Kaskus

Story

Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan
Ngalor-Ngetan


NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu


Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.

Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini emoticon-Frown. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca emoticon-Smilie



Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.

"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.

"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.

"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?

"Bukan itu, Mbak."

"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?

"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.

"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.

"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.

"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.

"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."

"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.

"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.

"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.

"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.

Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.

"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.

"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.

"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.

Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.

Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.

"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.

"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.

"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.

"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.

"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."

Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.

"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.

Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.

"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.

"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."

Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.

"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.

"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.

"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.

"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.

“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.

Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.

Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.

"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.

"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.

"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.

"Saya tidak papa," jawabnya singkat.

"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.

Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.

Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.

Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.

"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.

Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.

Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?

Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.

"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.

"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.



Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.


Sumber gambar : Google and PistArt


Quote:

Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
bonita71Avatar border
rassofAvatar border
herry8900Avatar border
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
#69
Ngalor Ngetan
Firasat

Senyum semringah kini menghiasi wajah Rumi yang terlihat lebih bersinar dari biasanya. Mata coklelatnya terus saja menatap dengan binar bahagia, pada sekumpulan orang yang tengah memasang dekorasi untuk pernikahannya dan Zein. Terdapat satu buah kursi panjang dan besar berwarna putih yang diletakkan tepat di tengah-tengah, di kiri-kanannya terdapat kembar mayang yang berdiri tegak, bersama bunga warna-warni lainnya. Di depan kedua kembar mayang tersebut terdapat kursi kecil tanpa sandaran, tempat duduk kedua penggapit. Sedangkan dibelakang kursi besar, terdapat gebyok dengan ukiran bunga yang dihiasi bermacam-macam bunga juga daun lebar, yang dipercantik dengan lampu let warna-warni.

Rumi tersenyum simpul. Setelah berbagai penolakkan dari keluarga hingga warga desa, akhirnya berkat sang bapak pernikahan ini akan terjadi. Gadis itu mengalihkan pandangan pada orang-orang yang tengah memasang pisang tuwuhan atau suluhan yang diletakkan di muka pintu masuk rumah bagian kanan dan kiri, sehingga kedua pisang bertemu di titik tengah. Pisang yang digunakan merupakan pisang raja yang sebagian buahnya sudah masak secara alami. Terkadang masyarakat menyebutnya sebagai pisang tuwuhan, karena pisang yang dipasang masih utuh, lengkap dengan daun, batang dan akarnya. Pemasangan pisang ini dipercaya sebagai bukti rasa cinta sejati, sebab pohon pisang hanya berbuah sekali dalam seumur hidup, sehingga diharapkan kedua mempelai hanya satu kali seumur hidup dalam membangun keluarga.

Rumi menghela napas, semua yang ada di rumahnya hanyalah orang-orang yang dibayar untuk digunakan jasanya oleh sang bapak, dan beberapa kerabat jauh Rumi. Tak ada warga desa yang ikut membantu dalam persiapan pernikahannya. Padahal biasanya warga desa selalu kompak berbondong-bondong rewang di rumah orang yang punya hajat tanpa diminta. Tapi kali ini, menatap Rumi saja mereka enggan.

Suara gemuruh tiba-tiba terdengar menggelegar. Di liriknya langit siang yang terang benderang. Rumi mengernyit bingung, mengapa saat langit cerah terdengar suara gemuruh? Gadis itu beberapa kali menghela napas, perasaannya tiba-tiba menjadi tak enak sekarang ini. Ada setitik keraguan yang timbul, ketika dia mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Pakde Seto juga warga desa. Rasa takut, meski hanya sedikit benar-benar membuat Rumi khawatir. Gadis itu bahkan mulai memikirkan banyaknya kemungkinan yang akan terjadi setelah pernikahan ini. Entah itu kemungkinan baik, atau pun kemungkinan terburuknya.

Rumi tersentak ketika mendengar suara barang pecah yang berasal dari dalam rumah, disusul dengan teriakan sang ibu memanggil bapaknya. Gadis itu bergegas masuk ke dalam rumah, begitu pula dengan orang-orang yang mendengarnya. Rumi melangkah menuju kamar orang tuanya, dia mengernyit ketika melihat pecahan kaca ada di pintu masuk. Mata miliknya membelalak, ketika melihat sang bapak yang tekapar tak berdaya di lantai dengan sang ibu yang menangis di sampingnya.

Rumi terdiam membisu, tak lama kemudian tubuhnya bergetar hebat.

Kringgg

Suara notifikasi panggilan dari ponsel membuat Rumi terbangun tiba-tiba. Mukanya pucat dengan keringat yang membasahi wajah. Jantung berdetak cepat, seirama dengan dering panggilan masuk yang Rumi biarkan begitu saja.

Tubuhnya bergetar hebat mengingat mimpi menyeramkan tersebut. Rumi bingung mengapa dia terus memimpikan hal yang sama. Mengapa di dalam mimpinya dia kehilangan sang bapak. Apa maksud semua ini?

Disambarnya ponsel yang berada di atas meja, tepat di samping ranjang miliknya. Saat layar menyala, Rumi mengernyit ketika melihat nama Zein yang terpampang di sana. Netra cokelat miliknya terpaku pada angka 24.12. Untuk apa Zein menelepon tengah malam seperti itu? Tanya Rumi dalam hati.

"Sekar, kamu tidak papa?" tanya Zein dari sana dengan nada khawatir, tepat setelah Rumi menekan tombol menerima.

"Zein, assalamualaikum," jawab gadis itu sedikit menyindir Zein.

Dari sebrang sana terdengar helaan napas panjang. Lalu disusul suara Zein yang mulai tenang. "Maaf, assalamualaikum, Sekar!"

"Waalaikumsalam. Ada apa Zein? Mengapa kamu meneleponku malam-malam begini? Ada masalah?"

"Sekar, saya ... saya hanya ingin mendengar suaramu," ujar Zein pelan.

Mendadak pipi Rumi menjadi panas. Seulas senyum terbit di wajahnya yang mulai memerah.

"Ha-hanya itu?" tanyanya.

"Iya, hanya itu."

Hening, Rumi hanya diam mendengar jawaban itu, sedangkan Zein juga memilih menutup mulut dan agaknya tidak berminat membuka suara kembali. Dari sebrang sana, Zein terus saja menghela napas.

"Zein, mengapa kamu selalu menghela napas? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Sekar!"

"Ada apa, Zein? Apa ada masalah?" tanyanya kembali.

"Tidak ada. Lebih baik kamu tidur lagi, malam masih panjang. Assalamualaikum."

Sebelum Rumi menjawab Zein menutup teleponnya.

"Waalaikumsalam," jawab Rumi lirih.

Setelah meletakkan ponselnya kembali di atas meja, tiba-tiba Rumi merasa haus. Gadis itu memilih turun dari ranjang lalu melangkah menuju pintu.

"Astagfirullah hal azim."

Saat pintu terbuka, Rumi terkejut bukan main. Di depannya, berdiri Pakde Seto dengan tatapan datar.

"A-ada apa, Pakde?"

Pakde Seto tak menjawab. Pria paruh baya itu malah masuk ke dalam kamar Rumi tanpa permisi. Mengernyit bingung, Rumi hanya mengekir di belakang pria paruh baya itu.

Pakde Seto menelisik setiap sudut kamar. Terkadang matanya terpejam, lalu kembali terbuka dengan raut wajah khawatir.

"Ada apa, Pakde?" tanya Rumi kembali. Namun, lagi-lagi dia tak mendapat jawaban. Pakde Seto hanya di, bahkan tak berniat menoleh ke belakang, menatap sang keponakkan.

Pria paruh baya itu berjalan menuju jendela kamar yang tertutup. Di sana, dia terdiam cukup lama. Kira-kira ada lima menit, kemudian dengan perlahan tangannya membuka jendela.

Suasana gelap yang hanya diterangi cahaya bulan di luar sana terlihat. Pakde Seto menatap ke bawah jendela, matanya tiba-tiba melebar, lalu denfan cepat tangannya kembali menutup jendela.

Rumi yang melihat itu semakin mengernyit bingung. Baru saja gadis itu ingin bertanya kembali, tetapi Pakde Seto mengintruksi Rumi untuk ikut dengannya denfan gerakan mata. Alhasil Rumi hanya pasrah, dan kembali mengekor di belakangnya.

Pakde Seto melangkah menuju dapur, pria paruh baya itu mengambil gelas, lalu menuang air dari teko ke sana. Cukup lama pria paruh baya itu menatap air di dalam gelas. Kemudian menyodorkan gelas itu pada Rumi dan menyuruhnya meminum air tersebut.

Tanpa penolakan Rumi langsung saja meminum air itu, lagipula dia juga tengah haus sekarang. Dengan cepat air mengalir ke tenggorokkan gadis itu. Dan sebelum air dalam gelas habis, Pakde Seto memilih pergi dari sana tanpa menjelaskan apa pun.






Diubah oleh Visiliya123 08-01-2022 11:14
itkgid
ariefdias
69banditos
69banditos dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.