Kaskus

Story

Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan
Ngalor-Ngetan


NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu


Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.

Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini emoticon-Frown. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca emoticon-Smilie



Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.

"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.

"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.

"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?

"Bukan itu, Mbak."

"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?

"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.

"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.

"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.

"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.

"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."

"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.

"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.

"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.

"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.

Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.

"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.

"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.

"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.

Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.

Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.

"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.

"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.

"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.

"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.

"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."

Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.

"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.

Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.

"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.

"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."

Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.

"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.

"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.

"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.

"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.

“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.

Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.

Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.

"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.

"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.

"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.

"Saya tidak papa," jawabnya singkat.

"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.

Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.

Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.

Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.

"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.

Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.

Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?

Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.

"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.

"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.



Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.


Sumber gambar : Google and PistArt


Quote:

Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
bonita71Avatar border
rassofAvatar border
herry8900Avatar border
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
#58
Ngalor Ngetan
Horror Story
Getir


Langit yang biasanya cerah dengan sinar matahari kini terlihat lebih redup, awan mendung menutupi seluruh permukaan langit dan hanya menyisakan celah-celah kecil yang masih terlihat terang. Jalanan di ujung jembatan yang biasanya ramai dengan pejalan kaki, juga orang yang berlalu-lalang dengan sepeda dan motor kini hanya tinggal satu dua. Semua warga yang sedang di sawah, seketika bergegas pulang sebelum hujan mengguyur bumi.

Seorang pria paruh baya berpakaian rapi, dengan kemeja batik juga celana panjang berwarna hitam terlihat tengah kesususahan mendorong motornya yang mogok. Beberapa kali dia terlihat menghela napas, berhenti melangkah sebentar, lalu kembali berjalan.

“Kenapa, Pak, motornya?” Pria paruh baya itu seketika menoleh ke samping, tepat ke arah pemuda yang tengah bertanya itu, yang tak lain adalah Zein.

Cukup lama, sang pria oaruh baya yang tak lain adalah Rinto hanya terpaku menatap pemuda di depannya.

"Pak!"

"Tidak papa Zein. Maklum motor gak pernah diservis," balasnya sambil terkikih.

"Biar Zein bantu, Pak," tawari Zein yang membuat Rinto kembali terdiam. Dia merasa tak enak dengan kejadian tempo hari lalu saat dengan sengaja mengusir pemuda itu secara halus. Tapi apa boleh buat.

"Tidak perlu, Zein. Bapak bisa sendiri."

Zein yang mendengar itu hanya tersenyum getir. Dia benar-benar tak menyangka hubungannya dengan Rinto akan merenggang seperti ini hanya karena cintanya pada Rumi. "Kalau begitu Zein pamit pergi, Pak," ujarnya sambil mengulurkan tangan, berniat bersalaman dengan Rinto. Namun, Zein harus kembali menelan pil pahit, karena Rinto hanya diam dan tersenyum getir melihatnya.

Zein masih mencoba tersenyum meskipun begitu. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda itu pergi meninggalkan Rinto dengan motornya.

Sampai di ujung jembatan yang bersebrangan dengan Rinto, Zein menghentikan motornya. Dia memilih menunggu Rinto yang tengah asyik melihat-lihat apa yang salah dengan motor tuanya itu sehingga tidak jalan. Berulang kali Rinto mencoba menstarter motornya, tetapi nihil. Motor metik yang sudah lusuh itu tak mau menyala, seakan tengah merajuk pada sang pemiliknya.

Rinto hanya bisa menghela napas pasrah, lalu kembali menuntun motornya.
Zein yang melihatnya, dengan sigap melaju menghampiri Rinto kembali.

“Pak, izinkan Zein bantu ya, Pak!” pintanya. Kali ini Rinto hanya tersenyum, membiarkan pemuda itu mengambil alih motornya. “Bapak duduk saja.”

Zein mulai sibuk dengan motor metik berwarna merah di depannya. Mengotak-atik motor seperti ini bukanlah hal asing untuk Zein, pengalaman bersekolah STM selama tiga tahun, tentu saja membuat pemuda itu tak kesusahan. Rinto yang melihat Zein tengah serius mengecek seluruh bagian motor miliknya, hanya bisa tersenyum.

“Kalau boleh tahu, Bapak habis dari mana?” tanya Zein, menoleh ke arah Rinto, lalu kembali memfokuskan pandangan pada kuda besi milik Rinto.

“Habis takziah di desa seberang.” Zein yang mendengar itu seketika menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke arah Rinto.

“Siapa yang meninggal, Pak?”

“Kerabat jauh, Zein.” Pemuda itu menganggukkan kepala, dia berjongkok, mengecek gusi motor. “Kamu sendiri, dari mana, Zein?”

Zein menggaruk kepala bagain belakang, tersenyum canggung. "Dari pasar, Pak." Rinto hanya mengangguk paham, pantas saja ada beberapa kresek hitam yang tersampir di setang motor pemuda itu.

“Sukses ya ternak kambingmu?”

“Alhamdulillah, Pak,” jawab pemuda itu singkat. Ya, setelah lulus SMK, Zein membantu bapaknya untuk mengelola ternak kambing, dan sekarang, ternak kambing yang dipegang Zein bisa maju pesat. Entah berapa kali orang-orang dari desa seberang datang untuk membeli kambing darinya.

“Em, Pak. Sepertinya ada maslah dengan gusi motor Bapak. Saya lupa bawa peralatannya, tapi, Bapak bisa bawa motor Zein. Nanti Zein akan perbaiki di rumah,” ujar Zein, “ini kunci motor Zein, Pak.” Zein mengulurkan kunci motornya ke arah Rinto.

Rinto terdiam, memandang kunci motor tersebut. Lalu dengan setengah hati tak enak mengambilnya.

"Terima kasih, ya, Zein."

"Iya, Pak sama-sama."

Rinto berjalan ke arah motor Zein, lalu menaikinya. "Zein, ini," ujar Rinto sambil mengulurkan beberapa kantung kresek hitam yang entah berisi apa itu pada Zein.

"Em, bawa pulang sekalian, Pak."

"Loh, kenapa begitu? Ini kan milikmu, Zein."

"Em, Zein titip buat Sekar ya, Pak."
Rinto terdiam mendengar jawaban itu. Pria paruh baya itu tersenyum tipis lalu melaju pergi setelah mengucapkan terima kasih pada Zein.

***
Rinto beberapa kali menghela napas, pikirannya melayang pada sang putri yang sudah beberapa hari ini mendiamkan seluruh keluarganya. Terkadang Rinto berpikir, bahwa Zein lebih berharga daripada keluarganya untuk Rumi. Satu pemikiran yang membuat dada Rinto begitu sesak, seakan dihantam oleh batu besar, bahkan sebelum dia sempat menghindar. Sama seperti Janum, dia pun merasa gagal telah menjadi seorang bapak. Setelah mengirim Rumi pergi dari desa ini, Rinto benar-benar merasa bersalah, jika dia sangat menderita berpisah dengan Rumi, lalu bagaimana dengan sang putri kecilnya? Bukankah dia lebih menderita? Di saat seharusnya dia mendapat kasih sayang berlimpah dari kedua orang tuanya, gadis itu dipaksa berpisah, bahkan harus tinggal di kota, tempat yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya.

“Diminum dulu, Pak, kopinya.” Lamunan Rinto terbuyar, ketika mendengar suara Janum. Dilihatnya sang istri yang sudah kembali berdiri tegak, setelah memastikan cangkir berisi kopi telah mendarat sempurna di atas meja. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, lalu duduk di sampingnya.

Rinto sangat tahu, jika sang istri juga sangat sedih, tapi wanita itu tetap menunjukkan senyuman padanya meski tipis, sebagai bentuk kesopanan kepada sang suami. Andai saja Rumi seperti Janum? Ah, semua ini bukanlah salah sang putri, melainkan dirinya. Seandainya saja dia berpikir lebih luas untuk mencari solusi atas masalah waktu itu, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan, mungkin saja sang putri tak akan seperti ini. Seharusnya dialah yang mendidik sang putri sampai besar, mengajari semua dengan perlahan sehingga dapat diterima. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Karakter sang putri akan sulit diubah lagi, jika dulu waktu kecil gadis itu tak pernah mengabaikan orang tuanya lebih dari beberapa jam karena marah, tapi lihatlah kini, bahkan setelah seminggu berlalu, gadis itu tak pernah bicara panjang lebar seperti dulu, tak pernah menyanggah seperti saat dia baru kembali. Rumi layakanya mayat hidup, makan saat waktunya makan, lalu kembali pergi ke kamar tanpa mengucapkan apapun. Jika disuruh, gadis itu hanya menurut dengan memasang muka datar.

“Pak, apakah yang kita lakukan ini salah?”
Rinto sontak saja menoleh ke samping, dilihatnya Janum yang tengah menundukkan kepala.

“Ibu takut, Pak, Rumi akan kembali ke kota. Setelah sekian lama kita kembali diberi kesempatan untuk merawatnya, tapi ...,” Janum menyeka air mata yang membasahi pipinya, “semuanya hancur.”

Ada rasa lega sekaligus kesedihan di hati Rinto. Lega, karena akhirnya dia bisa melihat sang istri yang mau mengeluarkan emosinya, setelah lama memendamnya. Sedih karena dia pun merasakan apa yang Janum khawatirkan sekarang ini.

“Sepertinya Zein lebih penting daripada kita, Pak.”

Rinto tak terkejut mendengar itu dari sang istri, karena di pun sempat berpikir seperti itu.

“Bukan seperti itu, Bu. Kita sangat berharga untuk Rumi, jika tidak, Rumi tidak akan kembali ke desa ini, bukan?” ucap Rinto dengan senyuman, mencoba memberi pengertian pada sang istri. Atau lebih tepatnya, pada dirinya sendiri.

“Rumi kembali, karena Bapak mengancamnya.” Rinto terdiam sebentar, lalu pria paruh baya itu tersenyum.

“Ya, bapak mengancamnya dengan mengatakan ‘Kalau kamu tidak pulang, jangan harap bisa melihat bapak lagi di dunia ini’ seperti itu,” Rinto terkikih, “Ancaman yang klasik, tapi bisa membawanya kembali. Bukankah itu bukti bahwa kita berharga untuk Rumi?”

Janum terdiam, sedangkan Rinto hanya tersenyum, mengambil cangkir di atas meja yang terlihat mengepul. Ditiupnya kopi dalam cangkir, lalu dengan hati-hati pria paruh baya itu menyesapnya.

“Pak, haruskah kita mencari seseorang untuk Rumi agar dia melupakan Zein?” Rinto yang mendengar itu refleks menyesap kopinya dengan cepat, hingga lidah dan mulutnya terasa terbakar karena panasnya kopi.

“Bapak tidak papa?” Rinto tak menjawab, pria paruh baya itu hanya meletakkan kembali cangkir di tangan ke atas meja.

“Bagaimana Ibu bisa berpikir seperti itu?” Rinto memilih mengabaikan pertanyaan sang istri dan menanyakan hal itu. Dia tak pernah membayangkan ingin melakukan hal itu.
Janum menghela napas. “Ibu hanya berpikir, Rumi bisa melupakan Zein dengan kehadiran orang baru, bukan dengan waktu.”

Rinto menggelengkan kepalanya mendengar penuturan sang istri. “Semua itu tidak akan berhasil. Setelah bertemu Zein waktu itu, bapak tahu, mereka tak terpisahkan meski terdapat jarak juga waktu.” Janum seketika menoleh ke arah sang suami setelah lama menunduk.

“Lalu, apa yang ingin bapak lakukan sekarang? Menikahkan mereka dan melihat semuanya hancur karena mala petaka yang akan mereka bawa dalam pernikahan?” tanya Janum, Rinto hanya diam, membiarkan sang istri meluapakan apa yang dia pikirkan. “Tidak, Pak. Ibu tidak akan membiarkan itu.”

“Bu, coba pahami apa yang dikatakan Rumi. Bukankah dia ada benarnya juga? Pantangan ngalor ngetan ada sejak zaman dulu, tapi semua mala petaka yang diceritakan tidak pernah terjadi.”

“Karena tidak ada yang berani melanggar pantangan itu,” potong Janum, sebelum Rinto kembali membuka suara.

“Ya, karena warga desa terlalu percaya dan takut pada cerita nenek moyang mereka, yang mungkin saja hanya sebuah dongeng pengantar tidur.”

“Pak, kita di Jawa, Pak. Semua orang tau bahwa Jawa masih kental dengan nilai-nilai mistiknya, semua bisa terjadi bahkan sampai yang diluar nalar manusia. Ibu takut, Pak.“


(lupa update lagi kemarin, banyak tugas 😭 maap ya kakak :v)
pulaukapok
itkgid
ariefdias
ariefdias dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.