- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.9K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#30
Chapter 2 M
Dua minggu kemudian...
Topi menempel di kepala, kain kugulung melilit menutupi leher hingga wajah, menyisakan celah sempit hanya untuk mata. Aku bekerja seperti hari-hari biasa, di bawah terik matahari yang menyengat tanpa kompromi. Tapi belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda.
Sekarang aku bukan lagi seorang kuli biasa. Statusku sudah naik menjadi tukang las/welder. Peningkatan kecil yang mungkin tak berarti bagi banyak orang.
Tapi bagiku... Ini berarti sangat.
Yang tadinya aku lebih sering membuat adukan semen. Sekarang aku ditempatkan di bagian pabrikasi, membentuk material seperti besi dan baja ringan, membuat plat kanopi, hingga melakukan pengelasan yang rumit.
Gajinya lebih baik.
Semua ini aku mulai saat aku memberanikan diri bicara pada mandorku, Pak Jono. Setelah dites, ternyata aku masih cukup kompeten. Ia pun menerima.
Sebetulnya aku memang punya latar belakang teknik dari masa sekolah. Beberapa tahun lalu sebelum hidupku kacau, aku juga pernah bekerja sebagai teknisi di beberapa perusahaan. Ternyata, bekas-bekas dari masa itu masih tertinggal, skill itu masih ada di tangan.
Kedipan sinar kawat las, cipratan bunga api gerinda pemotong, sekarang menjadi kawan sehari-hari ku. Mereka panas, tajam, selalu menuntut fokus penuh, dan memaksaku untuk selalu membuka mata.
Tanda jam istirahat sudah terdengar beberapa saat lalu...
“Mat, oyy... Mat!” suara Pak Jono sedikit meneriaki, menembus desing gerinda yang kupakai.
“Istirahat dulu... Kita lagi bangun ruko, bukan bangun candi.”
Aku matikan alat itu, lalu meletakkannya perlahan. Kain di kepalaku kubuka, sarung tangan kulepas, dan kini langkahku menuju warung kantin terasa lebih bergairah dari hari-hari sebelumnya.
Seperti biasa, aku makan seadanya, minum pun air putih. Aku pesan nasi dengan pilihan lauk yang sederhana.
Ayam...? Kapan-kapan aja ya.
Karena aku berniat untuk menabung, banyak hal yang ingin aku raih kembali.
Terlebih aku juga mulai kepikiran untuk mencari kosan sendiri. Di tempat Aceng sebenarnya nyaman, tapi... terlalu rawan. Aku takut tergelincir lagi. Lagipula, aku nggak mau terus-terusan jadi beban. Meski aku tahu, Aceng itu tulus dan selalu siap bantu.
Aku duduk di bangku kayu kantin.
Sebelum makan, aku cek HP.
Sudah ada satu notifikasi. Dari Tria.
Tria (12:15):
"Kalau hidup itu film, kamu udah masuk adegan mana sekarang, Beb?"
Aku nyengir bacanya. Jadi pengen nunda makan.
Padahal tinggal bilang 'Lagi apa'.
Tapi memang seperti itulah hubungan Tria dan aku.
Aku :
"Menurutku, hidup itu teater, bukan film. Karena yang ngertiin, gak harus banyak orang."
"Aku lagi duduk di depan nasi sama tempe orek. Kamu?"
Tria :
"Ah elah… puitis amat jawabannya. Tapi aku suka."
"Aku baru sampe foodcourt nih. Lagi mesen nasi padang."
Aku :
"Kamu loh yang ngajarin."
"Yaudah, makan yang banyak, ya."
Tria :
"(Emoji senyum malu, pipi oranye)"
"Orek mulu dah tiap hari."
Aku :
"Enggak kok.. kemarin telor dadar, sm sayur toge."
Tria :
"Beb, Jangan irit2 banget napa sih!!!"
"(Emoji kesel, yang merah kereng itu)"
Aku :
"Gausah bawel anak manis. Aku tuh lagi nyoba pelan2 biar bisa gantian traktir kamu cokelat."
Tria :
"Ywda deh... pinter.. aku tungguin."
"Aku udah kangen juga."
"Pesenan aku baru dateng, aku makan dulu."
Aku :
"Iya..."
"Aku juga."
Tria :
"Nanti sore...pulang kerja. Awas aja ya kalo sampe aku lagi yang chat duluan!!!"
(Emoji peluk)
Kemudian, aku mulai menyantap makan siangku. Tak peduli jenisnya atau rasa aslinya, seolah menu makan siangku selalu enak setiap hari.
Bahkan kini, setiap pulang, setiap sore, atau malam menjelang tidur, aku tak lagi bengang bengong di Kosan Aceng. Bunyi notifikasi WA dari Tria yang terus-terusan berdenting seakan menghiasi kamar kos. Malamku lebih berwarna. Soreku lebih terasa manis, meski kopinya pahit karena Aceng jarang beli gula.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara Tria memperlakukanku. Sesuatu yang belum pernah kutemui pada perempuan-perempuan yang sempat singgah di hidupku sebelumnya.
Padahal, kalau dilihat dari kariernya di dunia perkantoran dan usianya yang sudah dua puluh enam, aku sempat mengira dia akan lebih sering mengajak bicara soal hal-hal serius. Karier. Kemapanan. Rencana hidup jangka panjang.
Nyatanya, obrolan kami justru sering ngelantur.
Kadang absurd.
Kadang puitis tapi muter-muter.
Apalagi kalau sudah larut malam menjelang tidur.
Contohnya semalam, satu jam telponan cuma buat ngebahas kehidupan koala dan debat tentang filosofi belut listrik.
Dan anehnya… justru di situlah aku merasa senang.
Tak ada tekanan.
Tak ada penilaian.
Rasanya seperti dimiliki oleh seseorang yang benar-benar menyayangiku apa adanya.
Jam istirahat pun usai.
Aku kembali bekerja.
Rekan-rekan di sini banyak yang heran melihat kinerjaku, mereka sampai bilang aku tidak ada lelahnya. Saat mereka baru menyelesaikan dua pekerjaan, aku sudah menyelesaikan lima. Tapi mereka tak merasa tersaingi, malah senang dan merasa terbantu.
Seorang senior yang sedang bekerja bersamaku membuka kedok las di wajahnya. Mungkin lelah. Mungkin ingin memberi jeda pada matanya. Ia duduk tak jauh, menyalakan sebatang rokok, lalu menatapku sambil tersenyum kecil dan menggeleng pelan.
“Gila lo, Mat,” katanya.
“Kayak kuda perang.”
Aku hanya tersenyum tipis.
Sebenarnya, aku hanya ingin terus bergerak. Terus bekerja. Mengumpulkan uang sebanyak mungkin.
Bukan karena rakus. Tapi karena aku tahu, diam terlalu lama hanya akan membuka pintu ke hal-hal yang ingin kutinggalkan.
Di kepalaku... ada banyak hal yang sedang kupikirkan, termasuk tekad untuk menmbangun hidup yang lebih baik dari sebelumnya.
Dan di hatiku… cuma ada Tria.
******
Langit sore mulai menguning ke arah jingga.
Aku sudah pulang dan tiba di kosan Aceng. Seusai mandi, kebiasaanku hanyalah bercengkrama dengan sore... duduk bersila santai di depan secangkir kopi dan sebatang rokok yang menyala perlahan.
Sekarang aku jarang langsung makan sepulang kerja. Biasanya nanti, saat hari benar-benar gelap. Atau saat Tria sudah sampai rumah.
Jam segini aku hafal betul dia masih di perjalanan pulang, berdiri di antara penumpang KRL, menahan lelah yang sama seperti yang kurasakan tadi siang.
Dan aku rutin menemaninya dari kejauhan. Lewat layar kecil di tanganku.
Ku buka hp,
melihat jam di layar,
langsung chat Tria...
Aku (17:37) :
"Hari ini kamu udah kesel lagi sama dunia belum? Kalo iya, sini, curhat ke aku aja."
"Mudah2an sih gak ada."
Tria :
"Gedeg banget aku siang tadi beb."
"Si novi tuh lincah banget mulutnya."
"Tadi aku dicengin gara-gara sisa rendang nyelip di gigi aku."
"Aku malu!!!!"
“Yang lain jadi ikut denger… monyet emang.”
Aku :
"Cuekin aja."
"Bangga dong, sisa rendang itu bukti kamu habis makan enak."
"Lagian si novi mah... bisa aja tadi cuma makan mie gelas, jadi iri."
Tria :
"hhaha... iya juga ya."
"Dia tuh kadang kayak bocah."
"Bukannya ngasih tahu baik-baik, malah diledekin rame2."
Aku :
"Salah besar dia ngetawain kamu."
"Kamu mau keselip rendang kek, kapal selem, atau bahkan planet pluto, tetep cakep kok."
"Dia... belum tentu."
Tria :
"Wah, gombalan sore-sore udah mulai nih."
"Kalau aku cakep walau keselip rendang..."
"Berarti... pas aku keselup, aku masih cakep juga ngga?"
Aku :
"Maksudnya????"
Tria :
"Iya keselup... yang waktu itu. Masa kamu gak ngeh sih udah gede."
"Apa pura-pura lupa."
Aku :
"Oh.. itu"
"Hahaha… aku paham, kok."
"Waktu itu... kamu cantik dengan cara yang nggak bisa dijelasin."
Tria :
"(Emoji senyum malu pipi oranye, lima biji)"
Aku :
"Aku nggak nyangka kamu ngungkit itu dengan kata keselup."
"Cuma kamu yang bisa bikin kata kayak gitu terdengar... manis banget."
"Rasanya kayak... kata yang cuma kita berdua ngerti."
Tria :
"Emang cuma kita yang boleh ngerti."
"Kita kan bukan orang biasa."
"Kata-kata aja bisa jadi rahasia kecil berdua."
"Jangan dilupain..."
Aku :
"Kalau soal itu, aku gak akan lupa kok."
"Gimana bisa lupa… kamu keselup, aku kejebak."
"Pelan..... tapi nyata."
Tria :
"Hahaha sialan..."
"Berasa dipeluk lewat chat nih."
"Gila, Mat..."
"Udah ah, jangan diterusin... aku masih di kereta nih."
"Aku jadi senyam senyum sendiri disini, mikir aneh-aneh."
Aku :
"Senyum sendiri sambil mikir yang aneh-aneh itu gak baik."
"Takutnya ntar ada yang salah paham, kirain kamu senyum2 karena inget kucing."
"Padahal mah... Inget keselup."
Tria :
"Woiii!!!"
"Jangan bikin aku ngakak sendiri dong, malu ini."
"Untung aku udah dapet duduk, tapi ya... jadi susah nahan senyum."
"Udah ah, aku mau nyender bentar, pusing kepala."
Aku :
"Oke, nyender yang nyaman ya."
"Nanti kabarin pas udah sampai."
Lalu aku menyeruput kopiku yang masih hangat, menghisap rokok, dan menghembuskan asapnya sambil nyengir.
Rasanya berbeda.
Tidak lagi kosong, tidak lagi hambar seperti hari-hari sebelum Tria hadir.
Di tengah kehidupan yang sedang aku benahi pelan-pelan, aku paham...
Hidupku memang belum sembuh sepenuhnya dari kesalahan yang dulu aku gali sendiri. Tapi kehadiran Tria... terasa seperti tangan halus yang nggak langsung menyembuhkan, setidaknya cukup untuk membuatku sadar bahwa dunia ini masih indah untuk dijalani.
Dari kata-katanya yang dalem tapi kadang nyeleneh. Dari tatapan matanya di video call, aku bahagia bisa jadi tempat ia mencurahkan isi hati, sekadar bersandar saat lelah, atau tertawa tanpa beban.
Saling berbagi, saling menemukan arah.
Seolah ia bilang...
Aku nyaman ada disini.
Topi menempel di kepala, kain kugulung melilit menutupi leher hingga wajah, menyisakan celah sempit hanya untuk mata. Aku bekerja seperti hari-hari biasa, di bawah terik matahari yang menyengat tanpa kompromi. Tapi belakangan ini, ada sesuatu yang berbeda.
Sekarang aku bukan lagi seorang kuli biasa. Statusku sudah naik menjadi tukang las/welder. Peningkatan kecil yang mungkin tak berarti bagi banyak orang.
Tapi bagiku... Ini berarti sangat.
Yang tadinya aku lebih sering membuat adukan semen. Sekarang aku ditempatkan di bagian pabrikasi, membentuk material seperti besi dan baja ringan, membuat plat kanopi, hingga melakukan pengelasan yang rumit.
Gajinya lebih baik.
Semua ini aku mulai saat aku memberanikan diri bicara pada mandorku, Pak Jono. Setelah dites, ternyata aku masih cukup kompeten. Ia pun menerima.
Sebetulnya aku memang punya latar belakang teknik dari masa sekolah. Beberapa tahun lalu sebelum hidupku kacau, aku juga pernah bekerja sebagai teknisi di beberapa perusahaan. Ternyata, bekas-bekas dari masa itu masih tertinggal, skill itu masih ada di tangan.
Kedipan sinar kawat las, cipratan bunga api gerinda pemotong, sekarang menjadi kawan sehari-hari ku. Mereka panas, tajam, selalu menuntut fokus penuh, dan memaksaku untuk selalu membuka mata.
Tanda jam istirahat sudah terdengar beberapa saat lalu...
“Mat, oyy... Mat!” suara Pak Jono sedikit meneriaki, menembus desing gerinda yang kupakai.
“Istirahat dulu... Kita lagi bangun ruko, bukan bangun candi.”
Aku matikan alat itu, lalu meletakkannya perlahan. Kain di kepalaku kubuka, sarung tangan kulepas, dan kini langkahku menuju warung kantin terasa lebih bergairah dari hari-hari sebelumnya.
Seperti biasa, aku makan seadanya, minum pun air putih. Aku pesan nasi dengan pilihan lauk yang sederhana.
Ayam...? Kapan-kapan aja ya.
Karena aku berniat untuk menabung, banyak hal yang ingin aku raih kembali.
Terlebih aku juga mulai kepikiran untuk mencari kosan sendiri. Di tempat Aceng sebenarnya nyaman, tapi... terlalu rawan. Aku takut tergelincir lagi. Lagipula, aku nggak mau terus-terusan jadi beban. Meski aku tahu, Aceng itu tulus dan selalu siap bantu.
Aku duduk di bangku kayu kantin.
Sebelum makan, aku cek HP.
Sudah ada satu notifikasi. Dari Tria.
Tria (12:15):
"Kalau hidup itu film, kamu udah masuk adegan mana sekarang, Beb?"
Aku nyengir bacanya. Jadi pengen nunda makan.
Padahal tinggal bilang 'Lagi apa'.
Tapi memang seperti itulah hubungan Tria dan aku.
Aku :
"Menurutku, hidup itu teater, bukan film. Karena yang ngertiin, gak harus banyak orang."
"Aku lagi duduk di depan nasi sama tempe orek. Kamu?"
Tria :
"Ah elah… puitis amat jawabannya. Tapi aku suka."
"Aku baru sampe foodcourt nih. Lagi mesen nasi padang."
Aku :
"Kamu loh yang ngajarin."
"Yaudah, makan yang banyak, ya."
Tria :
"(Emoji senyum malu, pipi oranye)"
"Orek mulu dah tiap hari."
Aku :
"Enggak kok.. kemarin telor dadar, sm sayur toge."
Tria :
"Beb, Jangan irit2 banget napa sih!!!"
"(Emoji kesel, yang merah kereng itu)"
Aku :
"Gausah bawel anak manis. Aku tuh lagi nyoba pelan2 biar bisa gantian traktir kamu cokelat."
Tria :
"Ywda deh... pinter.. aku tungguin."
"Aku udah kangen juga."
"Pesenan aku baru dateng, aku makan dulu."
Aku :
"Iya..."
"Aku juga."
Tria :
"Nanti sore...pulang kerja. Awas aja ya kalo sampe aku lagi yang chat duluan!!!"
(Emoji peluk)
Kemudian, aku mulai menyantap makan siangku. Tak peduli jenisnya atau rasa aslinya, seolah menu makan siangku selalu enak setiap hari.
Bahkan kini, setiap pulang, setiap sore, atau malam menjelang tidur, aku tak lagi bengang bengong di Kosan Aceng. Bunyi notifikasi WA dari Tria yang terus-terusan berdenting seakan menghiasi kamar kos. Malamku lebih berwarna. Soreku lebih terasa manis, meski kopinya pahit karena Aceng jarang beli gula.
Ada sesuatu yang berbeda dari cara Tria memperlakukanku. Sesuatu yang belum pernah kutemui pada perempuan-perempuan yang sempat singgah di hidupku sebelumnya.
Padahal, kalau dilihat dari kariernya di dunia perkantoran dan usianya yang sudah dua puluh enam, aku sempat mengira dia akan lebih sering mengajak bicara soal hal-hal serius. Karier. Kemapanan. Rencana hidup jangka panjang.
Nyatanya, obrolan kami justru sering ngelantur.
Kadang absurd.
Kadang puitis tapi muter-muter.
Apalagi kalau sudah larut malam menjelang tidur.
Contohnya semalam, satu jam telponan cuma buat ngebahas kehidupan koala dan debat tentang filosofi belut listrik.
Dan anehnya… justru di situlah aku merasa senang.
Tak ada tekanan.
Tak ada penilaian.
Rasanya seperti dimiliki oleh seseorang yang benar-benar menyayangiku apa adanya.
Jam istirahat pun usai.
Aku kembali bekerja.
Rekan-rekan di sini banyak yang heran melihat kinerjaku, mereka sampai bilang aku tidak ada lelahnya. Saat mereka baru menyelesaikan dua pekerjaan, aku sudah menyelesaikan lima. Tapi mereka tak merasa tersaingi, malah senang dan merasa terbantu.
Seorang senior yang sedang bekerja bersamaku membuka kedok las di wajahnya. Mungkin lelah. Mungkin ingin memberi jeda pada matanya. Ia duduk tak jauh, menyalakan sebatang rokok, lalu menatapku sambil tersenyum kecil dan menggeleng pelan.
“Gila lo, Mat,” katanya.
“Kayak kuda perang.”
Aku hanya tersenyum tipis.
Sebenarnya, aku hanya ingin terus bergerak. Terus bekerja. Mengumpulkan uang sebanyak mungkin.
Bukan karena rakus. Tapi karena aku tahu, diam terlalu lama hanya akan membuka pintu ke hal-hal yang ingin kutinggalkan.
Di kepalaku... ada banyak hal yang sedang kupikirkan, termasuk tekad untuk menmbangun hidup yang lebih baik dari sebelumnya.
Dan di hatiku… cuma ada Tria.
******
Langit sore mulai menguning ke arah jingga.
Aku sudah pulang dan tiba di kosan Aceng. Seusai mandi, kebiasaanku hanyalah bercengkrama dengan sore... duduk bersila santai di depan secangkir kopi dan sebatang rokok yang menyala perlahan.
Sekarang aku jarang langsung makan sepulang kerja. Biasanya nanti, saat hari benar-benar gelap. Atau saat Tria sudah sampai rumah.
Jam segini aku hafal betul dia masih di perjalanan pulang, berdiri di antara penumpang KRL, menahan lelah yang sama seperti yang kurasakan tadi siang.
Dan aku rutin menemaninya dari kejauhan. Lewat layar kecil di tanganku.
Ku buka hp,
melihat jam di layar,
langsung chat Tria...
Aku (17:37) :
"Hari ini kamu udah kesel lagi sama dunia belum? Kalo iya, sini, curhat ke aku aja."
"Mudah2an sih gak ada."
Tria :
"Gedeg banget aku siang tadi beb."
"Si novi tuh lincah banget mulutnya."
"Tadi aku dicengin gara-gara sisa rendang nyelip di gigi aku."
"Aku malu!!!!"
“Yang lain jadi ikut denger… monyet emang.”
Aku :
"Cuekin aja."
"Bangga dong, sisa rendang itu bukti kamu habis makan enak."
"Lagian si novi mah... bisa aja tadi cuma makan mie gelas, jadi iri."
Tria :
"hhaha... iya juga ya."
"Dia tuh kadang kayak bocah."
"Bukannya ngasih tahu baik-baik, malah diledekin rame2."
Aku :
"Salah besar dia ngetawain kamu."
"Kamu mau keselip rendang kek, kapal selem, atau bahkan planet pluto, tetep cakep kok."
"Dia... belum tentu."
Tria :
"Wah, gombalan sore-sore udah mulai nih."
"Kalau aku cakep walau keselip rendang..."
"Berarti... pas aku keselup, aku masih cakep juga ngga?"
Aku :
"Maksudnya????"
Tria :
"Iya keselup... yang waktu itu. Masa kamu gak ngeh sih udah gede."
"Apa pura-pura lupa."
Aku :
"Oh.. itu"
"Hahaha… aku paham, kok."
"Waktu itu... kamu cantik dengan cara yang nggak bisa dijelasin."
Tria :
"(Emoji senyum malu pipi oranye, lima biji)"
Aku :
"Aku nggak nyangka kamu ngungkit itu dengan kata keselup."
"Cuma kamu yang bisa bikin kata kayak gitu terdengar... manis banget."
"Rasanya kayak... kata yang cuma kita berdua ngerti."
Tria :
"Emang cuma kita yang boleh ngerti."
"Kita kan bukan orang biasa."
"Kata-kata aja bisa jadi rahasia kecil berdua."
"Jangan dilupain..."
Aku :
"Kalau soal itu, aku gak akan lupa kok."
"Gimana bisa lupa… kamu keselup, aku kejebak."
"Pelan..... tapi nyata."
Tria :
"Hahaha sialan..."
"Berasa dipeluk lewat chat nih."
"Gila, Mat..."
"Udah ah, jangan diterusin... aku masih di kereta nih."
"Aku jadi senyam senyum sendiri disini, mikir aneh-aneh."
Aku :
"Senyum sendiri sambil mikir yang aneh-aneh itu gak baik."
"Takutnya ntar ada yang salah paham, kirain kamu senyum2 karena inget kucing."
"Padahal mah... Inget keselup."
Tria :
"Woiii!!!"
"Jangan bikin aku ngakak sendiri dong, malu ini."
"Untung aku udah dapet duduk, tapi ya... jadi susah nahan senyum."
"Udah ah, aku mau nyender bentar, pusing kepala."
Aku :
"Oke, nyender yang nyaman ya."
"Nanti kabarin pas udah sampai."
Lalu aku menyeruput kopiku yang masih hangat, menghisap rokok, dan menghembuskan asapnya sambil nyengir.
Rasanya berbeda.
Tidak lagi kosong, tidak lagi hambar seperti hari-hari sebelum Tria hadir.
Di tengah kehidupan yang sedang aku benahi pelan-pelan, aku paham...
Hidupku memang belum sembuh sepenuhnya dari kesalahan yang dulu aku gali sendiri. Tapi kehadiran Tria... terasa seperti tangan halus yang nggak langsung menyembuhkan, setidaknya cukup untuk membuatku sadar bahwa dunia ini masih indah untuk dijalani.
Dari kata-katanya yang dalem tapi kadang nyeleneh. Dari tatapan matanya di video call, aku bahagia bisa jadi tempat ia mencurahkan isi hati, sekadar bersandar saat lelah, atau tertawa tanpa beban.
Saling berbagi, saling menemukan arah.
Seolah ia bilang...
Aku nyaman ada disini.
Diubah oleh sipanjangnapas3 25-01-2026 19:27
Herisyahrian dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup