- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#36
Chapter 2 Q
Jakarta.
Hari sudah siang.
Aku turun dari angkot, lalu berjalan pelan dengan kemeja andalan satu-satunya. Tak lama, gedung dan pintu kaca itu pun terlihat. Plangnya masih terpampang megah.
Perusahaan jasa perawatan dan kontruksi elevator.
Langkahku melambat.
Ada ragu. Ada takut.
Ada getar kecil yang tak bisa kusembunyikan.
Ku dorong pintu kaca itu.
Dan aku tidak menyangka petugas security nya sudah ganti. Bukan lagi Bang Dagol yang dulu selalu menyambutku dengan konyol dan tawa kecil.
“Siang. Ada yang bisa dibantu?” tanyanya sopan, suaranya datar ngikutin SOP. Tapi buatku, terdengar kaku... terlalu canggung.
“Saya mau coba lamar kerja, Pak,” kataku pelan.
Security baru itu mengangguk seadanya. “Lamarannya taruh aja di sini, nanti saya antar ke HRD.”
Aku terdiam sebentar. Mengusap lenganku pelan.
“Saya belum siapin lamaran. Tapi... saya pernah kerja di sini.”
Matanya naik sedikit menatapku sekilas, mungkin heran. Tapi tetap dengan wajah netral yang seolah nggak berani kasih ruang.
“Oh. Tapi tetap prosedur. Kalau nggak bawa lamaran, belum bisa lamar kerja di sini.”
Ramah, tapi mengunci.
Aku sempat mencoba menjelaskan. Tentang diriku. Tentang niat baik. Tentang masa lalu yang pernah ada di balik tembok-tembok ini.
Tapi yang kuterima hanya bahu yang sedikit terangkat, dan tatapan yang kembali turun ke buku tamu.
Tak ada ruang.
Aku pun berbalik.
Mendorong pintu kaca itu sekali lagi.
Langkahku berat.
Lebih berat dari waktu aku naik gunung.
“Ngaco juga dengerin Aceng.”
Aku menggumam pelan sambil menyulut sebatang rokok. Masih berdiri di pinggir jalan raya menunggu angkot lewat.
"Tinnn..."
Suara klakson pendek memecah lamunanku.
Sebuah SUV hitam dengan pelan masuk ke halaman kantor. Aku otomatis minggir, memberi jalan.
Plat nomornya asing. Mobilnya pun mengkilap.
Kupikir bos baru atau orang penting yang belum pernah kutahu namanya.
Tapi saat pintu mobil itu terbuka dan ia turun, aku terkejut.
Pak Gunawan.
Atau dulu aku biasa memanggilnya Mas Gun. Karena usianya belum terlalu tua, dan dulu kami cukup akrab.
Mentor.
Atasan lama.
Orang yang pernah percaya padaku… sebelum semuanya runtuh.
Ia juga melihatku. Tatapannya menajam sejenak, seperti sedang menarik ingatan dari tempat yang jauh. Lalu ia melangkah mendekat.
“Rahmat?”
Jarinya pun terangkat, menunjukku ragu.
"Iya. Ini gua," balasku pelan, disisipi senyum yang hampir gugup.
“Wah… ke mana aja lo?” katanya. “Baru nongol sekarang. Lo dulu ngilang mendadak, nggak ada kabar.”
“Maaf, Mas Gun…”
Aku menghela napas.
“Waktu itu… ruwet banget. Banyak yang berantakan.”
Kepalaku menunduk sebentar.
“Gua ke sini… niatnya mau ngelamar kerja lagi.”
Dia tampak mengernyit, ekspresinya sedikit berubah. Mungkin antara kaget, ragu, atau justru hati-hati.
“Lo… mau ngelamar lagi?”
Nada suaranya pelan, seperti belum yakin dengan kalimat itu sendiri.
“Iya, Mas.”
Aku menelan ludah.
“Nggak bawa lamaran sih. Belum sempet nyiapin… Tapi pengen ngobrol aja dulu. Kalau boleh.”
Ia menatapku serius. Sunyi beberapa detik.
Terdengar bunyi kendaraan lalu-lalang yang mengisi celah.
“Waduh, Mat…”
Katanya sambil menggeleng pelan.
“Lo tuh dulu cabut gitu aja. HRD sampai bingung. Banyak yang nanyain juga… apalagi waktu itu lo lagi gua kasih tugas penting.”
Aku cuma diam.
Nggak sanggup langsung nyari pembelaan.
Nggak tahu harus mulai dari mana. Semua alasan terasa terlalu panjang untuk diucapkan di bawah terik siang.
Ia menarik napas, lalu melirik jam tangan di pergelangan.
“Gini deh… sekarang gue mau makan siang dulu. Abis itu ada meeting bentar,” katanya.
“Nanti gue kabarin, ya. Lo tunggu aja… di mana kek.”
Aku langsung mengangguk. Mengangguk cepat.
“Iya, Mas. Siap. Gua makasih banget.”
Ia membalas anggukan singkat, lalu berbalik dan berjalan masuk ke gedung.
Pintu kaca itu terbuka, lalu tertutup lagi.
Aku tertinggal sendirian di pinggir jalan dengan sisa asap rokok yang masih menggantung di udara, dan panas matahari siang yang tiba-tiba terasa lebih nyata dari harapan apa pun.
******
Aku menunggu.
Ada perasaan lega meski samar. Ada harapan yang pelan-pelan tumbuh lagi setelah tahu ia masih mau menyapa, bahkan memberi waktu.
Aku nggak tahu jabatannya apa sekarang. Terakhir aku di sini, dia masih SPV. Tapi tadi dia turun dari mobil yang berbeda, sikapnya pun lebih mapan.
Mudah-mudahan saja sekarang dia punya kuasa lebih…
dan sungguh mau bantu.
Tria sempat chat. Biasalah, jeda makan siang. Ngobrol sebentar, bercanda tipis-tipis. Rasanya seperti keteduhan di tengah perjuangan yang melelehkan kepala.
Tapi aku tidak bilang sedang ada di sini. Sengaja.
Semoga saja... aku bisa kasih cerita kejutan untuk Tria. Bila semuanya berjalan baik.
Di seberang jalan sana, warung makan dan kopi tampak memanggil. Tapi aku tetap di sini. Tak berani menjauh. Takut Mas Gun tiba-tiba keluar dan menyangka aku sudah pulang.
Sampai udah lewat jam tiga sore. Aku masih menunggu.
Penat juga,
ternyata begini rasanya berdiri di luar kantor nunggu orang meeting, di bawah panas matahari yang nggak mau berdialog,
apalagi kompromi.
******
Akhirnya, pintu kaca itu terbuka.
Mas Gun keluar sambil menepuk-nepuk tangannya ringan, memberi isyarat padaku untuk masuk. Wajahnya terlihat lebih santai, mungkin rapatnya tadi berjalan lancar.
“Kita ngobrol di lantai tiga. Di ruang meeting mumpung belum diberesin,” katanya cepat, sambil mulai menaiki tangga tanpa banyak basa-basi.
Aku mengangguk kecil mengikuti langkahnya dari belakang.
Ketika melewati deretan meja kerja staff, beberapa wajah lama mulai menoleh.
Ada yang menyapa singkat sebatas senyum dan anggukan.
Ada yang tampak heran.
Dan ada pula yang menatap sinis seolah benci.
Tapi aku tak terlalu menggubris. Fokusku cuma satu... Bekerja.
Kesempatan untuk bangkit lagi, meski lewat pintu yang sama tempat aku dulu menyia-nyiakan nya.
“Lo interview sama gue.”
Suara Mas Gun terdengar lantang, memotong lamunanku.
“Ntar ke HRD pas ngambil seragam sama sepatu kerja aja. Tapi…”
Ia berhenti sebentar, menatapku lurus.
“Itu juga kalau lo masih layak gua terima.”
Nadanya tegas. Tanpa senyum.
Ia duduk, merapikan beberapa kertas di atas meja besar ruang rapat itu.
Aku menurut.
Duduk perlahan di hadapannya.
“Gue lagi males wawancara panjang lebar, Mat.”
Kalimatnya datar, tapi tegas. Langsung nusuk ke inti.
“Pernah ada rekan kita yang cerita ke gue,” lanjutnya sambil memasang nametag di kemeja yang ia kenakan.
Aku sempat membaca sekilas.
Area Coordinator.
Lebih tinggi dari posisi dia dulu.
“Dia ngebahas soal lo. Pas lo ngilang nggak ada kabar.”
Mas Gun menatap lurus ke arahku.
“Katanya lo ditangkap polisi. Dua kali malah. Kasus narkotika.”
Ia mendecak.
“Gila lo, Mat. Kacau.”
Nada terakhirnya meninggi. Bahkan membentak.
Aku menunduk.
Nggak ada alasan yang bisa kupakai buat membela diri.
Hanya diam. Dan detak jantung yang tiba-tiba jadi lebih sangar di kepala.
“Lo masih punya nyali kesini?” suaranya tajam, sinis, sentimen.
“Lo udah berhenti emangnya?”
Ia berdiri sebentar, berjalan pelan di sisi meja, lalu berhenti lagi.
“Gue nggak nyangka,” katanya lebih pelan, tapi justru lebih menusuk.
“Bocah yang dulu gue training. Yang gue harap bisa ngasih kontribusi di perusahaan ini…”
Ia menggeleng.
“Ternyata malah rusak.”
“Gini, Mas,” jawabku akhirnya.
“Gua udah berhenti. Sekarang gua pengen hidup bener lagi. Pelan-pelan.”
Aku Jujur. Tanpa mencari pembelaan.
Dia hanya geleng-geleng kepala. Wajahnya bukan cuma menyisakan heran, tapi juga kekecewaan. Seolah ada amarah lama yang baru sempat dilontarkan hari ini.
Baru beberapa saat sejak aku masuk ke kantor ini, rasanya sudah seperti ditarik lagi ke kerasnya dunia kerja. Dunia karir. Dunia tuntutan.
Dan dia masih sama seperti dulu.
Tegas. Konsisten. Disiplin.
Dia kembali duduk. Bersandar lagi di kursinya, lalu menatapku penuh.
“Oke... gua mau lihat seberapa jauh lo bisa buktiin omongan soal hidup bener itu.”
Lanjutnya, jarinya menunjuk ke arah wajahku sekilas.
“Lo lagi hoki. Kebetulan gua emang lagi butuh banyak manpower sekarang. Dan gua udah muak harus rekrut orang baru dari nol.”
Aku mengiyakan
Mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.
Bukan cuma pakai telinga, tapi pakai otak. Pakai cara berpikir para professional di dunia kerja.
“Sebelum gua terima lo kerja di sini lagi...” katanya menatap lurus,
“Gua cuma minta satu... Lo sadar dan kenali diri lo. Gua butuh teknisi spesialis. Bukan orang yang bikin kerjaan gua jadi runyam. Gimana?!”
Seketika...
suara itu terdengar seperti gema yang familiar.
Ucapan yang hampir sama, tapi dari mulut yang berbeda.
"Sadar akan siapa diri lo."
Kata-kata yang kudengar dari Aceng pagi ini.
Tapi sekarang, dari Gunawan.
Tajam dan serius.
Dua orang. Dua dunia.
Tapi kalimat mereka seperti pantulan satu cermin ke cermin lainnya.
Dan aku, berdiri di tengah-tengah pantulan itu.
“Baik. Gua siap kerja serius kayak dulu.”
Aku berusaha terdengar yakin.
Berusaha terlihat utuh.
Namun belum sempat aku bernapas lega, dia menambahkan,
“Good. Tapi gue nggak mau denger lo masih ada di lingkaran yang nggak bener.
Kalau lo serius… tinggalin.
Detik ini juga.
Temen-temen lo, kebiasaan lo, apapun yang bisa bikin lo jatuh lagi.”
Dan di situlah...
jiwaku seperti ditikam dari dalam.
Karena yang langsung terlintas di kepalaku,
bukan narkoba.
Bukan masa lalu,
Tapi...
Aceng.
Candaan recehnya pagi tadi masih terngiang jelas:
Makan dulu sebelum perang, biar lo nggak salah nembak.
Dan di ruang meeting ini, di kursi kantor ini... aku memang merasa seperti sedang di medan perang.
Berkecamuk dengan diri sendiri.
Harus mutusin...
Mau nembak yang mana, mau bunuh sisi yang mana.
