- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#54
Chapter 3 E
“Evening.”
“Apa?” tanyaku ketika mendengar itu.
“Evening, ya… evening,” ulangnya santai, masih berjalan di sampingku. “Masa kamu nggak tahu artinya?”
“Tahu lah. Masa iya nggak. Bodoh banget.” jawabku ringan. “Tapi kenapa tiba-tiba ngomong Inggris begitu?”
“Aku nyaman pas ngomong…”
“Evening.”
“Indah kan? Lihat tuh langit.” Ia menengadah, jarinya menunjuk cakrawala.
Aku menatap kesana. Biru muda yang memudar bercampur jingga, seperti ada cat yang sengaja ditumpahkan di kerajaan langit.
“Evening…”
aku ikut mengulang lirih.
Kata itu terasa asing sekaligus akrab.
Kami melangkah berpegangan tangan, diiringi suara ombak yang menghantam batu. Tria benar, dunia sore di tepi laut memang berbeda. Meski senja belum sepenuhnya tiba, langit seolah tak peduli, dan kami hanya bisa membiarkan oranye itu menelusup ke dalam ingatan.
Dan akhirnya kami sampai juga di dermaga kecil yang kucari. Tak panjang, namun terlihat nyaman untuk mengobrol. Tria segera memilih sisi tepi dan mengajakku duduk. Mencari posisi yang pas untuk menunggu senja datang dari di ujung sana. Aku merasa sedikit beruntung, kami bisa sangat luwes karena tak ada orang mancing ikan disini.
Aku belum mulai bicara serius.
Tria kulihat masih terbawa riang suasana siang tadi, masih sibuk nyerocos tentang hal-hal lucu disana, termasuk mengungkit pengunjung lain yang naik roller coaster bareng kami. Senyum itu belum mau lepas dari wajahnya, dan tawa candanya bersamaku terdengar lebih nyaring daripada ombak di bawah dermaga.
Ia terdiam sejenak, seolah memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk merasakan angin laut yang tak bosan menerpa wajah kami.
Aku memperhatikan caranya mencondongkan tubuh ke depan, seakan ingin meraih garis tipis yang memisahkan laut dan langit.
“Jadi... ini surprisenya? Ngajak aku nunggu senja sambil lihat lautan?” ucap Tria sambil terkekeh kecil, nada bercandanya ringan.
Aku menghernyitkan dahi.
“Hmm... Mungkin,” jawabku singkat.
Mendadak tangannya meraih tanganku,
“Aku suka. Baru kali ini ya... Kita kalau liburan malah sering camping atau naik gunung... Ternyata nyaman juga begini.”
Aku terperangkap mendengar kalimat itu.
Lalu mulai berbicara lebih tenang.
“Aku pernah baca, entah di buku atau dimana aku lupa...”
“katanya... laut itu jujur, apa adanya.”
Kuambil jeda sebentar, memastikan pandangannya tetap menempel padaku.
“Makanya aku bawa kamu kesini. Karena aku mau jujur. Sama apa adanya.”
“Jujur tentang apa?” tanyanya pelan, namun sorot matanya berubah tajam.
Tanganku merogoh saku jaket army yang kupakai.
Dari sana, ku keluarkan sebuah kotak kecil.
Tria terdiam. Sekejap, ia tersentak.
Ia langsung merebut kotak itu dari tanganku dengan cepat, seakan tak ingin memberi ruang pada kata-kataku meluncur terlebih dahulu.
Ada kilatan samar yang melintas saat aku menatap wajahnya, karena aku tak bisa menerka arti di balik senyum yang tiba-tiba ia hapus sendiri. Membiarkan aku terjebak dalam gestur anehnya yang bahkan lautan sekalipun mungkin tak ingin ikut campur.
Tria menatap kotak kecil itu lama, seolah berat untuk melihatnya. Jemarinya sempat bergetar ketika membuka, sebelum akhirnya ia menutup rapat kembali, lalu mengembalikannya pelan padaku.
Kepalanya tertunduk.
Raut wajahnya berubah drastis, dan seketika kegembiraan yang tadinya menyelimuti kami menguap begitu saja, tergantikan oleh hawa dingin yang aku nggak tahu berasal dari mana.
Aku mengangkat wajahnya pelan dengan ujung jemari. Ingin menatap matanya. Ingin tahu. Meski takut kalau tatapan itu justru jadi awal dari jawaban yang tak siap kuterima.
“Aku nggak paham…” ucapku lirih. “Kenapa kamu balikin cincin ini.”
Kotak kecil itu kugenggam lagi, kali ini lebih erat.
“Tapi yang mau aku sampein sederhana, Tria.”
Aku menarik napas. Menjaga suara tetap utuh.
“Aku mau lamar kamu.”
Aku menatapnya lurus, tak lagi mencari isyarat.
“Karena aku nggak bisa ngebayangin hidup aku… tanpa kamu di dalamnya.”
Aku menahan diri sejenak...
membiarkan kata-kata itu mengambang di hadapan laut.
Menunggu tanggapan darinya...
Tria sempat menggeleng pelan, lalu kembali menatapku. Ia tersenyum kecil, tapi kali ini bukan senyum aslinya. Lebih mirip selapis tirai halus yang sengaja dipasang untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih dingin di balik matanya.
“Mat…” ucapnya lirih.
“Menurut aku, kita nggak perlu bicarain ini dulu.”
“Kamu sadar nggak? Aku udah pernah lihat kamu di titik paling kosong, dan kamu juga udah pernah lihat aku di titik paling polos.”
Ada sesuatu yang ganjil. Ada jarak yang tiba-tiba hadir di antara kami.
Ia menoleh ke laut. Pandangannya menjauh, seolah kata-kata berikutnya terlalu berat untuk ditaruh di antara kami.
“Kalau semua itu udah kita lewatin…” suaranya sedikit bergetar,
“nikah atau enggak... buat kamu, apa bedanya?”
Ia berhenti.
“Apa lagi yang sebenarnya kamu harap dari aku?”
Aku tertegun...
seperti menelan rasa ngilu atas jawaban yang kudapat darinya.
“Kamu lupa?” suaraku rendah, “Kamu lho yang sering ngebahas ini. Kamu yang cerita soal rencana, soal masa depan.”
Aku menarik napas.
“Aku udah buktiin, Tria. Aku sampai sejauh ini karena kamu.”
Tria mengerjap pelan, ia mengucek kedua matanya sebentar, kemudian menatapku dengan sorot yang bercampur antara sedih dan pasrah.
“Aku cuma...” suaranya terbata, serupa menelan pahitnya kata-kata sendiri.
“...waktu itu aku cuma pengen kamu hidup lebih baik. Bangkit, berubah, punya arah.”
“Dan sekarang aku udah lihat itu semua,” lanjutnya lirih. “Tapi maaf. Sekali lagi aku minta maaf. Untuk saat ini, aku pengen kita... gini-gini aja dulu.”
Gini-gini aja?
Kata-kata itu bergaung di kepalaku, menghantam lebih keras dari ombak yang pecah di batu karang. Apa maksudnya ia berpikir seperti itu? Semakin panjang ia menjelaskan, semakin aku justru merasa tersesat.
“Tria... aku minta tolong... Tolong kamu ngomong yang bener sama aku. Maksud kamu apa? Tolong jelasin ke aku dengan cara yang bisa bikin aku ngerti, yang bisa bikin aku paham.”
Ia menghela napas panjang sebelum menjawab. Seperti sedang menyusun kata yang paling aman untuk tidak melukaiku... atau justru sebaliknya.
“Simple, Mat,” katanya akhirnya.
“Aku masih di sini.”
Ia menatapku lurus.
“Kamu butuh apa? Pelukan. Kehangatan. Kebersamaan.”
Ia tersenyum tipis.
“Kita udah terbiasa, kan?”
“Atau kamu mau ngajak aku ke mana, aku ikut. Aku masih ada di samping kamu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan:
“Aku cuma nggak mau kita bicarain hal ini. Tentang niat kamu.”
Aku tercengang.
Aku tahu ke mana arah kata-katanya menyeretku. Ya, aku sadar dan mengakui, tak ada yang luput dariku tentangnya, bahkan setiap detil dirinya sudah melekat dalam ingatanku. Tapi bukan itu yang aku butuhkan sekarang. Bukan sekadar kehangatan yang bisa kami bagi di sela waktu. Yang kuinginkan adalah dirinya sebagai rumah. Dirinya yang hidup menua bersamaku. Dirinya yang setiap kali aku bangun tidur, jadi wajah pertama yang meyakinkan bahwa aku nggak sendirian di dunia ini.
Namun Tria kulihat masih keras bergeming pada keputusannya.
