- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#19
Chapter 2 C
Aku terbangun dengan badan yang masih terasa pegal di sebuah ruangan 3x3 dan lumayan sumpek. Di langit-langit plafon ada sarang laba-laba dan coretan spidol bertuliskan "Dilarang waras di area ini". Jendela kecil di pojok kamar cuma jadi formalitas, karena cahaya matahari pun kayaknya malas mampir ke sini.
Kosan Aceng.
Sejak semalam aku di sini.
Nama aslinya Joshua, tapi entah kenapa dari dulu anak-anak manggilnya Aceng. Mungkin karena mukanya lebih cocok nongkrong di halte ketimbang duduk di aula kampus. Atau mungkin karena dia sendiri udah muak dipanggil "Jo".
Aku bersyukur masih punya teman yang mau menampungku. Meski jauh di dalam hati, aku ragu untuk tinggal di tempat ini. Terlalu banyak memori tentang bagaimana aku dan orang-orang di sini pernah membuang hidup, seolah kosan ini memang diciptakan untuk menampung orang-orang yang tersesat. Termasuk aku. Termasuk Aceng.
Di atas kasur, Aceng masih terlihat tidur telungkup, bersama kipas angin tua di ujung kaki yang berdengung tak konsisten. Rambut gondrongnya acak-acakan, kaos oblongnya lusuh, khas mahasiswa abadi yang hidup di antara skripsi dan kuliah yang gak pernah benar-benar kelar.
Aku menatap langit-langit. Sarang laba-laba itu mengingatkanku pada pikiran sendiri, kusut, berdebu, dan terlalu lama dibiarkan tumbuh. Kosan ini, tempat yang dulu pernah kuanggap menyenangkan, kini seperti cermin. Cermin yang memaksa aku menatap wajah masa lalu.
“Lo bangun pagi gini kayak dikejar utang,” ucap Aceng masih rebahan, mata merem.
“Emang iya, utang hidup malah, bukan utang duit lagi,” sahutku menghembuskan asap rokok ke langit-langit.
Aceng ngelirik sebentar, lalu tangannya meraba-raba lantai, nyari gelas kopi bekas semalam, nggak ketemu. Dia ngucek mata, lelah.
“Gila sih. Baru juga balik lagi nginjek kosan ini, udah berat aja ngomongnya.”
Dia akhirnya bangun, duduk dengan rambut yang masih berantakan dan mata yang sayu.
“Ngapain lo hari ini?” tanyanya
“Keliling. Coba cari kerjaan.” jawabku.
“Kerjaan? Di mana? Di planet ini?”
“Dimana aja yang penting berkah,” timpalku.
Aceng geleng kepala sambil ketawa kecil, lalu jalan ke pojokan. Dia buka keran dispenser galon dan minum langsung, kayak orang baru nyambung ke realita.
Selesai minum, dia duduk lagi.
“Jangan-jangan lo abis dari gunung ketempelan, Mat… makanya jadi begini,” ucapnya sambil nyulut rokok.
“Iya,” jawabku datar. “Gue emang ketempelan, Ceng. Tapi ketempelan cinta kayaknya. Bukan setan.”
Aceng langsung batuk keselek asap. Terbatuk-batuk sambil ngakak, nyari napas.
“Lo kesurupan, Mat…” katanya akhirnya.
“Mending ke dukun dah, berobat.”
Dia masih ketawa kecil, sisa batuknya belum reda benar.
“Gila juga lo. Naik gunung pulang-pulang bawa cinta. Harusnya bawa macan.”
Aku cuma nyengir, lalu matiin rokokku yang sudah abis di kaleng asbak. Lalu beranjak berdiri untuk bersiap-siap, karena nggak akan ada habisnya kalau disini terus menimpali dia.
“Udah deh. Good luck sana,” ucapnya sambil tiduran lagi.
Aku senyum tipis, “Gue jalan dulu, ya.”
“Iye. Hati-hati lo. Gue doain juga…”
Dia ngelirik sekilas.
“…dari kasur ini.”
******
Aku keluar kamar, menuruni anak tangga sempit kosan itu sambil narik napas panjang. Jalanan kayak masih sepi, tapi di dalam hati, langkah udah mulai nyicil semangat baru.
Pagi berjalan pelan. Beberapa pedagang kaki lima tampak merapikan dagangannya. Udara menyisakan dingin yang dari malam yang belum sepenuhnya pergi, atau dari hati yang belum benar-benar pulih.
Aku jadi terbayang adegan film atau sinetron, di mana orang yang luntang-lantung cari kerja selalu digambarkan dengan raut wajah bingung, rambut klimis, kemeja rapi, dan amplop cokelat yang musti dibawa ke mana-mana.
Tapi di kenyataan ini, aku berjalan dengan celana jins belel, kemeja lusuh, dan rambut yang bahkan belum sempat kusisir. Bukan map lamaran yang kubawa, melainkan sebotol air, sekadar untuk bertahan dari haus dan panas matahari nanti.
Setidaknya, aku melangkah tanpa wajah bingung seperti di layar kaca. Wajahku mungkin lelah, tapi di dalamnya masih ada sisa-sisa harapan, dan itu cukup untuk membuatku terus berjalan.
Aku berjalan menyusuri trotoar, perumahan, perkampungan, pertokoan, bahkan pasar. Langkahku pelan, tapi pasti. Seolah kakiku tahu harus ke mana, walau pikiranku sendiri belum tentu. Kios demi kios, rumah makan, bahkan warnet tak luput kudatangi, bukan karena yakin, tapi karena tak ingin menyerah.
Aku seperti orang gila yang berjalan tanpa henti. Tapi bukan karena aku gila, aku hanya merasa ada setitik api kecil di dalam jiwa ini. Api itu mungkin bisa padam, dan entah kenapa, aku ingin sekali menjaganya tetap menyala.
Namun hari berkata lain. Matahari sore mulai condong seperti hendak pamit. Tak terasa, seharian sudah kuhabiskan. Tanpa hasil.
Sedih dan kecewa datang, tapi tak ada siapa pun yang bisa kusalahkan. Semua kembali ke diriku sendiri. Kakiku nyaris copot, perut kosong hanya diisi air, mata perih menahan letih.
Dan akhirnya, aku memutuskan pulang. Menyusuri lagi jalanan panjang menuju kosan Aceng...
jarak yang entah kenapa terasa lebih jauh dari pagi tadi.
Hari sudah gelap, aku akhirnya sampai. Saat masuk ke kosan, ku lihat Aceng sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Di sebelah nya aku melihat plastik bening berisi dua bungkus nasi, di bawahnya ada dua piring untuk tatakan.
“Weyy...Mat. Sampe malem gini ternyata lo balik, gua udah beli nasi sama lauk tuh diwarteg. Takut lo belom makan,” sambut Aceng saat ia menoleh.
“Oh iya, Ceng… makasih,” jawabku pelan. Badanku rasanya sudah habis.
Aku duduk bersandar ke tembok, memejamkan mata sebentar. Ada keinginan aneh untuk lenyap sejenak dari semuanya.
“Makan dulu. Ayo bareng,” katanya sambil menepuk pundakku.
“Gua juga belum makan.”
Suaranya menarikku kembali dari tempat yang gelap.
Aku membuka mata, mengangguk, lalu membuka bungkus nasi. Aceng sudah mulai makan, duduk bersila di hadapanku.
“Gimana, Mat?” tanyanya sambil mengunyah pelan. “Lancar?”
Aku ikut mengunyah, tapi nasi itu seperti berhenti di tenggorokan.
Aku diam.
Pikiranku mengawang, namun hatiku seperti terhempas jatuh.
Maaf bang, disini lagi ga ada lowongan.
Udah penuh bang...
Lagi gak butuh orang!!!
Mohon maaf ya mas, lagi gak cari karyawan.
Di pintu ga ada tempelan butuh orang, bro.
Kalimat-kalimat itu berputar-putar di kepala. Seolah itulah yang kuterima setelah seharian menembus panas matahari, kerasnya aspal, debu yang perih di mata, dan kaki yang terus dipaksa melangkah.
Dan perlahan, luka-luka lain ikut datang. Menumpuk.
Sampai akhirnya, aku sadar…
aku sudah terlalu lelah untuk pura-pura kuat.
Aku melepas sendok makan, meletakan perlahan piringku ke lantai.
Tubuhku gemetar seperti ingin mengeluarkan semua rasa sakit di dalamnya.
Bukan cuma tentang hari ini.
Bukan cuma soal kerjaan yang tak kunjung ada.
Ini tentang hidup yang terasa makin sempit.
Tentang kehilangan yang datang satu per satu.
Tentang sepi yang tak pernah benar-benar pergi.
Aku menyesal, menjerit... walaupun pelan. Nggak peduli lagi bagaimana rupaku. Tidak ada lagi yang perlu dijaga. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Seperti hidup yang rasanya tak bisa bernapas.
Aceng diam. Mungkin kaget, Tapi dia tetap di situ.
“Mat...,” ucapnya ragu. Ia taruh piringnya di samping, lalu bergeser mendekat.
“Tenang ya. Santai dulu... Gue di sini, Mat.”
Tangannya pelan menepuk pundakku.
Aku hanya bisa mengangguk kecil. Mencoba tenang, meski gelap belum ingin pergi.
Aceng tetap duduk di sebelahku. Tidak berkata apa-apa.
Ia membiarkanku di sana, entah berapa lama, seolah memberiku waktu untuk meluapkan semuanya.
Aku mengambil piring dan sendokku kembali. Masih berat, tapi perlahan aku paksa suapkan nasi itu ke mulut. Rasanya hambar, tapi aku tahu ini bukan soal rasa.
Ini tentang bertahan.
Tentang melanjutkan walau nggak ada yang pasti ke depan.
Dan ironisnya, tempat ini, pojokan kamar kos Aceng ini, dulu adalah tempat aku tertawa sejadi-jadinya. Tempat kami nyalain musik keras-keras, debat soal hal-hal konyol, mabuk sampai langit-langit kamar penuh asap. Tempat mimpi-mimpi ngelantur itu ditiupin ke udara kayak nggak ada besok.
Dulu, semuanya terasa tak terkalahkan. Dulu, kami pikir waktu bisa ditipu dan hidup bisa ditertawakan selamanya.
Sekarang, di tempat yang sama, aku duduk lagi. Bukan untuk euforia. Melainkan untuk menunduk, menangis, menanggung semua penyesalan dan kesalahan yang lama kusimpan.
Mungkin ini cara kehidupan menyapaku. Menarikku balik ke tempat asal semua ini bermula, untuk bertanya...
kamu yang mana?
Dan mungkin... ini bukan sekadar tempat yang sama. Bukan sekadar waktu yang berbeda.
Tapi tentang menjadi manusia.
Kosan Aceng.
Sejak semalam aku di sini.
Nama aslinya Joshua, tapi entah kenapa dari dulu anak-anak manggilnya Aceng. Mungkin karena mukanya lebih cocok nongkrong di halte ketimbang duduk di aula kampus. Atau mungkin karena dia sendiri udah muak dipanggil "Jo".
Aku bersyukur masih punya teman yang mau menampungku. Meski jauh di dalam hati, aku ragu untuk tinggal di tempat ini. Terlalu banyak memori tentang bagaimana aku dan orang-orang di sini pernah membuang hidup, seolah kosan ini memang diciptakan untuk menampung orang-orang yang tersesat. Termasuk aku. Termasuk Aceng.
Di atas kasur, Aceng masih terlihat tidur telungkup, bersama kipas angin tua di ujung kaki yang berdengung tak konsisten. Rambut gondrongnya acak-acakan, kaos oblongnya lusuh, khas mahasiswa abadi yang hidup di antara skripsi dan kuliah yang gak pernah benar-benar kelar.
Aku menatap langit-langit. Sarang laba-laba itu mengingatkanku pada pikiran sendiri, kusut, berdebu, dan terlalu lama dibiarkan tumbuh. Kosan ini, tempat yang dulu pernah kuanggap menyenangkan, kini seperti cermin. Cermin yang memaksa aku menatap wajah masa lalu.
“Lo bangun pagi gini kayak dikejar utang,” ucap Aceng masih rebahan, mata merem.
“Emang iya, utang hidup malah, bukan utang duit lagi,” sahutku menghembuskan asap rokok ke langit-langit.
Aceng ngelirik sebentar, lalu tangannya meraba-raba lantai, nyari gelas kopi bekas semalam, nggak ketemu. Dia ngucek mata, lelah.
“Gila sih. Baru juga balik lagi nginjek kosan ini, udah berat aja ngomongnya.”
Dia akhirnya bangun, duduk dengan rambut yang masih berantakan dan mata yang sayu.
“Ngapain lo hari ini?” tanyanya
“Keliling. Coba cari kerjaan.” jawabku.
“Kerjaan? Di mana? Di planet ini?”
“Dimana aja yang penting berkah,” timpalku.
Aceng geleng kepala sambil ketawa kecil, lalu jalan ke pojokan. Dia buka keran dispenser galon dan minum langsung, kayak orang baru nyambung ke realita.
Selesai minum, dia duduk lagi.
“Jangan-jangan lo abis dari gunung ketempelan, Mat… makanya jadi begini,” ucapnya sambil nyulut rokok.
“Iya,” jawabku datar. “Gue emang ketempelan, Ceng. Tapi ketempelan cinta kayaknya. Bukan setan.”
Aceng langsung batuk keselek asap. Terbatuk-batuk sambil ngakak, nyari napas.
“Lo kesurupan, Mat…” katanya akhirnya.
“Mending ke dukun dah, berobat.”
Dia masih ketawa kecil, sisa batuknya belum reda benar.
“Gila juga lo. Naik gunung pulang-pulang bawa cinta. Harusnya bawa macan.”
Aku cuma nyengir, lalu matiin rokokku yang sudah abis di kaleng asbak. Lalu beranjak berdiri untuk bersiap-siap, karena nggak akan ada habisnya kalau disini terus menimpali dia.
“Udah deh. Good luck sana,” ucapnya sambil tiduran lagi.
Aku senyum tipis, “Gue jalan dulu, ya.”
“Iye. Hati-hati lo. Gue doain juga…”
Dia ngelirik sekilas.
“…dari kasur ini.”
******
Aku keluar kamar, menuruni anak tangga sempit kosan itu sambil narik napas panjang. Jalanan kayak masih sepi, tapi di dalam hati, langkah udah mulai nyicil semangat baru.
Pagi berjalan pelan. Beberapa pedagang kaki lima tampak merapikan dagangannya. Udara menyisakan dingin yang dari malam yang belum sepenuhnya pergi, atau dari hati yang belum benar-benar pulih.
Aku jadi terbayang adegan film atau sinetron, di mana orang yang luntang-lantung cari kerja selalu digambarkan dengan raut wajah bingung, rambut klimis, kemeja rapi, dan amplop cokelat yang musti dibawa ke mana-mana.
Tapi di kenyataan ini, aku berjalan dengan celana jins belel, kemeja lusuh, dan rambut yang bahkan belum sempat kusisir. Bukan map lamaran yang kubawa, melainkan sebotol air, sekadar untuk bertahan dari haus dan panas matahari nanti.
Setidaknya, aku melangkah tanpa wajah bingung seperti di layar kaca. Wajahku mungkin lelah, tapi di dalamnya masih ada sisa-sisa harapan, dan itu cukup untuk membuatku terus berjalan.
Aku berjalan menyusuri trotoar, perumahan, perkampungan, pertokoan, bahkan pasar. Langkahku pelan, tapi pasti. Seolah kakiku tahu harus ke mana, walau pikiranku sendiri belum tentu. Kios demi kios, rumah makan, bahkan warnet tak luput kudatangi, bukan karena yakin, tapi karena tak ingin menyerah.
Aku seperti orang gila yang berjalan tanpa henti. Tapi bukan karena aku gila, aku hanya merasa ada setitik api kecil di dalam jiwa ini. Api itu mungkin bisa padam, dan entah kenapa, aku ingin sekali menjaganya tetap menyala.
Namun hari berkata lain. Matahari sore mulai condong seperti hendak pamit. Tak terasa, seharian sudah kuhabiskan. Tanpa hasil.
Sedih dan kecewa datang, tapi tak ada siapa pun yang bisa kusalahkan. Semua kembali ke diriku sendiri. Kakiku nyaris copot, perut kosong hanya diisi air, mata perih menahan letih.
Dan akhirnya, aku memutuskan pulang. Menyusuri lagi jalanan panjang menuju kosan Aceng...
jarak yang entah kenapa terasa lebih jauh dari pagi tadi.
Hari sudah gelap, aku akhirnya sampai. Saat masuk ke kosan, ku lihat Aceng sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Di sebelah nya aku melihat plastik bening berisi dua bungkus nasi, di bawahnya ada dua piring untuk tatakan.
“Weyy...Mat. Sampe malem gini ternyata lo balik, gua udah beli nasi sama lauk tuh diwarteg. Takut lo belom makan,” sambut Aceng saat ia menoleh.
“Oh iya, Ceng… makasih,” jawabku pelan. Badanku rasanya sudah habis.
Aku duduk bersandar ke tembok, memejamkan mata sebentar. Ada keinginan aneh untuk lenyap sejenak dari semuanya.
“Makan dulu. Ayo bareng,” katanya sambil menepuk pundakku.
“Gua juga belum makan.”
Suaranya menarikku kembali dari tempat yang gelap.
Aku membuka mata, mengangguk, lalu membuka bungkus nasi. Aceng sudah mulai makan, duduk bersila di hadapanku.
“Gimana, Mat?” tanyanya sambil mengunyah pelan. “Lancar?”
Aku ikut mengunyah, tapi nasi itu seperti berhenti di tenggorokan.
Aku diam.
Pikiranku mengawang, namun hatiku seperti terhempas jatuh.
Maaf bang, disini lagi ga ada lowongan.
Udah penuh bang...
Lagi gak butuh orang!!!
Mohon maaf ya mas, lagi gak cari karyawan.
Di pintu ga ada tempelan butuh orang, bro.
Kalimat-kalimat itu berputar-putar di kepala. Seolah itulah yang kuterima setelah seharian menembus panas matahari, kerasnya aspal, debu yang perih di mata, dan kaki yang terus dipaksa melangkah.
Dan perlahan, luka-luka lain ikut datang. Menumpuk.
Sampai akhirnya, aku sadar…
aku sudah terlalu lelah untuk pura-pura kuat.
Aku melepas sendok makan, meletakan perlahan piringku ke lantai.
Tubuhku gemetar seperti ingin mengeluarkan semua rasa sakit di dalamnya.
Bukan cuma tentang hari ini.
Bukan cuma soal kerjaan yang tak kunjung ada.
Ini tentang hidup yang terasa makin sempit.
Tentang kehilangan yang datang satu per satu.
Tentang sepi yang tak pernah benar-benar pergi.
Aku menyesal, menjerit... walaupun pelan. Nggak peduli lagi bagaimana rupaku. Tidak ada lagi yang perlu dijaga. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Seperti hidup yang rasanya tak bisa bernapas.
Aceng diam. Mungkin kaget, Tapi dia tetap di situ.
“Mat...,” ucapnya ragu. Ia taruh piringnya di samping, lalu bergeser mendekat.
“Tenang ya. Santai dulu... Gue di sini, Mat.”
Tangannya pelan menepuk pundakku.
Aku hanya bisa mengangguk kecil. Mencoba tenang, meski gelap belum ingin pergi.
Aceng tetap duduk di sebelahku. Tidak berkata apa-apa.
Ia membiarkanku di sana, entah berapa lama, seolah memberiku waktu untuk meluapkan semuanya.
Aku mengambil piring dan sendokku kembali. Masih berat, tapi perlahan aku paksa suapkan nasi itu ke mulut. Rasanya hambar, tapi aku tahu ini bukan soal rasa.
Ini tentang bertahan.
Tentang melanjutkan walau nggak ada yang pasti ke depan.
Dan ironisnya, tempat ini, pojokan kamar kos Aceng ini, dulu adalah tempat aku tertawa sejadi-jadinya. Tempat kami nyalain musik keras-keras, debat soal hal-hal konyol, mabuk sampai langit-langit kamar penuh asap. Tempat mimpi-mimpi ngelantur itu ditiupin ke udara kayak nggak ada besok.
Dulu, semuanya terasa tak terkalahkan. Dulu, kami pikir waktu bisa ditipu dan hidup bisa ditertawakan selamanya.
Sekarang, di tempat yang sama, aku duduk lagi. Bukan untuk euforia. Melainkan untuk menunduk, menangis, menanggung semua penyesalan dan kesalahan yang lama kusimpan.
Mungkin ini cara kehidupan menyapaku. Menarikku balik ke tempat asal semua ini bermula, untuk bertanya...
kamu yang mana?
Dan mungkin... ini bukan sekadar tempat yang sama. Bukan sekadar waktu yang berbeda.
Tapi tentang menjadi manusia.
Diubah oleh sipanjangnapas3 25-01-2026 17:32
Herisyahrian dan 2 lainnya memberi reputasi
3