Membidik bagian mana dari jati diriku yang harus aku hilangkan detik itu juga.
“Siap, Mas,” kataku akhirnya.
“Gue siap.”
Aku menarik napas panjang.
Karena saat kalimat itu keluar dari mulutku…
aku sadar...
aku baru saja mengucapkan selamat tinggal
pada Aceng.
Dan pada kosan itu.
Mas Gun mengangguk pelan. Melirik jam tangannya sekilas, lalu melihatku lagi sambil menyodorkan tangan.
“Oke... Besok jam sembilan pagi dateng lagi. Kita bahas area penempatan lo. Sekarang gua mau ke HRD dulu.”
Kami berjabat tangan dengan penuh kesadaran.
Kesempatan ini bukan hadiah. Tapi ujian.
Lalu aku pun turun menuju pintu keluar kantor. Hawanya terasa lebih berat daripada saat naik tangga tadi.
Bukan karena ragu. Tapi karena peran yang baru saja kuambil.
Kepercayaan, janji, dan komitmen.
Hal-hal yang tak bisa aku beli tapi wajib aku jaga.
Aku nggak langsung mencari angkot untuk pulang. Tapi melangkah ke warung kopi di seberang kantor, untuk sebatas merenggangkan pikiran.
Aku duduk lumayan lama, minum kopi dan merokok sembari memandangi gedung kantor itu.
Di sana, nama perusahaan itu terpampang jelas,
seakan balik menatapku...
bukan dengan tuntutan,
tapi dengan harapan.
Aku mengusap wajah, mengucek mata.
Mulai menyusun tekad.
Menyambung lagi potongan hidup yang dulu tercerai.
Ponselku berbunyi.
Notifikasi WA masuk.
Sekilas kupikir dari Tria. Tapi bukan.
Aceng (16:19) :
"Mat gimana lo... nyari kerjanya?"
"Gua seharian ini di kosan... doain lo biar dapat kerja."
Sore itu...
Aku menatap layar ponsel cukup dalam.
Ada rasa yang sulit dijelaskan.
Hari sudah siang.
Aku turun dari angkot, lalu berjalan pelan dengan kemeja andalan satu-satunya. Tak lama, gedung dan pintu kaca itu pun terlihat. Plangnya masih terpampang megah.
Perusahaan jasa perawatan dan kontruksi elevator.
Langkahku melambat.
Ada ragu. Ada takut.
Ada getar kecil yang tak bisa kusembunyikan.
Ku dorong pintu kaca itu.
Dan aku tidak menyangka petugas security nya sudah ganti. Bukan lagi Bang Dagol yang dulu selalu menyambutku dengan konyol dan tawa kecil.
“Siang. Ada yang bisa dibantu?” tanyanya sopan, suaranya datar ngikutin SOP. Tapi buatku, terdengar kaku... terlalu canggung.
“Saya mau coba lamar kerja, Pak,” kataku pelan.
Security baru itu mengangguk seadanya. “Lamarannya taruh aja di sini, nanti saya antar ke HRD.”
Aku terdiam sebentar. Mengusap lenganku pelan.
“Saya belum siapin lamaran. Tapi... saya pernah kerja di sini.”
Matanya naik sedikit menatapku sekilas, mungkin heran. Tapi tetap dengan wajah netral yang seolah nggak berani kasih ruang.
“Oh. Tapi tetap prosedur. Kalau nggak bawa lamaran, belum bisa lamar kerja di sini.”
Ramah, tapi mengunci.
Aku sempat mencoba menjelaskan. Tentang diriku. Tentang niat baik. Tentang masa lalu yang pernah ada di balik tembok-tembok ini.
Tapi yang kuterima hanya bahu yang sedikit terangkat, dan tatapan yang kembali turun ke buku tamu.
Tak ada ruang.
Aku pun berbalik.
Mendorong pintu kaca itu sekali lagi.
Langkahku berat.
Lebih berat dari waktu aku naik gunung.
“Ngaco juga dengerin Aceng.”
Aku menggumam pelan sambil menyulut sebatang rokok. Masih berdiri di pinggir jalan raya menunggu angkot lewat.
"Tinnn..."
Suara klakson pendek memecah lamunanku.
Sebuah SUV hitam dengan pelan masuk ke halaman kantor. Aku otomatis minggir, memberi jalan.
Plat nomornya asing. Mobilnya pun mengkilap.
Kupikir bos baru atau orang penting yang belum pernah kutahu namanya.
Tapi saat pintu mobil itu terbuka dan ia turun, aku terkejut.
Pak Gunawan.
Atau dulu aku biasa memanggilnya Mas Gun. Karena usianya belum terlalu tua, dan dulu kami cukup akrab.
Mentor.
Atasan lama.
Orang yang pernah percaya padaku… sebelum semuanya runtuh.
Ia juga melihatku. Tatapannya menajam sejenak, seperti sedang menarik ingatan dari tempat yang jauh. Lalu ia melangkah mendekat.
“Rahmat?”
Jarinya pun terangkat, menunjukku ragu.
"Iya. Ini gua," balasku pelan, disisipi senyum yang hampir gugup.
“Wah… ke mana aja lo?” katanya. “Baru nongol sekarang. Lo dulu ngilang mendadak, nggak ada kabar.”
“Maaf, Mas Gun…”
Aku menghela napas.
“Waktu itu… ruwet banget. Banyak yang berantakan.”
Kepalaku menunduk sebentar.
“Gua ke sini… niatnya mau ngelamar kerja lagi.”
Dia tampak mengernyit, ekspresinya sedikit berubah. Mungkin antara kaget, ragu, atau justru hati-hati.
“Lo… mau ngelamar lagi?”
Nada suaranya pelan, seperti belum yakin dengan kalimat itu sendiri.
“Iya, Mas.”
Aku menelan ludah.
“Nggak bawa lamaran sih. Belum sempet nyiapin… Tapi pengen ngobrol aja dulu. Kalau boleh.”
Ia menatapku serius. Sunyi beberapa detik.
Terdengar bunyi kendaraan lalu-lalang yang mengisi celah.
“Waduh, Mat…”
Katanya sambil menggeleng pelan.
“Lo tuh dulu cabut gitu aja. HRD sampai bingung. Banyak yang nanyain juga… apalagi waktu itu lo lagi gua kasih tugas penting.”
Aku cuma diam.
Nggak sanggup langsung nyari pembelaan.
Nggak tahu harus mulai dari mana. Semua alasan terasa terlalu panjang untuk diucapkan di bawah terik siang.
Ia menarik napas, lalu melirik jam tangan di pergelangan.
“Gini deh… sekarang gue mau makan siang dulu. Abis itu ada meeting bentar,” katanya.
“Nanti gue kabarin, ya. Lo tunggu aja… di mana kek.”
Aku langsung mengangguk. Mengangguk cepat.
“Iya, Mas. Siap. Gua makasih banget.”
Ia membalas anggukan singkat, lalu berbalik dan berjalan masuk ke gedung.
Pintu kaca itu terbuka, lalu tertutup lagi.
Aku tertinggal sendirian di pinggir jalan dengan sisa asap rokok yang masih menggantung di udara, dan panas matahari siang yang tiba-tiba terasa lebih nyata dari harapan apa pun.
******
Aku menunggu.
Ada perasaan lega meski samar. Ada harapan yang pelan-pelan tumbuh lagi setelah tahu ia masih mau menyapa, bahkan memberi waktu.
Aku nggak tahu jabatannya apa sekarang. Terakhir aku di sini, dia masih SPV. Tapi tadi dia turun dari mobil yang berbeda, sikapnya pun lebih mapan.
Mudah-mudahan saja sekarang dia punya kuasa lebih…
dan sungguh mau bantu.
Tria sempat chat. Biasalah, jeda makan siang. Ngobrol sebentar, bercanda tipis-tipis. Rasanya seperti keteduhan di tengah perjuangan yang melelehkan kepala.
Tapi aku tidak bilang sedang ada di sini. Sengaja.
Semoga saja... aku bisa kasih cerita kejutan untuk Tria. Bila semuanya berjalan baik.
Di seberang jalan sana, warung makan dan kopi tampak memanggil. Tapi aku tetap di sini. Tak berani menjauh. Takut Mas Gun tiba-tiba keluar dan menyangka aku sudah pulang.
Sampai udah lewat jam tiga sore. Aku masih menunggu.
Penat juga,
ternyata begini rasanya berdiri di luar kantor nunggu orang meeting, di bawah panas matahari yang nggak mau berdialog,
apalagi kompromi.
******
Akhirnya, pintu kaca itu terbuka.
Mas Gun keluar sambil menepuk-nepuk tangannya ringan, memberi isyarat padaku untuk masuk. Wajahnya terlihat lebih santai, mungkin rapatnya tadi berjalan lancar.
“Kita ngobrol di lantai tiga. Di ruang meeting mumpung belum diberesin,” katanya cepat, sambil mulai menaiki tangga tanpa banyak basa-basi.
Aku mengangguk kecil mengikuti langkahnya dari belakang.
Ketika melewati deretan meja kerja staff, beberapa wajah lama mulai menoleh.
Ada yang menyapa singkat sebatas senyum dan anggukan.
Ada yang tampak heran.
Dan ada pula yang menatap sinis seolah benci.
Tapi aku tak terlalu menggubris. Fokusku cuma satu... Bekerja.
Kesempatan untuk bangkit lagi, meski lewat pintu yang sama tempat aku dulu menyia-nyiakan nya.
“Lo interview sama gue.”
Suara Mas Gun terdengar lantang, memotong lamunanku.
“Ntar ke HRD pas ngambil seragam sama sepatu kerja aja. Tapi…”
Ia berhenti sebentar, menatapku lurus.
“Itu juga kalau lo masih layak gua terima.”
Nadanya tegas. Tanpa senyum.
Ia duduk, merapikan beberapa kertas di atas meja besar ruang rapat itu.
Aku menurut.
Duduk perlahan di hadapannya.
“Gue lagi males wawancara panjang lebar, Mat.”
Kalimatnya datar, tapi tegas. Langsung nusuk ke inti.
“Pernah ada rekan kita yang cerita ke gue,” lanjutnya sambil memasang nametag di kemeja yang ia kenakan.
Aku sempat membaca sekilas.
Area Coordinator.
Lebih tinggi dari posisi dia dulu.
“Dia ngebahas soal lo. Pas lo ngilang nggak ada kabar.”
Mas Gun menatap lurus ke arahku.
“Katanya lo ditangkap polisi. Dua kali malah. Kasus narkotika.”
Ia mendecak.
“Gila lo, Mat. Kacau.”
Nada terakhirnya meninggi. Bahkan membentak.
Aku menunduk.
Nggak ada alasan yang bisa kupakai buat membela diri.
Hanya diam. Dan detak jantung yang tiba-tiba jadi lebih sangar di kepala.
“Lo masih punya nyali kesini?” suaranya tajam, sinis, sentimen.
“Lo udah berhenti emangnya?”
Ia berdiri sebentar, berjalan pelan di sisi meja, lalu berhenti lagi.
“Gue nggak nyangka,” katanya lebih pelan, tapi justru lebih menusuk.
“Bocah yang dulu gue training. Yang gue harap bisa ngasih kontribusi di perusahaan ini…”
Ia menggeleng.
“Ternyata malah rusak.”
“Gini, Mas,” jawabku akhirnya.
“Gua udah berhenti. Sekarang gua pengen hidup bener lagi. Pelan-pelan.”
Aku Jujur. Tanpa mencari pembelaan.
Dia hanya geleng-geleng kepala. Wajahnya bukan cuma menyisakan heran, tapi juga kekecewaan. Seolah ada amarah lama yang baru sempat dilontarkan hari ini.
Baru beberapa saat sejak aku masuk ke kantor ini, rasanya sudah seperti ditarik lagi ke kerasnya dunia kerja. Dunia karir. Dunia tuntutan.
Dan dia masih sama seperti dulu.
Tegas. Konsisten. Disiplin.
Dia kembali duduk. Bersandar lagi di kursinya, lalu menatapku penuh.
“Oke... gua mau lihat seberapa jauh lo bisa buktiin omongan soal hidup bener itu.”
Lanjutnya, jarinya menunjuk ke arah wajahku sekilas.
“Lo lagi hoki. Kebetulan gua emang lagi butuh banyak manpower sekarang. Dan gua udah muak harus rekrut orang baru dari nol.”
Aku mengiyakan
Mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.
Bukan cuma pakai telinga, tapi pakai otak. Pakai cara berpikir para professional di dunia kerja.
“Sebelum gua terima lo kerja di sini lagi...” katanya menatap lurus,
“Gua cuma minta satu... Lo sadar dan kenali diri lo. Gua butuh teknisi spesialis. Bukan orang yang bikin kerjaan gua jadi runyam. Gimana?!”
Seketika...
suara itu terdengar seperti gema yang familiar.
Ucapan yang hampir sama, tapi dari mulut yang berbeda.
"Sadar akan siapa diri lo."
Kata-kata yang kudengar dari Aceng pagi ini.
Tapi sekarang, dari Gunawan.
Tajam dan serius.
Dua orang. Dua dunia.
Tapi kalimat mereka seperti pantulan satu cermin ke cermin lainnya.
Dan aku, berdiri di tengah-tengah pantulan itu.
“Baik. Gua siap kerja serius kayak dulu.”
Aku berusaha terdengar yakin.
Berusaha terlihat utuh.
Namun belum sempat aku bernapas lega, dia menambahkan,
“Good. Tapi gue nggak mau denger lo masih ada di lingkaran yang nggak bener.
Kalau lo serius… tinggalin.
Detik ini juga.
Temen-temen lo, kebiasaan lo, apapun yang bisa bikin lo jatuh lagi.”
Dan di situlah...
jiwaku seperti ditikam dari dalam.
Karena yang langsung terlintas di kepalaku,
bukan narkoba.
Bukan masa lalu,
Tapi...
Aceng.
Candaan recehnya pagi tadi masih terngiang jelas:
Makan dulu sebelum perang, biar lo nggak salah nembak.
Dan di ruang meeting ini, di kursi kantor ini... aku memang merasa seperti sedang di medan perang.
Berkecamuk dengan diri sendiri.
Harus mutusin...
Mau nembak yang mana, mau bunuh sisi yang mana.
Membidik bagian mana dari jati diriku yang harus aku hilangkan detik itu juga.
“Siap, Mas,” kataku akhirnya.
“Gue siap.”
Aku menarik napas panjang.
Karena saat kalimat itu keluar dari mulutku…
aku sadar...
aku baru saja mengucapkan selamat tinggal
pada Aceng.
Dan pada kosan itu.
Mas Gun mengangguk pelan. Melirik jam tangannya sekilas, lalu melihatku lagi sambil menyodorkan tangan.
“Oke... Besok jam sembilan pagi dateng lagi. Kita bahas area penempatan lo. Sekarang gua mau ke HRD dulu.”
Kami berjabat tangan dengan penuh kesadaran.
Kesempatan ini bukan hadiah. Tapi ujian.
Lalu aku pun turun menuju pintu keluar kantor. Hawanya terasa lebih berat daripada saat naik tangga tadi.
Bukan karena ragu. Tapi karena peran yang baru saja kuambil.
Kepercayaan, janji, dan komitmen.
Hal-hal yang tak bisa aku beli tapi wajib aku jaga.
Aku nggak langsung mencari angkot untuk pulang. Tapi melangkah ke warung kopi di seberang kantor, untuk sebatas merenggangkan pikiran.
Aku duduk lumayan lama, minum kopi dan merokok sembari memandangi gedung kantor itu.
Di sana, nama perusahaan itu terpampang jelas,
seakan balik menatapku...
bukan dengan tuntutan,
tapi dengan harapan.
Aku mengusap wajah, mengucek mata.
Mulai menyusun tekad.
Menyambung lagi potongan hidup yang dulu tercerai.
Ponselku berbunyi.
Notifikasi WA masuk.
Sekilas kupikir dari Tria. Tapi bukan.
Aceng (16:19) :
"Mat gimana lo... nyari kerjanya?"
"Gua seharian ini di kosan... doain lo biar dapat kerja."
Sore itu...
Aku menatap layar ponsel cukup dalam.
Ada rasa yang sulit dijelaskan.
Diubah oleh sipanjangnapas3 25-01-2026 20:28
Herisyahrian dan 3 lainnya memberi reputasi
4