- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#40
Chapter 2 S
“Gerah banget,”
gumamku, menghindari silau matahari yang memantul dari aspal.
Mesin motor meraung pelan, terjebak di antara arus siang Bekasi yang padat, panas, dan berisik.
Beberapa hari lalu motor ini akhirnya kembali ke tanganku. Setelah sudah sangat lama tergadai, di tangan orang yang kukenal, yang dulu bilang “nanti gampang ditebus”.
Nyatanya nggak pernah gampang.
Tapi hari ini, ia kembali.
“Ya panas lah,” sahut Tria santai dari belakang.
“Namanya juga siang bolong.”
Ia merapatkan tubuh.
“Udah, fokus aja. Nih… aku tiup sekali.”
“Huff…”
Angin hangat menyentuh leherku. Bukan adem, tapi cukup bikin senyumku naik sedikit.
“Masih jauh?” tanyaku. Tapi yang sebenarnya harus kutanyakan adalah...
Apakah aku siap?
“Lumayan, Beb,” jawabnya. “Nanti... lampu merah ke kiri ya.”
Kupelankan kecepatan sedikit. Bukan karena jalanan masih padat, tapi karena di antara gerah dan dengung knalpot kendaraan lain, aku sedang menyiapkan diri.
Perkenalan.
Orang tua.
Masa depan yang samar.
Pertanyaan-pertanyaan serius.
Segala kemungkinan tentang apa yang mungkin nanti akan ditanyakan Babeh dan Enyaknya Tria, berdesakkan di dalam kepala.
******
15:22.
Jalan Bojong Alon, Rawalumbu, Bekasi.
Kami pun sampai...
Aku memarkirkan motor pelan.
Rumah Tria terlihat rapih, tak megah. Persis sama seperti rumahku yang sudah lama aku tinggalkan. Tetapi, bangunan Rumah ini terasa masih sangat kental akan nuansa budayanya. Aku jadi teringat rumah di sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan' itu. Pekarangannya pun luas, hampir sama.
Bedanya bukan oplet biru yang terparkir disini, tapi sebuah mobil MPV tipe keluarga. Terparkir tenang, terlihat mewah, seperti sedang ikut menilai siapa yang datang.
Tria turun dari motor.
“Kita udah di rumah,” ucapnya pelan sambil membuka helm.
Ia menatap mataku sebentar, seolah memastikan aku masih bernapas.
“Itu... Babeh aku, di teras.”
Sungguh... perasaanku tegang nggak karuan.
Di teras itu, Babehnya Tria duduk tenang di bangku kayu, tangannya sibuk mengasah sebilah golok kecil yang berkilat terkena sinar matahari.
Di kepalanya, peci hitam persegi panjang memperlihatkan wibawa.
Tapi yang paling bikin aku berhenti sepersekian detik adalah kaos yang ia pakai.
Wajah Che Guevara terpampang jelas.
Seolah bukan cuma gambar…
tapi pertanyaan.
Lu di pihak mana, anak muda?
Tria pernah bilang bapaknya penggemar Iwan Fals. Dulu aku cuma nyengir, mengangguk, seolah nggak percaya.
Sekarang bayangan itu berubah jadi nyata.
Dan yang kurasa bukan lagi tercengang.
Tapi terperangah.
Atau mungkin… terbelalak.
Waktu seperti melambat.
Aku berdiri di ambang pekarangan, merasa seperti sedang diadili oleh waktu dan dinilai oleh masa depan sekaligus.
“Asalamualaikum, Beh,” ucap Tria dan langsung cium tangan.
Aku ikut salim juga. Sedikit kikuk.
“Waalaikum salam...” sahut Babeh, matanya langsung menoleh. Pandangannya tajam tapi tidak buru-buru menghakimi. Seperti sedang membaca halaman pertama dari edisi koran tahun sembilan delapan.
“Babeh, siang-siang ngapain sih ngasah begituan? Kayak nggak ada kerjaan lain aja,” protes Tria.
“Yeee... bawel amat lo, bocah kecit ngatur-ngatur Babeh segala,” jawab Babeh santai sambil tetap mengasah goloknya dengan gerakan lambat.
Lalu matanya kembali ke kami berdua.
“Eh… nih siape lo bawa maen kemari?” tanyanya, pandangannya bolak-balik antara aku dan Tria.
Aku refleks meluruskan badan.
“Om... Kenalin, saya Rahmat,” ucapku berusaha terdengar yakin walau keringat dingin.
Tria menyenggol lenganku pelan, seolah aku baru saja salah ngomong.
“Om? Lu pikir gua... bintang tamu di drama korea?” balas Babeh.
“Oh iya, Beh... Maap,” buru-buru kuperbaiki ucapanku. "Kenalin, Beh... Saya Rahmat."
Babeh menatapku sesaat, lalu merapikan dan membungkus golok yang sejak tadi ia asah, seolah menandai akhir dari aktivitasnya.
“Bagus... gue kaga begitu suka dipanggil om,” ujarnya.
Tria nyengir lebar.
Aku ikut tersenyum kecil.
Walau jantungku…
masih belum sepenuhnya turun ke tempat semula.
Kemudian, Babeh mempersilakanku duduk. Aku pun menurut, dan sambil duduk, mataku sedikit menyapu suasana teras. Terlihat lumayan lega. Di atas pintu, ada ukiran kayu bertuliskan:
'Keluarga besar H. Rojali.'
Sepertinya itu nama Babeh.
“Salmah... Salmah!” suara Babeh cukup keras, seperti sedang memanggil seseorang dari dalam rumah.
“Enyak lo budeg kali, ya. Dipanggil kagak nyaut,” gumamnya dengan nada khas.
Mendengar aksen Babeh dan cara bicaranya, aku jadi makin merasa... bukan cuma rumah ini yang mirip sinetron Si Doel, tapi juga sosok Babehnya. Walaupun secara fisik berbeda.
Babeh terlihat agak kurus dan tinggi. Entah berapa usianya, tapi wajahnya seperti bapak-bapak enam puluhan yang bersikeras awet muda.
Tak lama kemudian, seorang perempuan muncul dari dalam rumah. Usianya mungkin sedikit lebih muda dari Babeh, mengenakan baju bermotif bunga dan tersenyum begitu melihat kami di teras.
“Eh... ada tamu,” ucapnya ceria. Matanya langsung tertuju pada kami.
“Cakep banget ini, Tria. Temen kamu?”
Tria langsung membisik pelan di telingaku,
“Awas salah lagi... manggilnya Enyak, ya.”
Aku langsung bangkit berdiri dan menyalami beliau dengan sopan.
“Kenalin, Nyak. Saya Rahmat,” ucapku ramah.
Enyaknya Tria tersenyum hangat. Tatapannya ramah dan bersahabat, benar-benar kebalikan dari penyambutan ala Babeh yang barusan ngasah piso dan menatap tajam bikin hati ketar-ketir.
“Yah… yang begini mah banyak di lampu merah,” celetuk Babeh tiba-tiba, ikut nimbrung.
“Gantengan juga gue dulu, waktu masih muda.”
“Iya Beh... iyaa. Siapa juga yang bisa ngalahin kegantengan Babeh,” sahut Tria sambil nyengir, nadanya penuh sindiran manja.
Babehnya Tria tiba-tiba seperti mendapat pencerahan.
“Oh iya, gue baru inget...” katanya, menatapku lekat.
“Elu... si Rahmat anaknya Mpok Ulil, ye? Yang lakinye dulu punya pemancingan lele di RW lapan... Ini si Amat ye?”
Jarinya menunjuk ringan ke arahku, ekspresinya seperti orang yang yakin banget baru berhasil nyambung ke masa lalu.
“Ish... siapa dah itu...” suara gumam Tria, mungkin hanya terdengar olehku.
Ia heran mendengar pertanyaan Babehnya sendiri yang main asal nyeletuk itu.
Sekilas aku tercengang. Nama, RW, pemancingan, lele, semuanya aku nggak paham. Babeh salah orang. Salah sambung.
Baru saja aku mau menjawabnya, suara Enyak tiba-tiba ikutan nimbrung.
“Bukan, Bang... Si Amat itu mah aye tahu. Bukan yang ini. Nggak gini tampangnye,” sahut Enyak. Nadanya yakin betul.
“Kalo si Amat itu mah tiap hari ngejogrok noh di warkop nye Ncing Juki.”
“Ah... Jangan sok tahu lo, Salma. Itu warkop bukannye udah digusur?” balas Babeh, ogah kalah.
“Ye si Abang... ngarang aje. Aye kan sering lewat situ kalo mau belanja,” sanggah Enyak cepat.
“Lagian, usaha orang kagak bisa main di gusur-gusur aje. Emangnye apaan.”
“Lah, gue denger warga pade komplen,” timpal Babeh lagi, mulai bersandar santai di kursinya.
“Katanye tiap malem pade berisik.”
“Enyak... Babeh... Udahan napa?! Malah jadi ngoceh berdua. Tria nih mau ngenalin,” potong Tria, sedikit gemas.
Dalam hati, di balik perasaan yang sempat gugup, aku merasa percakapan mereka terasa seperti riuh yang hangat, ribut-ribut kecil, tapi justru dari sanalah kehangatan rumah ini memancar.
Babeh mengangguk pelan, lalu bicara menoleh ke arah Enyak.
“Salmah, mending lo ke dapur, bikinin gua kopi.”
“Oh iya...”
“Rahmat, lo mau minum apaan?”
“Air putih aja, Beh.” jawabku sopan.
“Hah…?” Babeh mengernyit, seolah nggak percaya.
“Aer putih doang?”
Ia mengayun tangannya kecil ke arah dalam rumah.
“Udah lah, kaga usah malu-malu. Longok tuh kulkas Babeh. Apaan aje ada. Sirop, buah, minuman dingin. Lengkap!”
Aku jadi senyum kecil.
Kupikir-pikir, meskipun Babeh terdengar galak dan agak nyolot, ternyata hatinya ramah juga. Gaya menyambutnya mungkin keras di luar, tapi dalamnya tulus. Seperti orang yang nggak banyak basa-basi, tapi punya ruang luas untuk orang lain.
“Yaudah, Dek Rahmat... Enyak siapin ya,” sahut Enyak lembut sebelum melangkah ke dapur.
“Sirop aje mau? Biar segeran dikit.”
“Iya, Nyak. Makasih,” jawabku.
“Kamu kan biasanya kopi,” ucap Tria pelan. “Aku buatin ya?”
Mulutku diam saja.
Aku hanya mengangguk saat Tria malah ingin membuatkanku kopi.
Belum bisa berkata-kata banyak di antara mereka, mungkin masih canggung atau gugup. Tapi sebisa mungkin, aku mencoba tetap kalem.
“Ayo, Nyak. Bareng Tria ke dapur,” ucap Tria sambil berdiri.
“Biar Tria aja yang bikinin buat Rahmat.”
Enyak mengangguk kecil.
Keduanya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Dan di situlah aku...
berhadapan langsung dengan seorang penggemar Iwan Fals berpeci hitam, yang beberapa menit lalu mengasah golok tajam.
Setajam keyakinan yang memancar dari sorot mata Che Guevara di dadanya...
Diam,
tapi terasa tahu segalanya.
Tanpa perlu menguliti jejak aku dan Tria,
satu per satu.
gumamku, menghindari silau matahari yang memantul dari aspal.
Mesin motor meraung pelan, terjebak di antara arus siang Bekasi yang padat, panas, dan berisik.
Beberapa hari lalu motor ini akhirnya kembali ke tanganku. Setelah sudah sangat lama tergadai, di tangan orang yang kukenal, yang dulu bilang “nanti gampang ditebus”.
Nyatanya nggak pernah gampang.
Tapi hari ini, ia kembali.
“Ya panas lah,” sahut Tria santai dari belakang.
“Namanya juga siang bolong.”
Ia merapatkan tubuh.
“Udah, fokus aja. Nih… aku tiup sekali.”
“Huff…”
Angin hangat menyentuh leherku. Bukan adem, tapi cukup bikin senyumku naik sedikit.
“Masih jauh?” tanyaku. Tapi yang sebenarnya harus kutanyakan adalah...
Apakah aku siap?
“Lumayan, Beb,” jawabnya. “Nanti... lampu merah ke kiri ya.”
Kupelankan kecepatan sedikit. Bukan karena jalanan masih padat, tapi karena di antara gerah dan dengung knalpot kendaraan lain, aku sedang menyiapkan diri.
Perkenalan.
Orang tua.
Masa depan yang samar.
Pertanyaan-pertanyaan serius.
Segala kemungkinan tentang apa yang mungkin nanti akan ditanyakan Babeh dan Enyaknya Tria, berdesakkan di dalam kepala.
******
15:22.
Jalan Bojong Alon, Rawalumbu, Bekasi.
Kami pun sampai...
Aku memarkirkan motor pelan.
Rumah Tria terlihat rapih, tak megah. Persis sama seperti rumahku yang sudah lama aku tinggalkan. Tetapi, bangunan Rumah ini terasa masih sangat kental akan nuansa budayanya. Aku jadi teringat rumah di sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan' itu. Pekarangannya pun luas, hampir sama.
Bedanya bukan oplet biru yang terparkir disini, tapi sebuah mobil MPV tipe keluarga. Terparkir tenang, terlihat mewah, seperti sedang ikut menilai siapa yang datang.
Tria turun dari motor.
“Kita udah di rumah,” ucapnya pelan sambil membuka helm.
Ia menatap mataku sebentar, seolah memastikan aku masih bernapas.
“Itu... Babeh aku, di teras.”
Sungguh... perasaanku tegang nggak karuan.
Di teras itu, Babehnya Tria duduk tenang di bangku kayu, tangannya sibuk mengasah sebilah golok kecil yang berkilat terkena sinar matahari.
Di kepalanya, peci hitam persegi panjang memperlihatkan wibawa.
Tapi yang paling bikin aku berhenti sepersekian detik adalah kaos yang ia pakai.
Wajah Che Guevara terpampang jelas.
Seolah bukan cuma gambar…
tapi pertanyaan.
Lu di pihak mana, anak muda?
Tria pernah bilang bapaknya penggemar Iwan Fals. Dulu aku cuma nyengir, mengangguk, seolah nggak percaya.
Sekarang bayangan itu berubah jadi nyata.
Dan yang kurasa bukan lagi tercengang.
Tapi terperangah.
Atau mungkin… terbelalak.
Waktu seperti melambat.
Aku berdiri di ambang pekarangan, merasa seperti sedang diadili oleh waktu dan dinilai oleh masa depan sekaligus.
“Asalamualaikum, Beh,” ucap Tria dan langsung cium tangan.
Aku ikut salim juga. Sedikit kikuk.
“Waalaikum salam...” sahut Babeh, matanya langsung menoleh. Pandangannya tajam tapi tidak buru-buru menghakimi. Seperti sedang membaca halaman pertama dari edisi koran tahun sembilan delapan.
“Babeh, siang-siang ngapain sih ngasah begituan? Kayak nggak ada kerjaan lain aja,” protes Tria.
“Yeee... bawel amat lo, bocah kecit ngatur-ngatur Babeh segala,” jawab Babeh santai sambil tetap mengasah goloknya dengan gerakan lambat.
Lalu matanya kembali ke kami berdua.
“Eh… nih siape lo bawa maen kemari?” tanyanya, pandangannya bolak-balik antara aku dan Tria.
Aku refleks meluruskan badan.
“Om... Kenalin, saya Rahmat,” ucapku berusaha terdengar yakin walau keringat dingin.
Tria menyenggol lenganku pelan, seolah aku baru saja salah ngomong.
“Om? Lu pikir gua... bintang tamu di drama korea?” balas Babeh.
“Oh iya, Beh... Maap,” buru-buru kuperbaiki ucapanku. "Kenalin, Beh... Saya Rahmat."
Babeh menatapku sesaat, lalu merapikan dan membungkus golok yang sejak tadi ia asah, seolah menandai akhir dari aktivitasnya.
“Bagus... gue kaga begitu suka dipanggil om,” ujarnya.
Tria nyengir lebar.
Aku ikut tersenyum kecil.
Walau jantungku…
masih belum sepenuhnya turun ke tempat semula.
Kemudian, Babeh mempersilakanku duduk. Aku pun menurut, dan sambil duduk, mataku sedikit menyapu suasana teras. Terlihat lumayan lega. Di atas pintu, ada ukiran kayu bertuliskan:
'Keluarga besar H. Rojali.'
Sepertinya itu nama Babeh.
“Salmah... Salmah!” suara Babeh cukup keras, seperti sedang memanggil seseorang dari dalam rumah.
“Enyak lo budeg kali, ya. Dipanggil kagak nyaut,” gumamnya dengan nada khas.
Mendengar aksen Babeh dan cara bicaranya, aku jadi makin merasa... bukan cuma rumah ini yang mirip sinetron Si Doel, tapi juga sosok Babehnya. Walaupun secara fisik berbeda.
Babeh terlihat agak kurus dan tinggi. Entah berapa usianya, tapi wajahnya seperti bapak-bapak enam puluhan yang bersikeras awet muda.
Tak lama kemudian, seorang perempuan muncul dari dalam rumah. Usianya mungkin sedikit lebih muda dari Babeh, mengenakan baju bermotif bunga dan tersenyum begitu melihat kami di teras.
“Eh... ada tamu,” ucapnya ceria. Matanya langsung tertuju pada kami.
“Cakep banget ini, Tria. Temen kamu?”
Tria langsung membisik pelan di telingaku,
“Awas salah lagi... manggilnya Enyak, ya.”
Aku langsung bangkit berdiri dan menyalami beliau dengan sopan.
“Kenalin, Nyak. Saya Rahmat,” ucapku ramah.
Enyaknya Tria tersenyum hangat. Tatapannya ramah dan bersahabat, benar-benar kebalikan dari penyambutan ala Babeh yang barusan ngasah piso dan menatap tajam bikin hati ketar-ketir.
“Yah… yang begini mah banyak di lampu merah,” celetuk Babeh tiba-tiba, ikut nimbrung.
“Gantengan juga gue dulu, waktu masih muda.”
“Iya Beh... iyaa. Siapa juga yang bisa ngalahin kegantengan Babeh,” sahut Tria sambil nyengir, nadanya penuh sindiran manja.
Babehnya Tria tiba-tiba seperti mendapat pencerahan.
“Oh iya, gue baru inget...” katanya, menatapku lekat.
“Elu... si Rahmat anaknya Mpok Ulil, ye? Yang lakinye dulu punya pemancingan lele di RW lapan... Ini si Amat ye?”
Jarinya menunjuk ringan ke arahku, ekspresinya seperti orang yang yakin banget baru berhasil nyambung ke masa lalu.
“Ish... siapa dah itu...” suara gumam Tria, mungkin hanya terdengar olehku.
Ia heran mendengar pertanyaan Babehnya sendiri yang main asal nyeletuk itu.
Sekilas aku tercengang. Nama, RW, pemancingan, lele, semuanya aku nggak paham. Babeh salah orang. Salah sambung.
Baru saja aku mau menjawabnya, suara Enyak tiba-tiba ikutan nimbrung.
“Bukan, Bang... Si Amat itu mah aye tahu. Bukan yang ini. Nggak gini tampangnye,” sahut Enyak. Nadanya yakin betul.
“Kalo si Amat itu mah tiap hari ngejogrok noh di warkop nye Ncing Juki.”
“Ah... Jangan sok tahu lo, Salma. Itu warkop bukannye udah digusur?” balas Babeh, ogah kalah.
“Ye si Abang... ngarang aje. Aye kan sering lewat situ kalo mau belanja,” sanggah Enyak cepat.
“Lagian, usaha orang kagak bisa main di gusur-gusur aje. Emangnye apaan.”
“Lah, gue denger warga pade komplen,” timpal Babeh lagi, mulai bersandar santai di kursinya.
“Katanye tiap malem pade berisik.”
“Enyak... Babeh... Udahan napa?! Malah jadi ngoceh berdua. Tria nih mau ngenalin,” potong Tria, sedikit gemas.
Dalam hati, di balik perasaan yang sempat gugup, aku merasa percakapan mereka terasa seperti riuh yang hangat, ribut-ribut kecil, tapi justru dari sanalah kehangatan rumah ini memancar.
Babeh mengangguk pelan, lalu bicara menoleh ke arah Enyak.
“Salmah, mending lo ke dapur, bikinin gua kopi.”
“Oh iya...”
“Rahmat, lo mau minum apaan?”
“Air putih aja, Beh.” jawabku sopan.
“Hah…?” Babeh mengernyit, seolah nggak percaya.
“Aer putih doang?”
Ia mengayun tangannya kecil ke arah dalam rumah.
“Udah lah, kaga usah malu-malu. Longok tuh kulkas Babeh. Apaan aje ada. Sirop, buah, minuman dingin. Lengkap!”
Aku jadi senyum kecil.
Kupikir-pikir, meskipun Babeh terdengar galak dan agak nyolot, ternyata hatinya ramah juga. Gaya menyambutnya mungkin keras di luar, tapi dalamnya tulus. Seperti orang yang nggak banyak basa-basi, tapi punya ruang luas untuk orang lain.
“Yaudah, Dek Rahmat... Enyak siapin ya,” sahut Enyak lembut sebelum melangkah ke dapur.
“Sirop aje mau? Biar segeran dikit.”
“Iya, Nyak. Makasih,” jawabku.
“Kamu kan biasanya kopi,” ucap Tria pelan. “Aku buatin ya?”
Mulutku diam saja.
Aku hanya mengangguk saat Tria malah ingin membuatkanku kopi.
Belum bisa berkata-kata banyak di antara mereka, mungkin masih canggung atau gugup. Tapi sebisa mungkin, aku mencoba tetap kalem.
“Ayo, Nyak. Bareng Tria ke dapur,” ucap Tria sambil berdiri.
“Biar Tria aja yang bikinin buat Rahmat.”
Enyak mengangguk kecil.
Keduanya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Dan di situlah aku...
berhadapan langsung dengan seorang penggemar Iwan Fals berpeci hitam, yang beberapa menit lalu mengasah golok tajam.
Setajam keyakinan yang memancar dari sorot mata Che Guevara di dadanya...
Diam,
tapi terasa tahu segalanya.
Tanpa perlu menguliti jejak aku dan Tria,
satu per satu.
Diubah oleh sipanjangnapas3 25-01-2026 21:04
0