- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#4
Chapter 1 D
Pagi hari...
"Kamu yang mana?"
Kata-kata itu menggelegar di dalam kepalaku, disaat aku perlahan membuka mata untuk bangun dari tidur didalam tenda lembab ini. Pagi pun sudah seperti menjelang siang.
"Apakah semua hanya mimpi?" Aku bergumam dalam hati. Dan aku sadar ketika meneguk sedikit dari botol mineral milik Tria.
Aku mengucek mata, beranjak keluar tenda yang ternyata sudah terang diluar. Bias-bias garis cahaya mentari yang terhalau dedaunan sangat terlihat.
Semalam... beneran terjadi, ya?
Kenapa bisa secepat ini...
Dan anehnya... aku nggak merasa bersalah.
Aku menunduk. Tanah masih basah, tapi kepalaku lebih berat dari seluruh embun yang menggantung.
Apa ini salah? Atau justru, begini cara semesta mempertemukan orang yang udah terlalu lama kehilangan arah?
Tria lagi jongkok, ngerapihin peralatan dan tali tenda miliknya sambil sesekali meniup rambutnya yang jatuh ke wajah. Gerakannya biasa aja, tapi entah kenapa, pagi ini semuanya terasa berbeda.
Napasku berat, tapi langkah kakiku ringan. Entah karena udara pagi atau karena ada bagian dari diriku yang telah tergeser malam tadi.
Ada ruang yang semalam terbuka. Bukan hanya di antara kami, tapi juga di dalam diriku sendiri.
Aku tak pernah menyangka, secepat ini aku sepenuhnya dikenali. Tapi sekaligus takut, takut kalau semua hanya kebetulan cuaca dan waktu yang mempermainkan rasa.
Dan aku berjalan tenang, seolah tak ingin meninggalkan jejak yang terlalu jelas.
“Eh... Mumpung cuaca lagi cerah, mending kamu cari air geh, abis cuci muka kita naik,” ucap Tria membuyarkan lamunanku, ketika ia baru saja melihatku dan menyambutku ditengah silaunya mentari pagi.
Seolah mengundangku untuk masuk lebih dalam ke dunianya.
Aku tersenyum nurut.
Lalu mempersiapkan diri untuk menemani dia melanjutkan pendakian...
******
Langkah kami mulai menanjak pelan, menyusuri jalur yang basah oleh hujan semalam. Tanah lembek mengikat sedikit sepatu, tapi semangat pagi itu tak mudah ditenggelamkan. Di depan, Tria berjalan ringan seperti biasa, sesekali menoleh ke belakang, memastikan aku tak tertinggal.
“Aku senang kamu nggak kabur,” candanya, dengan nada lembut, tapi matanya seperti menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.
Aku tak menjawab, hanya tersenyum sambil menatap punggungnya. Di antara desir angin dan kicau burung, aku merasa waktu tak terburu-buru. Di jalur pendakian itu, aku merasa dunia cukup. Tak lebih, tak kurang.
“Lama gak naik gunung ya?” tanya Tria, kali ini sambil menunggu di sebuah batu besar.
“Naik sih dulu sering,” jawabku pelan, “tapi jarang bareng orang yang bikin perjalanan jadi beda.”
Ia hanya mengangguk kecil, menunduk agak lama, lalu berkata terengah, “Kita memang belum saling kenal. Tapi ada faktor yang ga bisa diukur pakai waktu.”
Aku merasa tenang, tapi juga bingung. Seperti seseorang yang menemukan rumah di tengah badai, tapi belum tahu apakah ia hanya menumpang lewat atau memang diminta tinggal.
"Kamu yang mana?"
Kata-kata itu menggelegar di dalam kepalaku, disaat aku perlahan membuka mata untuk bangun dari tidur didalam tenda lembab ini. Pagi pun sudah seperti menjelang siang.
"Apakah semua hanya mimpi?" Aku bergumam dalam hati. Dan aku sadar ketika meneguk sedikit dari botol mineral milik Tria.
Aku mengucek mata, beranjak keluar tenda yang ternyata sudah terang diluar. Bias-bias garis cahaya mentari yang terhalau dedaunan sangat terlihat.
Semalam... beneran terjadi, ya?
Kenapa bisa secepat ini...
Dan anehnya... aku nggak merasa bersalah.
Aku menunduk. Tanah masih basah, tapi kepalaku lebih berat dari seluruh embun yang menggantung.
Apa ini salah? Atau justru, begini cara semesta mempertemukan orang yang udah terlalu lama kehilangan arah?
Tria lagi jongkok, ngerapihin peralatan dan tali tenda miliknya sambil sesekali meniup rambutnya yang jatuh ke wajah. Gerakannya biasa aja, tapi entah kenapa, pagi ini semuanya terasa berbeda.
Napasku berat, tapi langkah kakiku ringan. Entah karena udara pagi atau karena ada bagian dari diriku yang telah tergeser malam tadi.
Ada ruang yang semalam terbuka. Bukan hanya di antara kami, tapi juga di dalam diriku sendiri.
Aku tak pernah menyangka, secepat ini aku sepenuhnya dikenali. Tapi sekaligus takut, takut kalau semua hanya kebetulan cuaca dan waktu yang mempermainkan rasa.
Dan aku berjalan tenang, seolah tak ingin meninggalkan jejak yang terlalu jelas.
“Eh... Mumpung cuaca lagi cerah, mending kamu cari air geh, abis cuci muka kita naik,” ucap Tria membuyarkan lamunanku, ketika ia baru saja melihatku dan menyambutku ditengah silaunya mentari pagi.
Seolah mengundangku untuk masuk lebih dalam ke dunianya.
Aku tersenyum nurut.
Lalu mempersiapkan diri untuk menemani dia melanjutkan pendakian...
******
Langkah kami mulai menanjak pelan, menyusuri jalur yang basah oleh hujan semalam. Tanah lembek mengikat sedikit sepatu, tapi semangat pagi itu tak mudah ditenggelamkan. Di depan, Tria berjalan ringan seperti biasa, sesekali menoleh ke belakang, memastikan aku tak tertinggal.
“Aku senang kamu nggak kabur,” candanya, dengan nada lembut, tapi matanya seperti menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.
Aku tak menjawab, hanya tersenyum sambil menatap punggungnya. Di antara desir angin dan kicau burung, aku merasa waktu tak terburu-buru. Di jalur pendakian itu, aku merasa dunia cukup. Tak lebih, tak kurang.
“Lama gak naik gunung ya?” tanya Tria, kali ini sambil menunggu di sebuah batu besar.
“Naik sih dulu sering,” jawabku pelan, “tapi jarang bareng orang yang bikin perjalanan jadi beda.”
Ia hanya mengangguk kecil, menunduk agak lama, lalu berkata terengah, “Kita memang belum saling kenal. Tapi ada faktor yang ga bisa diukur pakai waktu.”
Aku merasa tenang, tapi juga bingung. Seperti seseorang yang menemukan rumah di tengah badai, tapi belum tahu apakah ia hanya menumpang lewat atau memang diminta tinggal.
Diubah oleh sipanjangnapas3 22-01-2026 06:45
Herisyahrian dan 3 lainnya memberi reputasi
4