Seketika... aku memilih diam. Bukan diam karena menyerah, bukan pula karena getir akibat ekspetasi yang tak sesuai kenyataan, melainkan diam yang membuatku lebih nyaman memandangi langit. Aku mengalihkan pandangan darinya, membiarkan mataku larut ke langit yang kini dilumuri jingga pekat. Tak jauh dari sana, sekawanan burung kecil melintas berterbangan, entah puluhan atau ratusan jumlahnya, mengitari angkasa seakan sedang menulis sesuatu di udara. Dan entah halusinasi atau nyata, semakin lama kupandang, sayap-sayap itu perlahan menyerupai wajah Tria. Wajah yang tak menolak, tak berpaling, hanya hadir dalam keindahannya yang ringkih. Senyum tipis terbit di wajahku ketika melihatnya terbentuk di langit, dan anehnya, aku merasa lebih tenteram menatap wajah Tria yang tercetak di sana, dibandingkan Tria yang duduk di sampingku saat ini, yang justru menjauh dari kejujuran yang kuharapkan.
Mungkin ingin membuyarkanku dari lamunan,
tangannya mendadak menyentuh dadaku pelan... ia bilang...
“Rahmat... aku di sini.”
Aku mendengar,
tentu saja mendengar. Tapi entah kenapa, semuanya terasa kelu.
Aku mencoba tegar, menahan diri agar tak ada air mata yang jatuh, tapi begitu melihat wajah Tria, aku baru sadar, seutas jalur basah sudah lebih dulu membekas di pipinya. Dan aku tak mengerti... mengapa ia justru memilih membuat segalanya semakin rumit.
Kuangkat kotak merah yang sejak tadi kugenggam erat. Perlahan kubuka dan mengeluarkan cincin putih di dalamnya.
Tria memperhatikannya, matanya berkaca-kaca, seakan ada jawaban yang tak pernah sempat ia ucapkan.
Tangannya ku raih perlahan, dan dengan tenang kupasang cincin itu ke jari manisnya.
Aku tersenyum tipis, mencoba membuat segalanya lebih ringan.
Lalu dengan segenap kekuatan yang aku punya, aku berkata pelan...
“Nggak apa-apa.”
“Ini bukan cincin nikah, bukan cincin tunangan.”
“Cincin ini cuma untuk kamu.”
Detik itu...
Ia menatapku hening, tanpa senyum, tanpa kata.
Hanya matanya yang bergetar, menyerupai ombak lautan di hadapan kami yang menyimpan ribuan rahasia.
“Apa?” tanyaku ketika mendengar itu.
“Evening, ya… evening,” ulangnya santai, masih berjalan di sampingku. “Masa kamu nggak tahu artinya?”
“Tahu lah. Masa iya nggak. Bodoh banget.” jawabku ringan. “Tapi kenapa tiba-tiba ngomong Inggris begitu?”
“Aku nyaman pas ngomong…”
“Evening.”
“Indah kan? Lihat tuh langit.” Ia menengadah, jarinya menunjuk cakrawala.
Aku menatap kesana. Biru muda yang memudar bercampur jingga, seperti ada cat yang sengaja ditumpahkan di kerajaan langit.
“Evening…”
aku ikut mengulang lirih.
Kata itu terasa asing sekaligus akrab.
Kami melangkah berpegangan tangan, diiringi suara ombak yang menghantam batu. Tria benar, dunia sore di tepi laut memang berbeda. Meski senja belum sepenuhnya tiba, langit seolah tak peduli, dan kami hanya bisa membiarkan oranye itu menelusup ke dalam ingatan.
Dan akhirnya kami sampai juga di dermaga kecil yang kucari. Tak panjang, namun terlihat nyaman untuk mengobrol. Tria segera memilih sisi tepi dan mengajakku duduk. Mencari posisi yang pas untuk menunggu senja datang dari di ujung sana. Aku merasa sedikit beruntung, kami bisa sangat luwes karena tak ada orang mancing ikan disini.
Aku belum mulai bicara serius.
Tria kulihat masih terbawa riang suasana siang tadi, masih sibuk nyerocos tentang hal-hal lucu disana, termasuk mengungkit pengunjung lain yang naik roller coaster bareng kami. Senyum itu belum mau lepas dari wajahnya, dan tawa candanya bersamaku terdengar lebih nyaring daripada ombak di bawah dermaga.
Ia terdiam sejenak, seolah memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk merasakan angin laut yang tak bosan menerpa wajah kami.
Aku memperhatikan caranya mencondongkan tubuh ke depan, seakan ingin meraih garis tipis yang memisahkan laut dan langit.
“Jadi... ini surprisenya? Ngajak aku nunggu senja sambil lihat lautan?” ucap Tria sambil terkekeh kecil, nada bercandanya ringan.
Aku menghernyitkan dahi.
“Hmm... Mungkin,” jawabku singkat.
Mendadak tangannya meraih tanganku,
“Aku suka. Baru kali ini ya... Kita kalau liburan malah sering camping atau naik gunung... Ternyata nyaman juga begini.”
Aku terperangkap mendengar kalimat itu.
Lalu mulai berbicara lebih tenang.
“Aku pernah baca, entah di buku atau dimana aku lupa...”
“katanya... laut itu jujur, apa adanya.”
Kuambil jeda sebentar, memastikan pandangannya tetap menempel padaku.
“Makanya aku bawa kamu kesini. Karena aku mau jujur. Sama apa adanya.”
“Jujur tentang apa?” tanyanya pelan, namun sorot matanya berubah tajam.
Tanganku merogoh saku jaket army yang kupakai.
Dari sana, ku keluarkan sebuah kotak kecil.
Tria terdiam. Sekejap, ia tersentak.
Ia langsung merebut kotak itu dari tanganku dengan cepat, seakan tak ingin memberi ruang pada kata-kataku meluncur terlebih dahulu.
Ada kilatan samar yang melintas saat aku menatap wajahnya, karena aku tak bisa menerka arti di balik senyum yang tiba-tiba ia hapus sendiri. Membiarkan aku terjebak dalam gestur anehnya yang bahkan lautan sekalipun mungkin tak ingin ikut campur.
Tria menatap kotak kecil itu lama, seolah berat untuk melihatnya. Jemarinya sempat bergetar ketika membuka, sebelum akhirnya ia menutup rapat kembali, lalu mengembalikannya pelan padaku.
Kepalanya tertunduk.
Raut wajahnya berubah drastis, dan seketika kegembiraan yang tadinya menyelimuti kami menguap begitu saja, tergantikan oleh hawa dingin yang aku nggak tahu berasal dari mana.
Aku mengangkat wajahnya pelan dengan ujung jemari. Ingin menatap matanya. Ingin tahu. Meski takut kalau tatapan itu justru jadi awal dari jawaban yang tak siap kuterima.
“Aku nggak paham…” ucapku lirih. “Kenapa kamu balikin cincin ini.”
Kotak kecil itu kugenggam lagi, kali ini lebih erat.
“Tapi yang mau aku sampein sederhana, Tria.”
Aku menarik napas. Menjaga suara tetap utuh.
“Aku mau lamar kamu.”
Aku menatapnya lurus, tak lagi mencari isyarat.
“Karena aku nggak bisa ngebayangin hidup aku… tanpa kamu di dalamnya.”
Aku menahan diri sejenak...
membiarkan kata-kata itu mengambang di hadapan laut.
Menunggu tanggapan darinya...
Tria sempat menggeleng pelan, lalu kembali menatapku. Ia tersenyum kecil, tapi kali ini bukan senyum aslinya. Lebih mirip selapis tirai halus yang sengaja dipasang untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih dingin di balik matanya.
“Mat…” ucapnya lirih.
“Menurut aku, kita nggak perlu bicarain ini dulu.”
“Kamu sadar nggak? Aku udah pernah lihat kamu di titik paling kosong, dan kamu juga udah pernah lihat aku di titik paling polos.”
Ada sesuatu yang ganjil. Ada jarak yang tiba-tiba hadir di antara kami.
Ia menoleh ke laut. Pandangannya menjauh, seolah kata-kata berikutnya terlalu berat untuk ditaruh di antara kami.
“Kalau semua itu udah kita lewatin…” suaranya sedikit bergetar,
“nikah atau enggak... buat kamu, apa bedanya?”
Ia berhenti.
“Apa lagi yang sebenarnya kamu harap dari aku?”
Aku tertegun...
seperti menelan rasa ngilu atas jawaban yang kudapat darinya.
“Kamu lupa?” suaraku rendah, “Kamu lho yang sering ngebahas ini. Kamu yang cerita soal rencana, soal masa depan.”
Aku menarik napas.
“Aku udah buktiin, Tria. Aku sampai sejauh ini karena kamu.”
Tria mengerjap pelan, ia mengucek kedua matanya sebentar, kemudian menatapku dengan sorot yang bercampur antara sedih dan pasrah.
“Aku cuma...” suaranya terbata, serupa menelan pahitnya kata-kata sendiri.
“...waktu itu aku cuma pengen kamu hidup lebih baik. Bangkit, berubah, punya arah.”
“Dan sekarang aku udah lihat itu semua,” lanjutnya lirih. “Tapi maaf. Sekali lagi aku minta maaf. Untuk saat ini, aku pengen kita... gini-gini aja dulu.”
Gini-gini aja?
Kata-kata itu bergaung di kepalaku, menghantam lebih keras dari ombak yang pecah di batu karang. Apa maksudnya ia berpikir seperti itu? Semakin panjang ia menjelaskan, semakin aku justru merasa tersesat.
“Tria... aku minta tolong... Tolong kamu ngomong yang bener sama aku. Maksud kamu apa? Tolong jelasin ke aku dengan cara yang bisa bikin aku ngerti, yang bisa bikin aku paham.”
Ia menghela napas panjang sebelum menjawab. Seperti sedang menyusun kata yang paling aman untuk tidak melukaiku... atau justru sebaliknya.
“Simple, Mat,” katanya akhirnya.
“Aku masih di sini.”
Ia menatapku lurus.
“Kamu butuh apa? Pelukan. Kehangatan. Kebersamaan.”
Ia tersenyum tipis.
“Kita udah terbiasa, kan?”
“Atau kamu mau ngajak aku ke mana, aku ikut. Aku masih ada di samping kamu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan:
“Aku cuma nggak mau kita bicarain hal ini. Tentang niat kamu.”
Aku tercengang.
Aku tahu ke mana arah kata-katanya menyeretku. Ya, aku sadar dan mengakui, tak ada yang luput dariku tentangnya, bahkan setiap detil dirinya sudah melekat dalam ingatanku. Tapi bukan itu yang aku butuhkan sekarang. Bukan sekadar kehangatan yang bisa kami bagi di sela waktu. Yang kuinginkan adalah dirinya sebagai rumah. Dirinya yang hidup menua bersamaku. Dirinya yang setiap kali aku bangun tidur, jadi wajah pertama yang meyakinkan bahwa aku nggak sendirian di dunia ini.
Namun Tria kulihat masih keras bergeming pada keputusannya.
Seketika... aku memilih diam. Bukan diam karena menyerah, bukan pula karena getir akibat ekspetasi yang tak sesuai kenyataan, melainkan diam yang membuatku lebih nyaman memandangi langit. Aku mengalihkan pandangan darinya, membiarkan mataku larut ke langit yang kini dilumuri jingga pekat. Tak jauh dari sana, sekawanan burung kecil melintas berterbangan, entah puluhan atau ratusan jumlahnya, mengitari angkasa seakan sedang menulis sesuatu di udara. Dan entah halusinasi atau nyata, semakin lama kupandang, sayap-sayap itu perlahan menyerupai wajah Tria. Wajah yang tak menolak, tak berpaling, hanya hadir dalam keindahannya yang ringkih. Senyum tipis terbit di wajahku ketika melihatnya terbentuk di langit, dan anehnya, aku merasa lebih tenteram menatap wajah Tria yang tercetak di sana, dibandingkan Tria yang duduk di sampingku saat ini, yang justru menjauh dari kejujuran yang kuharapkan.
Mungkin ingin membuyarkanku dari lamunan,
tangannya mendadak menyentuh dadaku pelan... ia bilang...
“Rahmat... aku di sini.”
Aku mendengar,
tentu saja mendengar. Tapi entah kenapa, semuanya terasa kelu.
Aku mencoba tegar, menahan diri agar tak ada air mata yang jatuh, tapi begitu melihat wajah Tria, aku baru sadar, seutas jalur basah sudah lebih dulu membekas di pipinya. Dan aku tak mengerti... mengapa ia justru memilih membuat segalanya semakin rumit.
Kuangkat kotak merah yang sejak tadi kugenggam erat. Perlahan kubuka dan mengeluarkan cincin putih di dalamnya.
Tria memperhatikannya, matanya berkaca-kaca, seakan ada jawaban yang tak pernah sempat ia ucapkan.
Tangannya ku raih perlahan, dan dengan tenang kupasang cincin itu ke jari manisnya.
Aku tersenyum tipis, mencoba membuat segalanya lebih ringan.
Lalu dengan segenap kekuatan yang aku punya, aku berkata pelan...
“Nggak apa-apa.”
“Ini bukan cincin nikah, bukan cincin tunangan.”
“Cincin ini cuma untuk kamu.”
Detik itu...
Ia menatapku hening, tanpa senyum, tanpa kata.
Hanya matanya yang bergetar, menyerupai ombak lautan di hadapan kami yang menyimpan ribuan rahasia.
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 02:56
Herisyahrian dan regmekujo memberi reputasi
2