- Beranda
- Stories from the Heart
Titik Yang Benar
...
TS
sipanjangnapas3
Titik Yang Benar
Genre : Romance/Adventure/Spiritual/Drama
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Pacing : Slowburn (47 part)
Category : [18+]

Coba bayangin... Di suatu titik dalam hidupmu yang sedang baik-baik aja, kamu tanpa sengaja menatap ke arah langit di malam hari, melihat bintang bertebaran, tak terhitung. Tapi kamu ga peduli. Menyematkan keyakinan kalau tiap hari langit memang seperti itu. Kecuali pas mendung.
Lalu di suatu titik, saat hidupmu lagi depresi, kosong, ancur, ga punya harapan, kamu sengaja keluar tengah malam. Entah jam dua, jam tiga, jam satu, cuma buat tenangin diri dan noleh moment itu lagi. Tapi apa? Kamu cuma lihat satu bintang, bersinar sendirian di tengah hamparan gelap.
Mungkin kamu semestinya tersenyum, karena yang kamu lihat bukan cuma bintang, melainkan refleksi dirimu sendiri. Ada kekuatan di semesta ini yang mau bilang ke kamu, saat kamu udah kehilangan banyak cahaya, kamu cuma perlu jadi seperti bintang itu, karena cahaya itu sendiri sebenarnya sudah ada di dalam hati kamu.
Ya, aku bisa bilang ini karena aku sudah pernah melewatinya. Dan aku disini bukan untuk omong kosong belaka, bukan hanya sekadar curhat atau menggores halaman dengan kata.
Aku cuma ingin menemani kamu. Kalau kamu sedang merasa gak baik-baik aja, atau butuh tempat untuk diam dan meresapi...
Jika kamu tertarik sama hal-hal yang gak masuk di akal tapi masuk di hati, atau menyelami cerita yang endingnya ternyata tidak selalu indah, barangkali kamu akan suka untuk singgah disini, di duniaku...sembari ngopi...atau minum cokelat.
Karena indah saja gak akan cukup, perlu cinta yang tulus untuk memaknai apa itu kekuatan, apa itu pelajaran, apa itu kenangan, dan apa itu...
"Tetap hidup"
Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
Chapter 1 A
Chapter 1 B
Chapter 1 C
Chapter 1 D
Chapter 1 E
Chapter 1 F
Chapter 1 G
Chapter 1 H
Chapter 1 I
Chapter 1 J
Chapter 1 K (penutup chapter 1)
Iwan fals - Mata hati
Chapter 2 A
Chapter 2 B
Chapter 2 C
Chapter 2 D
Chapter 2 E
Chapter 2 F
Chapter 2 G
Chapter 2 H
Chapter 2 I
Chapter 2 J
Slank - # 1
Chapter 2 K
Chapter 2 L
Chapter 2 M
Chapter 2 N
Chapter 2 O
Chapter 2 P
Chapter 2 Q
Chapter 2 R
Chapter 2 S
Chapter 2 T
Chapter 2 U
Chapter 2 V
Chapter 2 W
Chapter 2 X
Chapter 2 Y
Chapter 2 Z (penutup chapter 2)
Rusa Militan - Senandung Senja
Chapter 3 A
Chapter 3 B
Chapter 3 C
Chapter 3 D
Chapter 3 E
Iwan Fals - Masih Bisa Cinta
Chapter 3 F
Chapter 3 G
Chapter 3 H
Chapter 3 I
Chapter 3 J / EPILOG
Sun Kil Moon - Carry Me, Ohio
Sorry for...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Never going by your door
Never feeling love like that
Anymore...
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 08:51
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
89
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sipanjangnapas3
#57
Chapter 3 G
Shift malam...
Asap kopi menguap pelan di udara, membentuk garis putih yang membumbung perlahan. Aku duduk bersila di lantai, memandangi gelas plastik yang sengaja ku letakkan di atas meja kecil, yang hanya berjarak sejengkal dari mataku.
Daffa, di ruangan yang sama denganku, sibuk chattingan lewat ponsel. Sesekali ia ikut bernyanyi kecil mengiringi lagu-lagu The Smiths yang sedang ia putar dari speaker bluetooth, lagaknya persis anak muda yang baru merasakan jatuh cinta. Aku tahu, bocah itu sedang dekat dengan seorang SPG butik di lantai dua. Sesekali ia nyeletuk, membagikan kisah serunya padaku, bahkan meminta tips PDKT dengan antusias.
Aku yang lebih dewasa... menimpali sebisaku, mencoba terdengar seramah mungkin. Namun jauh di dalam kepala, pikiranku sedang berkutat pada hal yang sama sekali berbeda. Daffa sedang belajar mengejar kehangatan, sedangkan aku sibuk menahan retak.
.......Take me out tonight,
Take me anywhere,
I don't care, I don't care, I don't care,
And in the darkened underpass,
I thought, 'Oh God, my chance has come at last!'
But then a strange fear gripped me
And I just couldn't ask.......
Suara itu menggema di udara, menyusup keheningan, seolah merayap pada dinding-dinding kusam dalam ruangan pengap ini.
Dering ponsel di meja memecah lamunanku. Aku meraihnya dan membuka layar.
Tria.
Jam digital menunjukkan 23:57. Tria meneleponku lewat WA. Aku sempat terkejut, tak tahu kenapa ia menelepon di jam segini, padahal WA terakhirku sore tadi pun belum ia balas.
Daffa otomatis mengecilkan volume musik.
Menghargai aku yang hendak berbicara.
"Halo..." ucapku pelan.
”Kamu di tempat kerja, kan? Sibuk nggak?"
"Hmm... nggak sibuk sih. Kamu tumben nelpon, belum tidur?" balasku.
"Kamu bisa keluar nggak, aku di depan, nih."
"Di depan mana?" tanyaku makin bingung.
"Di depan mall... aku dipinggir jalan."
"Kamu kesini?" suaraku ikut berubah, seolah tak percaya.
"Hmm, iya."
"Aku nggak jauh dari gerbang lobby timur, Mat."
"Tunggu." pintaku.
******
Ketika aku melewati gerbang mall, udara dingin langsung menyergap, habis hujan sepertinya. Jalanan pun tampak sepi, hanya gelap dan angin malam yang bertiup pekat menyelimuti suasana. Aku celingak-celinguk mencari sosoknya. Hingga suara klakson pelan, disusul kedipan lampu dari mobilnya di sisi jalan sana membuatku menoleh. Itu Tria. Aku pun mendekat perlahan.
Aku segera masuk ke dalam, duduk di kursi depan di sebelahnya. Hawa dingin di luar tadi langsung tergantikan oleh kehangatan kabin mobil yang lumayan kedap. Sunyi seakan mendominasi, hanya suara 'Tik' berulang-ulang dari relai lampu hazard yang belum ia matikan, seolah jadi latar bagi pertemuan kami malam itu.
“Kamu... dari mana?” tanyaku pelan.
“Aku langsung ke sini dari rumah,” jawabnya sambil tersenyum ramah menyambutku.
“Ini udah malam banget, rumah kamu jauh. Nanti pulangnya gimana?” tanyaku lagi. Agak cemas.
Ia menjawab santai.
“Ga usah khawatir. Nanti aku pulang ya tinggal pulang.”
Mataku memperhatikan penampilannya. Ia memang tampak baru keluar dari rumah. Dengan kaos sederhana dan celana hotpants, pakaian sehari-hari yang biasa dipakainya saat bersantai.
Tangan yang sejak tadi bertumpu di setir akhirnya ia lepas. Seatbelt dibuka, tubuhnya berbalik sebentar untuk meraih sesuatu di kursi belakang.
“Aku kesini, mau kasih kado,” ucapnya sambil meletakkan sebuah kotak persegi panjang di pangkuanku. “Kamu kan ulang tahun.”
Aku menatapnya serius, tersentak karena baru sadar kalau sebentar lagi ulang tahunku. Tria melirik jam digital di dashboard, lalu kembali menatapku.
“Wah... udah lewat jam dua belas,” katanya ringan, ada sedikit gemas dalam suaranya.
