Kaskus

Story

sipanjangnapas3Avatar border
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]



Titik Yang Benar

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.

Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.

Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.

Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...

Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"


Neil Young - Only Love Can Break Your Heart




Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)

Iwan fals - Mata hati

Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J

Slank - # 1

Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)

Rusa Militan - Senandung Senja

Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E

Iwan Fals - Masih Bisa Cinta

Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG

Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio


Sorry for...

Never going by your door

Never feeling love like that

Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
YoayoayoAvatar border
penyair.salembaAvatar border
HerisyahrianAvatar border
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.9KAnggota
Tampilkan semua post
sipanjangnapas3Avatar border
TS
sipanjangnapas3
#60
Chapter 3 J (epilog)
Sweet ending? Aku nggak tahu...

Sebab setiap orang pernah tersenyum dan menangis, pernah diangkat tinggi oleh bahagia, lalu dijatuhkan tanpa aba-aba oleh kecewa, dan kadang sebaliknya. Keadaan itu tak bisa ditawar. Waktu tak pernah menoleh ke belakang, dunia tak berhenti berputar, dan perjalanan hidup akan selalu menemukan maknanya sendiri, entah kita sedang berada di titik yang benar atau tidak.

Dan sejatinya, setiap hari adalah dialog panjang antara manusia dengan waktu. Kadang dijawab dengan hiruk-pikuk, kadang lewat keheningan yang justru diam-diam menggugat:
Apakah kita sungguh tahu untuk apa waktu terus berjalan?

Satu tahun berlalu...

Aku mengubah banyak hal pelan-pelan, termasuk diriku sendiri.


Aku membuka diri.
Selalu ada tawa yang tak terdengar asing, banyak obrolan ringan yang membuat rutinitas terasa lebih cepat berlalu.

Dunia yang dulu pernah terasa menekan kini justru tampak lebih ramah. Aku mulai belajar melihat segala sesuatu dengan cara berbeda, bahwa bukan kepastian yang membuat kita bertahan, melainkan keyakinan untuk tetap melangkah, apapun yang terjadi.

"Kalau misalnya kita cuma numpang lewat dalam hidup satu sama lain, apa seenggaknya kita singgah di titik yang benar?"

Pertanyaan itu... masih terngiang jelas di kepalaku. Aku masih ingat bagaimana Tria mengucapkannya, menatapku seakan benar-benar ingin menemukan jawabannya dariku. Dan yang paling kusesalkan, bahkan saat hari-hari kami masih berdampingan, aku tak pernah benar-benar menjawabnya.

Kata-kata itu malah muncul kembali ketika aku melamun sendirian di trotoar jalan dini hari, di perjalanan balik dari rumahnya saat malam terakhir aku mengantarnya pulang.

Dan kini, satu tahun berlalu tanpa dirinya, aku masih terus mengingat kalimat itu.
Seolah waktu memang bisa bergerak ke depan, tapi tak selalu berhasil membawa pergi semua yang pernah singgah.

Ada satu momen, saat hari raya tahun ini. Rumahku penuh sukacita. Kue hari raya, pakaian bersih, tamu-tamu yang datang silih berganti. Di tambah tawa riang keponakan-keponakanku memenuhi ruangan, dan ibuku tampak bahagia melihat semuanya lengkap. Kakak-kakakku berkumpul dengan keluarga mereka, saling bercengkrama riang satu sama lain.


Aku ikut larut, tapi kemudian memilih duduk sebentar di teras. Minum kopi, menyalakan rokok dan makan cookies. Sampai suara ibuku tiba-tiba terdengar.


“Pacarmu mana? Kok belum ke sini?”


Aku tersentak.

“Siapa?”


Ibuku menatapku heran.

“Lho, kok siapa. Tria. Nggak kamu jemput?”


Aku menghela napas.

“Aku udah nggak sama dia, Bu. Udah lama”


Ekspresi ibuku seketika berubah, seakan tak percaya. Tapi ia tidak mendesak, hanya mendekat lalu menepuk pundakku pelan.

“Ya ampun, Mat. Padahal dia baik orangnya. Sayang banget.”


Aku mencoba tersenyum.

“Ya harus gimana lagi. Nggak jodoh.”


Setelah itu ibuku hanya mengangguk kecil, lalu kembali masuk.

Dan di tengah suara ramai ruang tengah yang kudengar waktu itu, dalam heningku, pikiranku tidak ke mana-mana selain membayangkan, andai Tria tak pernah menuntunku kembali kerumah.


Namun pada akhirnya, justru ia sendiri yang menghilang entah ke mana.

Aku masih ingat siang itu. Hari pertama aku benar-benar menjalani hidup tanpanya. Saat mataku terbuka, ada satu tugas sederhana yang langsung muncul di kepalaku:

jangan lagi memikirkan Tria.

Tapi rasanya… gila.

Tanganku justru meraih ponsel, seolah masih ada celah kecil untuk menghubunginya. Padahal aku tahu...
aku tak boleh, aku tak bisa, aku tak seharusnya.

Saat kubuka kontaknya, tak ada lagi foto. Tak ada status. Tak ada tanda bahwa ia masih berada di sana. Hanya nomor yang diam, dan riwayat percakapan lama yang sesekali masih kubaca ulang, terutama di hari-hari awal, ketika aku sedang belajar berjalan tanpa dirinya.

Media sosialnya pun sama. Semua lenyap.
Halaman kosong. Tak ada tanda, tak ada petunjuk.

Mungkin itu caranya.
Cara tercepat agar segalanya berhenti rumit.
Cara tercepat agar segalanya berjalan sederhana.

Sampai aku ingat… aku pernah.

Karena jalur komunikasi tak ada sama sekali. Baik Tria, ataupun Babehnya.


Lima atau enam bulan setelah pertemuan terakhir kami, aku memberanikan diri datang ke rumah itu. Bukan untuk mengaku rindu, apalagi berharap segalanya kembali. Aku tak selemah itu.

Aku hanya ingin tahu, tentang kabar dan keadaan semua orang disana. Sebatas silaturahmi menemui Babeh dan Enyak yang dulu begitu baik padaku.


Dan ternyata, mereka masih sama. Masih menerimaku dengan ramah, seperti menyambut tamu pada umumnya. Bahkan Babeh, dengan sorot mata yang tenang, seolah mengerti segalanya tanpa perlu menghakimi keadaan.


Tapi… Tria tak ada di sana.


Waktu itu Babeh sempat berkata,


“Babeh seneng lo masih inget sama rumah ini, Mat. Masih mau dateng nemuin Babeh sama Enyak lo. Tapi kalau lo nanya kabar soal Tria… Dia baik-baik aja. Cuma udah nggak tinggal di sini. Udah pindah.”


Aku mengangguk.
Tak bertanya ke mana ia pergi. Tak menanyakan ke mana ia berpindah. Apalagi dengan siapa ia kini berbagi hari-harinya.

Rasanya sudah cukup.

Aku tak ingin membuat Babeh berpikir kalau aku masih mengejar. Masih tertahan. Masih tenggelam di nama yang sama.


Semua cara Tria menghilangkan jejaknya terasa begitu rapi, hampir seperti direncanakan dengan matang. Tak ada celah, tak ada pintu yang tersisa untuk kuketuk.
Dan jika benar semua itu ia lakukan demi aku, entah atas dasar alasan apa,
maka ia menang. Ia berhasil membuatku menelan kenyataan, tanpa perlawanan.

Aku tak marah. Aku juga tak melarikan diri.
Aku hanya ingin membuktikan pada kenyataan yang kutelan itu, bahwa aku bisa tetap berdiri. Bahwa aku bisa menjadi lebih baik lagi.

Lebih baik dalam pemikiran, dalam kedewasaan dan mungkin... dalam memahami arti kehilangan itu sendiri.

Ada secuil kepingan dalam diriku yang masih berbisik lirih.
Kini setiap malam, saat aku memandang langit yang luas di atas sana… aku selalu berharap langit hanya menyalakan satu bintang saja, tanpa rasi, tanpa kerumunan.
Karena aku ingat, Tria juga suka menatap langit. Dan mungkin… jika hanya ada satu titik cahaya di sana, kami masih menatap bintang yang sama, dari tempat yang berbeda.

Seperti malam itu.
Di tengah belantara, ketika kami hanya bergantung pada satu cahaya headlamp yang ia kenakan... cahaya kecil yang sampai sekarang tak pernah benar-benar padam dalam ingatanku.



“Sendirian aja, Bang?!”

Aku tersentak. Heningku buyar seketika.

Aku menoleh.
Veronica, rekan kerjaku.
Baru saja membuka pintu mobil dan langsung duduk di sebelahku, di kursi belakang.

“Dari tadi disini?” tanyanya lagi sambil nyengir.

“Iya...” gumamku, setengah rebah di sisi pintu.
“Yang lain pada kemana, Ver? Lama amat.”

“Tahu tuh,” katanya santai. “Pada ngerapihin berkas di resepsionis. Lelet bener jadi manusia.”
Ia terkekeh kecil, lalu menyodorkan satu kaleng kopi dingin. “Nih. Cappuccino. Biar nggak ngantuk.”

“Makasih,” jawabku singkat. “Ntar kalo haus gue minum.”

Tak lama kemudian, dua orang lainnya masuk. Mereka langsung duduk di depan, membawa map dan laptop masing-masing.

“Beres, Bray,” ucap Ricky sambil menyalakan mesin.

“Buruan, Cung. Udah jam empat nih, kena traffic lu.” celetuk Vero di sebelahku.

Ricky mendengus pelan. “Iya, iya. Bawel bener lo, Nyet.”

Mobil perlahan meninggalkan area parkir, meluncur tenang ke jalan raya.
Sore itu langit tampak buram, tapi masih menyisakan warna jingga yang menempel di kaca jendela.

Kami berempat baru saja selesai meeting di kantor klien.
Oh iya, kenalin dulu...
Yang lagi nyetir itu Ricky, staf dari departemen marketing, orangnya hobi ngelawak, meski kadang lawakannya cuma lucu buat dia sendiri. Di sebelahnya duduk Indira, bagian administrasi instalasi unit di lapangan. Cewek berhijab yang pendiam dan anak baru di head office. Tugasnya tadi nggak banyak, cuma ngurus notulen.
Di sampingku, yang dari tadi asyik minum kopi kaleng sambil cengengesan, aku biasa memanggilnya Vero. Ia dari divisi Audit Internal. Orangnya ceria, terbuka dan entah kenapa, lebih mudah nyambung denganku dibanding yang lain.

“Mantap juga lo hari ini, Bray,” ucap Ricky sambil fokus ke jalan, sesekali melirik ke arahku lewat kaca spion.

“Kenapa, Bro?” tanyaku, menoleh pelan.

“Presentasi lo tadi ke mereka,” katanya santai. “Keliatan beda.”

Aku tersenyum kecil.
“Biasa aja. Udah sering bantu lo juga.”

Ya, terkadang aku memang harus ikut dalam pertemuan seperti ini, saat ada perusahaan lain yang berencana memasang unit elevator dari kami.
Sebenarnya, itu bukan sepenuhnya tugasku. Tapi karena beberapa atasan di divisi teknik terlalu sibuk, bagian marketing sering menarik orang lapangan sepertiku untuk bantu menjelaskan hal-hal teknis terkait estimasi pekerjaan, kebutuhan area, sampai hal kecil seperti titik-titik pemasangan.

Sudah jadi rutinitas.
Tapi entah kenapa sore ini terasa sedikit berbeda...

“Thank you, Bray. Jangan bosen-bosen,” ucap Ricky lagi, matanya tetap ke jalan.

“Eh, Cung. Lu jangan makasih doang,” sela Vero tiba-tiba, “Gua perhatiin deh, tiap kali lu menang tender, nggak pernah rayain apa kek. Apalagi tadi proyek gede, dua puluh unit, men!”

“Yaelah, Ver. Ini juga belum final. Sabar dulu. Lo tuh bawel banget, sumpah!” jawab Ricky sambil nyengir. “Ntar kalau udah goal, gua calling kalian. Mau kemana, terserah, tinggal bilang.”

“Hah... ujung-ujungnya paling gorengan doang. Gua gedek.” Vero mendengus, bibirnya manyun.

Sejenak aku tertawa kecil melihat kelakuan mereka. Mereka sering ribut, sering berdebat, tapi justru dari situ suasana selalu cair, seolah ada yang menjaga ruang ini dari kesepian.


******

Hari makin sore.
Kami masih terjebak di pusat kota, merayap pelan di antara klakson dan asap knalpot yang mulai pengap. Lampu-lampu toko satu per satu menyala, seolah menandai hari yang benar-benar ingin selesai.

Aku meraih ponsel.
17:17.

Ada jeda kecil di dadaku.
Aku belum shalat Ashar.

Aku memandang ke luar jendela, mencoba mengenali titik di mana kami berada sekarang.

“Bro,” kataku sambil menepuk pelan bahu Ricky. “Nanti di depan ambil kiri aja ya. Gua turun di sini.”

“Lah, mau ngapain, Bray?” tanyanya, tetap mengemudi pelan di sela kemacetan.

“Naik kereta aja gua. Duluan,” jawabku santai. “Gua kan nggak wajib absen kayak kalian.”

“Wah iya juga,” celetuk Vero dari sampingku. “Enak amat hidup lu, Bang.”

Ia melirik ke luar jendela, lalu kembali ke arahku.
“Yakin mau turun di sini? Stasiun Tanah Abang, loh. Rame banget jam segini.”

Aku mengangguk pelan.
“Iya.”

Mobil menepi.

Sebelum turun, aku melepas karet pengikat rambut dari pergelangan tangan. Rambutku terurai sebentar, jatuh menutupi leher, sebelum kembali kukuncir kuda. Gerakan kecil yang sudah kulakukan berkali-kali, tanpa sadar.

Vero memperhatikanku. Tatapannya tertahan.

“Lo kenapa sih milih gondrong, Bang?” tanyanya pelan, kali ini tanpa nada bercanda.
“Karena di lapangan bebas? Nggak ada yang ngatur?”

Sambil mengikat rambut, aku menoleh padanya, tersenyum tipis.

“Di operasional mah bebas, Ver,” jawabku ringan.
“Asal kerjaan beres, aman.”

Ia mengangguk, tapi matanya belum berpaling.
“Enggak gerah emangnya? Biasanya cowok nggak betah rambut panjang.”


Aku menarik napas panjang.
Sedetik lebih lama dari yang seharusnya.


“Gua malah suka, Ver,”
jawabku singkat.

Aku turun dari mobil.

Baru saja tanganku hendak menutup pintu, Vero tiba-tiba memiringkan tubuhnya ke arahku, menahan pintu sebelum sempat kututup. Di tangannya, kopi kaleng yang sejak tadi ia sodorkan...
yang belum sempat kusentuh...
kini benar-benar berada di antara kami.

“Ini,” ucapnya pelan.
Senyumnya kecil, tapi hangat. Seperti sesuatu yang dititipkan, bukan sekadar diberikan.

Aku menerimanya.

“Makasih ya,” kataku singkat.

Ia mengangguk. Tak ada kalimat tambahan, tak ada pesan. Tapi caranya menarik kembali tangannya terasa lebih lama dari yang seharusnya.

Aku melangkah pergi, menyeberangi jalan, meninggalkan mobil dan suara mereka di belakang. Kopi kaleng itu kugenggam erat, terasa jelas di telapak tangan sebelum kutaruh dalam tas.

Begitu masuk area stasiun, langkahku langsung mengarah ke mushola.
Aku menunaikan sholat Ashar lebih dulu, alasan utama kenapa aku turun di sini dan memilih kereta sebagai jalan pulang.

Selesai beribadah, aku keluar.
Stasiun Tanah Abang seperti biasa: ramai, bergerak, tak pernah benar-benar memberi ruang untuk diam. Orang-orang berlalu-lalang membawa tujuan masing-masing, seolah semua sedang dikejar waktu yang berbeda.

Aku menaiki tangga perlahan, terseret arus manusia yang berdesakan. Di tengah langkah itu, pandanganku tertumbuk pada papan petunjuk.

Peron 5–6
Tujuan: Pondok Ranji

Langkahku menuju ke sana.

Akhirnya aku sampai di peron. Di jalur lima, aku berdiri menunggu kereta dengan tenang, di antara riuh langkah orang-orang yang datang dan pergi. Pandanganku lurus ke depan, ke arah peron seberang di jalur empat, yang juga dipenuhi orang-orang dengan wajah lelah tapi tergesa.

Aku membuka tas.
Mengambil kopi kaleng pemberian Vero.

Kutatap sebentar.
Lalu perlahan kubuka tutupnya.

Klik.

Suara kecil itu nyaris tenggelam oleh bising stasiun, tapi entah kenapa cukup keras untuk memecah sesuatu di dalam kepalaku.

Tanganku terhenti di udara.

Tepat sebelum bibirku menyentuh kaleng itu, ada sesuatu di seberang peron yang menarik pandanganku... seperti tarikan lembut yang tak bisa kutolak.

Dan di sana…

Tria.

Ia berdiri di seberang. Tak jauh. Tak dekat.
Tepat di jarak yang tak lagi bisa kusebut kebetulan.
Di antara orang-orang yang bergerak, ia justru diam.

Matanya menemukan mataku.
Menembus keramaian.
Menembus jarak.
Menembus satu tahun yang tak pernah benar-benar pergi.

Wangi cappuccino di tanganku terasa samar tapi kuat, bercampur dengan udara di hadapanku.
Udara yang... tiba-tiba berubah berat.
Ada sesuatu di dalamnya, ada getar yang membuat kakiku membeku di tempat.

Aku menggeleng pelan, sempat tak yakin.
Tapi mataku tak bisa menyangkal.

Kupaksa fokus mempertajam pandangan...
Dan ya, itu dia.
Tria.
Ia berdiri di sana mengenakan jaket sweeter warna hijau.
Memang benar Tria, bukan siapapun, bukan orang lain.

Perasaanku seketika campur aduk...
ada rasa kaget, senang dan tak menyangka karena akhirnya aku bisa berjumpa dengannya lagi.

Senyumku mengembang.

Tanganku terangkat pelan, melambai, memberi isyarat padanya bahwa ini memang aku.

Tapi...
ia hanya diam. Hanya menatapku dengan wajah tenang yang bisa tak bisa kuterjemahkan.

Aku terperangah.
Sedikit gugup.

Apakah ia ragu ini aku?
Atau… memang memilih tak merespons?

Jarak kami hanya belasan meter, terpisah oleh dua jalur rel yang membentang dingin di antara peron.
Aku sekilas menatap ke arah lobby tangga penyeberangan dimana orang-orang naik dan turun membawa langkah masing-masing.
Dan sempat terlintas dalam pikiranku,
haruskah aku berlari ke sana sekarang?
Menerobos keramaian hanya untuk bisa berdiri di dekatnya lagi?

Nada denting stasiun terdengar, disusul pengumuman dari pengeras suara. Kereta untuk jalur tempat ia berdiri akan segera tiba.
Aku diam.
Bingung.
Waktu seperti mengecil. Aku hanya mampu menatapnya, menunggu sesuatu yang bahkan tidak kumengerti.

Kereta itu datang, tanpa keraguan...

Menutup pandanganku begitu saja.
Seolah semua terlambat.
Seolah aku tak punya daya untuk menggapai apa pun.

. ........... ..

Tak lama kemudian, kereta itu bergerak pergi.
Suara besinya menjauh, anginnya tertinggal.
Peron di seberang kembali terlihat.


Aku tertegun.

Karena ia masih di sana.

Masih berdiri, masih menatapku.


Ia tak naik kereta yang baru saja berangkat.
Dan rasanya… bukan karena kehabisan tempat, bukan pula kebetulan.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tak sanggup kupahami dengan logika.

Waktu mendadak melambat, ada sentuhan halus yang menjalar ke dalam diriku.
Suara-suara di sekitar seolah lenyap, keramaian tempat ini bagiku terasa sangat sunyi.

Aku menunduk, memandangi dua jalur rel di bawah kami...
garis besi yang lurus, panjang, membentuk batas yang tak mungkin aku lewati. Dan aku tahu, ada yang tak bisa lagi kuperbaiki.

Aku kembali menatapnya.

Tria tersenyum.

Senyum yang indah.
Benar-benar indah.

Senyum itu menyeret ingatanku pada sore di dermaga…
saat ia menyentuh dadaku dan berkata pelan,
“Rahmat… aku di sini.”

Sekarang, sore ini, di tempat ini, aku menyadari semuanya.
Aku menyentuh dadaku sendiri, pelan.
Berkata dalam hati...
“Tria… aku sadar.”

Nada stasiun kembali terdengar,
disusul pemberitahuan bahwa kereta akan segera datang.
Kali ini, kereta di jalurku.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku mengangkat kembali cappuccino yang sejak tadi hanya kugenggam.
Kubuka bibir kalengnya sedikit, lalu perlahan kuminum.

Tria di seberang sana... senyumnya melebar,
seperti lega melihat aku akhirnya meneguknya.
Lalu ia melambaikan tangan, gerakannya lembut dan ringan, nyaris seperti ketulusan yang menyentuhku dari kejauhan.

Senyum dan lambaian tangannya itu...
entah mengapa... seperti penutup yang manis dan menyesakkan di saat yang sama.


Laju kereta yang kutunggu mulai terdengar dari kejauhan. Suaranya yang tegas dan teratur mendekat perlahan, lalu dalam tarikan waktu yang singkat, menutup pandangan mataku yang sedang menatap Tria di seberang sana. Tak tersisa celah sedikitpun, hanya bayangan wajahnya yang masih tertinggal di benakku serta hempasan angin dingin saat rangka besi raksasa itu melintas dan berhenti di depanku.


Pintu terbuka.


Orang-orang turun. Orang-orang naik.
Aku tetap diam sebentar, kakiku sedikit gemetar menatap pintu yang seolah menungguku melangkah masuk. Seperti pintu itu bukan sekadar masuk ke gerbong, tapi masuk kembali ke hidupku yang nyata. Hidup yang harus terus berjalan. Hidup yang sebaik-baiknya. Hidup yang, pada akhirnya, mengajarkan bahwa semua yang telah terjadi… memang sudah seharusnya terjadi.

Dan aku tahu... itulah titik yang benar.

Aku melangkah.
Tenang.
Seolah semua yang berat tadi sudah menemukan tempatnya.
Memahami luka seperti menerima bagian dari diriku sendiri.
Yang pada akhirnya, membentuk sesuatu yang indah.
Seperti aku memahami—Mutiara.
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 06:32
regmekujo
Herisyahrian
Herisyahrian dan regmekujo memberi reputasi
2
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.