Kaskus

News

tyrodinthorAvatar border
TS
tyrodinthor
MISTERI ISLAM AWAL [M.I.A] | Reconstruct Early Islamic History out of Tradition
MISTERI ISLAM AWAL [M.I.A] | Reconstruct Early Islamic History out of Tradition


أتاني بإسناده مخبر، وقد بان لي كذب الناقل
"Dia datang kepadaku mengabarkan isnad-nya, dan aku menukilkan sebuah dusta"
(Abul-'Ala Al-Ma'arri- Diwan No. 23265)

TEMPORARY INDEX


Selamat Datang di MIA
Pengantar Umum

HISTORIOGRAFI
  1. Sumber-sumber Tertulis Non-Muslim s.d. 690
  2. Sumber-sumber Tertulis "Muslim" s.d. 690
  3. Literatur Apokaliptika
  4. Sumber-sumber Tertulis Non-Muslim s.d. 900 : (coming soon)
  5. Pandangan Saksi Hidup Tentang Muslim Awal


KRITIK ASAL-USUL HADITS
  1. Pengantar Singkat Tentang Hadits
  2. "Keunikan" Al-Muwaththa'
  3. Pembuktian Awa'il
  4. Misteri Hadits Abu Bakar-'Umar-'Utsman-'Ali
  5. Asal-Usul Konsep Sunnah
  6. Pengembangan Hadits di Kota-kota Besar dan Karakter Isnad
  7. Isnad Hijazi
  1. Isnad Madinah
  2. Isnad Makkah
  1. Isnad Mesir
  2. Isnad Syria
  3. Isnad Iraqi
  1. Isnad Bashrah
  2. Isnad Kufah
  1. Thalabul-'Ilm dan "Dua Wajah" Anas bin Malik
  2. Asal-Usul Thalabul-'Ilm


KRITIK-HISTORIS HADITS
  1. Peranan Qadhi Perawi dan "Terduga" Perawi
  2. Daftar Qadhi Perawi (s.d. 850an)
  3. Kejanggalan Hadits-hadits Mutawatir
  1. Hadits Larangan Meratapi Mayit
  2. Hadits Larangan Berdusta Atas Nama Nabi
  1. Kritik Sumber Rijal Sanad
  2. Teori Sintesis Modern:
  1. Analisis Common Link
  2. Analisis Isnād cum Matn
  3. Analisis Dating


ASAL-USUL FIQH
1. Madzahib Kuno Pra-Syafi'i
2. Ikonoklasme Leo III dan Yazid II
3. Rivalitas Muhaddits Bashrah vs Kufah
4. Asal-Usul Sunnah
5. Abu Hanifah dan Murid-muridnya
6. Rivalitas Ahlur-Ra'yi vs Ahlul-Hadits
7. Mu'tazilah dan Kebijakan Mihnah
8. Kebangkitan Asy'ari dan Penyeragaman 'Aqidah
9. Persekusi Ekstrimis Hanabilah

AL-QUR'AN TERTULIS
1. Masalah Dalam Tradisi
2. Tradisi Sab'atu Ahruf
3. Scriptio Defectiva dan Scriptio Plena
4. Manuskrip-Manuskrip Tertua
5. Evolusi Rasm Al-Qur'an

AL-QUR'AN ORAL
1. Al-Qur'an Pada Periode Primitif
2. Markers of Orality
- Karakteristik & Proporsi

- Abraham & Pengumuman Tentang Anaknya
- Clausula & Contoh Exegesis Alkitabiah
3. Contoh: Polemik Al-Ma'idah: 41-87
4. Konten Al-Qur'an

KRITIK-HISTORIS SIRAH
1. Kepenulisan Sirah
2. Konten Sirah
3. Karakteristik Sirah Ibnu Ishaq
4. Maghazi dan Asal-Usul Hudud
- Kritik Kisah Penghukuman Bani 'Urainah
- Kritik Kisah Perjanjian Hudaibiyyah
- Kritik Kisah Perang Badar dan Uhud
- Kritik Kisah Pengusiran Bani Quraizhah
- Kritik Kisah Fat'hu Makkah
- Kritik Kisah Pengepungan Khaibar
- Kritik Kisah Fadak
- Kritik Kisah Peristiwa Tsaqifah dan Bani Sa'idah
5. Muhammad mitologis VS Muhammad historis


MUHAMMAD
- Masalah Dalam Tradisi
- Salvation History
- Biografi Tradisional
- Misteri Kehidupan Muhammad
- Hanifisme
- Pengasingan Terhadap Karakter Muhammad
- Hilangnya "Putra" Muhammad

YAHUDI, MUHAMMAD, DAN ISLAM KLASIK
- Yahudi Mosaik vs Yahudi Hellenistik
- Yahudi dan Militansinya
- Beta Israel
- Gerakan Penafsiran Torah di Iraq
- Yahudi di Jazirah Arab
- Umma Document (1)
- Umma Document (2)
- Umma Document (3)
- Kronologi Evolusi Islam (1)
- Kronologi Evolusi Islam (2)
- Kronologi Evolusi Islam (3)

BAHASA ARAB DAN AL-QUR'AN
- Manuskrip-Manuskrip Al-Qur'an s.d. 900
- Bahasa Arab Kuno s.d. Bahasa Arab Klasik
- Pengaruh Bahasa-bahasa Asing
- Konten Dalam Al-Qur'an
- Al-Qur'an Hari Ini
- Corpus Coranicum
- Prophetic Logia

KESARJANAAN
- Tradisionalisme dan Orientalisme Lama
- Revisionisme dan Orientalisme Baru
- Neo-Revisionisme / Neo-Tradisionalisme

MISCELLANEOUS
- Geografi Arab Pra Muhammad
- Prasasti Yudeo-Arab Pra Muhammad
- Literatur Arab dan Evolusi Arab Klasik
- Ortografi Arab Kuno
- Kekeliruan Cara Berpikir Anti-Islam

FAQ
Diubah oleh tyrodinthor 13-05-2026 11:54
TroopakillaAvatar border
Bathara semarAvatar border
awanriskAvatar border
awanrisk dan 88 lainnya memberi reputasi
73
137.2K
1.9K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.6KThread•11.8KAnggota
Tampilkan semua post
tyrodinthorAvatar border
TS
tyrodinthor
#172
HADITS
PERKEMBANGAN HADITS DI MASA ISLAM AWAL
ASAL-USUL KONSEP SUNNAH
(BAG. II)


Sebagai contoh, kita temukan sebuah atsaryang cukup terkenal yang diriwayatkan Malik bin Anas yang diatribusikan kepada 'Umar bin 'Abdul-Aziz oleh Abu Walid Al-Baji dalam Al-Muntaqa' Syarah Muwaththa' Malik Vol. 1 Hal. 16 (juga dalam Al-Atsar Waradah Hal. 120 dan Sirat 'Umar bin 'Abdul-Aziz Ibnu 'Abdul-Hakam Hal. 38; versi berbeda dikutip oleh Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah Hal. 93) sbb:

قال عمر بن عبد العزيز رضى الله عنه: سن رسول الله ﷺ وولاة الأمر بعده سننا الأخذ بها اتباع لكتاب الله تعلى واستكمال لطاعة الله، وقوة على دين الله ليس لأحد بعد هؤلاء تبديلها، ولا النظر فى شىء مما خالفها، فمن اهتدى بها فهو مهتد، ومن استنصر بها فهو منصور، ومن خالفها اتبع غير سبيل المؤمنين، وولاه الله ما تولى وأصلاه جهنم وساءت مصيرا

"'Umar bin 'Abdul-Aziz r.a. berkata: "Di zaman Rasulullah SAW (sanna rasulillah) dan para penguasa di masa setelahnya menerapkan sunnahyang diterima oleh pengikutnya (tabi') kepada Kitab Allah ta'ala [Al-Qur'an] dan penuh ketaatan kepada Allah, dan kekuatan pada agama Allah (dinillah) belum ada setelah mereka beralih [padanya], dan jangan menganggapnya bertentangan, maka barangsiapa dibimbing dengannya maka dia terbimbing, dan barangsiapa ditolong dengannya maka dia tertolong, dan barangsiapa yang menentang tabi' [maka dia] di luar jalan orang-orang beriman (sabilil-mu'minin), dan apa yang diambil dari selain Allah adalah jahannam seburuk-buruk nasib"

Kalimat sanna rasulillah ﷺ wa wulatul-amri ba'dahu sunanan jelas bahwa penyampaian sunnah memiliki interpretasi yang luas terhadap istilah sunnah itu sendiri. Dan dia juga dihormati dengan pernyataan bahwa dia tidak akan mampu mengelola urusan negara dengan benar jika dia belum memperhatikan selain dari Al-Qur'an dan sunnah, dan untuk hal-hal lain dengan frase: التي من رأي الناس (allati min ra'yin-nas, yang berasal dari ra'yi/pendapat pribadi orang-orang). 'Umar bin 'Abdul-Aziz lahir pada tahun 60/61/63 Hijriyyah (680/681/683), jadi dapat diasumsikan bahwa dia mulai menekankan ide-idenya tentang sunnatun-nabi dalam segala hal tidak lebih awal dari tahun 80an Hijriyyah (700an), atau mungkin lebih muda lagi. Sebagaimana dicatat di atas, bahwa atas dorongan 'Umar bin 'Abdul-Aziz, kemungkinan besar setelah dia menjadi khalifah yang mungkin usia Ibnu Syihab Az-Zuhri sekitar 40an atau 50an tahun, menjadikannya "raja pertama Muslim awal" yang mengorganisasi untuk mengumpulkan semua "ilmu agama" yang bisa dia temukan. Upaya pengumpulan sunnatun-nabi ini pernah ditentang oleh Shalih bin Kaisan (w. 140 H / 758) dalam sebuah akhbar yang dikutip oleh Ibnu 'Abdul-Barr dalam Jami'ul-Bayan Li 'Ilmi wa Fadhilah Hal. 332-333, diriwayatkan Ma'mar sbb:

أن صالح بن كيسان قال: كنت أنا وابن شهاب ونحن نطلب العلم. فاجتمعنا على أن نكتب السنن فكتبنا كل شيء سمعنا عن النبي ﷺ. تم قال: اكتب ما جاء عن أصحابه. فقلت: لا ليس بسنة. وقال هو: بل هو سنة. فكتب ولم أكتب فأنجح وضيعت

"Bahwasanya Shalih bin Kaisan berkata: "Aku dan Ibnu Syihab [Az-Zuhri] sedang mencari ilmu (nathlabul-'ilm). Kami berkumpul untuk menulis Sunandan menulis semua yang kami dengar tentang Nabi SAW. [Ibnu Syihab] pun berkata: "Mari kita tulis apa yang kita ketahui dari shahabat". Maka aku berkata: "Tidak, itu bukan sunnah". Lalu dia [Ibnu Syihab] berkata: "Justru itu sunnah". Dia menulisnya dan aku tidak menulisnya, maka dia berhasil dan aku kalah".

Dalam catatannya, Ibnu 'Abdul-Barr menghubungkan riwayat ini dengan Abu Zinad (w. 133 Hijriyyah / 751) dan terdapat 2 jalur isnad, yaitu (1) Ma'mar yang di-takhrij-kan oleh 'Abdur-Razaq Ash-Shan'ani dan Ibnu Sa'ad, dan (2) Bisysyir bin Al-Hakim yang di-takhrij-kan oleh Darimi. Tapi kita dapat memahami pola matan akhbar ini mengandung dualisme halal wa haram, dimana Ibnu Syihab meletakkan keinginannya menulis sunnah, dan Shalih meletakkan pada keengganannya menulis sunnah karena saat itu, baginya itu bukan sunnah. Dualisme semacam ini memang menjadi karakter menonjol dari akhbar sebagaimana telah kita bahas pada bab sebelumnya, yang pada kemudiannya mempengaruhi ahadits dan atsar yang ditulis oleh 'Abdur-Razzaq dan Ibnu Sa'ad. Bahkan jika kita melihat contoh pengumpulan sunnah yang terorganisir, dari ahadits Muhammad serta dari atsar shahabat, adalah keliru jika kita berpikir bahwa ini secara otomatis disetujui dan diikuti oleh segenap fuqaha di Madinah, Yaman, Syria, atau di Bashrah dan Kufah. Para 'ulama di kota-kota yang berbeda hampir tidak menyadari kegiatan keilmuan mereka satu sama lain. Bagaimanapun, Ibnu Syihab Az-Zuhri tampaknya tidak tahu apa yang sedang terjadi di madrasah kota-kota lainnya. Sebagai contoh, dia menganggap bahwa orang-orang seperti Al-A'masy (w. 148 Hijriyyah / 765) memang memiliki tradisi sunnah yang layak untuk dipertimbangkan untuk dijalankan.

Seperti disebutkan di atas, 'Umar bin 'Abdul-Aziz, dibandingkan penguasa sebelumnya, adalah bertekad mengumpulkan sunnatun-nabi sebagai penuntun kehidupan bagi masyarakat Muslim, yang di masanya agar bisa diterapkan secara sah sebagai hukum yang dianut negaranya. Namun banyak abdi negaranya tidak merujuk kebijakan sunnah ketika dia naik tahta tahun 99 Hijriyyah (717). Lalu konon dia menulis kepada amir-nya di Bashrah, 'Adi bin Arthah Al-Fazari (w. 102 Hijriyyah / 720) sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah Vol. 8 Hal. 147-148 (juga oleh Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Madinah Dimasyqi Vol. 12 Hal. 186-187 sbb:

وكتب عمر بن عبد العزيز إلى عدي بن أرطأة: بلغني أنك تستن بسنن الحجاج فلا تستن بسنته، فإنه كان يصلي الصلاة لغير وقتها، ويأخذ الزكاة من غير حقها، وكان لما سوى ذلك أضيع
"Dan 'Umar bin 'Abdul-Aziz menulis kepada 'Adi bin Arthah: "Telah sampai kepadaku bahwa kamu telah mengikuti kebiasaan Al-Hajjaj (annaka tastanna bi sunan al-hajjaj) maka jangan ikuti sunnah-nya, dia telah mengerjakan shalatnya di lain waktu, dan telah mengambil zakat yang bukan haknya, dan sia-sia saja apa yang dikerjakannya"

'Umar juga menulis surat lainnya ke seseorang sebagaimana dikutip oleh Ibnu Jauzi dalam Sirah 'Umar bin 'Abdul-AzizHal. 67-68 (juga oleh Ibnu Baththah Al-'Ukbari dalam Kitabul-Awwalul-Iman Hal. 321-322) sbb:

عن سفيان الثوري قال: بلغى عن عمر بن عبد العزيز أنه كتب إلى بعض عماله: أوصيك بتقوى الله، والاقتصاد في أمره، واتباع سنة رسوله، وترك ما أحدث المحدثون بعده مما قد جرت سنته وكفوا مؤونته. واعلم أنه لم يبتدع انسان قط بدعة إلا قد مضى قبلها ما هو دليل عليها وعبرة فيها. فعليك بلزوم السنة، فإنها تك بإذن الله عصمة. واعلم أن من سن سنة قد علم ما في حلافها من الخطأ والزلل واتعمق والحمق. فإن السابقين الماضين على علم توقفوا. وببصر ناقد كفوا

"Dari Sufyan Ats-Tsauri, berkata: "Telah disampaikan dari 'Umar bin 'Abdul-Aziz bahwa dia menulis [surat] kepada beberapa pegawainya: "Aku memerintahkanmu agar ber-taqwakepada Allah, dan bersikap benar dalam perintah-Nya, dan mengikuti sunnah Rasul-Nya, dan tinggalkan apa yang diceritakan oleh para muhaddits (wa taraka ma ahdatsal-muhadditsun) setelahnya daripada sunnah-nya dan hentikan perkembangannya. Ketahuilah bahwa tak seorangpun dapat menemukan bid'ah melainkan telah berlalu sebelumnya apa yang didalilkan dan pelajaran yang dipetik ('ibrah) padanya. Kamu membutuhkan sunnah hingga melekat, dengan izin Allah, maka tidak berdosa ('ishmah). Dan ketahuilah bahwa sunnah pada masanya diajarkan apa saja yang salah dan lumpuh dan masuk lebih dalam kepada kebodohan. Maka sesungguhnya para pendahulu kita telah menghentikan pengajarannya untuk sementara waktu. Dengan mata seorang penelaah dia berhenti".

Pada surat ini, 'Umar bin 'Abdul-Aziz menyadari akan peran yang meragukan dimainkan oleh para inovator yang menghalangi untuk membangun sunnatun-nabi. Selanjutnya, 'Umar juga menuntut agar para qadhi yang dia tunjuk menjadi 'alim 'ulama agar menanyakan kepada orang-orang yang memiliki ilmu sebelumnya, atau berkonsultansi dengan para rawi yang tsiqah. Namun kita menyadari bahwa qadhi di masa itu pada praktiknya tidak mengharuskan mereka untuk bertemu para rawi. Sebaliknya, mayoritas qadhi yang memegang jabatan pada masa pemerintahannya di kota-kota penting tidak dapat diidentifikasi sebagai ahlus-sunnah (penganut/pemegang sunnah). Juynboll dalam Muslim Tradition Hal. 36 merangkum beberapa nama qadhi di masa pemerintahan 'Umar bin 'Abdul-Aziz di berbagai wilayah. Tidak seluruhnya merupakan rawi yang tsiqah dan sebagian juga ada yang tidak disebutkan namanya di berbagai kitab rijal sanad walaupun ternyata diketahui tsiqah. Di antaranya adalah sbb:

  1. Ahvaz (Ahwaz): Salim bin Abi Salim, namanya tidak disebutkan di berbagai kitab rijal sanad kecuali oleh Waki' dalam Akhbarul-Qudha'at Vol. 3 Hal. 320.
  2. Armenia (Arminiyya): Al-Harits bin 'Amr Al-As'adi, namanya juga tidak disebutkan di berbagai kitab rijal sanad kecuali oleh Waki' dalam Akhbarul-Qudha'at Vol. 1 Hal. 264.
  3. Baalbek (Ba'labaq): Al-'Abbas bin Nu'aim Al-Auza'i, namanya juga tidak disebutkan di berbagai kitab rijal sanad kecuali oleh Waki' dalam Akhbarul-Qudha'at Vol. 1 Hal. 264.
  4. Palestina (Filastin): (1) An-Nadhir bin Maryam dan (2) 'Abdullah bin Mauhab, keduanya disebutkan oleh Waki' (Akhbarul-Qudha'at Vol. 1 Hal. 264) dan Ibnu Hajar (Tahdzib Vol. 6 Hal. 47). Menurut Ibnu Hajar, mereka berdua tidak dikenal.
  5. Ifriqiyya: (1) 'Abdur-Rahman bin Rafi', menurut Ibnu Hajar (Tahdzib Vol. 6 Hal. 168) dia faqih yang hasan, namun hadits-haditsnya munkar, (2) Isma'il bin 'Ubaidillah bin Abi Al-Muhajir (w. 131 Hijriyyah / 749), seorang maula yang tsiqah menurut Ibnu Hajar (Tahdzib Vol. 1 Hal. 317).
  6. Al-Jazirah: (1) Maimun bin Mihran, menurut Ibnu Hajar (Tahdzib Vol. 10 Hal. 390) dia tsiqah tapi sangat sedikit meriwayatkan hadits, dan (2) 'Adi bin 'Amirah Al-Kindi, seorang faqih tapi menurut Ibnu Hajar (Tahdzib Vol. 7 Hal. 168) dan Ibnu Sa'ad (Thabaqat Vol. 7 Hal.179) tidak tsiqah.
  7. Khorasan (Khurasan): Al-Jarrah bin 'Abdullah, menurut Ibnu Sa'ad (Thabaqat Vol. 5 Hal. 251 dan 285) dia tsiqah tapi bukan seorang ahlus-sunnatun-nabi.
  8. Mosul (Maushil): Yahya bin Yahya bin Qais, menurut Ibnu Hajar, (Tahdzib Vol. 11 Hal. 299) dia hanya sedikit meriwayatkan hadits.
  9. Qenneshre (Qinnasrin): Al-Walid bin Hisyam, menurut Ibnu Hajar (Tahdzib Vol. 11 Hal. 156) dia tsiqah.
  10. Sana'a (Shan'a): Wahhab bin Munabbih, cukup terkenal dan tsiqah, namun sering meriwayatkan hadits dha'if dan cenderung Isra'iliyyat.
  11. Yaman: 'Urwah bin Muhammad As-Sa'di, menurut Ibnu 'Abdul-Barr (Jami'ul-Bayan Vol. 1 Hal. 60), penduduk Yaman sering menggunakan ra'yi-nya.
  12. Yordan (Urdunn): Qais bin Al-Harits, menurut Ibnu Hajar (Tahdzib Vol. 8 Hal. 386) dia sedikit meriwayatkan hadits.
  13. Mesir (Mishr):
  14. Makkah: Dawud bin 'Abdullah Al-Hadhrami.
  15. Madinah: 'Abdullah bin 'Abdur-Rahman bin Ma'mar bin Hazm (w. 134 Hijriyyah / 751).
  16. Damaskus (Dimasyq/Damsyiq): (1) 'Abdur-Rahman bin Al-Has'has, namun menurut Waki' (Akhbarul-Qudha'at Vol. 3 Hal. 203) dia bukan qadhi melainkan hanya pelayan 'Umar bin 'Abdul-Aziz, dan (2) Sulaiman bin Habib, menurut Ibnu Hajar (Tahdzib Vol. IV Hal. 178) dia qadhi di Damaskus.
  17. Bashrah: Iyas bin Mu'awiyyah Al-Muzanni.

Bila dibandingkan perawi yang menjadi qadhi di masa pemerintahan 'Umar bin 'Abdul-Aziz lainnya, hanya Iyas bin Mu'awiyyah Al-Muzanni (w. 122 Hijriyyah / 739) yang paling terkenal, banyak meriwayatkan sunnah, dan dinilai tsiqah. Namun, Al-Hasan Al-Bashri, yang juga seorang faqih di Bashrah menilai hadits-haditsnya diragukan. Walau demikian, Al-Hasan Al-Bashri sendiri hanya menuangkan ta'liq dalam isnad hadits-hadits shahih, sementara hadits-hadits yang diriwayatkan olehnya (atau oleh perawi setelahnya yang mengatasnamakannya) tidak ada yang ditemukan shahih, melainkan mursal dan mudallas (akan dibahas di Bab Isnad Iraqi). Di Kufah, 'Umar bin 'Abdul-Aziz diduga juga mempekerjakan seorang qadhi yang menurut Ibnu Sa'ad adalah perawi hadits maudhu', yaitu Al-Qasim bin 'Abdur-Rahman bin 'Abdullah bin Mas'ud (w. 120 Hijriyyah / 737), cucu dari 'Abdullah bin Mas'ud, tetapi hadits-hadits yang diriwayatkannya (yang biasanya isnad-nya dengan formula sami'at (سمعت) / "[ybs] mendengar") umumnya diragukan, yang berarti bahwa kemungkinan besar seseorang anonymous menggunakan namanya dalam isnad palsu atau dia sendiri yang bertanggung jawab dalam beberapa isnad yang dia sebut tsiqah.

Kita tidak perlu melebih-lebihkan mengenai peranan 'Umar bin 'Abdul-Aziz, namun, kita dapat menjadikannya sebagai titik awal untuk memeriksa isnad mundur ke belakang. Kita dapat mengatakan bahwa ritual keagamaan ('ibadah) yang tertuang dalam hadits adalah lebih historis terlepas apakah isnad-nya muttashil atau justru 'illat, tetapi sebaliknya, masalah keimanan justru lebih meragukan. Misalnya, jelas sekali hadits-hadits yang membahas masalah qadar (takdir) beredar secara vaticinatio post eventum yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara historis telah dibahas di masa Muhammad masih hidup. Hal ini tersirat dari banyaknya madzhab 'aqidah yang berkembang di masa setelah 'Umar bin 'Abdul-Aziz (seperti Jahmiyyah, Murji'ah, Qadariyyah, dan Mu'tazilah) yang sangat sensitif berbicara masalah keimanan, "firqah-firqah" semacam ini tidak ditemui di masa sebelumnya. 'Umar bin 'Abdul-Aziz tidak dapat diidentifikasi apakah dia memiliki pengetahuan agama dan/atau memiliki kredibilitas dalam hal keilmuan mengenai sunnah. Terlebih bahwa sejumlah akhbar yang diatribusikan kepadanya tidak lebih apokrifa daripada hadits nabi itu sendiri.

>> Kembali ke Asal-Usul Konsep Sunnah Bag. I
>> Lanjut ke Pengembangan Hadits di Kota-kota "Pusat" Hadits
Diubah oleh tyrodinthor 22-01-2020 14:42
beranimurtad
yoseful
yoseful dan beranimurtad memberi reputasi
2
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.