- Beranda
- Stories from the Heart
I Love You Mr. India
...
TS
ajenggputriii
I Love You Mr. India
Namaku Mayra Sekarang aku sedang berkuliah di salah satu kampus negeri di kotaku, jurusan Seni Tari
Yaa.. aku seorang penari
Darah seni memang mengalir dalam tubuhku dari mamah yang dulu juga seorang penari tradisional.
Aku sangat mencintai semua yang berbau seni, tapi yang paling aku suka ya itu Tari. Entah itu tari tradisional ataupun modern.
Selain kuliah aku juga aktif di sanggar seni tari. Dan menjadi salah satu pengajar disana. Jadi waktuku sehari-hari aku habiskan di kampus atau sanggar.
Sekilas tentang aku
Kulitku sawo matang, tidak tinggi tidak pendek yaa standarnya cewek lah hehe, rambut ku panjang sepunggung tp lebih sering aku gulung sih, agak tomboy, gak suka pakai rok,gak suka bunga, gak suka belanja, gak suka dandan terkecuali kalau sedang manggung atau pentas aku berubah 180° hehe
Maaf kan yang bahasanya acak adul ya gan
.. masih newbie nih hehe
Semoga suka

Dan kalau berkenan mau dong
sama 
Biar makin semangat update nya

Oya ini cerita fiksi ya gan..
Indeks
1(Pengumuman)
2(Gelisah)
3(Latihan)
4(Surprise)
5(Firasat)
6(Bali)
7(Pertemuan Pertama)
8(Hari I Karantina)
9(Hari II Karantina)
10(Hari III Karantina Kabar Buruk)
11(Kepergianmu)
12(Reyhan)
13(Move On)
14(Cemburu)
15(Penjelasan)
16(Jalan Berdua)
17(Awal Yang Baru)
18(Kedatanganmu)
19(Peringatan)
20(Psycopat Wanita)
21(Sayang)
22(Minta Izin)
23(Main Tumse...)
24(Nembak)
25(Rencana)
26(Sadar)
27(Tugas Akhir)
28(Risky)
Diubah oleh ajenggputriii 31-08-2017 11:47
anasabila memberi reputasi
1
19.9K
185
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ajenggputriii
#129
21. Sayang
Saat aku membuka mata ternyata aku sudah berada dirumah sakit.
Telapak tanganku diperban dan rasanya seperti mati rasa, dan ditangan kiriku ada selang transfusi darah. Rasanya aku tadi pingsan karena kehabisan darah.
Ku lihat ada mas Raga disampingku dan Ravi ada di sofa.
"Mas"kataku pelan
"Eh dek sudah sadar,gimana?apa yang kamu rasain?"tanya mas Raga cemas sambil membelai rambutku
Aku menggeleng
"Kepalaku masih pusing mas" jawabku sambil menekan kepalaku sendiri
"Iya dek kamu kehabisan darah,darah kamu keluar banyak jadi sekarang harus ditransfusi" jelas mas Raga
"Mas....tanganku kok mati rasa gini" rengekku manja
Mas Raga tersenyum tipis
"Gakpapa,masih efek bius itu. Luka di tanganmu mesti dijahit karena sobeknya lebar"
Lalu Ravi berjalan mendekat kearah ranjangku.
"You will be okay soon" kata Ravi sambil melipat tangan didadanya dan tersenyum padaku.
Aku membalasnya dengan senyuman juga.
Lalu aku melihat sekitar.
"Cari Reyhan?"tanya Ravi
"Iya,apa dia baik-baik saja?" Tanyaku.
"Dia baik-baik saja hanya luka sedikit di wajahnya"
Tak lama muncullah orang yang kami bicarakan tadi.
Dia sudah didepan pintu ruangku.
Dia sudah ganti pakaian bersih dan ada plester dibawah bibirnya juga di pelipisnya.
Dia berjalan gontai menujuku dengan menatapku iba.
"Rey" ucapku lalu berusaha untuk duduk.
Reyhan lalu berlari dan membantuku untuk duduk.
Mas Raga dan Ravi meninggalkan kami berdua. Sepertinya mereka paham apa yang aku pengen hehe.
"Kamu jangan banyak gerak dulu" kata Reyhan lalu menaruh bantal untuk senderanku.
"Aku gakpapa kok kan yang luka cuma tanganku doang" elakku.
Aku berusaha memandang mata Reyhan,karena dari tadi dia berusaha menghindar untuk menatap mataku.
"Meskipun cuma tangan namanya luka ya luka apalagi sampai dijahit! Dan itu butuh waktu lama untuk kembali pulih. Apalagi tangan kanan kamu bakalan susah mau ngapa-ngapain!" Kata Reyhan panjang lebar yang masih terus menghindar untuk menatapku langsung. Dia malah mengupas buah untukku.
Aku lalu memegang lengannya.
Dia menghentikan apa yang dilakukannya dan masih tertunduk.
"Rey" kataku pelan
Reyhan masih menunduk.
"Rey liat aku" aku mendongakan wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, lalu ada air menetes disudut matanya.
"Hey...kenapa kamu menangis?"
Reyhan lalu memelukku. Dia menangis dipelukanku.
"Rey..kenapa kamu menangis?"tanyaku lagi sambil mengusap punggungnya.
Reyhan melepas pelukannya perlahan dan duduk diranjang juga. Lalu dia menggenggam tangan kiriku.
"Im sorry.. im so sorry May" kata Reyhan yang masih terus menunduk.
"Hey..Rey..kenapa harus minta maaf? Udah aku gakpapa kok aku baik-baik saja" kataku menghiburnya.
"Ini semua salahku,aku melibatkanmu kedalam masalahku dengan cewek gila itu! Dan jadinya kamu yang terluka,sorry May.. aku gak mau kamu jadi terluka seperti ini,seharusnya kamu biarin aja dia nusuk aku!"
"Ssstt... ngomong apa sih!" Aku lalu menghapus airmatanya ya tetap dengan tangan kiriku karena tanganku yang berfungsi sementara masih hanya satu.
"Kalau kamu yang kenapa-kenapa nanti aku sama siapa dong?" Aku lalu tertawa kecil. Reyhan juga ikut tertawa. Dia membelai wajahku sambil menatapku dalam.
"Eum..Berarti kamu harus selalu nemenin aku selama ini ku belum sembuh" kataku sambil menunjuk tangan kananku yang masih diam ditempat karena memang masih mati rasa. Enggak tau lagi kalau efek biusnya hilang bakalan nyeri nyut-nyutan hufft
"With pleasure my lady"
Kami pun tersenyum bersama.
"Oh ya terus Gauri gimana?" Tanyaku.
Reyhan lalu menyuapiku dengan buah apel yang sudah dikupasnya tadi.
"Dia dideportasi dan dihukum di India karena dia warga negara India" jawab Reyhan
"Lha terus kenapa kamu bisa disekap sama dia?masa cowok kalah sama cewek?" Ledekku lalu tertawa kecil.
"Enak aja" kata Reyhan sambil mengacak-acak rambutku
"Kemarin waktu aku nyampe rumah gak lama ada yang telfon katanya kamu diculik,aku telfon Raga juga gak aktif"
"Iya mati emang hapenya mas Raga" kata lu memotong penjelasan Reyhan
"Dengerin dulu anak kecil!" Kata Reyhan sebal.
"Hehehe"aku terkekeh
"Terus itu penculik ngasih petunjuk arah dimana kamu disekap pas aku nyampe disana eh aku dipukul dari belakang ya udah pingsan deh" jelas Reyhan sambil terus menyuapiku dengan apel.
"Pingsan trus ada tuan puteri Gauri nyium sadar deh" ledekku lagi
"Nih anak dari tadi ngeledekin terus ya" Reyhan kesal lalu mulai mengacak-acak rambutku lagi.
Aki hanya tertawa melihat Reyhan kesal. Lucu kalau dia lagi ngambek.
"Boro-boro dicium eh malah ditonjokin ama preman-preman itu waktu sadar."
"Uhh tatian..atit yaa"kata ku sambil mengusap pipinya
"Iya atit sayang" kata Reyhan manja.
Kutekan saja itu luka yang pas dibawah bibirnya.
"Aduuuh!!! kejem banget sih jadi cewek" seru Reyhan sambil mengusap-ngusap bibirnya.
"Biarin week!" Aku menjulurkan lidahku.
Reyhan lalu mengusap pipiku lembut dan tersenyum penuh arti
"Lalu ada tuan puteri yang menyelamatkan pangerannya,makasih ya May"
"Sama2 Rey"
Reyhan lalu menyuapiku lagi.
Kok gak habis-habis ya ini buah dimakan dari tadi??
Aku lalu menghela nafas panjang.
"Kenapa?" Tanya Reyhan menghentikan suapannya.
Aku memandangnya tajam.
"Seret tauk!dari tadi disuapin gak berhenti-berhenti"
Reyhan tertawa lalu dia mengambilkan minum untukku.
"May... I love you" kata Reyhan yang sukses membuatku tersedak sampai terbatuk-batuk.
Reyhan mengusap punggungku.
Dia terlihat bingung sekali.
"Kamu tuh bikin kaget aja" ucapku sebal sambil memukul lengan berototnya.
"Kok kaget sih? Bukannya dijawab malah kaget"
Aku pun tertawa kecil lalu menatap Reyhan dalam.
"I love you too Rey" kata ku sambil tersenyum
"Really???" Matanya terbelalak gak percaya.
Aku mengangguk.
Reyhan lalu memelukku erat. Dan dia mencium keningku.
Rasanya memang aku mulai menyayangimu Rey.
Yang kulakukan kemarin sudah membuktikan kalau aku memang menyukaimu.
Karena aku tidak ingin melihat orang yang aku sayangi terluka.
*********
Sore harinya aku sudah diperbolehkan pulang dan selang transfusi sudah dilepas.
Badanku sudah sedikit lebih enakkan. Tapi efek dari bius perlahan mulai hilang dan rasa nyeri mulai muncul.
Uhh rasanya sakit sekali. Kesenggol dikit rasanya luar biasa loh.
Aku menahan rasa nyeri yang ditanganku.
Mas Raga dan Reyhan masih mengurus administrasi serta menebus obat untukku.
Ravi membantuku membereskan barang-barangku.
Sedangkan Risky dan Nindy masih di kampus sekalian mereka mengajukan izin untukku karena tidak bisa kuliah sementara waktu.
Aku duduk di sofa sambil memegang tangan kananku.
Ku gigit bibir bawahku untuk menahan rasa nyeri yang mulai hebat.
Ravi mendekatiku dan duduk disebelahku.
"Sakit ya?" Tanya nya
Aku mengangguk
"Tahan sebentar ya,obatnya masih ditebus sama Reyhan"
Tumben nih orang perhatian biasanya mah cuek banget.
"Reyhan beruntung ya dapetin kamu" kata Ravi yang masih menatapku.
"Hah?maksudnya?"
"Iya kamu pemberani dan kamu wanita kuat,makanya Reyhan sangat menyukaimu. aku belum pernah melihat dia menyukai seorang wanita dengan serius kecuali sama kamu"
"Selama ini dia selalu cuek dengan wanita manapun sampai akhirnya ketemu sama kamu dan dia selalu cerita tentangmu denganku" lanjut Ravi sambil tersenyum
"Dan kamu tahu,kemarin dia sangat sedih dan terpukul melihat kamu terluka. Dia gak berhenti menyalahkan dirinya sendiri"
"Hah?serius?" Tanyaku gak percaya
Ravi menganggukan kepala
"Saat dokter bilang kamu kehabisan darah dia orang pertama yang bersedia mendonorkan darahnya dan kebetulan golongan darah kalian sama" jelas Ravi
"Jadi Reyhan yang mendonorkan darahnya buatku?"
"Iya"
Makasih Rey, kamu sudah menyelamatkan hidupku.
Kamu memang yang dikirimkan Allah untukku dan untuk menggantikan Pandu di dunia ini.
Mas Raga dan Reyhan pun datang. Lalu kami meninggalkan rumah sakit dan pulang kerumah.
**************
Telapak tanganku diperban dan rasanya seperti mati rasa, dan ditangan kiriku ada selang transfusi darah. Rasanya aku tadi pingsan karena kehabisan darah.
Ku lihat ada mas Raga disampingku dan Ravi ada di sofa.
"Mas"kataku pelan
"Eh dek sudah sadar,gimana?apa yang kamu rasain?"tanya mas Raga cemas sambil membelai rambutku
Aku menggeleng
"Kepalaku masih pusing mas" jawabku sambil menekan kepalaku sendiri
"Iya dek kamu kehabisan darah,darah kamu keluar banyak jadi sekarang harus ditransfusi" jelas mas Raga
"Mas....tanganku kok mati rasa gini" rengekku manja
Mas Raga tersenyum tipis
"Gakpapa,masih efek bius itu. Luka di tanganmu mesti dijahit karena sobeknya lebar"
Lalu Ravi berjalan mendekat kearah ranjangku.
"You will be okay soon" kata Ravi sambil melipat tangan didadanya dan tersenyum padaku.
Aku membalasnya dengan senyuman juga.
Lalu aku melihat sekitar.
"Cari Reyhan?"tanya Ravi
"Iya,apa dia baik-baik saja?" Tanyaku.
"Dia baik-baik saja hanya luka sedikit di wajahnya"
Tak lama muncullah orang yang kami bicarakan tadi.
Dia sudah didepan pintu ruangku.
Dia sudah ganti pakaian bersih dan ada plester dibawah bibirnya juga di pelipisnya.
Dia berjalan gontai menujuku dengan menatapku iba.
"Rey" ucapku lalu berusaha untuk duduk.
Reyhan lalu berlari dan membantuku untuk duduk.
Mas Raga dan Ravi meninggalkan kami berdua. Sepertinya mereka paham apa yang aku pengen hehe.
"Kamu jangan banyak gerak dulu" kata Reyhan lalu menaruh bantal untuk senderanku.
"Aku gakpapa kok kan yang luka cuma tanganku doang" elakku.
Aku berusaha memandang mata Reyhan,karena dari tadi dia berusaha menghindar untuk menatap mataku.
"Meskipun cuma tangan namanya luka ya luka apalagi sampai dijahit! Dan itu butuh waktu lama untuk kembali pulih. Apalagi tangan kanan kamu bakalan susah mau ngapa-ngapain!" Kata Reyhan panjang lebar yang masih terus menghindar untuk menatapku langsung. Dia malah mengupas buah untukku.
Aku lalu memegang lengannya.
Dia menghentikan apa yang dilakukannya dan masih tertunduk.
"Rey" kataku pelan
Reyhan masih menunduk.
"Rey liat aku" aku mendongakan wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, lalu ada air menetes disudut matanya.
"Hey...kenapa kamu menangis?"
Reyhan lalu memelukku. Dia menangis dipelukanku.
"Rey..kenapa kamu menangis?"tanyaku lagi sambil mengusap punggungnya.
Reyhan melepas pelukannya perlahan dan duduk diranjang juga. Lalu dia menggenggam tangan kiriku.
"Im sorry.. im so sorry May" kata Reyhan yang masih terus menunduk.
"Hey..Rey..kenapa harus minta maaf? Udah aku gakpapa kok aku baik-baik saja" kataku menghiburnya.
"Ini semua salahku,aku melibatkanmu kedalam masalahku dengan cewek gila itu! Dan jadinya kamu yang terluka,sorry May.. aku gak mau kamu jadi terluka seperti ini,seharusnya kamu biarin aja dia nusuk aku!"
"Ssstt... ngomong apa sih!" Aku lalu menghapus airmatanya ya tetap dengan tangan kiriku karena tanganku yang berfungsi sementara masih hanya satu.
"Kalau kamu yang kenapa-kenapa nanti aku sama siapa dong?" Aku lalu tertawa kecil. Reyhan juga ikut tertawa. Dia membelai wajahku sambil menatapku dalam.
"Eum..Berarti kamu harus selalu nemenin aku selama ini ku belum sembuh" kataku sambil menunjuk tangan kananku yang masih diam ditempat karena memang masih mati rasa. Enggak tau lagi kalau efek biusnya hilang bakalan nyeri nyut-nyutan hufft
"With pleasure my lady"
Kami pun tersenyum bersama.
"Oh ya terus Gauri gimana?" Tanyaku.
Reyhan lalu menyuapiku dengan buah apel yang sudah dikupasnya tadi.
"Dia dideportasi dan dihukum di India karena dia warga negara India" jawab Reyhan
"Lha terus kenapa kamu bisa disekap sama dia?masa cowok kalah sama cewek?" Ledekku lalu tertawa kecil.
"Enak aja" kata Reyhan sambil mengacak-acak rambutku
"Kemarin waktu aku nyampe rumah gak lama ada yang telfon katanya kamu diculik,aku telfon Raga juga gak aktif"
"Iya mati emang hapenya mas Raga" kata lu memotong penjelasan Reyhan
"Dengerin dulu anak kecil!" Kata Reyhan sebal.
"Hehehe"aku terkekeh
"Terus itu penculik ngasih petunjuk arah dimana kamu disekap pas aku nyampe disana eh aku dipukul dari belakang ya udah pingsan deh" jelas Reyhan sambil terus menyuapiku dengan apel.
"Pingsan trus ada tuan puteri Gauri nyium sadar deh" ledekku lagi
"Nih anak dari tadi ngeledekin terus ya" Reyhan kesal lalu mulai mengacak-acak rambutku lagi.
Aki hanya tertawa melihat Reyhan kesal. Lucu kalau dia lagi ngambek.
"Boro-boro dicium eh malah ditonjokin ama preman-preman itu waktu sadar."
"Uhh tatian..atit yaa"kata ku sambil mengusap pipinya
"Iya atit sayang" kata Reyhan manja.
Kutekan saja itu luka yang pas dibawah bibirnya.
"Aduuuh!!! kejem banget sih jadi cewek" seru Reyhan sambil mengusap-ngusap bibirnya.
"Biarin week!" Aku menjulurkan lidahku.
Reyhan lalu mengusap pipiku lembut dan tersenyum penuh arti
"Lalu ada tuan puteri yang menyelamatkan pangerannya,makasih ya May"
"Sama2 Rey"
Reyhan lalu menyuapiku lagi.
Kok gak habis-habis ya ini buah dimakan dari tadi??
Aku lalu menghela nafas panjang.
"Kenapa?" Tanya Reyhan menghentikan suapannya.
Aku memandangnya tajam.
"Seret tauk!dari tadi disuapin gak berhenti-berhenti"
Reyhan tertawa lalu dia mengambilkan minum untukku.
"May... I love you" kata Reyhan yang sukses membuatku tersedak sampai terbatuk-batuk.
Reyhan mengusap punggungku.
Dia terlihat bingung sekali.
"Kamu tuh bikin kaget aja" ucapku sebal sambil memukul lengan berototnya.
"Kok kaget sih? Bukannya dijawab malah kaget"
Aku pun tertawa kecil lalu menatap Reyhan dalam.
"I love you too Rey" kata ku sambil tersenyum
"Really???" Matanya terbelalak gak percaya.
Aku mengangguk.
Reyhan lalu memelukku erat. Dan dia mencium keningku.
Rasanya memang aku mulai menyayangimu Rey.
Yang kulakukan kemarin sudah membuktikan kalau aku memang menyukaimu.
Karena aku tidak ingin melihat orang yang aku sayangi terluka.
*********
Sore harinya aku sudah diperbolehkan pulang dan selang transfusi sudah dilepas.
Badanku sudah sedikit lebih enakkan. Tapi efek dari bius perlahan mulai hilang dan rasa nyeri mulai muncul.
Uhh rasanya sakit sekali. Kesenggol dikit rasanya luar biasa loh.
Aku menahan rasa nyeri yang ditanganku.
Mas Raga dan Reyhan masih mengurus administrasi serta menebus obat untukku.
Ravi membantuku membereskan barang-barangku.
Sedangkan Risky dan Nindy masih di kampus sekalian mereka mengajukan izin untukku karena tidak bisa kuliah sementara waktu.
Aku duduk di sofa sambil memegang tangan kananku.
Ku gigit bibir bawahku untuk menahan rasa nyeri yang mulai hebat.
Ravi mendekatiku dan duduk disebelahku.
"Sakit ya?" Tanya nya
Aku mengangguk
"Tahan sebentar ya,obatnya masih ditebus sama Reyhan"
Tumben nih orang perhatian biasanya mah cuek banget.
"Reyhan beruntung ya dapetin kamu" kata Ravi yang masih menatapku.
"Hah?maksudnya?"
"Iya kamu pemberani dan kamu wanita kuat,makanya Reyhan sangat menyukaimu. aku belum pernah melihat dia menyukai seorang wanita dengan serius kecuali sama kamu"
"Selama ini dia selalu cuek dengan wanita manapun sampai akhirnya ketemu sama kamu dan dia selalu cerita tentangmu denganku" lanjut Ravi sambil tersenyum
"Dan kamu tahu,kemarin dia sangat sedih dan terpukul melihat kamu terluka. Dia gak berhenti menyalahkan dirinya sendiri"
"Hah?serius?" Tanyaku gak percaya
Ravi menganggukan kepala
"Saat dokter bilang kamu kehabisan darah dia orang pertama yang bersedia mendonorkan darahnya dan kebetulan golongan darah kalian sama" jelas Ravi
"Jadi Reyhan yang mendonorkan darahnya buatku?"
"Iya"
Makasih Rey, kamu sudah menyelamatkan hidupku.
Kamu memang yang dikirimkan Allah untukku dan untuk menggantikan Pandu di dunia ini.
Mas Raga dan Reyhan pun datang. Lalu kami meninggalkan rumah sakit dan pulang kerumah.
**************
0