- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#28
Chapter 2 K
“Kamu yang mana?”
Suara itu terdengar lagi.
Tapi kali ini bukan gema di kepala, bukan ingatan yang menyelinap diam-diam.
Ucapan itu benar-benar ada sampai ke telinga. Detik ini. Nyata.
Aku dan Tria duduk berhadapan di sebuah rumah makan. Pagi yang masih muda, meja kayu yang sederhana, dan jarak di antara kami yang terasa dekat tapi tetap menyisakan gugup.
Ia membaca buku menu di meja. Jari telunjuknya bergerak pelan menyusuri tampilan demi tampilan, seolah sedang mencari makanan yang paling cocok untuk menemaninya pagi ini.
“Aku ini aja deh,” katanya perlahan. “Oseng cumi pete, sama nasi merah.”
Ia menoleh padaku.
“Mat?”
“Dari tadi aku nanya, kamu yang mana. Mau makan atau cuma mau mandangin aku?”
Aku tersentak sedikit. Lalu buru-buru membaca buku menu itu.
“Aku... sarapan telur aja deh,” ucapku refleks sambil membuka lembar demi lembar. “Ada nggak yaa...”
Tria tersenyum kecil. Seolah menikmati tingkahku yang masih canggung. Senyumnya hangat. Sudah bukan seperti api kecil di antara kabut lagi, tapi seperti lentera ajaib di negeri peri...
menyala pelan, tak pernah padam.
“Telur goreng doang?”
Ia menaikkan alis.
“Kita baru ketemu lagi, loh. Masa makannya kering banget.”
Aku nyengir kecil. “Ya abis… kayaknya cuma itu yang bisa aku cerna sekarang.”
Tria tertawa ringan.
“Rahmat… kamu tuh. Kita kan enggak lagi di gunung. Pagi ini gak mesti sesederhana itu kok.”
“Karena yang sederhana itu…”
Nadaku pelan, hampir seperti bicara ke diri sendiri.
“Biasanya nggak ninggalin. Nggak pergi waktu punya janji.”
Dia diam sejenak. Mungkin tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu. Rautnya lumer jadi tatapan yang lebih hening.
“Maaf ya,” ucapnya pelan. “Malam itu ya?”
Aku tidak langsung menjawab. Hanya memandangi wajahnya yang kini benar-benar di hadapanku.
Bukan bayangan.
Bukan sekadar angan-angan.
Tapi benar-benar dia. Tria.
Dan pagi ini, rasanya seperti kehidupan memberiku satu percikan yang begitu lama sudah tak kurasakan.
“Udah aku bilang, aku nggak marah, nggak kesel.” kataku. “Aku cuma khawatir, kamu di WA ga ada kabar, ga ada respon.”
Tria menatapku cukup lama. Lalu mengangguk kecil.
“Aku merhatiin kamu dari luar, kamu nggak pergi. Malah nungguin aku sampe restonya tutup. Serius kamu ya.”
“Tapi kita impas ya, Mat,” lanjutnya, menarik napas. “Aku yang lebih lama nunggu kabar kamu... sampe dua minggu lebih. Pikiran aku di rumah tuh udah macam-macam waktu itu.”
Aku terdiam sebentar.
Baru kali ini aku benar-benar sadar... ternyata bukan cuma aku yang menunggu.
“Oh gitu ya... Ternyata perkara dendam toh. Oke, oke. Aku ngerti kok,” kataku sambil nyengir. “Tapi lain kali, kalau mau nge tes aku lagi... kamu bilang dulu di awal. ‘Mat, aku lagi ngerjain kamu ya, tenang aja aku gapapa.’ Gitu.”
Dia menatapku tajam, tapi bibirnya nyimpul.
“Ih... bukan, bukan gitu, Mat. Gak ke situ arahku,” katanya sambil melepaskan tawa cukup ringan. Tangannya melambai-lambai di udara, seolah ingin menepis anggapan itu.
Terasa ada yang larut bersama detak jantung ini. Seperti sebuah rasa yang hadir begitu saja...
Apa ini cinta yang menyelinap diam-diam?
Atau sekadar rasa sayang yang sudah lancang berani muncul ke permukaan?
“Maafin aku, Tria...” ucapku akhirnya.
Ia mengusap wajahnya, seperti memberi ruang sejenak pada diam.
“Nggak apa-apa, Mat.”
“Trus...," sambungnya. "Kamu udah dapet kerjaan... Kerja apa?”
Lagi-lagi... aku narik napas panjang.
“Udah,” jawabku pelan.
Bukan karena ragu. Tapi karena ingin mengatakan dengan jujur dan apa adanya, dengan kebenaran yang tak ingin mengkhianati rasa syukur.
“Aku kerja jadi kuli. Di proyek.”
“Proyek apa?”
“Bangunan. Ruko,” jawabku lagi.
Tria malah tersenyum. Aku tak tahu apa isi dari senyuman itu. Mungkin simpati. Mungkin penerimaan. Atau mungkin sesuatu yang lain, yang tak bisa kutebak.
Tapi saat ini... Setelah semua yang kulewati, luka, lelah, jiwa yang tercabik-cabik. Aku tidak merasa minder. Tidak merasa rendah. Justru aku merasa sedang mencoba hidup benar.
Dan jujur buatku... lebih baik daripada aku yang sebelumnya.
Lalu ia sandarkan tubuhnya ke kursi, matanya tetap tertuju padaku.
“Wah... kuli proyek ya?” katanya pelan, matanya menyipit seolah sedang menggoda,
“Berarti otot kamu bisa makin keliatan dong.”
Aku terkekeh, sedikit kaget.
“Yaa… dikit lah,” jawabku.
“Perut juga makin keras. Soalnya kalau kerja aku ngirit. Kadang nggak makan.”
Candaku keluar tanpa beban.
Tria tertawa lagi, menutup mulut, agak malu karena kali ini terdengar cukup keras.
Saat ia menatapku lagi, sorot matanya berubah. Lebih lembut. Lebih tenang.
“Selama kamu jujur,” katanya pelan,
“dan nggak nyerah sama hidup… buatku itu udah lebih dari cukup.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi jatuhnya tepat.
Dari balik senyum kecil, aku membalas...
“Makasih..." ucapku pelan. "Siapa juga yang mau nyerah... Kalau di depannya ada kamu.”
Tangannya terangkat pelan. Jari-jarinya bergerak menghitung malas-malasan di udara.
“Satu… dua… tiga…” bisiknya lirih.
Lalu pandangannya mengarah padaku, setengah tajam, setengah geli.
“Udah aku duga,” katanya.
“Mulai lagi gombalnya.”
Aku tertawa.
Dan ternyata, dia lucu juga.
Meski berusaha terlihat santai, aku bisa melihatnya jelas... wajahnya sedikit merona. Merah yang nggak berisik, tapi jujur.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa pulpen dan kertas kecil. Canda kami reda sejenak. Ia menanyakan pesanan kami. Tria menyebutkan pilihannya tadi. Oseng cumi pete plus nasi merah. Tak lupa minumannya, air mineral dan segelas cokelat dingin.
Aku masih menatap menu dengan bingung, mahal semua, dan belum juga memutuskan.
Tiba-tiba Tria berkata,
“Dia, samain aja, Mbak. Kayak yang saya pesen.”
Aku baru hendak menyahut, “Eh. Tri...”
Belum sempat kalimat itu selesai, ia sudah lebih dulu menggenggam tanganku. Erat.
Tangan satunya mengangkat telunjuk, menempel ringan di bibirnya. Isyarat pelan agar aku diam.
“Udah,” katanya lirih.
“Tenang aja. Aku yang bayarin nanti.”
Pelayan itu tersenyum kecil, mencatat pesanan, lalu berlalu meninggalkan kami.
“Makasih ya…” ucapku pelan.
Tria hanya mengangguk sambil tersenyum. Tatapannya hangat.
“Aku jadi ngerasa nggak enak,” kataku jujur.
“Kok gitu?” alisnya sedikit berkerut.
“Soalnya... kalau aku tahu bakal ditraktir, tadi aku tanya dulu ke mbaknya, yang mana menu paling mahal,” jawabku, bercanda nggak tahu diri.
Ia tertawa lantang...
“Gila kamu...Untung aja udah aku pesenin duluan....”
Aku tidak berhenti tersenyum, seolah lekuk bibir ini sudah tidak ingin lempeng lagi. Kutatap wajah Tria...
Entah sudah senyum dan tawa ke berapa yang dia lempar padaku pagi ini.
Yang jelas...
yang bisa aku rasakan adalah...
tangannya yang menggenggam tanganku di atas meja ini...
Belum ia lepas.
Sampai cukup lama, aku bertanya-tanya,
apakah ia lupa...
Atau memang sengaja,
Entahlah.
Karena hangat dari telapak tangannya membuat pikiranku sejenak tak ingin berpikir apa-apa lagi.
Seolah dalam genggaman itu, hanya ada sebuah perasan yang diam-diam berharap,
Jangan dulu selesai. Jangan dulu dilepas.
Suara itu terdengar lagi.
Tapi kali ini bukan gema di kepala, bukan ingatan yang menyelinap diam-diam.
Ucapan itu benar-benar ada sampai ke telinga. Detik ini. Nyata.
Aku dan Tria duduk berhadapan di sebuah rumah makan. Pagi yang masih muda, meja kayu yang sederhana, dan jarak di antara kami yang terasa dekat tapi tetap menyisakan gugup.
Ia membaca buku menu di meja. Jari telunjuknya bergerak pelan menyusuri tampilan demi tampilan, seolah sedang mencari makanan yang paling cocok untuk menemaninya pagi ini.
“Aku ini aja deh,” katanya perlahan. “Oseng cumi pete, sama nasi merah.”
Ia menoleh padaku.
“Mat?”
“Dari tadi aku nanya, kamu yang mana. Mau makan atau cuma mau mandangin aku?”
Aku tersentak sedikit. Lalu buru-buru membaca buku menu itu.
“Aku... sarapan telur aja deh,” ucapku refleks sambil membuka lembar demi lembar. “Ada nggak yaa...”
Tria tersenyum kecil. Seolah menikmati tingkahku yang masih canggung. Senyumnya hangat. Sudah bukan seperti api kecil di antara kabut lagi, tapi seperti lentera ajaib di negeri peri...
menyala pelan, tak pernah padam.
“Telur goreng doang?”
Ia menaikkan alis.
“Kita baru ketemu lagi, loh. Masa makannya kering banget.”
Aku nyengir kecil. “Ya abis… kayaknya cuma itu yang bisa aku cerna sekarang.”
Tria tertawa ringan.
“Rahmat… kamu tuh. Kita kan enggak lagi di gunung. Pagi ini gak mesti sesederhana itu kok.”
“Karena yang sederhana itu…”
Nadaku pelan, hampir seperti bicara ke diri sendiri.
“Biasanya nggak ninggalin. Nggak pergi waktu punya janji.”
Dia diam sejenak. Mungkin tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu. Rautnya lumer jadi tatapan yang lebih hening.
“Maaf ya,” ucapnya pelan. “Malam itu ya?”
Aku tidak langsung menjawab. Hanya memandangi wajahnya yang kini benar-benar di hadapanku.
Bukan bayangan.
Bukan sekadar angan-angan.
Tapi benar-benar dia. Tria.
Dan pagi ini, rasanya seperti kehidupan memberiku satu percikan yang begitu lama sudah tak kurasakan.
“Udah aku bilang, aku nggak marah, nggak kesel.” kataku. “Aku cuma khawatir, kamu di WA ga ada kabar, ga ada respon.”
Tria menatapku cukup lama. Lalu mengangguk kecil.
“Aku merhatiin kamu dari luar, kamu nggak pergi. Malah nungguin aku sampe restonya tutup. Serius kamu ya.”
“Tapi kita impas ya, Mat,” lanjutnya, menarik napas. “Aku yang lebih lama nunggu kabar kamu... sampe dua minggu lebih. Pikiran aku di rumah tuh udah macam-macam waktu itu.”
Aku terdiam sebentar.
Baru kali ini aku benar-benar sadar... ternyata bukan cuma aku yang menunggu.
“Oh gitu ya... Ternyata perkara dendam toh. Oke, oke. Aku ngerti kok,” kataku sambil nyengir. “Tapi lain kali, kalau mau nge tes aku lagi... kamu bilang dulu di awal. ‘Mat, aku lagi ngerjain kamu ya, tenang aja aku gapapa.’ Gitu.”
Dia menatapku tajam, tapi bibirnya nyimpul.
“Ih... bukan, bukan gitu, Mat. Gak ke situ arahku,” katanya sambil melepaskan tawa cukup ringan. Tangannya melambai-lambai di udara, seolah ingin menepis anggapan itu.
Terasa ada yang larut bersama detak jantung ini. Seperti sebuah rasa yang hadir begitu saja...
Apa ini cinta yang menyelinap diam-diam?
Atau sekadar rasa sayang yang sudah lancang berani muncul ke permukaan?
“Maafin aku, Tria...” ucapku akhirnya.
Ia mengusap wajahnya, seperti memberi ruang sejenak pada diam.
“Nggak apa-apa, Mat.”
“Trus...," sambungnya. "Kamu udah dapet kerjaan... Kerja apa?”
Lagi-lagi... aku narik napas panjang.
“Udah,” jawabku pelan.
Bukan karena ragu. Tapi karena ingin mengatakan dengan jujur dan apa adanya, dengan kebenaran yang tak ingin mengkhianati rasa syukur.
