- Beranda
- Stories from the Heart
I Love You Mr. India
...
TS
ajenggputriii
I Love You Mr. India
Namaku Mayra Sekarang aku sedang berkuliah di salah satu kampus negeri di kotaku, jurusan Seni Tari
Yaa.. aku seorang penari
Darah seni memang mengalir dalam tubuhku dari mamah yang dulu juga seorang penari tradisional.
Aku sangat mencintai semua yang berbau seni, tapi yang paling aku suka ya itu Tari. Entah itu tari tradisional ataupun modern.
Selain kuliah aku juga aktif di sanggar seni tari. Dan menjadi salah satu pengajar disana. Jadi waktuku sehari-hari aku habiskan di kampus atau sanggar.
Sekilas tentang aku
Kulitku sawo matang, tidak tinggi tidak pendek yaa standarnya cewek lah hehe, rambut ku panjang sepunggung tp lebih sering aku gulung sih, agak tomboy, gak suka pakai rok,gak suka bunga, gak suka belanja, gak suka dandan terkecuali kalau sedang manggung atau pentas aku berubah 180° hehe
Maaf kan yang bahasanya acak adul ya gan
.. masih newbie nih hehe
Semoga suka

Dan kalau berkenan mau dong
sama 
Biar makin semangat update nya

Oya ini cerita fiksi ya gan..
Indeks
1(Pengumuman)
2(Gelisah)
3(Latihan)
4(Surprise)
5(Firasat)
6(Bali)
7(Pertemuan Pertama)
8(Hari I Karantina)
9(Hari II Karantina)
10(Hari III Karantina Kabar Buruk)
11(Kepergianmu)
12(Reyhan)
13(Move On)
14(Cemburu)
15(Penjelasan)
16(Jalan Berdua)
17(Awal Yang Baru)
18(Kedatanganmu)
19(Peringatan)
20(Psycopat Wanita)
21(Sayang)
22(Minta Izin)
23(Main Tumse...)
24(Nembak)
25(Rencana)
26(Sadar)
27(Tugas Akhir)
28(Risky)
Diubah oleh ajenggputriii 31-08-2017 11:47
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
185
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ajenggputriii
#137
23. Main Tumse....
Mas Raga datang sambil membawa minuman untuk kami semua.
Aku duduk disebelah papah sambil bergelayut manja.
Papah,mas Raga,Reyhan dan Ravi asyik ngobrol mulai dari bisnis,kehidupan di India bagaimana,tentang keluarga juga, aku hanya sebagai pendengar sejati mereka semua.
Dan papah seperti biasa tanpa melupakan guyonannya apalagi ketemu Reyhan udah deh makin menjadi becandanya Dan Ravi biasanya yang dia cool dan jaim eh jadi ikut ketularan banyolnya hehe.
Lalu mas Raga bercerita bagaimana dia bisa tahu keberadaanku dan Reyhan.
Ternyata Ravi yang memberitahu mas Raga kalau Reyhan pergi nolongin aku yang katanya diculik. Dan mas Raga melacakku dengan Gps karena teleponnya tidak aku jawab.
Itulah tujuannya mas Raga selalu mengingatkanku untuk tidak pernah menonaktifkan GPS.
Papah menatapku lalu membelai rambutku dan mengecup keningku.
"Alhamdulillah kamu gakpapa nduk"
Aku memeluk papah lalu aku dan Reyhan bertemu pandang dan dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku hanya terkekeh melihat tingkahnya itu.ada aja...
Entah kenapa sedang asyik menikmati obrolan mereka aku merasa ada yg sedang melihatku terus.
Saat kucari ternyata Ravi. Aku pun tersenyum padanya dan Ravi membalasnya juga.
Kok agak aneh ya apa hanya perasaanku saja?
Tiba-tiba aku menguap,rasanya efek obatnya uda terasa.
