Kaskus

Story

Kategori

Pengaturan

Mode Malambeta
Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

sipanjangnapas3Avatar border
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]



Titik Yang Benar

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.

Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.

Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.

Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...

Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"


Neil Young - Only Love Can Break Your Heart




Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)

Iwan fals - Mata hati

Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J

Slank - # 1

Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)

Rusa Militan - Senandung Senja

Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E

Iwan Fals - Masih Bisa Cinta

Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG

Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio


Sorry for...

Never going by your door

Never feeling love like that

Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
YoayoayoAvatar border
penyair.salembaAvatar border
HerisyahrianAvatar border
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
sipanjangnapas3Avatar border
TS
sipanjangnapas3
#13
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
“Kamu sampe bela-belain ya, mau nemenin nunggu,” ucap Tria saat kami duduk di kursi panjang peron.
“Oh iya… nanti kamu beli tiket pulangnya kapan?”

“Gampang,” jawabku ringan.
“Nanti abis kamu berangkat, aku langsung beli. Kereta tuh ada terus. Yang jarang itu… waktu bareng kamu.”

Tria mendengus kecil.
“Weleeh… itu mah bukan gombal lagi. Ngombel.”

Ia menggeleng pelan, tapi senyumnya nggak bisa disembunyikan. Senyum yang entah kenapa terasa seperti sesuatu yang bakal kurindukan.

Aku terkekeh, lalu melirik sekitar. Beberapa orang tampak memperhatikan kami. Mungkin karena ransel besar yang masih kami gendong, atau mungkin karena cara kami duduk terlalu dekat untuk dua orang yang baru saling kenal.

“Ada yang ngelihatin kita tuh,” bisikku sambil sedikit merapat ke arahnya.

“Ya wajar,” jawab Tria menahan tawa.
“Mungkin mereka ngira kita abis syuting video klip di gunung.”

“Atau jangan-jangan mereka mikir kamu selebgram,” sahutku.
“Terus aku cuma porter yang lagi dapet keberuntungan.”

Dan lagi-lagi aku mendapati diriku memperhatikan caranya tertawa... sederhana, tanpa dibuat-buat.

Percakapan ringan kami pun mengalir seperti angin sore yang pelan-pelan membelai, menenangkan hati, meski waktu terus berjalan tanpa mau henti.

Ditengah keseruan kami berdua membicarakan banyak hal saat itu, cerita lucu tentang pengalaman mendaki masing-masing, cerita abstrak tentang burung pelatuk, lumba-lumba, elang, bintang, palung, bahkan gorengan yang sudah dingin.

Sekejap aku dan Tria terdiam ...

Karena suara khas stasiun tiba-tiba terdengar,

"ting... ting... ting..."


Sebuah nada yang entah kenapa selalu terasa melankolis...


Sebuah nada yang seolah memberi aba-aba bahwa waktu tak bisa lagi ditunda...


Sebuah nada yang bisa membuat beberapa burung merpati beterbangan dari tiang-tiang besi...


Dan dari kejauhan, kereta itu muncul... perlahan... Tapi pasti,


Rangkaian panjang baja yang akan membawa pulang banyak rindu.


............

Orang-orang di tempat itu bersiap dan bergegas menyambut kereta.

Tria masih diam belum beranjak, tatapan matanya yang menatapku mendadak terlihat kosong, tapi mengandung arti.
“Sebelum aku naik, aku mau tanya satu Mat.”

“Apa?” kataku sambil merapikan barang-barang miliknya agar tak ada yang ketinggalan.

“Kalau misalnya kita cuma numpang lewat dalam hidup satu sama lain, apa seenggaknya kita singgah di titik yang benar?”

Aku terperangah, serasa tubuh ini terbujur kaku.
Aku hanya diam, masih menatapnya untuk mencari jawaban dengan tulus.

Belum sempat aku menemukannya, Tria menggenggam tanganku sebentar dan bilang,
“Kalo kamu ga tahu, kamu ga harus jawab, pertanyaan itu emang baiknya ga pernah kita jawab, kamu udah punya no telpon aku sekarang, kedepannya tinggal aku serahin ke kamu.”

Aku tak menjawab apa-apa. Bahkan kata "iya" pun terasa terlalu dangkal untuk menampung beratnya makna dari kata-katanya barusan. Yang kulakukan hanya berdiri di hadapannya, menatap mata yang mulai menyimpan harapan besar di permukaannya, mata yang seakan ingin bicara lebih banyak, tapi memilih diam agar perpisahan tak jadi lebih sulit dari yang sudah-sudah.

Tria melangkah ke arah pintu, menyerahkan tiketnya ke petugas, lalu menoleh lagi padaku. Tatapannya kali ini bukan lagi kosong, tapi pasrah. Bukan pasrah karena kalah, tapi karena menerima... Bahwa apa pun yang terjadi kemarin dan saat ini... sudahlah cukup.

Dan aku hanya bisa berdiri di batas pintu itu. Membawa satu janji dalam genggaman, bahwa aku akan menemuinya lagi, entah kapan, entah bagaimana. Tapi tidak dengan hidup yang kosong. Tidak lagi sebagai aku yang hilang arah. Tapi sebagai seseorang yang memang ingin bersamanya, bukan untuk sebatas melanjutkan, tapi untuk membuktikan,
Bahwa titik tempat kami singgah… adalah titik yang benar.

Aku memandangi kereta yang mulai berjalan perlahan lalu kencang. Seperti ada yang ingin menetes dari mata saat kereta itu kian menjauh... menghilang dari pandangan mata, tapi buru-buru aku seka dengan tangan.

Tria, ucapan-ucapan puitis nya, perkenalan hangat, tenda, senyumannya, cokelat, kabut, langit, mie instan, sleeping bag... Berkecamuk didalam pikiranku, berloncatan di kepala seperti anak-anak kecil yang enggan tidur.

"Tria..." ucapku pelan, sebelum akhirnya kaki ku bergerak meninggalkan peron itu.

Kemudian aku menuju loket tempat memesan tiket untuk perjalanan pulangku sendiri, kubuka dompet dan kucabut selembar uang seratus ribu dari Tria untuk beli tiket, satu-satunya uang yang aku punya saat ini.

******

“Tiket ke Jakarta mas,” kataku pada petugas.

“Baik pak, silakan dipersiapkan KTP nya untuk registrasi pembelian,” balasnya.
“Kereta yang paling cepat jadwalnya jam sembilan malam ya pak dari sini. Harga tiketnya 120 ribu untuk satu orang,” lanjutnya seusai mengecek layar komputer.

Aku mengernyit.
“Lho, segitu ya harganya? kok seminggu yang lalu saya beli tiket dari Jakarta kesini cuma 95 ribu,” tanya ku dengan heran. “Saya beli yang harga paling murah saja mas, jangan kereta yang itu,”

Petugas itu menatap layar sebentar, lalu kembali ke arahku.
“Itu sudah yang paling murah, Pak. Kelas ekonomi. Memang ada kenaikan harga di KAI dua hari terakhir.”

Aku terdiam.

Napas kutarik panjang.
Aku tidak panik, kecewa atau khawatir, justru bibirku malah tersenyum sedikit geli.

Aku menekukkan lengan dan memandangi jam tangan yang selalu aku pakai.
Masih sambil tersenyum, aku berandai dalam hati...

Kalau Tuhan memang ada, mungkin Ia memang suka bercanda...
Diubah oleh sipanjangnapas3 25-01-2026 18:31
regmekujo
qthing12
Herisyahrian
Herisyahrian dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.