- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.9K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#50
Chapter 3 A
Banyak yang bilang, cahaya itu indah...
tapi tak slalu bisa digenggam seutuhnya.
Seperti bumi yang terus berputar tanpa henti,
sementara kita hanya manusia kecil yang belajar menerima pergantian siang dan malam.
Mungkin itulah yang membuatku percaya kalau manusia sebenarnya hanya penumpang di atas arus besar yang tak pernah selesai. Kita bisa menolak, bisa juga meronta, tapi bumi tetap berputar, waktu tetap berjalan, dan semua akan terus berganti wajahnya. Ada saat ia menyilaukan, ada saat ia menghilang, namun jejaknya selalu menempel di dalam hati kita.
Hidup, pada akhirnya, hanyalah rangkaian peristiwa kecil yang berulang-ulang. Kita sering menyebutnya rutinitas, padahal di dalamnya tersimpan rahasia paling sederhana...
bagaimana manusia belajar bertahan?
Ada orang yang menaruh makna pada harapan semoga esok pagi menjadi lebih baik lagi.
Ada pula yang menaruhnya pada langkah malam yang ikhlas.
Dan aku, mungkin masih mencari di mana seharusnya menaruh makna itu.
******
Sabtu sore. Pulang kerja.
Aku berhenti di depan rumah Tria, mematikan mesin motor lalu melangkah ke teras. Suara televisi dan denting sendok dari dalam terdengar samar, disusul tawa kecil Tria.
Rumah ini sudah begitu akrab bagiku, termasuk lampu teras yang selalu menyala lebih dulu sebelum malam benar-benar jatuh.
Tria muncul dari ruang tengah sambil merapikan rambutnya. Ia menatapku sekilas, lalu berkata santai,
“Udah makan, Beb?”
Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Entah kenapa, setiap baru bertemu dengannya, dunia di luar sana bisa berhenti berisik untuk sesaat.
Tria lalu berbalik,
“Yaudah, duduk dalem dulu. Aku masih nyelesain ini,” katanya sambil menunjuk mangkuk yang tergeletak di atas meja.
Kami duduk di ruang tengah. Sambil menemaninya makan, aku memperhatikan ruangan ini yang semakin terasa dekat. TV yang menyala, rak buku yang sebagian besar sudah kubuka isinya, pot tanaman yang pernah kami siram bersama, bahkan taplak meja yang warnanya mulai pudar seiring waktu.
Babeh dan Enyak sempat menyambut meski tak ada percakapan panjang, hanya gestur sederhana yang menandakan bahwa kami sudah terbiasa keberadaan satu sama lain.
Sambil makan dan nonton TV, Tria menyambung obrolan tanpa menoleh, suaranya terdengar santai,
“Hari ini gimana? Capek banget nggak?”
Aku menghela napas, melirik ke arah jendela yang mulai gelap. “Biasa lah... lebih ke jalannya sih yang bikin capek. Kerjaan ya gitu-gitu aja.”
Suara sendoknya berhenti sebentar, lalu terdengar ia terkekeh pelan.
“Emang dunia luar nggak pernah bikin kita bener-bener tenang, ya?”
Kalimat itu membuatku diam sejenak. Ada benarnya dan mungkin hanya Tria yang bisa mengatakannya seolah itu sekadar obrolan ringan.
Aku tersenyum tipis menanggapinya. “Tapi kalau udah bareng kamu, rasanya kayak nggak perlu mikir apa-apa lagi.”
Tria menoleh sebentar, menatapku dengan mata yang tenang. “Hmm… kamu emang gampang banget nemuin alasan buat betah di sini, ya.”
Aku tertawa kecil. “Ya jelas. Rumah kamu kan selalu punya caranya bikin aku lupa sama jalanan macet, sama kerjaan yang bikin jenuh.”
Ia meletakkan sendoknya, meraih gelas minum. “Kalau gitu, jangan bosen-bosen ya… soalnya hidup nggak akan makin gampang.”
Aku mengangkat alis, sedikit heran dengan kalimatnya, tapi memilih mengangguk. “Nggak akan.”
Lalu seusai minum, Tria berdiri untuk menaruh piring bekas makannya ke dapur.
“Kamu mau kopi? Aku buat ya?”
“Mau dong. Masa ngga mau.” jawabku dengan nada sedikit bercanda.
Tria tersenyum sekilas, lalu berjalan ke arah dapur. Suara gelas dan sendok beradu terdengar pelan dari sana.
Sambil menunggu, aku bersandar di kursi, menatap layar TV yang masih menyala tanpa benar-benar memperhatikan.
Beberapa menit kemudian ia kembali, berjalan pelan memegang dua cangkir dan menaruhnya di atas meja.
“Wah... kamu bikin cokelat?” tanyaku melirik cangkir miliknya.
Tria mengangguk. “Enggak pake gula kok, Beb. Tenang aku sadar baru abis makan.”
Aku mengambil cangkir kopi yang baru saja ia taruh, menghirup aroma pahitnya sebentar sebelum menyeruput pelan.
“Hmm... ini sih enak banget. Udah kayak buatan cafe,” ucapku sambil menoleh ke arahnya.
Tria hanya nyengir tipis, lalu duduk bersandar. “Kalau gitu jangan kebiasaan ya. Aku bukan barista.”
Aku tertawa kecil, mengangkat cangkirku sedikit. “Ya minimal baristanya satu orang aja, khusus buat aku.”
Tria pura-pura melotot. “Ih, norak banget.” Tapi ujung bibirnya jelas menahan tawa.
Tria mengambil cangkir di meja dan mulai menyeruput cokelat, lalu bersandar sambil menatap layar TV yang masih muter acara talkshow nggak jelas. “Eh, kita tuh terakhir nonton Better Call Saul kapan ya? Kok kayaknya udah lama banget.”
Aku menoleh, agak kaget sendiri. “Iya ya? Aku aja lupa terakhir kita sampe di mana.”
“Nah Itu! Aku baru ke inget lagi loh. Padahal dulu kita sering nonton itu. Kamu lupa?”
Aku tertawa. “Kamu juga belum nonton lagi? Aku pikir kamu udah nonton sampe tamat.”
“Ih, nggak lah. Kan janji nontonnya bareng.” jawabnya sambil menepuk pahaku. Ada nada manja tapi juga serius di suaranya.
“Yaudah, lanjut sekarang aja. Biar nggak basi.” ucapku.
Tria mematikan TV dan membuka laptop, layar menyala menampilkan daftar episode.
Suara kipas kecilnya berdengung pelan, seolah jadi tanda sederhana dari kebersamaan kami. Hal-hal remeh kayak gini justru sering terasa lebih utuh ketimbang percakapan panjang soal masa depan.
Episode pun berjalan. Denting gitar khas opening Better Call Saul langsung memanggil ingatan lama waktu kami dulu sering menghabiskan malam dengan series ini.
Suasana kami pun semakin santai, sesekali Tria nyeletuk soal tokoh Jimmy yang makin kesini makin terlalu licik,
aku menanggapi dengan senyum kecil.
Adegan demi adegan berganti hingga kami berdua terpaku diperlihatkan sebuah frame dimana ada adegan salah satu tokoh bernama Howard mengunjungi apartemen Jimmy dan Kim Wexler, di momen ini atmosfer cerita yang tadinya biasa saja lama kelamaan berubah menjadi tensi ketegangan. Di dalam alur series itu, Howard adalah orang baik yang reputasinya sedang dihancurkan oleh Jimmy dan Kim. Ia mencoba mencari jawaban disana atas permasalahan mereka bertiga.
Aku sempat melirik Tria. Wajahnya tegang, matanya membesar, seperti ikut terbawa oleh dialog mereka di layar.
Sampai pada akhirnya Tria reflek berucap,
“Wah, kacau! ada dia.”
Badan Tria sedikit tersentak naik saat scene baru saja memperlihatkan seorang tokoh antagonis dalam serial itu masuk ke dalam apartemen. Lalo... sosok dengan tatapan dingin, kalem, tapi terasa seperti ancaman yang bisa meledak kapan saja.
Di layar, Lalo masih berdiri tenang. Tapi di sebelahku, Tria jelas-jelas merasakan mencekamnya lebih dari sekadar tontonan.
Aku kembali fokus menatap layar, Howard masih berdiri di ruangan itu dengan ekspresi bingung. Ia mengira percakapan ini akan jadi argumen biasa, mungkin sedikit cecaran kata. Howard tak tahu pria yang baru masuk itu membawa sesuatu yang jauh lebih gelap.
Aku bisa merasakan nafas Tria sedikit berubah, padahal ia hanya sedang menonton. Layar menampilkan Lalo yang sedang menyiapkan pistol di tangannya dan Howard yang masih mencoba berbicara, tak tahu bahwa kalimatnya sudah tak ada artinya. Ia berdiri di hadapan sesuatu yang jauh lebih dingin dari sekadar pertengkaran.
“Parah!!!”
Histeris Tria pecah begitu saja. Suaranya memotong kesunyian ketika di layar, Howard tersungkur menghantam meja. Peluru menembus kepalanya.
Aku sendiri terdiam. Rasanya adegan itu bukan cuma cerita, tapi juga semacam pengingat bahwa dalam hidup, niat baik pun bisa diputus begitu cepat, tanpa ruang untuk menjawab, tanpa waktu untuk melawan.
Masih di tengah adegan Jimmy dan Kim terguncang melihat temannya mati, Tria dengan cepat menutup laptopnya.
Suasana mendadak hening.
Ia mengucek matanya lalu menggeleng pelan, seperti berusaha menolak apa yang baru saja ia lihat.
“Udah lah…” ucapnya lirih, ada getar di suaranya.
Aku menoleh kaget. “Lho… kok main udah-udah aja?”
Tatapannya singkat, tapi penuh. “Kita nggak usah lanjut nonton ini lagi.”
Nada Tria terdengar datar, tapi justru karena itulah aku tahu kalau dalam dirinya ada sesuatu yang nggak bisa ia terima dalam adegan barusan.
“Padahal lagi seru... Nyalain lagi, Beb,” pintaku pelan.
“Seru?”
Tria memandangku heran, matanya menajam, seolah nggak terima dengan kata itu.
Aku balas tatapannya, mencoba membaca apa yang sebenarnya berputar di kepalanya. Tanganku refleks menyentuh pundaknya dengan lembut, seakan ingin menurunkan nada tegang di antara kami. Tapi dalam hati, ada rasa aneh yang mengendap. Kenapa kali ini ia begitu keras? Bukankah ia juga sering nonton film crime drama thriller dengan adegan lebih kejam dari ini? Rasanya bukan sekadar soal tembakan barusan… ada sesuatu yang lain, tapi ia memilih menutup rapat-rapat.
Dengan mata yang sedikit berkaca, ia berucap pelan,
“Aku nggak suka cara matinya Howard, kayak gitu!!! Nggak adil banget.”
Aku diam sejenak, menyadari nada itu berbeda dari biasanya. Ada kesunyian yang menusuk tapi lembut. Seperti marah, seperti kesal. Seperti luapan halus tentang apa yang sedang dirasakannya.
“Tria... ini cuma film. Justru berarti ceritanya bagus kalau bisa ngena sampai segitunya,” ucapku mencoba meyakinkan, meski dalam hati aku juga mulai ragu apakah kalimatku terdengar menenangkan atau malah terdengar dingin.
Aku menambahkan cepat, “Kamu nggak inget? Kamu kan yang ajak aku nemenin kamu nonton dari awal. Sayang loh, tinggal berapa episode lagi tamat. Masa mau udahan?”
Mendengar itu, bukannya tenang Tria malah menunduk. Setetes air matanya lolos begitu saja, seperti tanda betapa mudahnya manusia runtuh oleh hal-hal kecil yang menyentuh hatinya. Saat itu aku sadar, sekuat apapun seseorang berusaha terlihat biasa, tetap ada ruang rapuh di dalam dirinya yang tak bisa slalu ditahan.
Aku yang melihatnya begitu, akhirnya memilih untuk ikut terpaut dalam kesedihannya. Rasa penasaranku pada kelanjutan film tadi mendadak hilang, seolah ego kecilku rela kulepaskan hanya demi memahami ia seutuhnya.
Tria mengucek mata, buru-buru mengusap wajahnya yang masih bergetar. Aku tetap menahan sentuhanku di pundaknya, tanpa kata... seakan diamku bisa jadi ruang aman baginya untuk larut sejenak.
Keheningan merayap, seraya meninggalkan jejak tipis di udara. Aku dan Tria sama-sama terdiam menatap layar gelap, seolah laptop itu menyimpan sesuatu yang belum selesai. Dan dalam diam yang panjang itu, Tria seketika berucap...
“Aku cuma kepikiran, kenapa justru orang yang nggak salah apa-apa, orang yang niatnya baik, selalu aja yang jadi korban.”
Aku menatapnya sebentar, lalu menurunkan pandangan. Ada perasaan getir, tapi juga semacam kelegaan karena bisa melihat sisi lain dari dirinya yang jarang ia tunjukkan.
“Udah… nggak apa-apa. Kalau kamu nggak mau lanjut nonton, ya kita gaperlu nonton lagi. Kamu juga nggak perlu ngebawa semua itu terlalu jauh.”
ucapku pelan, lebih sebagai cara untuk berjalan sejajar dengan resahnya, daripada sekadar menenangkannya.
Tria mengangguk, lalu bersandar di sofa. Setelah itu... kami berdua duduk hening.
Membiarkan malam masuk perlahan.
tapi tak slalu bisa digenggam seutuhnya.
Seperti bumi yang terus berputar tanpa henti,
sementara kita hanya manusia kecil yang belajar menerima pergantian siang dan malam.
Mungkin itulah yang membuatku percaya kalau manusia sebenarnya hanya penumpang di atas arus besar yang tak pernah selesai. Kita bisa menolak, bisa juga meronta, tapi bumi tetap berputar, waktu tetap berjalan, dan semua akan terus berganti wajahnya. Ada saat ia menyilaukan, ada saat ia menghilang, namun jejaknya selalu menempel di dalam hati kita.
Hidup, pada akhirnya, hanyalah rangkaian peristiwa kecil yang berulang-ulang. Kita sering menyebutnya rutinitas, padahal di dalamnya tersimpan rahasia paling sederhana...
bagaimana manusia belajar bertahan?
Ada orang yang menaruh makna pada harapan semoga esok pagi menjadi lebih baik lagi.
Ada pula yang menaruhnya pada langkah malam yang ikhlas.
Dan aku, mungkin masih mencari di mana seharusnya menaruh makna itu.
******
Sabtu sore. Pulang kerja.
Aku berhenti di depan rumah Tria, mematikan mesin motor lalu melangkah ke teras. Suara televisi dan denting sendok dari dalam terdengar samar, disusul tawa kecil Tria.
Rumah ini sudah begitu akrab bagiku, termasuk lampu teras yang selalu menyala lebih dulu sebelum malam benar-benar jatuh.
Tria muncul dari ruang tengah sambil merapikan rambutnya. Ia menatapku sekilas, lalu berkata santai,
“Udah makan, Beb?”
Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Entah kenapa, setiap baru bertemu dengannya, dunia di luar sana bisa berhenti berisik untuk sesaat.
Tria lalu berbalik,
“Yaudah, duduk dalem dulu. Aku masih nyelesain ini,” katanya sambil menunjuk mangkuk yang tergeletak di atas meja.
Kami duduk di ruang tengah. Sambil menemaninya makan, aku memperhatikan ruangan ini yang semakin terasa dekat. TV yang menyala, rak buku yang sebagian besar sudah kubuka isinya, pot tanaman yang pernah kami siram bersama, bahkan taplak meja yang warnanya mulai pudar seiring waktu.
Babeh dan Enyak sempat menyambut meski tak ada percakapan panjang, hanya gestur sederhana yang menandakan bahwa kami sudah terbiasa keberadaan satu sama lain.
Sambil makan dan nonton TV, Tria menyambung obrolan tanpa menoleh, suaranya terdengar santai,
“Hari ini gimana? Capek banget nggak?”
Aku menghela napas, melirik ke arah jendela yang mulai gelap. “Biasa lah... lebih ke jalannya sih yang bikin capek. Kerjaan ya gitu-gitu aja.”
Suara sendoknya berhenti sebentar, lalu terdengar ia terkekeh pelan.
“Emang dunia luar nggak pernah bikin kita bener-bener tenang, ya?”
Kalimat itu membuatku diam sejenak. Ada benarnya dan mungkin hanya Tria yang bisa mengatakannya seolah itu sekadar obrolan ringan.
Aku tersenyum tipis menanggapinya. “Tapi kalau udah bareng kamu, rasanya kayak nggak perlu mikir apa-apa lagi.”
Tria menoleh sebentar, menatapku dengan mata yang tenang. “Hmm… kamu emang gampang banget nemuin alasan buat betah di sini, ya.”
Aku tertawa kecil. “Ya jelas. Rumah kamu kan selalu punya caranya bikin aku lupa sama jalanan macet, sama kerjaan yang bikin jenuh.”
Ia meletakkan sendoknya, meraih gelas minum. “Kalau gitu, jangan bosen-bosen ya… soalnya hidup nggak akan makin gampang.”
Aku mengangkat alis, sedikit heran dengan kalimatnya, tapi memilih mengangguk. “Nggak akan.”
Lalu seusai minum, Tria berdiri untuk menaruh piring bekas makannya ke dapur.
“Kamu mau kopi? Aku buat ya?”
“Mau dong. Masa ngga mau.” jawabku dengan nada sedikit bercanda.
Tria tersenyum sekilas, lalu berjalan ke arah dapur. Suara gelas dan sendok beradu terdengar pelan dari sana.
Sambil menunggu, aku bersandar di kursi, menatap layar TV yang masih menyala tanpa benar-benar memperhatikan.
Beberapa menit kemudian ia kembali, berjalan pelan memegang dua cangkir dan menaruhnya di atas meja.
“Wah... kamu bikin cokelat?” tanyaku melirik cangkir miliknya.
Tria mengangguk. “Enggak pake gula kok, Beb. Tenang aku sadar baru abis makan.”
Aku mengambil cangkir kopi yang baru saja ia taruh, menghirup aroma pahitnya sebentar sebelum menyeruput pelan.
“Hmm... ini sih enak banget. Udah kayak buatan cafe,” ucapku sambil menoleh ke arahnya.
Tria hanya nyengir tipis, lalu duduk bersandar. “Kalau gitu jangan kebiasaan ya. Aku bukan barista.”
Aku tertawa kecil, mengangkat cangkirku sedikit. “Ya minimal baristanya satu orang aja, khusus buat aku.”
Tria pura-pura melotot. “Ih, norak banget.” Tapi ujung bibirnya jelas menahan tawa.
Tria mengambil cangkir di meja dan mulai menyeruput cokelat, lalu bersandar sambil menatap layar TV yang masih muter acara talkshow nggak jelas. “Eh, kita tuh terakhir nonton Better Call Saul kapan ya? Kok kayaknya udah lama banget.”
Aku menoleh, agak kaget sendiri. “Iya ya? Aku aja lupa terakhir kita sampe di mana.”
“Nah Itu! Aku baru ke inget lagi loh. Padahal dulu kita sering nonton itu. Kamu lupa?”
Aku tertawa. “Kamu juga belum nonton lagi? Aku pikir kamu udah nonton sampe tamat.”
“Ih, nggak lah. Kan janji nontonnya bareng.” jawabnya sambil menepuk pahaku. Ada nada manja tapi juga serius di suaranya.
“Yaudah, lanjut sekarang aja. Biar nggak basi.” ucapku.
Tria mematikan TV dan membuka laptop, layar menyala menampilkan daftar episode.
Suara kipas kecilnya berdengung pelan, seolah jadi tanda sederhana dari kebersamaan kami. Hal-hal remeh kayak gini justru sering terasa lebih utuh ketimbang percakapan panjang soal masa depan.
Episode pun berjalan. Denting gitar khas opening Better Call Saul langsung memanggil ingatan lama waktu kami dulu sering menghabiskan malam dengan series ini.
Suasana kami pun semakin santai, sesekali Tria nyeletuk soal tokoh Jimmy yang makin kesini makin terlalu licik,
aku menanggapi dengan senyum kecil.
Adegan demi adegan berganti hingga kami berdua terpaku diperlihatkan sebuah frame dimana ada adegan salah satu tokoh bernama Howard mengunjungi apartemen Jimmy dan Kim Wexler, di momen ini atmosfer cerita yang tadinya biasa saja lama kelamaan berubah menjadi tensi ketegangan. Di dalam alur series itu, Howard adalah orang baik yang reputasinya sedang dihancurkan oleh Jimmy dan Kim. Ia mencoba mencari jawaban disana atas permasalahan mereka bertiga.
Aku sempat melirik Tria. Wajahnya tegang, matanya membesar, seperti ikut terbawa oleh dialog mereka di layar.
Sampai pada akhirnya Tria reflek berucap,
“Wah, kacau! ada dia.”
Badan Tria sedikit tersentak naik saat scene baru saja memperlihatkan seorang tokoh antagonis dalam serial itu masuk ke dalam apartemen. Lalo... sosok dengan tatapan dingin, kalem, tapi terasa seperti ancaman yang bisa meledak kapan saja.
Di layar, Lalo masih berdiri tenang. Tapi di sebelahku, Tria jelas-jelas merasakan mencekamnya lebih dari sekadar tontonan.
Aku kembali fokus menatap layar, Howard masih berdiri di ruangan itu dengan ekspresi bingung. Ia mengira percakapan ini akan jadi argumen biasa, mungkin sedikit cecaran kata. Howard tak tahu pria yang baru masuk itu membawa sesuatu yang jauh lebih gelap.
Aku bisa merasakan nafas Tria sedikit berubah, padahal ia hanya sedang menonton. Layar menampilkan Lalo yang sedang menyiapkan pistol di tangannya dan Howard yang masih mencoba berbicara, tak tahu bahwa kalimatnya sudah tak ada artinya. Ia berdiri di hadapan sesuatu yang jauh lebih dingin dari sekadar pertengkaran.
“Parah!!!”
Histeris Tria pecah begitu saja. Suaranya memotong kesunyian ketika di layar, Howard tersungkur menghantam meja. Peluru menembus kepalanya.
Aku sendiri terdiam. Rasanya adegan itu bukan cuma cerita, tapi juga semacam pengingat bahwa dalam hidup, niat baik pun bisa diputus begitu cepat, tanpa ruang untuk menjawab, tanpa waktu untuk melawan.
Masih di tengah adegan Jimmy dan Kim terguncang melihat temannya mati, Tria dengan cepat menutup laptopnya.
Suasana mendadak hening.
Ia mengucek matanya lalu menggeleng pelan, seperti berusaha menolak apa yang baru saja ia lihat.
“Udah lah…” ucapnya lirih, ada getar di suaranya.
Aku menoleh kaget. “Lho… kok main udah-udah aja?”
Tatapannya singkat, tapi penuh. “Kita nggak usah lanjut nonton ini lagi.”
Nada Tria terdengar datar, tapi justru karena itulah aku tahu kalau dalam dirinya ada sesuatu yang nggak bisa ia terima dalam adegan barusan.
“Padahal lagi seru... Nyalain lagi, Beb,” pintaku pelan.
“Seru?”
Tria memandangku heran, matanya menajam, seolah nggak terima dengan kata itu.
Aku balas tatapannya, mencoba membaca apa yang sebenarnya berputar di kepalanya. Tanganku refleks menyentuh pundaknya dengan lembut, seakan ingin menurunkan nada tegang di antara kami. Tapi dalam hati, ada rasa aneh yang mengendap. Kenapa kali ini ia begitu keras? Bukankah ia juga sering nonton film crime drama thriller dengan adegan lebih kejam dari ini? Rasanya bukan sekadar soal tembakan barusan… ada sesuatu yang lain, tapi ia memilih menutup rapat-rapat.
Dengan mata yang sedikit berkaca, ia berucap pelan,
“Aku nggak suka cara matinya Howard, kayak gitu!!! Nggak adil banget.”
Aku diam sejenak, menyadari nada itu berbeda dari biasanya. Ada kesunyian yang menusuk tapi lembut. Seperti marah, seperti kesal. Seperti luapan halus tentang apa yang sedang dirasakannya.
“Tria... ini cuma film. Justru berarti ceritanya bagus kalau bisa ngena sampai segitunya,” ucapku mencoba meyakinkan, meski dalam hati aku juga mulai ragu apakah kalimatku terdengar menenangkan atau malah terdengar dingin.
Aku menambahkan cepat, “Kamu nggak inget? Kamu kan yang ajak aku nemenin kamu nonton dari awal. Sayang loh, tinggal berapa episode lagi tamat. Masa mau udahan?”
Mendengar itu, bukannya tenang Tria malah menunduk. Setetes air matanya lolos begitu saja, seperti tanda betapa mudahnya manusia runtuh oleh hal-hal kecil yang menyentuh hatinya. Saat itu aku sadar, sekuat apapun seseorang berusaha terlihat biasa, tetap ada ruang rapuh di dalam dirinya yang tak bisa slalu ditahan.
Aku yang melihatnya begitu, akhirnya memilih untuk ikut terpaut dalam kesedihannya. Rasa penasaranku pada kelanjutan film tadi mendadak hilang, seolah ego kecilku rela kulepaskan hanya demi memahami ia seutuhnya.
Tria mengucek mata, buru-buru mengusap wajahnya yang masih bergetar. Aku tetap menahan sentuhanku di pundaknya, tanpa kata... seakan diamku bisa jadi ruang aman baginya untuk larut sejenak.
Keheningan merayap, seraya meninggalkan jejak tipis di udara. Aku dan Tria sama-sama terdiam menatap layar gelap, seolah laptop itu menyimpan sesuatu yang belum selesai. Dan dalam diam yang panjang itu, Tria seketika berucap...
“Aku cuma kepikiran, kenapa justru orang yang nggak salah apa-apa, orang yang niatnya baik, selalu aja yang jadi korban.”
Aku menatapnya sebentar, lalu menurunkan pandangan. Ada perasaan getir, tapi juga semacam kelegaan karena bisa melihat sisi lain dari dirinya yang jarang ia tunjukkan.
“Udah… nggak apa-apa. Kalau kamu nggak mau lanjut nonton, ya kita gaperlu nonton lagi. Kamu juga nggak perlu ngebawa semua itu terlalu jauh.”
ucapku pelan, lebih sebagai cara untuk berjalan sejajar dengan resahnya, daripada sekadar menenangkannya.
Tria mengangguk, lalu bersandar di sofa. Setelah itu... kami berdua duduk hening.
Membiarkan malam masuk perlahan.
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 00:51
Herisyahrian dan 2 lainnya memberi reputasi
3