- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#25
Chapter 2 I
Aku duduk di kereta malam.
Ya, kayak lagu. Lagu apa? Entahlah. Sedih atau ceria, aku sendiri nggak tahu. Batinku serasa kusut, nggak karuan, bahkan buat nebak suasana lagu pun rasanya males.
Malam ini, pikiranku terasa seperti debu, melayang entah ke mana, tanpa arah, tanpa ada yang peduli. Dan perasaanku masih tertinggal di restoran tadi, di bangku kayu yang kosong, di meja makan yang tak menampilkan apa pun selain rasa hampa.
Tubuhku lelah, hanya bisa bersandar di kursi panjang kereta. Kadang ikut berayun pelan mengikuti lajunya. Pandanganku menatap kosong ke arah lampu diatas. Lampu yang sepertinya sudah bosan melihat manusia terluka.
Sinar putih terang di langit-langit kereta itu pun balik menyorotiku dari atas, tajam, dingin, sok bijak.
Seolah berkata,
"Yaelah lo, Cil… Baru digituin aja udah ngerasa paling kehilangan dunia. Cemen lu."
Aku geleng kepala.
Mengucek mata yang mulai berat.
Mencoba keluar dari pikiran-pikiran aneh ini, pikiran yang seringkali lebih jahat dari kenyataan itu sendiri.
Meskipun belum bisa sepenuhnya menerima apa yang terjadi hari ini, aku tetap mencoba menata napas.
Tria... Kamu kemana? Kenapa? Aku benar-benar nggak tahu.
Di dalam hati, perasaanku campur aduk, antara sedih, bingung, juga cemas.
Aku melirik layar ponsel yang baterainya tinggal sepuluh persen, malah tambah bikin runtuh. Tak ada satu pun balasan dari Tria. Hening. Seperti ditelan sesuatu yang lebih luas dari Himalaya di tengah malam.
"Ya udahlah..." batinku mencoba pasrah, walau sebenarnya tak sanggup.
Kupikir, sampai kosan nanti enaknya ngerokok, nyeduh kopi hitam, lalu duduk bareng Aceng sembari ngobrol. Curhat sama dia mungkin bisa sedikit nenangin kepala.
Jam sudah hampir tengah malam. Aku lega karena akhirnya sampai juga.
Saat langkahku mendekat ke kosan. Aku terkejut, karena suara musik terdengar, bercampur tawa dan suara denting beling.
Perasaanku mendadak tidak enak. Tapi aku tetap naik, menapaki tangga usang dengan kaki yang sudah sangat lelah. Mendorong pintu yang tidak dikunci.
Ruangan kecil itu dipenuhi asap. Aceng duduk di pojok, matanya terlihat kencang, tapi bukan tatapan aslinya. Tertawa bersama tiga orang lain yang tidak aku kenal. Salah satunya cewek, tiduran di lantai pakai jaket jeans, ketawa ketiwi sendiri.
Di tengah ruangan, botol plastik bekas dipotong jadi alat isap. Di dekatnya, serabut tembakau aneh berserakan, bercampur serpihan bubuk lain yang baunya kayak lorong rumah sakit.
“Wey Rahmat... akhirnya pulang juga lo!” sapa Aceng, setengah dirinya.
Aku hanya mengangguk pelan, rasanya kayak ditonjok sesuatu yang nggak keliatan.
“Gue numpang tidur ya,” suaraku melemah.
Tak ada yang benar-benar menanggapi.
Musik justru diputar lebih keras. Tawa pecah lagi, liar, seolah keberadaanku cuma angin lewat.
Tak peduli satu-satunya orang waras di ruangan ini sedang mencoba menyusun ulang hatinya yang baru saja remuk.
Aku rebahan di sudut kosong dekat jendela. Tas kugunakan sebagai bantal, jaket kugulung menutupi wajah. Kupikir, mungkin aku bisa memejamkan mata sebentar. Sekadar berhenti berpikir. Sekadar diam.
Tapi ternyata, diam di tengah situasi seperti ini malah bikin kepalaku makin kacau.
Napas mulai terasa pendek.
Bukan karena asap.
Melainkan karena euforia mereka.
Karena godaan. Karena ingin mencicipi rasa itu lagi. Karena perasaan ingin menyerah yang mengetuk-ngetuk, seperti pengemis yang tahu aku lemah.
Tawa Aceng dan teman-temannya makin kencang. Musik makin ga jelas. Suara plastik bergesekan, mereka batuk-batuk berat bersama suara sedotan, dan sesekali bentakan iseng mereka membuatku masuk dalam kegelisahan. Ada yang nyeletuk soal hidup, soal cinta, soal mati. Semua terdengar seperti lelucon buat mereka. Tapi buatku, semua itu terasa dekat dengan kenyataan.
Aku gigit bibir.
Badan seolah berkhianat... tangan dan kakiku mendadak tremor semua. Ada sesuatu yang menarikku untuk ikut sekali lagi saja. Buat lupa. Buat ngilangin sakit di badan ini. Buat berhenti mikirin hidup.
Buat kabur dari rasa kecewa yang gak tahu harus ditaruh di mana.
Dengan mata yang masih terpejam, suara lembut di dalam kepala berbisik lirih: “Kamu yang mana?”
Lagi-lagi suara Tria. Bayangan dirinya pakai jaket gunung warna putih, tersenyum sambil minum cokelat hangat. Menahanku untuk bertahan. Untuk kuat.
Tapi ada suara lain dalam kepalaku yang lebih nyaring:
"Ah, ngapain elu sok kuat?! Udah capek kan?! Tria aja tadi gak dateng. Hidup tuh gak pernah adil. Sekali aja lah. Buat nenangin diri..."
Tubuhku makin menggigil.
Bayangan Tria datang lagi.
Kali ini tanpa kata.
Dia menangis pelan.
Aku ingat lenganku yang memeluknya saat kami di puncak gunung. Kepalanya bersandar di dadaku. Ingat air matanya yang pernah jatuh ke tanganku...
hangat dan basah.
Dan anehnya, rasa itu kembali.
Seperti telapak tanganku sekarang.
Aku maksain bangkit. Cari air putih tapi apesnya galon lagi kosong. Lalu jalan ke belakang niat minum dari wastafel.
Gelas kotor semua.
Aku pakai tangan, minum langsung dari keran kecil di atas ember cuci.
Dan aku balik ke hadapan mereka.
Napasku sedikit tak beraturan. Tubuh masih rada gemetar. Aku berdiri di antara orang-orang yang sudah nggak peduli bahkan pada dirinya sendiri.
Kulihat Aceng, temanku. Sekarang hanya tubuh dengan tawa palsu. Matanya kosong, seperti nunggu giliran buat digerus sama kenyataan.
Aku lalu menepuk pelan pundak Aceng,
“Ceng... Ceng.”
Ia menoleh sekilas. Tatapannya kosong, seperti orang yang tak ingin diganggu. Lalu kembali tenggelam dalam tawa dan asap bersama teman-temannya.
“Gua tau ini kosan lo,” ucapku pelan.
“Gua nggak berhak ngatur.”
Aku berhenti sebentar, menelan ludah.
“Tapi… gua temen lo, Ceng.”
Mereka mendengar.
Tapi yang datang bukan simpati.
Melainkan tawa. Pecah. Keras. Tanpa beban.
Aku berdiri di situ seperti badut.
Sendirian.
Salah satu dari mereka nyeletuk sambil tertawa,
“Lo napa sih, Bang… Gila lo ya.”
Lucu.
Aku dibilang gila oleh orang-orang yang bahkan sedang kehilangan dirinya sendiri.
Kupandangi Aceng lama...
Mencari sisa-sisa dirinya yang utuh.
Tapi matanya menghindar.
Seolah aku tak lebih dari gangguan kecil.
Akhirnya, aku merangkak mundur. Bukan karena kalah. Tapi karena sadar, aku nggak mau ikut terjerumus lagi hanya demi merasa diterima.
Diluar, malam terlihat berawan mendung, banyak petir. Tapi kalau aku terus disini, aku bisa saja terjerat menjadi mayat hidup lagi.
Sekali lagi aku tepuk Aceng,
“Ceng... Gua mau jalan keluar nih, ke warkop yuk. Gua traktir makan mie.”
Aceng mendengar dan menoleh ke arahku, jari nya menunjuk ke wajahku...
“Hahahaha... Warkop, kopdar... Kendi, traktir.”
Ia cekikikan dan kata-kata ngawur itu jatuh berantakan dari mulutnya.
Teman-temannya ikut tertawa. Makin gila. Makin jenaka.
Mereka pikir aku sedang melucu. Padahal aku sedang bertahan.
Ingin rasanya aku tendang semua alat itu, botol, serpihan, apa pun... agar bisa tenang malam ini. Ingin sekali aku bikin keributan walau tahu ini bukan rumahku. Tapi aku tahan. Aku masih memandang Aceng temanku. Malam ini… dia bukan dirinya.
Kupungut jaketku. Kuambil charger handphone dari dalam tas. Lalu berjalan menuju pintu, membukanya perlahan, dan menutupnya lebih pelan lagi.
Di tangga, aku makin larut dalam sesak. Aku yang tadinya berharap pulang bisa tenang, curhat, ngopi bareng Aceng. Tapi yang kutemui malah kepungan kesalahan masa lalu.
Meski begitu, aku tak pantas membencinya.
Mungkin dulu, aku adalah salah satu dari mereka.
Dan sekarang... aku sedang berjalan bersama diriku yang ingin menjadi manusia seutuhnya.
Walau rasanya, hatiku dipukuli habis-habisan oleh kehampaan.
Ya, kayak lagu. Lagu apa? Entahlah. Sedih atau ceria, aku sendiri nggak tahu. Batinku serasa kusut, nggak karuan, bahkan buat nebak suasana lagu pun rasanya males.
Malam ini, pikiranku terasa seperti debu, melayang entah ke mana, tanpa arah, tanpa ada yang peduli. Dan perasaanku masih tertinggal di restoran tadi, di bangku kayu yang kosong, di meja makan yang tak menampilkan apa pun selain rasa hampa.
Tubuhku lelah, hanya bisa bersandar di kursi panjang kereta. Kadang ikut berayun pelan mengikuti lajunya. Pandanganku menatap kosong ke arah lampu diatas. Lampu yang sepertinya sudah bosan melihat manusia terluka.
Sinar putih terang di langit-langit kereta itu pun balik menyorotiku dari atas, tajam, dingin, sok bijak.
Seolah berkata,
"Yaelah lo, Cil… Baru digituin aja udah ngerasa paling kehilangan dunia. Cemen lu."
Aku geleng kepala.
Mengucek mata yang mulai berat.
Mencoba keluar dari pikiran-pikiran aneh ini, pikiran yang seringkali lebih jahat dari kenyataan itu sendiri.
Meskipun belum bisa sepenuhnya menerima apa yang terjadi hari ini, aku tetap mencoba menata napas.
Tria... Kamu kemana? Kenapa? Aku benar-benar nggak tahu.
Di dalam hati, perasaanku campur aduk, antara sedih, bingung, juga cemas.
Aku melirik layar ponsel yang baterainya tinggal sepuluh persen, malah tambah bikin runtuh. Tak ada satu pun balasan dari Tria. Hening. Seperti ditelan sesuatu yang lebih luas dari Himalaya di tengah malam.
"Ya udahlah..." batinku mencoba pasrah, walau sebenarnya tak sanggup.
Kupikir, sampai kosan nanti enaknya ngerokok, nyeduh kopi hitam, lalu duduk bareng Aceng sembari ngobrol. Curhat sama dia mungkin bisa sedikit nenangin kepala.
Jam sudah hampir tengah malam. Aku lega karena akhirnya sampai juga.
Saat langkahku mendekat ke kosan. Aku terkejut, karena suara musik terdengar, bercampur tawa dan suara denting beling.
Perasaanku mendadak tidak enak. Tapi aku tetap naik, menapaki tangga usang dengan kaki yang sudah sangat lelah. Mendorong pintu yang tidak dikunci.
Ruangan kecil itu dipenuhi asap. Aceng duduk di pojok, matanya terlihat kencang, tapi bukan tatapan aslinya. Tertawa bersama tiga orang lain yang tidak aku kenal. Salah satunya cewek, tiduran di lantai pakai jaket jeans, ketawa ketiwi sendiri.
Di tengah ruangan, botol plastik bekas dipotong jadi alat isap. Di dekatnya, serabut tembakau aneh berserakan, bercampur serpihan bubuk lain yang baunya kayak lorong rumah sakit.
“Wey Rahmat... akhirnya pulang juga lo!” sapa Aceng, setengah dirinya.
Aku hanya mengangguk pelan, rasanya kayak ditonjok sesuatu yang nggak keliatan.
“Gue numpang tidur ya,” suaraku melemah.
Tak ada yang benar-benar menanggapi.
Musik justru diputar lebih keras. Tawa pecah lagi, liar, seolah keberadaanku cuma angin lewat.
Tak peduli satu-satunya orang waras di ruangan ini sedang mencoba menyusun ulang hatinya yang baru saja remuk.
Aku rebahan di sudut kosong dekat jendela. Tas kugunakan sebagai bantal, jaket kugulung menutupi wajah. Kupikir, mungkin aku bisa memejamkan mata sebentar. Sekadar berhenti berpikir. Sekadar diam.
Tapi ternyata, diam di tengah situasi seperti ini malah bikin kepalaku makin kacau.
Napas mulai terasa pendek.
Bukan karena asap.
Melainkan karena euforia mereka.
Karena godaan. Karena ingin mencicipi rasa itu lagi. Karena perasaan ingin menyerah yang mengetuk-ngetuk, seperti pengemis yang tahu aku lemah.
Tawa Aceng dan teman-temannya makin kencang. Musik makin ga jelas. Suara plastik bergesekan, mereka batuk-batuk berat bersama suara sedotan, dan sesekali bentakan iseng mereka membuatku masuk dalam kegelisahan. Ada yang nyeletuk soal hidup, soal cinta, soal mati. Semua terdengar seperti lelucon buat mereka. Tapi buatku, semua itu terasa dekat dengan kenyataan.
Aku gigit bibir.
Badan seolah berkhianat... tangan dan kakiku mendadak tremor semua. Ada sesuatu yang menarikku untuk ikut sekali lagi saja. Buat lupa. Buat ngilangin sakit di badan ini. Buat berhenti mikirin hidup.
Buat kabur dari rasa kecewa yang gak tahu harus ditaruh di mana.
Dengan mata yang masih terpejam, suara lembut di dalam kepala berbisik lirih: “Kamu yang mana?”
Lagi-lagi suara Tria. Bayangan dirinya pakai jaket gunung warna putih, tersenyum sambil minum cokelat hangat. Menahanku untuk bertahan. Untuk kuat.
Tapi ada suara lain dalam kepalaku yang lebih nyaring:
"Ah, ngapain elu sok kuat?! Udah capek kan?! Tria aja tadi gak dateng. Hidup tuh gak pernah adil. Sekali aja lah. Buat nenangin diri..."
Tubuhku makin menggigil.
Bayangan Tria datang lagi.
Kali ini tanpa kata.
Dia menangis pelan.
Aku ingat lenganku yang memeluknya saat kami di puncak gunung. Kepalanya bersandar di dadaku. Ingat air matanya yang pernah jatuh ke tanganku...
hangat dan basah.
Dan anehnya, rasa itu kembali.
Seperti telapak tanganku sekarang.
Aku maksain bangkit. Cari air putih tapi apesnya galon lagi kosong. Lalu jalan ke belakang niat minum dari wastafel.
Gelas kotor semua.
Aku pakai tangan, minum langsung dari keran kecil di atas ember cuci.
Dan aku balik ke hadapan mereka.
Napasku sedikit tak beraturan. Tubuh masih rada gemetar. Aku berdiri di antara orang-orang yang sudah nggak peduli bahkan pada dirinya sendiri.
Kulihat Aceng, temanku. Sekarang hanya tubuh dengan tawa palsu. Matanya kosong, seperti nunggu giliran buat digerus sama kenyataan.
Aku lalu menepuk pelan pundak Aceng,
“Ceng... Ceng.”
Ia menoleh sekilas. Tatapannya kosong, seperti orang yang tak ingin diganggu. Lalu kembali tenggelam dalam tawa dan asap bersama teman-temannya.
“Gua tau ini kosan lo,” ucapku pelan.
“Gua nggak berhak ngatur.”
Aku berhenti sebentar, menelan ludah.
“Tapi… gua temen lo, Ceng.”
Mereka mendengar.
Tapi yang datang bukan simpati.
Melainkan tawa. Pecah. Keras. Tanpa beban.
Aku berdiri di situ seperti badut.
Sendirian.
Salah satu dari mereka nyeletuk sambil tertawa,
“Lo napa sih, Bang… Gila lo ya.”
Lucu.
Aku dibilang gila oleh orang-orang yang bahkan sedang kehilangan dirinya sendiri.
Kupandangi Aceng lama...
Mencari sisa-sisa dirinya yang utuh.
Tapi matanya menghindar.
Seolah aku tak lebih dari gangguan kecil.
Akhirnya, aku merangkak mundur. Bukan karena kalah. Tapi karena sadar, aku nggak mau ikut terjerumus lagi hanya demi merasa diterima.
Diluar, malam terlihat berawan mendung, banyak petir. Tapi kalau aku terus disini, aku bisa saja terjerat menjadi mayat hidup lagi.
Sekali lagi aku tepuk Aceng,
“Ceng... Gua mau jalan keluar nih, ke warkop yuk. Gua traktir makan mie.”
Aceng mendengar dan menoleh ke arahku, jari nya menunjuk ke wajahku...
“Hahahaha... Warkop, kopdar... Kendi, traktir.”
Ia cekikikan dan kata-kata ngawur itu jatuh berantakan dari mulutnya.
Teman-temannya ikut tertawa. Makin gila. Makin jenaka.
Mereka pikir aku sedang melucu. Padahal aku sedang bertahan.
Ingin rasanya aku tendang semua alat itu, botol, serpihan, apa pun... agar bisa tenang malam ini. Ingin sekali aku bikin keributan walau tahu ini bukan rumahku. Tapi aku tahan. Aku masih memandang Aceng temanku. Malam ini… dia bukan dirinya.
Kupungut jaketku. Kuambil charger handphone dari dalam tas. Lalu berjalan menuju pintu, membukanya perlahan, dan menutupnya lebih pelan lagi.
Di tangga, aku makin larut dalam sesak. Aku yang tadinya berharap pulang bisa tenang, curhat, ngopi bareng Aceng. Tapi yang kutemui malah kepungan kesalahan masa lalu.
Meski begitu, aku tak pantas membencinya.
Mungkin dulu, aku adalah salah satu dari mereka.
Dan sekarang... aku sedang berjalan bersama diriku yang ingin menjadi manusia seutuhnya.
Walau rasanya, hatiku dipukuli habis-habisan oleh kehampaan.
Diubah oleh sipanjangnapas3 25-01-2026 18:51
Herisyahrian dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup