TS
Ariel.Matsuyama
[FanFic] Kamen Rider Blitzer
![[FanFic] Kamen Rider Blitzer](https://dl.kaskus.id/ic.pics.livejournal.com/arielmatsuyama/83052924/5659/5659_900.png)
Kamen Rider Blitzer (仮面ライダー ブリッツァー)
Genre:Action | Drama | Adventure
Quote:
ATTENTION:
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Spoiler for List Episode:
Episode 1: Hobi Membunuh
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
Spoiler for Realms:
*Theme Song
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
Quote:
Cerita ini juga diterbitkan di: WATTPAD
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 08-02-2020 18:50
0
12.1K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#39
UPDATE!!
Spoiler for Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah:
Kota Zippon - Jepang, Rabu 12 Februari 2020, pukul 14:00.
Di sebuah kedai pinggir jalan, Jito tengah mengobrol dengan Jeth perihal Ariel. Jito lah yang menyuruh Jeth untuk menghajar Ariel dengan bayaran yang mahal. Jeth masih penasaran dengan Ariel, tapi akhir-akhir ini ia sangat sibuk hingga hampir tak ada waktu untuk menghajar Ariel, kalaupun ada dia pakai untuk liburan, itu juga waktunya sangat sedikit. Jito pun memakluminya dan berharap Ariel segera mati, atau minimal pindah kuliah.
"Tenang saja, aku pasti akan menghabisi Ariel! Hanya aku yang boleh membunuhnya!" ucap Jeth.
"Aku senang mendengarnya," balas Jito sambil tersenyum. "Masalah uang itu perihal gampang. Nanti kubayar lebih jika kau berhasil membawa kepala Ariel ke hadapanku."
"Baik, tunggu saja tanggal mainnya!"
=***=
Sementara itu, di salah satu ruangan Mecha Castle, Darker dan Quesier tengah mengobrol perihal senjata pemusnah massal yang gagal didapatkan Darker. Darker bilang kartu itu berhasil direbut oleh Kamen Rider Blitzer ketika mereka tengah bertarung. Quesier tidak setuju Darker menghancurkan seluruh manusia tanpa seijin pemimpin mereka. Akhirnya darker mengerti, bahwa manusia sangat dibutuhkan untuk menyediakan bensin. Mereka boleh membunuh manusia asalkan tidak menghancurkan semua manusia yang ada di bumi. Jika ingin memusnahkan semuanya, harus ada aba-aba dari pemimpin mereka si Mechaster dengan peringkat pertama.
Darker yang menyender di tembok menghela napas, mengangkat kepalanya, lalu memejamkan mata sambil berkata, "Kamen Rider yang ku lawan itu cukup kuat. Aku penasaran ingin melawannya lagi."
"Siapapun dia, kita harus menyingkirkannya!" kata Quesier. "Karena sudah banyak bangsa kita yang dibunuh oleh mereka, para Kamen Rider!"
"Tenang, lain kali aku pasti akan menghancurkannya!"
"Memang seharusnya begitu," ucap Quesier sambil melenggang pergi.
"Mau kemana kau?" tanya Darker, membuat Quesier berhenti.
"Bermain-main dengan manusia," jawab Quesier.
"Bermain-main??"
"Ya."
"Permainan macam apa yang akan kau buat?"
"Ada pokoknya. Yang jelas aku tidak sepertimu." Quesier kemudian melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Darker yang kesal dengan kata-kata terakhirnya.
Komplek Hanabi, Kota Zippon - Jepang, pukul 15:00.
Fumiko main ke rumah Izumi, tepatnya di kamar Izumi, dan mencicipi brownies buatan Izumi yang bagi Fumiko sangat enak dan membuatnya merem melek. Apalagi sekarang brownies-nya ditambah parutan keju.
"Enaknya...," ucap Fumiko setelah mengunyah brownies buatan Izumi.
Izumi pun tersenyum. "Terimakasih," ucapnya.
"Ng ... Brownies ini boleh kuhabiskan tidak?" tanya Fumiko.
Izumi mengangguk. "Silahkan! Malah aku sangat senang!"
"Asyiiik!!!" kata Fumiko yang kemudian melahap lagi beberapa potong brownies yang ada di piring sekaligus.
Izumi yang melihatnya tertawa kecil. "Hati-hati tersedak."
"Tidak, tenang saja," balas Fumiko dengan mulut penuh.
Setelah Fumiko menghabiskan brownies di mulutnya, Izumi bertanya, "Ng ... Fumiko, Ariel itu bukan asli orang Jepang ya?"
Fumiko menautkan alisnya. "Kau tahu darimana?"
"Namanya tidak seperti orang Jepang kebanyakan."
"Sebetulnya dia itu half. Ibunya orang Yunani yang menetap di Jepang, sementara ayahnya orang Jepang asli. Makanya namanya seperti itu."
"Ooh...." Izumi mengangguk pelan. "Oh iya, ngomong-ngomong, waktu itu katanya kau ingin menceritakan kenapa Ariel menolak pemberian gadis-gadis yang menyukainya, apa kau tidak keberatan menceritakannya sekarang?"
"Oh iya ya! Baik baik, akan aku ceritakan sekarang!"
Fumiko pun mulai bercerita. Fumiko adalah teman Ariel sejak masih TK, tapi ketika SD Fumiko tidak satu sekolah dengan Ariel, dia pindah keluar kota. Barulah setelah menduduki bangku SMA Fumiko kembali ke Zippon dan bersekolah di sekolah yg sama dengan Ariel. Fumiko sangat terkejut melihat perubahan yang terjadi pada diri Ariel, dia sangat pintar, mahir beladiri, dan multitalenta, padahal dulu dia sangat payah dalam segala hal, lemah, dan cengeng. Dia juga disukai banyak gadis karena hal itu dan jadi agak angkuh. Tapi, Ariel bingung memilih siapa gadis yang harus ia jadikan pendamping hidupnya. Akhirnya, ia curhat pada Fumiko. Fumiko bilang pilihlah sesuai kata hati. Akhirnya, Ariel pun memilih Amami.
Sudah satu minggu Ariel berpacaran dengan Amami dan semuanya baik-baik saja. Hingga suatu ketika, Ariel menelepon Amami dan yang mengangkat adalah laki-laki yang mengaku pacar Amami. Ariel pun kaget dan langsung menutup telepon itu. Keesokan harinya, Ariel mengajak jalan Amami dan bertanya apakah Amami punya pacar selain dia? Amami jawab 'tidak'. Lalu Ariel menjelaskan kalau dia menelpon Amami tapi yg mengangkat laki-laki yang mengaku pacar Amami. Tapi Amami menjawab kalau itu adalah saudaranya untuk mengeteas rasa cemburu Ariel. Dan ternyata Ariel sangat cemburu. Amami bilang berarti Ariel sangat sayang padanya. Ariel pun merasa lega.
Satu bulan berlalu, hubungan Ariel dan Amami semakin harmonis. Hingga suatu ketika, Ariel yang sedang berjalan-jalan melihat Amami bersama laki-laki lain tengah bermesraan di sebuah bangku taman. Ariel yang sudah terbakar api cemburu langsung menghampiri mereka. Amami yang hampir dicium oleh laki-laki itu langsung terperanjat oleh kedatangan Ariel. Ariel pun bertanya pada laki-laki itu siapa dia dan kenapa berduaan dengan Amami dan ingin menciumnya? Laki-laki itu menjawab bahwa dia adalah pacar Amami. Ariel pun bilang bahwa Amami adalah pacarnya. Si laki-laki kaget dan bertanya pada Amami apakah itu benar? Amami menjawab 'tidak' dan langsung merangkul laki-laki itu. Ariel yang kecewa dan sangat marah segera pergi dari tempat itu. Dia tak menyangka Amami sosok yang ia kenal sangat baik, sopan, dan jujur, bisa mengkhianatinya.
Esoknya, Ariel langsung pindah sekolah untuk mengobati luka hatinya dan tidak ingin melihat Amami lagi. Begitulah cerita Ariel pada Fumiko. Padahal Ariel sudah membuka hati untuk cinta, tapi pengkhiantan dan kekecewaan lah yang didapatkannya. Sejak saat itu, Ariel tidak ingin mengenal lagi yang namanya cinta. Baginya, semua gadis sama saja. Semua hadiah yang diberikan gadis-gadis yang suka padanya ia buang atau ia berikan pada Fumiko. Tapi, dalam hatinya, Fumiko masih bingung kenapa waktu di rumah sakit tempo hari Ariel menciumnya?
"Ooh... Jadi begitu ya." Izumi manggut-manggut mendengar cerita Fumiko. "Tidak semua wanita seperti itu. Mungkin Amami bukan jodoh Ariel dan Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untuk Ariel. Mungkin saja orang itu aku!" Ia lalu tersenyum.
Fumiko tersenyum lembut. "Mungkin saja."
=***=
Di tepi danau yang tidak jauh dari Komplek Hanabi, terlihat seorang pria botak berjaket merah tengah duduk sambil memegangi kepalanya dan menangis. Pria itu memiliki wajah bulat, mata kecil, alis tipis, bibir tipis, dan daun telinga kecil.
"Istriku ... Kenapa kau begitu cepat meninggalkan aku padahal anak kita sedang sakit parah? Hari ini aku dipecat dari pekerjaanku. Jika kau masih ada mungkin masalah keuanganku bisa terbantu," keluh pria itu. Ia lalu menatap langit dan berteriak, "TUHAN!!! TUNJUKKANLAH KEADILAN-MU! TUNJUKKANLAH KUASA-MU, TUHAN!!!"
"Apakah kau butuh bantuan?" ucap seorang wanita dari belakang pria itu.
Si pria pun menoleh ke belakang. "Siapa kau?"
"Aku Quesier," jawab wanita yang ternyata adalah Quesier. "Jika kau butuh bantuan, aku akan membantumu."
Dahi pria itu mengernyit. "Apa yang kau bisa?" tanyanya.
Quesier kemudian berjalan menghampiri si pria. "Sebelumnya, siapa namamu?"
"Kaizu Hanaya. Panggil saja Kaizu," jawab pria itu.
Quesier kemudian mengeluarkan plastik kecil berisi sebuah 'kapsul' warna merah dari dalam sakunya dan menunjukkannya pada Kaizu. "Aku ingin menawarkan ini, Kaizu!"
"Untuk apa ini??" Dahi Kaizu berkerut bingung. "Jangan mempermainkanku, ya?!" gertaknya kemudian.
Quesier menggeleng. "Siapa yang mempermainkanmu?! Ini kapsul penyelesai semua masalah. Jika diminum akan memberikan efek tenang, dan apapun yang kau inginkan akan terwujud."
Kaizu tersentak. "A-apa???"
"Jika kau berminat, kau bisa membelinya dariku seharga satu juta Yen," ucap Quesier sambil tersenyum.
Kaizu terkejut. "Mahal sekali. Aku saja tidak punya uang sepeser pun."
Quesier berpikir sebentar, sebelum akhirnya menyerahkan plastik berisi kapsul tersebut pada Kaizu. "Baiklah. Untukmu aku berikan gratis!"
Kaizu mengambil plastik itu dan berkata, "Tapi kau tidak berbohong, kan?"
"Jika aku berbohong, aku akan memberikanmu uang seharga kapsul itu."
"Baiklah kalau begitu, akan kucoba dulu!"
Quesier lalu memberikan kartu nama berisi nomor ponselnya pada Kaizu. "Jika tidak berhasil, kau bisa menghubungiku."
"Baik!" ucap Kaizu sambil menerima kartu nama tersebut.
Setelah itu, Quesier pergi dari sana.
Usai menatap kepergian Quesier, Kaizu pun langsung mengambil kapsul yang telah diterimanya dari dalam plastik dan menelannya.
Beberapa detik kemudian, Kaizu merasa tubuhnya sangat enteng dan pikirannya 'plong'. Semua hal yang membuatnya depresi langsung lenyap dari kepalanya.
Tak lama setelah itu, muncul suara berat yang berkata, "Katakan apa keinginanmu?"
Kaizu terkejut. "Siapa kau?" Ia menoleh kesana kemari mencari sumber suara tersebut.
"Kau tak usah bingung!" ucap suara berat itu. "Sebutkan saja apa keinginanmu!"
Kaizu berpikir sejenak. 'Jangan-jangan apa yang dibilang wanita tadi benar,' batinnya. "Apa ya ... Hmm ... Baiklah, jika kau memang bisa mengabulkannya, aku ingin isi ATM-ku memiliki nominal uang yang tak terbatas!" ucapnya.
"Permintaan dikabulkan!" kata suara itu.
Dari dalam saku belakang sebelah kanan celana Kaizu langsung melompat sebuah dompet hijau. Dompet tersebut melayang dan langsung diselimuti cahaya hitam yang membuat Kaizu terheran-heran.
Ketika cahaya itu menghilang, suara berat tadi berkata, "Sekarang, cek lah ATM-mu di bank!"
"Baik!" Angguk Kaizu yang segera mengambil dompetnya yang melayang dan berlari dari situ menuju bank terdekat.
Begitu sampai di bank, Kaizu segera mengecek saldo ATM-nya. Matanya langsung terbelalak ketika melihat angka 'sembilan' berderet dengan jumlah banyak pada saldo ATM-nya. Kaizu kemudian mengambil uang pada ATM-nya sebesar seratus juta Yen. Namun, nominal uang pada saldo ATM-nya tidak berkurang. Tentu saja Kaizu terkejut dan terheran-heran. Tapi dia sangat senang karena Quesier tidak berbohong. Dengan uang yang dimilikinya, Kaizu membawa anaknya ke rumah sakit untuk dirawat. Selain itu, Kaizu juga membeli apapun yang dibutuhkannya.
"Akhirnya, aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan!" ucap Kaizu yang sedang santai di depan rumahnya.
Tiba-tiba, tubuh Kaizu serasa panas seperti terbakar.
"Ke-kenapa ini???" ucap Kaizu kebingungan. Kemudian ia terjatuh lalu mengerang-ngerang di lantai. Makin lama tubuhnya makin panas hingga akhirnya api muncul dari tubuhnya dan membakarnya hingga hangus. Di saat seperti itu, suara misterius dengan nada berat muncul.
"Itu adalah konsekuensi yang harus kau terima telah karena meminta bantuanku," ucap suara tersebut ketika tubuh Kaizu perlahan menjadi abu.
Bersamaan dengan itu, di lain pihak, jumlah orang yang dibunuh dalam Killer Board milik Quesier bertambah. Ia yang duduk di bangku taman tersenyum dan berkata, "Cara membunuh yang mengasyikkan."
Di sebuah kedai pinggir jalan, Jito tengah mengobrol dengan Jeth perihal Ariel. Jito lah yang menyuruh Jeth untuk menghajar Ariel dengan bayaran yang mahal. Jeth masih penasaran dengan Ariel, tapi akhir-akhir ini ia sangat sibuk hingga hampir tak ada waktu untuk menghajar Ariel, kalaupun ada dia pakai untuk liburan, itu juga waktunya sangat sedikit. Jito pun memakluminya dan berharap Ariel segera mati, atau minimal pindah kuliah.
"Tenang saja, aku pasti akan menghabisi Ariel! Hanya aku yang boleh membunuhnya!" ucap Jeth.
"Aku senang mendengarnya," balas Jito sambil tersenyum. "Masalah uang itu perihal gampang. Nanti kubayar lebih jika kau berhasil membawa kepala Ariel ke hadapanku."
"Baik, tunggu saja tanggal mainnya!"
=***=
Sementara itu, di salah satu ruangan Mecha Castle, Darker dan Quesier tengah mengobrol perihal senjata pemusnah massal yang gagal didapatkan Darker. Darker bilang kartu itu berhasil direbut oleh Kamen Rider Blitzer ketika mereka tengah bertarung. Quesier tidak setuju Darker menghancurkan seluruh manusia tanpa seijin pemimpin mereka. Akhirnya darker mengerti, bahwa manusia sangat dibutuhkan untuk menyediakan bensin. Mereka boleh membunuh manusia asalkan tidak menghancurkan semua manusia yang ada di bumi. Jika ingin memusnahkan semuanya, harus ada aba-aba dari pemimpin mereka si Mechaster dengan peringkat pertama.
Darker yang menyender di tembok menghela napas, mengangkat kepalanya, lalu memejamkan mata sambil berkata, "Kamen Rider yang ku lawan itu cukup kuat. Aku penasaran ingin melawannya lagi."
"Siapapun dia, kita harus menyingkirkannya!" kata Quesier. "Karena sudah banyak bangsa kita yang dibunuh oleh mereka, para Kamen Rider!"
"Tenang, lain kali aku pasti akan menghancurkannya!"
"Memang seharusnya begitu," ucap Quesier sambil melenggang pergi.
"Mau kemana kau?" tanya Darker, membuat Quesier berhenti.
"Bermain-main dengan manusia," jawab Quesier.
"Bermain-main??"
"Ya."
"Permainan macam apa yang akan kau buat?"
"Ada pokoknya. Yang jelas aku tidak sepertimu." Quesier kemudian melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Darker yang kesal dengan kata-kata terakhirnya.
Komplek Hanabi, Kota Zippon - Jepang, pukul 15:00.
Fumiko main ke rumah Izumi, tepatnya di kamar Izumi, dan mencicipi brownies buatan Izumi yang bagi Fumiko sangat enak dan membuatnya merem melek. Apalagi sekarang brownies-nya ditambah parutan keju.
"Enaknya...," ucap Fumiko setelah mengunyah brownies buatan Izumi.
Izumi pun tersenyum. "Terimakasih," ucapnya.
"Ng ... Brownies ini boleh kuhabiskan tidak?" tanya Fumiko.
Izumi mengangguk. "Silahkan! Malah aku sangat senang!"
"Asyiiik!!!" kata Fumiko yang kemudian melahap lagi beberapa potong brownies yang ada di piring sekaligus.
Izumi yang melihatnya tertawa kecil. "Hati-hati tersedak."
"Tidak, tenang saja," balas Fumiko dengan mulut penuh.
Setelah Fumiko menghabiskan brownies di mulutnya, Izumi bertanya, "Ng ... Fumiko, Ariel itu bukan asli orang Jepang ya?"
Fumiko menautkan alisnya. "Kau tahu darimana?"
"Namanya tidak seperti orang Jepang kebanyakan."
"Sebetulnya dia itu half. Ibunya orang Yunani yang menetap di Jepang, sementara ayahnya orang Jepang asli. Makanya namanya seperti itu."
"Ooh...." Izumi mengangguk pelan. "Oh iya, ngomong-ngomong, waktu itu katanya kau ingin menceritakan kenapa Ariel menolak pemberian gadis-gadis yang menyukainya, apa kau tidak keberatan menceritakannya sekarang?"
"Oh iya ya! Baik baik, akan aku ceritakan sekarang!"
Fumiko pun mulai bercerita. Fumiko adalah teman Ariel sejak masih TK, tapi ketika SD Fumiko tidak satu sekolah dengan Ariel, dia pindah keluar kota. Barulah setelah menduduki bangku SMA Fumiko kembali ke Zippon dan bersekolah di sekolah yg sama dengan Ariel. Fumiko sangat terkejut melihat perubahan yang terjadi pada diri Ariel, dia sangat pintar, mahir beladiri, dan multitalenta, padahal dulu dia sangat payah dalam segala hal, lemah, dan cengeng. Dia juga disukai banyak gadis karena hal itu dan jadi agak angkuh. Tapi, Ariel bingung memilih siapa gadis yang harus ia jadikan pendamping hidupnya. Akhirnya, ia curhat pada Fumiko. Fumiko bilang pilihlah sesuai kata hati. Akhirnya, Ariel pun memilih Amami.
Sudah satu minggu Ariel berpacaran dengan Amami dan semuanya baik-baik saja. Hingga suatu ketika, Ariel menelepon Amami dan yang mengangkat adalah laki-laki yang mengaku pacar Amami. Ariel pun kaget dan langsung menutup telepon itu. Keesokan harinya, Ariel mengajak jalan Amami dan bertanya apakah Amami punya pacar selain dia? Amami jawab 'tidak'. Lalu Ariel menjelaskan kalau dia menelpon Amami tapi yg mengangkat laki-laki yang mengaku pacar Amami. Tapi Amami menjawab kalau itu adalah saudaranya untuk mengeteas rasa cemburu Ariel. Dan ternyata Ariel sangat cemburu. Amami bilang berarti Ariel sangat sayang padanya. Ariel pun merasa lega.
Satu bulan berlalu, hubungan Ariel dan Amami semakin harmonis. Hingga suatu ketika, Ariel yang sedang berjalan-jalan melihat Amami bersama laki-laki lain tengah bermesraan di sebuah bangku taman. Ariel yang sudah terbakar api cemburu langsung menghampiri mereka. Amami yang hampir dicium oleh laki-laki itu langsung terperanjat oleh kedatangan Ariel. Ariel pun bertanya pada laki-laki itu siapa dia dan kenapa berduaan dengan Amami dan ingin menciumnya? Laki-laki itu menjawab bahwa dia adalah pacar Amami. Ariel pun bilang bahwa Amami adalah pacarnya. Si laki-laki kaget dan bertanya pada Amami apakah itu benar? Amami menjawab 'tidak' dan langsung merangkul laki-laki itu. Ariel yang kecewa dan sangat marah segera pergi dari tempat itu. Dia tak menyangka Amami sosok yang ia kenal sangat baik, sopan, dan jujur, bisa mengkhianatinya.
Esoknya, Ariel langsung pindah sekolah untuk mengobati luka hatinya dan tidak ingin melihat Amami lagi. Begitulah cerita Ariel pada Fumiko. Padahal Ariel sudah membuka hati untuk cinta, tapi pengkhiantan dan kekecewaan lah yang didapatkannya. Sejak saat itu, Ariel tidak ingin mengenal lagi yang namanya cinta. Baginya, semua gadis sama saja. Semua hadiah yang diberikan gadis-gadis yang suka padanya ia buang atau ia berikan pada Fumiko. Tapi, dalam hatinya, Fumiko masih bingung kenapa waktu di rumah sakit tempo hari Ariel menciumnya?
"Ooh... Jadi begitu ya." Izumi manggut-manggut mendengar cerita Fumiko. "Tidak semua wanita seperti itu. Mungkin Amami bukan jodoh Ariel dan Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untuk Ariel. Mungkin saja orang itu aku!" Ia lalu tersenyum.
Fumiko tersenyum lembut. "Mungkin saja."
=***=
Di tepi danau yang tidak jauh dari Komplek Hanabi, terlihat seorang pria botak berjaket merah tengah duduk sambil memegangi kepalanya dan menangis. Pria itu memiliki wajah bulat, mata kecil, alis tipis, bibir tipis, dan daun telinga kecil.
"Istriku ... Kenapa kau begitu cepat meninggalkan aku padahal anak kita sedang sakit parah? Hari ini aku dipecat dari pekerjaanku. Jika kau masih ada mungkin masalah keuanganku bisa terbantu," keluh pria itu. Ia lalu menatap langit dan berteriak, "TUHAN!!! TUNJUKKANLAH KEADILAN-MU! TUNJUKKANLAH KUASA-MU, TUHAN!!!"
"Apakah kau butuh bantuan?" ucap seorang wanita dari belakang pria itu.
Si pria pun menoleh ke belakang. "Siapa kau?"
"Aku Quesier," jawab wanita yang ternyata adalah Quesier. "Jika kau butuh bantuan, aku akan membantumu."
Dahi pria itu mengernyit. "Apa yang kau bisa?" tanyanya.
Quesier kemudian berjalan menghampiri si pria. "Sebelumnya, siapa namamu?"
"Kaizu Hanaya. Panggil saja Kaizu," jawab pria itu.
Quesier kemudian mengeluarkan plastik kecil berisi sebuah 'kapsul' warna merah dari dalam sakunya dan menunjukkannya pada Kaizu. "Aku ingin menawarkan ini, Kaizu!"
"Untuk apa ini??" Dahi Kaizu berkerut bingung. "Jangan mempermainkanku, ya?!" gertaknya kemudian.
Quesier menggeleng. "Siapa yang mempermainkanmu?! Ini kapsul penyelesai semua masalah. Jika diminum akan memberikan efek tenang, dan apapun yang kau inginkan akan terwujud."
Kaizu tersentak. "A-apa???"
"Jika kau berminat, kau bisa membelinya dariku seharga satu juta Yen," ucap Quesier sambil tersenyum.
Kaizu terkejut. "Mahal sekali. Aku saja tidak punya uang sepeser pun."
Quesier berpikir sebentar, sebelum akhirnya menyerahkan plastik berisi kapsul tersebut pada Kaizu. "Baiklah. Untukmu aku berikan gratis!"
Kaizu mengambil plastik itu dan berkata, "Tapi kau tidak berbohong, kan?"
"Jika aku berbohong, aku akan memberikanmu uang seharga kapsul itu."
"Baiklah kalau begitu, akan kucoba dulu!"
Quesier lalu memberikan kartu nama berisi nomor ponselnya pada Kaizu. "Jika tidak berhasil, kau bisa menghubungiku."
"Baik!" ucap Kaizu sambil menerima kartu nama tersebut.
Setelah itu, Quesier pergi dari sana.
Usai menatap kepergian Quesier, Kaizu pun langsung mengambil kapsul yang telah diterimanya dari dalam plastik dan menelannya.
Beberapa detik kemudian, Kaizu merasa tubuhnya sangat enteng dan pikirannya 'plong'. Semua hal yang membuatnya depresi langsung lenyap dari kepalanya.
Tak lama setelah itu, muncul suara berat yang berkata, "Katakan apa keinginanmu?"
Kaizu terkejut. "Siapa kau?" Ia menoleh kesana kemari mencari sumber suara tersebut.
"Kau tak usah bingung!" ucap suara berat itu. "Sebutkan saja apa keinginanmu!"
Kaizu berpikir sejenak. 'Jangan-jangan apa yang dibilang wanita tadi benar,' batinnya. "Apa ya ... Hmm ... Baiklah, jika kau memang bisa mengabulkannya, aku ingin isi ATM-ku memiliki nominal uang yang tak terbatas!" ucapnya.
"Permintaan dikabulkan!" kata suara itu.
Dari dalam saku belakang sebelah kanan celana Kaizu langsung melompat sebuah dompet hijau. Dompet tersebut melayang dan langsung diselimuti cahaya hitam yang membuat Kaizu terheran-heran.
Ketika cahaya itu menghilang, suara berat tadi berkata, "Sekarang, cek lah ATM-mu di bank!"
"Baik!" Angguk Kaizu yang segera mengambil dompetnya yang melayang dan berlari dari situ menuju bank terdekat.
Begitu sampai di bank, Kaizu segera mengecek saldo ATM-nya. Matanya langsung terbelalak ketika melihat angka 'sembilan' berderet dengan jumlah banyak pada saldo ATM-nya. Kaizu kemudian mengambil uang pada ATM-nya sebesar seratus juta Yen. Namun, nominal uang pada saldo ATM-nya tidak berkurang. Tentu saja Kaizu terkejut dan terheran-heran. Tapi dia sangat senang karena Quesier tidak berbohong. Dengan uang yang dimilikinya, Kaizu membawa anaknya ke rumah sakit untuk dirawat. Selain itu, Kaizu juga membeli apapun yang dibutuhkannya.
"Akhirnya, aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan!" ucap Kaizu yang sedang santai di depan rumahnya.
Tiba-tiba, tubuh Kaizu serasa panas seperti terbakar.
"Ke-kenapa ini???" ucap Kaizu kebingungan. Kemudian ia terjatuh lalu mengerang-ngerang di lantai. Makin lama tubuhnya makin panas hingga akhirnya api muncul dari tubuhnya dan membakarnya hingga hangus. Di saat seperti itu, suara misterius dengan nada berat muncul.
"Itu adalah konsekuensi yang harus kau terima telah karena meminta bantuanku," ucap suara tersebut ketika tubuh Kaizu perlahan menjadi abu.
Bersamaan dengan itu, di lain pihak, jumlah orang yang dibunuh dalam Killer Board milik Quesier bertambah. Ia yang duduk di bangku taman tersenyum dan berkata, "Cara membunuh yang mengasyikkan."
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 14-01-2020 21:13
0
Kutip
Balas