- Beranda
- Stories from the Heart
Ngalor-Ngetan
...
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan

NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu
Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.
Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini
. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca 
Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.
"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.
"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.
"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?
"Bukan itu, Mbak."
"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?
"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.
"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.
"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."
"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.
"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.
"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.
"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.
Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.
"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.
"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.
"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.
Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.
Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.
"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.
"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.
"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.
"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.
"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.
"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.
Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.
"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.
"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."
Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.
"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.
"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.
"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.
"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.
“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.
Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.
"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.
"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.
"Saya tidak papa," jawabnya singkat.
"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.
Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.
Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.
Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.
"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.
Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.
Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?
Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.
"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.
"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.
Sumber gambar : Google and PistArt
Quote:
Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Visiliya123
#14
Ngalor Ngetan
Horor story
Rumah Pak Waluyo
Malam ini begitu mencekam hingga rasanya bulu kuduk dipaksa terus berdiri. Pilihan yang tidak tepat dengan memaksakan diri tetap pergi ke rumah Pak Waluyo di tengah malam ribut seperti ini.
Angin bertiup cukup kencang, membawa terbang dedaunan kering ke jalanan yang hanya diterangi bohlam kuning yang terus saja bergoyang ke segala arah. Debu halus terlihat berputar-putar seiring gerakan angin, membuat ketiga orang itu berjalan sambil menutup kedua mata sekali-kali. Api dari obor yang di bawa oleh salah satu dari mereka terlihat bergerak gelisah, terkadang nyalanya meredup dan hampir mati. Namun, dia masih bisa menjaga diri tetap hidup di sepanjang jalan untuk menambah penerangan.
Suara dahan yang tertekan angin membawa kengerian. Pelan, tetapi terdengar jelas di telinga. Apalagi suara itu disahuti oleh suara bambu yang saling beradu hingga menimbulkan suara layaknya siulan. Bayangan pohon mahoni dan bambu di sepanjang jalan, terasa seperti bayangan seorang pengintai yang selalu memperhatikan pergerakan ketiganya.
Dari tadi, Rumi yang berjalan di samping Sarah hanya menelan ludah berkali-kali juga mengusap tengkuk untuk menetralisir rasa takut yang menjalarinya. Dilirikanya Sarah, gadis itu berjalan pelan sambil tertunduk, seolah suasana seperti ini tidak mengganggunya. Padahal, Rinto yang ada di depan Rumi saja terlihat memegang leher belakangnya sesekali sambil menjaga nyala obor agar tetap hidup. Bapaknya itu sesekali juga berhenti melangkah ketika mendengar suara-suara yang timbul akibat ributnya angin. Entah waspada atau apa, tetapi yang jelas ada kekhawatiran di dalam dirinya.
Ketiganya sampai di belokan menuju jalanan kecil yang masuk ke dalam. Rinto memimpin sedangkan Rumi berjalan paling belakang. Rumah Sarah terletak di ujung desa sebelah barat, memang cukup dekat dari rumah Rumi, mereka hanya perlu berjalan ke jalan utama dan berbelok, melewati jalan setapak yang menghubungkan jalan utama dengan rumahnya. Namun, perjalanan ini cukup lama, setidaknya itu yang mereka rasakan.
Setelah perjuangan yang cukup menguras tenaga, akhirnya ketiganya telah sampai di depan sebuah rumah yang hanya diterangi bohlam kuning di depannya. Di sekitar rumah itu lengang, tak ada bangunan selain semak-semak belukar juga rumput dan pohon bambu. Sarah memang tak beruntung karena rumahnya jauh dari para tetangga. Dan hanya tempat itu yang mereka punya. Rumi menghela napas, setidaknya dia bisa bernapas lega karena sudah sampai tujuan.
Bohlam yang bergerak gelisah itu perlahan meredup, lalu padam. Sepertinya bohlam itu konslet akibat ributnya angin. Ya, setidaknya masih ada obor yang setia menyala.
Sarah mencoba membuka pintu. Tepat setelah pintu terbuka bohlam tadi kembali menyala tiba-tiba.
"Aaa ...." Rumi menjerit karena terkejut, membuat kedua orang yang bersamanya menoleh seketika.
"Kamu ndak papa, Nduk?"
"Rumi gak papa, Pak. Hanya terkejut saja."
"Baiklah, ayo kita masuk."
Kedua gadis itu mengangguk, lalu Sarah melangkah masuk disusul oleh Rinto. Sedangkan Rumi, gadis itu sibuk menelan ludah, sesekali dia meraba tengkuk dan menatap ke sekeliling.
"Tenang, Rum. Tenang," ujar gadis itu bermonolog pada dirinya sendiri. Dia menarik dan mengembuskan napas berulang-ulang. "Ini bukan kamu. Kamu tidak sepenakut itu. Kamu berani. Ya, aku berani. Sangat berani."
Setelah mengatakan itu, Rumi tersenyum dan lebih tenang. Gadis itu mulai percaya diri. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil menatap pongah. Namun, raut wajahnya berubah ketika pandangannya berakhir pada ujung jalan depan rumah Sarah. Di sana terdapat dua tempat duduk dari beton yang berhadapan. Di bawahnya merupakan sebuah selokan. Di antara tempat duduk itu merupakan jalan pertemuan dengan dua jalan lainnya, sehingga membentuk pertigaan. Jalan itu begitu sepi, apalagi tempat itu merupakan petilasan salah satu Danyang di sini, yaitu Mbah S*ro.
Sebenarnya tak ada yang menyeramkan dari dua tempat duduk itu. Namun, cerita tentang kakek berjenggot panjang yang mencapai tanah membuat tempat itu menjadi seram. Apalagi katanya, banyak orang yang membenarkan cerita itu. Alhasil, banyak warga yang tak berani melintasinya ketika malam hari. Lagi pula, jalanan itu hanya ditemani oleh pohon tinggi juga pohon bambu di kedua sisinya sepanjang jalan dari sini menuju bukit kecil di atas sana. Tak ada bangunan yang membuatnya terlihat lebih baik. Ibarat kata, jalanan itu berada di tengah hutannnya desa ini. Sebenarnya tidak bisa disebut hutan juga, hanya karena ladang yang lumayan luas itu dihuni oleh pohon-pohon tinggi juga semak belukar. Namun, suasana di jalanan itu memang seperti melintasi sebuah hutan kecil. Yang tak jauh menyeramkan dari hutan yang sesungguhnya.
Saat sibuk memandangi pohon-pohon di sana, tak sengaja, mata coklat itu menangkap cahaya merah menyala di balik rimbunnya bambu. Cahaya itu layakanya sepasang mata yang tengah mengawasi dirinya. Lagi-lagi Rumi menelan ludah. Dia menutup mata lalu menghela napas. Meyakinkan dalam hati bahwa dia hanya berhalusinasi. Setelah dirasa sedikit tenang, gadis itu masuk ke dalam rumah Sarah, menyusul yang lain.
Hal pertama kali yang Rumi lihat adalah kegelapan yang sama dan bohlam kuning dengan daya yang sama seperti di depan rumah. Hanya saja, lebih terang sedikit, sebab cahaya bohlam terpantul kembali.
Seorang pria paruh baya yang terbujur kaku, di atas belahan bambu yang disatukan terpampang jelas dalam cahaya remang-remang. Wajahnya pucat pasi. Kedua tangannya tertekuk di depan dada. Matanya terpejam, tetapi terlihat gurat kesedihan di wajah tua dengan keriput yang mulai terlihat.
Di samping jasad itu, Rinto dan Sarah sibuk menggunting pakaian Pak Waluyo. Rumi tak kuasa untuk mendekat, dia merasa tak nyaman. Lagipula dia tak ingin melihat apa yang seharusnya tak boleh ia lihat.
"Sa, apakah ada lilin?" tanyanya pada Sarah. Rumi merasa bahwa ini kurang terang.
"Cari saja di kamarku, Rum. Di sebelah sana." Tunjuk Sarah pada ruangan yang hanya tertutup gorden hijau yang bergerak-gerak. Rumi menelan ludah, di sana bahkan lebih gelap.
"Ambil obor ini, dan carilah lilinnya," ujar Rinto, seakan tahu apa yang membuat putrinya tak bergegas melangkah. Pria paruh baya itu, mengambil obor yang telah ia matikan. Lalu kembali menghidupkannya. Untung saja Rinto selalu bawa korek, karena ia tipe perokok aktif.
Rumi mengangguk, lalu mengambil obor tersebut. Gadis itu mulai melangkah perlahan menuju kamar Sarah. Setidaknya dia bisa menghindari jenazah Pak Waluyo.
"Sial!" umpatnya ketika sudah masuk ke dalam kamar Sarah. "Ini kamar sengaja gak dikasih lampu atau lampunya mati sih? Gelap banget. Tau gini tadi aku bawa ponsel, huh."
"Aduh!" Tanpa sengaja gadis itu menyandung kursi. Di arahkannya obor dengan api yang sudah meredup ke sana.
"Siapa sih yang naruh kursi di tengah jalan masuk seperti ini?" dengusnya kesal.
Mengabaikan hal itu, dia kembali melangkah, tetapi kali ini ke samping. Sebuah meja yang terletak di dekat ranjang tertangkap. Dengan teliti Rumi menelusuri atas meja, lalu membuka laci-laci meja mencari keberadaan lilin. Cukup lama, dan akhirnya dia menemukan benda itu terselip di antara kertas-kertas di laci.
"Nah, akhirnya ketemu juga."
Dengan wajah cerah, dia berniat keluar. Namun, kakinya tertahan di tengah pintu ketika suara gaduh di belakangnya mulai mengusik. Rasa penasarannya memang jauh lebih besar dari pada ketakutannya. Alhasil Rumi memilih memutar tubuh.
Sebuah lemari di samping ranjang terlihat begerak-gerak. Gadis itu melangkah mendekat. Saat sampai di samping ranjang, dia menaruh lilinnya di sana. Lalu kembali melangkah menuju lemari itu dengan obor di tangan.
Satu tangannya memegang obor. Sedangkan yang satunya memegang pegangan pada pintu lemari. Dengan gerakan pelan, tangan itu membukanya.
Lemari itu tak bergerak lagi. Diarahkannya obor ke sana. Tak ada apapun sekain tumpukan kain juga baju yang tergantung di sana.
"Tidak ada apapun. Aaa .... " Dua ekor tikus yang saling berkejaran melompat dari tumpukan pakaian dan berjalan melewati kakinya. Rumi yang terkejut sontak saja menjerit dan menjatuhkan obor di tangan. Untung saja obor itu tak mengenai kakinya.
"Ada apa, Nduk?" Terdengar teriakan dari sang bapak di luar sana.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya ... hanya terkejut karena tikus," teriak gadis itu. "Tenang Rumi, itu hanya tikus, dan kau malah ketakutan tidak jelas."
Gadis itu berjongkok, meraba ke lantai, sebab nyala obornya telah mati. Mau tak mau, Rumi harus mencarinya dengan tangan tanpa melihat. Dia tersenyum ketika menemukan obor yang ia jatuhkan dan untung saja tangan itu langsung menuju ke pegangan obor. Gadis itu kembali berdiri lalu berjalan keluar dengan tangan mengapai-gapai udara layaknya orang buta. Setelah mengambil lilinnya kembali.
Di sana, Rinto juga Sarah telah selesai menggunting semua kain yang menempel di tubuh Pak Waluyo. Setidaknya itu yang Rumi simpulkan, karena tubuh Pak Waluyo kini ditutupi kain jarik dari atas leher sampai kaki.
Rumi memberikan obor juga lilin pada Rinto, lalu tanpa perintah Rinto menyalakan benda tersebut.
"Setelah ini kita akan memandikan bapakmu. Siapkan segala sesuatunya, Nduk," ujar Rinto pada Sarah. Gadis itu mengangguk lalu pergi ke dapur dengan obor yang Rumi bawa tadi.
"Nduk, kamu bantu Sarah. Biar bapak di sini."
Rumi mengangguk. Lalu melegang pergi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Rinto dengan senyuman. "Alhamdulillah, kamu datang."
Seorang pemuda yang baru tiba itu tersenyum, menarik tangan Rinto, kemudian menciumnya dengan lembut.
"Apa ibuk yang memberitahumu, Zein?"
"Iya, Pak. Setelah ibuk menelepon, Zein langsung bergegas ke sini."
Rumi yang baru saja keluar dari dapur nampaknya tak menyadari kedatangan pemuda itu. Dia berdiri di depan sang bapak sambil berkata, "Pak, Sarah bilang dia butuh pe--" Dia menjeda kalimatnya, ketika mata cokelat itu menangkap sesosok pemuda di samping bapaknya. Seorang pemuda tinggi dengan baju koko dan sarung yang selaras berwarna hitam membuat Rumi terdiam. Pandangan keduanya bertemu. Pemuda itu tersenyum manis yang membuat Rumi enggan mengalihkan pandangan.
"Kamu mau bilang apa, Nduk?"
Ucapan Rinto membuat Rumi tersadar. Gadis itu memutuskan kontak mata dengan sang pemuda, lalu kembali menatap bapaknya. "Sarah bilang, dia butuh pelepah pisang, Pak."
"Oh begitu, biar Bapak cari."
"Biar saya saja, Pak. Tadi, saat menuju ke sini, kebetulan saya melihat pohon pisang yang telah tumbang di ladangnya Pak Mukri," tawar Zein.
"Baiklah, kalau begitu. Apa perlu bapak temani?"
"Tidak perlu, Pak. Bukankah kita hanya butuh beberapa pelepah saja untuk membantu memandikan? Insyaallah, Zein bisa mendapatkannya dengan cepat."
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, Le."
"Zein pamit dulu, Pak. Assalamualaikum."
"Zein, kamu di sini." Suara Sarah membuat pemuda itu menghentikan langkahnya ketika sampai di tengah pintu. Dia memutar tubuh, memandang Sarah yang baru saja datang.
"Kenapa gak bilang, kalau Bapak meninggal?"
"Maaf, Zein. Aku tidak mau terus merepotkanmu."
"Tidak ada seperti itu, Sa. Bukankah kamu bilang, saya sudah seperti abangmu sendiri?"
"Maaf." Sarah menunduk. "Lalu, siapa yang memberitahumu?"
"Ibu Sekar yang memberitahuku." Saat menyebut nama Sekar, Zein menatap ke arah Rumi.
Rumi hanya tersenyum tipis dipandang seperti itu.
"Zein, lebih baik kamu bergegas," perintah Rinto. Zein mengangguk, lalu menatap Sarah.
"Saya akan segera kembali."
Hanya butuh beberapa menit. Dan semua persiapan untuk pemandian telah selesai. Zein pun sudah kembali dengan membawa beberapa pelepah pisang.
"Mari kita mandikan jenazahnya," ujar Rinto. Semua orang di sana mengangguk, kecuali Rumi.
Rinto, Zein dan Sarah mengangkat jenazah Pak Waluyo menuju belakang rumah, di mana segala keperluannya telah di persiapkan sebelumnya oleh Sarah. Separuh sebelum pergi ke rumah Rumi, dan sisanya setelah menggunting pakaian bapaknya.
Rumi sebagai pembawa obor juga lilin hanya mengekor di belakang mereka.
Mereka telah sampai di belakang rumah. Angin lebih bersahabat sekarang, tak sekencang tadi. Suara kodok juga jangkrik kini terdengar, mengiringi pemandian jenazah tersebut. Zein sibuk menuangkan air ke atas pelepah yang ujungnya berada di dubur jenazah. Rinto mengosok-gosok bagian itu. Dan, Sarah hanya menangis di dekat Zein. Sesekali gadis itu ikut menuangkan air.
Gemercik air yang turun ke tanah setelah mengguyur habis tubuh Pak Waluyo kini terdengar layaknya harmoni di tengah malam sunyi.
Bau bunga beraneka rupa yang bercampur dengan air dan sedikit garam kini menguar di udara. Menusuk indra penciuman terlalu dalam. Rumi meneguk ludah, tiba-tiba tubuhnya panas dingin melihat wajah pucat Pak Waluyo yang hanya diterangi cahaya remang-remang.
"Semoga semua cepat selesai, dan aku bisa pulang," ujarnya di dalam hati.
"To-long."
Horor story
Rumah Pak Waluyo
Malam ini begitu mencekam hingga rasanya bulu kuduk dipaksa terus berdiri. Pilihan yang tidak tepat dengan memaksakan diri tetap pergi ke rumah Pak Waluyo di tengah malam ribut seperti ini.
Angin bertiup cukup kencang, membawa terbang dedaunan kering ke jalanan yang hanya diterangi bohlam kuning yang terus saja bergoyang ke segala arah. Debu halus terlihat berputar-putar seiring gerakan angin, membuat ketiga orang itu berjalan sambil menutup kedua mata sekali-kali. Api dari obor yang di bawa oleh salah satu dari mereka terlihat bergerak gelisah, terkadang nyalanya meredup dan hampir mati. Namun, dia masih bisa menjaga diri tetap hidup di sepanjang jalan untuk menambah penerangan.
Suara dahan yang tertekan angin membawa kengerian. Pelan, tetapi terdengar jelas di telinga. Apalagi suara itu disahuti oleh suara bambu yang saling beradu hingga menimbulkan suara layaknya siulan. Bayangan pohon mahoni dan bambu di sepanjang jalan, terasa seperti bayangan seorang pengintai yang selalu memperhatikan pergerakan ketiganya.
Dari tadi, Rumi yang berjalan di samping Sarah hanya menelan ludah berkali-kali juga mengusap tengkuk untuk menetralisir rasa takut yang menjalarinya. Dilirikanya Sarah, gadis itu berjalan pelan sambil tertunduk, seolah suasana seperti ini tidak mengganggunya. Padahal, Rinto yang ada di depan Rumi saja terlihat memegang leher belakangnya sesekali sambil menjaga nyala obor agar tetap hidup. Bapaknya itu sesekali juga berhenti melangkah ketika mendengar suara-suara yang timbul akibat ributnya angin. Entah waspada atau apa, tetapi yang jelas ada kekhawatiran di dalam dirinya.
Ketiganya sampai di belokan menuju jalanan kecil yang masuk ke dalam. Rinto memimpin sedangkan Rumi berjalan paling belakang. Rumah Sarah terletak di ujung desa sebelah barat, memang cukup dekat dari rumah Rumi, mereka hanya perlu berjalan ke jalan utama dan berbelok, melewati jalan setapak yang menghubungkan jalan utama dengan rumahnya. Namun, perjalanan ini cukup lama, setidaknya itu yang mereka rasakan.
Setelah perjuangan yang cukup menguras tenaga, akhirnya ketiganya telah sampai di depan sebuah rumah yang hanya diterangi bohlam kuning di depannya. Di sekitar rumah itu lengang, tak ada bangunan selain semak-semak belukar juga rumput dan pohon bambu. Sarah memang tak beruntung karena rumahnya jauh dari para tetangga. Dan hanya tempat itu yang mereka punya. Rumi menghela napas, setidaknya dia bisa bernapas lega karena sudah sampai tujuan.
Bohlam yang bergerak gelisah itu perlahan meredup, lalu padam. Sepertinya bohlam itu konslet akibat ributnya angin. Ya, setidaknya masih ada obor yang setia menyala.
Sarah mencoba membuka pintu. Tepat setelah pintu terbuka bohlam tadi kembali menyala tiba-tiba.
"Aaa ...." Rumi menjerit karena terkejut, membuat kedua orang yang bersamanya menoleh seketika.
"Kamu ndak papa, Nduk?"
"Rumi gak papa, Pak. Hanya terkejut saja."
"Baiklah, ayo kita masuk."
Kedua gadis itu mengangguk, lalu Sarah melangkah masuk disusul oleh Rinto. Sedangkan Rumi, gadis itu sibuk menelan ludah, sesekali dia meraba tengkuk dan menatap ke sekeliling.
"Tenang, Rum. Tenang," ujar gadis itu bermonolog pada dirinya sendiri. Dia menarik dan mengembuskan napas berulang-ulang. "Ini bukan kamu. Kamu tidak sepenakut itu. Kamu berani. Ya, aku berani. Sangat berani."
Setelah mengatakan itu, Rumi tersenyum dan lebih tenang. Gadis itu mulai percaya diri. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil menatap pongah. Namun, raut wajahnya berubah ketika pandangannya berakhir pada ujung jalan depan rumah Sarah. Di sana terdapat dua tempat duduk dari beton yang berhadapan. Di bawahnya merupakan sebuah selokan. Di antara tempat duduk itu merupakan jalan pertemuan dengan dua jalan lainnya, sehingga membentuk pertigaan. Jalan itu begitu sepi, apalagi tempat itu merupakan petilasan salah satu Danyang di sini, yaitu Mbah S*ro.
Sebenarnya tak ada yang menyeramkan dari dua tempat duduk itu. Namun, cerita tentang kakek berjenggot panjang yang mencapai tanah membuat tempat itu menjadi seram. Apalagi katanya, banyak orang yang membenarkan cerita itu. Alhasil, banyak warga yang tak berani melintasinya ketika malam hari. Lagi pula, jalanan itu hanya ditemani oleh pohon tinggi juga pohon bambu di kedua sisinya sepanjang jalan dari sini menuju bukit kecil di atas sana. Tak ada bangunan yang membuatnya terlihat lebih baik. Ibarat kata, jalanan itu berada di tengah hutannnya desa ini. Sebenarnya tidak bisa disebut hutan juga, hanya karena ladang yang lumayan luas itu dihuni oleh pohon-pohon tinggi juga semak belukar. Namun, suasana di jalanan itu memang seperti melintasi sebuah hutan kecil. Yang tak jauh menyeramkan dari hutan yang sesungguhnya.
Saat sibuk memandangi pohon-pohon di sana, tak sengaja, mata coklat itu menangkap cahaya merah menyala di balik rimbunnya bambu. Cahaya itu layakanya sepasang mata yang tengah mengawasi dirinya. Lagi-lagi Rumi menelan ludah. Dia menutup mata lalu menghela napas. Meyakinkan dalam hati bahwa dia hanya berhalusinasi. Setelah dirasa sedikit tenang, gadis itu masuk ke dalam rumah Sarah, menyusul yang lain.
Hal pertama kali yang Rumi lihat adalah kegelapan yang sama dan bohlam kuning dengan daya yang sama seperti di depan rumah. Hanya saja, lebih terang sedikit, sebab cahaya bohlam terpantul kembali.
Seorang pria paruh baya yang terbujur kaku, di atas belahan bambu yang disatukan terpampang jelas dalam cahaya remang-remang. Wajahnya pucat pasi. Kedua tangannya tertekuk di depan dada. Matanya terpejam, tetapi terlihat gurat kesedihan di wajah tua dengan keriput yang mulai terlihat.
Di samping jasad itu, Rinto dan Sarah sibuk menggunting pakaian Pak Waluyo. Rumi tak kuasa untuk mendekat, dia merasa tak nyaman. Lagipula dia tak ingin melihat apa yang seharusnya tak boleh ia lihat.
"Sa, apakah ada lilin?" tanyanya pada Sarah. Rumi merasa bahwa ini kurang terang.
"Cari saja di kamarku, Rum. Di sebelah sana." Tunjuk Sarah pada ruangan yang hanya tertutup gorden hijau yang bergerak-gerak. Rumi menelan ludah, di sana bahkan lebih gelap.
"Ambil obor ini, dan carilah lilinnya," ujar Rinto, seakan tahu apa yang membuat putrinya tak bergegas melangkah. Pria paruh baya itu, mengambil obor yang telah ia matikan. Lalu kembali menghidupkannya. Untung saja Rinto selalu bawa korek, karena ia tipe perokok aktif.
Rumi mengangguk, lalu mengambil obor tersebut. Gadis itu mulai melangkah perlahan menuju kamar Sarah. Setidaknya dia bisa menghindari jenazah Pak Waluyo.
"Sial!" umpatnya ketika sudah masuk ke dalam kamar Sarah. "Ini kamar sengaja gak dikasih lampu atau lampunya mati sih? Gelap banget. Tau gini tadi aku bawa ponsel, huh."
"Aduh!" Tanpa sengaja gadis itu menyandung kursi. Di arahkannya obor dengan api yang sudah meredup ke sana.
"Siapa sih yang naruh kursi di tengah jalan masuk seperti ini?" dengusnya kesal.
Mengabaikan hal itu, dia kembali melangkah, tetapi kali ini ke samping. Sebuah meja yang terletak di dekat ranjang tertangkap. Dengan teliti Rumi menelusuri atas meja, lalu membuka laci-laci meja mencari keberadaan lilin. Cukup lama, dan akhirnya dia menemukan benda itu terselip di antara kertas-kertas di laci.
"Nah, akhirnya ketemu juga."
Dengan wajah cerah, dia berniat keluar. Namun, kakinya tertahan di tengah pintu ketika suara gaduh di belakangnya mulai mengusik. Rasa penasarannya memang jauh lebih besar dari pada ketakutannya. Alhasil Rumi memilih memutar tubuh.
Sebuah lemari di samping ranjang terlihat begerak-gerak. Gadis itu melangkah mendekat. Saat sampai di samping ranjang, dia menaruh lilinnya di sana. Lalu kembali melangkah menuju lemari itu dengan obor di tangan.
Satu tangannya memegang obor. Sedangkan yang satunya memegang pegangan pada pintu lemari. Dengan gerakan pelan, tangan itu membukanya.
Lemari itu tak bergerak lagi. Diarahkannya obor ke sana. Tak ada apapun sekain tumpukan kain juga baju yang tergantung di sana.
"Tidak ada apapun. Aaa .... " Dua ekor tikus yang saling berkejaran melompat dari tumpukan pakaian dan berjalan melewati kakinya. Rumi yang terkejut sontak saja menjerit dan menjatuhkan obor di tangan. Untung saja obor itu tak mengenai kakinya.
"Ada apa, Nduk?" Terdengar teriakan dari sang bapak di luar sana.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya ... hanya terkejut karena tikus," teriak gadis itu. "Tenang Rumi, itu hanya tikus, dan kau malah ketakutan tidak jelas."
Gadis itu berjongkok, meraba ke lantai, sebab nyala obornya telah mati. Mau tak mau, Rumi harus mencarinya dengan tangan tanpa melihat. Dia tersenyum ketika menemukan obor yang ia jatuhkan dan untung saja tangan itu langsung menuju ke pegangan obor. Gadis itu kembali berdiri lalu berjalan keluar dengan tangan mengapai-gapai udara layaknya orang buta. Setelah mengambil lilinnya kembali.
Di sana, Rinto juga Sarah telah selesai menggunting semua kain yang menempel di tubuh Pak Waluyo. Setidaknya itu yang Rumi simpulkan, karena tubuh Pak Waluyo kini ditutupi kain jarik dari atas leher sampai kaki.
Rumi memberikan obor juga lilin pada Rinto, lalu tanpa perintah Rinto menyalakan benda tersebut.
"Setelah ini kita akan memandikan bapakmu. Siapkan segala sesuatunya, Nduk," ujar Rinto pada Sarah. Gadis itu mengangguk lalu pergi ke dapur dengan obor yang Rumi bawa tadi.
"Nduk, kamu bantu Sarah. Biar bapak di sini."
Rumi mengangguk. Lalu melegang pergi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Rinto dengan senyuman. "Alhamdulillah, kamu datang."
Seorang pemuda yang baru tiba itu tersenyum, menarik tangan Rinto, kemudian menciumnya dengan lembut.
"Apa ibuk yang memberitahumu, Zein?"
"Iya, Pak. Setelah ibuk menelepon, Zein langsung bergegas ke sini."
Rumi yang baru saja keluar dari dapur nampaknya tak menyadari kedatangan pemuda itu. Dia berdiri di depan sang bapak sambil berkata, "Pak, Sarah bilang dia butuh pe--" Dia menjeda kalimatnya, ketika mata cokelat itu menangkap sesosok pemuda di samping bapaknya. Seorang pemuda tinggi dengan baju koko dan sarung yang selaras berwarna hitam membuat Rumi terdiam. Pandangan keduanya bertemu. Pemuda itu tersenyum manis yang membuat Rumi enggan mengalihkan pandangan.
"Kamu mau bilang apa, Nduk?"
Ucapan Rinto membuat Rumi tersadar. Gadis itu memutuskan kontak mata dengan sang pemuda, lalu kembali menatap bapaknya. "Sarah bilang, dia butuh pelepah pisang, Pak."
"Oh begitu, biar Bapak cari."
"Biar saya saja, Pak. Tadi, saat menuju ke sini, kebetulan saya melihat pohon pisang yang telah tumbang di ladangnya Pak Mukri," tawar Zein.
"Baiklah, kalau begitu. Apa perlu bapak temani?"
"Tidak perlu, Pak. Bukankah kita hanya butuh beberapa pelepah saja untuk membantu memandikan? Insyaallah, Zein bisa mendapatkannya dengan cepat."
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati, Le."
"Zein pamit dulu, Pak. Assalamualaikum."
"Zein, kamu di sini." Suara Sarah membuat pemuda itu menghentikan langkahnya ketika sampai di tengah pintu. Dia memutar tubuh, memandang Sarah yang baru saja datang.
"Kenapa gak bilang, kalau Bapak meninggal?"
"Maaf, Zein. Aku tidak mau terus merepotkanmu."
"Tidak ada seperti itu, Sa. Bukankah kamu bilang, saya sudah seperti abangmu sendiri?"
"Maaf." Sarah menunduk. "Lalu, siapa yang memberitahumu?"
"Ibu Sekar yang memberitahuku." Saat menyebut nama Sekar, Zein menatap ke arah Rumi.
Rumi hanya tersenyum tipis dipandang seperti itu.
"Zein, lebih baik kamu bergegas," perintah Rinto. Zein mengangguk, lalu menatap Sarah.
"Saya akan segera kembali."
Hanya butuh beberapa menit. Dan semua persiapan untuk pemandian telah selesai. Zein pun sudah kembali dengan membawa beberapa pelepah pisang.
"Mari kita mandikan jenazahnya," ujar Rinto. Semua orang di sana mengangguk, kecuali Rumi.
Rinto, Zein dan Sarah mengangkat jenazah Pak Waluyo menuju belakang rumah, di mana segala keperluannya telah di persiapkan sebelumnya oleh Sarah. Separuh sebelum pergi ke rumah Rumi, dan sisanya setelah menggunting pakaian bapaknya.
Rumi sebagai pembawa obor juga lilin hanya mengekor di belakang mereka.
Mereka telah sampai di belakang rumah. Angin lebih bersahabat sekarang, tak sekencang tadi. Suara kodok juga jangkrik kini terdengar, mengiringi pemandian jenazah tersebut. Zein sibuk menuangkan air ke atas pelepah yang ujungnya berada di dubur jenazah. Rinto mengosok-gosok bagian itu. Dan, Sarah hanya menangis di dekat Zein. Sesekali gadis itu ikut menuangkan air.
Gemercik air yang turun ke tanah setelah mengguyur habis tubuh Pak Waluyo kini terdengar layaknya harmoni di tengah malam sunyi.
Bau bunga beraneka rupa yang bercampur dengan air dan sedikit garam kini menguar di udara. Menusuk indra penciuman terlalu dalam. Rumi meneguk ludah, tiba-tiba tubuhnya panas dingin melihat wajah pucat Pak Waluyo yang hanya diterangi cahaya remang-remang.
"Semoga semua cepat selesai, dan aku bisa pulang," ujarnya di dalam hati.
"To-long."
bebyzha dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup