- Beranda
- Stories from the Heart
I Love You Mr. India
...
TS
ajenggputriii
I Love You Mr. India
Namaku Mayra Sekarang aku sedang berkuliah di salah satu kampus negeri di kotaku, jurusan Seni Tari
Yaa.. aku seorang penari
Darah seni memang mengalir dalam tubuhku dari mamah yang dulu juga seorang penari tradisional.
Aku sangat mencintai semua yang berbau seni, tapi yang paling aku suka ya itu Tari. Entah itu tari tradisional ataupun modern.
Selain kuliah aku juga aktif di sanggar seni tari. Dan menjadi salah satu pengajar disana. Jadi waktuku sehari-hari aku habiskan di kampus atau sanggar.
Sekilas tentang aku
Kulitku sawo matang, tidak tinggi tidak pendek yaa standarnya cewek lah hehe, rambut ku panjang sepunggung tp lebih sering aku gulung sih, agak tomboy, gak suka pakai rok,gak suka bunga, gak suka belanja, gak suka dandan terkecuali kalau sedang manggung atau pentas aku berubah 180° hehe
Maaf kan yang bahasanya acak adul ya gan
.. masih newbie nih hehe
Semoga suka

Dan kalau berkenan mau dong
sama 
Biar makin semangat update nya

Oya ini cerita fiksi ya gan..
Indeks
1(Pengumuman)
2(Gelisah)
3(Latihan)
4(Surprise)
5(Firasat)
6(Bali)
7(Pertemuan Pertama)
8(Hari I Karantina)
9(Hari II Karantina)
10(Hari III Karantina Kabar Buruk)
11(Kepergianmu)
12(Reyhan)
13(Move On)
14(Cemburu)
15(Penjelasan)
16(Jalan Berdua)
17(Awal Yang Baru)
18(Kedatanganmu)
19(Peringatan)
20(Psycopat Wanita)
21(Sayang)
22(Minta Izin)
23(Main Tumse...)
24(Nembak)
25(Rencana)
26(Sadar)
27(Tugas Akhir)
28(Risky)
Diubah oleh ajenggputriii 31-08-2017 11:47
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
185
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ajenggputriii
#66
10. Hari III Karantina (Kabar Buruk)
Hari ke empat di Bali
Hari ke 3 karantina dan hari pementasan.
Acara utama dimulai masih nanti malam.
Aku dan Nindy sengaja bermalas-malasan dikamar pagi ini sambil nonton tv.
Entah kenapa aku menonton chanel berita. Padahal biasanya aku ogah nonton berita.
Aku mencoba menghubungi Pandu pagi ini. Tapi lagi-lagi tidak bisa dihubungi. Lalu aku coba menghubungi mas Raga tapi tidak di angkat juga.
Udahlah nonton tv aja.
Baru asyik nonton tv, terdengar berita yang sangat tidak ingin aku dengar.
Pembawa acara berita itu mengatakan bahwa terjadi kecelakaan pesawat kemarin. Sebuah pesawat terbang tujuan Belanda terserang tembakan rudal dan jatuh. dikabarkan semua penumpang dan awak pesawat meninggal dunia di tempat
DEGGGGG!!!!!
Aku menutup mulutku tak percaya.
Aku ingin memastikan kebenaran berita itu.
Aku hubungi mas Raga tidak diangkat. Telepon Pandu masih tetap tidak aktif. Telepon kedua orangtua Pandu juga tidak diangkat.
Ya Allah kemana semua ini.
Nindy yang tau aku cemas dia langsung memelukku.
Aku masih bingung dan masih ingin mencari tau kebenaran berita itu.
"Semoga bukan Pandu May.. semoga bukan" kata Nindy mencoba menguatkan aku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Mas Raga meneleponku.
"Halo mas.. mas apa bener itu berita di televisi??" Tanyaku langsung.
Mas Raga diam. Dia tidak menjawab.
"Mas.... jawab mas.. apa bener itu pesawatnya Pandu??"
"May... sabar ya.." kata mas Raga pelan.
Airmataku sudah tidak bisa aku bendung lagi.
"Panduuuuuuuuuuu..!!!!!"
Ponselku terjatuh. Nindy dengan segera mengambil dan mulai berbicara dgn mas Raga.
Tangisku makin menjadi. Aku ingin teriak tapi aku gak bisa.
Aku menangis terus sambil memanggil nama Pandu.
Nindy menutup telepon dan langsung berlari memelukku. Dia ikut menangis.
"Nindy...Pandu nin... Pandu... huhuhuhu" kataku terisak.
Tangisku tak bisa berhenti.
Nindy makin memelukku erat.
Kemudian terdengar ada yg mengetuk pintu.
Nindy membukakan pintu.
"Mayra..." kata Risky lalu memelukku.
"Pandu.. pan...duu... huhuhu... huhuhu.." kataku sambil terus menangis dipelukkan Risky.
"Sshhh... sshhh.. sabar May..sabar" kata Risky mengusap punggungku.
"Pandu.. kenapa dia ninggalin aku??? Aku ikut ndu.. aku mau ikut"
"Kamu tau kan Ris.. ini, dia udah janji, dia janji gak bakalan ninggalin aku, cincin ini...cincin ini.. dia janji mau nikahin aku...huhuhu" kataku mulai kacau sambil nunjukkin cincin yg aku pakai. Cincin dari Pandu.
Entah saat itu pikiran,hatiku semua kacau.
Pandu.. dia ninggalin aku gitu aja.
Nindy dan Risky memelukku lagi.
Aku mulai hilang kendali.
Kepalaku pusing, pandanganku kabur dan tiba-tiba gelap.
*************
"Hey are you okay ?" Tanya seorang cowok yg suara nya aku hafal banget.
Aku membuka mataku perlahan, kepalaku masih pusing.
Aku lihat semua temanku dan dosen sudah ada dikamarku.
Dan ada Reyhan duduk disebelah tempat tidurku.
Aku masih bingung kenapa semuanya berkumpul disini tapi tak lama kemudian aku ingat apa yang barusan terjadi.
Airmataku jatuh lagi. Aku menangis didepan semua temanku dan dosenku. Tapi aku menahan diri agar tidak lepas kendali.
Hatiku rasanya sakit banget. Dadaku sesak.
"Yang sabar ya May, bapak dan teman-temanmu turut berduka cita sedalam-dalamnya" kata pak Agustinus
Aku hanya mengangguk dan masih menangis tertunduk.
"Mayra, im sorry to hear that, please dont sad again, I cant see you like this" kata Reyhan sambil jongkok didepanku. Dia menghapus airmataku dengan tangannya.
"Terus gimana May? Masih bisa ikut acara utamanya kan?" Tanya bu Catur yang juga ada di kamarku.
Aku terdiam sesaat.
Aku menghela nafas agak panjang. Lalu ku hapus airmataku.
"Ya bu, saya masih bisa menyelesaikan kewajiban saya, tapi saya mohon izin, setelah pentas besok saya mau pulang" kataku
"Iya tidak apa-apa May.. saya izinkan tapi kamu pulang sama siapa?" kata pak Agustinus.
"Terimakasih pak, saya bisa pulang sendiri"
"Biar sama saya aja pak" saut Risky.
"Jangan Ris.. kamu sama Nindy disini saja masih ada kelas tambahan kan ?" Kata ku sambil tersenyum getir.
Risky dan Nindy tidak menjawab, mereka memandangku iba.
"Sama saya saja pak" kata Reyhan tiba-tiba.
Semua kaget mendengarnya.
"Apa kamu gak ada tugas lagi?" Tanya pak Agustinus.
"Nothing, nanti urusan saya pak untuk izinnya" jawab Reyhan
Entah kenapa aku merasa sedikit tenang dengan adanya Reyhan disini.
"Baiklah terserah kalian saja, yang penting hati-hati dan titip Mayra ya"
"Yasudah bapak dan yang lainnya balik dulu ya May, kamu yang kuat ya.. sabar semua sudah ada yang mengatur" kata Pak Agustinus sambil menepuk bahuku.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Semua kembali ke kamar masing-masing. Tinggal Reyhan, Nindy, Risky dan 2 teman Reyhan, Nandu dan Shakti.
"Rey, thanks ya bro titip Mayra" kata Risky sambil menjabat tangan Reyhan
"Its okay" jawab Reyhan
Nindy lalu memelukku lagi, aku membalas pelukan Nindy. Ya aku nangis lagi. Pasti itu.. gak pernah aku bayangin kalau Pandu bakalan ninggalin aku secepat ini.
"Mas Raga tadi juga sudah cerita ke aku May...memang kecelakaannya kemarin tapi mas Raga dan kedua orangtua Pandu masih mencari informasi apa benar itu pesawat yg dikemudikan sama Pandu, dan ternyata emang benar, dan baru tadi pagi daftar nama korban dikasih tau" jelas Risky sambil duduk dipinggiran ranjangku.
"Dddaann... namaa Pan..du ada?" Tanya ku agak terbata.
Risky mengangguk.
Tangisku pecah kembali.
Nindy tetap memelukku dan Reyhan mengenggam tanganku erat.
"Jenazahnya insyaallah lusa baru tiba di Indonesia May karena masih di indentifikasi"
"Panduuuuu.... panduuu kamu jahat kenapa ninggalin aku dengan cara kayak gini!!!"
"Kenapa kamu kemarin ngajakin aku nikah kalau kamu bakal ninggalin aku! Kenapa ndu kenapaa!!!" Kataku meracau
"Sstt Hey... dont say like that!!" Kata Reyhan, telunjuknya diletakkan dibibirku.
Lalu dia mengusap pipiku.
"May.. semua sudah ada yang ngatur, ini takdir Allah, jodoh rezeki maut tidak ada yang tahu, semua itu rahasia Allah, kamu harus ikhlas May" lanjut Reyhan.
"Tapi... tapi... kenapa harus Pandu ??? Kenapa harus aku yang ngalamin???"
"Mayra... please.. jangan kayak gini, Pandu pasti sedih liat kamu kayak gini" kata Risky.
"Huhuhu...huhu...huhu..."
Tangisku kembali pecah.
Aku kangen kamu Pandu
Kenapa kamu harus ninggalin aku sekarang.
**************
Sore hari aku dan teman-teman semua prepare untuk pementasan.
Aku mulai merias wajahku,
Mataku agak sembab karena menangis.
Ku rias wajahku, aku harus tampil maksimal, walau hatiku sakit, hatiku perih dan kakiku masih nyeri.
Aku pakai semua aksesoris pakaian tari ku.
Tari Bedhaya dimana kostumnya sama dengan pengantin Jawa.
Dengan riasan paes ageng, bunga melati, cunduk mentul dll.
Bak seorang pengantin Jawa, kami semua tim penari sudah siap.
Risky dan tim pemusik juga sudah siap dengan baju bascap Jawanya.
Sambil menunggu giliran tampil kami menunggu di belakang panggung.
Semua temanku berusaha menghiburku.
Aku sendiri sudah berjanji tak mau memperlihatkan rasa sedihku didepan semua temanku.
Aku ikut bercanda dengan teman-temanku.
Nindy memelukku dari samping.
Aku tersenyum padanya.
Tak lama Reyhan datang menghampiri kami.
Dia terlihat tampan dengan kostum ala India nya. Rambut yang agak gondrong berkibar-kibar kena angin.
"Woww... you look so gorgeous sweety" katanya sambil duduk disebelahku.
"Thankyou" jawabku dan kuberikan senyum padanya.
"Beautiful smiles"
"By the way, besok pagi kita berangkat, aku sudah beli tiket pesawat, jadi biar cepet kita sampai" kata Reyhan
"Pesawat??" Kataku ragu.
"Yes of course, dont worry, I will always beside you" kata Reyhan menepuk bahuku.
Aku tersenyum.
"Oke" jawabku singkat
Dan Reyhan langsung balik lagi ke tim nya.
Tak lama giliran tim kami tampil.
Kami semua memberikan penampilan yang paling terbaik dari kami.
Tak terkecuali aku.
Aku menikmati tarian yg aku tarikan ini. Menikmati setiap alunan gendingnya, menikmati suara sinden yang mengiringi, menikmati makna dari tari Bedhaya ini.
Tak terasa aku menari dengan airmata yang keluar dari mataku.
Dari filosofi tari Bedhaya itu mengisahkan kisah percintaan dari Kanjeng Ratu. Yaa aku mengibaratkan juga dengan kisahku, aku yang ditinggalkan oleh kekasihku untuk selamanya.
Aku menari dengan hatiku.
Aku menari dengan rasaku.
Dan aku menari dengan pikiranku.
Aku berharap semoga aku bisa menerima semua ini dengan ikhlas.
*****************
Setelah selesai tampil.
Aku tidak bisa menahan lagi. Aku menangis lagi.
Teman-temanku semua memelukku, mereka seakan paham apa yang sedang aku alami.
Lalu aku kembali keruang rias.
"Hey..."
"Kamu keren... " katanya yang tiba-tiba sudah disampingku.
"Makasih" jawabku sigkat sambil terus berjalan
"Dont be sad again yah..." katanya sambil menghentikan langkahku
"Aku selalu ada buat kamu"
Aku tersenyum pada Reyhan...
"Makasih Rey... kamu baik " kataku lalu pergi meninggalkan Reyhan
"Heii !!! Liat penampilanku ya nanti! Haruss !!!
**************
Hari ke 3 karantina dan hari pementasan.
Acara utama dimulai masih nanti malam.
Aku dan Nindy sengaja bermalas-malasan dikamar pagi ini sambil nonton tv.
Entah kenapa aku menonton chanel berita. Padahal biasanya aku ogah nonton berita.
Aku mencoba menghubungi Pandu pagi ini. Tapi lagi-lagi tidak bisa dihubungi. Lalu aku coba menghubungi mas Raga tapi tidak di angkat juga.
Udahlah nonton tv aja.
Baru asyik nonton tv, terdengar berita yang sangat tidak ingin aku dengar.
Pembawa acara berita itu mengatakan bahwa terjadi kecelakaan pesawat kemarin. Sebuah pesawat terbang tujuan Belanda terserang tembakan rudal dan jatuh. dikabarkan semua penumpang dan awak pesawat meninggal dunia di tempat
DEGGGGG!!!!!
Aku menutup mulutku tak percaya.
Aku ingin memastikan kebenaran berita itu.
Aku hubungi mas Raga tidak diangkat. Telepon Pandu masih tetap tidak aktif. Telepon kedua orangtua Pandu juga tidak diangkat.
Ya Allah kemana semua ini.
Nindy yang tau aku cemas dia langsung memelukku.
Aku masih bingung dan masih ingin mencari tau kebenaran berita itu.
"Semoga bukan Pandu May.. semoga bukan" kata Nindy mencoba menguatkan aku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Mas Raga meneleponku.
"Halo mas.. mas apa bener itu berita di televisi??" Tanyaku langsung.
Mas Raga diam. Dia tidak menjawab.
"Mas.... jawab mas.. apa bener itu pesawatnya Pandu??"
"May... sabar ya.." kata mas Raga pelan.
Airmataku sudah tidak bisa aku bendung lagi.
"Panduuuuuuuuuuu..!!!!!"
Ponselku terjatuh. Nindy dengan segera mengambil dan mulai berbicara dgn mas Raga.
Tangisku makin menjadi. Aku ingin teriak tapi aku gak bisa.
Aku menangis terus sambil memanggil nama Pandu.
Nindy menutup telepon dan langsung berlari memelukku. Dia ikut menangis.
"Nindy...Pandu nin... Pandu... huhuhuhu" kataku terisak.
Tangisku tak bisa berhenti.
Nindy makin memelukku erat.
Kemudian terdengar ada yg mengetuk pintu.
Nindy membukakan pintu.
"Mayra..." kata Risky lalu memelukku.
"Pandu.. pan...duu... huhuhu... huhuhu.." kataku sambil terus menangis dipelukkan Risky.
"Sshhh... sshhh.. sabar May..sabar" kata Risky mengusap punggungku.
"Pandu.. kenapa dia ninggalin aku??? Aku ikut ndu.. aku mau ikut"
"Kamu tau kan Ris.. ini, dia udah janji, dia janji gak bakalan ninggalin aku, cincin ini...cincin ini.. dia janji mau nikahin aku...huhuhu" kataku mulai kacau sambil nunjukkin cincin yg aku pakai. Cincin dari Pandu.
Entah saat itu pikiran,hatiku semua kacau.
Pandu.. dia ninggalin aku gitu aja.
Nindy dan Risky memelukku lagi.
Aku mulai hilang kendali.
Kepalaku pusing, pandanganku kabur dan tiba-tiba gelap.
*************
"Hey are you okay ?" Tanya seorang cowok yg suara nya aku hafal banget.
Aku membuka mataku perlahan, kepalaku masih pusing.
Aku lihat semua temanku dan dosen sudah ada dikamarku.
Dan ada Reyhan duduk disebelah tempat tidurku.
Aku masih bingung kenapa semuanya berkumpul disini tapi tak lama kemudian aku ingat apa yang barusan terjadi.
Airmataku jatuh lagi. Aku menangis didepan semua temanku dan dosenku. Tapi aku menahan diri agar tidak lepas kendali.
Hatiku rasanya sakit banget. Dadaku sesak.
"Yang sabar ya May, bapak dan teman-temanmu turut berduka cita sedalam-dalamnya" kata pak Agustinus
Aku hanya mengangguk dan masih menangis tertunduk.
"Mayra, im sorry to hear that, please dont sad again, I cant see you like this" kata Reyhan sambil jongkok didepanku. Dia menghapus airmataku dengan tangannya.
"Terus gimana May? Masih bisa ikut acara utamanya kan?" Tanya bu Catur yang juga ada di kamarku.
Aku terdiam sesaat.
Aku menghela nafas agak panjang. Lalu ku hapus airmataku.
"Ya bu, saya masih bisa menyelesaikan kewajiban saya, tapi saya mohon izin, setelah pentas besok saya mau pulang" kataku
"Iya tidak apa-apa May.. saya izinkan tapi kamu pulang sama siapa?" kata pak Agustinus.
"Terimakasih pak, saya bisa pulang sendiri"
"Biar sama saya aja pak" saut Risky.
"Jangan Ris.. kamu sama Nindy disini saja masih ada kelas tambahan kan ?" Kata ku sambil tersenyum getir.
Risky dan Nindy tidak menjawab, mereka memandangku iba.
"Sama saya saja pak" kata Reyhan tiba-tiba.
Semua kaget mendengarnya.
"Apa kamu gak ada tugas lagi?" Tanya pak Agustinus.
"Nothing, nanti urusan saya pak untuk izinnya" jawab Reyhan
Entah kenapa aku merasa sedikit tenang dengan adanya Reyhan disini.
"Baiklah terserah kalian saja, yang penting hati-hati dan titip Mayra ya"
"Yasudah bapak dan yang lainnya balik dulu ya May, kamu yang kuat ya.. sabar semua sudah ada yang mengatur" kata Pak Agustinus sambil menepuk bahuku.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Semua kembali ke kamar masing-masing. Tinggal Reyhan, Nindy, Risky dan 2 teman Reyhan, Nandu dan Shakti.
"Rey, thanks ya bro titip Mayra" kata Risky sambil menjabat tangan Reyhan
"Its okay" jawab Reyhan
Nindy lalu memelukku lagi, aku membalas pelukan Nindy. Ya aku nangis lagi. Pasti itu.. gak pernah aku bayangin kalau Pandu bakalan ninggalin aku secepat ini.
"Mas Raga tadi juga sudah cerita ke aku May...memang kecelakaannya kemarin tapi mas Raga dan kedua orangtua Pandu masih mencari informasi apa benar itu pesawat yg dikemudikan sama Pandu, dan ternyata emang benar, dan baru tadi pagi daftar nama korban dikasih tau" jelas Risky sambil duduk dipinggiran ranjangku.
"Dddaann... namaa Pan..du ada?" Tanya ku agak terbata.
Risky mengangguk.
Tangisku pecah kembali.
Nindy tetap memelukku dan Reyhan mengenggam tanganku erat.
"Jenazahnya insyaallah lusa baru tiba di Indonesia May karena masih di indentifikasi"
"Panduuuuu.... panduuu kamu jahat kenapa ninggalin aku dengan cara kayak gini!!!"
"Kenapa kamu kemarin ngajakin aku nikah kalau kamu bakal ninggalin aku! Kenapa ndu kenapaa!!!" Kataku meracau
"Sstt Hey... dont say like that!!" Kata Reyhan, telunjuknya diletakkan dibibirku.
Lalu dia mengusap pipiku.
"May.. semua sudah ada yang ngatur, ini takdir Allah, jodoh rezeki maut tidak ada yang tahu, semua itu rahasia Allah, kamu harus ikhlas May" lanjut Reyhan.
"Tapi... tapi... kenapa harus Pandu ??? Kenapa harus aku yang ngalamin???"
"Mayra... please.. jangan kayak gini, Pandu pasti sedih liat kamu kayak gini" kata Risky.
"Huhuhu...huhu...huhu..."
Tangisku kembali pecah.
Aku kangen kamu Pandu
Kenapa kamu harus ninggalin aku sekarang.
**************
Sore hari aku dan teman-teman semua prepare untuk pementasan.
Aku mulai merias wajahku,
Mataku agak sembab karena menangis.
Ku rias wajahku, aku harus tampil maksimal, walau hatiku sakit, hatiku perih dan kakiku masih nyeri.
Aku pakai semua aksesoris pakaian tari ku.
Tari Bedhaya dimana kostumnya sama dengan pengantin Jawa.
Dengan riasan paes ageng, bunga melati, cunduk mentul dll.
Bak seorang pengantin Jawa, kami semua tim penari sudah siap.
Risky dan tim pemusik juga sudah siap dengan baju bascap Jawanya.
Sambil menunggu giliran tampil kami menunggu di belakang panggung.
Semua temanku berusaha menghiburku.
Aku sendiri sudah berjanji tak mau memperlihatkan rasa sedihku didepan semua temanku.
Aku ikut bercanda dengan teman-temanku.
Nindy memelukku dari samping.
Aku tersenyum padanya.
Tak lama Reyhan datang menghampiri kami.
Dia terlihat tampan dengan kostum ala India nya. Rambut yang agak gondrong berkibar-kibar kena angin.
"Woww... you look so gorgeous sweety" katanya sambil duduk disebelahku.
"Thankyou" jawabku dan kuberikan senyum padanya.
"Beautiful smiles"
"By the way, besok pagi kita berangkat, aku sudah beli tiket pesawat, jadi biar cepet kita sampai" kata Reyhan
"Pesawat??" Kataku ragu.
"Yes of course, dont worry, I will always beside you" kata Reyhan menepuk bahuku.
Aku tersenyum.
"Oke" jawabku singkat
Dan Reyhan langsung balik lagi ke tim nya.
Tak lama giliran tim kami tampil.
Kami semua memberikan penampilan yang paling terbaik dari kami.
Tak terkecuali aku.
Aku menikmati tarian yg aku tarikan ini. Menikmati setiap alunan gendingnya, menikmati suara sinden yang mengiringi, menikmati makna dari tari Bedhaya ini.
Tak terasa aku menari dengan airmata yang keluar dari mataku.
Dari filosofi tari Bedhaya itu mengisahkan kisah percintaan dari Kanjeng Ratu. Yaa aku mengibaratkan juga dengan kisahku, aku yang ditinggalkan oleh kekasihku untuk selamanya.
Aku menari dengan hatiku.
Aku menari dengan rasaku.
Dan aku menari dengan pikiranku.
Aku berharap semoga aku bisa menerima semua ini dengan ikhlas.
*****************
Setelah selesai tampil.
Aku tidak bisa menahan lagi. Aku menangis lagi.
Teman-temanku semua memelukku, mereka seakan paham apa yang sedang aku alami.
Lalu aku kembali keruang rias.
"Hey..."
"Kamu keren... " katanya yang tiba-tiba sudah disampingku.
"Makasih" jawabku sigkat sambil terus berjalan
"Dont be sad again yah..." katanya sambil menghentikan langkahku
"Aku selalu ada buat kamu"
Aku tersenyum pada Reyhan...
"Makasih Rey... kamu baik " kataku lalu pergi meninggalkan Reyhan
"Heii !!! Liat penampilanku ya nanti! Haruss !!!
**************
0