- Beranda
- Stories from the Heart
Ngalor-Ngetan
...
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan

NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu
Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.
Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini
. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca 
Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.
"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.
"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.
"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?
"Bukan itu, Mbak."
"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?
"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.
"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.
"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."
"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.
"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.
"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.
"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.
Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.
"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.
"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.
"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.
Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.
Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.
"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.
"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.
"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.
"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.
"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."
Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.
"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.
Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.
"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.
"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."
Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.
"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.
"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.
"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.
"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.
“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.
Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.
"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.
"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.
"Saya tidak papa," jawabnya singkat.
"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.
Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.
Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.
Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.
"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.
Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.
Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?
Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.
"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.
"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.
Sumber gambar : Google and PistArt
Quote:
Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Visiliya123
#65
Ngalor Ngetan
Horror story
Berita Pernikahan Mereka yang Tersebar
Zein cukup terkejut ketika Rinto meminta Zein ke rumahnya dengan sang bapak. Pemuda itu masih tidak percaya dengan situasi saat ini. Dia tak bisa menyembunyikan binar bahagia di wajahnya. Senyum miliknya merekah melihat kedua keluarga mengobrol dengan hati gembira membicarakan pernikahannya dengan Rumi. Zein sangat bersyukur, dan untung saja kalung dan cincin yang memang ia siapkan untuk melamar gadisnya itu masih ada dan belum dia jual.
Tak jauh beda dengan Zein, Rumi yang terduduk di depan Zein, tepatnya di samping Janum juga terus tersipu malu, menunduk memandang cincin emas yang ada di jarinya. Gadis itu juga tak percaya hari yang ia nantikan tiba. Hari di mana Zein dan keluarganya datang dan melamar dirinya. Meski Rumi sedikit sedih, karena lamaran mereka bersifat tertutup, jadi hanya keluarga yang datang. Zein dan Pak Carik pun tak membawa apa-apa selain dirinya sendiri, juga cincin dan kalung untuk lamaran. Rumi memaklumi hal tersebut, sebab semuanya terjadi secara mendadak. Awalnya Rumi meminta agar lamaran diadakan minggu depan. Namun, sang bapak menolak. Entah karena apa, Rinto bersikukuh meminta Zein melamar putrinya di malam setelah Pakde Seto setuju.
Bicara tentang Pakde Seto, sebenarnya pria paruh baya itu masih menentang keputusan sang adik. Tapi apa boleh buat, setelah dipikir-pikir omongan Rinto memang ada benarnya juga. Namun, meskipun demikian, Pakde Seto enggan mengakui hal tersebut. Bahkan diacara lamaran tersebut. Pakde Seto tak hadir. Pria paruh baya itu mengunci dirinya di kamar dengan keris-keris pusakanya.
"Alhamdulillah, acara lamaran ini berjalan dengan lancar," ujar Pak Carik. "Kita hanya perlu menunggu tanggal yang baik untuk melakukan pernikahan."
"Minggu depan saja bagaimana, Pak Carik?" usul Rinto. Zein yang tengah meminum teh seketika tersedak, hingga semua orang kini memusatkan pandangan ke arahnya.
"Kamu tidak papa, Zein?" tanya Rumi khawatir.
"Saya tidak papa, Sekar." Mendengar jawaban itu Rumi hanya mengangguk. Sedangkan kedua orang tua mereka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Zein tersenyum canggung melihat respon mereka. Pemuda itu berdehem, lalu berujar, "Apa minggu depan tidak terlalu cepat, Pak?"
"Kita tidak boleh menunda hal yang baik, Zein. Mas Seto juga mengatakan minggu depan adalah waktu yang baik untuk menggelar pernikahan," jawab Rinto.
"Zein setuju dengan Bapak. Tetapi, apakah Bapak dan Ibu tidak akan kerepotan jika mendadak seperti itu?"
Rinto dan Janum saling pandang, lalu keduanya tersenyum. "Seminggu itu cukup untuk mempersiapkan semuanya. Lagi pula ini demi putri Bapak satu-satunya, tentu saja Bapak akan mengusahakannya. Benar kan, Bu?"
Janum yang ditanya hanya tersenyum. Namun, di matanya terlihat dengan jelas rasa kekhawatiran itu. Ya, Janum sendiri masih kurang yakin, apakah keputusan yang mereka ambil benar atau tidak.
"Baiklah kalau begitu kami ikut saja keputusan dari keluarga calon pengantin putri," jawab Pak Carik.
***
Kabar lamaran Zein dan Rumi mulai menyebar ke telinga warga desa. Bahkan jika ditanya, semua warga desa Danyang Pitu ini tahu tentang lamaran tertutup itu. Entah dari mana mereka tahu, kedua keluarga pun masih bingung. Padahal tidak ada yang diundang. Ternyata dinding memang punya telinga.
"Eh, Bu. Memang benar ya kabar anaknya Pak Carik mau nikah sama keponakkan Mbah Seto?"
Rumi yang baru saja pulang, sehabis mengantar rantang makanan untuk sang bapak seketika berhenti melangkah. Gadis itu berdiri layaknya patung, tepat di belakang kerumunan ibu-ibu yang tengah bergosip. Sepertinya mereka tak menyadari keberadaan Rumi, karena mereka masih meneruskan pembicaraannya.
"Ya benarlah, Bu. Saya sering liat mereka sering bersama-sama, berduaan, seperti sepasang suami istri. Jadi saya yakin kabar itu benar."
"Tapi bukannya arah rumah mereka ngalor ngetan (utara timur), ya?"
"Nah itu yang saya bingungkan. Kenapa Mbah Seto mengizinkan pernikahan itu, bukannya itu melanggar pantangan yang ada. Kalau kena tuahnya baru tahu rasa mereka."
Rumi mengepalkan tangan mendengarnya. Rasanya gadis itu ingin membungkam mulut ibu-ibu tukang gosip yang suka ikut campur urusan orang lain. Namun, Rumi ingat apa pesan Neneknya dulu, bahkan masih terpatri lengkap di ingatannya. Dulu neneknya pernah berkata, "Jangan marah, Nduk, kalau tetangga membicarakan kita. Hal baik saja mereka bicarakan, apa lagi yang buruk. Hidup di tengah masyarakat memang seperti itu. Sing sabar!" Alhasil Rumi hanya kembali melangkah, pura-pura tak mendengarnya, sedangkan ibu-ibu itu seketika diam saat dia lewat.
***
Rinto mengernyit bingung, ketika melihat beberapa warga desa telah berkumpul di depan rumahnya. Pria paruh baya itu segera mematikan motor miliknya lalu melangkah mendekat ke arah kerumunan.
“Kalian akan membawa mala petaka jika sampai menikah.” Suara melengking itu memenuhi indra pendengaran Rinto. Pria paruh baya itu cukup terkejut, bagaimana berita Zein yang berniat memperistri putrinya bisa menyebar hanya dalam waktu singkat seperti ini?
“Pak, Bu, kalian terlalu takut dengan sesuatu yang belum tentu akan terjadi.” Kali ini Rinto mendengar sang putri yang angkat bicara. Nadanya cukup tenang, tetapi Rinto tahu bahwa sang putri tengah kebakaran jenggot, tetapi menboba menahannya agar tak meledak.
“Kamu itu orang kota, Nduk. Kalau kamu mau tinggal di sini, maka patuhi aturan yang ada!”
“Ya, karena saya orang kota, jadi saya tidak percaya pantangan seperti itu. Semua itu hanya omong kosong. Saya akan tetap menikah dengan Zein,” ucap Rumi dengan penuh penekanan.
“Kalau begitu pergilah dari desa ini, kami tidak mau ikut menanggung keburukan yang kalian bawa!” bentak seorang pria berbadan besar.
Rumi tersenyum, melipat tangan di depan dada yang membuat orang-orang di sana semakin geram dengan tingkahnya itu. “Saya akan menikah dengan Zein di desa ini. Dan akan saya buktikan bahwa pantangan itu hanya omong kosong.” Setelah mengatakan itu Rumi pergi masuk ke dalam rumah begitu saja, yang membuat orang-orang itu menyurah-serapahinya.
Rinto hanya menghela napas, dilihatnya sang putri yang berjalan ke arah pintu, gadis itu berhenti sebentar ketika berpas-pasan dengan Janum, lalu kembali melangkah.
“Anak itu semakin tak punya sopan-santun, dia akan membawa mala petaka bagi keluarganya,” ucap seorang pria tua dengan teken, yaitu sebuah tongkat penyangga yang terbuat dari batang kayu sebesar genggaman tangan.
“Sebagai orang tua seharusnya Kakek berdoa yang baik,” ucap Rinto, lalu pria paruh baya itu melangkah pergi menyusul sang putri. Sedangkan kakek tua tadi hanya menggelengkan kepalanya.
“Anak dan bapak sama saja.
Horror story
Berita Pernikahan Mereka yang Tersebar
Zein cukup terkejut ketika Rinto meminta Zein ke rumahnya dengan sang bapak. Pemuda itu masih tidak percaya dengan situasi saat ini. Dia tak bisa menyembunyikan binar bahagia di wajahnya. Senyum miliknya merekah melihat kedua keluarga mengobrol dengan hati gembira membicarakan pernikahannya dengan Rumi. Zein sangat bersyukur, dan untung saja kalung dan cincin yang memang ia siapkan untuk melamar gadisnya itu masih ada dan belum dia jual.
Tak jauh beda dengan Zein, Rumi yang terduduk di depan Zein, tepatnya di samping Janum juga terus tersipu malu, menunduk memandang cincin emas yang ada di jarinya. Gadis itu juga tak percaya hari yang ia nantikan tiba. Hari di mana Zein dan keluarganya datang dan melamar dirinya. Meski Rumi sedikit sedih, karena lamaran mereka bersifat tertutup, jadi hanya keluarga yang datang. Zein dan Pak Carik pun tak membawa apa-apa selain dirinya sendiri, juga cincin dan kalung untuk lamaran. Rumi memaklumi hal tersebut, sebab semuanya terjadi secara mendadak. Awalnya Rumi meminta agar lamaran diadakan minggu depan. Namun, sang bapak menolak. Entah karena apa, Rinto bersikukuh meminta Zein melamar putrinya di malam setelah Pakde Seto setuju.
Bicara tentang Pakde Seto, sebenarnya pria paruh baya itu masih menentang keputusan sang adik. Tapi apa boleh buat, setelah dipikir-pikir omongan Rinto memang ada benarnya juga. Namun, meskipun demikian, Pakde Seto enggan mengakui hal tersebut. Bahkan diacara lamaran tersebut. Pakde Seto tak hadir. Pria paruh baya itu mengunci dirinya di kamar dengan keris-keris pusakanya.
"Alhamdulillah, acara lamaran ini berjalan dengan lancar," ujar Pak Carik. "Kita hanya perlu menunggu tanggal yang baik untuk melakukan pernikahan."
"Minggu depan saja bagaimana, Pak Carik?" usul Rinto. Zein yang tengah meminum teh seketika tersedak, hingga semua orang kini memusatkan pandangan ke arahnya.
"Kamu tidak papa, Zein?" tanya Rumi khawatir.
"Saya tidak papa, Sekar." Mendengar jawaban itu Rumi hanya mengangguk. Sedangkan kedua orang tua mereka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Zein tersenyum canggung melihat respon mereka. Pemuda itu berdehem, lalu berujar, "Apa minggu depan tidak terlalu cepat, Pak?"
"Kita tidak boleh menunda hal yang baik, Zein. Mas Seto juga mengatakan minggu depan adalah waktu yang baik untuk menggelar pernikahan," jawab Rinto.
"Zein setuju dengan Bapak. Tetapi, apakah Bapak dan Ibu tidak akan kerepotan jika mendadak seperti itu?"
Rinto dan Janum saling pandang, lalu keduanya tersenyum. "Seminggu itu cukup untuk mempersiapkan semuanya. Lagi pula ini demi putri Bapak satu-satunya, tentu saja Bapak akan mengusahakannya. Benar kan, Bu?"
Janum yang ditanya hanya tersenyum. Namun, di matanya terlihat dengan jelas rasa kekhawatiran itu. Ya, Janum sendiri masih kurang yakin, apakah keputusan yang mereka ambil benar atau tidak.
"Baiklah kalau begitu kami ikut saja keputusan dari keluarga calon pengantin putri," jawab Pak Carik.
***
Kabar lamaran Zein dan Rumi mulai menyebar ke telinga warga desa. Bahkan jika ditanya, semua warga desa Danyang Pitu ini tahu tentang lamaran tertutup itu. Entah dari mana mereka tahu, kedua keluarga pun masih bingung. Padahal tidak ada yang diundang. Ternyata dinding memang punya telinga.
"Eh, Bu. Memang benar ya kabar anaknya Pak Carik mau nikah sama keponakkan Mbah Seto?"
Rumi yang baru saja pulang, sehabis mengantar rantang makanan untuk sang bapak seketika berhenti melangkah. Gadis itu berdiri layaknya patung, tepat di belakang kerumunan ibu-ibu yang tengah bergosip. Sepertinya mereka tak menyadari keberadaan Rumi, karena mereka masih meneruskan pembicaraannya.
"Ya benarlah, Bu. Saya sering liat mereka sering bersama-sama, berduaan, seperti sepasang suami istri. Jadi saya yakin kabar itu benar."
"Tapi bukannya arah rumah mereka ngalor ngetan (utara timur), ya?"
"Nah itu yang saya bingungkan. Kenapa Mbah Seto mengizinkan pernikahan itu, bukannya itu melanggar pantangan yang ada. Kalau kena tuahnya baru tahu rasa mereka."
Rumi mengepalkan tangan mendengarnya. Rasanya gadis itu ingin membungkam mulut ibu-ibu tukang gosip yang suka ikut campur urusan orang lain. Namun, Rumi ingat apa pesan Neneknya dulu, bahkan masih terpatri lengkap di ingatannya. Dulu neneknya pernah berkata, "Jangan marah, Nduk, kalau tetangga membicarakan kita. Hal baik saja mereka bicarakan, apa lagi yang buruk. Hidup di tengah masyarakat memang seperti itu. Sing sabar!" Alhasil Rumi hanya kembali melangkah, pura-pura tak mendengarnya, sedangkan ibu-ibu itu seketika diam saat dia lewat.
***
Rinto mengernyit bingung, ketika melihat beberapa warga desa telah berkumpul di depan rumahnya. Pria paruh baya itu segera mematikan motor miliknya lalu melangkah mendekat ke arah kerumunan.
“Kalian akan membawa mala petaka jika sampai menikah.” Suara melengking itu memenuhi indra pendengaran Rinto. Pria paruh baya itu cukup terkejut, bagaimana berita Zein yang berniat memperistri putrinya bisa menyebar hanya dalam waktu singkat seperti ini?
“Pak, Bu, kalian terlalu takut dengan sesuatu yang belum tentu akan terjadi.” Kali ini Rinto mendengar sang putri yang angkat bicara. Nadanya cukup tenang, tetapi Rinto tahu bahwa sang putri tengah kebakaran jenggot, tetapi menboba menahannya agar tak meledak.
“Kamu itu orang kota, Nduk. Kalau kamu mau tinggal di sini, maka patuhi aturan yang ada!”
“Ya, karena saya orang kota, jadi saya tidak percaya pantangan seperti itu. Semua itu hanya omong kosong. Saya akan tetap menikah dengan Zein,” ucap Rumi dengan penuh penekanan.
“Kalau begitu pergilah dari desa ini, kami tidak mau ikut menanggung keburukan yang kalian bawa!” bentak seorang pria berbadan besar.
Rumi tersenyum, melipat tangan di depan dada yang membuat orang-orang di sana semakin geram dengan tingkahnya itu. “Saya akan menikah dengan Zein di desa ini. Dan akan saya buktikan bahwa pantangan itu hanya omong kosong.” Setelah mengatakan itu Rumi pergi masuk ke dalam rumah begitu saja, yang membuat orang-orang itu menyurah-serapahinya.
Rinto hanya menghela napas, dilihatnya sang putri yang berjalan ke arah pintu, gadis itu berhenti sebentar ketika berpas-pasan dengan Janum, lalu kembali melangkah.
“Anak itu semakin tak punya sopan-santun, dia akan membawa mala petaka bagi keluarganya,” ucap seorang pria tua dengan teken, yaitu sebuah tongkat penyangga yang terbuat dari batang kayu sebesar genggaman tangan.
“Sebagai orang tua seharusnya Kakek berdoa yang baik,” ucap Rinto, lalu pria paruh baya itu melangkah pergi menyusul sang putri. Sedangkan kakek tua tadi hanya menggelengkan kepalanya.
“Anak dan bapak sama saja.
Diubah oleh Visiliya123 19-09-2021 05:26
69banditos dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup