- Beranda
- Stories from the Heart
Ngalor-Ngetan
...
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan

NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu
Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.
Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini
. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca 
Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.
"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.
"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.
"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?
"Bukan itu, Mbak."
"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?
"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.
"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.
"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."
"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.
"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.
"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.
"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.
Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.
"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.
"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.
"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.
Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.
Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.
"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.
"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.
"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.
"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.
"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.
"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.
Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.
"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.
"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."
Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.
"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.
"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.
"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.
"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.
“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.
Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.
"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.
"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.
"Saya tidak papa," jawabnya singkat.
"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.
Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.
Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.
Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.
"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.
Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.
Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?
Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.
"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.
"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.
Sumber gambar : Google and PistArt
Quote:
Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Visiliya123
#85
Ngalor Ngetan
Ragu dan Yakin
Acara pemakaman Rinto berjalan dengan lancar, memberikan kelegaan pada keluarga yang ditinggalkan. Orang-orang yang memenuhi rumah Rumi tadi seketika hilang, mereka kembali ke rumah masing-masing.
Zein yang baru kembali dari pemakaman menghampiri Rumi yang terduduk di teras rumah, tepatnya di bagian ujung samping kanan. Gadis itu tengah menatap tanah yang terlihat basah dengan air, juga dihiasi taburan kelopak mawar—tempat di mana bapaknya dimandikan tadi.
“Sekar,” panggil Zein pelan. Meski Rumi mendengar, gadis itu hanya diam saja, jangankan bersuara, untuk menoleh ke belakang saja enggan ia lakukan. Rumi masih belum siap untuk mendengar apa yang akan dibicarakan oleh pemuda itu. Dia, terlalu takut.
“Sekar, saya ingin melanjutkan pembicaraan yang tadi.” Napas Rumi tercekat, dan mungkin jika jantung bekerja dalam kesadaran kita, mungkin jantung Rumi akan berhenti berdetak untuk sesaat. Yang Rumi takutkan malah terjadi. Apa yang harus ia lakukan?
“Sekar.”
“Aku gak enak badan,” ujar Rumi. Gadis itu bangkit dari duduk, memutar tubuh menghadap Zein dengan memasang raut wajah datar. “Bicarakan lain kali saja, ya.”
“Tapi, Sekar, sa—“ Zein menghentikan ucapannya ketika Rumi yang tengah berjalan meninggalkannya tiba-tiba berbalik, menatap Zein dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
“Baiklah, kita bicarakan besok saja,” ujar Zein memilih menyudahi percakapan tidak enak ini.
Rumi tersenyum tipis, lalu kembali melangkah menuju tujannya, yaitu masuk ke dalam rumah. Zein menghela napas, perasaannya berada di ambang batas. Dia merasa lega karena tidak harus mengatakan apa yang ada dipikirannya pada Rumi sekarang, sejujurnya Zein juga sama takutnya seperti Rumi. Tapi di lain sisi, dirinya sangat cemas, jika tidak segera, bagaimana jika semua terlambat dan menjadi lebih buruk lagi? Zein lebih takut jika kejadian buruk yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
Zein cukup terkejut ketika melihat Pakde Seto yang tengah berdiri di depannya. Entah kapan pria paruh baya itu berdiri di sana, Zein benar-benar tak menyadarinya.
”Sabar sareh mesthi bakal pikoleh. Yen yakin lakonono, yen mangu tinggalono," ucap Pakde Seto.
Zein terdiam, mencoba mencerna kalimat yang ia dengar itu. Pemuda itu tersentak, ketika sebuah tepukan di bahu ia dapatkan. Ditatapnya Pakde Seto dalam diam, sebuah senyum tipis dapat Zein tangkap di wajah pria itu. Sebuah keanehan dan sedikit membuat Zein takut.
“Sebaiknya kau pulang sekarang!” Zein hanya bisa mengangguk, kakinya tiba-tiba melangkah dengan sendirinya seperti ada yang menggerakkan. Entahlah, Zein hanya merasa seperti itu sekarang.
***
Sudah tujuh hari semenjak kematian Rinto dan selama itu pula Rumi terus menghindar dari Zein. Setiap kali Zein datang, Rumi selalu mencari alasan agar tak bertatap muka dengan pemuda itu untuk waktu yang lama. Salah, ya Rumi menyadari jika tindakannya ini salah. Lari dari masalah bukanlah gaya Rumi, tapi kali ini dia harus melakukannya, sampai dirinya benar-benar siap untuk menghadapinya.
Saat ini Rumi tengah menatap sang ibu yang terlihat sibuk di dapur, mempersiapkan sarapan. Rumi menghela napas, sebelum melangkah masuk ke dapur.
“Bu,” panggil gadis itu pada Janum.
Tanpa mengalihkan pandangan pada kacang panjang yang ia potong, Janum menjawab, “Ada apa, Rum?”
“Rumi mau bantu.” Mendengar jawaban sang putri seketika membuat Janum berhenti memotong. Wanita itu berbalik, menatap sang putri dengan senyuman. Ada rasa senang di hati Janum, setelah kematian Rinto, Rumi banyak berubah. Gadis itu lebih hangat dan tidak keras kepala seperti sebelumnya, meski dia masih menjadi orang pendiam. Bicara saat ada perlunya saja.
“Kamu sudah sehat?”
Rumi menggigit bibir bawahnya. “Sebenarnya ....”
“Ibu tahu,” timpali Janum sambil tersenyum, sedangkan Rumi hanya menatap sang ibu. “Semua ini berat, benar? Tapi, Nduk, kamu tidak akan bisa menghindar untuk selamanya. Kamu boleh berlari sejauh mungkin, tapi ada saatnya untuk kamu berbalik dan menghadapinya. Ibu akan membebaskanmu untuk mengambil keputusan.”
“Tapi kenapa? Ibu sudah tidak peduli dengan Rumi?” tanya Rumi dengan nada naik satu oktaf .”Maaf.” Rumi merutuki dirinya sendiri karena berbicara dengan nada tinggi pada sang ibu.
“Membebaskan bukan berarti tidak peduli Rumi. Melihat bapakmu yang gigih ingin menikahkanmu dengan Zein agar kamu bahagia, membuat ibu menyadari sesuatu. Dan ibu harap, kamu tidak mengecewakan bapakmu, Nduk. Tapi, semua tergantung kamu dan Zein, karena kalian yang akan menjalani kehidupan itu. Omah-omah iku abot sangkane, Nduk."
Rumi terdiam cukup lama, dia menghela napas, menggenggam lembut lengan sang Ibu. “Apa ... bapak meninggal karena Rumi?”
Janum terdiam, wanita itu memilih memutar tubuh, kembali melanjutkan aktivitas memotonganya. “Lebih baik kamu bantu Ibu memasak, tidak baik membuat orang lain kelaparan karena menunggu.”
Rumi menghela napas, Janum mencoba menutup pembicaraan mengenai sang bapak. Apa ibunya tahu sesuatu? Apa benar bapaknya meninggal karena pantangan itu? Apa yang harus Rumi lakukan sekarang?
“Assalamualaikum.” Rumi terkejut, dia mengenali suara itu. Mengapa Zein datang di saat seperti ini?
“Rum, temui Zein sana!” Rumi hanya mengangguk, lalu melangkah pergi dari dapur.
Zein tersenyum ketika melihat Rumi yang berjalan ke arahnya.
“Mau minum apa, Zein?”
“Tidak perlu, Sekar. Saya hanya ingin bicara dengan kamu.” Rumi mengangguk, mendudukkan tubuhnya di kursi. Zein yang melihat itu merasa lega, lalu ikut duduk, di kursi yang berhadapan dengan Rumi. Keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Zein yang katanya ingin bicara, nyatanya malah melamun sendiri.
“Apa kamu berpikir ... kematian bapak karena pantangan itu?” tanya Rumi. Zein terdiam, membuat Rumi tersenyum kecut kerenanya. “Sepertinya memang begitu.”
Zein tak menyangkal perkataan Rumi, dia memang sempat berpikir seperti itu, tapi ....
“Apa kau ingin membatalkan pernikahan kita?” lagi-lagi Zein hanya diam, dia ragu untuk menjawabnya. “Sepertinya begitu.” Rumi mengembuskan napasnya dengan kasar setelah mengatakan itu. “Kamu yang membuatku terseret dalam semua ini, tapi dengan mudahnya kamu ingin berhenti dan lepas begitu saja? Kamu yang membuatku yakin untuk menikah, dan setelah semua yang bapak lakukan untuk memperjuangkan pernikahan ini--" Suara Rumi tercekat. Air mata yang ia tahan di pelupuk kini jatuh membasahi pipi. Dengan kasar Rumi menyekanya lalu mengembuskan napas dengan kasar,” semua akan sia-sia,” ujar Rumi lirih.
Semua yang terjadi membuatnya lemah. Rasanya begitu sakit seperti dihantam sesuatu yang besar tapi tak terlihat. Dada Rumi sesak, dia bahkan tak bisa mengutarakan dengan kata betapa sakitnya dia juga betapa kecewanya akan semua ini.
Rumi yang selalu terlihat tegar kini layaknya ayam yang kehilangan induknya. Dia bingung, takut dn sedih. "Lebih dari kamu, aku yang paling sakit di sini, Zein." Lagi-lagi air mata sialan itu mengalir tanpa diminta. Dan berulang kali gadis itu kenyekanya. "Sepuluh tahun, Zein, sepuluh tahun aku terpisah dengan bapak. Dan setelah semua itu--" Suaranya kembali tercekat akibat isakan tangis, "Bapak pergi untuk selamanya, Zein. Apakah semua itu gak cukup? Hingga kamu, orang yang aku cintai setelah kedua orang tuaku, juga ingin pergi dariku. Bagaimana aku bisa menahannya?"
"Maafkan saya, Sekar. Tapi ini yang terbaik, saya tidak ingin kamu---"
"Cukup!" sela Rumi cepat. Gadis itu memenghela napas, kedua matanya menututup untuk beberapa saat. “Kamu membuat cintaku kalah, Zein." Rumi tersenyum miris di sela isak tangisnya. "Dengan batalnya pernikahan kita, maka menunjukkan pada semua orang bahwa bapak meninggal karena pantangan ini. Semua ini sangat mengecewakan.”
“Maaf,” balas Zein dengan suara pelan. Pemuda itu tak tahu apa yang harus ia katakan lagi selain kata maaf saat ini.
"Lebih baik kamu pergi!"
"Sekar!"
"Aku mohon!"
Zein menatap sang dara dengan raut prihatin. Sama seperti Rumi, ini juga berat bagi Zein. Namun, dia tak boleh egois. Ini pilihan yang terbaik untuk sekarang. Zein tidak ingin menyiram api dengan minyak, maka dari itu dia memilih untuk pergi tanpa membantah atau memberi penjelasan sekali lagi. Kini Zein tahu sakitnya cinta terhalang tradisi. Rasanya dia ingin meminta penjelasan orang yang menerapkan tradisi itu hingga membuat cinta yang seharusnya manis malah menjadi sebuah tragedi memilukan seperti ini.
Ragu dan Yakin
Acara pemakaman Rinto berjalan dengan lancar, memberikan kelegaan pada keluarga yang ditinggalkan. Orang-orang yang memenuhi rumah Rumi tadi seketika hilang, mereka kembali ke rumah masing-masing.
Zein yang baru kembali dari pemakaman menghampiri Rumi yang terduduk di teras rumah, tepatnya di bagian ujung samping kanan. Gadis itu tengah menatap tanah yang terlihat basah dengan air, juga dihiasi taburan kelopak mawar—tempat di mana bapaknya dimandikan tadi.
“Sekar,” panggil Zein pelan. Meski Rumi mendengar, gadis itu hanya diam saja, jangankan bersuara, untuk menoleh ke belakang saja enggan ia lakukan. Rumi masih belum siap untuk mendengar apa yang akan dibicarakan oleh pemuda itu. Dia, terlalu takut.
“Sekar, saya ingin melanjutkan pembicaraan yang tadi.” Napas Rumi tercekat, dan mungkin jika jantung bekerja dalam kesadaran kita, mungkin jantung Rumi akan berhenti berdetak untuk sesaat. Yang Rumi takutkan malah terjadi. Apa yang harus ia lakukan?
“Sekar.”
“Aku gak enak badan,” ujar Rumi. Gadis itu bangkit dari duduk, memutar tubuh menghadap Zein dengan memasang raut wajah datar. “Bicarakan lain kali saja, ya.”
“Tapi, Sekar, sa—“ Zein menghentikan ucapannya ketika Rumi yang tengah berjalan meninggalkannya tiba-tiba berbalik, menatap Zein dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
“Baiklah, kita bicarakan besok saja,” ujar Zein memilih menyudahi percakapan tidak enak ini.
Rumi tersenyum tipis, lalu kembali melangkah menuju tujannya, yaitu masuk ke dalam rumah. Zein menghela napas, perasaannya berada di ambang batas. Dia merasa lega karena tidak harus mengatakan apa yang ada dipikirannya pada Rumi sekarang, sejujurnya Zein juga sama takutnya seperti Rumi. Tapi di lain sisi, dirinya sangat cemas, jika tidak segera, bagaimana jika semua terlambat dan menjadi lebih buruk lagi? Zein lebih takut jika kejadian buruk yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
Zein cukup terkejut ketika melihat Pakde Seto yang tengah berdiri di depannya. Entah kapan pria paruh baya itu berdiri di sana, Zein benar-benar tak menyadarinya.
”Sabar sareh mesthi bakal pikoleh. Yen yakin lakonono, yen mangu tinggalono," ucap Pakde Seto.
Zein terdiam, mencoba mencerna kalimat yang ia dengar itu. Pemuda itu tersentak, ketika sebuah tepukan di bahu ia dapatkan. Ditatapnya Pakde Seto dalam diam, sebuah senyum tipis dapat Zein tangkap di wajah pria itu. Sebuah keanehan dan sedikit membuat Zein takut.
“Sebaiknya kau pulang sekarang!” Zein hanya bisa mengangguk, kakinya tiba-tiba melangkah dengan sendirinya seperti ada yang menggerakkan. Entahlah, Zein hanya merasa seperti itu sekarang.
***
Sudah tujuh hari semenjak kematian Rinto dan selama itu pula Rumi terus menghindar dari Zein. Setiap kali Zein datang, Rumi selalu mencari alasan agar tak bertatap muka dengan pemuda itu untuk waktu yang lama. Salah, ya Rumi menyadari jika tindakannya ini salah. Lari dari masalah bukanlah gaya Rumi, tapi kali ini dia harus melakukannya, sampai dirinya benar-benar siap untuk menghadapinya.
Saat ini Rumi tengah menatap sang ibu yang terlihat sibuk di dapur, mempersiapkan sarapan. Rumi menghela napas, sebelum melangkah masuk ke dapur.
“Bu,” panggil gadis itu pada Janum.
Tanpa mengalihkan pandangan pada kacang panjang yang ia potong, Janum menjawab, “Ada apa, Rum?”
“Rumi mau bantu.” Mendengar jawaban sang putri seketika membuat Janum berhenti memotong. Wanita itu berbalik, menatap sang putri dengan senyuman. Ada rasa senang di hati Janum, setelah kematian Rinto, Rumi banyak berubah. Gadis itu lebih hangat dan tidak keras kepala seperti sebelumnya, meski dia masih menjadi orang pendiam. Bicara saat ada perlunya saja.
“Kamu sudah sehat?”
Rumi menggigit bibir bawahnya. “Sebenarnya ....”
“Ibu tahu,” timpali Janum sambil tersenyum, sedangkan Rumi hanya menatap sang ibu. “Semua ini berat, benar? Tapi, Nduk, kamu tidak akan bisa menghindar untuk selamanya. Kamu boleh berlari sejauh mungkin, tapi ada saatnya untuk kamu berbalik dan menghadapinya. Ibu akan membebaskanmu untuk mengambil keputusan.”
“Tapi kenapa? Ibu sudah tidak peduli dengan Rumi?” tanya Rumi dengan nada naik satu oktaf .”Maaf.” Rumi merutuki dirinya sendiri karena berbicara dengan nada tinggi pada sang ibu.
“Membebaskan bukan berarti tidak peduli Rumi. Melihat bapakmu yang gigih ingin menikahkanmu dengan Zein agar kamu bahagia, membuat ibu menyadari sesuatu. Dan ibu harap, kamu tidak mengecewakan bapakmu, Nduk. Tapi, semua tergantung kamu dan Zein, karena kalian yang akan menjalani kehidupan itu. Omah-omah iku abot sangkane, Nduk."
Rumi terdiam cukup lama, dia menghela napas, menggenggam lembut lengan sang Ibu. “Apa ... bapak meninggal karena Rumi?”
Janum terdiam, wanita itu memilih memutar tubuh, kembali melanjutkan aktivitas memotonganya. “Lebih baik kamu bantu Ibu memasak, tidak baik membuat orang lain kelaparan karena menunggu.”
Rumi menghela napas, Janum mencoba menutup pembicaraan mengenai sang bapak. Apa ibunya tahu sesuatu? Apa benar bapaknya meninggal karena pantangan itu? Apa yang harus Rumi lakukan sekarang?
“Assalamualaikum.” Rumi terkejut, dia mengenali suara itu. Mengapa Zein datang di saat seperti ini?
“Rum, temui Zein sana!” Rumi hanya mengangguk, lalu melangkah pergi dari dapur.
Zein tersenyum ketika melihat Rumi yang berjalan ke arahnya.
“Mau minum apa, Zein?”
“Tidak perlu, Sekar. Saya hanya ingin bicara dengan kamu.” Rumi mengangguk, mendudukkan tubuhnya di kursi. Zein yang melihat itu merasa lega, lalu ikut duduk, di kursi yang berhadapan dengan Rumi. Keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Zein yang katanya ingin bicara, nyatanya malah melamun sendiri.
“Apa kamu berpikir ... kematian bapak karena pantangan itu?” tanya Rumi. Zein terdiam, membuat Rumi tersenyum kecut kerenanya. “Sepertinya memang begitu.”
Zein tak menyangkal perkataan Rumi, dia memang sempat berpikir seperti itu, tapi ....
“Apa kau ingin membatalkan pernikahan kita?” lagi-lagi Zein hanya diam, dia ragu untuk menjawabnya. “Sepertinya begitu.” Rumi mengembuskan napasnya dengan kasar setelah mengatakan itu. “Kamu yang membuatku terseret dalam semua ini, tapi dengan mudahnya kamu ingin berhenti dan lepas begitu saja? Kamu yang membuatku yakin untuk menikah, dan setelah semua yang bapak lakukan untuk memperjuangkan pernikahan ini--" Suara Rumi tercekat. Air mata yang ia tahan di pelupuk kini jatuh membasahi pipi. Dengan kasar Rumi menyekanya lalu mengembuskan napas dengan kasar,” semua akan sia-sia,” ujar Rumi lirih.
Semua yang terjadi membuatnya lemah. Rasanya begitu sakit seperti dihantam sesuatu yang besar tapi tak terlihat. Dada Rumi sesak, dia bahkan tak bisa mengutarakan dengan kata betapa sakitnya dia juga betapa kecewanya akan semua ini.
Rumi yang selalu terlihat tegar kini layaknya ayam yang kehilangan induknya. Dia bingung, takut dn sedih. "Lebih dari kamu, aku yang paling sakit di sini, Zein." Lagi-lagi air mata sialan itu mengalir tanpa diminta. Dan berulang kali gadis itu kenyekanya. "Sepuluh tahun, Zein, sepuluh tahun aku terpisah dengan bapak. Dan setelah semua itu--" Suaranya kembali tercekat akibat isakan tangis, "Bapak pergi untuk selamanya, Zein. Apakah semua itu gak cukup? Hingga kamu, orang yang aku cintai setelah kedua orang tuaku, juga ingin pergi dariku. Bagaimana aku bisa menahannya?"
"Maafkan saya, Sekar. Tapi ini yang terbaik, saya tidak ingin kamu---"
"Cukup!" sela Rumi cepat. Gadis itu memenghela napas, kedua matanya menututup untuk beberapa saat. “Kamu membuat cintaku kalah, Zein." Rumi tersenyum miris di sela isak tangisnya. "Dengan batalnya pernikahan kita, maka menunjukkan pada semua orang bahwa bapak meninggal karena pantangan ini. Semua ini sangat mengecewakan.”
“Maaf,” balas Zein dengan suara pelan. Pemuda itu tak tahu apa yang harus ia katakan lagi selain kata maaf saat ini.
"Lebih baik kamu pergi!"
"Sekar!"
"Aku mohon!"
Zein menatap sang dara dengan raut prihatin. Sama seperti Rumi, ini juga berat bagi Zein. Namun, dia tak boleh egois. Ini pilihan yang terbaik untuk sekarang. Zein tidak ingin menyiram api dengan minyak, maka dari itu dia memilih untuk pergi tanpa membantah atau memberi penjelasan sekali lagi. Kini Zein tahu sakitnya cinta terhalang tradisi. Rasanya dia ingin meminta penjelasan orang yang menerapkan tradisi itu hingga membuat cinta yang seharusnya manis malah menjadi sebuah tragedi memilukan seperti ini.
69banditos dan 2 lainnya memberi reputasi
3