- Beranda
- Stories from the Heart
Ngalor-Ngetan
...
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan

NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu
Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.
Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini
. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca 
Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.
"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.
"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.
"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?
"Bukan itu, Mbak."
"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?
"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.
"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.
"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."
"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.
"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.
"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.
"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.
Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.
"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.
"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.
"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.
Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.
Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.
"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.
"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.
"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.
"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.
"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.
"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.
Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.
"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.
"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."
Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.
"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.
"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.
"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.
"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.
“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.
Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.
"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.
"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.
"Saya tidak papa," jawabnya singkat.
"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.
Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.
Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.
Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.
"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.
Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.
Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?
Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.
"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.
"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.
Sumber gambar : Google and PistArt
Quote:
Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Visiliya123
#48
Ngalor Ngetan
Horror story
Situasi Aneh
"Loh, Zein sudah pulang, Pak?" tanya Rumi yang sudah kembali dari dapur dengan beberapa potongan buah di atas piring.
"Baru saja, Nduk. Mungkin masih di depan rumah."
Rumi mengangguk lalu meminta izin untuk keluar mengejar Zein. Benar saja apa yang dikatakan sang bapak. Zein memang belum jauh. Pemuda itu terlihat berjalan pelan tanpa semangat. Dari belakang terlihat pundaknya naik turun, menunjukkan bahawa pemuda itu menghela napas berkali-kali.
Rumi mengernyit melihat tingkah Zein yang aneh. Dengan teriakan dia memanggil pemuda itu. Sehingga si empunya nama seketika menoleh ke belakang.
Kernyitan di dahi Rumi semakin menjadi jelas ketika meliwat wajah Zein yang dipaksakan untuk tersenyum. Tanpa pikir lama, Rumi menghampiri pemuda itu dengan berlari kecil.
"Jangan lari, Se--"
"Aaa!!" Kalimat Zein terpotong karena Rumi tiba-tiba menjerit. Karena tak hati-hati gadis itu menginjak ketikil kemudian terpeleset dan terjatuh ke tanah.
Zein menghela napa lalu menghampiri gadis itu. Mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Rumi berdiri. Dengan senang hati Rumi menerima uluran tangan tersebut.
Rumi sudah berdiri, dia menepuk-nepuk celananya yang kotor akibat tanah kering.
"Kenapa lari, Sekar?"
"Gak papa, aku hanya takut kamu akan segera pergi."
Zein tersenyum mendengar hal itu. Setidaknya rasa takut Rumi membuat rasa percaya dirinya kembali tumbuh setelah sebelumnya terhempas jauh turun ke bawah.
"Eh, jangan salah paham. Maksudku, aku takut kalau kamu ternyata terburu-buru."
Zein tak menjawab, dia hanya terseny hangat memandang Rumi yang mencoba mengelak.
"Ah, sudahlah. Pokoknya seperti itu."
"Jadi ... apa yang ingin kamu katakan?" tanya Zein.
"Ah, itu. Em ... kenapa kamu terburu-buru pulang? Aku sudah menyiapkan buah di dalam."
"Tidak, Sekar. Saya harus pulang," balas Zein dengan diakhiri senyuman miris. Hal itu malah semakin membuat Rumi bingung.
"Kamu kenapa, Zein?"
"Tidak papa. Saya harus segera pulang. Ada yang harus diurus."
Rumi hanya mengangguk. Kemudian Zein berbalik dan melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah pemuda itu berhenti, kembali menghadap Rumi. Kali ini dengan senyum yang begitu menawan. Senyum tulus yang sering Rumi lihat.
"Apa ... kamu masih ingin saya di sini?"
Cukup lama gadis itu terdiam, lalu menjawab, " Iya."
Jawaban singkat itu nyatanya mampu membuat Zein kembali mengulas senyum. Begitu hangat dan menenangkan. Tanpa berkata lagi, Zein berbalik, kembali melangkah pergi. Dan kali ini dia tak berhenti, hingga punggungnya tertelan oleh belokkan.
***
Rumi terus mengulas senyum memikirkan perkataannya tadi. Dia mengartikan lain pertanyaan Zein. Entah apa yang dimaksud pemuda itu. Tapi hatinya yakin, Zein bertanya atas dasar apa yang ia pikirkan saat ini juga.
"Aaa! Bisa gila aku."
"Rumi, ada apa?" tanya seseorang di balik pintu.
Rumi yang mendengarnya sontak saja menutup mulutnya sendiri dengan mata terkejut. Dia tak menjawab, membiarkan seseorang di balik pintu, yang tak lain adalah ibunya untuk menerka-nerka apa yang terjadi.
Cukup lama dia terdiam, hingga suara Janum tak terdengar lagi. Saat itu juga Rumi menghela napas lega.
Malam sudah semakin larut, Rumi tak bisa tidur. Dia tidak mau Janum sampai memrgokinya masih terjaga di jam satu seperti ini.
"Rumi, sekarang kamu harus tidur! Gak mau tau, pokoknya harus tidur!" perintahnya pada diri sendiri.
Baru saja Rumi akan memejamkan matanya, ponselnya yiba-tiba bersuara. Dengan cepat, dia menyambar ponsel di atas meja dekat ranjang miliknya.
Bibirnya kembali tersenyum ketika membaca nama si pengirim pesan yang tak lain adalah Zein.
[Saya tahu kamu belum tidur]
Tulis Zein pada layar pesan. Rumi sengaja tak menjawab pesan tersebut. Dia sedari tadi hanya melihat deretan huruf di layar dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya.
Karena tak ada balasan, Zein kembali mengirim pesan padanya.
[Kenapa tidak menjawab. Saya tahu kamu belum tidur]
Akhirnya Rumi menyerah, gadis itu mulai memainkan jarinya pada ponsel persegi panjang itu.
[Aku gak bisa tidur]
[Karena memikirkan saya?]
Hampir saja Rumi membuang ponselnya karena kaget. Bagaimana mungkin Zein tahu apa yang ia pikirkan sekarang. Belum sempat Rumi membalas pesan itu, Zsmein kembali mengirim pesan.
[Tidur sekarang, Sekar. Sudah malam]
[Selamat malam, Sekar]
Membaca kalimat tersebut Rumi hanya bisa tersenyum tanpa berniat membalas pesan. Gadis itu kembali menjerit, saking senangnya. Menyadari telah membuat kesalahan, dia membungkam mulutnya dengan tangan lalu memukul kepalanya sendiri. Rumi takut Janum kembali, tetapi yang ia takutkan untungnya tak terjadi. Karena dia tak mendengar apa-apa.
Rumi menghela napas lega. Dia hendak berbaring. Namun, suara ketukan di jendela malah terdengar. Membuanya mengurungkan niat untuk berbaring.
Apa mungkin Zein?
Dengan senyuman dan penuh semangat, gadis itu berlari kecil ke arah jendela. Tak mau membuat seseorang di balik jendela itu menunggu terlalu lama.
"Zein!"
Senyuman di wajah Rumi seketika hilang, ketika jendela terbuka. Tak ada Zrin di sana, hanya ada kegelapan dan bayangan pohon sekitar rumahnya. Kembali, Rumi menghela napas. Suara kucing mengeong membuatnya terkejut. Sontak saja Rumi mengelus dadanya sendiri.
Di sana, di bawah jendela kamarnya, seokor kucing hitam dengan mata kuning menyala terang menatapnya dalam kegelapan. Rumi menelan ludah. Rasa takut menjalari tubuhnya.
Bukankah itu kucing yang sama, yang mencakar dirinya siang tadi?
Dikesunyian malam itu, tiba-tiba suara cicak ikut terdengar. Membuat hawa di sana semakin terasa menakutkan saja. Tak lama setelah itu, aroma singkong bakar menguar di udara. Menusuk indra penciuman Rumi.
Mengapa situasi seperti ini kembali Rumi rasakan. Suara cicak, bau singkong bakar, apa nanti akan tercium bau melati juga? Membayangkannya saja Rumi merasa merinding.
Kucing tadi kembali mengeong, kali ini dengan suara cukup keras. Rumi semakin takut, dengan cepat dia menutup kembali jendela kamarnya. Lalu melangkah menuju kasur, dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Horror story
Situasi Aneh
"Loh, Zein sudah pulang, Pak?" tanya Rumi yang sudah kembali dari dapur dengan beberapa potongan buah di atas piring.
"Baru saja, Nduk. Mungkin masih di depan rumah."
Rumi mengangguk lalu meminta izin untuk keluar mengejar Zein. Benar saja apa yang dikatakan sang bapak. Zein memang belum jauh. Pemuda itu terlihat berjalan pelan tanpa semangat. Dari belakang terlihat pundaknya naik turun, menunjukkan bahawa pemuda itu menghela napas berkali-kali.
Rumi mengernyit melihat tingkah Zein yang aneh. Dengan teriakan dia memanggil pemuda itu. Sehingga si empunya nama seketika menoleh ke belakang.
Kernyitan di dahi Rumi semakin menjadi jelas ketika meliwat wajah Zein yang dipaksakan untuk tersenyum. Tanpa pikir lama, Rumi menghampiri pemuda itu dengan berlari kecil.
"Jangan lari, Se--"
"Aaa!!" Kalimat Zein terpotong karena Rumi tiba-tiba menjerit. Karena tak hati-hati gadis itu menginjak ketikil kemudian terpeleset dan terjatuh ke tanah.
Zein menghela napa lalu menghampiri gadis itu. Mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Rumi berdiri. Dengan senang hati Rumi menerima uluran tangan tersebut.
Rumi sudah berdiri, dia menepuk-nepuk celananya yang kotor akibat tanah kering.
"Kenapa lari, Sekar?"
"Gak papa, aku hanya takut kamu akan segera pergi."
Zein tersenyum mendengar hal itu. Setidaknya rasa takut Rumi membuat rasa percaya dirinya kembali tumbuh setelah sebelumnya terhempas jauh turun ke bawah.
"Eh, jangan salah paham. Maksudku, aku takut kalau kamu ternyata terburu-buru."
Zein tak menjawab, dia hanya terseny hangat memandang Rumi yang mencoba mengelak.
"Ah, sudahlah. Pokoknya seperti itu."
"Jadi ... apa yang ingin kamu katakan?" tanya Zein.
"Ah, itu. Em ... kenapa kamu terburu-buru pulang? Aku sudah menyiapkan buah di dalam."
"Tidak, Sekar. Saya harus pulang," balas Zein dengan diakhiri senyuman miris. Hal itu malah semakin membuat Rumi bingung.
"Kamu kenapa, Zein?"
"Tidak papa. Saya harus segera pulang. Ada yang harus diurus."
Rumi hanya mengangguk. Kemudian Zein berbalik dan melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah pemuda itu berhenti, kembali menghadap Rumi. Kali ini dengan senyum yang begitu menawan. Senyum tulus yang sering Rumi lihat.
"Apa ... kamu masih ingin saya di sini?"
Cukup lama gadis itu terdiam, lalu menjawab, " Iya."
Jawaban singkat itu nyatanya mampu membuat Zein kembali mengulas senyum. Begitu hangat dan menenangkan. Tanpa berkata lagi, Zein berbalik, kembali melangkah pergi. Dan kali ini dia tak berhenti, hingga punggungnya tertelan oleh belokkan.
***
Rumi terus mengulas senyum memikirkan perkataannya tadi. Dia mengartikan lain pertanyaan Zein. Entah apa yang dimaksud pemuda itu. Tapi hatinya yakin, Zein bertanya atas dasar apa yang ia pikirkan saat ini juga.
"Aaa! Bisa gila aku."
"Rumi, ada apa?" tanya seseorang di balik pintu.
Rumi yang mendengarnya sontak saja menutup mulutnya sendiri dengan mata terkejut. Dia tak menjawab, membiarkan seseorang di balik pintu, yang tak lain adalah ibunya untuk menerka-nerka apa yang terjadi.
Cukup lama dia terdiam, hingga suara Janum tak terdengar lagi. Saat itu juga Rumi menghela napas lega.
Malam sudah semakin larut, Rumi tak bisa tidur. Dia tidak mau Janum sampai memrgokinya masih terjaga di jam satu seperti ini.
"Rumi, sekarang kamu harus tidur! Gak mau tau, pokoknya harus tidur!" perintahnya pada diri sendiri.
Baru saja Rumi akan memejamkan matanya, ponselnya yiba-tiba bersuara. Dengan cepat, dia menyambar ponsel di atas meja dekat ranjang miliknya.
Bibirnya kembali tersenyum ketika membaca nama si pengirim pesan yang tak lain adalah Zein.
[Saya tahu kamu belum tidur]
Tulis Zein pada layar pesan. Rumi sengaja tak menjawab pesan tersebut. Dia sedari tadi hanya melihat deretan huruf di layar dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya.
Karena tak ada balasan, Zein kembali mengirim pesan padanya.
[Kenapa tidak menjawab. Saya tahu kamu belum tidur]
Akhirnya Rumi menyerah, gadis itu mulai memainkan jarinya pada ponsel persegi panjang itu.
[Aku gak bisa tidur]
[Karena memikirkan saya?]
Hampir saja Rumi membuang ponselnya karena kaget. Bagaimana mungkin Zein tahu apa yang ia pikirkan sekarang. Belum sempat Rumi membalas pesan itu, Zsmein kembali mengirim pesan.
[Tidur sekarang, Sekar. Sudah malam]
[Selamat malam, Sekar]
Membaca kalimat tersebut Rumi hanya bisa tersenyum tanpa berniat membalas pesan. Gadis itu kembali menjerit, saking senangnya. Menyadari telah membuat kesalahan, dia membungkam mulutnya dengan tangan lalu memukul kepalanya sendiri. Rumi takut Janum kembali, tetapi yang ia takutkan untungnya tak terjadi. Karena dia tak mendengar apa-apa.
Rumi menghela napas lega. Dia hendak berbaring. Namun, suara ketukan di jendela malah terdengar. Membuanya mengurungkan niat untuk berbaring.
Apa mungkin Zein?
Dengan senyuman dan penuh semangat, gadis itu berlari kecil ke arah jendela. Tak mau membuat seseorang di balik jendela itu menunggu terlalu lama.
"Zein!"
Senyuman di wajah Rumi seketika hilang, ketika jendela terbuka. Tak ada Zrin di sana, hanya ada kegelapan dan bayangan pohon sekitar rumahnya. Kembali, Rumi menghela napas. Suara kucing mengeong membuatnya terkejut. Sontak saja Rumi mengelus dadanya sendiri.
Di sana, di bawah jendela kamarnya, seokor kucing hitam dengan mata kuning menyala terang menatapnya dalam kegelapan. Rumi menelan ludah. Rasa takut menjalari tubuhnya.
Bukankah itu kucing yang sama, yang mencakar dirinya siang tadi?
Dikesunyian malam itu, tiba-tiba suara cicak ikut terdengar. Membuat hawa di sana semakin terasa menakutkan saja. Tak lama setelah itu, aroma singkong bakar menguar di udara. Menusuk indra penciuman Rumi.
Mengapa situasi seperti ini kembali Rumi rasakan. Suara cicak, bau singkong bakar, apa nanti akan tercium bau melati juga? Membayangkannya saja Rumi merasa merinding.
Kucing tadi kembali mengeong, kali ini dengan suara cukup keras. Rumi semakin takut, dengan cepat dia menutup kembali jendela kamarnya. Lalu melangkah menuju kasur, dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
ariefdias dan 4 lainnya memberi reputasi
5