Kaskus

Story

Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
Ngalor-Ngetan
Ngalor-Ngetan


NGALOR-NGETAN
Horor Story
Desa Danyang Pitu


Hai, semua. Hai masyarakat indonesia, khususnya warga Puwodadi yang tentunya tidak asing dengan larangan pernikahan ngalor ngetan :v . Siapa yang tidak kesal, ketika cinta kita gagal, bukan karena bertepuk sebelah tangan atau terhalang restu orang tua, melainkan terhalang adat istiadat yang ada.

Kalian akan semakin kesal tentunya ketika membaca cerita ini emoticon-Frown. Namun, untuk diketahui, bahwa apapun yang tertulis dalam cerita ini hanyalah fiktif. Tetapi jika kalian merasa kisah ini persis dengan yang kalian alami, itu adalah mungkin sebuah kebetulan. So, selamat membaca emoticon-Smilie



Sebuah sepeda motor terlihat melaju menembus kabut tipis, dengan cahaya lampu depannya yang meredup. Suara mesin dari roda dua terdengar di telinga, diiringi suara klakson yang terus saja dibunyikan si pengendara di sepanjang perjalanan. Hal itu membuat siapa saja geram, termasuk seorang gadis yang duduk di jok belakang motor.

"Bisakah Bapak berhenti membunyikan klakson?" tanya gadis itu sedikit berteriak, takut si pengendara tak mendengar. Sebab angin yang bertiup sangat kencang kala itu bisa saja membawa suaranya pergi. Sore hari itu tidak seperti biasanya, awan menggelap menutupi sang surya yang hampir tenggelam sempurna, menyingkirkan semburat jingga yang selalu terlihat menghiasi cakrawala.

"Maaf, ndak bisa, Mbak. Ini untuk jaga-jaga, takut nabrak," jawab pengendara itu. Gadis itu hanya mengernyitkan kening, menyibak rambutnya ke samping yang menutupi mata.

"Takut nabrak apa, Pak? Di sini gak ada orang maupun binatang?" tanya gadis itu kembali. Tukang ojek di depannya ini memang sudah tidak waras, pikirnya saat itu. Jalanan ini sepi, hanya mereka yang melintas di sini. Lalu, apa yang mau ditabrak?

"Bukan itu, Mbak."

"Lalu apa? Setan?" Tepat setelah gadis itu berbicara, suara anjing yang menggonggong terdengar jelas di telinga. Kemudian disusul suara ayam jantan yang berkokok. Terasa janggal. Untuk apa ayam berkokok sore hari?

"Jangan bicara aneh-aneh, Mbak!" peringati bapak itu, sang gadis hanya tertawa kecil mendengarnya.

"Saya asli sini, Pak. Gak akan terjadi apa-apa," ucap gadis itu percaya diri. Sang tukang ojek hanya diam, tak berniat melanjutkan pembicaraan. Kendaraan beroda dua itu berhenti, tepat di ujung jembatan. Sang gadis yang merasa ada yang tidak beres, segera turun dari motor.

"Kenapa, Pak? Motornya mogok?" tanyanya sambil membenarkan posisi tas di punggung yang terlihat besar.

"Bukan, Mbak. Tapi ...," jawab tukang ojek itu menggantung, wajahnya terlihat pucat pasi. Dia terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.

"Tapi, apa, Pak? Saya sudah tidak punya banyak waktu, sebentar lagi magrib."

"Saya ndak bisa ngantar sampai rumah, Mbak. Saya ... saya takut, ndak bisa balik lagi setelah melewati jembatan ini," jelas sang bapak yang membuat gadis itu melongo tidak percaya.

"Bapak bercanda?" ujar sang gadis diakhiri dengan kekehan. Tukang ojek di depannya memang semakin aneh saja. Mana ada orang hilang setelah melewati jembatan ini.

"Saya ndak bercanda, Mbak. Katanya ada orang yang lewat jembatan itu menjelang petang dan ndak balik-balik, karena bukan penduduk desa sana." Gadis itu mengatupkan bibir tipisnya, mencoba menahan tawa. Tapi, mulutnya tak bisa dikontrol hingga tawa itu keluar, terdengar kencang dari sebelumnya. Sedangkan sang bapak tukang ojek hanya diam, memperhatikan penumpangnya itu.

"Aduh perut saya sakit karena tertawa. Bapak percaya saja, itu hanya mitos, Pak. Saya asli warga desa sana, selama saya tinggal di sana gak ada tuh kejadian kayak gitu." Setidaknya itu yang gadis berambut sebahu itu tahu sepuluh tahun yang lalu. "Sudah, Pak. Jangan takut, aman mah kalau sama saya," ujar sang gadis meyakinkan.

Bapak tukang ojek itu terdiam, dia masih terlihat ragu. Pasalnya berita hilangnya orang setelah melewati jembatan itu, tersebar dan banyak yang membenarkannya.

"Saya bayar tiga kali lipat, deh," tawar gadis itu. Terdiam menatap depan, sang tukang ojek menimang-nimang tawaran menggiurkan itu.

"Ya sudah, kalau Mbaknya memaksa." Sang gadis hanya memutar bola mata malas.

"Bilang aja mau uang tambahan, kan gak usah debat dari tadi, Pak," ujarnya kesal. Lalu kembali naik ke atas motor, sambil membenarkan letak tas punggungnya. Sang tukang ojek hanya meringis tanpa dosa, memeperlihatkan deretan gigi yang beberapa telah copot dari tempatnya.

Motor melaju dengan pelan, suara papan yang bertubrukan dengan ban motor kini terdengar keras di kesunyian kala itu. Sang gadis merapatkan jaketnya, angin berembus semakin kencang, hingga membuat jembatan gantung bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama angin.

Gadis itu menatap ke bawah, aliran air tenang, namun terlihat menyeramkan kini terlihat di sana. Ia bergedik ngeri, membayangkan apabila dirinya jatuh ke sungai yang dalam itu. Pandangannya beralih ke depan, siluet putih tiba-tiba terlihat melintas di depan kendaraan yang mereka tumpangi.

"Awas, Pak!" teriak gadis itu, refleks sang bapak tukang ojek menarik rem. Ban berdecit hingga menimbulkan suara, motor oleng karena diberhentikan mendadak. Keduanya jatuh, kaki mereka terjebak tertimpa kendaraan besi itu.

"Bapak tidak papa?" tanya gadis itu khawatir. Keduanya berupaya mengangkat motor yang menimpa tubuh mereka, hingga motor kini kembali berdiri tegak.

"Mereka marah, mereka marah," racau bapak itu.

"Berhenti berpikiran seperti itu, Pak! Mungkin saja itu hanya orang yang sedang lewat, atau cahaya lampu." elaknya. Tak bisa dipungkiri, bahwa gadis itu saat ini tengah takut juga. Mata cokelat gelapnya menatap ke sekeliling, gelap mulai mendominasi. Hanya ada cahaya yang berasal dari motor butut yang ia tumpangi tadi.

"Mana ada orang menyebrang, ini jembatan, Mbak. Hanya ada satu arah dan tidak mungkin cahaya lampu, ndak ada orang di sini selain kita. Saya yakin itu penunggu jembatan ini."

Gadis itu menelan ludah dengan susah payah ketika mendengarnya. Hawa dingin kini menusuk, menembus jaket bahkan terasa sampai ke tulang. Gadis itu merapatkan jaketnya, bulu kuduknya kini meremang. Namun, ia tetap memasang wajah tenang, seolah-olah perkataan itu tak berpengaruh padanya. Benar-benar pintar bersandiwara.

"Ah, mana mungkin?" elaknya kembali. Bapak itu hanya diam, seperti sedang berpikir. Tidak ada gunanya juga menjelaskan panjang lebar pada gadis di depannya.

Gadis berambut sebahu itu mulai khawatir. Pemikiran bahwa tukang ojek yang bersamanya akan kembali pulang dan meninggalkannya sendiri kini bersemanyam di dalam pikiran. Tidak, sebelum hal itu terjadi dia harus mencari alternatif lain. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya agar dijemput.
Sang gadis merogohnya saku celana, mengambil sebuah benda tipis berwarna hitam, menghidupkan benda itu hingga cahaya terpancar dari layarnya.

"Akh, sial. Gak ada sinyal lagi," umpat gadis itu kesal. Ia sibuk menggerak-gerakkan ponselnya ke segala arah, berharap mendapatkan sinyal dengan melakukan itu. Gerakannya terhenti, ketika telinga mendengar suara azan magrib dari desa seberang.

"Sudah azan magrib, saya harus segera pulang."

Damn it, yang gadis itu khawatirkan sekarang terjadi juga. Dia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap si tukang ojek dengan raut wajah tak percaya.

"Bapak bercanda? Tega Bapak ninggalin saya sendiri di sini? Lagipula saya bayar Bapak tiga kali lipat, lho," ujar gadis itu. Jika saja tukang ojek itu tidak lebih tua darinya, bisa dipastikan gadis itu akan memukul kepalanya dengan keras. Agar bisa berpikir dan tak bertindak seenak jidatnya.

"Maaf, mbak, ndak usah bayar, saya ikhlas. Saya harus pergi." Tukang ojek itu memutar arah motornya ke belakang. Mesin motornya tiba-tiba mati, hingga cahaya lampunya ikut padam. Kini semua terasa gelap, sangat gelap. Gadis itu kesal sekaligus ingin tertawa, melihat bapak ojek yang sibuk berusaha menghidupkan motornya kembali.

"Motor Bapak aja gak mau diajak pulang. Udah, lebih baik—“ Tiba-tiba motor kembali menyala, hingga membuat sang gadis berhenti bicara, tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melongo, menatap tak percaya pada orang yang duduk di atas motor tengah tersenyum tipis ke arahnya.

"Maaf, Mbak." Tanpa mendengar jawaban dari sang gadis terlebih dahulu, tukang ojek itu langsung melaju pergi.

“Hai, Pak, setidaknya tunggu sampai bapak saya datang,” teriak gadis itu, tapi si tukang ojek tetap saja tak mau berhenti. Gadis itu kembali mengumpat, sekarang bagaimana dia pulang? Rumahnya masih jauh dan juga dia agak takut jalan sendirian.

Tak lama kemudian, sebuah cahaya menyorot dari arah dia datang. Ia menutup kedua mata dengan tangan karena cahaya itu menyilaukan. Suara kendaraan terdengar semakin mendekat. Dalam hati gadis itu bersorak senang, berpikir bahwa tukang ojek tadi berubah pikiran dan kembali untuk mengantarnya pulang sampai tujuan.

Saat ia membuka tangannya yang menutupi mata. Sebuah sepeda motor astrea kini terpakir indah di depannya, dengan cahaya lampu yang masih menyala. Refleks ia melangkah mundur, ada motor tapi tidak ada si pengendara. Apa mungkin motor itu jalan sendiri? Bulu kuduk kini meremang, tangan refleks memegang tengkuk. Ia menelan ludah, tubuhnya sudah panas dingin sekarang ini. Bau melati kini menguar di udara, membuat siapa saja bergedik ngeri menciumnya. Semakin kuat, seakan bau itu mendekat ke arahnya, bukan hanya sekedar terbawa oleh embusan angin saja.

"Aaaa!" jeritnya, ketika sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.

"Kamu tidak papa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah. Netranya menangkap siluet putih tadi di ujung jembatan. Entah orang atau bukan, tapi siluet itu terjun ke bawah jembatan. Gadis itu bahkan sampai menengok ke arah bawah, tepat di mana aliran air tenang berada untuk melihatnya. Ia menghela napas lega, bersandar pada batas jembatan, ketika mengetahui apa yang ia lihat tadi hanya ilusi semata. Mungkin.

"Kamu tidak papa?" Sang gadis terdiam, menatap pemuda di depannya. Pandangan beralih pada kaki pemuda itu yang tersorot cahaya lampu motor, ia kembali menghela napas lega mengetahui kaki pemuda di depannya menapak di alas jembatan.

"Saya tidak papa," jawabnya singkat.

"Mau saya antar?" tawar pemuda itu. Sang gadis terdiam, tapi karena tak memiliki pilihan lain akhirnya ia mengangguk.

Gemerlap cahaya redup kini mulai terlihat di beberapa titik, menyinari jalanan yang sepi di ujung jembatan sana. Bau kemenyan tiba-tiba tercium, setelah motor melewati jembatan. Menghela napas, sang gadis menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma kuat itu. Ini adalah salah satu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke desa ini lagi.

Desa Danyang Pitu, begitulah warga desa sekitar menyebutnya. Danyang adalah sebutan untuk seorang penjaga, sedangkan pitu adalah tujuh. Seperti namanya, desa ini dijaga oleh tujuh Danyang yang tersebar di berbagai titik dan titik itu disebut dengan nama petilasan, tempat suci di mana dilaksanakannya kegiatan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan hal-hal gaib. Maka tak ayal, jika banyak orang dari desa tetangga yang datang untuk berdoa, mengharap banyak hal di sana, termasuk kekayaan, meskipun mereka tahu itu syirik.

Dari kaca spion gadis itu dapat melihat dengan jelas, bahwa pemuda di depannya tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan datar. Karena merasa tak nyaman, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mencoba tak menatap mata pemuda itu yang terkesan dingin.

"Kemarin ada yang jatuh," jelas pemuda itu tanpa ada yang bertanya. Gadis itu mengalihkan pandangan, menatap pemuda di depannya lewat spion dalam diam, kemudian menganggukkan kepala. Meski sudah lama, ia masih ingat tradisi warga desa sini. Mereka selalu meletakkan sesaji berupa beras kuning yang dicampur dengan bunga mawar dan uang koin. Tak lupa juga dengan kemenyan yang dibakar di ujung jembatan, ketika ada orang yang jatuh dari sana. Mereka percaya, dengan melakukan itu maka penunggu tempat mereka jatuh tidak akan mengusik dan memperburuk keadaan korban yang jatuh.

Desa ini tak berubah sedikit pun, masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Rumah warga desa tertutup rapat, jalan terlihat redup karena hanya diterangi dengan bohlam kecil berwarna kuning. Penduduk desa masih percaya dengan adanya mitos yang dibawa oleh nenek moyang mereka, meski zaman sudah modern. Itulah mengapa, desa ini dianggap kental dengan hal-hal yang berbau mistis.

Motor yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat lebih luas dari rumah lainnya. Pintunya menjulang tinggi dengan ukiran berbentuk bunga yang memanjang di setiap sudutnya. Mengernyit bingung, gadis itu turun dari motor. Aneh, seingatnya ia belum mengatakan tempat yang ingin dia tuju. Tapi mengapa pemuda ini mengantarnya di tempat yang tepat, bagaimana dia bisa tahu?

Baru saja ia ingin membuka mulut, suara pintu yang terbuka menghentikannya. Seorang pria paruh baya bertubuh besar dan tinggi melangkah mendekat. Kumis tebal menambah kesan garang pada wajahnya, hingga membuat sang gadis menunduk takut.

"Masuk!" perintahnya tegas. Gadis itu mendongak, tatapannya beralih ke samping, tempat pemuda tadi. Kerutan semakin terlihat jelas di keningnya, ketika netranya tak menemukan sosok pemuda tadi. Ke mana dia pergi tiba-tiba? Bahkan ia tak mendengar suara deru mesin motornya.

"Rumi." Panggilan itu membuat sang gadis kembali menatap pria paruh baya di depannya. Ia mengangguk, berjalan masuk ke dalam rumah dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya.



Note : Cerita ini fiksi, namun beberapa kejadian dan tempat peristiwa benar-benar ada, tetapi disamarkan. Cerita ini tidak bermaksud memanipulasi pemikiran masyarakat tentang adat-istiadat yang dijabarkan dalam cerita.


Sumber gambar : Google and PistArt


Quote:

Diubah oleh Visiliya123 04-11-2022 22:31
bonita71Avatar border
rassofAvatar border
herry8900Avatar border
herry8900 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
10.1K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
#53
Ngalor Ngetan
Horror Story
Lamaran Mendadak


“Diminum dulu minumannya, Pak Carik,” ujar Janum setelah meletakkan beberapa cangkir berisi kopi di atas meja. Lalu wanita itu duduk di sebelah suaminya.

“Terima kasih, maaf sudah merepotkan,” jawab seorang pria paruh baya yang dipanggil Pak Carik, sambil membenarkan letak kacamatanya.

“Kamu juga Zein, diminum dulu kopinya.”

“Nggeh, matur nuwun, Bu,” balas Zein dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, berterima kasih atas sungguhan yang Janum berikan. Pemuda itu menggerakkan matanya, menelusuri setiap sudut rumah yang bisa ia jangkau. Bibirnya menyunggingkan senyum, ketika melihat Rumi berjalan mendekat dengan sebuah nampan yang di atasnya ada beberapa piring. Gadis itu meletakkan piring-piring berisi kue kering juga buah yang sudah dikupas ke atas meja dengan penuh hati-hati. Setelah selesai menata piring, Rumi kembali ke dapur untuk mengembalikan nampan. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Zein.

“Monggo, dimakan camilannya, Pak. Maaf, hanya seadanya yang bisa kami suguhkan.” Kali ini Rintolah yang bersuara, mempersilahkan pada Pak Carik untuk memakan apa yang disuguhkan oleh putrinya.

“Ah, tidak apa-apa, Pak. Justru kami yang seharusnya meminta maaf, karena merepotkan seperti ini,” balas Pak Carik. Dia mengambil cangkir yang ada di depannya, lalu menyeruput kopi dengan perlahan.

Rumi kembali bergabung, mengambil duduk di samping ibunya. Karena kebetulan, kursi yang diduduki kedua orang tuanya bisa muat untuk tiga orang.

“Tidak merepotkan, Pak. Justru kami merasa terhormat karena Pak Carik berkunjung ke rumah kami.” Janum tersenyum, sebelum kembali berucap, “Tapi, adakah sesuatu yang penting sehingga Pak Carik dan putranya datang ke mari?”

Jika salah satu pamong desa yang selalu sibuk menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya, maka pasti ada sesuatu yang sang sangat penting. Begitulah yang Janum pikirkan.

Pak Carik kembali meletakkan cangkir yang ia pegang ke atas meja. Dia tersenyum, kembali membetulkan letak kaca matanya. “Hanya sekedar silaturahmi, Bu. Ada sesuatu juga yang ingin saya bicarakan dengan Mbah Seto, dan Zein, hanya menemani saya, karena ini sudah malam” ujar Pak Carik sambil tersenyum, “tapi ... di mana Mbah Seto, kenapa tidak kelihatan dari tadi?”

“Mas Seto sedang ada urusan. Rum, panggil pakdemu!” perintah Rinto kepada putrinya. Rumi mengangguk, gadis itu bangkit dari duduknya, baru berjalan beberapa langkah dia berhenti, ketika mata cokelat miliknya menangkap Pakde Seto yang tengah berjalan mendekat.

Pria paruh baya itu mengambil duduk di kursi sebelah Rinto, tepat di depan Pak Carik. “Sudah menunggu lama?” tanya Pakde Seto, Pak Carik hanya tersenyum menaggapinya.

“Maaf, saya datang mewakili Pak Lurah, meminta Mbah Seto untuk memimpin acara Sedekah Bumi nanti, seperti biasa.” Pakde Seto hanya mengangguk, yang membuat Pak Carik tersenyum.

“Monggo, diminum lagi kopinya,” ujar Pakde Seto.

“Terima kasih, Mbah. Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama, saya mohon undur diri,” balas Pak Carik, tersenyum kepada semua orang. “Zein, ayo!”

“Tunggu, Pak!” Pak Carik yang hendak berdiri, mengurungkan niatnya. “Zein ingin membicarakan sesuatu.”

“Apa tidak di rumah saja, Zein?”

“Maaf, Pak. Ndak bisa, Zein ingin membicarakan ini dengan Pakde Seto juga Ibu dan Bapak Sekar.” Pak Carik mengangguk. Janum dan Rinto saling pandang, sedangkan Rumi dan Pakde Seto hanya diam menatap ke arah Zein, meunggu pemuda itu kembali bicara.

“Apa yang ingin kamu bicarakan, Zein?” tanya Rinto.

“Saya dan Sekar sudah kenal sejak masih kecil, bahkan Ibu dan Bapak sudah menganggap saya sebagai anak sendiri. Saya sangat berterima kasih, terutama dengan Ibu, kasih sayang yang tidak saya dapatkan dari ibu kandung saya, telah saya dapatkan dari Ibu.” Semua orang di sana hanya tersenyum, kecuali Pakde Seto yang hanya memasang wajah datar. Ibu Zein memang sudah meninggal saat Zein duduk di kelas empat. “Saya, berencana meresmikannya.” Janum dan Rinto kembali saling pandang. Kemudian keduanya kembali memusatkan pandangan pada Zein.

“Zein, maksudnya, kamu ingin menikah dengan Rumi?” tanya Rinto. Zein hanya mengangguk, pemuda itu tersenyum menatap Rumi yang hanya diam saja.

“Zein, kenapa kamu tidak membicarakannya dengan bapak dulu?” tanya Pak Carik yang membuat Zein mengalihkan pandangan dari Rumi.

“Maaf, Pak.“ Pak Carik hanya menggelengkan kepala.

"Maaf, sebelumnya," sela Rumi tergesa. Gadis itu menatap Zein dengan memasang raut wajah yang sulit diartikan. "Zein, boleh bicara sebentar!"

Zein mengangguk, lalu mengikuti Rumi yang sudah keluar rumah, setelah meminta izin kepada semua orang yang masih duduk di ruang tamu.

"Zein, apa maksud kamu? Bagaimana mungkin? Mengapa tiba-tiba seperti ini?" berondong Rumi dengan pertanyaan ketika Zein sudah berdiri di depannya.

Pemuda itu tersenyum, lalu dengan lembut mengusap rambut Rumi. "Saya sudah memikirkan ini matang-matang. Sesuatu yang baik tidak baik jika ditunda."

"Dan kamu tidak membicarakan itu kepadaku terlebih dahulu."

"Sekar, saya--" Zein berdecak, "Saya pikir kamu akan setuju. Bukankah kamu bilang tidak ingin saya pergi?"

Rumi terdiam, gadis itu tampak berpikir. "Maksud kamu?"

"Kamu ingat yang saya tanyakan kemarin?"
Lagi-lagi Rumi terdiam. Jantungnya tiba-tiba terasa berhenti berdetak ketika mengingat kejadian kemarin. Rumi memang sempat berpikir bahwa yang Zein tanyakan memang seperti itu, tetapi dengan cepat gadis itu menepisnya, dan meyakinkan pada diri sendiri bahwa yang Zein tanyakan adalah soal dia dan buah. Hanya itu. "Zein, aku tidak tahu harus bagaimana."

"Bolehkah saya mengajukan pertanyaan?"
Rumi mengangguk menanggapi pertanyaan itu.
"Apa kamu mencintai saya dan percaya pada saya?"

Rumi hanya diam, gadis itu hanya menatap Zein, tak berniat membuka suara. Zein yang telah menunggu lama untuk jawaban itu hanya tersenyum miris karena Rumi tak memberi respon apapun.

"Baiklah, Sekar. Maaf, karena saya lancang," ujar Zein kecewa. Pemuda itu memutar tubuh, hendak melangkah masuk kembali.

"Zein!" panggil Rumi yang membuat Zein menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ke arah gadis itu. "Aku juga mencintaimu dan ... sangat mempercayaimu."

Seulas senyum secerah mentari terbit di wajah Zein. Dengan semangat, dia kembali menghampiri Rumi, lalu menggandeng tangan gadis itu untuk masuk bersama-sama ke dalam rumah.

“Saya tidak setuju!" ujar Pakde Seto dengan tegas. Semua orang seketika memusatkan pandangan pada pria paruh baya itu. Termasuk Rumi dan Zein yang baru saja masuk. “Pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi!" lanjutnya, sambil menatap kedua muda-mudi yang masih bergandengan tangan. Mengetahui tatapan tak enak dari Pakde Seto, Zein seketika melepaskan tangan Rumi, lalu kembali duduk di samping bapaknya. "Kalian pantang untuk menikah!"

“Pakde, jika ini tentang ngalor ngetan, maka—“

“Kamu siap menanggung risikonya.”Zein cukup tersentak ketika ucapannga dipotong oleh Pakde Seto. “Kamu sudah tahu, bahwa arah rumah kalian merupakan pancer Srengenge dan pernikah seperti itu dilarang di desa ini. Lalu, apa yang membuatmu nekat melanggar pantangan yang sudah ada turun-temurun ini?”

Rumah Rumi berada di sebelah timur, lebih ke utara, sedangkan Zein berada di sebelah barat. Jika dihubungkan dengan garis lurus, maka membentuklah garis memanjang yang menyerong ke utara-timur.

“Saya mencintai Rumi dan siap menanggung akibatnya!” ujar Zein mantap sambil menatap Rumi. Rumi tidak tahu haru merespon seperti apa. Bahkan dia tidak tahu ada larangan menikah seperti itu. Inikah sebabnya Zein bertanya apakah Rumi mempercayai dirinya?

Pakde Seto tersenyum, yang membuat Zein sedikit bergedik ngeri melihatnya karena sangat jarang sekali Pakde Seto itu tersenyum.
“Kamu siap menaggung risikonya, tapi saya tidak rela jika Rumi juga harus menanggungnya.”

Semua orang lagi-lagi terdiam cukup lama.“Kenapa tidak, Pakde?” Rumi yang hanya diam saja kini mulai angkat bicara. Gadis itu menatap ke arah Zein yang juga menatapnya saat ini. “Rumi mencintai Zein, dan pernikahan ini harus terjadi.”

“Rum,” panggil Janum sambil menggenggam erat tangan putrinya itu.

“Biarkan Rumi bicara kali ini, Bu. Ini masa depan Rumi, Rumi bukan anak kecil lagi yang tidak bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk.” Gadis itu melepaskan genggaman erat sang ibu dari pergelangan tangannya. Mata cokelat miliknya menatap pada Pakde Seto. “Rumi tidak percaya dengan pantangan seperti itu.”

“Nduk, kamu sadar apa yang kamu katakan? Menentang adat-istiadat yang sudah ada akan menimbulkan mala petaka. Kalian akan terbakar jika berjalan melawan matahari.”

“Semua itu hanya omong kosong,” teriak Rumi. Gadis itu sudah tak bisa mengendalikan dirinya, dia begitu muak mendengar pantangan-pantangan yang diterapkan di desanya ini.

“Rumi!” bentak Janum pada sang putri, “Jaga sopan-santunmu, Ibu tidak pernah mengajari kamu berteriak pada orang tua.” Janum memejamkan kedua mata, merasa gagal menjadi seorang ibu. Dadanya sesak, melihat putri semata wayangnya yang sudah berubah, tidak menghormati orang tua lagi. Wanita paruh baya itu menangis, dia benar-benar merasa gagal.

“Maafkan Rumi, Bu,” ujar Rumi pelan penuh sesal sambil menggenggam tangan ibunya erat.

“Pernikahan ini tidak akan terjadi, dan itu keputusan akhirnya,” ujar Pakde Seto, lalu pria paruh baya itu pergi begitu saja.
pulaukapok
itkgid
ariefdias
ariefdias dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.