"Ngantuk nduk?"tanya papah sambil membelai rambutku
Aku mengangguk pelan
"Ya udah tidur sana,mas anterin ke kamar ya" kata papah lalu menatap mas Raga.
"Saya boleh nganter Mayra om" sela Reyhan tiba-tiba. Papah lalu menoleh ke mas Raga. Papah ini memang apa kata mas Raga kalau soal aku.
Karena memang selama papah tugas diluar, papah memberikan tanggung jawab menjagaku ke mas Raga walau saat papah pulang selalu manut apa kata mas Raga.
Duh ni anak bener bener ya kelewat beraninya pikirku
"Eh,awas ya kalau lu macem-macem" kata mas Raga menatap Reyhan tajam
"Beres Ga,dont worry! Gak bakalan kok!" Kata Reyhan sambil merapikan rambutnya kebelakang.
Lalu dia beranjak dan menuntunku masuk ke kamar.
Lagi-lagi saat ku lihat Ravi,dia menatapku kembali.
Aneh tapi aku tidak merasa takut,entahlah
"Rey,aku bisa jalan sendiri! Yang sakit tanganku bukan kakiku" bisikku ke Reyhan
"Ssstttt!!! Nurut aja!"
Reyhan kembali menuntunku,aku memegangi tangan kananku dengan tangan kiriku.
Sesampai dikamar, aku duduk di tempat tidurku.
Pintu kamar dibiarkan terbuka oleh Reyhan, ya iyalah ntar dikira kita ngapa ngapain dikamar.
Reyhan jongkok didepanku.
Dia memegang tanganku yang sakit lalu menatapku sedih
"Aku janji,aku akan ngelindungi kamu dari apapun"
Aku tersenyum padanya.
"I will be fine" kataku sambil memegang wajahnya dengan tangan kiriku.
"Aku siap jadi tangan kananmu sayang,kapanpun" kata Reyhan lagi yang masih tetap memegang tanganku yang sakit.
"Berarti kamu harus tinggal disini dong,terus tidur sama aku,dan ikut kemanapun aku pergi" kataku sambil memainkan alisku dan tersenyum usil
"Lho dengan senang hati dong!" Seru Reyhan lalu berdiri dan berbaring di tempat tidurku.
"Hey!! Kamu ngapain?? Ntar dilihat papah lho,ayo bangun!" Kata ku sambil mencoba menariknnya bangun.
"No! Kan kamu sendiri yang bilang tadi" kata Reyhan yang sekarang sudah mengangkat kedua tangannya lalu ditaruh dibawah kepalanya dan masih berbaring ditempat tidurku.
"Bangun Rey! Mas Raga tahu berabe tauk!"
Aku menarik tangan Reyhan dengan tangan kiriku. Dan berusaha membuat dia bangun.
Tapi malah aku jatuh diatas tubuh Reyhan.
Dengan cepat aku menyelamatkan tanganku yang sakit.
Mataku dan mata Reyhan saling pandang.
Rasanya aku bisa merasakan detak jantungnya dengan dekat. Atau itu detak jantungku sendiri ya yang udah gak karuan rasanya.
"Ehm..bytheway kamu berat juga ya sayang"
Aku langsung berdiri dan mulai salah tingkah sendiri.
Ku rapikan rambutku yang sedikit berantakan.
Lalu Reyhan memegang pinggangku dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya.
"Ehh!" Seruku kaget
Jarak wajahku dan Reyhan sangat dekat,jadi bisa kurasakan hembusan nafasnya.
"Main Tumse Pyar Kartha Hoon" kata Reyhan sambil terus menatapku dalam.
Aku terkaget sejenak. Lalu berpikir.
"Eummm... wait..." kataku masih terus berpikir.
Reyhan menatapku sambil tertawa kecil.
"Im waiting" goda Reyhan.
"Main..bhee app se..pyar karthee hoon" kata ku agak terbata-bata. Ya namanya juga masih inget-inget.
"Right??"
Reyhan mengangguk dan langsung memelukku.
"Udah sana aku mau bobok" kataku sambil melepaskan pelukannya.
"Oke, istirahat ya.. kalau ada apa-apa hubungi aku ya sayang"
Aku mengangguk
"Bye" kataku sambil melambaikan tanganku.
Reyhan keluar kamar dan menutup pintu kamarku.
Aku lalu berbaring dan segera tidur karena rasanya udah ngantuk banget.
Sambil senyum-senyum sendiri aku pun tak sadar lalu terlelap.
*************
Keesokan harinya Risky menjengukku kerumah.
Saat itu aku lagi nonton tv diruang tengah dengan papah dan mas Raga,kebetulan hari sabtu mas Raga libur kerja.
"Lho om Juna! Kapan balik om?" Sapa Risky saat melihat papah ada dirumah lalu mencium tangan papah dan langsung duduk disebelahku
"Eh nak Risky, baru aja kemarin lah kok baru pulang si Mayra kena musibah" jawab papah sambil membetulkan posisi duduknya
"Iya om,ada yang resek,tapi alhamdulillah udah selesai masalahnya"
"Ya alhamdulillah, gimana kuliahnya nak Risky?"
"Lancar om,sekarang lagi planning buat tugas akhir" jawab Risky sambil memainkan kedua tangannya,kebiasaan!
"Oh iya uda semester akhir kan kalian? Terus kamu gimana nduk?" Tanya papah yang ekspreainya berubah khawatir
"Apanya pah?" Tanyaku bingung
"Kan tanganmu masih sakit dek?emang bisa buat nari?" Sahut mas Raga yang dari tadi serius maen ponselnya.
"Bisa lah,gini doang mah bentar lagi juga sembuh" jawabku sok kuat padahal kalau enggak minum obat pereda nyeri nih jahitannya rasanya hemmm
Risky menatapku serius.
"Ini baru anak papah,ya sudah papah mau ke kamar dulu ya" kata papah sambil membelai kepalaku lalu beranjak ke kamarnya.
Pandanganku mengikuti papah. Mungkin papah capek. Yasudah lah
Mas Raga kembali ke ponselnya.
"Bener uda mendingan?" Tanya Risky menyelidik
Nih anak bener bener deh, gak bakalan bisa aku bohong di depan dia.
"Ssstt" aku memberikan isyarat diam ke Risky
"Tuh boong kan?" Kata Risky pelan
Aku lalu menarik Risky keluar menuju gazebo depan rumah.
Rumah ku memang didepannya ada gazebo dan ada kolam ikan kecil dibawah gazebo itu serta ada taman cukup luas yang ditanami berbagai macam bunga.
Dibandingkan bangunan rumah,lebih luas halamannya dari pada rumahnya.
Ku dudukan Risky digazebo dan tanpa sengaja tanganku yang sakit menyenggol tiang gazebo itu.
"Aaauuuwwww!!!!" Seruku kesakitan
Dengan cepat Risky meniup-niup tanganku.
"Kalau masih sakit gini jangan sok sokan kuat deh!" Omel Risky yang masih terus meniup dan mengipasi tanganku.
Ya mana kerasa sih, tangannya juga dibebel sama perban.
"Kayak emak emak lu ngomel" ledekku sambil meringis kesakitan.
"Udah kalau masih belum pulih gak usa masuk dulu,ntar jahitannya gak kering-kering" kata Risky dengan muka juteknya
"Yaelah Bul,ntar aku ketinggalan banyak,lagian
Yang sakit kan cuma tangan, badanku juga masih kuat,kaki juga masih bisa jalan kok" bujukku
Risky lalu menatapku tajam
"Tapi gak usa ikut pentas-pentas,break sementara dan selama di kampus gak boleh jauh jauh dari aku dikelas harus sama Nindy,ntar aku yang anter jemput,jangan bawa mobil atau motor sendiri,ngerti!" Jelas Risky panjang lebar, buset dah ngalah-ngalahin mas Raga ni anak posesifnya.
Aku melongo mendengar penjelasan Risky yang kayak emak-emak rumpi.
"Yee malah bengong" kata Risky sambil mengacak rambutku.
"Iya iya.. posesif banget sih" kataku sambil merapikan rambutku yang agak kesusahan karena hanya menggunakan satu tanganku.
"Kan biar cepet sembuh May,biar cepet aktifitas seperti semula" kata Risky lembut dan membantuku merapikan rambutku.
Aku agak kikuk dengan perlakuan Risky barusan. Aku hanya diam dan menatapnya terus.
"Lain kali jangan dihadapin sendiri ya" lanjut Risky yang kali ini diiringi dengan senyum.
Aku tersenyum ke Risky.
Duh gak Risky gak Ravi kok jadi pada aneh semua ya..
Mencurigakan???
Tapi aku bahagia karena aku dikelilingi orang yang selalu ingin melindungiku dan membuatku bahagia.
Dan aku juga beruntung karena sekarang aku memiliki Reyhan yang akan selalu disampingku.
***************
Aku duduk disebelah papah sambil bergelayut manja.
Papah,mas Raga,Reyhan dan Ravi asyik ngobrol mulai dari bisnis,kehidupan di India bagaimana,tentang keluarga juga, aku hanya sebagai pendengar sejati mereka semua.
Dan papah seperti biasa tanpa melupakan guyonannya apalagi ketemu Reyhan udah deh makin menjadi becandanya Dan Ravi biasanya yang dia cool dan jaim eh jadi ikut ketularan banyolnya hehe.
Lalu mas Raga bercerita bagaimana dia bisa tahu keberadaanku dan Reyhan.
Ternyata Ravi yang memberitahu mas Raga kalau Reyhan pergi nolongin aku yang katanya diculik. Dan mas Raga melacakku dengan Gps karena teleponnya tidak aku jawab.
Itulah tujuannya mas Raga selalu mengingatkanku untuk tidak pernah menonaktifkan GPS.
Papah menatapku lalu membelai rambutku dan mengecup keningku.
"Alhamdulillah kamu gakpapa nduk"
Aku memeluk papah lalu aku dan Reyhan bertemu pandang dan dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku hanya terkekeh melihat tingkahnya itu.ada aja...
Entah kenapa sedang asyik menikmati obrolan mereka aku merasa ada yg sedang melihatku terus.
Saat kucari ternyata Ravi. Aku pun tersenyum padanya dan Ravi membalasnya juga.
Kok agak aneh ya apa hanya perasaanku saja?
Tiba-tiba aku menguap,rasanya efek obatnya uda terasa.
"Ngantuk nduk?"tanya papah sambil membelai rambutku
Aku mengangguk pelan
"Ya udah tidur sana,mas anterin ke kamar ya" kata papah lalu menatap mas Raga.
"Saya boleh nganter Mayra om" sela Reyhan tiba-tiba. Papah lalu menoleh ke mas Raga. Papah ini memang apa kata mas Raga kalau soal aku.
Karena memang selama papah tugas diluar, papah memberikan tanggung jawab menjagaku ke mas Raga walau saat papah pulang selalu manut apa kata mas Raga.
Duh ni anak bener bener ya kelewat beraninya pikirku
"Eh,awas ya kalau lu macem-macem" kata mas Raga menatap Reyhan tajam
"Beres Ga,dont worry! Gak bakalan kok!" Kata Reyhan sambil merapikan rambutnya kebelakang.
Lalu dia beranjak dan menuntunku masuk ke kamar.
Lagi-lagi saat ku lihat Ravi,dia menatapku kembali.
Aneh tapi aku tidak merasa takut,entahlah
"Rey,aku bisa jalan sendiri! Yang sakit tanganku bukan kakiku" bisikku ke Reyhan
"Ssstttt!!! Nurut aja!"
Reyhan kembali menuntunku,aku memegangi tangan kananku dengan tangan kiriku.
Sesampai dikamar, aku duduk di tempat tidurku.
Pintu kamar dibiarkan terbuka oleh Reyhan, ya iyalah ntar dikira kita ngapa ngapain dikamar.
Reyhan jongkok didepanku.
Dia memegang tanganku yang sakit lalu menatapku sedih
"Aku janji,aku akan ngelindungi kamu dari apapun"
Aku tersenyum padanya.
"I will be fine" kataku sambil memegang wajahnya dengan tangan kiriku.
"Aku siap jadi tangan kananmu sayang,kapanpun" kata Reyhan lagi yang masih tetap memegang tanganku yang sakit.
"Berarti kamu harus tinggal disini dong,terus tidur sama aku,dan ikut kemanapun aku pergi" kataku sambil memainkan alisku dan tersenyum usil
"Lho dengan senang hati dong!" Seru Reyhan lalu berdiri dan berbaring di tempat tidurku.
"Hey!! Kamu ngapain?? Ntar dilihat papah lho,ayo bangun!" Kata ku sambil mencoba menariknnya bangun.
"No! Kan kamu sendiri yang bilang tadi" kata Reyhan yang sekarang sudah mengangkat kedua tangannya lalu ditaruh dibawah kepalanya dan masih berbaring ditempat tidurku.
"Bangun Rey! Mas Raga tahu berabe tauk!"
Aku menarik tangan Reyhan dengan tangan kiriku. Dan berusaha membuat dia bangun.
Tapi malah aku jatuh diatas tubuh Reyhan.
Dengan cepat aku menyelamatkan tanganku yang sakit.
Mataku dan mata Reyhan saling pandang.
Rasanya aku bisa merasakan detak jantungnya dengan dekat. Atau itu detak jantungku sendiri ya yang udah gak karuan rasanya.
"Ehm..bytheway kamu berat juga ya sayang"
Aku langsung berdiri dan mulai salah tingkah sendiri.
Ku rapikan rambutku yang sedikit berantakan.
Lalu Reyhan memegang pinggangku dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya.
"Ehh!" Seruku kaget
Jarak wajahku dan Reyhan sangat dekat,jadi bisa kurasakan hembusan nafasnya.
"Main Tumse Pyar Kartha Hoon" kata Reyhan sambil terus menatapku dalam.
Aku terkaget sejenak. Lalu berpikir.
"Eummm... wait..." kataku masih terus berpikir.
Reyhan menatapku sambil tertawa kecil.
"Im waiting" goda Reyhan.
"Main..bhee app se..pyar karthee hoon" kata ku agak terbata-bata. Ya namanya juga masih inget-inget.
"Right??"
Reyhan mengangguk dan langsung memelukku.
"Udah sana aku mau bobok" kataku sambil melepaskan pelukannya.
"Oke, istirahat ya.. kalau ada apa-apa hubungi aku ya sayang"
Aku mengangguk
"Bye" kataku sambil melambaikan tanganku.
Reyhan keluar kamar dan menutup pintu kamarku.
Aku lalu berbaring dan segera tidur karena rasanya udah ngantuk banget.
Sambil senyum-senyum sendiri aku pun tak sadar lalu terlelap.
*************
Keesokan harinya Risky menjengukku kerumah.
Saat itu aku lagi nonton tv diruang tengah dengan papah dan mas Raga,kebetulan hari sabtu mas Raga libur kerja.
"Lho om Juna! Kapan balik om?" Sapa Risky saat melihat papah ada dirumah lalu mencium tangan papah dan langsung duduk disebelahku
"Eh nak Risky, baru aja kemarin lah kok baru pulang si Mayra kena musibah" jawab papah sambil membetulkan posisi duduknya
"Iya om,ada yang resek,tapi alhamdulillah udah selesai masalahnya"
"Ya alhamdulillah, gimana kuliahnya nak Risky?"
"Lancar om,sekarang lagi planning buat tugas akhir" jawab Risky sambil memainkan kedua tangannya,kebiasaan!
"Oh iya uda semester akhir kan kalian? Terus kamu gimana nduk?" Tanya papah yang ekspreainya berubah khawatir
"Apanya pah?" Tanyaku bingung
"Kan tanganmu masih sakit dek?emang bisa buat nari?" Sahut mas Raga yang dari tadi serius maen ponselnya.
"Bisa lah,gini doang mah bentar lagi juga sembuh" jawabku sok kuat padahal kalau enggak minum obat pereda nyeri nih jahitannya rasanya hemmm
Risky menatapku serius.
"Ini baru anak papah,ya sudah papah mau ke kamar dulu ya" kata papah sambil membelai kepalaku lalu beranjak ke kamarnya.
Pandanganku mengikuti papah. Mungkin papah capek. Yasudah lah
Mas Raga kembali ke ponselnya.
"Bener uda mendingan?" Tanya Risky menyelidik
Nih anak bener bener deh, gak bakalan bisa aku bohong di depan dia.
"Ssstt" aku memberikan isyarat diam ke Risky
"Tuh boong kan?" Kata Risky pelan
Aku lalu menarik Risky keluar menuju gazebo depan rumah.
Rumah ku memang didepannya ada gazebo dan ada kolam ikan kecil dibawah gazebo itu serta ada taman cukup luas yang ditanami berbagai macam bunga.
Dibandingkan bangunan rumah,lebih luas halamannya dari pada rumahnya.
Ku dudukan Risky digazebo dan tanpa sengaja tanganku yang sakit menyenggol tiang gazebo itu.
"Aaauuuwwww!!!!" Seruku kesakitan
Dengan cepat Risky meniup-niup tanganku.
"Kalau masih sakit gini jangan sok sokan kuat deh!" Omel Risky yang masih terus meniup dan mengipasi tanganku.
Ya mana kerasa sih, tangannya juga dibebel sama perban.
"Kayak emak emak lu ngomel" ledekku sambil meringis kesakitan.
"Udah kalau masih belum pulih gak usa masuk dulu,ntar jahitannya gak kering-kering" kata Risky dengan muka juteknya
"Yaelah Bul,ntar aku ketinggalan banyak,lagian
Yang sakit kan cuma tangan, badanku juga masih kuat,kaki juga masih bisa jalan kok" bujukku
Risky lalu menatapku tajam
"Tapi gak usa ikut pentas-pentas,break sementara dan selama di kampus gak boleh jauh jauh dari aku dikelas harus sama Nindy,ntar aku yang anter jemput,jangan bawa mobil atau motor sendiri,ngerti!" Jelas Risky panjang lebar, buset dah ngalah-ngalahin mas Raga ni anak posesifnya.
Aku melongo mendengar penjelasan Risky yang kayak emak-emak rumpi.
"Yee malah bengong" kata Risky sambil mengacak rambutku.
"Iya iya.. posesif banget sih" kataku sambil merapikan rambutku yang agak kesusahan karena hanya menggunakan satu tanganku.
"Kan biar cepet sembuh May,biar cepet aktifitas seperti semula" kata Risky lembut dan membantuku merapikan rambutku.
Aku agak kikuk dengan perlakuan Risky barusan. Aku hanya diam dan menatapnya terus.
"Lain kali jangan dihadapin sendiri ya" lanjut Risky yang kali ini diiringi dengan senyum.
Aku tersenyum ke Risky.
Duh gak Risky gak Ravi kok jadi pada aneh semua ya..
Mencurigakan???
Tapi aku bahagia karena aku dikelilingi orang yang selalu ingin melindungiku dan membuatku bahagia.
Dan aku juga beruntung karena sekarang aku memiliki Reyhan yang akan selalu disampingku.
***************
0