Kaskus

Story

Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan
Ngalor-Ngetan


NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu


Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.

Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini emoticon-Frown. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca emoticon-Smilie



Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.

"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.

"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.

"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?

"Bukan itu, Mbak."

"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?

"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.

"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.

"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.

"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.

"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."

"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.

"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.

"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.

"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.

Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.

"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.

"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.

"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.

Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.

Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.

"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.

"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.

"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.

"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.

"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."

Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.

"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.

Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.

"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.

"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."

Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.

"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.

"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.

"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.

"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.

“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.

Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.

Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.

"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.

"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.

"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.

"Saya tidak papa," jawabnya singkat.

"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.

Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.

Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.

Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.

"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.

Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.

Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?

Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.

"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.

"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.



Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.


Sumber gambar : Google and PistArt


Quote:

Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
bonita71Avatar border
rassofAvatar border
herry8900Avatar border
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54KAnggota
Tampilkan semua post
Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
#27
Ngalor Ngetan
Horror story
Persiapan Satu Suro


Berulang kali pertanyaan yang sama terus saja hinggap di pikiran Rumi. Apa mungkin mimpinya dan Zein bisa kebetulan sama seperti itu? Rasanya aneh saja dua orang yang telah lama tidak berjumpa, bahkan dalam kurun waktu bertahun-tahun dengan jarak yang lumayan jauh bisa terhubung dalam mimpi. Rasanya hal itu benar-benar tak mungkin terjadi. Dan jika ini hanya sebuah kebetulan, mengapa mimipi seperti itu yang menyeret keduanya?

Rumi telah lelah memikirkan semua itu, kepala pun rasanya hampir pecah jika diteruskan. Namun, Rumi tak bisa menyangkal, bahwa pertanyaan itu benar-benar menganggunya. Gadis itu telah memikirkannya menjelang tidur, bahkan dia hampir tak bisa tertidur. Dan setelah tidur untuk waktu yang singkat, dia kembali terbangun dengan pertanyaan yang masih sama.

Samar-samar terdengar suara orang bercakap-cakap dari luar. Rumi melirik jam dinding di depannya, pukul 7 pagi, dan dia baru bangun. Untung saja dia tengah libur hari ini, jika tidak, mungkin sebelum subuh ibunya sudah berteriak-teriak memintanya untuk bangun dan segera salat.

Rumi mengambil posisi duduk. Kedua tangannya menyisir rambut yang hanya sebahu itu ke belakang. Menguncirnya asal dengan karet gelang yang ia temukan di atas meja dekat ranjang. Kini rambutnya seperti ekor kelinci saja.
Dengan gerakan pelan gadis itu turun dari ranjang, melangkah ke arah pintu dan membukanya dengan sangat pelan agar tak menimbulkan suara. Maklum saja, kamarnya dan ruang tamu memang berdekatan.

Rumi menyembulkan kepala dari balik celah pintu yang terbuka hanya sedikit itu. Matanya menajam begitu pula telinganya. Samar-samar ia melihat Pakde Seto yang tengah duduk sambil mengangkat salah satu kakinya di kaki lainnya. Meskipun pria paruh baya itu duduk agak menyamping dan membelakanginya, tetapi Rumi sangat mengenal siapa sosok itu.

Dengan tenang, Pakde Seto menyesap rokok sebatang rokok. Asap rokok kini terlihat memenuhi ruangan, Rumi yang berada cukup jauh darinya bahkan bisa merasakan sesak hingga dia hampir terbatuk. Namun, sebelum hal itu benar-benar terjadi, Rumi menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangan. Di samping Pakde Seto, terdapat Bapaknya yang dengan sibuk meniup-niup segelas cangkir yang uapnya terlihat mengepul di udara. Entah kopi atau teh di dalamnya, Rumi tak paham. Tapi yang membuat heran adalah, bagaimana mungkin Bapaknya itu sama sekali tak terganggu dengan asap rokok pekat di sampingnya itu. Akh, mungkin saja karena Bapaknya juga perokok aktif seperti Pakde Seto.

"Bagaimana, Pakde. Apa yang harus saya persiapkan untuk kali ini?"

Rumi mengernyit mendengarnya. Suara itu mirip suara Zein. Apa mungkin orang di balik tubuh Bapaknya itu benar Zein? Rumi mencoba melihatnya lebih jelas, sayang sekali wajah si pembicara masih tak terlihat olehnya.

"Tidak ada yang khusus, lakukanlah seperti tahun-tahun sebelumnya. Benar tidak Kangmas?" Mendengar pertanyaan Rinto, Pakde Seto hanya mengangguk mengiayakan sebagai jawaban.

"Bulan Sura itu bulan yang sakral jadi jangan lupa mengingatkan kepada semua warga untuk ikut dalam upacara Satu Sura ini."

"Iya, Pak."

"Satu lagi, Zein. Bapak minta tolong, bisa?"

"Bisa, Pak."

"Kaki Bapak sakit, sepertinya Bapak tidak bisa mengantar Ibu ke pasar untuk beli keperluan Suronan nanti. Bisa antar Ibu ke pasar?"

"Bisa, Pak."

"Alhamdulillah, kalau gitu Bapak panggil Ibu dulu. Permisi, Kangmas."

Rinto meninggalkan kedua pria berbeda umur tersebut. Tanpa sengaja dirinya melihat Rumi yang masih mengintip dari celah pintu. Sontak saja pria paruh baya itu berhenti melangkah, dan malah berdiri di depan sang putri.

"Kamu ngapain, Nduk?"

"Astaga!"

"Astagfirullah, Nduk."

"Ah, iya, astagfirullah hal adzim, Bapak ngagetin Rumi."

Mendengar putrinya yang kesal itu Rinto malah terkikih geli. Rumi memang selalu menggemaskan ketika kesal. Pipinya akan menggembung seperti ikan buntal dengan warna yang merah seperti habis ditinju dengan keras.

"Bapak kenapa tertawa? Bapak menertawakan Rumi?"

Rinto tak menjawab, pria paruh baya itu hanya terus tertawa.

"Ish, Rumi mau mandi sajalah."

Dengan gerakan cepat Rumi masuk ke dalam kamar, dan menutup pintunya. Gadis itu mempersiapkan semua hal yang ia butuhkan untuk mandi. Termasuk handuk dan pakaian ganti yang dia gulung lalu menghimpitnya di antara tangan dan pinggang. Rumi keluar kamar, tetapi langkahnya terhenti di depan pintu ketika melihat Zein tengah memperhatikan dirinya dari kursi ruang tamu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, lalu merapikan rambut yang padahal sudah terkuncir rapi. Zein yang melihat itu sontak saja terkikih pelan, yang membuat Rumi malu bukan kepalang. Alhasil, gadis itu lari terbirit-birit menuju kamar mandi.

"Kenapa, Zein?" tanya Rinto yang sudah kembali bergabung bersama mereka.

"Ndak papa, Pak."

***

Rumi kembali dengan mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk sambil bersenandung kecil. Hal itu tak luput dari pandangan Zein yang masih setia duduk di tempatnya. Bedanya sudah tidak ada Rinto dan Pakde Seto bersamanya. Hanya saja, Rumi tak menyadari hal tersebut.

"Kenapa rumah mendadak sepi begini, ya?"

"Sekar!"

Rumi menegang mendengar panggilan itu. Gerakkannya menggosokan handuk pada rambut seketika terhenti. Lalu di detik berikutnya, dia memukul kepala sambil bergumam, "Aduh, kenapa aku bisa tidak sadar kalau Zein duduk di situ."

"Apa yang kamu lakukan, Sekar?" tanya Zein yang saat ini sudah berdiri di depan Rumi, tepat di samping pintu kamar gadis itu. "Mengapa kamu selalu memukul kepalamu seperti ini?" lanjutnya sambil menirukan apa yang Rumi lakukan tadi.

"Tidak ada, aku hanya suka melakukannya," jawab Rumi seadanya. "Dan ya, Zein. Mengapa kamu masih di sini? Bukankah ini waktu yang terlalu lama untuk berkunjung? Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain? Ya, misalnya mencari rumput untuk kambing-kambingmu?"

Zein tertawa mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu.

"Mengapa kamu selalu tertawa? Aku bukan pelawak yang harus kamu tertawai seperti itu, Zein."

"Maaf, tapi kamu lucu, Sekar."

"Apanya yang lucu?"

"Kamu tidak berubah, ya. Masih sama seperti dulu, mudah marah dan penasaran akan banyak hal." Zein tertawa setelah mengatakannya. "Saya yakin kamu sangat cocok menjadi wartawan."

"Ck, diam kamu. Kamu juga masih sama, Zein. Masih sama menyebalkannya," balas Rumi dengan memasang wajah marah sambil melipat tangan di depan dada.

"Alhamdulillah, Sekar sudah kembali," ujar Zein disela tawanya yang membuat Rumi mengernyit heran.

"Apanya?"

"Kamu ... tidak marah lagi dan mau berbicara dengan saya kembali."

Gadis itu menghela napas. Lalu bersandar pada dinding di samping pintu. "Aku tidak marah padamu, Zein. Aku marah pada diriku sendiri."
Raut wajah yang semula kesal kini berganti dengan sendu. Zein yang melihat itu sontak saja menghentikan tawanya. Lalu menatap Rumi dengan senyuman.

"Sudah, sekarang lebih baik kamu cepat ganti baju yang ... sedikit pantas, kita ke pasar." Rumi mehat pakaian yang ia kenakan. Celana dan kaos kedodoran layanya preman terlihat tak bagus dipakai ke pasar. Zein benar, dia harus ganti pakaian jika mau ke pasar. Namun, mengapa ke pasar?

"Mau apa ke pasar?" tanya Rumi tak bersemangat.

"Memang Ibu tidak bilang?" Rumi hanya menggeleng. "Ibu tadi minta saya untuk mengantar kamu ke pasar untuk membeli persiapan suronan nanti sore."

"Memang Ibuku ke mana? Bapak dan Pakde Seto juga tak terlihat?" Rumi mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang bisa ia jangkau. Tetapi tak ada tanda-tanda dari ketiga orang itu.

Zein terdiam, raut wajahnya berubah menjadi tegang. Dan hal itu tak luput dari pandangan Rumi.

"Zein!"

"Mereka keluar, ada urusan katanya," sergah Zein cepat.

Rumi mengernyit mendengar itu, dia merasa ada yang Zein sembunyikan. Ditatapnya lekat pemuda itu penuh dengan selidik. Selama itu pula Zein terlihat memotong pandangan, seakan tak ingin melihat Rumi. Hal itu membuat Rumi semakin yakin ada yang pemuda itu sembunyikan.

"Zein, kamu menyembunyikan sesuatu?"

"Tidak ada, Sekar. Mereka benar-benar keluar untuk urusan, dan saya tidak tahu urusan apa itu."

"Kamu benar tidak tahu?"

Lagi-lagi Zein berusah menghindar dari tatapan Rumi.

"Zein!"

"Ke Sungai," celetuk pemuda itu akhirnya, karena terus di desak.

"Kenapa ke sungai?"

Zein menghela napas. Di tatapnya lekat kedua mata Rumi, lalu dia meletakkan kedua tangannya pada pundak Rumi dan mencekramnya dengan kuat. Rumi sampai kesakitan karennya, tetapi gadis itu hanya diam, memandang Zein, mengharap jawaban yang bisa memuaskan hatinya.

"Sungai ... Putra tenggelam."

itkgid
ariefdias
japraha47
japraha47 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.