- Beranda
- Stories from the Heart
Ngalor-Ngetan
...
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan

NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu
Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.
Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini
. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca 
Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.
"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.
"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.
"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?
"Bukan itu, Mbak."
"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?
"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.
"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.
"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."
"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.
"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.
"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.
"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.
Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.
"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.
"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.
"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.
Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.
Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.
"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.
"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.
"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.
"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.
"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.
"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.
Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.
"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.
"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."
Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.
"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.
"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.
"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.
"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.
“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.
Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.
"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.
"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.
"Saya tidak papa," jawabnya singkat.
"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.
Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.
Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.
Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.
"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.
Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.
Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?
Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.
"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.
"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.
Sumber gambar : Google and PistArt
Quote:
Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Visiliya123
#96
Ngalor Ngetan
Zein yang Berbeda
Ada rasa yang berbeda setelah mengetahui kabar bahwa dia hamil. Di satu sisi Rumi bahagia, karena buah cintanya dengan Zein telah hadir. Tapi ada rasa takut yang menyelinap di hatinya. Entah atas dasar apa, Rumi bingung menjelaskannya.
Zein telah bekerja keras untuk mengambil hati Rumi kembali setelah kejadian yang lalu. Rumi yang suka membuat drama akibat bawan hamil tentu saja sangat mempersulit Zein. Namun, tekat yang kuat akhirnya dapat meluluhkan hati sang istri.
Rumi yang tengah merapikan tempat tidur tersentak, ketika tangan kekar melilit pinggangnya dari belakang. Sebuah kecupan bertubi-tubi ia dapatkan di bagian leher, juga pipinya, hingga membuat wanita itu mengeluh geli karena rambut yang ada di dagu si pelaku menggelitik kulitnya.
“Zein, lepas!”
Bukannya melepas, pria yang berstatus sebagai suaminya itu malah semakin gencar melakukan aksinya. Rumi hanya bisa tersenyum ketika pelukan sang suami semakin erat saja. Wanita itu mengusap lembut tangan yang melingkari perutnya yang terlihat masih rata.
Aroma singkong bakar kini memenuhi indra penciuman Rumi. Wanita yang tengah hamil empat bulan itu tiba-tiba merasa mual kerena tengah sensitif terhadap bau-bauan. Dia sedikit berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Zein yang berdecak sebal karena ditinggalkan begitu saja.
Rumi memuntahkan seluruh isi perutnya di kamar mandi, perutnya begitu sakit. Sesuatu di dalam seperti diaduk-aduk, lalu diputar-putar dengan ritme yang sangat cepat.
Tubuh Rumi mendadak lemas, dibasuhnya seluruh wajah yang terlihat pucat itu. Terasa aneh, bagaimana aroma singkong bakar begitu tercium kuat, padahal kamar dan rumahnya telah tertutup rapat. Lagipula, siapa yang membakar singkong di malam yang menjelang pada puncaknya ini? Apa mungkin ... ada genderuwo? Ah, tidak-tidak, semua itu hanya omong kosong. Pikir Rumi.
Suara kambing yang mengembek kini mengagetkan Rumi, hingga membuatnya mengelus dada juga perutnya, berharap bayi dalam rahimnya tidak ikut terkejut karenanya. Wanita itu kemudian berdecak. Ada apalagi sekarang? Mengapa kambing itu ikut membuat masalah sekarang ini?
Rumi kembali ke kamar, berniat memanggil Zein.
“Zein.”
Wanita itu kembali mengernyit ketika tak menemukan sang suami di kamar. Lagi-lagi decakan sebal lolos dari bibir tipis wanita itu. Ke mana Zein pergi? Buakankah Rumi hanya meninggalkannya sebentar? Lagipula ini sudah malam, ke mana Zein akan pergi? Mungkinkah dia tengah ke belakang rumah, untuk mengecek kambing yang masih saja mengembek dengan kerasnya?
Tak mau bertanya-tanya lebih lama lagi, akhirnya Rumi memilih pergi ke dapur. Wanita itu membuka pintu yang ada di depannya, pintu yang menghubungkan rumah dengan pekarangan belakang.
Cahaya remang-remang yang berasal dari lampu berwarna kuning kini menemani penglihatannya. Dia berjalan menuju kambing-kambing yang masih saja berteriak, membuat geger saja, sambil memanggi-manggil nama sang suami.
“Zein, kamu di situ?”
“Zein.”
Entah berapa kali dia memanggil, namun tak ada sahutan yang ia terima sebagai balasan. Aroma singkong bakar lagi-lagi tercium, Rumi sampai harus menutup hidung dan mulutnya, untuk menghindari rasa mual. Angin malam tiba-tiba berembus dari belakang, menabrak tubuh Rumi dalam satu kali embusan. Rumi menegang tengkuknya sendiri, bulu kuduknya kini meremang.
“Zein,” panggil Rumi kembali, kali ini dengan suara lirih. Wanita itu tetap menatap ke depan, tak berani menoleh ke belakang. Sebuah siluet bayang tiba-tiba terlihat berjalan di belakang kandang kambing yang dibuat tinggi seperti panggung. Rumi menelan ludah, lalu memnggil nama Zein, entah untuk keberapa kalinya.
Meski bulu kuduk telah merinding, rasa penasaran selalu mengalahkan semuanya. Wanita itu kembali berjalan, langkah kakinya kini menuju pada belakang kadang. Dia terkejut ketika dua pasang boal mata berwarna merah menyala layaknya bara api terlihat jelas di kegelapan malam. Napas Rumi tercekat, seluruh tubuhnya bergetar hebat, tetapi kakinya seperti terpaku dengan tanah tempat dia berpijak.
“Ze-Zein, Ze-Zein.” Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Rumi, itu pun terdengar begitu lirih.
Belum sempat Rumi mengambil napas akibat ketakutan, tarikan tiba-tiba ke belakang membuatnya semakin terkejut, hingga dia menjerit.
“Sekar, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Ze-Zein.”
“Iya, ini saya.”
“Ze-Zein, tadi ....” Rumi menelan ludah, menoleh ke belakang sebelum melanjutkan kalimatnya. “Tadi ada mata, iya mata. Mata merah menyala di situ, Zein.” Tunjuk Rumi pada tempat di mana dia melihat mata itu.
“Tidak ada, Sekar. Tidak ada apa-apa di situ.”
“Tadi ada, mungkin saja itu adalah mata genderuwo.”
“Genderuwo?” Zein tertawa setelah mengatakannya. “Sejak kapan istri saya ini percaya dengan yang seperti itu, hm?”
Rumi terdiam, wanita itu tampak berpikir. Apa yang dikatakan Zein ada benarnya. Ah, mungkin saja dia berhalusinasi, mungkin saja ini faktor kepanikan karena sedang hamil. Ya, mungkin saja.
“Ayo kita masuk, ndak baik di luar malam-malam.”
Rumi mengangguk lemah, mata cokelatnya sempat melirik ke belakang lagi, sebelum menatap depan, berjalan pergi dengan tangan Zein yang merangkul pundaknya.
“Zein, kamu tadi ke mana?” tanya Rumi ketika mereka sudah sampai di kamar lagi.
“Ah, maaf, saya lupa mengatakan sama kamu kalau saya pergi ke rumah bapak,” balas Zein sambil menuntun sang istri untuk berbaring di ranjang yang sudah di tata rapi.”Bapak sedang banyak pekerjaaan, dan itu sangat mendesak, makanya saya datang untuk membantunya, karena terlalu terburu-buru saya lupa berpamitan dengan kamu.”
“Ke rumah Bapak? Zein, kamu membuatku—”
“Maaf, apakah saya membuatmu khawatir? Kamu tak perlu khawatir seperti itu, Sekar. Lagi pula rumah bapak tepat di samping rumah kita, jadi tidak ada hal yang perlu di khawatirkan meski saya pergi ke rumahnya malam-malam sendirian,” potong Zein cepat dengan kalimat panjang kali lebar. Padahal bukan itu yang ingin Rumi sampaikan padanya.
“Zein, maksudku—“
“Sudah, tidur saja.”
Zein membawa tubuh Rumi agar berbaring, pria itu menarik selimut, dan membuat sebagian tubuh Rumi tertutupi kain tebal berwarna biru muda itu. Zein tersenyum, mengusap lembut kepala Rumi, lalu mencium kening wanita itu cukup lama. Setelahnya Zein berjalan ke arah sisi lain ranjang, dan menidurkan tubuhnya di sana.
Suara dengkuran halus kini terdengar, itu berarti Zein sudah terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Rumi masih saja berkutat dengan pemikirannya. Jika Zein pergi ke rumah bapak, lalu siapa yang bersamanya tadi? Ini sungguh membingungkan, Rumi benar-benar tak mengerti dengan semuanya.
Zein yang Berbeda
Ada rasa yang berbeda setelah mengetahui kabar bahwa dia hamil. Di satu sisi Rumi bahagia, karena buah cintanya dengan Zein telah hadir. Tapi ada rasa takut yang menyelinap di hatinya. Entah atas dasar apa, Rumi bingung menjelaskannya.
Zein telah bekerja keras untuk mengambil hati Rumi kembali setelah kejadian yang lalu. Rumi yang suka membuat drama akibat bawan hamil tentu saja sangat mempersulit Zein. Namun, tekat yang kuat akhirnya dapat meluluhkan hati sang istri.
Rumi yang tengah merapikan tempat tidur tersentak, ketika tangan kekar melilit pinggangnya dari belakang. Sebuah kecupan bertubi-tubi ia dapatkan di bagian leher, juga pipinya, hingga membuat wanita itu mengeluh geli karena rambut yang ada di dagu si pelaku menggelitik kulitnya.
“Zein, lepas!”
Bukannya melepas, pria yang berstatus sebagai suaminya itu malah semakin gencar melakukan aksinya. Rumi hanya bisa tersenyum ketika pelukan sang suami semakin erat saja. Wanita itu mengusap lembut tangan yang melingkari perutnya yang terlihat masih rata.
Aroma singkong bakar kini memenuhi indra penciuman Rumi. Wanita yang tengah hamil empat bulan itu tiba-tiba merasa mual kerena tengah sensitif terhadap bau-bauan. Dia sedikit berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Zein yang berdecak sebal karena ditinggalkan begitu saja.
Rumi memuntahkan seluruh isi perutnya di kamar mandi, perutnya begitu sakit. Sesuatu di dalam seperti diaduk-aduk, lalu diputar-putar dengan ritme yang sangat cepat.
Tubuh Rumi mendadak lemas, dibasuhnya seluruh wajah yang terlihat pucat itu. Terasa aneh, bagaimana aroma singkong bakar begitu tercium kuat, padahal kamar dan rumahnya telah tertutup rapat. Lagipula, siapa yang membakar singkong di malam yang menjelang pada puncaknya ini? Apa mungkin ... ada genderuwo? Ah, tidak-tidak, semua itu hanya omong kosong. Pikir Rumi.
Suara kambing yang mengembek kini mengagetkan Rumi, hingga membuatnya mengelus dada juga perutnya, berharap bayi dalam rahimnya tidak ikut terkejut karenanya. Wanita itu kemudian berdecak. Ada apalagi sekarang? Mengapa kambing itu ikut membuat masalah sekarang ini?
Rumi kembali ke kamar, berniat memanggil Zein.
“Zein.”
Wanita itu kembali mengernyit ketika tak menemukan sang suami di kamar. Lagi-lagi decakan sebal lolos dari bibir tipis wanita itu. Ke mana Zein pergi? Buakankah Rumi hanya meninggalkannya sebentar? Lagipula ini sudah malam, ke mana Zein akan pergi? Mungkinkah dia tengah ke belakang rumah, untuk mengecek kambing yang masih saja mengembek dengan kerasnya?
Tak mau bertanya-tanya lebih lama lagi, akhirnya Rumi memilih pergi ke dapur. Wanita itu membuka pintu yang ada di depannya, pintu yang menghubungkan rumah dengan pekarangan belakang.
Cahaya remang-remang yang berasal dari lampu berwarna kuning kini menemani penglihatannya. Dia berjalan menuju kambing-kambing yang masih saja berteriak, membuat geger saja, sambil memanggi-manggil nama sang suami.
“Zein, kamu di situ?”
“Zein.”
Entah berapa kali dia memanggil, namun tak ada sahutan yang ia terima sebagai balasan. Aroma singkong bakar lagi-lagi tercium, Rumi sampai harus menutup hidung dan mulutnya, untuk menghindari rasa mual. Angin malam tiba-tiba berembus dari belakang, menabrak tubuh Rumi dalam satu kali embusan. Rumi menegang tengkuknya sendiri, bulu kuduknya kini meremang.
“Zein,” panggil Rumi kembali, kali ini dengan suara lirih. Wanita itu tetap menatap ke depan, tak berani menoleh ke belakang. Sebuah siluet bayang tiba-tiba terlihat berjalan di belakang kandang kambing yang dibuat tinggi seperti panggung. Rumi menelan ludah, lalu memnggil nama Zein, entah untuk keberapa kalinya.
Meski bulu kuduk telah merinding, rasa penasaran selalu mengalahkan semuanya. Wanita itu kembali berjalan, langkah kakinya kini menuju pada belakang kadang. Dia terkejut ketika dua pasang boal mata berwarna merah menyala layaknya bara api terlihat jelas di kegelapan malam. Napas Rumi tercekat, seluruh tubuhnya bergetar hebat, tetapi kakinya seperti terpaku dengan tanah tempat dia berpijak.
“Ze-Zein, Ze-Zein.” Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Rumi, itu pun terdengar begitu lirih.
Belum sempat Rumi mengambil napas akibat ketakutan, tarikan tiba-tiba ke belakang membuatnya semakin terkejut, hingga dia menjerit.
“Sekar, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Ze-Zein.”
“Iya, ini saya.”
“Ze-Zein, tadi ....” Rumi menelan ludah, menoleh ke belakang sebelum melanjutkan kalimatnya. “Tadi ada mata, iya mata. Mata merah menyala di situ, Zein.” Tunjuk Rumi pada tempat di mana dia melihat mata itu.
“Tidak ada, Sekar. Tidak ada apa-apa di situ.”
“Tadi ada, mungkin saja itu adalah mata genderuwo.”
“Genderuwo?” Zein tertawa setelah mengatakannya. “Sejak kapan istri saya ini percaya dengan yang seperti itu, hm?”
Rumi terdiam, wanita itu tampak berpikir. Apa yang dikatakan Zein ada benarnya. Ah, mungkin saja dia berhalusinasi, mungkin saja ini faktor kepanikan karena sedang hamil. Ya, mungkin saja.
“Ayo kita masuk, ndak baik di luar malam-malam.”
Rumi mengangguk lemah, mata cokelatnya sempat melirik ke belakang lagi, sebelum menatap depan, berjalan pergi dengan tangan Zein yang merangkul pundaknya.
“Zein, kamu tadi ke mana?” tanya Rumi ketika mereka sudah sampai di kamar lagi.
“Ah, maaf, saya lupa mengatakan sama kamu kalau saya pergi ke rumah bapak,” balas Zein sambil menuntun sang istri untuk berbaring di ranjang yang sudah di tata rapi.”Bapak sedang banyak pekerjaaan, dan itu sangat mendesak, makanya saya datang untuk membantunya, karena terlalu terburu-buru saya lupa berpamitan dengan kamu.”
“Ke rumah Bapak? Zein, kamu membuatku—”
“Maaf, apakah saya membuatmu khawatir? Kamu tak perlu khawatir seperti itu, Sekar. Lagi pula rumah bapak tepat di samping rumah kita, jadi tidak ada hal yang perlu di khawatirkan meski saya pergi ke rumahnya malam-malam sendirian,” potong Zein cepat dengan kalimat panjang kali lebar. Padahal bukan itu yang ingin Rumi sampaikan padanya.
“Zein, maksudku—“
“Sudah, tidur saja.”
Zein membawa tubuh Rumi agar berbaring, pria itu menarik selimut, dan membuat sebagian tubuh Rumi tertutupi kain tebal berwarna biru muda itu. Zein tersenyum, mengusap lembut kepala Rumi, lalu mencium kening wanita itu cukup lama. Setelahnya Zein berjalan ke arah sisi lain ranjang, dan menidurkan tubuhnya di sana.
Suara dengkuran halus kini terdengar, itu berarti Zein sudah terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Rumi masih saja berkutat dengan pemikirannya. Jika Zein pergi ke rumah bapak, lalu siapa yang bersamanya tadi? Ini sungguh membingungkan, Rumi benar-benar tak mengerti dengan semuanya.
0