- Beranda
- Sejarah & Xenology
MISTERI ISLAM AWAL [M.I.A] | Reconstruct Early Islamic History out of Tradition
...
TS
tyrodinthor
MISTERI ISLAM AWAL [M.I.A] | Reconstruct Early Islamic History out of Tradition
![MISTERI ISLAM AWAL [M.I.A] | Reconstruct Early Islamic History out of Tradition](https://s.kaskus.id/images/2019/10/21/8072693_20191021115909.jpg)
أتاني بإسناده مخبر، وقد بان لي كذب الناقل
"Dia datang kepadaku mengabarkan isnad-nya, dan aku menukilkan sebuah dusta"
(Abul-'Ala Al-Ma'arri- Diwan No. 23265)
TEMPORARY INDEX
"Dia datang kepadaku mengabarkan isnad-nya, dan aku menukilkan sebuah dusta"
(Abul-'Ala Al-Ma'arri- Diwan No. 23265)
TEMPORARY INDEX
Selamat Datang di MIA
Pengantar Umum
HISTORIOGRAFI
- Sumber-sumber Tertulis Non-Muslim s.d. 690
- Sumber-sumber Tertulis "Muslim" s.d. 690
- Literatur Apokaliptika
- Sumber-sumber Tertulis Non-Muslim s.d. 900 : (coming soon)
- Pandangan Saksi Hidup Tentang Muslim Awal
KRITIK ASAL-USUL HADITS
- Pengantar Singkat Tentang Hadits
- "Keunikan" Al-Muwaththa'
- Pembuktian Awa'il
- Misteri Hadits Abu Bakar-'Umar-'Utsman-'Ali
- Asal-Usul Konsep Sunnah
- Pengembangan Hadits di Kota-kota Besar dan Karakter Isnad
- Isnad Hijazi
KRITIK-HISTORIS HADITS
- Peranan Qadhi Perawi dan "Terduga" Perawi
- Daftar Qadhi Perawi (s.d. 850an)
- Kejanggalan Hadits-hadits Mutawatir
- Kritik Sumber Rijal Sanad
- Teori Sintesis Kontemporer:
- Teori Common Link Juynboll
- Teori Projecting Back Schacht-Juynboll
- Teori Isnād cum Matn Motzki
ASAL-USUL FIQH
1. Madzahib Kuno Pra-Syafi'i
2. Ikonoklasme Leo III dan Yazid II
3. Rivalitas Muhaddits Bashrah vs Kufah
4. Asal-Usul Sunnah
5. Abu Hanifah dan Murid-muridnya
6. Rivalitas Ahlur-Ra'yi vs Ahlul-Hadits
7. Mu'tazilah dan Kebijakan Mihnah
8. Kebangkitan Asy'ari dan Penyeragaman 'Aqidah
9. Persekusi Ekstrimis Hanabilah
AL-QUR'AN TERTULIS
1. Masalah Dalam Tradisi
2. Tradisi Sab'atu Ahruf
3. Scriptio Defectiva dan Scriptio Plena
4. Manuskrip-Manuskrip Tertua
5. Evolusi Rasm Al-Qur'an
AL-QUR'AN ORAL
1. Al-Qur'an Pada Periode Primitif
2. Markers of Orality
- Karakteristik & Proporsi
- Abraham & Pengumuman Tentang Anaknya
- Clausula & Contoh Exegesis Alkitabiah
3. Contoh: Polemik Al-Ma'idah: 41-87
4. Konten Al-Qur'an
KRITIK-HISTORIS SIRAH
1. Kepenulisan Sirah
2. Konten Sirah
3. Karakteristik Sirah Ibnu Ishaq
4. Maghazi dan Asal-Usul Hudud
- Kritik Kisah Penghukuman Bani 'Urainah
- Kritik Kisah Perjanjian Hudaibiyyah
- Kritik Kisah Perang Badar dan Uhud
- Kritik Kisah Pengusiran Bani Quraizhah
- Kritik Kisah Fat'hu Makkah
- Kritik Kisah Pengepungan Khaibar
- Kritik Kisah Fadak
- Kritik Kisah Peristiwa Tsaqifah dan Bani Sa'idah
5. Muhammad mitologis VS Muhammad historis
MUHAMMAD
- Masalah Dalam Tradisi
- Salvation History
- Biografi Tradisional
- Misteri Kehidupan Muhammad
- Hanifisme
- Pengasingan Terhadap Karakter Muhammad
- Hilangnya "Putra" Muhammad
YAHUDI, MUHAMMAD, DAN ISLAM KLASIK
- Yahudi Mosaik vs Yahudi Hellenistik
- Yahudi dan Militansinya
- Beta Israel
- Gerakan Penafsiran Torah di Iraq
- Yahudi di Jazirah Arab
- Umma Document (1)
- Umma Document (2)
- Umma Document (3)
- Kronologi Evolusi Islam (1)
- Kronologi Evolusi Islam (2)
- Kronologi Evolusi Islam (3)
BAHASA ARAB DAN AL-QUR'AN
- Manuskrip-Manuskrip Al-Qur'an s.d. 900
- Bahasa Arab Kuno s.d. Bahasa Arab Klasik
- Pengaruh Bahasa-bahasa Asing
- Konten Dalam Al-Qur'an
- Al-Qur'an Hari Ini
- Corpus Coranicum
- Prophetic Logia
KESARJANAAN
- Tradisionalisme dan Orientalisme Lama
- Revisionisme dan Orientalisme Baru
- Neo-Revisionisme / Neo-Tradisionalisme
MISCELLANEOUS
- Geografi Arab Pra Muhammad
- Prasasti Yudeo-Arab Pra Muhammad
- Literatur Arab dan Evolusi Arab Klasik
- Ortografi Arab Kuno
- Kekeliruan Cara Berpikir Anti-Islam
FAQ
Diubah oleh tyrodinthor 15-05-2021 12:53
awanrisk dan 88 lainnya memberi reputasi
73
135.3K
1.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tyrodinthor
#11
SUMBER-SUMBER TERTULIS NON-MUSLIM
YANG SEZAMAN DENGAN MUSLIM AWAL
BAG. VII
YANG SEZAMAN DENGAN MUSLIM AWAL
BAG. VII
Tentu kita mengetahui bahwa yang sedang dibicarakan Gewargis adalah Perang Shiffin, salah satu dari episode Fitnah terhadap pembunuhan Utsman dalam sejarah Islam tradisional, yang melibatkan antara Khulafa'ur-Rasyidin di bawah kepemimpinan 'Ali bin Abu Thalib melawan Bani 'Umayyah di bawah kepemimpinan Mu'awiyyah bin Abu Sufyan. Gewargis tidak hanya "tepat" menyebut lokasi perang saudara tsb di Shiffin, namun juga tepat menyebut kun-yah'Ali sebagai Abu Turab. Dalam beberapa hadits seperti Muslim No. 4426, kun-yah ini disematkan oleh Muhammad sendiri kepada 'Ali karena "Ali yang kala itu sedang tidur berbaring sementara kain selendangnya jatuh dari Iambungnya hingga menempel ke tanah. Kemudian Rasulullah SAW mengusapnya seraya berkata: "Bangunlah hai Abu Turab! Bangunlah hai Abu Turab!" (Abu Turab / أبو تراب artinya "Bapak Tanah"). Matan hadits ini diragukan oleh 'alim-'ulama Syi'ah klasik, salah satunya Ibnu Babawaih, yang menganggap hadits Aswaja ini merupakan penghinaan terhadap 'Ali dan Fathimah, putri Muhammad, sebab diceritakan bahwa 'Ali tidur di masjid setelah bertengkar dengan istinya, Fathimah. Sebaliknya, versi Syi'ah tradisional menceritakan penyematan kun-yah ini kepada 'Ali seperti yang ditulis Ibnu Babawayhi dalam Man La Yadhuruhul-Faqih dimana dia mengutip hadits Ahlul-Bait ketika Muhammad dan 'Ammar bin Yasir sedang bertempur di perang Badar, dan Muhammad mendatanginya: "Rasulullah SAW bersabda kepada Sayyidina 'Ali a.s., "Apa yang terjadi pada dirimu, wahai Abu Turab (bapak tanah)?". Beliau katakan itu karena menyaksikan kami berlumuran tanah liat. Rasulullah SAW bersabda, "Maukah kalian aku kabari tentang dua orang yang paling celaka?". Kami menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah". Rasulullah SAW bersabda, "Dua orang yang paling celaka adalah Uhaimir Tsamud yang telah menyembelih unta Nabi Shalih a.s., dan orang yang memukul tengkukmu seperti ini, wahai Ali". Rasulullah SAW bersabda demikian sambil memegang tengkuk Sayyidina 'Ali a.s. hingga basah. Rasulullah juga sambil memegang jenggot Sayyidina 'Ali a.s.". Riwayat ini sering pula menjadi hujjah atas pengetahuan kenabian Muhammad (a'lamun-nubuwwah) tentang masa depan bahwa 'Ali akan mati dipenggal oleh Ibnu Muljam. 'Ulama Syi'ah lainnya seperti Ibnu Syahrasyub dalam kitabnya Manaqib 'Ali Ibnu Abi Thalib (1376) mengutip alasan penyematan Abu Turab kepada 'Ali juga tertuang di dalam QS 78:40 sbb: "Dan orang kafir berkata, "Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah" (wa yaqulul-kafiru ya laytani kuntu turaba)".
Namun, Etan Kohlberg dalam jurnalnya Abū Turāb (1991) menerangkan bahwa makna turab tidak konsisten, dapat bermakna "tanah/bumi" dan "debu", seperti dalam hadits Bukhari No. 5808 berbunyi: "Setelah itu Rasulullah SAW mendatangi 'Ali ketika ia sedang berbaring, sementara kain selendangnya jatuh dari lambungnya hingga banyak debu yang menempel. Kemudian Rasulullah SAW mengusapnya seraya bersabda: 'Bangunlah hai Abu Turab! Bangunlah hai Abu Turab!". Kohlberg meyakini kata turab ini berasal dari bahasa Suryani turbā dan tarbē yang mungkin merupakan sebutan orang Syria terhadap kaum Syi'ah awal pengikut 'Ali. Sebab, sebutan Abu Turab juga muncul 2x pada surat dari Kaisar Leo III Isaurian (717-740) kepada Khalifah 'Umar bin 'Abdul-Aziz (717-720) Naskah Lewond (Ghevond's Text), salah satunya meminta Sang Khalifah untuk membantu penumpasan pemberontakan Abu Turab di Persia barat laut dekat Armenia. Kohlberg juga menelusuri bahwa kun-yah "Abu Turab" juga disematkan kepada Husain bin 'Ali, dimana pada saat Leo III Isaurian menulis surat ini, maka seharusnya baik 'Ali dan Husain telah mati. Kemungkinan besar "Abu Turab" (Abā Tarbē) adalah sebutan dari orang-orang Syria merujuk pada pemimpin-pemimpin Syi'ah awal. Sebagai tambahan, penyebutan Abu Turab kepada 'Ali menurut Syi'ah tidak hanya semata-mata panggilan pujian Muhammad kepada 'Ali ketika dia melihat 'Ali dengan tubuh berlumuran tanah (yang mengindikasikan perjuangan gigih 'Ali dalam Perang Badar), namun juga memiliki makna khusus seputar doktrin Syi'ah. Seorang mistikus Syi'ah klasik, Rajab Al-Bursi dalam kitabnya Masyariqul-Anwar Hal. 275 menyatakan bahwa sebutan Abu Turab memiliki makna bahwa 'Ali bin Abu Thalib memiliki dua sifat hakiki, nasut (sifat manusia) dan lakut (sifat ilahi). Komentar Rajab ini menjadi salah satu hujjah mengenai pentingnya iman kepada Wilayah (ke-wali-an 'Ali dan keluarganya) dalam doktrin Syi'ah. Komentar Rajab ini mirip dengan doktrin sentral Diofisit dalam Trinitarian.
Yang tidak kalah misteriusnya adalah Gewargis dari Resy'aina sendiri. Nama Gewārgīs (ܓܘܐܪܓܝܨ) adalah nama umum yang digunakan mayoritas masyarakat Syria, yang berasal dari nama Yunani Georgos (γεωργός), yang sepadan dengan George. Dan salah seorang tokoh 'ulama klasik juga menggunakan nama ini sebagai nasab seperti Ibnu Juraij (ابن جريج) (699-767). Ibnu Juraij merupakan salah seorang faqih dari generasi Tabi'in berdarah Arab-Romawi yang sangat terkenal dalam meriwayatkan berbagai hadits seputar 'ibadah dan mu'amalah. Tradisi menempatkan namanya sebagai salah seorang muhaddits yang cukup aktif. Dalam Tahdzibut-Tahdzib, Ibnu Hajar Al-Asqalani menyatakan bahwa dia lahir di Makkah dengan nama 'Abdul-Malik bin 'Abdul-'Aziz bin Juraij dengan kun-yah Abu Khalid atau Abul-Walid dengan laqab Al-Quraisyi Al-Makki Al-Umawi, yang sebenarnya menjelaskan kedudukannya sebagai seorang hamba (maula) dari Khalid bin 'Usaid Al-Umawi. Kakeknya bernama Juraij (George/Georgios/Gewargis) yang merupakan seorang Katholik Roma. Ibnu Juraij dikenal sebagai 'ulama generasi Tabi'in yang tsiqat (kredibel) sehingga dia termasuk dalam Salafush-Shalih ('ulama terdahulu yang saleh). Namun Ibnu Juraij juga dikenal sebagai seorang muhaddits yang sering menukil (mengutip) kisah-kisah Isra'illiyyat (Alkitab dan legenda-legenda Yahudi) dan meriwayatkan hadits-hadits mudallas (isnad-nya sering tersembunyi) dan mursal (isnad-nya terputus pada dirinya atau terputus pada thabaqah Tabi'in di atasnya) sehingga banyak haditsnya banyak dihukum mardud (tertolak) dan dha'if (lemah). 'Alim 'ulama yang hidup dalam generasi Tabi'ut-Tabi'in dan Atba' (generasi setelah Tabi'ut-Tabi'in) sebenarnya sudah mengetahui dan banyak mempelajari hadits-haditsnya. Tidak banyak diketahui alasannya mengapa dia melakukan tadlis (meriwayatkan isnad yang tersembunyi) dan irsal (meriwayatkan isnad yang terputus), namun atas dasar doktrin tsiqat-nya Salafush-Shalih, tidak jarang haditsnya maqbul (diterima) oleh banyak 'ulama Aswaja. Sebagian besar 'ulama bersepakat bahwa tadlis dan irsal bukan berarti memalsukan hadits, dan bahkan haditsnya bisa maqbul selama ada salah satu dari thabaqah-nya mencapai generasi Shahabah (sahabat Muhammad). Tapi bagi 3 faqih besar Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal, hadits mursal dapat dijadikan hujjah selama putusnya isnad ada pada Tabi'in, karena seorang Tabi'in yang tsiqat diyakini pasti mendengar riwayat dari 'alim-'ulama yang juga tsiqat sebagaimana doktrin tsiqat-nya Salafush-Shalih di atas. Imam Ahmad juga memuji Ibnu Juraij: "Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih bagus shalatnya dari Ibnu Juraij". Namun dia juga menyuruh berhati-hati dengan riwayatnya: "Jika Ibnu Juraij berkata, Fulan berkata dan Fulan berkata, maka khabar yang datang darinya diingkari. Dan jika ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku, dan aku mendengar, maka itu sudah mencukupi". Dan yang menarik adalah ketika 'Abdullah, putranya Ahmad bin Hanbal, bertanya pada ayahnya: "Siapakah yang pertama kali menulis kitab? Imam Ahmad menjawab, "Ibnu Juraij dan Ibnu Abi 'Arubah". Pernyataan ini janggal bila kita telusuri, sebab di masa hidup Ibnu Juraij, belum ada kitab-kitab hadits yang ditulis, kecuali bila kita boleh menduga, maka penulisan itu baru dilakukan pertama kali oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri (wafat 742), seorang muhaddits tsiqat paling terkenal yang sering muncul dalam isnad hadits-hadits yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, dan Kutubus-Sittah lainnya (meskipun faktanya, fragmen hadits tertulis yang tertua ditemukan justru muncul jauh setelah Az-Zuhri, yaitu PERF No. 731 yang bertanggal 795 M. (tentang hadits akan dibahas lebih lanjut di bab selanjutnya). Lalu, jika bukan hadits, maka apa kitab yang dimaksud oleh Imam Ahmad ditulis pertama kali oleh Ibnu Juraij? Apalagi dengan sosok Ibnu Juraij yang sering menukil Isra'illiyyat, sangat besar kemungkinan Ibnu Juraij memiliki keterkaitan dengan Gewargis dari Resy'aina. Apakah Ibnu Juraij adalah cucu dari Juraij/Gewargis ini, ataukah dia sendiri adalah Gewargis, hal ini perlu dilakukan penelitian serius lebih lanjut.

PERF No. 731(795), salah satu papirus hadits tertua yang ditemukan, merupakan potongan dari Kitab Al-Muwaththa' Imam Malik
Gewargis dari Resy'aina dalam potongan-potongan traktatnya menampilkan Maximus Omologitis (580-662) dengan sangat negatif, sebagai "penyesat" karena doktrin Monotheletisme-nya yang dikutuk Katholik. Bagaimana dengan Maximus sendiri? Dalam sejarah Orthodoks Syria tradisional, Maximus lahir di Tiberias (versi lain mengatakan lahir di Haspin dan di Konstantinopel). Di usia muda, dia menempuh pendidikan kebiaraannya di biara Mar Chariton. Tidak banyak diketahui dari dirinya selain banyak tulisan apologetik yang mewartakan perdebatan dengan Monotheletisme, sebuah sekte "bidat" dimana dia adalah tokoh utamanya. Tulisan-tulisan mengenai dirinya dikompilasikan dalam Analecta Bollandiana, termasuk potongan traktat Gewargis dari Resy'aina. Selain itu, dia juga diketahui menulis beberapa surat yang dikompilasikan dalam Maximi Monachi Planudis Epistulae. Pada suratnya kepada uskup Yohanes di Cyzicus (632) yang tercantum dalam Epistulae No. 8, PG 91, Hal. 444 dia menulis curhatan berbagai penderitaannya yang dia samakan dengan nubuatan Alkitab, mulai dari luka yang dideritanya akibat perampok (Lukas 10:34) hingga ancaman dari serigala Arab (Habakkuk 1:8). Kemudian pada Epistulae No. 14 PG 91 Hal. 533-544, Maximus juga menulis:
"Sebab memang, apa yang lebih mengerikan daripada kejahatan yang menimpa dunia saat ini? Apa yang lebih buruk bagi orang yang terpelajar selain dari berbagai peristiwa yang telah terjadi? Apa yang lebih menyedihkan dan menakutkan bagi mereka yang akan menanggungnya? Untuk melihat yang orang-orang biadab di padang pasir menguasai tanah orang lain seolah-olah adalah milik mereka sendiri; untuk melihat peradaban itu sendiri sedang dirusak oleh binatang buas dan liar yang bentuknya saja yang manusia".
Luapan kemarahan Maximus kepada orang-orang biadab padang pasir yang merujuk pada kaum Muslim awal ini hanya muncul pada baris ini saja. Namun, klimaks kemarahannya ini bukan kepada Muslim awal melainkan kepada orang-orang Yahudi:
"Untuk melihat orang-orang Yahudi, yang telah lama senang melihat darah mengalir, yang tidak tahu cara untuk menyenangkan Allah selain daripada menghancurkan ciptaan-Nya... yang menganggap diri mereka sendiri telah melayani Tuhan dengan baik dengan melakukan persis apa yang Dia benci, siapa yang paling kekurangan iman di dunia dan yang paling siap menyambut pasukan musuh... yang menampakkan tindakan mereka sebagai kehadiran Antikristus karena mereka mengabaikan Juruselamat sejati (Yesus)... orang-orang ini adalah penguasa kepalsuan, agen kejahatan, musuh kebenaran, penganiaya biadab orang-orang percaya... apa yang lebih menakutkan, terus terang kukatakan, bagi mata dan telinga orang Kristen selain untuk melihat bangsa asing lagi kejam yang diizinkan untuk mengangkat tangannya melawan penerus Ilahi? Tetapi itu tidak lain karena dosa-dosa kita yang berlipat-ganda inilah yang telah mengizinkan hal ini (terjadi)".
Lagi-lagi, sebagaimana banyak penulis Kristen yang sezaman dengan Muslim awal ini, menyalahkan diri mereka sendiri dan menjadikan invasi Muslim awal ini sebagai hukuman Tuhan. Namun, keterangan Maximus ini bersesuaian dengan pendapat Gewargis yang menganggap kedatangan Muslim awal sebagai hukuman Tuhan bagi kaum Monotheletisme. Terlebih dengan adanya dukungan dari kaum Yahudi yang semakin menguatkan sebagian besar sumber-sumber tertulis non-Muslim yang sezaman dengan Muslim awal di atas. Tapi serangan-serangan Arab yang menyasar pada Mesir, Syria, dan Persia, tampak begitu aneh jika kita berusaha menyatukan sumber-sumber tertulis non-Muslim di atas dan papirus-papirus yang ditulis Muslim awal sendiri. Yang paling aneh adalah orang-orang Kristen di berbagai wilayah, dimana sumber-sumber tsb tidak menerangkan kedudukan orang-orang Kristen tsb secara mandiri terhadap Muslim awal sendiri. Kaum Muslim awal, berdasarkan sumber-sumber yang sudah kita bahas di atas, didukung oleh Monofisit, terkadang dibenci oleh Katholik, tapi juga menghormati Katholik, membenci Monothelet, dekat dengan Chalcedonian, dibenci Diofisit, tampak mirip dengan Kristen anti-Trinitarian, netral dengan Nestorian, dan didukung sebagian besar Yahudi. Kondisi hubungan heterogen ini disebut oleh John Wansbroughsebagai "gejolak sektarian" (sectarian milieu) dimana kaum Muslim awal hadir dalam panggung sejarah ini di antara sekte-sekte Kristen dan Yahudi yang beredar sebagai tanda apokaliptik (akhir zaman). Ditambah dengan minimnya sumber-sumber dari Yahudi yang sezaman dengan Muslim awal, semakin mengindikasikan kedudukan mayoritas orang-orang Yahudi sebagai pendukung Muslim awal. Namun, jika kita meninjau pula dari Al-Qur'an sendiri, dengan mengabaikan sementara tafsir tradisional, Al-Qur'an justru tampak tidak konsisten menempatkan Yahudi dan Nashrani, sebagaimana telah kita bahas di atas. Namun, sumber-sumber tertulis ini tidak hanya berhenti sampai di sini.
Setelah penaklukan Persia, orang-orang Kristen yang hidup masih di bawah wilayah Byzantium di Near East merasa semakin diburu, terpojok, dan demoralisasi. Hanya supremasi politik Byzantium lah yang menjadi tameng bagi mereka yang paling demonstratif dan menjamin keunggulan Kristen mereka di atas agama lain, termasuk "bidat-bidat" Kristen lainnya. Tanpa itu, hinaan yang mereka gunakan terus-menerus ditujukan kepada orang-orang Yahudi, bahwa mereka adalah subyek atas kemarahan Tuhan, akan kehilangan "sengatan"-nya dan bisa mudah berbalik melawan mereka. Lebih dari setengah abad kemudian setelah penaklukan Persia, penulis-penulis Kristen mulai banyak mempersalahkan orang-orang Yahudi atas "penderitaan" yang diterima akibat penaklukan oleh Muslim awal. kemegahan ini dinyalakan kepala. Pada akhir abad ke-7, dalam sebuah naskah apologetik yang direkonstruksi oleh seorang apolog Kristen, Arthur Lukyn Williams dalam teks Adversus Iudaeus terdapat sebuah traktat anonim dengan judul "Piala Damaskus" yang mengandung sebuah debat retoris antara seorang Yahudi dengan seorang Kristen yang bertujuan mengejek si Yahudi. Si Yahudi yang terlibat dalam debat tsb mengatakan kepada si Kristen (Bab II.3.1 Hal. 220): "Jika semua kebenaran pada kamu, katakanlah, bagaimana mungkin perbudakan Sarakenoi justru menimpamu? Milik siapa tanah yang hancur ini? Terhadap siapakah perang yang begitu banyak terjadi? Apakah bangsa lain [begitu banyak] diperangi seperti orang-orang Kristen? Bagaimana bukti bahwa orang Kristen memiliki iman yang lebih tinggi dari semua agama di bawah langit?". Pernyataan orang Yahudi yang dikutip si penulis anonim ini menggambarkan bahwa orang-orang Yahudi di masa itu tidak begitu yakin jika bangsanya dianggap menderita dan menerima hukuman Tuhan.
>> Lanjut ke Bag. VIII
>> Kembali ke Bag. VI
Diubah oleh tyrodinthor 26-06-2020 14:12
androidiot dan 3 lainnya memberi reputasi
4