap di sini
sampai listrik menyala," kata Ariel.
"Benarkah?" tanya Izumi meyakinkan.
Dalam temaram lilin, Izumi dapat melihat Ariel mengangguk.
"Terima kasih, maaf
merepotkan." Izumi
tersenyum lega mendengarnya.
CEKLEK!
"Ngh?" Sebuah sinar
mengejutkan mata Izumi yang tengah terpejam. Ia mengerjap sebentar, duduk dan berusaha mengingat apa yang terjadi. 'Syukurlah listrik sudah menyala,' batinnya. Ia menghela napas lega. "Ah, Ariel?" Ia
menemukan Ariel masih berada di tempatnya tengah berbaring lelap sekali.
"Ng, Izu..."
'Eh? Apa itu? Ariel menyebut namaku?' batin Izumi.
"Izu...mi..."
'Iya, dia menyebut namaku. Dia mengigau atau apa?' batin Izumi lagi.
"Ng..."
'Aneh, dia kenapa?' Izumi mendekati Ariel, mencermati wajahnya, pucat. Diletakkannya tangannya di kening Ariel.
'Astaga! Panas?! Dia pasti demam' Izumi sedikit panik menghadapinya, ditambah ini sudah larut malam. Jam dinding menunjukan pukul 23.20 dan di luar masih hujan meski tanpa kilat dan
petir. Ia mencoba untuk tenang, menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. 'Ok, air es, aku harus mengompresnya dengan air es!'
Secepat kilat Izumi menuju dapur dan kembali dengan membawa baskom berisi air es dan handuk kecil. Kemudian ia menyingkap rambut Ariel, menyisirnya ke belakang. Ia pun terkejut melihat tahi lalat di kening Ariel, sama persis seperti milik Arai.
"Ya ampun... Apa kau benar-benar Arai?" ucap Izumi dalam hati. Tak terasa air matanya meleleh. Namun, ia menggeleng cepat dan menyeka air matanya. Ia kemudian duduk di samping bawah sofa tempat Ariel tertidur, memeras handuk dan meletakkannya di kening Ariel.
"Izu...." Meski parau, dan lemah, Izumi masih dapat mendengar suara Ariel dengan
jelas.
"I-iya, Ariel...." Meski Izumi tahu menjawabnya adalah hal yang percuma tapi tetap ia lakukan karena berharap Ariel akan cepat sadar.
Tubuh Ariel menggigil meski panas ketika Izumi sentuh. Segera Izumi berlari menuju kamar dan membawakan Ariel selimut dari kamarnya dan menyelimuti pemuda itu. Setelah itu Izumi tertidur di samping bawah sofa tempat Ariel tidur.
Tak terasa pagi telah menjemput. Begitu bangun dari tidurnya, Izumi mendengar suara aneh.
KRUYUUUKK!
Sinar mentari yang menerobos celah jendela terasa menusuk mata Izumi. Ia mengerjap pelan berusaha untuk mengurangi intensitasnya.
KRUYUK! KRUYUUKK!!
"Uh!" Ariel mengeluh dan membalikan badannya memunggungi Izumi yang berada tepat di samping bawah sofa tempatnya tertidur.
"Eh? Pft, pfuahahah!" Izumi benar-benar tidak dapat menahan ledakan tawanya mengetahui kelakuan Ariel yang menurutnya benar-benar... Memalukan.
BUK!
"Aww! Sakit Ariel!" rintih Izumi, wajahnya dilempar bantal sofa oleh Ariel.
"Menyebalkan!" Ariel mendengus dan tidak lagi memunggungi Izumi.
"Haha, kau lucu Ariel. Kenapa tidak bilang padaku? Aku kan bisa membuatkan makanan untukmu." Izumi masih saja tidak habis pikir dengan kelakuan Ariel yang memilih menahan lapar dibanding
memberitahunya.
Ariel hanya terdiam
dan menyembunyikan wajahnya di lengan kirinya.
"Hey, bagaimana
keadaanmu? Apa kau merasa lebih baik? Semalam sepertinya kau terkena demam," tanya Izumi.
"Hn, lumayan," jawab Ariel.
"Emm, baiklah. Aku akan buatkan kau makanan, bagaimana jika bubur saja?"
"Ekstra tomat."
"Eh? Ekstra tomat? Kau suka tomat ya? Oke, bubur dengan ekstra tomat. Kuharap perutmu bisa sabar menunggu, hihi." Izumi tertawa kecil menggoda Ariel.
"Hentikan, Izu!"
Izumi kembali tertawa kecil. Setelah itu langsung pergi ke dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa semangkuk bubur dengan ekstra tomat.
"Ini, bubur ekstra tomat." Izumi lalu meletakkan semangkuk bubur hangat tersebut ke hadapan Ariel yang sudah terduduk ketika ia kembali.
"Hn."
'Lagi-lagi bergumam,' batin Izumi seraya memutar bola matanya bosan. 'Tunggu dulu, rasanya ada yang janggal, tapi apa ya?' Ia berpikir keras berusaha mengingat sesuatu yang sepertinya aku lupakan. "YA AMPUN, ARIEL!" Ia berteriak histeris, membuat Ariel tersedak karena terkejut mendengarnya.
"Uhuk! Uhuk! Ada apa?!" tanya Ariel ketus.
"Ini jam berapa?" tanya Izumi panik.
"Jam setengah sembilan, kenapa?" Masih dengan wajah tanpa dosanya, Ariel menjawab pertanyaan Izumi.
"Kita seharusnya sudah berada di kampus, Ariel," ucap Izumi menahan diri untuk tidak meledak karena sikap tenang Ariel yang justru membuatnya tidak tenang.
"Sudah terlambat. Lagipula ini hari Jum'at, pelajaran hanya sampai jam sebelas saja kan? Sisanya paling hanya main-main." Dengan enteng Ariel mengatakan class meeting sebagai main-main.
"Seenaknya saja kau ini! Uh, kau sih enak bisa dengan mudah menerima pelajaran, tapi bagaimana denganku?" Izumi memajukan bibirnya karena kesal dengan sikap Ariel yang meremehkan itu.
"Makanya, rajin-rajinlah belajar," ucap Ariel. Ia kemudian menaruh mangkuknya di meja, lalu berdiri. "Aku pulang dulu!"
"Baiklah!" Angguk Izumi. "Kapan-kapan kesini lagi yaa..."
Ariel hanya diam tak menanggapi. Ia berjalan keluar, diikuti oleh Izumi di belakangnya. Setelah sampai dekat pagar, Ariel menaiki motor sport merahnya dan keluar dari pagar yang tidak dikunci dari semalam itu, lalu ia langsung tancap gas. Bersamaan dengan itu, Izumi melambai-lambaikan tangannya ke arah Ariel.
Di tempat yang tidak jauh dari komplek Hanabi, Godai tengah dikejar-kejar oleh sosok yang mirip Kamen Rider Black RX, hanya saja seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali mulut, lensa matanya berwarna ungu gelap, dan tubuhnya terlihat ramping seperti tubuh wanita. Namanya adalah Yami RX.
DUKH!
Tiba-tiba kaki kanan Godai tersandung batu dan terjatuh. Ia terpaksa menyeret tubuhnya ke belakang, karena kaki kanannya terasa sakit dan keram.
"Inilah yang terjadi jika menghalangiku!" geram Yami RX dengan suara wanita. Ia lalu melompat ke arah Godai, mencoba menerkamnya.
Namun...
RRNNN!! DUAKH!!!
Sebuah sepeda motor terbang dan menabrak bagian kanan tubuh Yami RX hingga ia terlontar ke kiri serta terguling-guling di tanah. Di waktu yang hampir bersamaan, motor yang menabrak Yami RX berhenti di samping Godai. Rupanya yang menabrak adalah Ariel dengan motor sport merah kesayangannya.
"Ariel? Terimakasih," ucap Godai yang kemudian tersenyum.
"Dia ... Mirip RX," gumam Ariel sambil menatap Yami RX.
"Kau!" geram Yami RX sambil memandang Ariel dan kemudian berdiri. "Aku juga akan menghabisimu!"
"Silahkan jika kau mampu," balas Ariel. Ia kemudian mengambil Blitzdrive dari balik jaketnya, menempelkan benda itu di depan pinggangnya, lalu menekan permata bulat merahnya.
Tali sabuk besi perak dengan garis tebal hitam keluar dari kedua sisi Blitzdrive dan kemudian merekat di belakang pinggangnya, membentuk sebuah sabuk dengan Blitzdrive sebagai kepalanya.
Setelah itu, Ariel mengambil kartu bergambar Blitz Crest dari kotak sebelah kanan sabuknya, mengapitnya dengan jari telunjuk dan tengah kanannya, lalu menekuk lengannya tersebut ke arah kiri badannya, kemudian berteriak, "Henshin!!" Dan menurunkan lengan kanannya itu seraya memasukkan kartu yang diapitnya ke dalam lubang kotak tipis di permukaan atas kepala sabuknya.
Sinar hologram merah keluar dari Blitzdrive yang menyala terang dan memancar sejauh 1,5 meter. Sinar tersebut kemudian mundur ke arah Ariel, melapisinya, terserap ke dalam tubuhnya, dan mengubahnya menjadi Kamen Rider Blitzer. Lensa mata biru Blitzer berkedip ketika Ariel sudah berubah sepenuhnya.
"Revolcane!" seru Yami RX sambil mengepalkan tangannya sedikit di depan kepala sabuknya.
Sebuah gagang pedang yang ujungnya membulat muncul di genggaman tangan Yami RX. Ia lalu menarik gagang itu. Sebuah mata pedang laser berwarna ungu gelap yang tersambung pada ujung gagang yang membulat tadi perlahan keluar dari kepala sabuk Yami RX. Setelah itu, Yami RX langsung berlari menghampiri Blitzer. Saat itu, Blitzer sudah menggenggam Techno Blade di tangan kanannya.
Begitu mencapai jarak yang dapat dijangkaunya, Yami RX mengayunkan Revolcane ke arah dada Blitzer.
TRANK!!
Namun serangan itu berhasil ditahan oleh Blitzer dengan bilah Techno Blade miliknya.
Yami RX kembali mengayunkan Revolcane-nya. Blitzer pun sama. Akhirnya, mereka saling bertukar serangan fisik, entah itu sabetan pedang, pukulan, atau tendangan. Masing-masing dari mereka berusaha untuk tetap bisa berdiri di tempatnya. Masing-masing mengeluarkan serangan yang seolah tidak mengizinkan lawan mereka untuk bernapas. Entah kenapa pertarungan ini terus berlangsung dalam kondisi seimbang, di mana tidak jelas siapa yang memimpin atau siapa yang dalam posisi terjepit. Namun, keadaan ini tidak berlangsung lama. Blitzer menemukan daerah yang terbuka di pertahanan Yami RX, setelah Yami RX gagal menyarangkan sabetan besarnya ke arah Blitzer. Blitzer pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan menyarangkan tendangan ke arah perut Yami RX yang terbuka, menyebabkan Yami RX terpental sejauh beberapa langkah ke belakang serta terguling di tanah.
Sampai Yami RX berhenti terguling dan berusaha berdiri kembali, Blitzer menekan permata merah di kepala sabuknya.
"POWER!!" Kepala sabuk Blitzer mengeluarkan suara. Permata di kepala sabuk itu mengeluarkan sinar yang terus menyala.
Bilah Techno Blade langsung dilapisi petir yang menyambar-nyambar. Tanpa membuang waktu, Blitzer langsung mengayunkan Techno Blade ke depan dengan kedua tangannya, membuat petir yang melapisi pedang itu melesat ke depan, mengarah persis ke Yami RX.
Akan tetapi, ketika petir tersebut hampir menghantam Yami RX, petir tersebut terlempar ke arah lain oleh sebuah sabetan pedang dari seseorang berjubah hitam hingga mengenai pilar sebuah rumah kosong dan membuat pilar tersebut hancur dan roboh. Orang itu adalah Darker dengan pedang bergagang perak terlilit kabel hitam dan batangnya berbentuk gir berwarna perak.
"Kau!" ucap Blitzer terkejut dengan kemunculan Darker.
"Pergilah! Biar aku yang mengurusnya!" perintah Darker sambil menoleh ke belakang, ke arah Yami RX.
Yami RX pun segera menyingkir dari sana.
Darker langsung berlari menuju ke arah Blitzer lalu menyabetkan pedangnya ketika sudah dekat.
TRANK!!
Blitzer mengadu sabetan Darker yang cukup cepat.
TRINK! TRANK!!
Darker kembali mengadu pedangnya dengan Blitzer sampai dua kali.
Darker mengayunkan pedangnya ke kepala Blitzer. Tapi dengan sigap, Blitzer merunduk lalu melancarkan tusukan ke arah perut Darker. Dengan cepat Darker memutar tangan kanannya yang memegang pedang ke arah bawah dan berhasil menahan serangan Blitzer dengan bilah pedangnya.
Blitzer langsung menyentakkan pedangnya ke atas, membuat pedang Darker yang menempel di pedangnya terlepas. Kemudian ia melancarkan tebasan miring ke arah pundak Darker. Tentu saja Darker tidak membiarkannya dan menepis pedang Blitzer yang hampir mengenai pundaknya dengan pedangnya hingga menyingkir dari tempat semestinya. Setelah itu, Darker mengayunkan pedangnya menuju ke kepala bagian atas Blitzer. Pada waktu yang hampir bersamaan, Blitzer mengangkat bilah pedangnya ke atas kepalanya untuk menangkis serangan Darker. Kedua pedang itu kembali beradu dan berdentang keras. Darker memundurkan pedangnya. Di saat bersamaan, Blitzer juga melakukannya. Kemudian mereka berdua kembali mengayunkan pedang masing-masing ke arah depan.
TRANKK!!
Pedang mereka berdua kembali beradu. Setelah itu, beradu lagi dengan berbagai kombo-kombo gerakan yang apik dan seolah tidak mau kalah dari lawan masing-masing. Bunyi dentingan pedang terdengar nyaring ketika beradu beberapa kali. Sampai pada akhirnya, Blitzer berhasil membuat mundur Darker dengan menebas topengnya hingga terbelah dua, menampakkan wajah aslinya yang dihiasi kacamata besar.
Blitzer kaget bukan main begitu melihat wajah asli Darker ternyata adalah wajah yang tak asing baginya. "Tokichi???"
"Hari ini kita sudahi saja pertarungannya. Kapan-kapan kita bertarung lagi!" ucap Darker yang kemudian menjadi hologram dan menghilang.
To Be Continued
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 04-02-2020 14:03
0
Kutip
Balas