“Aku kerja jadi kuli. Di proyek.”
“Proyek apa?”
“Bangunan. Ruko,” jawabku lagi.
Tria malah tersenyum. Aku tak tahu apa isi dari senyuman itu. Mungkin simpati. Mungkin penerimaan. Atau mungkin sesuatu yang lain, yang tak bisa kutebak.
Tapi saat ini... Setelah semua yang kulewati, luka, lelah, jiwa yang tercabik-cabik. Aku tidak merasa minder. Tidak merasa rendah. Justru aku merasa sedang mencoba hidup benar.
Dan jujur buatku... lebih baik daripada aku yang sebelumnya.
Lalu ia sandarkan tubuhnya ke kursi, matanya tetap tertuju padaku.
“Wah... kuli proyek ya?” katanya pelan, matanya menyipit seolah sedang menggoda,
“Berarti otot kamu bisa makin keliatan dong.”
Aku terkekeh, sedikit kaget.
“Yaa… dikit lah,” jawabku.
“Perut juga makin keras. Soalnya kalau kerja aku ngirit. Kadang nggak makan.”
Candaku keluar tanpa beban.
Tria tertawa lagi, menutup mulut, agak malu karena kali ini terdengar cukup keras.
Saat ia menatapku lagi, sorot matanya berubah. Lebih lembut. Lebih tenang.
“Selama kamu jujur,” katanya pelan,
“dan nggak nyerah sama hidup… buatku itu udah lebih dari cukup.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi jatuhnya tepat.
Dari balik senyum kecil, aku membalas...
“Makasih..." ucapku pelan. "Siapa juga yang mau nyerah... Kalau di depannya ada kamu.”
Tangannya terangkat pelan. Jari-jarinya bergerak menghitung malas-malasan di udara.
“Satu… dua… tiga…” bisiknya lirih.
Lalu pandangannya mengarah padaku, setengah tajam, setengah geli.
“Udah aku duga,” katanya.
“Mulai lagi gombalnya.”
Aku tertawa.
Dan ternyata, dia lucu juga.
Meski berusaha terlihat santai, aku bisa melihatnya jelas... wajahnya sedikit merona. Merah yang nggak berisik, tapi jujur.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa pulpen dan kertas kecil. Canda kami reda sejenak. Ia menanyakan pesanan kami. Tria menyebutkan pilihannya tadi. Oseng cumi pete plus nasi merah. Tak lupa minumannya, air mineral dan segelas cokelat dingin.
Aku masih menatap menu dengan bingung, mahal semua, dan belum juga memutuskan.
Tiba-tiba Tria berkata,
“Dia, samain aja, Mbak. Kayak yang saya pesen.”
Aku baru hendak menyahut, “Eh. Tri...”
Belum sempat kalimat itu selesai, ia sudah lebih dulu menggenggam tanganku. Erat.
Tangan satunya mengangkat telunjuk, menempel ringan di bibirnya. Isyarat pelan agar aku diam.
“Udah,” katanya lirih.
“Tenang aja. Aku yang bayarin nanti.”
Pelayan itu tersenyum kecil, mencatat pesanan, lalu berlalu meninggalkan kami.
“Makasih ya…” ucapku pelan.
Tria hanya mengangguk sambil tersenyum. Tatapannya hangat.
“Aku jadi ngerasa nggak enak,” kataku jujur.
“Kok gitu?” alisnya sedikit berkerut.
“Soalnya... kalau aku tahu bakal ditraktir, tadi aku tanya dulu ke mbaknya, yang mana menu paling mahal,” jawabku, bercanda nggak tahu diri.
Ia tertawa lantang...
“Gila kamu...Untung aja udah aku pesenin duluan....”
Aku tidak berhenti tersenyum, seolah lekuk bibir ini sudah tidak ingin lempeng lagi. Kutatap wajah Tria...
Entah sudah senyum dan tawa ke berapa yang dia lempar padaku pagi ini.
Yang jelas...
yang bisa aku rasakan adalah...
tangannya yang menggenggam tanganku di atas meja ini...
Belum ia lepas.
Sampai cukup lama, aku bertanya-tanya,
apakah ia lupa...
Atau memang sengaja,
Entahlah.
Karena hangat dari telapak tangannya membuat pikiranku sejenak tak ingin berpikir apa-apa lagi.
Seolah dalam genggaman itu, hanya ada sebuah perasan yang diam-diam berharap,
Jangan dulu selesai. Jangan dulu dilepas.
Diubah oleh sipanjangnapas3 25-01-2026 19:04
Herisyahrian dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup