TS
Ariel.Matsuyama
[FanFic] Kamen Rider Blitzer
![[FanFic] Kamen Rider Blitzer](https://dl.kaskus.id/ic.pics.livejournal.com/arielmatsuyama/83052924/5659/5659_900.png)
Kamen Rider Blitzer (仮面ライダー ブリッツァー)
Genre:Action | Drama | Adventure
Quote:
ATTENTION:
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Meski tokoh utama dalam cerita ini adalah "Kamen Rider Blitzer", tapi ceritanya hampir sama seperti manga "Kamen Rider Spirits", bedanya disini semua Kamen Rider dari era Showa sampai yang terbaru satu dunia.
Spoiler for List Episode:
Episode 1: Hobi Membunuh
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 2: Gerombolan Raja Minyak
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 3: Gerombolan Raja Minyak Part 2
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 4: Rival
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 5: Dendam VS Dendam (Ide by: Dhodo Rukanda)
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 6: Jalan Kegelapan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 7: Game Kematian
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 8: Belalang Hitam
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 9: MECHA - MONSTER
[Act 1] [Act 2] [Act 3] [Act 4 (End)]
Episode 10: NEGA
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 11: Inilah Diriku!
[Act 1] [Act 2] [Act 3 (End)]
Episode 12: Darker
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 14: Kasus Kematian Aneh
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 15: Pencuri Kekuatan
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 16: Yami Rider
[Act 1] [Act 2 (End)]
Episode 17: Meringkus Yami RiderNEW!!
[Act 1] [Act 2 (End)]
Spoiler for Realms:
*Theme Song
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
*Main Character
*Main Character 2 (In Process)
*Supporting Character (In Process)
*Villain NEW!!
Quote:
Cerita ini juga diterbitkan di: WATTPAD
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 08-02-2020 18:50
0
12.1K
Kutip
52
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#12
Spoiler for Episode 2 Act 3:
Di siang hari yang sangat terik, sepulang kuliah motor sport merah milik Ariel berpacu kencang melewati perbatasan Kota Zippon menuju Kota Tokyo. Jarak antara Zippon dan Tokyo tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu kurang lebih satu setengah jam, terlebih Ariel naik motor yang memiliki kecepatan diatas rata-rata, dan jarak antara kampusnya dengan Kota Tokyo terbilang cukup dekat.
Tak lama kemudian, motor Ariel berhenti di depan rumah besar berlantai dua. Ia masuk ke halaman rumah dengan pembatas pagar yang terbuat dari banyak batu besar itu. Begitu sampai di dalam, Ariel langsung menghentikan motornya di depan pintu rumah tersebut dan melepas helm merahnya serta menggantungkannya di stang sebelah kiri dan tak lupa menstandarkan motor tersebut dengan standar sebelah kiri, kemudian ia turun dari motor. Setelah itu, ia membuka pintu putih bergagang perak rumah tersebut.
"Selamat datang...." Seorang wanita berwajah bulat, beralis tipis agak panjang, bermata sipit, berpipi tembam, dan berambut panjang sepunggung serta berponi lurus tersenyum pada Ariel ketika Ariel masuk ke dalam rumah tersebut. Ia memakai kaos putih bergaris-garis biru, celana panjang ketat putih, serta sepatu hak tinggi putih.
"Seperti biasa, Kak Hina," balas Ariel yang langsung berjalan menuju meja nomor '46' dari sekian banyak meja yang ada di sana dan dekat dengan dapur. Meja-meja yang lengkap dengan beberapa kursi itu masing-masing berwarna krem begitu juga dengan kursinya dan terbuat dari kayu jati. Meja-meja tersebut berlapis taplak putih panjang. Ada cukup banyak orang yang duduk di bangku-bangku itu menikmati makanan dan minuman mereka sambil mengobrol. Ariel lalu duduk di bangku dekat meja nomor 46 itu.
"Hmm ... Sayangnya persedian bumbu ayam bakar sudah habis hari ini. Eiji lupa membelikan stok lagi," ucap wanita bernama lengkap 'Hina Izumi' itu.
Ariel menghela nafas. "Selalu saja."
Hina hanya tertawa kecil sambil masuk ke dapur.
"Namanya juga Eiji," ucap seorang pria yang tiba-tiba turun dari tangga. Rambutnya pirang ikal dan bagian depannya panjang serta disisir ke kanan.
Ariel menoleh ke arah pria tersebut. "Kak Ankh?"
Pria bernama Ankh itu memiliki tangan kanan seperti tangan 'monster'--dari batas siku sampai jari--dengan kuku yang lancip. Warna tangan itu dominan merah, hitam, serta hijau. Di bagian atasnya ada bagian seperti 'burung' yang menempel dengan sayap membentang.
"Kau seperti tidak tahu Eiji saja." Ankh lalu berjalan dan duduk di salah satu bangku yang ada meja nomor 46 yang dekat dengan Ariel. "Bahkan sebelum tempat ini direnovasi," lanjutnya sembari memangku kedua tangan di dada. Ia memiliki wajah yang lonjong, alis tipis, mata sayu, hidung kecil, bibirnya pun juga kecil. Tubuhnya yang tinggi kurus dilapisi baju kaos putih dengan tulisan 'gravity' berbalut rompi putih lengan pendek, sementara celananya adalah celana jeans biru.
"Lalu kemana dia sekarang?" tanya Ariel.
Ankh mengangkat kedua bahunya. "Entahlah."
Tiba-tiba dari dalam dapur keluar seorang pria tinggi berkulit putih, berambut hitam (seperti warna rambut pada umumnya) lurus agak panjang dengan bagian samping yang menutupi kedua telinganya dan sedikit berdiri serta berponi menyamping agak ke tengah, berwajah oval, beralis agak tebal, dan bermata hitam (seperti warna mata pada umumnya) sipit. Sesekali ia memegangi hidung mancungnya. "Aku disini," katanya. Bibirnya yang berukuran sedang itu tersenyum lebar. Ia mengenakan kaos lengan panjang warna oranye berpola garis-garis tebal yang didominasi warna abu-abu, krem, dan ungu. Tangan kanannya memegang kantung kresek hitam.
"Kak Eiji, pesananmu sudah kubawa," ucap Ariel.
"Pesananmu juga." Eiji yang bernama lengkap 'Eiji Hino' itu mengangkat kantung kreseknya seraya menunjukkannya pada Ariel. Kemudian ia duduk di bangku yang dekat dengan Ariel.
Ariel membuka tasnya, di sana ia mengambil kantung plastik hitam berukuran cukup besar berisi 'bayam'. "Ini! Masih segar, karena baru kupetik di belakang kampusku." Ia lalu memberikan seplastik bayam itu pada Eiji.
Eiji pun menerimanya. "Terimakasih," ucapnya sambil tersenyum lebar. Ia kemudian memberikan kantung plastik yang ia bawa pada Ariel. "Dan ini pesananmu!"
Ariel mengambil kantung plastik tersebut. Ia lalu membuka ikatan kantung plastik itu dan mengambil sesuatu di dalamnya. Sesuatu itu ialah celana kolor warna hitam dengan simbol merah besar yang sama seperti simbol merah di kalung Ariel. Simbol itu ada di bagian depan dan belakangnya.
"Mudah-mudahan kau suka kolor buatanku." Eiji tersenyum.
"Modelnya bagus," ucap Ariel. Ia kembali memasukkan kolor itu ke dalam plastik dan kembali mengikat plastik tersebut.
"Oh iya, Ariel, apa kau sudah tahu berita tentang kelangkaan bahan bakar hari ini?" tanya Eiji.
Ariel mengangguk. "Aku menontonnya tadi pagi. Untungnya meski sekarang harganya sangat mahal, aku masih mampu membelinya."
Tiba-tiba, Hina datang sambil membawa nampan warna cokelat berisi semangkuk sup miso dan segelas kopi susu. "Sekarang makan dan minum ini saja dulu," katanya sembari menghidangkan sup miso dan kopi susu itu di atas meja Ariel.
"Terimakasih, Kak Hina," ucap Ariel sambil menatap Hina.
Hina tersenyum manis. "Sama-sama." Ia lalu pergi sambil membawa nampan yang isinya sudah kosong.
"Jadi, apa kau tertarik dengan kasus kelangkaan bahan bakar ini?" tanya Eiji pada Ariel
"Jika pelakunya adalah 'Mechaster', maka aku akan segera bertindak," jawab Ariel.
"Lalu jika bukan?"
Ariel diam sejenak, kemudian menjawab, "Entahlah ..."
"Apa tujuanmu membunuh para Mechaster masih sama?"
Ariel terdiam cukup lama mendengar pertanyaan Eiji. Tujuannya membunuh Mechaster (yakni spesies monster yang sejenis dengan Orpharer yang ia habisi kemarin pagi) hanyalah untuk 'BALAS DENDAM'.
"Yaa aku paham." Eiji mengusap belakang kepalanya. "Meski tujuanmu adalah balas dendam, alam tetap akan memberkatimu, karena secara tak langsung kau sudah melindungi manusia."
"Aku tidak melindungi mereka!" ujar Ariel dengan nada cukup keras. "Untuk apa aku melindungi orang-orang yang bukan siapa-siapaku dan tentunya tak bisa kupercaya!"
"Berisik!" seru Ankh. Ia saat ini tengah memainkan smartphone merahnya.
Eiji mengusap kepalanya sekali lagi sambil tertawa kecil yang terlihat dipaksakan. "Maaf kalau pertanyaanku membuatmu marah, Ariel."
Ariel menyendok sup miso yang terhidang untuknya dan menyeruput kuahnya lalu memakan isinya.
"Nanti aku akan mencoba menyelidiki kasus kelangkaan bensin itu dan akan berusaha menangkap pelakunya dan menyerahkannya pada polisi. Jika ini ada kaitannya dengan Mechaster, aku akan menghubungimu!" ucap Eiji.
"Baik! Aku percayakan padamu!" ujar Ariel. Ia lalu mengambil gelas berisi kopi susu yang terhidang untuknya kemudian menyeruputnya.
Eiji mengangguk.
Ariel merogoh saku celananya, mengambil smartphonenya dari sana, lalu mengecek jam yang ada di layar benda tersebut. Waktu menunjukkan pukul satu lewat delapan belas menit. "Aku harus pergi," katanya yang kemudian berdiri dari bangku.
"Lho, kenapa buru-buru sekali?"
"Ada urusan penting.
"Hmm ... Baiklah kalau begitu."
Ariel mengambil dompet hitam bergaris-garis merah dari saku belakang kiri celananya, mengambil selembar uang dari sana dan memberikan uang tersebut pada Eiji.
"Tidak usah!" tolak Eiji. "Hari ini tidak usah bayar." Ia mengembalikan uang itu pada Ariel.
Ariel menatap bingung pada Eiji dan mengambil uang yang dikembalikan pria tersebut. Setelah memasukkan uang itu pada dompetnya dan mengantongi dompet tersebut di saku belakang kiri celananya, Ariel beranjak keluar dari tempat itu.
Setelah keluar dari rumah bernama 'Cous Coussier' tersebut, Ariel menaiki motornya, mengambil lalu memakai helm yang menggantung di stang, lalu menaikkan standar motor itu, menstarternya dan melesat meninggalkan tempat tersebut.
Malam harinya di kamar Ariel.