“Selamat ulang tahun, ya... Beb.”
Ada rasa yang sulit kujelaskan, semacam keajaiban kecil yang tiba-tiba mampir di hidupku lewat gerak sederhana Tria. Aku menggeleng pelan, masih dengan senyum yang tertahan, seakan ingin meyakinkan diriku bahwa momen ini benar-benar nyata.
Aku menatapnya, terkekeh ringan.
“Ternyata kamu bisa sweet juga.”
Tria mengangguk cepat.
“Namanya juga aku. Aku sengaja. Makanya aku kesini.”
“Makasih, Tria,” ucapku akhirnya, pelan tapi tulus. Aku menggenggam tangannya, mencoba meresapi hangat yang lama tak kurasakan.
Ia menyambut genggamanku, pandangan mata kami tak lepas, dan untuk sejenak aku lupa segala retakan yang terasa di antara kami. Hanya ada senyum kecil yang menenangkan, seakan malam ini memberi ruang untuk melupakan jarak yang belakangan ini membatasi hubungan kami.
Aku lalu menatap kotak di pangkuanku. Ia membungkusnya dengan kertas kado warna putih.
“Apa sih isinya?” tanyaku, mencoba terdengar santai, padahal hatiku sedikit berdebar.
“Buka aja. Mudah-mudahan kamu suka,” ujarnya sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
Aku terdiam.
Dengan hati-hati kubuka kertas kado itu, lalu mengangkat tutup kotaknya dan menaruhnya di tepi kursi.
“Wah...” ucapku, reflek begitu saja.
Tanganku mengeluarkan sepasang sepatu jenis tracker, merek yang cukup terkenal di kalangan pendaki profesional. Aku tahu, harganya tidak murah.
Aku menatap benda itu lama, memperhatikan detail demi detail seolah memastikan apa yang kulihat.
“Gimana, kamu suka?” suara Tria terdengar pelan. Ia sedikit mendekat.
Aku belum segera menjawab, hanya sekilas menampilkan senyum tipis.
Awalnya aku memang terpana pada keindahan sepasang sepatu di tanganku. Namun semakin lama kupandang, semakin ada sesuatu yang aneh merayap di kepalaku.
Sepatu?
Senyumku perlahan memudar.
Aku menoleh ke arah Tria, menatap matanya dalam-dalam. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang membuatku bertanya-tanya, apakah ini sekadar hadiah, ataukah ada makna lain yang sedang ia selipkan?
Aku mengenalnya.
Sangat mengenalnya.
Tria bukan orang yang sembarangan memilih sesuatu. Setiap tindakannya punya makna. Dan ia pun tahu, aku bukan orang yang bisa menelan sesuatu begitu saja tanpa membaca makna di baliknya.
Aku mulai ragu… seolah ada sesuatu dari dalam diriku yang sengaja dibangunkan.
Kalau hadiah ini memang apa adanya, mengapa harus sepatu? Bukankah ia tahu, sepatu bisa berarti langkah, bisa berarti jarak… bisa berarti kepergian?
Pun, jika memang tak ada maksud apa-apa, betapa polos dan cerobohnya ia memilih sesuatu yang justru menyalakan tanda tanya di kepalaku.
Terlebih di tengah hubungan dan komunikasi kami yang belakangan ini kian renggang.
Lalu apa maksudnya?
Apakah ia ingin mengungkapkan sesuatu tanpa kata-kata?
“Mat,” suaranya memecah sunyi. “Kamu nggak suka, ya?”
Aku tersentak sebentar, lalu menjawab dengan suara yang sedikit bergetar,
“Aku... suka kok sepatu dari kamu.”
Kalimat itu terlontar begitu saja, tapi di dalam hati aku masih sibuk menimbang-nimbang. Berusaha berpikir jernih. Apa arti dari semua kehadirannya malam ini? Senyum yang tiba-tiba, hadiah yang penuh simbol.
Aku menghela napas panjang.
Rasanya semua keresahan semakin menumpuk, saling berebut untuk keluar, namun belum yang benar-benar kuizinkan.
Mataku tak lepas. Aku mengambil jeda sejenak. Memperhatikan dirinya dari ujung kaki ke ujung kepala.
Dalam hati, aku bertanya pada diriku sendiri...
Apakah aku sudah siap menerima semua kemungkinan terburuk apabila aku bicara serius padanya saat ini?
Siap mendengar kenyataan yang mungkin tak ingin kudengar. Siap menanggung jawaban pahit kalau ternyata sikap baiknya malam ini menyiratkan makna, dan kado itu adalah pesan pertanda darinya, bahwa ia memang ingin aku pergi.
Sementara itu, suara 'tik...tik...tik' lampu hazard terus terdengar di antara kami,
terdengar berulang-ulang...
Semakin lama aku mendengarnya, semakin aku merasa detik demi detik ini mengharuskanku mengambil keputusan.
Dan akhirnya, tanpa bisa kutahan...
Aku bertanya...
“Maksudnya kamu kasih aku sepatu...” suaraku lirih, tapi tegas.
“Kamu pengen aku cepat-cepat pergi dari hidup kamu?”
“Gitu maksudnya?”
Tria terdiam seketika.
Seluruh kehangatan di wajahnya lenyap, berganti dengan sorot mata yang basah dan rapuh, seakan ia baru saja melihat jurang menganga di hadapan kami.
Tria tak mengatakan apa-apa.
Hanya menunduk,
Bahunya seperti naik-turun menahan tangis.
Dan benar saja, seperti biasa...
tak lama kemudian sisi lemahnya tumpah. Air matanya jatuh cepat, membasahi pipinya yang putih.
“Kamu tinggal jawab aja. Bener tentang kado ini?” kataku, suaraku ikut bergetar.
Tria malah terisak.
Aku menarik napas dalam-dalam, seakan ingin menahan semua yang hendak meledak. Tapi keresahan itu tetap keluar, lebih dari yang kutahan...
“Aku mau tahu, kenapa kamu berubah, Beb? Kenapa kamu tolak lamaran aku? Kenapa... belakangan ini kamu dingin banget sama aku? Kamu sadar nggak sih?!”
Tria merapatkan tubuhnya dan langsung memelukku erat, seolah mencari tempat berpegangan di tengah badai yang sedang kami rasakan. Aku refleks merenggangkan tubuh, berusaha menjauh, namun dekapan itu tetap ia paksakan, makin erat seperti tak ingin ada jarak di antara kami.
“Maafin aku ya.” bisiknya.
“Kalo kamu masih nggak mau jelasin semuanya, mending lepasin,” balasku lirih, seperti menahan amarah.
“Maafin aku.” hanya kata itu lagi yang keluar dari bibirnya, entah mengapa.
Aku terdiam beberapa saat, lalu perlahan mengembalikan tubuhnya dengan lembut ke posisi semula, melepaskan pelukan itu meski terasa berat.
“Rahmat...” suaranya keluar akhirnya,
“kamu emang bener tentang sepatu ini. Tapi nggak sepenuhnya bener juga...”
ia mengusap air mata cepat-cepat.
“Aku sengaja kasih kamu ini, agar nanti kalau kita udah nggak bareng lagi, aku harap kamu tetep melangkah, Mat.”
“Aku cuma mau itu.”
Aku terperangah mendengarnya.
Rasanya seperti ada petir yang menyambar ke dalam hatiku. Bukan petir api, bukan pula petir tajam yang biasa merobek langit, melainkan sebuah kilatan dingin, beku, ambigu...
Kata-katanya tadi seolah menghentikan waktu,
menghadirkan ruang hampa yang menganga.
Untuk sesaat aku benar-benar termangu, karena dari inti ucapannya aku merasakan satu hal... kebersamaan yang sudah kami jalani sampai titik ini… bisa jadi memang tak pernah ditakdirkan selamanya.
“Kamu... kenapa, Tria?” suaraku terdengar berat, hampir serak. “Kamu ngomong begitu… emang kamu udah bener-bener siap ninggalin aku? Segampang itu?”
Ada bagian dalam diriku yang ingin marah, ingin berteriak agar ia menarik kembali penjelasannya barusan. Tapi ada pula bagian yang hanya bisa terdiam, tersungkur oleh rasa takut. Takut kalau semua ini memang benar, kalau aku hanya sedang mendengar sebuah pengakuan yang terlambat.
Jemari tangannya meremas-remas tisu yang sudah kuyup oleh air mata.
“Aku nggak pernah anggap kamu gampang, Mat,” katanya pelan, bergetar. “Justru karena kamu berarti... aku nggak mau kamu ikut hancur di jalan yang udah aku pilih.”
Aku menggeleng pelan, menarik napas yang terasa panjang dan berat. Kakiku terasa gemetar, bukan hanya karena rapuh menahan sesak, tapi karena aku semakin tak sanggup berlama-lama di dalam mobilnya ini. Setiap ucapan yang meluncur darinya barusan terasa seperti ketidakpastian yang terus menggerogoti semua yang sudah kami bangun dengan susah payah.
Pelan, aku menarik tuas pintu.
Bunyi kecil saat pintu terlepas dari kuncinya membuat Tria tersentak.
Ia sempat mendekat, seolah ingin menghentikanku, menahan agar aku tetap di dalam mobil.
Tapi aku, menepis tangannya.
“Makasih kadonya,” ucapku singkat sambil tetap melangkah keluar.
Sepatu pemberiannya kupeluk erat,
seolah benda itu lebih jujur daripada semua kata yang baru saja terucap.
Pintu kututup rapat.
Udara dingin serta heningnya malam langsung menampar keras wajahku.
Malam itu...
Aku berjalan cepat,
kembali masuk ke dalam mall tempatku bekerja.
Meninggalkannya di dalam mobil yang aku tidak tahu masih berisi tangis atau hanya sunyi.
Asap kopi menguap pelan di udara, membentuk garis putih yang membumbung perlahan. Aku duduk bersila di lantai, memandangi gelas plastik yang sengaja ku letakkan di atas meja kecil, yang hanya berjarak sejengkal dari mataku.
Daffa, di ruangan yang sama denganku, sibuk chattingan lewat ponsel. Sesekali ia ikut bernyanyi kecil mengiringi lagu-lagu The Smiths yang sedang ia putar dari speaker bluetooth, lagaknya persis anak muda yang baru merasakan jatuh cinta. Aku tahu, bocah itu sedang dekat dengan seorang SPG butik di lantai dua. Sesekali ia nyeletuk, membagikan kisah serunya padaku, bahkan meminta tips PDKT dengan antusias.
Aku yang lebih dewasa... menimpali sebisaku, mencoba terdengar seramah mungkin. Namun jauh di dalam kepala, pikiranku sedang berkutat pada hal yang sama sekali berbeda. Daffa sedang belajar mengejar kehangatan, sedangkan aku sibuk menahan retak.
.......Take me out tonight,
Take me anywhere,
I don't care, I don't care, I don't care,
And in the darkened underpass,
I thought, 'Oh God, my chance has come at last!'
But then a strange fear gripped me
And I just couldn't ask.......
Suara itu menggema di udara, menyusup keheningan, seolah merayap pada dinding-dinding kusam dalam ruangan pengap ini.
Dering ponsel di meja memecah lamunanku. Aku meraihnya dan membuka layar.
Tria.
Jam digital menunjukkan 23:57. Tria meneleponku lewat WA. Aku sempat terkejut, tak tahu kenapa ia menelepon di jam segini, padahal WA terakhirku sore tadi pun belum ia balas.
Daffa otomatis mengecilkan volume musik.
Menghargai aku yang hendak berbicara.
"Halo..." ucapku pelan.
”Kamu di tempat kerja, kan? Sibuk nggak?"
"Hmm... nggak sibuk sih. Kamu tumben nelpon, belum tidur?" balasku.
"Kamu bisa keluar nggak, aku di depan, nih."
"Di depan mana?" tanyaku makin bingung.
"Di depan mall... aku dipinggir jalan."
"Kamu kesini?" suaraku ikut berubah, seolah tak percaya.
"Hmm, iya."
"Aku nggak jauh dari gerbang lobby timur, Mat."
"Tunggu." pintaku.
******
Ketika aku melewati gerbang mall, udara dingin langsung menyergap, habis hujan sepertinya. Jalanan pun tampak sepi, hanya gelap dan angin malam yang bertiup pekat menyelimuti suasana. Aku celingak-celinguk mencari sosoknya. Hingga suara klakson pelan, disusul kedipan lampu dari mobilnya di sisi jalan sana membuatku menoleh. Itu Tria. Aku pun mendekat perlahan.
Aku segera masuk ke dalam, duduk di kursi depan di sebelahnya. Hawa dingin di luar tadi langsung tergantikan oleh kehangatan kabin mobil yang lumayan kedap. Sunyi seakan mendominasi, hanya suara 'Tik' berulang-ulang dari relai lampu hazard yang belum ia matikan, seolah jadi latar bagi pertemuan kami malam itu.
“Kamu... dari mana?” tanyaku pelan.
“Aku langsung ke sini dari rumah,” jawabnya sambil tersenyum ramah menyambutku.
“Ini udah malam banget, rumah kamu jauh. Nanti pulangnya gimana?” tanyaku lagi. Agak cemas.
Ia menjawab santai.
“Ga usah khawatir. Nanti aku pulang ya tinggal pulang.”
Mataku memperhatikan penampilannya. Ia memang tampak baru keluar dari rumah. Dengan kaos sederhana dan celana hotpants, pakaian sehari-hari yang biasa dipakainya saat bersantai.
Tangan yang sejak tadi bertumpu di setir akhirnya ia lepas. Seatbelt dibuka, tubuhnya berbalik sebentar untuk meraih sesuatu di kursi belakang.
“Aku kesini, mau kasih kado,” ucapnya sambil meletakkan sebuah kotak persegi panjang di pangkuanku. “Kamu kan ulang tahun.”
Aku menatapnya serius, tersentak karena baru sadar kalau sebentar lagi ulang tahunku. Tria melirik jam digital di dashboard, lalu kembali menatapku.
“Wah... udah lewat jam dua belas,” katanya ringan, ada sedikit gemas dalam suaranya.
“Selamat ulang tahun, ya... Beb.”
Ada rasa yang sulit kujelaskan, semacam keajaiban kecil yang tiba-tiba mampir di hidupku lewat gerak sederhana Tria. Aku menggeleng pelan, masih dengan senyum yang tertahan, seakan ingin meyakinkan diriku bahwa momen ini benar-benar nyata.
Aku menatapnya, terkekeh ringan.
“Ternyata kamu bisa sweet juga.”
Tria mengangguk cepat.
“Namanya juga aku. Aku sengaja. Makanya aku kesini.”
“Makasih, Tria,” ucapku akhirnya, pelan tapi tulus. Aku menggenggam tangannya, mencoba meresapi hangat yang lama tak kurasakan.
Ia menyambut genggamanku, pandangan mata kami tak lepas, dan untuk sejenak aku lupa segala retakan yang terasa di antara kami. Hanya ada senyum kecil yang menenangkan, seakan malam ini memberi ruang untuk melupakan jarak yang belakangan ini membatasi hubungan kami.
Aku lalu menatap kotak di pangkuanku. Ia membungkusnya dengan kertas kado warna putih.
“Apa sih isinya?” tanyaku, mencoba terdengar santai, padahal hatiku sedikit berdebar.
“Buka aja. Mudah-mudahan kamu suka,” ujarnya sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
Aku terdiam.
Dengan hati-hati kubuka kertas kado itu, lalu mengangkat tutup kotaknya dan menaruhnya di tepi kursi.
“Wah...” ucapku, reflek begitu saja.
Tanganku mengeluarkan sepasang sepatu jenis tracker, merek yang cukup terkenal di kalangan pendaki profesional. Aku tahu, harganya tidak murah.
Aku menatap benda itu lama, memperhatikan detail demi detail seolah memastikan apa yang kulihat.
“Gimana, kamu suka?” suara Tria terdengar pelan. Ia sedikit mendekat.
Aku belum segera menjawab, hanya sekilas menampilkan senyum tipis.
Awalnya aku memang terpana pada keindahan sepasang sepatu di tanganku. Namun semakin lama kupandang, semakin ada sesuatu yang aneh merayap di kepalaku.
Sepatu?
Senyumku perlahan memudar.
Aku menoleh ke arah Tria, menatap matanya dalam-dalam. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang membuatku bertanya-tanya, apakah ini sekadar hadiah, ataukah ada makna lain yang sedang ia selipkan?
Aku mengenalnya.
Sangat mengenalnya.
Tria bukan orang yang sembarangan memilih sesuatu. Setiap tindakannya punya makna. Dan ia pun tahu, aku bukan orang yang bisa menelan sesuatu begitu saja tanpa membaca makna di baliknya.
Aku mulai ragu… seolah ada sesuatu dari dalam diriku yang sengaja dibangunkan.
Kalau hadiah ini memang apa adanya, mengapa harus sepatu? Bukankah ia tahu, sepatu bisa berarti langkah, bisa berarti jarak… bisa berarti kepergian?
Pun, jika memang tak ada maksud apa-apa, betapa polos dan cerobohnya ia memilih sesuatu yang justru menyalakan tanda tanya di kepalaku.
Terlebih di tengah hubungan dan komunikasi kami yang belakangan ini kian renggang.
Lalu apa maksudnya?
Apakah ia ingin mengungkapkan sesuatu tanpa kata-kata?
“Mat,” suaranya memecah sunyi. “Kamu nggak suka, ya?”
Aku tersentak sebentar, lalu menjawab dengan suara yang sedikit bergetar,
“Aku... suka kok sepatu dari kamu.”
Kalimat itu terlontar begitu saja, tapi di dalam hati aku masih sibuk menimbang-nimbang. Berusaha berpikir jernih. Apa arti dari semua kehadirannya malam ini? Senyum yang tiba-tiba, hadiah yang penuh simbol.
Aku menghela napas panjang.
Rasanya semua keresahan semakin menumpuk, saling berebut untuk keluar, namun belum yang benar-benar kuizinkan.
Mataku tak lepas. Aku mengambil jeda sejenak. Memperhatikan dirinya dari ujung kaki ke ujung kepala.
Dalam hati, aku bertanya pada diriku sendiri...
Apakah aku sudah siap menerima semua kemungkinan terburuk apabila aku bicara serius padanya saat ini?
Siap mendengar kenyataan yang mungkin tak ingin kudengar. Siap menanggung jawaban pahit kalau ternyata sikap baiknya malam ini menyiratkan makna, dan kado itu adalah pesan pertanda darinya, bahwa ia memang ingin aku pergi.
Sementara itu, suara 'tik...tik...tik' lampu hazard terus terdengar di antara kami,
terdengar berulang-ulang...
Semakin lama aku mendengarnya, semakin aku merasa detik demi detik ini mengharuskanku mengambil keputusan.
Dan akhirnya, tanpa bisa kutahan...
Aku bertanya...
“Maksudnya kamu kasih aku sepatu...” suaraku lirih, tapi tegas.
“Kamu pengen aku cepat-cepat pergi dari hidup kamu?”
“Gitu maksudnya?”
Tria terdiam seketika.
Seluruh kehangatan di wajahnya lenyap, berganti dengan sorot mata yang basah dan rapuh, seakan ia baru saja melihat jurang menganga di hadapan kami.
Tria tak mengatakan apa-apa.
Hanya menunduk,
Bahunya seperti naik-turun menahan tangis.
Dan benar saja, seperti biasa...
tak lama kemudian sisi lemahnya tumpah. Air matanya jatuh cepat, membasahi pipinya yang putih.
“Kamu tinggal jawab aja. Bener tentang kado ini?” kataku, suaraku ikut bergetar.
Tria malah terisak.
Aku menarik napas dalam-dalam, seakan ingin menahan semua yang hendak meledak. Tapi keresahan itu tetap keluar, lebih dari yang kutahan...
“Aku mau tahu, kenapa kamu berubah, Beb? Kenapa kamu tolak lamaran aku? Kenapa... belakangan ini kamu dingin banget sama aku? Kamu sadar nggak sih?!”
Tria merapatkan tubuhnya dan langsung memelukku erat, seolah mencari tempat berpegangan di tengah badai yang sedang kami rasakan. Aku refleks merenggangkan tubuh, berusaha menjauh, namun dekapan itu tetap ia paksakan, makin erat seperti tak ingin ada jarak di antara kami.
“Maafin aku ya.” bisiknya.
“Kalo kamu masih nggak mau jelasin semuanya, mending lepasin,” balasku lirih, seperti menahan amarah.
“Maafin aku.” hanya kata itu lagi yang keluar dari bibirnya, entah mengapa.
Aku terdiam beberapa saat, lalu perlahan mengembalikan tubuhnya dengan lembut ke posisi semula, melepaskan pelukan itu meski terasa berat.
“Rahmat...” suaranya keluar akhirnya,
“kamu emang bener tentang sepatu ini. Tapi nggak sepenuhnya bener juga...”
ia mengusap air mata cepat-cepat.
“Aku sengaja kasih kamu ini, agar nanti kalau kita udah nggak bareng lagi, aku harap kamu tetep melangkah, Mat.”
“Aku cuma mau itu.”
Aku terperangah mendengarnya.
Rasanya seperti ada petir yang menyambar ke dalam hatiku. Bukan petir api, bukan pula petir tajam yang biasa merobek langit, melainkan sebuah kilatan dingin, beku, ambigu...
Kata-katanya tadi seolah menghentikan waktu,
menghadirkan ruang hampa yang menganga.
Untuk sesaat aku benar-benar termangu, karena dari inti ucapannya aku merasakan satu hal... kebersamaan yang sudah kami jalani sampai titik ini… bisa jadi memang tak pernah ditakdirkan selamanya.
“Kamu... kenapa, Tria?” suaraku terdengar berat, hampir serak. “Kamu ngomong begitu… emang kamu udah bener-bener siap ninggalin aku? Segampang itu?”
Ada bagian dalam diriku yang ingin marah, ingin berteriak agar ia menarik kembali penjelasannya barusan. Tapi ada pula bagian yang hanya bisa terdiam, tersungkur oleh rasa takut. Takut kalau semua ini memang benar, kalau aku hanya sedang mendengar sebuah pengakuan yang terlambat.
Jemari tangannya meremas-remas tisu yang sudah kuyup oleh air mata.
“Aku nggak pernah anggap kamu gampang, Mat,” katanya pelan, bergetar. “Justru karena kamu berarti... aku nggak mau kamu ikut hancur di jalan yang udah aku pilih.”
Aku menggeleng pelan, menarik napas yang terasa panjang dan berat. Kakiku terasa gemetar, bukan hanya karena rapuh menahan sesak, tapi karena aku semakin tak sanggup berlama-lama di dalam mobilnya ini. Setiap ucapan yang meluncur darinya barusan terasa seperti ketidakpastian yang terus menggerogoti semua yang sudah kami bangun dengan susah payah.
Pelan, aku menarik tuas pintu.
Bunyi kecil saat pintu terlepas dari kuncinya membuat Tria tersentak.
Ia sempat mendekat, seolah ingin menghentikanku, menahan agar aku tetap di dalam mobil.
Tapi aku, menepis tangannya.
“Makasih kadonya,” ucapku singkat sambil tetap melangkah keluar.
Sepatu pemberiannya kupeluk erat,
seolah benda itu lebih jujur daripada semua kata yang baru saja terucap.
Pintu kututup rapat.
Udara dingin serta heningnya malam langsung menampar keras wajahku.
Malam itu...
Aku berjalan cepat,
kembali masuk ke dalam mall tempatku bekerja.
Meninggalkannya di dalam mobil yang aku tidak tahu masih berisi tangis atau hanya sunyi.
Diubah oleh sipanjangnapas3 26-01-2026 04:22
Herisyahrian dan regmekujo memberi reputasi
2