- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#1
Chapter 1 A
Senja yang dingin
“Sendirian aja, bang?”
Suaranya lirih, nyaris tertelan angin gunung yang dingin. Tapi cukup untuk bikin aku noleh.
Perempuan itu berdiri dengan jaket gunung warna putih yang sudah ada bercak lumpur, ransel menggantung miring di punggungnya. Napasnya ngos-ngosan, tapi senyumannya saat menatapku, kayak api kecil di antara kabut.
Aku nyengir seadanya.
“Iya. Sendiri. Emang kenapa?”
Dia duduk begitu aja di atas tanah berlumut tanpa nunggu izin, seolah gunung ini milik bersama.
“Hebat,” katanya. “Naik sendiri itu gak gampang ya? apalagi kalau cuaca juga lagi dingin-dinginnya.”
Aku sengaja gak jawab.
Kopi di panci kecil mulai mengeluarkan gelembung, pertanda sebentar lagi bisa diminum. Tapi yang menghangat lebih dulu justru hadirnya dia.
Entah siapa.
Entah dari mana.
Tapi seolah dia datang membawa sesuatu yang lama hilang, obrolan tanpa beban.
“Namaku Rahmat,” kataku akhirnya.
Dia menoleh, matanya nyaru sama pantulan warna langit yang jingga.
“Aku Tria,” balasnya.
Dan seperti langit senja, dia mungkin hanya datang sebentar. Tapi bisa meninggalkan jejak... sampai lama.
Aku matikan kompor, tak perlu bertanya, aku meletakkan dua gelas kosong di hadapannya. Tria memperhatikanku saat aku menaruh gelas itu. Lalu, dengan sarung tangan kain wol yang masih ia kenakan, ia dengan yakin menggenggam panci teko dan menuangkan kopi untukku dan dirinya.
Sambil memandangi gelas yang kini melingkar di tangannya, aku bertanya. Sekadar memulai basa basi yang paling umum menurut para pendaki.
"Ngapain naik gunung?"
“Ehmm... ”
“Mungkin aku cuma lagi bingung mau kemana,” jawab Tria, sebelum mencicipi kopi yang mulai hangat.
Aku diam sebentar. Jawaban itu bukan jawaban standar. Bukan juga yang biasa dikasih orang yang cari sunrise atau sekadar pengen konten Instagram.
“Aku kira kamu pendaki sejati,” kataku bercanda.
Dia tersenyum, tipis, tapi matanya enggak.
“Sejati itu mah cuma label. Kadang orang naik gunung bukan karena cinta alam, tapi karena di bawah terlalu berisik. Di sini... sepi, dan aku butuh sepi.”
Aku ngangguk. Ada yang terasa familiar dari kalimatnya.
Mungkin karena aku pun begitu.
Kopi kami mengepul pelan. Kabut turun makin tebal, mengaburkan pandangan ke lembah. Tapi justru di kabut itu, suara kami jadi lebih jernih.
“Kamu sendiri ngapain naik?” tanya Tria balik.
Aku malas jawabnya. Tapi akhirnya aku buka mulut, sebatas kasih jawaban.
“Aku pengen lihat hidup dari tempat yang lebih tinggi aja,” jawabku sebatas membalas.
Tria menoleh padaku, kali ini matanya enggak nyaru.
“Apa kamu kabur?”
Aku senyum pahit.
“Enggak. Aku lagi nyembuhin diri sendiri.”
“Sembuh dari apa? kamu kelihatan sehat gitu kok,” tanya Tria.
Aku terdiam, mengarahkan pandangan mata ke pohon-pohon tinggi yang seolah menyaksikan kita berdua.
“Perjalanan ke tempat yang tinggi itu capek, dan bisa aja kamu tetap sesak kalau gak nemu apa yang kamu cari,” sambung Tria.
Aku menyeruput kopi, dan mencuri pandang pada rambut hitam sepundak milik perempuan disebelahku ini. Dalam hati aku bergumam, "Bawel banget ya dia, tapi... cantik..."
“Kata John, ga perlu waktu seharian untuk menyadari sinar matahari,” ucapnya tiba-tiba.
Aku menengok heran. Kata-katanya seolah nyangkut, kayak jejak sepatu di tanah basah. Ada makna yang tertinggal, dan aku enggak ingin buru-buru ngusirnya.
“John siapa?” tanyaku singkat, cuma buat nyambung.
“John yang ada di serial fear of the walking dead, gapapa kalo kamu ga tahu,” katanya sambil senyum jahil, “yang penting kamu ngerti maksudnya.”
Aku ikut tersenyum.
Rupanya... dia pintar membungkus cerita dengan candaan. Atau mungkin, dia sudah terlalu sering menyulam ingatan menjadi kata-kata.
“Aku gak sepenuhnya ngerti sih,” ucapku jujur.
Tria menunduk, meniup kopinya yang kulihat tinggal setengah.
“Kadang kita gak harus ngerti dulu, yang penting rasain. Kayak naik gunung ini. capek, pegal, dingin, tapi kamu tetep jalan. Kenapa?”
Aku diam lagi. Pertanyaannya seperti refleksi, bukan untuk dijawab, tapi untuk diresapi.
Karena memang, aku belum tahu yakin sepenuhnya tentang niatku ada disini.
Aku tatap wajahnya, kali ini tanpa candaan di hati.
Tria pun diam, kali ini benar-benar diam. Entah karena ucapannya sendiri yang bagiku terlalu puitis, atau karena ia sadar aku sedang menatapnya cukup lama.
Angin mengaduk rambutnya, sebagian masuk ke dalam kopi. Ia tersenyum kecil, lalu mengambil rambut itu dan berkata...
“Kayak idup ya... kadang yang gak penting malah nyemplung duluan.”
Aku ikut tersenyum lagi, walau badan kian menggigil karena angin gunung.
Udara makin dingin. Kabut semakin tebal. Tapi kopi, dan kehadiran dia di sampingku, membuat segalanya terasa sedikit hangat.
Kami mendadak saling memandang, matanya bertatapan lurus dengan mataku.
“Kita ini dua orang yang kayaknya gak tau mau kemana, ya?” tanyaku jujur.
Dia ngangguk.
“Tapi seenggaknya, sore ini, kita duduk di tempat yang sama,” balasnya.
Laju sepeda kumbang dijalan berlubang...
.... ... ...
Oemar bakri oemar bakri, pegawai negri....
... ... ...
Bunyi dari dalam saku jaketnya.
“Sorry... alarm,” ucapnya terbata, pas ngambil hp dari kantong.
Aku tercengang, tahu kalau masih ada cewek yang terlihat seumuranku punya musik Iwan fals di dunianya.
“Ini tandanya aku udah harus bangun tenda,” ucap Tria sebelum berdiri.
Aku hanya tersenyum kecil, menyembunyikan kagetku.
“Pecinta Iwan Fals ya?” tanyaku, mencoba menebak bagian dirinya yang belum sempat aku tahu.
“Bapakku,” jawabnya sambil membungkuk, mulai membuka tas carrier. “Katanya, gak semua yang berseragam itu bersih, tapi semua anaknya berhak punya mimpi.”
Kata-kata yang terlontar dari bibirnya sering kali terasa berat di telinga, namun menepi di kepalaku, seperti asap kopi yang menggantung di udara dingin.
Aku terdiam, merasa asing dengan perasaan aneh yang sedang tumbuh diam-diam.
Dia membuka flysheet, tangannya cekatan, gerakannya mantap.
Aku menghampiri dan membantu tanpa banyak bicara, meski di dalam hati, aku merasa... senang.
Entah karena suara lembutnya, atau karena cahaya senja yang perlahan berubah jadi malam. Untuk saat ini, aku merasa tak ingat tentang dunia lama.
Dan saat tenda itu berdiri, Tria menatapnya seperti menatap rumah kecil yang ia bawa dalam perjalanannya.
“Kadang kita cuma butuh tempat buat sembunyi, walau cuma semalam.” katanya pelan.
Aku tarik napas panjang...
"Malam ini, kalau kamu gak keberatan... boleh gak aku jadi bagian dari sembunyimu?" Tanyaku, tapi sayang cuma di dalam hati.
Lalu ia masuk kedalam tenda nya tanpa sepatah kata. Mungkin buru-buru karena baju didalam jaketnya sudah terlalu dingin. Aku mundur, kembali duduk ditempat semula.
Aku memeluk lutut, membiarkan angin sore menampar pelan wajahku. Memandangi sebuah tenda baru yang hadir disini.
Ada yang aneh, tapi tidak buruk. Mungkin ini perasaan yang sudah lama hilang. Perasaan ditemani, meski tak benar-benar bersama.
Malam pun sebentar lagi akan turun. Suara hutan mulai berbisik, ranting-ranting beradu seiring dedaunan menggontai, seakan turut mengiringi pikiranku yang pelan-pelan hanyut.
Sesekali aku melirik ke arah tenda. Lampu kecil di dalamnya menyala samar. Bayang tubuhnya terlihat sedang merapikan sesuatu.
Aku tersenyum sendiri, meraba percakapan singkat tadi.