Pemuda itu tengah berkutat di meja belajarnya. Di meja belajar tersebut banyak sekali buku tergeletak dan smartphone kesayangannya. Ariel menulis di sebuah buku bersampul merah dan sesekali ia melirik ke arah buku lain yang letaknya dekat dengan buku sampul merah tersebut. Ketika sedang fokus-fokusnya menulis, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang yang membuat fokus Ariel terpecah.
"Masuk!" perintah Ariel tanpa menoleh ke arah pintu.
Pintu--yang tidak dikunci--itu pun terbuka perlahan. Yang membuka ialah seorang gadis berambut hitam panjang yang ternyata adalah Fumiko si teman dekat Ariel.
"Selamat malam, Ariel... Maaf mengganggu," ucap Fumiko.
Ariel menengok ke belakang. "Ada perlu apa?" tanyanya dengan nada datar.
Fumiko merogoh kantung belakang hotpantsnya. Ia mengambil sebuah kartu yang ternyata adalah kartu mahasiswa milik Ariel, kemudian berjalan menghampiri Ariel dan menyerahkan kartu tersebut pada pemuda itu. "Ini!"
Setelah menerima kartu tersebut, Ariel terkejut. "Darimana kau dapatkan ini?"
"Dari orang yang memelukmu di kampus tadi pagi. Dia bilang dia tidak sengaja menemukannya di jalan," jawab Fumiko.
"Pantas saja kucari di mana-mana tidak ada."
"Izumi bilang, katanya sampaikan salam darinya untukmu." Fumiko tersenyum lebar.
Ariel hanya diam. Ia lalu memutar kepalanya ke depan, menaruh kartu mahasiswa-nya di dalam laci meja belajar dan kembali berkutat dengan bukunya.
Fumiko duduk di kasur Ariel, menghela napas, dan menatap langit-langit. Sahabatnya yang satu itu memang sangat dingin. Ia berharap suatu hari nanti sikap dingin Ariel bisa berubah.
Tiba-tiba, smartphone milik Ariel yang tergeletak di meja belajar berbunyi. Ariel pun menjawab panggilan dari smartphonenya.
"Hah?" Ariel nampak terkejut. Lalu ia mengangguk beberapa kali dan berkata, "Iya! Oke! Baik!"
Setelah menutup panggilan di smartphonenya, Ariel pun berdiri, mengambil jaket hitam corak merah kesayangannya yang menggantung di gantungan yang menempel di dinding dekat meja belajar, memakai jaket itu, dan beranjak menuju pintu.
Dahi Fumiko mengernyit. "Ariel, kau mau kemana?"
"Ada urusan penting," jawab Ariel.
"Ooh, baiklah kalau begitu aku pulang dulu," ucap Fumiko yang kemudian berdiri dari kasur Ariel.
Fumiko pun beranjak keluar, disusul oleh Ariel yang kemudian mengunci pintu kamarnya dengan kunci yang ia ambil dari saku jaketnya. Setelah pintu terkunci Ariel kembali memasukkan kunci itu di saku jaketnya.
=***=
"Ibu, aku senang sekali malam ini," ucap bocah laki-laki berambut jabrik pada seorang wanita tinggi berbaju hijau dengan rompi putih tanpa lengan, celana panjang hitam, dan sepatu hak tinggi merah. Wanita itu adalah Aiko. Tinggi si bocah di atas pinggang Aiko.
Aiko tersenyum. "Iya, Masaru. Kalau kamu senang, ibu juga senang."
Masaru membalas senyuman itu dengan senyuman lebar.
Bocah perempuan di samping kiri Aiko menengok ke arah Aiko. "Bu, aku sekarang sangat senang karena kebutuhan kita semuanya sudah tercukupi dan tidak memakai baju tambalan dan tidak tinggal di gubuk lagi. Walaupun mobil kita sedang di bengkel hari ini, tapi aku tetap senang."
Aiko tersenyum pada anaknya yang tingginya hanya sepinggangnya itu. "Ya, Ocha.
Mereka pun berjalan dengan riang. Masing-masing dari mereka memegang plastik besar di kedua tangannya.
Akan tetapi, ketika sedang asyik-asyiknya berjalan sambil bersenandung di jalanan sepi itu, tiba-tiba mereka dihadang oleh seseorang dengan motor sport merah.
Aiko terkejut dan dahinya berkerut bingung. "Siapa kau?" tanyanya pada orang yang menghadangnya itu.
Orang yang menghadang Aiko itu membuka helmnya. "Matsuyama Ariel," jawabnya seraya menaruh helm tersebut di atas motornya dan menyetandarkan motor itu.
"Apa maumu?" tanya Aiko.
Ariel turun dari motor. "Memusnahkanmu!" jawabnya datar.
"Apa??? Masaru, Ocha, cepat cari tempat berlindung!" perintah Aiko pada dua bocah di samping kanan dan kirinya.
"Tapi, bu ..." ucap Masaru.
"Sudahlah! Turuti perintah ibu!" balas Aiko.
"Baik, bu," jawab Masaru, ia lalu menarik tangan Ocha untuk pergi dari sana dan dan mencari tempat persembunyian.
Sekarang, hanya tinggal Ariel dan Aiko.
"Dasar perusak suasana! Kau pikir kau siapa ingin memusnahkanku?" geram Aiko.
"Tunjukkan jati dirimu, Mechaster!" ujar Ariel, nada bicaranya dingin seperti biasanya.
Aiko sontak kaget. "Kau ... Darimana kau tahu?
"Karena aku adalah ... Kamen Rider," jawab Ariel.
"Hoo... Kau Kamen Rider rupanya. Baiklah, aku akan mengajakmu bermain-main sebentar," ucap Aiko. Setelah menaruh kantung belanjaannya di jalanan, Aiko meninju telapak tangan kirinya yang ia tempelkan di depan dada seraya berteriak, "Mecha!!"
Bagan baja kotak keperakan setinggi 2 meter muncul di samping kanan dan kiri Aiko. Bagan tersebut kemudian menyatu dan membungkus tubuh Aiko. Tidak lama kemudian, bagan itu kembali memisah dan menghilang. Tubuh Aiko pun berubah menjadi monster bertubuh baja dan berbentuk gorilla robot yang berdiri tegak layaknya manusia dengan tinggi 2 meter. Giginya runcing serta matanya merah menyala. Monster itu adalah monster robot yang menyamar menjadi Aiko yang asli kemarin malam, bedanya tubuh makhluk itu sekarang terlihat lebih ramping seperti tubuh wanita. Guratan-guratan di wajahnya membuat makhluk tersebut terlihat sangat menakutkan.
"Grraaa...," geram makhluk itu. "Aku adalah Gorirer."
Ariel mengambil Blitdrive dari balik jaket sebelah kanannya, kemudian menempelkan benda itu di depan pinggangnya dengan posisi permata merah menghadap ke depan dan lubang kotak tipis menghadap ke atas. Lalu ditekannya permata merah pada Blitzdrive. Sebuah tali sabuk berwarna perak dengan motif garis tebal keluar dari kedua sisi benda itu, membawa kotak putih di sisi kanan benda tersebut lebih ke kanan dan kedua tali sabuk tersebut bertemu di tengah-tengah belakang, melilit pinggang Ariel.
Ariel kemudian menggeser penutup kotak kartu di sebelah kanan sabuknya lalu mengambil selembar kartu dari sana dengan cara diapit menggunakan jari telunjuk dan tengah. Kartu tersebut memiliki lambang yang mirip dengan lambang di kalungnya. Nama lambang itu adalah 'Blitz Crest'. Usai penutup kotak kartu itu kembali menutup, Ariel menekuk lengan kanannya secara diagonal membentuk sudut siku-siku hingga jari telunjuk dan tengahnya mengarah ke bahu sebelah kirinya.
"Henshin!" seru Ariel. Ia lalu menurunkan tangan kanannya seraya memasukkan kartu yang dipegangnya ke dalam lubang kotak tipis pada Blitzdrive.
Permata merah yang ada pada Blitzdrive mengeluarkan cahaya terang. Cahaya tersebut memancar sejauh 1,5 meter dan mengeluarkan siluet hologram yang seluruhnya berwarna merah seukuran tubuh Ariel. Siluet tersebut memiliki tanduk pipih menyamping nan runcing dan beberapa lekukan di sekitar tubuhnya serta berpose seperti pose Ariel saat ini yaitu berdiri tegak. Sinar tersebut kemudian mundur ke arah Ariel dan melapisi tubuhnya. Begitu sinar terserap oleh tubuh Ariel, tubuh pemuda itu berubah menjadi sesosok 'rider' dengan suit merah yang mencolok serta simbol 'Blitz Crest' di dada sebelah kirinya. Helmnya yang berwarna merah terlihat seperti kepala belalang. Lensa mata biru pada helm itu berkedip. Ariel telah berubah menjadi Kamen Rider Blitzer.
"Ayo maju!" tantang Gorirer.
Blitzer pun berlari ke arah Gorirer. Dan ketika sudah dekat, Blitzer langsung meninju Gorirer dengan tangan kanannya.
"Khuhuhuhuhu...." Gorirer tertawa licik. Tinjuan Blitzer yang sangat keras tidak berarti sama sekali terhadapnya.
"Apa???" Blitzer terkejut.
"Kau memukul atau apa, hah?!" cemooh Gorirer.
"Heeeaaaa!!!" Blitzer kemudian meninju Gorirer bertubi-tubi dengan kedua tangannya, dilanjutkan dengan menendang perut Gorirer dengan telapak kaki kanannya.
Akan tetapi, jangankan bergeser, Gorirer merasakan sakit pun tidak.
"Kau kalau mau memijit itu tenaganya lebih kuat lagi. Atau jangan-jangan tenagamu cuma segitu?" ejek Gorirer. "Baiklah, sekarang giliranku!" Kemudian ia mencekik leher Blitzer dengan tangan kirinya. Gigi roda/gear tajam yang melingkari kedua tangannya berputar semua. Lalu ia menyapukan gear di tangan kanannya ke tubuh Blitzer, dan sesaat setelah melepas cekikan di leher Blitzer, Gorirer menyapukan gear di tangan kirinya ke tubuh rider itu.
Blitzer pun terhuyung ke belakang dan jatuh berlutut. Tubuhnya dipenuhi percikan konsleting serta asap.
"Menyerah atau mati?" tanya Gorirer.
"Lebih baik mati daripada menyerah pada makhluk sepertimu!" jawab Blitzer. Dengan kondisi seperti itu, ia mencoba berdiri, lalu mengambil kartu 'STRIKE MACHINE' dari kotak kartu di sebelah kanan sabuknya. Kartu tersebut kemudian ia masukkan ke lubang kotak yang terdapat di atas kepala Blitzdrive.
"STRIKE MACHINE!!" Suara tersebut terdengar dari kepala Blitzdrive. Permata merah pada Blitzdrive pun mengedipkan cahaya merah.
Hologram berbentuk sepatu yang persis seperti 'kemarin' melapisi kaki kanan Blitzer dan kemudian menjadi nyata.
"Strike Shoes, bantu aku!" gumam Blitzer, menyebutkan nama sepatu tersebut.
Gorirer memegang dagunya. "Mau apa kau? Khahahaha..."
"Lihat saja," balas Blitzer yang kemudian menekan permata merah di sabuknya.
"POWER!!" Blitzdrive mengeluarkan suara yang membahana. Permata merah yang ada di sabuknya itu mengeluarkan cahaya merah terang yang terus menyala. Rasa sakit di tubuh Blitzer langsung hilang seketika.
Tanpa basa-basi, Blitzer langsung melompat tinggi, kemudian bersalto, dan meluncur dengan posisi menendang menggunakan telapak Strike Shoes. Baling-baling pada Strike Shoes berputar kencang. Blitz Crest yang ada di depan Strike Shoes bercahaya merah, begitu pula tiga kotak di punggung sepatu itu. Telapak Strike Shoes pun mengeluarkan api.
"Khahahahaha...." Gorirer hanya tertawa sembari memukul-mukul kedua dadanya dengan kedua tangan yang mengepal dan melihat Blitzer yang meluncur ke arahnya.
Tidak lama kemudian Blitzer datang dan menendang dada Gorirer.
DUAKH!!
Namun, Blitzer malah terpelanting ke belakang dan jatuh ke tanah. Strike Shoes di kaki kanannya langsung lenyap.
"Ti-tidak mungkin!" Blitzer berlutut dan menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Serangan pamungkasnya tidak mempan?
Tak lama kemudian, motor Ariel berhenti di depan rumah besar berlantai dua. Ia masuk ke halaman rumah dengan pembatas pagar yang terbuat dari banyak batu besar itu. Begitu sampai di dalam, Ariel langsung menghentikan motornya di depan pintu rumah tersebut dan melepas helm merahnya serta menggantungkannya di stang sebelah kiri dan tak lupa menstandarkan motor tersebut dengan standar sebelah kiri, kemudian ia turun dari motor. Setelah itu, ia membuka pintu putih bergagang perak rumah tersebut.
"Selamat datang...." Seorang wanita berwajah bulat, beralis tipis agak panjang, bermata sipit, berpipi tembam, dan berambut panjang sepunggung serta berponi lurus tersenyum pada Ariel ketika Ariel masuk ke dalam rumah tersebut. Ia memakai kaos putih bergaris-garis biru, celana panjang ketat putih, serta sepatu hak tinggi putih.
"Seperti biasa, Kak Hina," balas Ariel yang langsung berjalan menuju meja nomor '46' dari sekian banyak meja yang ada di sana dan dekat dengan dapur. Meja-meja yang lengkap dengan beberapa kursi itu masing-masing berwarna krem begitu juga dengan kursinya dan terbuat dari kayu jati. Meja-meja tersebut berlapis taplak putih panjang. Ada cukup banyak orang yang duduk di bangku-bangku itu menikmati makanan dan minuman mereka sambil mengobrol. Ariel lalu duduk di bangku dekat meja nomor 46 itu.
"Hmm ... Sayangnya persedian bumbu ayam bakar sudah habis hari ini. Eiji lupa membelikan stok lagi," ucap wanita bernama lengkap 'Hina Izumi' itu.
Ariel menghela nafas. "Selalu saja."
Hina hanya tertawa kecil sambil masuk ke dapur.
"Namanya juga Eiji," ucap seorang pria yang tiba-tiba turun dari tangga. Rambutnya pirang ikal dan bagian depannya panjang serta disisir ke kanan.
Ariel menoleh ke arah pria tersebut. "Kak Ankh?"
Pria bernama Ankh itu memiliki tangan kanan seperti tangan 'monster'--dari batas siku sampai jari--dengan kuku yang lancip. Warna tangan itu dominan merah, hitam, serta hijau. Di bagian atasnya ada bagian seperti 'burung' yang menempel dengan sayap membentang.
"Kau seperti tidak tahu Eiji saja." Ankh lalu berjalan dan duduk di salah satu bangku yang ada meja nomor 46 yang dekat dengan Ariel. "Bahkan sebelum tempat ini direnovasi," lanjutnya sembari memangku kedua tangan di dada. Ia memiliki wajah yang lonjong, alis tipis, mata sayu, hidung kecil, bibirnya pun juga kecil. Tubuhnya yang tinggi kurus dilapisi baju kaos putih dengan tulisan 'gravity' berbalut rompi putih lengan pendek, sementara celananya adalah celana jeans biru.
"Lalu kemana dia sekarang?" tanya Ariel.
Ankh mengangkat kedua bahunya. "Entahlah."
Tiba-tiba dari dalam dapur keluar seorang pria tinggi berkulit putih, berambut hitam (seperti warna rambut pada umumnya) lurus agak panjang dengan bagian samping yang menutupi kedua telinganya dan sedikit berdiri serta berponi menyamping agak ke tengah, berwajah oval, beralis agak tebal, dan bermata hitam (seperti warna mata pada umumnya) sipit. Sesekali ia memegangi hidung mancungnya. "Aku disini," katanya. Bibirnya yang berukuran sedang itu tersenyum lebar. Ia mengenakan kaos lengan panjang warna oranye berpola garis-garis tebal yang didominasi warna abu-abu, krem, dan ungu. Tangan kanannya memegang kantung kresek hitam.
"Kak Eiji, pesananmu sudah kubawa," ucap Ariel.
"Pesananmu juga." Eiji yang bernama lengkap 'Eiji Hino' itu mengangkat kantung kreseknya seraya menunjukkannya pada Ariel. Kemudian ia duduk di bangku yang dekat dengan Ariel.
Ariel membuka tasnya, di sana ia mengambil kantung plastik hitam berukuran cukup besar berisi 'bayam'. "Ini! Masih segar, karena baru kupetik di belakang kampusku." Ia lalu memberikan seplastik bayam itu pada Eiji.
Eiji pun menerimanya. "Terimakasih," ucapnya sambil tersenyum lebar. Ia kemudian memberikan kantung plastik yang ia bawa pada Ariel. "Dan ini pesananmu!"
Ariel mengambil kantung plastik tersebut. Ia lalu membuka ikatan kantung plastik itu dan mengambil sesuatu di dalamnya. Sesuatu itu ialah celana kolor warna hitam dengan simbol merah besar yang sama seperti simbol merah di kalung Ariel. Simbol itu ada di bagian depan dan belakangnya.
"Mudah-mudahan kau suka kolor buatanku." Eiji tersenyum.
"Modelnya bagus," ucap Ariel. Ia kembali memasukkan kolor itu ke dalam plastik dan kembali mengikat plastik tersebut.
"Oh iya, Ariel, apa kau sudah tahu berita tentang kelangkaan bahan bakar hari ini?" tanya Eiji.
Ariel mengangguk. "Aku menontonnya tadi pagi. Untungnya meski sekarang harganya sangat mahal, aku masih mampu membelinya."
Tiba-tiba, Hina datang sambil membawa nampan warna cokelat berisi semangkuk sup miso dan segelas kopi susu. "Sekarang makan dan minum ini saja dulu," katanya sembari menghidangkan sup miso dan kopi susu itu di atas meja Ariel.
"Terimakasih, Kak Hina," ucap Ariel sambil menatap Hina.
Hina tersenyum manis. "Sama-sama." Ia lalu pergi sambil membawa nampan yang isinya sudah kosong.
"Jadi, apa kau tertarik dengan kasus kelangkaan bahan bakar ini?" tanya Eiji pada Ariel
"Jika pelakunya adalah 'Mechaster', maka aku akan segera bertindak," jawab Ariel.
"Lalu jika bukan?"
Ariel diam sejenak, kemudian menjawab, "Entahlah ..."
"Apa tujuanmu membunuh para Mechaster masih sama?"
Ariel terdiam cukup lama mendengar pertanyaan Eiji. Tujuannya membunuh Mechaster (yakni spesies monster yang sejenis dengan Orpharer yang ia habisi kemarin pagi) hanyalah untuk 'BALAS DENDAM'.
"Yaa aku paham." Eiji mengusap belakang kepalanya. "Meski tujuanmu adalah balas dendam, alam tetap akan memberkatimu, karena secara tak langsung kau sudah melindungi manusia."
"Aku tidak melindungi mereka!" ujar Ariel dengan nada cukup keras. "Untuk apa aku melindungi orang-orang yang bukan siapa-siapaku dan tentunya tak bisa kupercaya!"
"Berisik!" seru Ankh. Ia saat ini tengah memainkan smartphone merahnya.
Eiji mengusap kepalanya sekali lagi sambil tertawa kecil yang terlihat dipaksakan. "Maaf kalau pertanyaanku membuatmu marah, Ariel."
Ariel menyendok sup miso yang terhidang untuknya dan menyeruput kuahnya lalu memakan isinya.
"Nanti aku akan mencoba menyelidiki kasus kelangkaan bensin itu dan akan berusaha menangkap pelakunya dan menyerahkannya pada polisi. Jika ini ada kaitannya dengan Mechaster, aku akan menghubungimu!" ucap Eiji.
"Baik! Aku percayakan padamu!" ujar Ariel. Ia lalu mengambil gelas berisi kopi susu yang terhidang untuknya kemudian menyeruputnya.
Eiji mengangguk.
Ariel merogoh saku celananya, mengambil smartphonenya dari sana, lalu mengecek jam yang ada di layar benda tersebut. Waktu menunjukkan pukul satu lewat delapan belas menit. "Aku harus pergi," katanya yang kemudian berdiri dari bangku.
"Lho, kenapa buru-buru sekali?"
"Ada urusan penting.
"Hmm ... Baiklah kalau begitu."
Ariel mengambil dompet hitam bergaris-garis merah dari saku belakang kiri celananya, mengambil selembar uang dari sana dan memberikan uang tersebut pada Eiji.
"Tidak usah!" tolak Eiji. "Hari ini tidak usah bayar." Ia mengembalikan uang itu pada Ariel.
Ariel menatap bingung pada Eiji dan mengambil uang yang dikembalikan pria tersebut. Setelah memasukkan uang itu pada dompetnya dan mengantongi dompet tersebut di saku belakang kiri celananya, Ariel beranjak keluar dari tempat itu.
Setelah keluar dari rumah bernama 'Cous Coussier' tersebut, Ariel menaiki motornya, mengambil lalu memakai helm yang menggantung di stang, lalu menaikkan standar motor itu, menstarternya dan melesat meninggalkan tempat tersebut.
=***=
Malam harinya di kamar Ariel.
Pemuda itu tengah berkutat di meja belajarnya. Di meja belajar tersebut banyak sekali buku tergeletak dan smartphone kesayangannya. Ariel menulis di sebuah buku bersampul merah dan sesekali ia melirik ke arah buku lain yang letaknya dekat dengan buku sampul merah tersebut. Ketika sedang fokus-fokusnya menulis, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang yang membuat fokus Ariel terpecah.
"Masuk!" perintah Ariel tanpa menoleh ke arah pintu.
Pintu--yang tidak dikunci--itu pun terbuka perlahan. Yang membuka ialah seorang gadis berambut hitam panjang yang ternyata adalah Fumiko si teman dekat Ariel.
"Selamat malam, Ariel... Maaf mengganggu," ucap Fumiko.
Ariel menengok ke belakang. "Ada perlu apa?" tanyanya dengan nada datar.
Fumiko merogoh kantung belakang hotpantsnya. Ia mengambil sebuah kartu yang ternyata adalah kartu mahasiswa milik Ariel, kemudian berjalan menghampiri Ariel dan menyerahkan kartu tersebut pada pemuda itu. "Ini!"
Setelah menerima kartu tersebut, Ariel terkejut. "Darimana kau dapatkan ini?"
"Dari orang yang memelukmu di kampus tadi pagi. Dia bilang dia tidak sengaja menemukannya di jalan," jawab Fumiko.
"Pantas saja kucari di mana-mana tidak ada."
"Izumi bilang, katanya sampaikan salam darinya untukmu." Fumiko tersenyum lebar.
Ariel hanya diam. Ia lalu memutar kepalanya ke depan, menaruh kartu mahasiswa-nya di dalam laci meja belajar dan kembali berkutat dengan bukunya.
Fumiko duduk di kasur Ariel, menghela napas, dan menatap langit-langit. Sahabatnya yang satu itu memang sangat dingin. Ia berharap suatu hari nanti sikap dingin Ariel bisa berubah.
Tiba-tiba, smartphone milik Ariel yang tergeletak di meja belajar berbunyi. Ariel pun menjawab panggilan dari smartphonenya.
"Hah?" Ariel nampak terkejut. Lalu ia mengangguk beberapa kali dan berkata, "Iya! Oke! Baik!"
Setelah menutup panggilan di smartphonenya, Ariel pun berdiri, mengambil jaket hitam corak merah kesayangannya yang menggantung di gantungan yang menempel di dinding dekat meja belajar, memakai jaket itu, dan beranjak menuju pintu.
Dahi Fumiko mengernyit. "Ariel, kau mau kemana?"
"Ada urusan penting," jawab Ariel.
"Ooh, baiklah kalau begitu aku pulang dulu," ucap Fumiko yang kemudian berdiri dari kasur Ariel.
Fumiko pun beranjak keluar, disusul oleh Ariel yang kemudian mengunci pintu kamarnya dengan kunci yang ia ambil dari saku jaketnya. Setelah pintu terkunci Ariel kembali memasukkan kunci itu di saku jaketnya.
=***=
"Ibu, aku senang sekali malam ini," ucap bocah laki-laki berambut jabrik pada seorang wanita tinggi berbaju hijau dengan rompi putih tanpa lengan, celana panjang hitam, dan sepatu hak tinggi merah. Wanita itu adalah Aiko. Tinggi si bocah di atas pinggang Aiko.
Aiko tersenyum. "Iya, Masaru. Kalau kamu senang, ibu juga senang."
Masaru membalas senyuman itu dengan senyuman lebar.
Bocah perempuan di samping kiri Aiko menengok ke arah Aiko. "Bu, aku sekarang sangat senang karena kebutuhan kita semuanya sudah tercukupi dan tidak memakai baju tambalan dan tidak tinggal di gubuk lagi. Walaupun mobil kita sedang di bengkel hari ini, tapi aku tetap senang."
Aiko tersenyum pada anaknya yang tingginya hanya sepinggangnya itu. "Ya, Ocha.
Mereka pun berjalan dengan riang. Masing-masing dari mereka memegang plastik besar di kedua tangannya.
Akan tetapi, ketika sedang asyik-asyiknya berjalan sambil bersenandung di jalanan sepi itu, tiba-tiba mereka dihadang oleh seseorang dengan motor sport merah.
Aiko terkejut dan dahinya berkerut bingung. "Siapa kau?" tanyanya pada orang yang menghadangnya itu.
Orang yang menghadang Aiko itu membuka helmnya. "Matsuyama Ariel," jawabnya seraya menaruh helm tersebut di atas motornya dan menyetandarkan motor itu.
"Apa maumu?" tanya Aiko.
Ariel turun dari motor. "Memusnahkanmu!" jawabnya datar.
"Apa??? Masaru, Ocha, cepat cari tempat berlindung!" perintah Aiko pada dua bocah di samping kanan dan kirinya.
"Tapi, bu ..." ucap Masaru.
"Sudahlah! Turuti perintah ibu!" balas Aiko.
"Baik, bu," jawab Masaru, ia lalu menarik tangan Ocha untuk pergi dari sana dan dan mencari tempat persembunyian.
Sekarang, hanya tinggal Ariel dan Aiko.
"Dasar perusak suasana! Kau pikir kau siapa ingin memusnahkanku?" geram Aiko.
"Tunjukkan jati dirimu, Mechaster!" ujar Ariel, nada bicaranya dingin seperti biasanya.
Aiko sontak kaget. "Kau ... Darimana kau tahu?
"Karena aku adalah ... Kamen Rider," jawab Ariel.
"Hoo... Kau Kamen Rider rupanya. Baiklah, aku akan mengajakmu bermain-main sebentar," ucap Aiko. Setelah menaruh kantung belanjaannya di jalanan, Aiko meninju telapak tangan kirinya yang ia tempelkan di depan dada seraya berteriak, "Mecha!!"
Bagan baja kotak keperakan setinggi 2 meter muncul di samping kanan dan kiri Aiko. Bagan tersebut kemudian menyatu dan membungkus tubuh Aiko. Tidak lama kemudian, bagan itu kembali memisah dan menghilang. Tubuh Aiko pun berubah menjadi monster bertubuh baja dan berbentuk gorilla robot yang berdiri tegak layaknya manusia dengan tinggi 2 meter. Giginya runcing serta matanya merah menyala. Monster itu adalah monster robot yang menyamar menjadi Aiko yang asli kemarin malam, bedanya tubuh makhluk itu sekarang terlihat lebih ramping seperti tubuh wanita. Guratan-guratan di wajahnya membuat makhluk tersebut terlihat sangat menakutkan.
"Grraaa...," geram makhluk itu. "Aku adalah Gorirer."
Ariel mengambil Blitdrive dari balik jaket sebelah kanannya, kemudian menempelkan benda itu di depan pinggangnya dengan posisi permata merah menghadap ke depan dan lubang kotak tipis menghadap ke atas. Lalu ditekannya permata merah pada Blitzdrive. Sebuah tali sabuk berwarna perak dengan motif garis tebal keluar dari kedua sisi benda itu, membawa kotak putih di sisi kanan benda tersebut lebih ke kanan dan kedua tali sabuk tersebut bertemu di tengah-tengah belakang, melilit pinggang Ariel.
Ariel kemudian menggeser penutup kotak kartu di sebelah kanan sabuknya lalu mengambil selembar kartu dari sana dengan cara diapit menggunakan jari telunjuk dan tengah. Kartu tersebut memiliki lambang yang mirip dengan lambang di kalungnya. Nama lambang itu adalah 'Blitz Crest'. Usai penutup kotak kartu itu kembali menutup, Ariel menekuk lengan kanannya secara diagonal membentuk sudut siku-siku hingga jari telunjuk dan tengahnya mengarah ke bahu sebelah kirinya.
"Henshin!" seru Ariel. Ia lalu menurunkan tangan kanannya seraya memasukkan kartu yang dipegangnya ke dalam lubang kotak tipis pada Blitzdrive.
Permata merah yang ada pada Blitzdrive mengeluarkan cahaya terang. Cahaya tersebut memancar sejauh 1,5 meter dan mengeluarkan siluet hologram yang seluruhnya berwarna merah seukuran tubuh Ariel. Siluet tersebut memiliki tanduk pipih menyamping nan runcing dan beberapa lekukan di sekitar tubuhnya serta berpose seperti pose Ariel saat ini yaitu berdiri tegak. Sinar tersebut kemudian mundur ke arah Ariel dan melapisi tubuhnya. Begitu sinar terserap oleh tubuh Ariel, tubuh pemuda itu berubah menjadi sesosok 'rider' dengan suit merah yang mencolok serta simbol 'Blitz Crest' di dada sebelah kirinya. Helmnya yang berwarna merah terlihat seperti kepala belalang. Lensa mata biru pada helm itu berkedip. Ariel telah berubah menjadi Kamen Rider Blitzer.
"Ayo maju!" tantang Gorirer.
Blitzer pun berlari ke arah Gorirer. Dan ketika sudah dekat, Blitzer langsung meninju Gorirer dengan tangan kanannya.
"Khuhuhuhuhu...." Gorirer tertawa licik. Tinjuan Blitzer yang sangat keras tidak berarti sama sekali terhadapnya.
"Apa???" Blitzer terkejut.
"Kau memukul atau apa, hah?!" cemooh Gorirer.
"Heeeaaaa!!!" Blitzer kemudian meninju Gorirer bertubi-tubi dengan kedua tangannya, dilanjutkan dengan menendang perut Gorirer dengan telapak kaki kanannya.
Akan tetapi, jangankan bergeser, Gorirer merasakan sakit pun tidak.
"Kau kalau mau memijit itu tenaganya lebih kuat lagi. Atau jangan-jangan tenagamu cuma segitu?" ejek Gorirer. "Baiklah, sekarang giliranku!" Kemudian ia mencekik leher Blitzer dengan tangan kirinya. Gigi roda/gear tajam yang melingkari kedua tangannya berputar semua. Lalu ia menyapukan gear di tangan kanannya ke tubuh Blitzer, dan sesaat setelah melepas cekikan di leher Blitzer, Gorirer menyapukan gear di tangan kirinya ke tubuh rider itu.
Blitzer pun terhuyung ke belakang dan jatuh berlutut. Tubuhnya dipenuhi percikan konsleting serta asap.
"Menyerah atau mati?" tanya Gorirer.
"Lebih baik mati daripada menyerah pada makhluk sepertimu!" jawab Blitzer. Dengan kondisi seperti itu, ia mencoba berdiri, lalu mengambil kartu 'STRIKE MACHINE' dari kotak kartu di sebelah kanan sabuknya. Kartu tersebut kemudian ia masukkan ke lubang kotak yang terdapat di atas kepala Blitzdrive.
"STRIKE MACHINE!!" Suara tersebut terdengar dari kepala Blitzdrive. Permata merah pada Blitzdrive pun mengedipkan cahaya merah.
Hologram berbentuk sepatu yang persis seperti 'kemarin' melapisi kaki kanan Blitzer dan kemudian menjadi nyata.
"Strike Shoes, bantu aku!" gumam Blitzer, menyebutkan nama sepatu tersebut.
Gorirer memegang dagunya. "Mau apa kau? Khahahaha..."
"Lihat saja," balas Blitzer yang kemudian menekan permata merah di sabuknya.
"POWER!!" Blitzdrive mengeluarkan suara yang membahana. Permata merah yang ada di sabuknya itu mengeluarkan cahaya merah terang yang terus menyala. Rasa sakit di tubuh Blitzer langsung hilang seketika.
Tanpa basa-basi, Blitzer langsung melompat tinggi, kemudian bersalto, dan meluncur dengan posisi menendang menggunakan telapak Strike Shoes. Baling-baling pada Strike Shoes berputar kencang. Blitz Crest yang ada di depan Strike Shoes bercahaya merah, begitu pula tiga kotak di punggung sepatu itu. Telapak Strike Shoes pun mengeluarkan api.
"Khahahahaha...." Gorirer hanya tertawa sembari memukul-mukul kedua dadanya dengan kedua tangan yang mengepal dan melihat Blitzer yang meluncur ke arahnya.
Tidak lama kemudian Blitzer datang dan menendang dada Gorirer.
DUAKH!!
Namun, Blitzer malah terpelanting ke belakang dan jatuh ke tanah. Strike Shoes di kaki kanannya langsung lenyap.
"Ti-tidak mungkin!" Blitzer berlutut dan menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Serangan pamungkasnya tidak mempan?
To Be Continued
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 28-04-2019 20:24
0
Kutip
Balas