TS
Ariel.Matsuyama
[FanFic] Kamen Rider Blitzer
![[FanFic] Kamen Rider Blitzer](https://dl.kaskus.id/ic.pics.livejournal.com/arielmatsuyama/83052924/5659/5659_900.png)
Kamen Rider Blitzer (仮面ライダー ブリッツァー)
Genre:Action | Drama | Adventure
Quote:
ATTENTION:
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Spoiler for List Episode:
Episode 1: Hobi Membunuh
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
Spoiler for Realms:
*Theme Song
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
Quote:
Cerita ini juga diterbitkan di: WATTPAD
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 08-02-2020 18:50
0
12.1K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#24
Spoiler for Episode 8 Act 2:
"Oh iya, Ariel, apa kau sudah mendengar berita tentang terror yang menimpa kota ini? Terror yang dilakukan oleh orang yang dijuluki Belalang Hitam?" tanya Fumiko.
Ariel mengangguk. "Apapun itu, aku sama sekali tidak merasakan terrornya. Takut pun tidak."
"Yaaa aku paham bagaimana dirimu," balas Fumiko.
"Ngomong-ngomong, bagaimana turnamen waktu itu?" tanya Ariel. "Apa dibatalkan?"
"Kemarin kata panitianya diundur satu bulan lagi," jawab Fumiko, ia pun cemberut.
"Sudahlah...," kata Ariel. "Yang penting masih dilaksanakan."
Fumiko mengangguk meski wajahnya masih cemberut.
"Fumiko, kau tunggu di situ, ya!" kata Ariel sembari menunjuk sebuah taman dengan banyak permainan seperti ayunan, perosotan, dan lain-lain.
"Lho, kenapa??" tanya Fumiko.
"Aku mau buang air kecil," jawab Ariel yang kemudian berlari menuju sebuah rumah kecil bercat biru dan bertuliskan 'Toilet Umum' yang tidak jauh dari taman.
"Baiklah." Fumiko lalu berjalan menuju taman, kemudian duduk di rerumputan sambil memainkan smartphone yang ia ambil di saku celana samping kanannya. Sesekali, ia mengelap keringatnya dengan handuk yang ia bawa.
Di saat Fumiko asyik-asyiknya memainkan smartphone, tiba-tiba lehernya dikalungi sebuah pisau. Ia pun terkejut dan berkeringat dingin. Perlahan, ia menoleh ke belakang.
Rupanya yang mengkalungkan pisau itu adalah seorang anak kecil yang kurang lebih berusia tiga tahun, berkelamin pria. Mulutnya yang lebar tertawa terkekeh-kekeh, membuat pipinya yang tembam jadi makin tembam. Ternyata pisau itu adalah pisau mainan yang terbuat dari plastik.
"Daiki!!!" teriak seorang ibu-ibu muda berambut panjang lurus dan berbaju kaos putih lengan panjang dan celana biru. Ia berlari ke arah Fumiko dan menarik tangan anak laki-laki berbaju merah bergambar beruang dan celana pendek biru yang tadi mengkalungkan pisau pada Fumiko. "Daiki, jangan nakal ya!!"
Fumiko tersenyum lega, kemudian menatap ibu-ibu muda itu. "Dia anak ibu?"
"Iya!" Angguk si ibu-ibu muda yang kemudian membungkuk. "Maafkan kenakalan anakku, ya!?"
Fumiko mengangguk. "Namanya juga anak-anak."
"Daiki, ayo minta maaf sama kakak ini!" kata ibu-ibu muda tersebut sambil menepuk punggung Daiki dan menunjuk Fumiko.
"Maaf ya kakak...," ucap Daiki sembari membungkuk.
"Um!" Angguk Fumiko sambil tersenyum manis.
Setelah tersenyum pada Fumiko, ibu-ibu muda itu pun pergi sambil menggendong Daiki. Saat itu, Ariel datang.
"Ayo, kita jogging lagi," ajak Ariel, membuat Fumiko membalikkan badan ke depan.
Fumiko mengangguk dan tersenyum, lalu berdiri dan kembali berlari-lari kecil bersama Ariel di pinggiran jalan.
Di tengah asyik-asyiknya jogging, tiba-tiba mereka berdua melihat banyak orang berlarian sambil berteriak ketakutan. Diantara orang-orang itu ada dua orang berseragam 'security', mereka berlari seperti dikejar setan. Tidak lama kemudian, diantara orang-orang yang berlarian itu, muncullah sosok yang dijuluki Belalang Hitam, dialah Kennichi. Kennichi tengah mengejar dua security yang berlari itu.
"Belalang Hitam??" kata Fumiko terkejut.
"Mungkin saja dia Mechaster. Sayang aku lupa membawa ponsel, jadi tidak terlacak dari awal," gumam Ariel.
"Ariel, lebih baik kita pulang saja!" ajak Fumiko.
"Tidak!" tepis Ariel. "Aku akan melawan si Belalang Hitam itu! Mungkin saja dia Mechaster."
"Tapi ..." ucap Fumiko, menggantung. Sementara Ariel menuju ke tempat si Belalang Hitam.
Begitu sudah dekat, Ariel menghadang Kennichi alias Belalang Hitam yang sedang mengejar dua security tadi.
"Siapa kau? Kenapa menghadangku?" tanya Kennichi.
"Matsuyama Ariel. Aku datang untuk meladenimu! Cukup jelas?" jawab Ariel.
Kennichi tertawa. "Kau masih muda. Hati-hati kalau bicara! Jika kau ingin mati, katakan saja!"
"Kita lihat, siapa yang akan mati!" balas Ariel dengan nada bicara dingin seperti biasa.
Sementara itu, Fumiko yang melihat dari kejauhan hanya bisa sembunyi di balik pohon. Orang-orang yang berlarian pun jumlahnya semakin sedikit, hingga hilang sama sekali dan membuat suasana menjadi sangat sepi. Di tempat itu hanya ada Fumiko dan Ariel yang saat ini tengah bertarung dengan si Belalang Hitam.
Tebasan demi tebasan golok yang sangat bertenaga dilancarkan oleh Kennichi. Namun, semuanya mampu dihindari oleh Ariel dengan lincah. Tapi, itu semua tak berlangsung lama, karena salah membaca pergerakan Kennichi, Ariel pun kecolongan, ia kena tebas di bagian pundaknya yang menimbulkan goresan memanjang hingga dada. Darah segar mengalir dari sana.
"Bagaimana, anak muda?" tanya Kennichi yang kemudian tertawa.
Ariel mendecih, lalu maju dua langkah sambil mengepalkan tangannya dan melakukan tinjuan lurus ke dada Kennichi.
Refleks, Kennichi pun berkelit dengan cepat dan segera menyarangkan sabetan besar ke arah kepala Ariel.
Membaca serangan yang datang, Ariel meliukkan tubuhnya kebelakang. Kemudian kaki kanannya menendang tangan kanan Kennichi yang memegang golok sambil melakukan backflip ke belakang. Golok pun terlempar dari tangan Kennichi dan menancap di tanah.
"Hari ini, aku akan segera menghentikan terrormu, Belalang Hitam!" ucap Ariel setelah mendarat di tanah dan berdiri.
"Hraaaaaaa!!!" teriak Kennichi sambil berlari ke arah Ariel.
Begitu telah dekat dengan Ariel, Kennichi melepaskan pukulan datar.
Pukulan tersebut ditangkap oleh tangan kanan Ariel. Setelah itu Ariel memelintir lengan Kennichi. Tapi, tangan kiri Kennichi dengan cepat memegang pergelangan tangan Ariel yang memilintir lengannya dan membalas dengan mengunci tangan Ariel. Namun, Ariel berhasil lolos dari kuncian tersebut, kemudian ia melesakkan tinju kirinya ke arah wajah Kennichi yang mengenakan topeng.
Tak mau kalah, Kennichi pun menangkis dengan punggung tangan kirinya, hingga akhirnya mereka beradu jurus pukulan dan tendangan selama beberapa saat. Serangan-serangan yang mereka lancarkan sangat cepat dan seolah tak mengijinkan lawan untuk bernapas.
Akan tetapi, tak lama kemudian, Ariel yang melihat celah pada pertahanan Kennichi dengan cepat menendangnya. Menendangnya di bagian dada. Kennichi pun terpental dan muntah darah.
"Tcih! Kuat sekali walau masih muda," ucap Kennichi sembari memegangi dadanya. Ia yang merasa tak bisa melanjutkan pertarungan pun kabur.
Tentu saja Ariel mengejarnya.
Akan tetapi...
DUAKH!!
Ariel mendapat tendangan terbang dari seseorang dari sebelah kanannya, membuatnya terlempar cukup jauh.
Ariel berusaha bangkit dan melihat siapa yang telah menendangnya.
Orang yang menendangnya adalah seorang pria kulit putih berpakaian kantoran serba hitam dan berwajah oval yang dihiasi rambut pendek agak kepinggir nan rapih. Matanya sipit dengan alis yang tebal, hidungnya pipih, mulutnya kecil, dan daun telinganya besar.
Pria itu menoleh ke arah Kennichi. "Cepat pergi! Orang itu biar aku yang menghadapi!"
Kennichi mengangguk, kemudian lari. Tapi, ia tidak pergi, melainkan bersembunyi di semak-semak dan melihat pria itu yang tengah berhadapan dengan Ariel.
"Siapa kau?" tanya Ariel pada pria berpakaian kantoran itu.
"Aku Thunderer," jawab orang itu. "Apa yang telah kau lakukan, membuatku harus menghabisimu hari ini juga!"
"Silahkan jika kau bisa," balas Ariel.
Thunderer langsung meninju telapak tangan kirinya yang ia tempelkan di depan dada dengan tangan kanannya, sambil berteriak, "Mecha!!!"
Bagan baja kotak keperakan seukuran tubuh Thunderer muncul di kanan dan kiri Thunderer. Bagan tersebut kemudian menyatu dan membungkus tubuh Thunderer. Tak butuh waktu lama, bagan itu kembali memisah, lalu menghilang. Tubuh Thunderer pun berubah menjadi manusia robot yang keseluruhan tubuhnya berwarna perak. Di kedua bahunya ada pelindung baja perak berbentuk zig-zag. Kepalanya dilapisi helm perak dengan dua mata merah menyala dan lambang berbentuk 'petir' di dahinya.
"Mechaster rupanya," gumam Ariel. Ia pun mengambil Blitzdrive dari saku sebelah kiri celananya. Benda tersebut ia tempelkan di depan pinggangnya lalu ia tekan permata merah yang ada di permukaan benda itu.
Benda tersebut, Blitzdrive, pun mengeluarkan tali tebal perak bermotif garis tebal hitam dari samping kanan dan kirinya, lalu melilit pinggang Ariel, membentuk sebuah sabuk dengan Blitzdrive sebagai kepalanya.
Ariel mengambil sebuah kartu bergambar Blitz Crest dari kotak di sebelah kanan sabuknya dengan cari diapit menggunakan jari telunjuk dan tengah kanannya. Setelah kotak kartu itu kembali menutup, ia menekuk lengan kanannya itu ke arah bahu sebelah kirinya secara diagonal, lalu berseru, "Henshin!!" Dan menurunkan lengan kanannya seraya memasukkan kartu yang dipegangnya ke dalam lubang kotak tipis di atas kepala sabuknya.
Permata merah yang ada pada Blitzdrive mengeluarkan cahaya merah terang. Cahaya tersebut memancar sejauh 1,5 meter dan mengeluarkan bayangan hologram berbentuk tubuh manusia yang berdiri tegak dan seluruhnya berwarna merah seukuran tubuh Ariel. Bayangan tersebut memiliki tanduk pipih menyamping nan runcing dan beberapa lekukan yang membentuk sesuatu di sekitar tubuhnya. Bayangan itu kemudian mundur ke arah Ariel dan melapisi tubuhnya. Begitu bayangan tersebut terserap oleh tubuh Ariel, tubuh pemuda itu pun berubah menjadi Kamen Rider Blitzer. Lensa mata biru helmnya mengedipkan cahaya biru terang.
"Hoo... Seorang Kamen Rider!? Musuh bangsa kami! Kebetulan sekali," kata Thunderer yang kemudian berlari ke arah Ariel yang sudah berubah menjadi Blitzer.
Mereka berdua, Thunderer dan Blitzer, pun saling bertukar serangan fisik berupa pukulan, tapakan, sikutan, dan juga tendangan. Beberapa kali mereka mengandalkan 'kuncian' meski masing-masing dari mereka mampu melepaskannya, lalu dilanjut dengan mengadu pukulan dan tendangan saja. Beberapa kali mereka mundur dari posisi mereka berpijak karena kuatnya serangan lawan masing-masing. Tapi, beberapa kali juga mereka maju lagi untuk kembali bertukar serangan fisik. Hal tersebut terus berlangsung sampai beberapa menit. Sampai akhirnya, Blitzer melakukan tendangan berantai secara tepat dan akurat yang dilanjutkan dengan tendangan berputar ke perut Thunderer yang membuatnya terlempar dari beberapa meter dari posisinya berpijak.
"Kau ..." ucap Thunderer sambil berusaha bangkit. "Kuhabisi kau!!!"
Tiba-tiba, telapak tangan kanan Thunderer diselimuti cahaya hitam. Kemudian ia menyentakkan tangan kanannya ke depan, membuat cahaya tersebut meluncur ke arah Blitzer.
Blitzer yang bingung hanya bisa melihat cahaya hitam itu terbang ke atas kepalanya. Tak lama, cahaya hitam tersebut berubah menjadi sebuah lubang hitam.
"Waktunya memulai pertunjukkan," ucap Thunderer. Ia lalu mengangkat telunjuknya ke atas seraya berteriak, "Thunder!!"
Dari dalam lubang hitam yang melayang di atas kepala Blitzer, muncul petir yang menyambar ke arahnya.
Blitzer pun melompat ke kanan. Akan tetapi, petir tersebut tetap menyambarnya, membuatnya jatuh ke tanah. Rupanya ketika dilihat, lubang hitam itu mengikuti ke mana Blitzer pergi.
"Thunder!!" teriak Thunderer sekali lagi, telunjuknya masih teracung ke langit.
Petir pun kembali keluar dari lubang hitam di atas kepala Blitzer. Blitzer segera melompat ke kiri. Namun, ia kembali terkena sambaran petir itu, sampai armornya berasap-asap.
Dari balik semak-semak, Kennichi hanya bisa menyaksikan kehebatan Thunderer mempecundangi Blitzer dengan jurus petirnya. Ia jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Thunderer. Ia pertama kali merampok karena terpaksa, sebab saat itu anaknya sakit dan ia di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ketika Kennichi sedang bersembunyi dari kejaran massa, seorang pria tiba-tiba muncul dan memperkenalkan diri, dialah Thunderer. Thunderer mengatakan, kalau sebentar lagi massa yang mengejar Kennichi akan menemukannya. Tapi, jika ia mau menuruti kata Thunderer, maka Thunderer akan memberikan kekuatan padanya untuk menghajar semua massa. Tapi, syaratnya, Kennichi harus membunuh manusia dan memberi bensin pada Thunderer. Kennichi berpikir lama, dan akhirnya setuju dengan Thunderer. Thunderer kemudian mengkalungkan Kennichi dengan kalung berbandul baja perak yg di tengahnya ada permata merah. Thunderer berkata, jika Kennichi membunuh manusia, jumlah poin yang ada di Killer Board milik Thunderer akan bertambah, karena kalung yang ia berikan pada Kennichi terkoneksi dengan Killer Board miliknya. Selain itu, dimanapun Kennichi berada, Thunderer bisa mengetahuinya. Itulah yg membuat Thunderer bersedia membantu Kennichi, selain karena ia juga butuh bensin. Jadi, sama-sama untung. Selain itu, ada resiko yg harus ditanggung Kennichi, kalung yg Thunderer berikan tidak bisa dilepas. Jika Kennichi tidak membunuh manusia satu hari saja, maka ia lah yang akan mati. Setelah itu, Thunderer akhirnya ia menghilang. Massa pun akhirnya menemukan tempat persembunyian si pria topeng belalang hitam alias Kennichi. Sebetulnya Kennichi ingin lari, tapi jalan tersebut buntu. Tak punya pilihan lain, Kennichi pun menghajar massa yang kebanyakan membawa senjata tajam itu sampai mereka semua tewas. Saat bertarung, indera-indera Kennichi terutama pendengaran dan penglihatan menjadi lebih tajam, karenanya semua serangan massa tersebut tidak ada artinya. Dan sesuai janji, Kennichi harus membunuh manusia dan memberikan bensin pada Thunderer setiap kali Thunderer datang ke rumahnya. Sejujurnya, Kennichi ingin keluar dari situasi ini dan mencari pekerjaan lain, tapi tidak bisa karena kalung yang diberikan Thunderer.
"Thunder!! Thunder!! Thunder!!" teriak Thunderer sambil masih mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
Blitzer pun tersambar petir yang keluar dari lubang hitam di atas kepalanya sebanyak tiga kali berturut-turut, cukup membuatnya tidak berdaya. Asap di armornya pun semakin banyak. Sesekali terlihat percikan konsleting pada armor tersebut.
"Menyerahlah sekarang! Maka aku akan mengampunimu!" teriak Thunderer pada Blitzer yang tengah merangkat di tanah.
"AKU TIDAK AKAN MENYERAH PADA MAKHLUK SEPERTIMU!!" teriak Blitzer sambil berusaha berdiri. Diambilnya selembar kartu putih bergambar Blitz Crest berwarna biru dari dalam Blitzcase. Motif dua segitiga bertepi emas dan dua kotak kecil seperti pada kartu-kartu sebelumnya terlihat menghiasi kartu tersebut, hanya saja warna segitiga dan kotak kecilnya berwarna biru. Di bawah Blitz Crest biru itu ada tulisan 'SPEED ENGINE' yang ditulis dengan huruf kapital seperti pada kartu-kartu sebelumnya. Ariel pun memasukkan kartu tersebut pada lubang kotak yang ada di atas kepala sabuknya.
"SPEED ENGINE!!" kepala sabuknya yakni Blitzdrive mengeluarkan suara.
Permata merah pada Blitzdrive pun berubah menjadi warna biru, lalu terus bersinar terang. Kedua pelindung bahu Blitzer tercerai berai ke segala arah. Rupanya di bahu Blitzer masih ada lagi pelindung bahu walau ukurannya lebih kecil dan berwarna biru serta bergaris emas di bawahnya. Di waktu yang hampir bersamaan, body suit dan helm merah yang melapisi tubuh dan kepala Blitzer berubah menjadi warna biru. Blitz Crest di dada sebelah kanan dan juga Blitzcase berubah jadi warna biru. Cahaya biru di permata sabuknya yang sekarang berwarna biru meredup.
"Kau ..." Thunderer pun terkejut dibuatnya.
"Kamen Rider Blitzer Speed Engine," ucap Blitzer dengan nada sangat dingin.
"Ah, apapun itu, kau tetap saja akan mati di sini!" Thunderer mengangkat telunjuknya ke atas.
Bersamaan dengan itu, Blitzer menekan permata biru pada Blitzdrive.
"POWER!!" Blitzdrive mengeluarkan suara yang membahana dan permata birunya mengedipkan cahaya biru.
"Thunder!!" teriak Thunderer dengan jari mengacung ke atas.
Blitzer tiba-tiba lenyap dari pandangan mata, berikut lubang hitam yang berada di atas kepalanya.
Thunderer pun membelalak. Tak berselang lama, tubuhnya terhantam oleh sesuatu seperti ditinju dengan kecepatan di luar akal sehat. Ia pun terpental. Pada posisi yang masih mengambang di udara, tubuhnya dihantam oleh sesuatu dengan kecepatan yang sama dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah.
"APA INI???" teriak Thunderer, tubuhnya masih terombang-ambing di udara.
Sementara itu, Blitzer melihat Thunderer mengambang di udara, turun dengan sangat lambat bahkan nyaris terhenti.
"Kecepatan ini ... Luar biasa. Ini pertama kalinya aku menggunakan kartu ini," ucap Blitzer. Petir dari lubang hitam di atas kepalanya turun dengan sangat-sangat lambat, nyaris terhenti juga. Sekarang, kedua kakinya dilapisi 'Angriff Shoes'. Blitzer menendang Thunderer--yang masih mengambang di udara itu--beberapa kali. Dengan kecepatan waktu yang dimiliki Blitzer saat ini, membuat gerakannya super cepat bagi Thunderer dan lingkungan sekitarnya, sedangkan gerakan Thunderer dan lingkungan sekitar terlihat super lambat bagi Blitzer.
"POWER!!" Blitzdrive mengeluarkan suara begitu permata birunya ditekan oleh Blitzer.
Permata biru tersebut langsung bercahaya terang. Baling-baling Angriff Shoes sebelah kanan berputar kencang, Blitz Crest dan tiga kotak pada sepasang Angriff Shoes bercahaya, lubang silinder Angriff Shoes sebelah kiri mengeluarkan api dan membuat Blitzer melesat ke udara dengan tapak Angriff Shoes sebelah kanan yang diselimuti listrik. Setelah itu ia menekuk kaki kirinya ke belakang dan agak mengarah ke atas. Blitzer pun meluncur ke bawah dalam posisi menendang dan tak lama kemudian kaki kanannya menghantam dada Thunderer.
Thunderer langsung terlempar ke belakang. Ketika berusaha bangkit, tubuhnya berkelap-kelip merah. Ia pun berteriak keras dan akhirnya meledak.
"ENGINE OVER!!" Blitzdrive pun mengeluarkan suara.
Tubuh Blitzer kembali dapat dilihat oleh pandangan mata. Ia yang sedang berlutut di tanah pun berdiri. Lubang hitam di atas kepalanya menghilang dan cahaya pada permata biru Blitzdrive berhenti menyala. Tapak sepatu kanannya tak lagi diselimuti petir. Bersamaan dengan itu, kalung pemberian Thunderer yang dikenakan Kennichi menghilang, membuat Kennichi terkejut seketika.
Setelah baling-baling Angriff Shoes sebelah kanan berhenti serta cahaya Blitz Crest dan tiga kotak pada Angriff Shoes meredup, benda yang melapisi kedua kaki Blitzer itu berubah menjadi hologram dan menghilang, Blitzer menekan tuas kecil yang berada di tengah-tengah belakang tali Blitzdrive yang melilit pinggangnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegangi Blitzdrive.
Tali tersebut kembali masuk ke Blitzdrive. Blitzcase terbawa dan kembali menempel pada sisi kanan Blitzdrive. Blitzer pun kembali ke wujud manusianya, Ariel Matsuyama.
Kennichi ke luar dari tempat persembunyiannya, lalu menghampiri Ariel.
"Aku menyerah, anak muda," ucap Kennichi yang kemudian mengangkat kedua lengannya. "Aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku asal kau mau menuruti satu permintaanku."
"Apa itu?" tanya Ariel.
"Aku mau kau mencarikan putriku orangtua asuh yang penyayang dan mau mengasuh anak secara sukarela," jawab Kennichi. Lengannya sudah tidak diangkat lagi.
"Baiklah," balas Ariel. Saat itu, mobil polisi datang.
Seorang polisi keluar dari mobil tersebut. Ia segera menghampiri Kennichi, lalu memborgol kedua tangannya. Setelah memasukkan Kennichi ke dalam mobil dan dia juga masuk, polisi itu pun tancap gas.
Singkat cerita, Kennichi sudah dipenjara. Terrornya sudah menghilang dari Jepang, dan putrinya sudah diberi orangtua asuh sesuai janji Ariel yang meminta alamat lengkap Kennichi pada kepolisian setempat. Esoknya, putri Kennichi, Nanami, yang ditemani orangtua asuhnya mengunjungi Kennichi. Meski Nanami sudah tahu ayahnya jahat, tapi rasa sayangnya pada ayahnya tidak pudar, karena ia tahu, ayahnya seperti itu demi dirinya, demi putri yang sangat Kennichi cintai.
Ariel mengangguk. "Apapun itu, aku sama sekali tidak merasakan terrornya. Takut pun tidak."
"Yaaa aku paham bagaimana dirimu," balas Fumiko.
"Ngomong-ngomong, bagaimana turnamen waktu itu?" tanya Ariel. "Apa dibatalkan?"
"Kemarin kata panitianya diundur satu bulan lagi," jawab Fumiko, ia pun cemberut.
"Sudahlah...," kata Ariel. "Yang penting masih dilaksanakan."
Fumiko mengangguk meski wajahnya masih cemberut.
"Fumiko, kau tunggu di situ, ya!" kata Ariel sembari menunjuk sebuah taman dengan banyak permainan seperti ayunan, perosotan, dan lain-lain.
"Lho, kenapa??" tanya Fumiko.
"Aku mau buang air kecil," jawab Ariel yang kemudian berlari menuju sebuah rumah kecil bercat biru dan bertuliskan 'Toilet Umum' yang tidak jauh dari taman.
"Baiklah." Fumiko lalu berjalan menuju taman, kemudian duduk di rerumputan sambil memainkan smartphone yang ia ambil di saku celana samping kanannya. Sesekali, ia mengelap keringatnya dengan handuk yang ia bawa.
Di saat Fumiko asyik-asyiknya memainkan smartphone, tiba-tiba lehernya dikalungi sebuah pisau. Ia pun terkejut dan berkeringat dingin. Perlahan, ia menoleh ke belakang.
Rupanya yang mengkalungkan pisau itu adalah seorang anak kecil yang kurang lebih berusia tiga tahun, berkelamin pria. Mulutnya yang lebar tertawa terkekeh-kekeh, membuat pipinya yang tembam jadi makin tembam. Ternyata pisau itu adalah pisau mainan yang terbuat dari plastik.
"Daiki!!!" teriak seorang ibu-ibu muda berambut panjang lurus dan berbaju kaos putih lengan panjang dan celana biru. Ia berlari ke arah Fumiko dan menarik tangan anak laki-laki berbaju merah bergambar beruang dan celana pendek biru yang tadi mengkalungkan pisau pada Fumiko. "Daiki, jangan nakal ya!!"
Fumiko tersenyum lega, kemudian menatap ibu-ibu muda itu. "Dia anak ibu?"
"Iya!" Angguk si ibu-ibu muda yang kemudian membungkuk. "Maafkan kenakalan anakku, ya!?"
Fumiko mengangguk. "Namanya juga anak-anak."
"Daiki, ayo minta maaf sama kakak ini!" kata ibu-ibu muda tersebut sambil menepuk punggung Daiki dan menunjuk Fumiko.
"Maaf ya kakak...," ucap Daiki sembari membungkuk.
"Um!" Angguk Fumiko sambil tersenyum manis.
Setelah tersenyum pada Fumiko, ibu-ibu muda itu pun pergi sambil menggendong Daiki. Saat itu, Ariel datang.
"Ayo, kita jogging lagi," ajak Ariel, membuat Fumiko membalikkan badan ke depan.
Fumiko mengangguk dan tersenyum, lalu berdiri dan kembali berlari-lari kecil bersama Ariel di pinggiran jalan.
Di tengah asyik-asyiknya jogging, tiba-tiba mereka berdua melihat banyak orang berlarian sambil berteriak ketakutan. Diantara orang-orang itu ada dua orang berseragam 'security', mereka berlari seperti dikejar setan. Tidak lama kemudian, diantara orang-orang yang berlarian itu, muncullah sosok yang dijuluki Belalang Hitam, dialah Kennichi. Kennichi tengah mengejar dua security yang berlari itu.
"Belalang Hitam??" kata Fumiko terkejut.
"Mungkin saja dia Mechaster. Sayang aku lupa membawa ponsel, jadi tidak terlacak dari awal," gumam Ariel.
"Ariel, lebih baik kita pulang saja!" ajak Fumiko.
"Tidak!" tepis Ariel. "Aku akan melawan si Belalang Hitam itu! Mungkin saja dia Mechaster."
"Tapi ..." ucap Fumiko, menggantung. Sementara Ariel menuju ke tempat si Belalang Hitam.
Begitu sudah dekat, Ariel menghadang Kennichi alias Belalang Hitam yang sedang mengejar dua security tadi.
"Siapa kau? Kenapa menghadangku?" tanya Kennichi.
"Matsuyama Ariel. Aku datang untuk meladenimu! Cukup jelas?" jawab Ariel.
Kennichi tertawa. "Kau masih muda. Hati-hati kalau bicara! Jika kau ingin mati, katakan saja!"
"Kita lihat, siapa yang akan mati!" balas Ariel dengan nada bicara dingin seperti biasa.
Sementara itu, Fumiko yang melihat dari kejauhan hanya bisa sembunyi di balik pohon. Orang-orang yang berlarian pun jumlahnya semakin sedikit, hingga hilang sama sekali dan membuat suasana menjadi sangat sepi. Di tempat itu hanya ada Fumiko dan Ariel yang saat ini tengah bertarung dengan si Belalang Hitam.
Tebasan demi tebasan golok yang sangat bertenaga dilancarkan oleh Kennichi. Namun, semuanya mampu dihindari oleh Ariel dengan lincah. Tapi, itu semua tak berlangsung lama, karena salah membaca pergerakan Kennichi, Ariel pun kecolongan, ia kena tebas di bagian pundaknya yang menimbulkan goresan memanjang hingga dada. Darah segar mengalir dari sana.
"Bagaimana, anak muda?" tanya Kennichi yang kemudian tertawa.
Ariel mendecih, lalu maju dua langkah sambil mengepalkan tangannya dan melakukan tinjuan lurus ke dada Kennichi.
Refleks, Kennichi pun berkelit dengan cepat dan segera menyarangkan sabetan besar ke arah kepala Ariel.
Membaca serangan yang datang, Ariel meliukkan tubuhnya kebelakang. Kemudian kaki kanannya menendang tangan kanan Kennichi yang memegang golok sambil melakukan backflip ke belakang. Golok pun terlempar dari tangan Kennichi dan menancap di tanah.
"Hari ini, aku akan segera menghentikan terrormu, Belalang Hitam!" ucap Ariel setelah mendarat di tanah dan berdiri.
"Hraaaaaaa!!!" teriak Kennichi sambil berlari ke arah Ariel.
Begitu telah dekat dengan Ariel, Kennichi melepaskan pukulan datar.
Pukulan tersebut ditangkap oleh tangan kanan Ariel. Setelah itu Ariel memelintir lengan Kennichi. Tapi, tangan kiri Kennichi dengan cepat memegang pergelangan tangan Ariel yang memilintir lengannya dan membalas dengan mengunci tangan Ariel. Namun, Ariel berhasil lolos dari kuncian tersebut, kemudian ia melesakkan tinju kirinya ke arah wajah Kennichi yang mengenakan topeng.
Tak mau kalah, Kennichi pun menangkis dengan punggung tangan kirinya, hingga akhirnya mereka beradu jurus pukulan dan tendangan selama beberapa saat. Serangan-serangan yang mereka lancarkan sangat cepat dan seolah tak mengijinkan lawan untuk bernapas.
Akan tetapi, tak lama kemudian, Ariel yang melihat celah pada pertahanan Kennichi dengan cepat menendangnya. Menendangnya di bagian dada. Kennichi pun terpental dan muntah darah.
"Tcih! Kuat sekali walau masih muda," ucap Kennichi sembari memegangi dadanya. Ia yang merasa tak bisa melanjutkan pertarungan pun kabur.
Tentu saja Ariel mengejarnya.
Akan tetapi...
DUAKH!!
Ariel mendapat tendangan terbang dari seseorang dari sebelah kanannya, membuatnya terlempar cukup jauh.
Ariel berusaha bangkit dan melihat siapa yang telah menendangnya.
Orang yang menendangnya adalah seorang pria kulit putih berpakaian kantoran serba hitam dan berwajah oval yang dihiasi rambut pendek agak kepinggir nan rapih. Matanya sipit dengan alis yang tebal, hidungnya pipih, mulutnya kecil, dan daun telinganya besar.
Pria itu menoleh ke arah Kennichi. "Cepat pergi! Orang itu biar aku yang menghadapi!"
Kennichi mengangguk, kemudian lari. Tapi, ia tidak pergi, melainkan bersembunyi di semak-semak dan melihat pria itu yang tengah berhadapan dengan Ariel.
"Siapa kau?" tanya Ariel pada pria berpakaian kantoran itu.
"Aku Thunderer," jawab orang itu. "Apa yang telah kau lakukan, membuatku harus menghabisimu hari ini juga!"
"Silahkan jika kau bisa," balas Ariel.
Thunderer langsung meninju telapak tangan kirinya yang ia tempelkan di depan dada dengan tangan kanannya, sambil berteriak, "Mecha!!!"
Bagan baja kotak keperakan seukuran tubuh Thunderer muncul di kanan dan kiri Thunderer. Bagan tersebut kemudian menyatu dan membungkus tubuh Thunderer. Tak butuh waktu lama, bagan itu kembali memisah, lalu menghilang. Tubuh Thunderer pun berubah menjadi manusia robot yang keseluruhan tubuhnya berwarna perak. Di kedua bahunya ada pelindung baja perak berbentuk zig-zag. Kepalanya dilapisi helm perak dengan dua mata merah menyala dan lambang berbentuk 'petir' di dahinya.
"Mechaster rupanya," gumam Ariel. Ia pun mengambil Blitzdrive dari saku sebelah kiri celananya. Benda tersebut ia tempelkan di depan pinggangnya lalu ia tekan permata merah yang ada di permukaan benda itu.
Benda tersebut, Blitzdrive, pun mengeluarkan tali tebal perak bermotif garis tebal hitam dari samping kanan dan kirinya, lalu melilit pinggang Ariel, membentuk sebuah sabuk dengan Blitzdrive sebagai kepalanya.
Ariel mengambil sebuah kartu bergambar Blitz Crest dari kotak di sebelah kanan sabuknya dengan cari diapit menggunakan jari telunjuk dan tengah kanannya. Setelah kotak kartu itu kembali menutup, ia menekuk lengan kanannya itu ke arah bahu sebelah kirinya secara diagonal, lalu berseru, "Henshin!!" Dan menurunkan lengan kanannya seraya memasukkan kartu yang dipegangnya ke dalam lubang kotak tipis di atas kepala sabuknya.
Permata merah yang ada pada Blitzdrive mengeluarkan cahaya merah terang. Cahaya tersebut memancar sejauh 1,5 meter dan mengeluarkan bayangan hologram berbentuk tubuh manusia yang berdiri tegak dan seluruhnya berwarna merah seukuran tubuh Ariel. Bayangan tersebut memiliki tanduk pipih menyamping nan runcing dan beberapa lekukan yang membentuk sesuatu di sekitar tubuhnya. Bayangan itu kemudian mundur ke arah Ariel dan melapisi tubuhnya. Begitu bayangan tersebut terserap oleh tubuh Ariel, tubuh pemuda itu pun berubah menjadi Kamen Rider Blitzer. Lensa mata biru helmnya mengedipkan cahaya biru terang.
"Hoo... Seorang Kamen Rider!? Musuh bangsa kami! Kebetulan sekali," kata Thunderer yang kemudian berlari ke arah Ariel yang sudah berubah menjadi Blitzer.
Mereka berdua, Thunderer dan Blitzer, pun saling bertukar serangan fisik berupa pukulan, tapakan, sikutan, dan juga tendangan. Beberapa kali mereka mengandalkan 'kuncian' meski masing-masing dari mereka mampu melepaskannya, lalu dilanjut dengan mengadu pukulan dan tendangan saja. Beberapa kali mereka mundur dari posisi mereka berpijak karena kuatnya serangan lawan masing-masing. Tapi, beberapa kali juga mereka maju lagi untuk kembali bertukar serangan fisik. Hal tersebut terus berlangsung sampai beberapa menit. Sampai akhirnya, Blitzer melakukan tendangan berantai secara tepat dan akurat yang dilanjutkan dengan tendangan berputar ke perut Thunderer yang membuatnya terlempar dari beberapa meter dari posisinya berpijak.
"Kau ..." ucap Thunderer sambil berusaha bangkit. "Kuhabisi kau!!!"
Tiba-tiba, telapak tangan kanan Thunderer diselimuti cahaya hitam. Kemudian ia menyentakkan tangan kanannya ke depan, membuat cahaya tersebut meluncur ke arah Blitzer.
Blitzer yang bingung hanya bisa melihat cahaya hitam itu terbang ke atas kepalanya. Tak lama, cahaya hitam tersebut berubah menjadi sebuah lubang hitam.
"Waktunya memulai pertunjukkan," ucap Thunderer. Ia lalu mengangkat telunjuknya ke atas seraya berteriak, "Thunder!!"
Dari dalam lubang hitam yang melayang di atas kepala Blitzer, muncul petir yang menyambar ke arahnya.
Blitzer pun melompat ke kanan. Akan tetapi, petir tersebut tetap menyambarnya, membuatnya jatuh ke tanah. Rupanya ketika dilihat, lubang hitam itu mengikuti ke mana Blitzer pergi.
"Thunder!!" teriak Thunderer sekali lagi, telunjuknya masih teracung ke langit.
Petir pun kembali keluar dari lubang hitam di atas kepala Blitzer. Blitzer segera melompat ke kiri. Namun, ia kembali terkena sambaran petir itu, sampai armornya berasap-asap.
Dari balik semak-semak, Kennichi hanya bisa menyaksikan kehebatan Thunderer mempecundangi Blitzer dengan jurus petirnya. Ia jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Thunderer. Ia pertama kali merampok karena terpaksa, sebab saat itu anaknya sakit dan ia di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ketika Kennichi sedang bersembunyi dari kejaran massa, seorang pria tiba-tiba muncul dan memperkenalkan diri, dialah Thunderer. Thunderer mengatakan, kalau sebentar lagi massa yang mengejar Kennichi akan menemukannya. Tapi, jika ia mau menuruti kata Thunderer, maka Thunderer akan memberikan kekuatan padanya untuk menghajar semua massa. Tapi, syaratnya, Kennichi harus membunuh manusia dan memberi bensin pada Thunderer. Kennichi berpikir lama, dan akhirnya setuju dengan Thunderer. Thunderer kemudian mengkalungkan Kennichi dengan kalung berbandul baja perak yg di tengahnya ada permata merah. Thunderer berkata, jika Kennichi membunuh manusia, jumlah poin yang ada di Killer Board milik Thunderer akan bertambah, karena kalung yang ia berikan pada Kennichi terkoneksi dengan Killer Board miliknya. Selain itu, dimanapun Kennichi berada, Thunderer bisa mengetahuinya. Itulah yg membuat Thunderer bersedia membantu Kennichi, selain karena ia juga butuh bensin. Jadi, sama-sama untung. Selain itu, ada resiko yg harus ditanggung Kennichi, kalung yg Thunderer berikan tidak bisa dilepas. Jika Kennichi tidak membunuh manusia satu hari saja, maka ia lah yang akan mati. Setelah itu, Thunderer akhirnya ia menghilang. Massa pun akhirnya menemukan tempat persembunyian si pria topeng belalang hitam alias Kennichi. Sebetulnya Kennichi ingin lari, tapi jalan tersebut buntu. Tak punya pilihan lain, Kennichi pun menghajar massa yang kebanyakan membawa senjata tajam itu sampai mereka semua tewas. Saat bertarung, indera-indera Kennichi terutama pendengaran dan penglihatan menjadi lebih tajam, karenanya semua serangan massa tersebut tidak ada artinya. Dan sesuai janji, Kennichi harus membunuh manusia dan memberikan bensin pada Thunderer setiap kali Thunderer datang ke rumahnya. Sejujurnya, Kennichi ingin keluar dari situasi ini dan mencari pekerjaan lain, tapi tidak bisa karena kalung yang diberikan Thunderer.
"Thunder!! Thunder!! Thunder!!" teriak Thunderer sambil masih mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
Blitzer pun tersambar petir yang keluar dari lubang hitam di atas kepalanya sebanyak tiga kali berturut-turut, cukup membuatnya tidak berdaya. Asap di armornya pun semakin banyak. Sesekali terlihat percikan konsleting pada armor tersebut.
"Menyerahlah sekarang! Maka aku akan mengampunimu!" teriak Thunderer pada Blitzer yang tengah merangkat di tanah.
"AKU TIDAK AKAN MENYERAH PADA MAKHLUK SEPERTIMU!!" teriak Blitzer sambil berusaha berdiri. Diambilnya selembar kartu putih bergambar Blitz Crest berwarna biru dari dalam Blitzcase. Motif dua segitiga bertepi emas dan dua kotak kecil seperti pada kartu-kartu sebelumnya terlihat menghiasi kartu tersebut, hanya saja warna segitiga dan kotak kecilnya berwarna biru. Di bawah Blitz Crest biru itu ada tulisan 'SPEED ENGINE' yang ditulis dengan huruf kapital seperti pada kartu-kartu sebelumnya. Ariel pun memasukkan kartu tersebut pada lubang kotak yang ada di atas kepala sabuknya.
"SPEED ENGINE!!" kepala sabuknya yakni Blitzdrive mengeluarkan suara.
Permata merah pada Blitzdrive pun berubah menjadi warna biru, lalu terus bersinar terang. Kedua pelindung bahu Blitzer tercerai berai ke segala arah. Rupanya di bahu Blitzer masih ada lagi pelindung bahu walau ukurannya lebih kecil dan berwarna biru serta bergaris emas di bawahnya. Di waktu yang hampir bersamaan, body suit dan helm merah yang melapisi tubuh dan kepala Blitzer berubah menjadi warna biru. Blitz Crest di dada sebelah kanan dan juga Blitzcase berubah jadi warna biru. Cahaya biru di permata sabuknya yang sekarang berwarna biru meredup.
"Kau ..." Thunderer pun terkejut dibuatnya.
"Kamen Rider Blitzer Speed Engine," ucap Blitzer dengan nada sangat dingin.
"Ah, apapun itu, kau tetap saja akan mati di sini!" Thunderer mengangkat telunjuknya ke atas.
Bersamaan dengan itu, Blitzer menekan permata biru pada Blitzdrive.
"POWER!!" Blitzdrive mengeluarkan suara yang membahana dan permata birunya mengedipkan cahaya biru.
"Thunder!!" teriak Thunderer dengan jari mengacung ke atas.
Blitzer tiba-tiba lenyap dari pandangan mata, berikut lubang hitam yang berada di atas kepalanya.
Thunderer pun membelalak. Tak berselang lama, tubuhnya terhantam oleh sesuatu seperti ditinju dengan kecepatan di luar akal sehat. Ia pun terpental. Pada posisi yang masih mengambang di udara, tubuhnya dihantam oleh sesuatu dengan kecepatan yang sama dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah.
"APA INI???" teriak Thunderer, tubuhnya masih terombang-ambing di udara.
Sementara itu, Blitzer melihat Thunderer mengambang di udara, turun dengan sangat lambat bahkan nyaris terhenti.
"Kecepatan ini ... Luar biasa. Ini pertama kalinya aku menggunakan kartu ini," ucap Blitzer. Petir dari lubang hitam di atas kepalanya turun dengan sangat-sangat lambat, nyaris terhenti juga. Sekarang, kedua kakinya dilapisi 'Angriff Shoes'. Blitzer menendang Thunderer--yang masih mengambang di udara itu--beberapa kali. Dengan kecepatan waktu yang dimiliki Blitzer saat ini, membuat gerakannya super cepat bagi Thunderer dan lingkungan sekitarnya, sedangkan gerakan Thunderer dan lingkungan sekitar terlihat super lambat bagi Blitzer.
"POWER!!" Blitzdrive mengeluarkan suara begitu permata birunya ditekan oleh Blitzer.
Permata biru tersebut langsung bercahaya terang. Baling-baling Angriff Shoes sebelah kanan berputar kencang, Blitz Crest dan tiga kotak pada sepasang Angriff Shoes bercahaya, lubang silinder Angriff Shoes sebelah kiri mengeluarkan api dan membuat Blitzer melesat ke udara dengan tapak Angriff Shoes sebelah kanan yang diselimuti listrik. Setelah itu ia menekuk kaki kirinya ke belakang dan agak mengarah ke atas. Blitzer pun meluncur ke bawah dalam posisi menendang dan tak lama kemudian kaki kanannya menghantam dada Thunderer.
Thunderer langsung terlempar ke belakang. Ketika berusaha bangkit, tubuhnya berkelap-kelip merah. Ia pun berteriak keras dan akhirnya meledak.
"ENGINE OVER!!" Blitzdrive pun mengeluarkan suara.
Tubuh Blitzer kembali dapat dilihat oleh pandangan mata. Ia yang sedang berlutut di tanah pun berdiri. Lubang hitam di atas kepalanya menghilang dan cahaya pada permata biru Blitzdrive berhenti menyala. Tapak sepatu kanannya tak lagi diselimuti petir. Bersamaan dengan itu, kalung pemberian Thunderer yang dikenakan Kennichi menghilang, membuat Kennichi terkejut seketika.
Setelah baling-baling Angriff Shoes sebelah kanan berhenti serta cahaya Blitz Crest dan tiga kotak pada Angriff Shoes meredup, benda yang melapisi kedua kaki Blitzer itu berubah menjadi hologram dan menghilang, Blitzer menekan tuas kecil yang berada di tengah-tengah belakang tali Blitzdrive yang melilit pinggangnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegangi Blitzdrive.
Tali tersebut kembali masuk ke Blitzdrive. Blitzcase terbawa dan kembali menempel pada sisi kanan Blitzdrive. Blitzer pun kembali ke wujud manusianya, Ariel Matsuyama.
Kennichi ke luar dari tempat persembunyiannya, lalu menghampiri Ariel.
"Aku menyerah, anak muda," ucap Kennichi yang kemudian mengangkat kedua lengannya. "Aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku asal kau mau menuruti satu permintaanku."
"Apa itu?" tanya Ariel.
"Aku mau kau mencarikan putriku orangtua asuh yang penyayang dan mau mengasuh anak secara sukarela," jawab Kennichi. Lengannya sudah tidak diangkat lagi.
"Baiklah," balas Ariel. Saat itu, mobil polisi datang.
Seorang polisi keluar dari mobil tersebut. Ia segera menghampiri Kennichi, lalu memborgol kedua tangannya. Setelah memasukkan Kennichi ke dalam mobil dan dia juga masuk, polisi itu pun tancap gas.
Singkat cerita, Kennichi sudah dipenjara. Terrornya sudah menghilang dari Jepang, dan putrinya sudah diberi orangtua asuh sesuai janji Ariel yang meminta alamat lengkap Kennichi pada kepolisian setempat. Esoknya, putri Kennichi, Nanami, yang ditemani orangtua asuhnya mengunjungi Kennichi. Meski Nanami sudah tahu ayahnya jahat, tapi rasa sayangnya pada ayahnya tidak pudar, karena ia tahu, ayahnya seperti itu demi dirinya, demi putri yang sangat Kennichi cintai.
To Be Continued
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 13-06-2019 11:36
0
Kutip
Balas