“Sendirian aja, bang?”
Suaranya lirih, nyaris tertelan angin gunung yang dingin. Tapi cukup untuk bikin aku noleh.
Perempuan itu berdiri dengan jaket gunung warna putih yang sudah ada bercak lumpur, ransel menggantung miring di punggungnya. Napasnya ngos-ngosan, tapi senyumannya saat menatapku, kayak api kecil di antara kabut.
Aku nyengir seadanya.
“Iya. Sendiri. Emang kenapa?”
Dia duduk begitu aja di atas tanah berlumut tanpa nunggu izin, seolah gunung ini milik bersama.
“Hebat,” katanya. “Naik sendiri itu gak gampang ya? apalagi kalau cuaca juga lagi dingin-dinginnya.”
Aku sengaja gak jawab.
Kopi di panci kecil mulai mengeluarkan gelembung, pertanda sebentar lagi bisa diminum. Tapi yang menghangat lebih dulu justru hadirnya dia.
Entah siapa.
Entah dari mana.
Tapi seolah dia datang membawa sesuatu yang lama hilang, obrolan tanpa beban.
“Namaku Rahmat,” kataku akhirnya.
Dia menoleh, matanya nyaru sama pantulan warna langit yang jingga.
“Aku Tria,” balasnya.
Dan seperti langit senja, dia mungkin hanya datang sebentar. Tapi bisa meninggalkan jejak... sampai lama.
Aku matikan kompor, tak perlu bertanya, aku meletakkan dua gelas kosong di hadapannya. Tria memperhatikanku saat aku menaruh gelas itu. Lalu, dengan sarung tangan kain wol yang masih ia kenakan, ia dengan yakin menggenggam panci teko dan menuangkan kopi untukku dan dirinya.
Sambil memandangi gelas yang kini melingkar di tangannya, aku bertanya. Sekadar memulai basa basi yang paling umum menurut para pendaki.
"Ngapain naik gunung?"
“Ehmm... ”
“Mungkin aku cuma lagi bingung mau kemana,” jawab Tria, sebelum mencicipi kopi yang mulai hangat.
Aku diam sebentar. Jawaban itu bukan jawaban standar. Bukan juga yang biasa dikasih orang yang cari sunrise atau sekadar pengen konten Instagram.
“Aku kira kamu pendaki sejati,” kataku bercanda.
Dia tersenyum, tipis, tapi matanya enggak.
“Sejati itu mah cuma label. Kadang orang naik gunung bukan karena cinta alam, tapi karena di bawah terlalu berisik. Di sini... sepi, dan aku butuh sepi.”
Aku ngangguk. Ada yang terasa familiar dari kalimatnya.
Mungkin karena aku pun begitu.
Kopi kami mengepul pelan. Kabut turun makin tebal, mengaburkan pandangan ke lembah. Tapi justru di kabut itu, suara kami jadi lebih jernih.
“Kamu sendiri ngapain naik?” tanya Tria balik.
Aku malas jawabnya. Tapi akhirnya aku buka mulut, sebatas kasih jawaban.
“Aku pengen lihat hidup dari tempat yang lebih tinggi aja,” jawabku sebatas membalas.
Tria menoleh padaku, kali ini matanya enggak nyaru.
“Apa kamu kabur?”
Aku senyum pahit.
“Enggak. Aku lagi nyembuhin diri sendiri.”
“Sembuh dari apa? kamu kelihatan sehat gitu kok,” tanya Tria.
Aku terdiam, mengarahkan pandangan mata ke pohon-pohon tinggi yang seolah menyaksikan kita berdua.
“Perjalanan ke tempat yang tinggi itu capek, dan bisa aja kamu tetap sesak kalau gak nemu apa yang kamu cari,” sambung Tria.
Aku menyeruput kopi, dan mencuri pandang pada rambut hitam sepundak milik perempuan disebelahku ini. Dalam hati aku bergumam, "Bawel banget ya dia, tapi... cantik..."
“Kata John, ga perlu waktu seharian untuk menyadari sinar matahari,” ucapnya tiba-tiba.
Aku menengok heran. Kata-katanya seolah nyangkut, kayak jejak sepatu di tanah basah. Ada makna yang tertinggal, dan aku enggak ingin buru-buru ngusirnya.
“John siapa?” tanyaku singkat, cuma buat nyambung.
“John yang ada di serial fear of the walking dead, gapapa kalo kamu ga tahu,” katanya sambil senyum jahil, “yang penting kamu ngerti maksudnya.”
Aku ikut tersenyum.
Rupanya... dia pintar membungkus cerita dengan candaan. Atau mungkin, dia sudah terlalu sering menyulam ingatan menjadi kata-kata.
“Aku gak sepenuhnya ngerti sih,” ucapku jujur.
Tria menunduk, meniup kopinya yang kulihat tinggal setengah.
“Kadang kita gak harus ngerti dulu, yang penting rasain. Kayak naik gunung ini. capek, pegal, dingin, tapi kamu tetep jalan. Kenapa?”
Aku diam lagi. Pertanyaannya seperti refleksi, bukan untuk dijawab, tapi untuk diresapi.
Karena memang, aku belum tahu yakin sepenuhnya tentang niatku ada disini.
Aku tatap wajahnya, kali ini tanpa candaan di hati.
Tria pun diam, kali ini benar-benar diam. Entah karena ucapannya sendiri yang bagiku terlalu puitis, atau karena ia sadar aku sedang menatapnya cukup lama.
Angin mengaduk rambutnya, sebagian masuk ke dalam kopi. Ia tersenyum kecil, lalu mengambil rambut itu dan berkata...
“Kayak idup ya... kadang yang gak penting malah nyemplung duluan.”
Aku ikut tersenyum lagi, walau badan kian menggigil karena angin gunung.
Udara makin dingin. Kabut semakin tebal. Tapi kopi, dan kehadiran dia di sampingku, membuat segalanya terasa sedikit hangat.
Kami mendadak saling memandang, matanya bertatapan lurus dengan mataku.
“Kita ini dua orang yang kayaknya gak tau mau kemana, ya?” tanyaku jujur.
Dia ngangguk.
“Tapi seenggaknya, sore ini, kita duduk di tempat yang sama,” balasnya.
Laju sepeda kumbang dijalan berlubang...
.... ... ...
Oemar bakri oemar bakri, pegawai negri....
... ... ...
Bunyi dari dalam saku jaketnya.
“Sorry... alarm,” ucapnya terbata, pas ngambil hp dari kantong.
Aku tercengang, tahu kalau masih ada cewek yang terlihat seumuranku punya musik Iwan fals di dunianya.
“Ini tandanya aku udah harus bangun tenda,” ucap Tria sebelum berdiri.
Aku hanya tersenyum kecil, menyembunyikan kagetku.
“Pecinta Iwan Fals ya?” tanyaku, mencoba menebak bagian dirinya yang belum sempat aku tahu.
“Bapakku,” jawabnya sambil membungkuk, mulai membuka tas carrier. “Katanya, gak semua yang berseragam itu bersih, tapi semua anaknya berhak punya mimpi.”
Kata-kata yang terlontar dari bibirnya sering kali terasa berat di telinga, namun menepi di kepalaku, seperti asap kopi yang menggantung di udara dingin.
Aku terdiam, merasa asing dengan perasaan aneh yang sedang tumbuh diam-diam.
Dia membuka flysheet, tangannya cekatan, gerakannya mantap.
Aku menghampiri dan membantu tanpa banyak bicara, meski di dalam hati, aku merasa... senang.
Entah karena suara lembutnya, atau karena cahaya senja yang perlahan berubah jadi malam. Untuk saat ini, aku merasa tak ingat tentang dunia lama.
Dan saat tenda itu berdiri, Tria menatapnya seperti menatap rumah kecil yang ia bawa dalam perjalanannya.
“Kadang kita cuma butuh tempat buat sembunyi, walau cuma semalam.” katanya pelan.
Aku tarik napas panjang...
"Malam ini, kalau kamu gak keberatan... boleh gak aku jadi bagian dari sembunyimu?" Tanyaku, tapi sayang cuma di dalam hati.
Lalu ia masuk kedalam tenda nya tanpa sepatah kata. Mungkin buru-buru karena baju didalam jaketnya sudah terlalu dingin. Aku mundur, kembali duduk ditempat semula.
Aku memeluk lutut, membiarkan angin sore menampar pelan wajahku. Memandangi sebuah tenda baru yang hadir disini.
Ada yang aneh, tapi tidak buruk. Mungkin ini perasaan yang sudah lama hilang. Perasaan ditemani, meski tak benar-benar bersama.
Malam pun sebentar lagi akan turun. Suara hutan mulai berbisik, ranting-ranting beradu seiring dedaunan menggontai, seakan turut mengiringi pikiranku yang pelan-pelan hanyut.
Sesekali aku melirik ke arah tenda. Lampu kecil di dalamnya menyala samar. Bayang tubuhnya terlihat sedang merapikan sesuatu.
Aku tersenyum sendiri, meraba percakapan singkat tadi.
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 13:22
Herisyahrian dan 2 lainnya memberi reputasi
3