- Beranda
- Sejarah & Xenology
MISTERI ISLAM AWAL [M.I.A] | Reconstruct Early Islamic History out of Tradition
...
TS
tyrodinthor
MISTERI ISLAM AWAL [M.I.A] | Reconstruct Early Islamic History out of Tradition
![MISTERI ISLAM AWAL [M.I.A] | Reconstruct Early Islamic History out of Tradition](https://s.kaskus.id/images/2019/10/21/8072693_20191021115909.jpg)
أتاني بإسناده مخبر، وقد بان لي كذب الناقل
"Dia datang kepadaku mengabarkan isnad-nya, dan aku menukilkan sebuah dusta"
(Abul-'Ala Al-Ma'arri- Diwan No. 23265)
TEMPORARY INDEX
"Dia datang kepadaku mengabarkan isnad-nya, dan aku menukilkan sebuah dusta"
(Abul-'Ala Al-Ma'arri- Diwan No. 23265)
TEMPORARY INDEX
Selamat Datang di MIA
Pengantar Umum
HISTORIOGRAFI
- Sumber-sumber Tertulis Non-Muslim s.d. 690
- Sumber-sumber Tertulis "Muslim" s.d. 690
- Literatur Apokaliptika
- Sumber-sumber Tertulis Non-Muslim s.d. 900 : (coming soon)
- Pandangan Saksi Hidup Tentang Muslim Awal
KRITIK ASAL-USUL HADITS
- Pengantar Singkat Tentang Hadits
- "Keunikan" Al-Muwaththa'
- Pembuktian Awa'il
- Misteri Hadits Abu Bakar-'Umar-'Utsman-'Ali
- Asal-Usul Konsep Sunnah
- Pengembangan Hadits di Kota-kota Besar dan Karakter Isnad
- Isnad Hijazi
KRITIK-HISTORIS HADITS
- Peranan Qadhi Perawi dan "Terduga" Perawi
- Daftar Qadhi Perawi (s.d. 850an)
- Kejanggalan Hadits-hadits Mutawatir
- Kritik Sumber Rijal Sanad
- Teori Sintesis Kontemporer:
- Teori Common Link Juynboll
- Teori Projecting Back Schacht-Juynboll
- Teori Isnād cum Matn Motzki
ASAL-USUL FIQH
1. Madzahib Kuno Pra-Syafi'i
2. Ikonoklasme Leo III dan Yazid II
3. Rivalitas Muhaddits Bashrah vs Kufah
4. Asal-Usul Sunnah
5. Abu Hanifah dan Murid-muridnya
6. Rivalitas Ahlur-Ra'yi vs Ahlul-Hadits
7. Mu'tazilah dan Kebijakan Mihnah
8. Kebangkitan Asy'ari dan Penyeragaman 'Aqidah
9. Persekusi Ekstrimis Hanabilah
AL-QUR'AN TERTULIS
1. Masalah Dalam Tradisi
2. Tradisi Sab'atu Ahruf
3. Scriptio Defectiva dan Scriptio Plena
4. Manuskrip-Manuskrip Tertua
5. Evolusi Rasm Al-Qur'an
AL-QUR'AN ORAL
1. Al-Qur'an Pada Periode Primitif
2. Markers of Orality
- Karakteristik & Proporsi
- Abraham & Pengumuman Tentang Anaknya
- Clausula & Contoh Exegesis Alkitabiah
3. Contoh: Polemik Al-Ma'idah: 41-87
4. Konten Al-Qur'an
KRITIK-HISTORIS SIRAH
1. Kepenulisan Sirah
2. Konten Sirah
3. Karakteristik Sirah Ibnu Ishaq
4. Maghazi dan Asal-Usul Hudud
- Kritik Kisah Penghukuman Bani 'Urainah
- Kritik Kisah Perjanjian Hudaibiyyah
- Kritik Kisah Perang Badar dan Uhud
- Kritik Kisah Pengusiran Bani Quraizhah
- Kritik Kisah Fat'hu Makkah
- Kritik Kisah Pengepungan Khaibar
- Kritik Kisah Fadak
- Kritik Kisah Peristiwa Tsaqifah dan Bani Sa'idah
5. Muhammad mitologis VS Muhammad historis
MUHAMMAD
- Masalah Dalam Tradisi
- Salvation History
- Biografi Tradisional
- Misteri Kehidupan Muhammad
- Hanifisme
- Pengasingan Terhadap Karakter Muhammad
- Hilangnya "Putra" Muhammad
YAHUDI, MUHAMMAD, DAN ISLAM KLASIK
- Yahudi Mosaik vs Yahudi Hellenistik
- Yahudi dan Militansinya
- Beta Israel
- Gerakan Penafsiran Torah di Iraq
- Yahudi di Jazirah Arab
- Umma Document (1)
- Umma Document (2)
- Umma Document (3)
- Kronologi Evolusi Islam (1)
- Kronologi Evolusi Islam (2)
- Kronologi Evolusi Islam (3)
BAHASA ARAB DAN AL-QUR'AN
- Manuskrip-Manuskrip Al-Qur'an s.d. 900
- Bahasa Arab Kuno s.d. Bahasa Arab Klasik
- Pengaruh Bahasa-bahasa Asing
- Konten Dalam Al-Qur'an
- Al-Qur'an Hari Ini
- Corpus Coranicum
- Prophetic Logia
KESARJANAAN
- Tradisionalisme dan Orientalisme Lama
- Revisionisme dan Orientalisme Baru
- Neo-Revisionisme / Neo-Tradisionalisme
MISCELLANEOUS
- Geografi Arab Pra Muhammad
- Prasasti Yudeo-Arab Pra Muhammad
- Literatur Arab dan Evolusi Arab Klasik
- Ortografi Arab Kuno
- Kekeliruan Cara Berpikir Anti-Islam
FAQ
Diubah oleh tyrodinthor 15-05-2021 12:53
awanrisk dan 88 lainnya memberi reputasi
73
134.9K
1.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tyrodinthor
#407
HADITS
PERANAN QADHIPERAWI
DAN "TERDUGA" PERAWI
QADHI DI MESIR (Bag. I)
PERANAN QADHIPERAWI
DAN "TERDUGA" PERAWI
QADHI DI MESIR (Bag. I)
Dari 40 orang qadhi di Mesir yang tercatat selama periode Muslim paling awal hingga memasuki pemerintahan Al-Mutawakkil, hanya 22 orang saja qadhi perawi yang tercatat dalam Tahdzib dan Lisan Ibnu Hajar, yang artinya sekitar 30% qadhi di Mesir terlibat dalam periwayatan hadits, baik itu ahadits, atsar, akhbar, maupun ra'yi. Dan qadhi perawi yang pertama terkenal di Mesir adalah 'Abdullah bin Lahi'ah (w. 174 Hijriyyah / 791). Meskipun dia merupakan faqih Tabi'in, namun dia dianggap sangat dha'if (lihat Tahdzib Vol. 5 Hal. 373-379 dan Jarh Vol. 2 Hal. 145-148). Dia ditunjuk sebagai qadhi tahun 155 Hijriyyah (722). Namun, hanya 5 qadhi pendahulunya dari 20 qadhi pendahulunya yang tercatat sedikit, atau pernah, meriwayatkan hadits. Mereka berlima adalah:
- 'Abdur-Rahman bin Hujairah (w. 83 Hijriyyah / 702), qadhi di Mesir. Dia dianggap tsiqah (lihat Tahdzib Vol. 6 Hal. 160).
- 'Abdur-Rahman bin Mu'awiyyah bin Hudaij (w. 95 Hijriyyah / 714), qadhi di Mesir. Dia dianggap tsiqah (lihat Tahdzib Vol. 6 Hal. 271).
- 'Abdullah bin 'Abdur-Rahman bin Hujairah, qadhi di Mesir. Dia dianggap tsiqah (lihat Tahdzib Vol. 5 Hal. 292).
- Yahya bin Ma'mun Al-Hadhrami (w. 114 Hijriyyah / 732), qadhi di Mesir. Dia perawi majhul (lihat Tahdzib Vol. 11 Hal. 291).
- Khair bin Nu'aim Al-Hadhrami, qadhi di Mesir. Dia dianggap shaduq (lihat Tahdzib Vol. 3 Hal. 179).
- Sebagai tambahan, ada seorang perawi lainnya di Mesir yang bukan termasuk qadhi, melainkan mufti (ahli fatwa) dan dianggap tsiqah, yang bernama Yazid bin Abi Habib (w. 128 Hijriyyah / 746) yang pertama mendiskusikan tentang konsep halal wa haram di Mesir. Dia merupakan salah satu guru dari 'Abdullah bin Lahi'ah (lihat Tahdzib Vol. 11 Hal. 318).
Sampai sini kita dapat melihat menurunnya kualitas qadhi perawi di Mesir dari awal yang diketahui hingga 'Abdullah bin Lahi'ah. Selain itu, kita memperoleh fakta bahwa di Mesir telah memakan waktu hampir 1,5 abad setelah Muhammad sang Nabi wafat hingga qadhi di Mesir melibatkan diri dalam transmisi/periwayatan hadits. Terdapat 17 qadhi suksesor 'Abdullah bin Lahi'ah di Mesir, 12 di antaranya tidak berhubungan dengan hadits. Berarti, ada 5 (lima) qadhi pasca 'Abdullah bin Lahi'ah yang diketahui sebagai perawi. Dan 4 (empat) di antaranya dianggap dha'if, atau didiskreditkan, dan menyisakan hanya 1 (satu) qadhi yang totally dianggap tsiqah, yaitu yang paling akhir. Mereka berlima adalah:
- Al-Mufadhdhal bin Fadhalah (w. 181 Hijriyyah / 797), qadhi di Mesir. Sebagian menganggapnya tsiqah, sebagian sisanya menganggapnya munkar (lihat Thabaqat Vol. 7 Hal. 204).
- Muhammad bin Masruq Al-Kindi, qadhi di Mesir. Dia dianggap dha'if (lihat Lisan Vol. 5 Hal. 379 {no. 1230}).
- Ishaq bin Furat (w. 204 Hijriyyah / 819), qadhi di Mesir dan faqih Hanafi. Dia dianggap shaduq (lihat Tahdzib Vol. 1 Hal. 246).
- Harun bin 'Abdullah bin Muhammad bin Az-Zuhri, qadhi di Mesir. Seorang berpengetahuan luas namun sedikit meriwayatkan hadits (lihat Lisan Vol. 6 Hal. 179 {no. 636}).
- Al-Harits bin Miskin (w. 255 Hijriyyah / 869), qadhi di Mesir dan seorang faqih. Dia dianggap tsiqah (lihat Tahdzib Vol. 2 Hal. 156).
Sebanyak 7 (tujuh) dari 40 qadhi Mesir di atas, disebutkan dalam karya-karya rijal sanad sebagai fuqaha yang hebat, tapi tidak satupun dari mereka dapat disebut perawi yang hebat. Yang dianggap tsiqah pun hanya sedikit meriwayatkan hadits. Namun, di masa itu, fiqh dan hadits masih bisa dianggap satu bidang ilmu, dan pengembangan paradigma ilmunya yang pada akhirnya memisahkan keduanya baru terjadi belakangan. Selama masa pemerintahan 'Umar bin 'Abdul-Aziz yang cukup singkat, para qadhi Mesir menjalin kontak dekat dengan penguasa ini dan mencapai banyak keputusan hukum yang hanya didasarkan pada ra'yi masing-masing (lihat Tarikh Kindi Hal. 332-340, sebagian besar putusan hukum didasarkan pada pendapat pribadi masing-masing qadhi atau shahabat). Kemudian, 14 tahun setelah
kematian Abu Hanifah (salah satu faqih besar pendiri madzhab Hanafi), yaitu pada tahun 150 Hijriyyah (767), madzhab Hanafi diterima di Mesir, namun para qadhi menyesali orang-orang yang takut terhadap agama. Beberapa tahun kemudian, yaitu sekitar tahun 175 Hijriyyah (791), seorang qadhi bernama Abu Thahir 'Abdul-Malik bin Muhammad Al-Hazmi memperkenalkan madzhab Maliki di Mesir (lihat Tarikh Kindi Hal. 383). Dia konon adalah murid dari seorang faqih terkemuka di Madinah yang pertama kali meng-khattam kitab Muwaththa' Malik, yaitu 'Abdur-Rahman bin Al-Qasim Al-'Utaqi (w. 191 Hijriyyah / 806; lihat Tahdzib Vol. 6 Hal. 254).
Adapun hanya sedikit qadhi-qadhi Mesir yang termasuk delegasi madzhab Hanafi, hanya 2 (dua) yang diketahui, yaitu:
- Hasyim bin Abi Bakar Al-Bakri (w. 196 Hijriyyah / 812), lihat Tarikh Kindi Hal. 411-417.
- Ibrahim bin Al-Jarrah (w. 217 Hijriyyah / 832), lihat Tarikh Kindi Hal. 427.
Namun, ada juga qadhi yang mengerti masing-masing madzhab (Maliki dan Hanafi), yaitu Ishaq bin Furat dan Ibrahim bin Al-Jarrah.
Dari banyak keterangan dalam Tarikh Kindi, pengenalan kedua madzhab di Mesir ini menuai ejekan kepada qadhi dari masyarakat Mesir. Pasalnya, para qadhi ini, entah bagaimana caranya, usaha mereka menegakkan kedua madzahib ini dianggap meng-"impor" budaya fuqaha Madinah yang umumnya dipandang dari kelas jelata. Tidak tanggung-tanggung, banyak sekali syair dan puisi sindiran/satire (yang dianggap hija'/mocking) dari para penyair kepada qadhi-qadhi ini. Kita boleh saja berpandangan mungkin syair-syair ini merupakan wujud ketidaksukaan oposan terhadap orang-orang yang memiliki/diberi kekuasaan politik, dalam hal ini, para pejabat qadhi. Bahkan, ada sebuah syair mengandung kritikan terhadap seorang qadhi bernama Sulaim bin 'Itr (tentang Sulaim bin 'Itr telah dibahas sebagian pada bab pembuktian awa'il). Saat dia masih menjadi seorang qushshash/pencerita/pendongeng (sebelum menjadi qadhi), dia dikatakan diikuti oleh 2 (dua) malaikat. Namun, setelah menjadi qadhi, 2 (dua) malaikat itu pergi dan 2 (dua) setan menggantikannya. Syair ini sebenarnya diucapkan 'Abdullah bin 'Amru yang ditujukan kepada 3 (tiga) orang faqih bernama Kuraib bin 'Abrahah, 'Abbas bin Sa'id, dan qadhi Sulaim bin 'Itr (Tarikh Kindi Hal. 310-311) sbb:
وأما أنت يا عباس بن سعيد فبعت آخرتك بدنياك. وأما أنت يا سليم بن عتر فكنت قاصا فكان معك ملكان يفتيانك ويذكر انك ثم صرت قاضيا فمعك شيطانان يزيغانك عن الحق ويفتنانك
"Dan kamu wahai 'Abbas bin Sa'id, kamu telah menjual akhiratmu untuk ditukar dengan duniamu. Dan kamu wahai Sulaim bin 'Itr, kamu dahulu adalah seorang pencerita dan ada dua malaikat bersamamu dan merangkulmu". Dan dilanjutkannya, "Kemudian kamu menjadi qadhi, dan ada dua setan bersamamu, mereka mengalihkanmu dari kebenaran dan merangkulmu"
====== TRIVIA ======
Terdapat sebuah hadits yang marfu'hingga ke Muhammad sang Nabi dengan matan yang berbunyi sbb:
من جعل قاضيا بين الناس فقد ذبح بغير سكين
"Barangsiapa menjadi qadhi (hakim) di antara manusia, maka dia telah disembelih tanpa menggunakan pisau"(Abu Dawud No. 3100 (disepakati shahih), 3101 (disepakati shahih), Tirmidzi No. 1247 (hasan gharib), dan Ibnu Majah No. 2299 (di-shahih-kan Al-Albani) - note: derajat hadits shahih hanya ditinjau dari isnad yang muttashil (bersambung tanpa putus), rijal yang tsiqah dan/atau shaduq, tidak ada kerusakan (syadzdz) dan kecacatan ('illat) pada isnad-nya)
Hadits ini seringkali dimaknai sebagai nashihat untuk berhati-hati jika seseorang menjadi hakim, karena benar-benar dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah (lihat penjelasan lanjutan di AlManhaj). Namun, bila kita sandingkan dari sisi historis, hadits ini sangat besar erat kaitannya dengan sikap anti-qadhi yang diterangkan dalam Tarikh Kindi di atas. Bila diperiksa rijal-nya, maka perawi yang menjadi common link adalah seharusnya Sa'id Al-Maqburi (pada Ibnu Majah No. 2299 terdapat Al-A'raj yang konon juga meriwayatkannya dari Abu Hurairah).
Namun, diketahui setidaknya ada 14 (empat belas) orang berbeda yang menggunakan nama yang disambiguasi dengan "Sa'id Al-Maqburi" ini (lihat Tahdzib Vol. 4 Hal. 38) dan tampaknya Ibnu Hajar sendiri tidak mau memberi kesimpulan siapa Sa'id Al-Maqburi yang dimaksud, namun semua kritikus rijal sanad sepakat dia adalah Sa'id bin Abi Sa'id Al-Maqburi / Sa'id bin Kaisan (lihat pendapat Daruquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Manjuwaih, dan Jurjani di Hawramani). Penjelasan panjang lebar dari para 'ulama kritikus rijal sanad ini hanya berkutat masalah jatidiri, sehingga sebenarnya menyiratkan kebingungan yang mereka alami tentang rijal ini. Dari 4 (empat) hadits dengan matan serupa di atas, kita memiliki 3 (tiga) isnad, namun Ibnu Hajar menulis bahwa ada 14 (empat belas) isnad lainnya, dimana 3 (tiga) perawi teratas secara berturut-turut dan konsisten ditempati oleh:
- Abu Hurairah.
- Sa'id Al-Maqburi dan Al-A'raj (dalam Tahdzib Vol. 6 Hal. 290, perawi bernama Al-A'raj ini adalah 'Abdur-Rahman bin Hurmuz Al-A'raj (w. 117 Hijriyyah / 735).
- 'Utsman bin Muhammad Al-Akhnasi (lihat Tahdzib Vol. 7 Hal. 152).
Kemudian, setelah itu, isnad-isnad-nya bercabang. 4 (empat) isnad (yang di dalamnya memuat 3 (tiga) isnad hadits di atas) terdapat perawi lain yang diatribusikan seperti kepada 'Abdullah bin Ja'far Al-Makhrami (w. 170 Hijriyyah / 787, lihat Jarh Vol. 5 Hal. 22 (no. 100) dan Tahdzib Vol. 5 Hal. 171), 2 (dua) isnad lainnya kepada 'Abdullah bin Sa'id bin Abi Hind (w. 147 Hijriyyah / 765, lihat Tahdzib Vol. 5 Hal. 239), 5 (lima) isnad berikutnya kepada Ibnu Abi Dzi'ib (w. 159 Hijriyyah / 776, lihat Tahdzib Vol. 9 Hal. 303-307), dan 3 (tiga) sisanya kepada 'Utsman bin Adh-Dhahhak (lihat Tahdzib Vol. 7 Hal. 123). Semua perawi di atas memperoleh predikat yang baik (tsiqah dan/atau shaduq) berdasarkan tarajim (historiografi) mereka. Jadi, tampaknya, Sa'id Al-Maqburi tidak tepat dijadikan common link melainkan 'Utsman bin Muhammad Al-Akhnasi. Kita memiliki kesulitan karena tidak ada tarajim yang mencatat usia/tahun kematiannya. Tapi jika diperkirakan, antara Sa'id Al-Maqburi (setidaknya ada 3 (tiga) pendapat mengenai kematiannya, yaitu tahun 117, 123, atau 126 Hijriyyah / range 735-744) dengan 'Abdullah bin Ja'far Al-Makhrami (w. 170 Hijriyyah / 787), maka kita asumsikan kematian Al-Akhnasi sekitar 150-an Hijriyyah (767). Dalam tarjamah (historiografi) Al-Makhrami, kita menemukan detil yang menonjol yang mungkin hampir mendorong kita untuk berasumsi bahwa hadits ini bukan petuah nashihat dari Muhammad sang Nabi, melainkan merupakan slogan yang dia ucapkan sebagai wujud sikap anti-qadhi. Seperti misalnya, Ibnu Sa'ad mencatat (sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Tahdzib Vol. 5 Hal. 17) bahwa dia adalah salah seorang 'alim di Madinah
yang fasih dalam bidang maghazi (hikayat ekspedisi peperangan yang dilakukan Muhammad sang Nabi) dan fatwa. Akibatnya, dia pernah ditawarkan agar menjadi qadhi, namun dia berhasil menolaknya sampai dia wafat. Tapi, kita tidak dapat gegabah menyatakan bahwa Al-Makhrami adalah orang yang bertanggung-jawab tentang matan ini. Sebab, misteri yang menyelubungi isnad-isnad-nya justru semakin melebar. Seperti kita tinjau dari tulisan para 'ulama kritikus rijal sanad terhadap Al-Maqburi, malah, kadang-kadang Sa'id bin Musayyab (w. 93-100 Hijriyyah, antara 712-719), salah satu dari fuqaha'us-sab'ah yang disebut-sebut. Tampaknya tidak sulit untuk menebak bagaimana kebingungan ini terjadi, jika kita menyadari bahwa para perawi ini dalam berbagai isnad-isnad di atas, bukannya disebutkan nama lengkapnya Sa'id Al-Maqburi, adalah kadang-kadang disebut hanya sebagai Sa'id. Kemudian, para muhadditsin kemudian, yang menemukan isnad ini, mungkin salah mengira Sa'id ini adalah Sa'id bin Musayyab. Selain itu, sering juga kita menjumpai isnad-isnad hadits lain yang melewati Sa'id bin Musayyab, juga bersambung kepada Abu Hurairah dan Muhammad (marfu'), atau langsung ke Muhammad (mursal), atau juga berhenti di Sa'id bin Musayyab (yang seolah-olah merupakan ra'yi dia sendiri, atau terputus pada dirinya / mauquf).
Akan tetapi sebaliknya, kita tidak bisa menempatkan hadits ini merupakan slogan yang diucapkan Sa'id bin Musayyab. Sebagaimana dicatat oleh Ibnu Sa'ad (lihat Thabaqat Vol. 5 Hal. 88-106) dengan panjang lebar tentang Sa'id bin Musayyab, dia sama sekali tidak menentang peranan ataupun jabatan qadhi. Bahkan, sepanjang hidupnya, Sa'id bin Musayyab konon telah mengeluarkan banyak fatwa dan telah banyak berperan dalam masalah hukum di Madinah, dimana peran qadhi di Madinah di masa hidupnya tidak begitu menjadi masalah bagi Sa'id bin Musayyab, karena pengaruhnya lebih besar daripada qadhi. Meskipun Sa'id bin Musayyab bukan seorang qadhi, namun jika seandainya slogan ini merupakan ucapannya, atau paling tidak jika hadits ini pernah diriwayatkannya, maka tentu pasti dicatat dalam tarjamah panjangnya yang ditulis Ibnu Sa'ad.
Siapapun yang mengucapkan matan ini, tapi jelas sekali kuat dugaan bahwa matan ini memang tidak diucapkan oleh Muhammad dan muncul belakangan. Argumen lain yang menguatkan matan ini muncul belakangan adalah jika kita membaca berbagai tarajim Sa'id bin Musayyab, semuanya mencatat bahwa 'Ali bin Al-Madini (w. 234/849) yang pertama berhasil merangkum seluruh isnad yang melalui jalur Sa'id bin Musayyab. Dia mengomentari setiap riwayat dengan isnad yang melalui Al-Akhnasi dari Sa'id bin Musayyab terhadap Abu Hurairah adalah munkar / matan-matan-nya menyelisihi riwayat perawi lain yang lebih kuat (lihat Tahdzib Vol. 7 Hal. 152). Dan jika kita asumsikan bahwa hanya Kutubus-Sittah saja yang kita terima (yang artinya hanya 3 (tiga) isnad yang terdapat dalam 4 (empat) hadits di atas saja yang kita anggap benar dari 14 (empat belas) isnad yang dilaporkan Ibnu Hajar), maka 11 (sebelas) isnad lain yang melewati 'Abdullah bin Sa'id bin Abi Hind, Ibnu Abi Dzi'ib, dan 'Utsman bin Adh-Dhahhak di atas seharusnya dianggap maudhu'. Namun, baik Ibnu Hajar maupun Ibnu Abi Hatim tidak mencatat adanya pendapat isnad-isnad lainnya maudhu', yang artinya, ketika mereka mencatat isnad-isnad ini, maka mengindikasikan bahwa matan ini sedang viral tidak lama sebelum mereka menulis karya-karya rijal-nya. Dan argumen secara logis adalah jika memang matan ini diucapkan Muhammad, maka seharusnya, riwayat ini paling tidak juga ditemukan pada selain Abu Hurairah, Sa'id Al-Maqburi, dan Al-Akhnasi.
============================
>> Lanjut ke Qadhidi Mesir (Bag. II)
>> Kembali ke Qadhi di Madinah dan Makkah
Diubah oleh tyrodinthor 29-04-2020 05:19
0