- Beranda
- Stories from the Heart
Ngalor-Ngetan
...
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan

NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu
Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.
Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini
. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca 
Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.
"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.
"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.
"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?
"Bukan itu, Mbak."
"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?
"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.
"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.
"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."
"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.
"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.
"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.
"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.
Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.
"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.
"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.
"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.
Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.
Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.
"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.
"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.
"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.
"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.
"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.
"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.
Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.
"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.
"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."
Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.
"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.
"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.
"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.
"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.
“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.
Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.
"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.
"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.
"Saya tidak papa," jawabnya singkat.
"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.
Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.
Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.
Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.
"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.
Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.
Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?
Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.
"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.
"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.
Sumber gambar : Google and PistArt
Quote:
Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Visiliya123
#1
Sekar Arum Rinjani
Sekar Arum Rinjani, itulah nama gadis itu. Mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana nama Rumi tersemat pada dirinya. Nama Rumi sebenarnya diambil dari Arum dan Rinjani. Dia terkadang juga bingung mengapa orang-orang di desa memanggilnya dengan nama Rumi, padahal banyak nama yang ia miliki. Dibandingkan dengan nama Rumi, Sekar, Arum, dan Rinjani lebih modern dan itu sesuai dengan gaya gadis itu. Tapi tak ada satu pun orang di desa ini yang mau memanggilnya dengan nama “Sekar”, atau namanya yang lain.
“Rum, jangan lupa salat!” pesan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu gadis itu. Rumi hanya tersenyum menanggapi pesan sang ibu. “Ibu tau kamu lelah, tapi kewajiban tetaplah kewajiban.”
“Iya, Bu.”
Seusai salat Rumi merebahkan diri di atas kasur. Tubuhnya benar-benar terasa remuk sekarang, semua hal yang terjadi hari ini telah menguras tenaga, membuat lelah jiwa dan raganya. Kedua mata berwarna coklat itu mulai terpejam sesaat setelah menatap langit-langit kamar.
Deru napas pelan terdengar, menandakan si empunya telah terlelap dan tenggelam dalam bunga tidur. Tenang, wajahnya begitu tenang ketika terlelap. Lalu tak lama kemudian, bola matanya bergerak-gerak gelisah dengan kelopak mata tertutup. Wajah gadis itu berubah tegang dan pucat pasi. Keringat dingin pun terlihat membasahi wajahnya.
Rumi menggenggam erat sprei dengan kedua tangannya. Tubuhnya terlihat tertahan, hanya ada bola mata yang bergerak-gerak gelisah.
Sesuatu yang besar seperti menimpa tubuhnya. Dada Rumi sesak, napasnya tercekat, ingin rasanya dia berteriak, tetapi tak ada suara yang berhasil keluar dari bibir tipisnya. Seluruh badannya kaku, tak bisa digerakkan. Matanya terlihat dipaksakan untuk terpejam, tetapi Rumi bisa melihat keadaan sekitar. Entah khayalan atau bukan, Rumi seperti melihat sebuah makhluk besar berwarna hitam menimpa tubuhnya. Matanya semerah darah menatap Rumi dengan tajam, sebuah taring panjang mencuat dari mulutnya, menembus kulit rahang atas dan bawah makhluk itu.
Rumi menelan ludah, mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, nihil, semua usaha yang ia lakukan nyatanya hanya sia-sia belaka. Kini gadis itu hanya bisa mengumpat di dalam hati, merutuki apa yang terjadi pada dirinya.
Makhluk itu semakin mendekat. Bau singkong bakar yang menguar dari tubuhnya membuat Rumi menahan napas. Makhluk itu mendekatkan taringnya pada leher Rumi. Gadis itu masih mencoba begerak menjauh, dia benar-benar takut sekarang.
Ujung taring itu kini telah menyentuh kulit lehernya, setetes cairan bening bergerak turun dari kelopak mata yang tertutup. Lalu tiba-tiba, suara ketukan pintu dari luar terdengar. Tak berselang lama, beban yang menimpa tubuhnya seperti lenyap begitu saja bersamaan dengan hilangnya makhluk besar mengerikan tadi.
Rumi mencoba bangun, dia terengah-engah, memegang dada, di mana jantung yang berdetak cepat berada. Tubuhnya basah dengan keringat dingin yang terus saja keluar.
Apakah tadi dia bermimpi? Tetapi mengapa mimpi tadi terasa sangat nyata, hampir semua bagian dari tubuh Rumi terasa remuk, dia merasa nyawanya berada di ujung tanduk dan mungkin jika beban itu masih berada di tubuhnya untuk beberapa menit lagi, gadis itu yakin dia akan tinggal nama di dunia ini.
Rumi berusaha menetralkan pernapasannya, menarik dan mengembuskan napas, hingga ia benar-benar tenang. Tangan gadis itu memegang leher, tenggorokan kini terasa kering, seperti tak ada cairan.
“I-bu,” ujar Rumi sedikit terbata.
“Ibu,” panggilnya lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras. Namun, lagi-lagi dia tak mendapat jawaban. Apa mungkin yang mengetuk pintu tadi bukan ibunya? Mungkinkah itu ayahnya atau malah pakdenya? Tetapi mengapa mereka tak menyahut?
Rumi yang tak kunjung mendapat jawaban memilih untuk mengecek siapa yang ada di balik pintu itu. Dengan perlahan gadis itu turun dari ranjang, berjalan menuju pintu, membukanya dengan gerakan pelan. Dahinya mengernyit ketika tak melihat seorang pun di balik pintu. Tak mau memikirkannya lebih panjang, dia memilih keluar kamar, pergi menuju ke dapur untuk mengambil minum.
Tangan Rumi sibuk menuang air di teko ke dalam gelas, dia duduk di kursi sambil meneguk minuman dengan perlahan. Senyum lega terlihat di wajahnya, tatkala cairan bening menyegarkan itu mengalir membasahi kerongkongan.
Suara tokek kini terdengar menusuk indra pendengaran, sangat jelas di kesunyian malam saat itu. Rumi menegang, meletakkan gelas di atas meja. Hawa dingin kini mulai ia rasakan, bulu kuduknya meremang, hingga tangannya sibuk mengusap tengkuk yang terasa sangat dingin dengan rambut-rambut halus yang berdiri.
Gadis itu teringat tentang mitos yang mengatakan, “Ketika kau mendengar suara tokek di tengah malam, itu berarti ada makhluk halus yang tengah memperhatikanmu, menjadikan dirimu sebagai pusat penglihatannya.” Rumi tak ingin percaya dengan semua itu, tapi tubuhnya menolak menyangkal hal tersebut. Seluruh tubuhnya panas-dingin sekarang ini, persis ketika dirinya di jembatan kemarin.
Bedanya, kemarin dia di luar dan sekarang dia di dalam rumah, tempat yang tak kalah seram dari tempat-tempat di luar sana. Entahlah, Rumi hanya merasa seperti itu. Apalagi sudah sepuluh tahun lamanya gadis itu tak tinggal di sini, dia pergi ke kota, ke rumah bibinya sekaligus untuk mengenyam pendidikan di sana.
Rumi semakin menegang, ketika suara ayam jago yang berkokok ikut terdengar, seakan membenarkan mitos suara tokek tersebut. Rasa takut kini kembali menguasai dirinya. Lagi-lagi mitos yang tak ingin ia percayai terngiang di kepala. Neneknya dulu pernah mengatakan, "Jika kamu mendengar suara ayam jago berkokok di tengah malam, berarti dia telah merasakan adanya makhluk halus di sekitarnya. Di mana saat malam seharusnya ayam itu tidur, tapi dia berkokok karena terbangun akan kehadiran makhluk itu."
Rumi menggelengkan kepala, mengusir pemikiran-pemikiran negatif yang terus saja berputar di otaknya. Menelan ludah, kembali ia minum air di dalam gelas. Tanpa sengaja, ekor matanya menangkap pergerakan seseorang di luar pintu dapur yang terbuka. Hawa dingin itu kembali menyerang, ia kembali menelan ludah dengan susah payah. Meletakkan gelasnya, gadis itu bangkit dari duduk, berjalan perlahan, keluar dari dapur.
Rumi mengedarkan pandangan ke segala arah, ia mencoba mencari-cari dengan modal sok berani. Langkahnya terhenti, tepat di depan sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Rumi mengernyitkan kening, ketika mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Rasa penasaran kini menguasai dirinya. Dengan percaya diri, gadis itu berdiri di depan celah pintu, mengintip dari sana.
Gelap, begitulah yang Rumi lihat. Ruangan itu hanya diterangi dua lilin dengan api yang membakarnya. Seorang pria bertubuh besar dan tinggi, tengah berdiri menyampingi pintu. Meski begitu, Rumi tau jika itu adalah Pakde Seto, pria yang sama, yang kemarin mendatangi Rumi saat di depan rumah. Gadis itu kembali menelan ludah, ketika netranya menangkap sebuah keris di tangan sang pakde (paman).
"Matur nuwun," ucap pria itu. Rumi mengernyit mendengarnya. Mengapa Pakde Seto berterima kasih, pada siapa ucapan itu ditujukan? Padahal di ruangan itu hanya ada dirinya seorang. Pria itu benar-benar tidak waras, pikir Rumi.
Pakde Seto sibuk membolak-balik keris di tangan, lalu mencelupkannya ke dalam baskom berisi bunga mawar, sambil berguman tak jelas. Aroma melati kini menusuk indra penciuman Rumi. Terasa aneh, dia melihat bunga yang di tabur di air adalah bunga mawar, tapi kenapa ia mencium bau melati?
Lagi-lagi Rumi menegang, bulu kuduknya kembali meremang, setelah tadi sudah sempat normal. Dia merasakan embusan napas di leher bagian belakang. Gadis itu mengumpat dalam hati, dia benar-benar benci dengan situasi seperti ini, dan sialnya, dia selalu berada di situasi ini setelah kembali menginjakkan kaki di tempat kelahirannya. Jika orang lain akan merasa lebih aman di tempat kelahiran, maka tidak untuk Rumi.
Rumi mencoba menguasai dirinya—kembali memfokuskan pandangan ke dalam ruangan—mencoba tak memedulikan hal tersebut. Mata membelalak, tubuh kembali menegang, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Gadis itu bimbang, antara menoleh ke belakang atau tidak. Menutup mulutnya dengan kedua tangan, untuk mengantisipasi jika dirinya berteriak, gadis itu memutar tubuh ke belakang dengan perlahan. Tak dipungkiri bahwa ia tengah ketakutan setengah mati sekarang.
Mata gadis itu mendelik, tapi di detik berikutnya tatapan itu kembali normal. Dia menghela napas lega, ketika menyadari yang ia lihat adalah seorang wanita paruh baya, dengan rambut yang di cepol rapi ke belakang.
"Ibu, ngagetin Rumi, aja," ucap Rumi pelan, agar orang di dalam ruangan itu tak mendengar.
Wanita paruh baya yang Rumi panggil ibu hanya mengernyitkan kening. "Kamu ngapain di sini, Nduk, tengah malam begini?" Rumi meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar sang ibu diam.
Gadis itu sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Hingga berakhir pada pintu di belakangnya. Rumi kembali menatap sang ibu, menarik tangan wanita itu dengan perlahan untuk mengikutinya.
"Tadi Rumi terbangun, karena haus Rumi pergi ke dapur untuk mengambil minum," ujar gadis itu. Janum, ibu Rumi, hanya diam mendengarkan sang putri. Rumi menghela napas, menyandarkan tubuh pada sandaran kursi. Ya, gadis itu membawa sang ibu ke ruang tamu.
"Rumi dengar Pakde Seto bicara, tapi Rumi tidak tau dengan siapa dia bicara. Apa pakde masih sering begitu, Bu?" Janum hanya diam, menatap Rumi yang saat ini tengah menuntut jawaban.
"Bu!"
"Jangan mengurusi pakdemu, Rumi! Biarkan saja dia melakukan apa yang dia anggap benar." Rumi mengernyit mendengar perkataan sang ibu.
Lengkungan kini terlihat di wajah tirus Janum, salah satu tangannya tergerak, menyuruh Rumi mendekat ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Rumi mendekat, menyandarkan kepala di dada sang ibu. Tangannya kini melingkar pada perut sang ibu. Dengan lembut, Janum membelai rambut sang putri.
"Ibu sangat merindukanmu." Rumi hanya tersenyum mendengarnya. "Setelah kamu pergi dan sekarang kembali, ndak ada yang berubah dari desa ini. Semua masih sama, Nduk. Jadilah anak baik, jangan biarkan rasa ingin tahu membahayakan dirimu sendiri!" Rumi melepas pelukannya. Gadis itu menatap sang ibu dalam. "Kamu tidak bisa merubah yang sudah ada. Jika tidak memercayai semuanya, setidaknya diam untuk menghormatinya!"
Rumi terdiam sesaat, mata gadis itu menatap Janum dengan tatapan tak setuju sebelum berkata, "Bu, tapi—“
"Ajining awak dumunung ing tumindak, Nduk. Ilingo kuwi!" potong Janum cepat. Cara kita bertindak dapat mencerminkan siapa kita sebenarnya, itulah yang sering Janum katakan pada putrinya sejak kecil. Rumi menghela napas, menatap sang ibu sebentar kemudian bangkit dari duduknya, dan berjalan pergi meninggalkan sang ibu dengan tatapan kecewa.
Sekar Arum Rinjani, itulah nama gadis itu. Mungkin kalian bertanya-tanya bagaimana nama Rumi tersemat pada dirinya. Nama Rumi sebenarnya diambil dari Arum dan Rinjani. Dia terkadang juga bingung mengapa orang-orang di desa memanggilnya dengan nama Rumi, padahal banyak nama yang ia miliki. Dibandingkan dengan nama Rumi, Sekar, Arum, dan Rinjani lebih modern dan itu sesuai dengan gaya gadis itu. Tapi tak ada satu pun orang di desa ini yang mau memanggilnya dengan nama “Sekar”, atau namanya yang lain.
“Rum, jangan lupa salat!” pesan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu gadis itu. Rumi hanya tersenyum menanggapi pesan sang ibu. “Ibu tau kamu lelah, tapi kewajiban tetaplah kewajiban.”
“Iya, Bu.”
Seusai salat Rumi merebahkan diri di atas kasur. Tubuhnya benar-benar terasa remuk sekarang, semua hal yang terjadi hari ini telah menguras tenaga, membuat lelah jiwa dan raganya. Kedua mata berwarna coklat itu mulai terpejam sesaat setelah menatap langit-langit kamar.
Deru napas pelan terdengar, menandakan si empunya telah terlelap dan tenggelam dalam bunga tidur. Tenang, wajahnya begitu tenang ketika terlelap. Lalu tak lama kemudian, bola matanya bergerak-gerak gelisah dengan kelopak mata tertutup. Wajah gadis itu berubah tegang dan pucat pasi. Keringat dingin pun terlihat membasahi wajahnya.
Rumi menggenggam erat sprei dengan kedua tangannya. Tubuhnya terlihat tertahan, hanya ada bola mata yang bergerak-gerak gelisah.
Sesuatu yang besar seperti menimpa tubuhnya. Dada Rumi sesak, napasnya tercekat, ingin rasanya dia berteriak, tetapi tak ada suara yang berhasil keluar dari bibir tipisnya. Seluruh badannya kaku, tak bisa digerakkan. Matanya terlihat dipaksakan untuk terpejam, tetapi Rumi bisa melihat keadaan sekitar. Entah khayalan atau bukan, Rumi seperti melihat sebuah makhluk besar berwarna hitam menimpa tubuhnya. Matanya semerah darah menatap Rumi dengan tajam, sebuah taring panjang mencuat dari mulutnya, menembus kulit rahang atas dan bawah makhluk itu.
Rumi menelan ludah, mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, nihil, semua usaha yang ia lakukan nyatanya hanya sia-sia belaka. Kini gadis itu hanya bisa mengumpat di dalam hati, merutuki apa yang terjadi pada dirinya.
Makhluk itu semakin mendekat. Bau singkong bakar yang menguar dari tubuhnya membuat Rumi menahan napas. Makhluk itu mendekatkan taringnya pada leher Rumi. Gadis itu masih mencoba begerak menjauh, dia benar-benar takut sekarang.
Ujung taring itu kini telah menyentuh kulit lehernya, setetes cairan bening bergerak turun dari kelopak mata yang tertutup. Lalu tiba-tiba, suara ketukan pintu dari luar terdengar. Tak berselang lama, beban yang menimpa tubuhnya seperti lenyap begitu saja bersamaan dengan hilangnya makhluk besar mengerikan tadi.
Rumi mencoba bangun, dia terengah-engah, memegang dada, di mana jantung yang berdetak cepat berada. Tubuhnya basah dengan keringat dingin yang terus saja keluar.
Apakah tadi dia bermimpi? Tetapi mengapa mimpi tadi terasa sangat nyata, hampir semua bagian dari tubuh Rumi terasa remuk, dia merasa nyawanya berada di ujung tanduk dan mungkin jika beban itu masih berada di tubuhnya untuk beberapa menit lagi, gadis itu yakin dia akan tinggal nama di dunia ini.
Rumi berusaha menetralkan pernapasannya, menarik dan mengembuskan napas, hingga ia benar-benar tenang. Tangan gadis itu memegang leher, tenggorokan kini terasa kering, seperti tak ada cairan.
“I-bu,” ujar Rumi sedikit terbata.
“Ibu,” panggilnya lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras. Namun, lagi-lagi dia tak mendapat jawaban. Apa mungkin yang mengetuk pintu tadi bukan ibunya? Mungkinkah itu ayahnya atau malah pakdenya? Tetapi mengapa mereka tak menyahut?
Rumi yang tak kunjung mendapat jawaban memilih untuk mengecek siapa yang ada di balik pintu itu. Dengan perlahan gadis itu turun dari ranjang, berjalan menuju pintu, membukanya dengan gerakan pelan. Dahinya mengernyit ketika tak melihat seorang pun di balik pintu. Tak mau memikirkannya lebih panjang, dia memilih keluar kamar, pergi menuju ke dapur untuk mengambil minum.
Tangan Rumi sibuk menuang air di teko ke dalam gelas, dia duduk di kursi sambil meneguk minuman dengan perlahan. Senyum lega terlihat di wajahnya, tatkala cairan bening menyegarkan itu mengalir membasahi kerongkongan.
Suara tokek kini terdengar menusuk indra pendengaran, sangat jelas di kesunyian malam saat itu. Rumi menegang, meletakkan gelas di atas meja. Hawa dingin kini mulai ia rasakan, bulu kuduknya meremang, hingga tangannya sibuk mengusap tengkuk yang terasa sangat dingin dengan rambut-rambut halus yang berdiri.
Gadis itu teringat tentang mitos yang mengatakan, “Ketika kau mendengar suara tokek di tengah malam, itu berarti ada makhluk halus yang tengah memperhatikanmu, menjadikan dirimu sebagai pusat penglihatannya.” Rumi tak ingin percaya dengan semua itu, tapi tubuhnya menolak menyangkal hal tersebut. Seluruh tubuhnya panas-dingin sekarang ini, persis ketika dirinya di jembatan kemarin.
Bedanya, kemarin dia di luar dan sekarang dia di dalam rumah, tempat yang tak kalah seram dari tempat-tempat di luar sana. Entahlah, Rumi hanya merasa seperti itu. Apalagi sudah sepuluh tahun lamanya gadis itu tak tinggal di sini, dia pergi ke kota, ke rumah bibinya sekaligus untuk mengenyam pendidikan di sana.
Rumi semakin menegang, ketika suara ayam jago yang berkokok ikut terdengar, seakan membenarkan mitos suara tokek tersebut. Rasa takut kini kembali menguasai dirinya. Lagi-lagi mitos yang tak ingin ia percayai terngiang di kepala. Neneknya dulu pernah mengatakan, "Jika kamu mendengar suara ayam jago berkokok di tengah malam, berarti dia telah merasakan adanya makhluk halus di sekitarnya. Di mana saat malam seharusnya ayam itu tidur, tapi dia berkokok karena terbangun akan kehadiran makhluk itu."
Rumi menggelengkan kepala, mengusir pemikiran-pemikiran negatif yang terus saja berputar di otaknya. Menelan ludah, kembali ia minum air di dalam gelas. Tanpa sengaja, ekor matanya menangkap pergerakan seseorang di luar pintu dapur yang terbuka. Hawa dingin itu kembali menyerang, ia kembali menelan ludah dengan susah payah. Meletakkan gelasnya, gadis itu bangkit dari duduk, berjalan perlahan, keluar dari dapur.
Rumi mengedarkan pandangan ke segala arah, ia mencoba mencari-cari dengan modal sok berani. Langkahnya terhenti, tepat di depan sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Rumi mengernyitkan kening, ketika mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Rasa penasaran kini menguasai dirinya. Dengan percaya diri, gadis itu berdiri di depan celah pintu, mengintip dari sana.
Gelap, begitulah yang Rumi lihat. Ruangan itu hanya diterangi dua lilin dengan api yang membakarnya. Seorang pria bertubuh besar dan tinggi, tengah berdiri menyampingi pintu. Meski begitu, Rumi tau jika itu adalah Pakde Seto, pria yang sama, yang kemarin mendatangi Rumi saat di depan rumah. Gadis itu kembali menelan ludah, ketika netranya menangkap sebuah keris di tangan sang pakde (paman).
"Matur nuwun," ucap pria itu. Rumi mengernyit mendengarnya. Mengapa Pakde Seto berterima kasih, pada siapa ucapan itu ditujukan? Padahal di ruangan itu hanya ada dirinya seorang. Pria itu benar-benar tidak waras, pikir Rumi.
Pakde Seto sibuk membolak-balik keris di tangan, lalu mencelupkannya ke dalam baskom berisi bunga mawar, sambil berguman tak jelas. Aroma melati kini menusuk indra penciuman Rumi. Terasa aneh, dia melihat bunga yang di tabur di air adalah bunga mawar, tapi kenapa ia mencium bau melati?
Lagi-lagi Rumi menegang, bulu kuduknya kembali meremang, setelah tadi sudah sempat normal. Dia merasakan embusan napas di leher bagian belakang. Gadis itu mengumpat dalam hati, dia benar-benar benci dengan situasi seperti ini, dan sialnya, dia selalu berada di situasi ini setelah kembali menginjakkan kaki di tempat kelahirannya. Jika orang lain akan merasa lebih aman di tempat kelahiran, maka tidak untuk Rumi.
Rumi mencoba menguasai dirinya—kembali memfokuskan pandangan ke dalam ruangan—mencoba tak memedulikan hal tersebut. Mata membelalak, tubuh kembali menegang, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Gadis itu bimbang, antara menoleh ke belakang atau tidak. Menutup mulutnya dengan kedua tangan, untuk mengantisipasi jika dirinya berteriak, gadis itu memutar tubuh ke belakang dengan perlahan. Tak dipungkiri bahwa ia tengah ketakutan setengah mati sekarang.
Mata gadis itu mendelik, tapi di detik berikutnya tatapan itu kembali normal. Dia menghela napas lega, ketika menyadari yang ia lihat adalah seorang wanita paruh baya, dengan rambut yang di cepol rapi ke belakang.
"Ibu, ngagetin Rumi, aja," ucap Rumi pelan, agar orang di dalam ruangan itu tak mendengar.
Wanita paruh baya yang Rumi panggil ibu hanya mengernyitkan kening. "Kamu ngapain di sini, Nduk, tengah malam begini?" Rumi meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar sang ibu diam.
Gadis itu sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Hingga berakhir pada pintu di belakangnya. Rumi kembali menatap sang ibu, menarik tangan wanita itu dengan perlahan untuk mengikutinya.
"Tadi Rumi terbangun, karena haus Rumi pergi ke dapur untuk mengambil minum," ujar gadis itu. Janum, ibu Rumi, hanya diam mendengarkan sang putri. Rumi menghela napas, menyandarkan tubuh pada sandaran kursi. Ya, gadis itu membawa sang ibu ke ruang tamu.
"Rumi dengar Pakde Seto bicara, tapi Rumi tidak tau dengan siapa dia bicara. Apa pakde masih sering begitu, Bu?" Janum hanya diam, menatap Rumi yang saat ini tengah menuntut jawaban.
"Bu!"
"Jangan mengurusi pakdemu, Rumi! Biarkan saja dia melakukan apa yang dia anggap benar." Rumi mengernyit mendengar perkataan sang ibu.
Lengkungan kini terlihat di wajah tirus Janum, salah satu tangannya tergerak, menyuruh Rumi mendekat ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Rumi mendekat, menyandarkan kepala di dada sang ibu. Tangannya kini melingkar pada perut sang ibu. Dengan lembut, Janum membelai rambut sang putri.
"Ibu sangat merindukanmu." Rumi hanya tersenyum mendengarnya. "Setelah kamu pergi dan sekarang kembali, ndak ada yang berubah dari desa ini. Semua masih sama, Nduk. Jadilah anak baik, jangan biarkan rasa ingin tahu membahayakan dirimu sendiri!" Rumi melepas pelukannya. Gadis itu menatap sang ibu dalam. "Kamu tidak bisa merubah yang sudah ada. Jika tidak memercayai semuanya, setidaknya diam untuk menghormatinya!"
Rumi terdiam sesaat, mata gadis itu menatap Janum dengan tatapan tak setuju sebelum berkata, "Bu, tapi—“
"Ajining awak dumunung ing tumindak, Nduk. Ilingo kuwi!" potong Janum cepat. Cara kita bertindak dapat mencerminkan siapa kita sebenarnya, itulah yang sering Janum katakan pada putrinya sejak kecil. Rumi menghela napas, menatap sang ibu sebentar kemudian bangkit dari duduknya, dan berjalan pergi meninggalkan sang ibu dengan tatapan kecewa.
uzzummaki dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Tutup