Kaskus

Story

kiocatra919Avatar border
TS
kiocatra919
Sang Paku Bumi
Diubah oleh kiocatra919 09-06-2025 08:39
mantu.borosAvatar border
hallohaAvatar border
pulaukapokAvatar border
pulaukapok dan 6 lainnya memberi reputasi
7
3K
39
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
kiocatra919Avatar border
TS
kiocatra919
#4
Aku langsung wudhu, dan sholat subuhan. Gantian Sama Pak Bram. Habis subuhan kuteruskan tidurku sambil merehatkan kaki yang dari tadi ketekuk di bis. Jam 9 pagi aku terbangun. Kulihat Pak Bram sudah menikmati secangkir kopi hitam dan jajanan pasar isi gula merah.

“Mari makan dulu..” suami Bu Nikmah mengajak kami berdua makan siang.

“San nggak makan, ayo makan ” mulailah canda Pak Bram sambil ketawa-ketiwi, mengejekku yang lagi puasa.

“Mari Mas …” pamit makan Pak Jas, suami Mbak Piah.

“Iya, mangga…”

Kuselonjorkan kakiku, sambil mainin HP. Pak Bram kembali ke ruang tamu dan mulai menyulut rokok Mild-nya dengan korek api. Bu Nikmah menghampiri kami dan menceritakan keluh kesah kepada kami awal kisah sakitnya diguna-guna kiriman dukun sejak masih kerja di Arab Saudi.

“Aku nggak pernah jahat sama orang, kok tapi selalu di buat sakit sama orang” curhat Bu Nikmah kepada kami.

“Itu ujian untuk menaikkan kelas. Harus sabar. Kalo nggak ada ujian kelas, kita nggak akan naik-naik derajad kita di sisi Allah SWT.” Kata Pak Bram memberi semangat Bu Nikmah”

“Tapi aku bersyukur alhamdulillah ya, Allah, Engkau mengujiku agar selalu bersabar, nggak papa aku susah seperti ini aku ridho dengan ujian ini.”

“Aku selalu mimpi didatangi kakek-kakek di setiap mimpiku, apa di dalam tubuhku ini ada banyak jin kiriman dukun?” tanya Bu Nikmah penasaran.

“Ada kulihat nanti.. Didongkrak lagi aja,” kata Pak Bram memberi solusi.

“Oh kayak di Malang kemarin ya…”

“Iya… Nanti dukunnya di medium bisa.”

Setelah kami berbincang-bincang dengan Bu Nikmah. Bu Nikmah kembali ke belakang.

“San, tarik saja Jin penghuni rumah ini. Semua yang di atas dan di bawah rumah dan penguasa terkuat kecamatan Utan!”

“Siaaap”

Langsung ku tarik jin semua penghuni rumah Bu Nikmah dan lalu kuberi perintah untuk menjaga penghuni rumah ini dari dari serangan Dukun, tak lupa ku persenjatai dan ku tambah power jinnya.

“Eh ku tarik saja penguasa terkuat Kecamatan Utan ini,” kata Pak Bram sambil konsentrasi menarik sesuatu.

Dan penguasa terkuat di Kecamatan Utan ketarik di hadapan Pak Bram dan langsung di-Islamkan dan diberi perintah menjaga rumah ini dari serangan, dan sebagian prajuritnya di sebar di sekitar rumah ini.

Jam 3 sore, aku membantu Pak Bram mengisikan air Do’a yang kami bawa tadi ke botol Kratingdeng. Untuk pagaran Rumah Mbak Piah dan Rumah Bu Nikmah yang udah dibangun lokasinya masih satu desa dengan Rumah Mbak Piah, tapi Rumah Bu Nikmah ini dibiarkan kosong bertahun-tahun belum dihuni katanya menunggu suaminya pulang dari Arab Saudi. Dan takut kalo tinggal berdua sama Anaknya yang kecil disana. Karena di samping rumah itu tetangganya pernah disatroni perampok sampai tiga kali. Dan lakinya rumah itu sampai gelut bertengkar dengan perampok, alhamdulillah masih selamat.

Setelah selesai, kami di ajak melihat rumah yang dibangun Bu Nikmah, Rumahnya besar dan luas. Tinggal mempercantik saja. Terlihat gentengnya agak bocor, dan jendelanya ada yang pecah. Kuhitung kamarnya ada empat. Dan kamar mandinya dua. Di dalamnya ruangannya luas. Tapi sayang temboknya ada yang udah terkikis, karena memang rumahnya belum dihuni pemiliknya.

Ketika melihat genteng-genteng yang ditaruh di bawah. Tiba-tiba Pak Bram memintaku untuk mencabut serangan kiriman dukun yang ditujukan ke kakinya. Langsung kutarik cabut dari kaki Pak Bram. Sebenarnya dari semenjak perjalanan naik bus kaki Pak Bram udah terasa sakit dapat serangan. Ketika Pak Bram di bus bilang anggota tubuhnya terasa sakit. Langsung aku konsentrasi ku salurkan hawa energi mencabut serangan dukun dan kusalurkan energi penyembuh ke anggota tubuh Pak Bram terutama kaki dan perutnya selama perjalanan yang menjadi sasaran dukun. Itulah enaknya bersama tidak sendirian, saling bahu-membahu jihad melawan dukun.

Habis sholat magrib aku buka puasa. Sudah disiapkan oleh Mbak Piah. Dari mulai es Susu Marjan warnanya merah muda, tiga gelas dan dua cangkir kopi susu. Wah, makanan ikan laut, cumi-cumi bumbu pedas, mie, kulup bayam, sudah tertata rapi. Langsung kuambil nasi dan ambil cumi-cumi bumbu pedasnya, sedikit mie dan kulup. Ah, nikmatnya alhamdulillah.

“Ayo Mas, imbuh lagi makanya.. hehehe” kata Pak Jas senyam-senyum sambil melihatku.

Selama kami di sana hujannya makin deras. Dan listriknya dimatikan sama pusat, jika udah reda dinyalakan lagi, sampai 2 kali dimatikan pusat waktu kami lagi ngobrol-ngobrol sama Pak Jas dan Mbak Piah. Ketika hujanya tetap tidak reda malam itu, kucoba tanganku arahkan atap langit-langit rumah diiringi tangan Pak Bram juga, aku dan Pak Bram sama-sama konsentrasi menghentikan hujan deras ini.

Alhamdulillah seketika itu hujan langsung reda. Dan kami mulai mendongkrak atau bahasa gaul rukyah, seluruh anggota rumah ini. Pak Bram merukyah Bu Nikmah, aku sendiri merukyah Pak Jas yang katanya keluhannya tidak punya anak. Suaminya Bu Nikmah yang masih di Arab Saudi menyaksikan proses Rukyah “Dongkrak” Lewat Video Call HP.

Ganti selanjutnya anak yang kecil Bu Nikmah yang umur 3 tahun dan selanjutnya Mbak Piah. Selesei Rukyah, aku dan Pak Bram memedium Dukun. Pak Bram sebagai mediatornya. Kutarik dukun terkuat yang menyerang Bu Nikmah dan kumasukkan ke mediator. Kulihat sudah masuk ruh dukunnya.

“Udah masuk, hayo siapa ini?”

“Kamu siapa? Tarik aku sampai aku disini?”

“Hmm.. Kamu tahu siapa aku?”

“Nggak tahu.. Aku nggak kenal, Seenaknya main tarik-tarik hrr…hrmmm,” si mediator terlihat ekspresinya marah mengeram mau menyerangku.

Langsung aja nggak pakai lama ku buat tali ikatan mengikat ruh dukun, dan aku konsentrasi, tangan ku kuputar kubayangkan membuat ikatan mengikat ruh dukun di depanku. Terlihat si mediator jadi diam tak bisa bergerak. Tanganku kubuka, di depan mediator dan aku konsentrasi menyedot ruh dukun dan tanganku kugerakan seperti memegang erat sesuatu dari genggaman tangan. Langsung saja kulepaskan dalam bayangan. Saya lemparkan ruh dukun itu masuk ke neraka. Dan bluk terdengar suara geblak badannya Pak Bram ke belakang. Wah aku terkejut juga, melihat raga Pak Bram yang kujadikan mediator nggak bangun-bangun. Seperti ada yang menuntunku untuk menarik sisa Ruh dan sukma dukun, langsung ku kembalikan semua ruh dan sukma Pak Bram ke Tubuhnya. Alhamdulillah Pak Bram berangsur-angsur bangun.

“Bangun .. Hei.. bangun,” kataku di samping tubuh Pak Bram yang masih tergeletak di lantai. Dan Pak Bram mulai sadar bangkit bangun.

“Ruhnya dukun kamu remas dan hanyutkan ke sungai, San?”

“Aku lempar saja ke Neraka tadi”

“Oh… ”

Pak Jas dan Mbak Piah yang dari tadi menyaksikan hanya melongo matanya tanpa berkedip melihat kejadian tersebut. Sekarang gantian aku dijadikan mediator untuk memedium jin yang menyukai Mbak Piah. Sore tadi Mbak Piah cerita waktu ada Bu Nikmah juga, bahwa dia disukai jin, tiap malam hadir di mimpinya, dan jin itu di mimpi mau mengajak nikah Mbak Piah. Saking jengkelnya dia tiap malam dimimpi’in jin itu. Ketika jin itu hadir di mimpinya dia langsung memarahinya, namun karena jin itu terlanjur kasmaran, walaupun cintanya sudah ditolak Mbak Piah. Tetap aja dia masih sering hadir dimimpi.

Pak Bram menarik jin di belakang rumah dan memasukkan ke ragaku. Medium itu bisa full dan bisa 50% sadar jadi bisa dikontrol, seperti mediumisasi jin ini, aku bisa mengontrol dan masih bisa mendengar jelas pembicaraan pemediator. Kalau medium ruh dukun tadi itu mediumnya full, orang yang dirasuki bisa polah seenaknya mau junggakir-balik maupun berdiri buat gerakan mau silat terserah mengikuti tinggakah polah ruh yang di masukan ke mediator tadi.

“Siapa ini…?”

“Jin… “

“Kamu yang mengganggu Mbak Piah, tiap malam hadir di mimpinya??”

“Iya…”

“Kenapa kamu selalu mengganggu dengan hadir di mimpi?”

“Iya karena aku suka dia,” si mediator tanganya menunjuk Mbak Piah.

“Kamu masuk Islam ya?”

“Iya………”

“Ini kukasih ilmu sholat. Dzikir TQNS coba lihat di tanganmu” .

Si mediator melihat telapak tanganya.

“Oh ya… ya…”

“Ini ku kasih senjata pedang.”

Si mediator mengangkat tangan kanannya seperti memegang pedang yang besar.

“Sekarang kamu jangan ganggu Mbak Piah, jaga rumah ini dari serangan Dukun”

“Iya.. iya… siaap”

“Berapa temanmu di belakang Rumah??”

“Ada 900an…”

“Tarik ke sini… Ajak masuk Islam semua..!!”

Mediator mengangkat tangannya dan seperti menarik sesuatu digenggamannya, dan dihantamkan ke lantai. Lalu membuat lingkaran.

“Udah Islam semuanya temanmu?”

“Udah.. ”

“Sekarang suruh temanmu jaga rumah ini dari serangan Dukun!!”

“Iya … Iya… “

“Sekarang kamu boleh kembali..”

Pak Bram menarik Jin tersebut, dan mediator bangun. Selesai sudah masalah di rumah ini. Pak Bram lalu ke kamar mandi, aku sulut rokok Mildnya milik Pak Bram hehehe. Cari gratisan.

“Mas umurmu berapa?” tanya Pak Jas penasaran.

“Umurku masih 21 tahun Pak”

Pak Jas dan Mbak Piah Saling tengok satu sama lain keheranan.

“Mas ini semuda ini kok ilmunya tinggi?”

“Ya Alhamdulillah dari berkahnya ilmu dari Guruku”

“Pak Bram ini mirip kakaknya, Pak Jas. Persis tingginya, dari posturnya dan wajahnya..” kata Mbak Piah sambil melirik ke Pak Bram yang lagi sholat Isyak.

“Hahaha,” aku dan Pak Jas hanya ketawa-ketiwi.

“ini jajannya kok nggak dimakan?” tanya Mbak Piah sambil memandang jajanan pasar yang isinya gula.

“Jajannya nggak ada yang makan, Mas Hasankan puasa 7 bulan kasian kalo bolong puasanya, mengulangi lagi dari awal”. Kata Pak Bram sambil menuju kursi.

“Oh iya, ya.” Mbak Piah sambil mengambil lengser bekas minuman kopi yang habis.

Aku dan Pak Jas ngobrol sebentar. Dan kami pun tidur istirahat. Baru tidur sejaman. Aku terbangun ada dua orang mengantar susu kuda liar dan madu pesanan Bu Nikmah untuk oleh-oleh kami yang besok pagi pulang. Yang kutahu yang satu orang ini berasal dari Blitar, yang merantau di Sumbawa ikut saudaranya. Aku agak ngantuk jadi nggak konsen dengan pembicaraan Pak Bram dan kedua orang tersebut. Setelah dua orang itu pamit.

Bu Nikmah datang dari dapur, menghampiri kami yang sedang di ruang tamu.

“Aku kok nggak dibangunin waktu mediuman dukun tadi.”

“Mau bangunin tapi takut ganggu istirahat…” kata Pak Bram. Karena memang jin banyak yang keluar dari Bu Nikmah waktu di rukyah tadi. Sampai-sampai pusing kepala Bu Nikmah habis di-rukyah tadi. Bu Nikmah langsung pergi tidur selesai di-rukyah.

“Mas Hasan makan lagi ya sekarang nanti takutnya jam-3an ketiduran nggak ada yang bangunin,” kata Bu Nikmah menyuruh makan sahur.

“Iya sekarang aja, nanti sahurnya nggak usah”

“Mas Hasan ini kuatlah nggak sahur, la kan puasanya aja udah sampai tujuh bulan” timpal Pak Bram.

Malam itu aku makan itung-itung sebagai sahurku. Setelah makan aku teruskan tidur malamku yang terhenti. Untuk persiapan perjalanan panjang besok yang menanti.

Habis subuhan aku masukkan barang-barangku ke tas. Takut lupa ketinggalan. Mbak Piah seperti biasa pagi-pagi sudah mensuguhkan secangkir kopi buat Pak Bram.

“Gimana inih, tiga dukun yang masih tersisa dihabiskan dari sini aja?? Aku meminta pendapat ke Pak Bram.

“Nggak usah kita tarik di rumah aja… “ kata Pak Bram yang masih menikmati setiap sedotan Rokok Mildnya.

“Pak Bram katanya pulangnya hari Rabu, ini malah hari Selasa pagi. Jadi satu harian saja disini, barangkali mau di urungkan niat pulangnya,” kata Bu Nikmah menggandoli kepulangan kami yang begitu cepat.

“Gini lo, aku juga bagi-bagi waktu di sini dan di rumah, soalnya di rumah banyak yang membutuhkanku, ini HP ku dari tadi malam banyak yang menghubungi butuh pertolongan, dan juga kebetulan ayahku juga sedang sakit di rumah”

“Bukan nggak betahnya di sini atau kapok kesini?”

“Nggaklah. Kenapa kapok, aku udah biasa diserang dukun, Malah pernah diserang 70 dukun, kalo di sini mah nggak papa. Aku kuat,” terang Pak Bram.

“Oh berarti bukan nggak betahnya di rumah ini ya..?”

“Bukan”

“Ini nasi bungkus buat perjalanan nanti” kata Mbak piah sambil memberikan nasi bungkus di tas kresek.

Kamipun di antar ke perempatan Kecamatan Utan, menunggu travel yang mengantar kami ke Pol Bis Damri. Sekitar setengah jam kami menunggu Travel ini baru datang di perempatan. Kalo teringat baiknya Keluarga Bu Nikmah kepada kami juga semua akomodasi PP ke Lombok sudah ditanggung suami Bu Nikmah, jadi kami merasa bersalah pulang secepat ini, dan nggak enak merepotkan terus di rumah Mbak Piah, di samping itu sebenarnya jika kami berdua berlama-lama di sana takut banyak serangan yang ditujukan ke kami berdua dampaknya bisa ke keluarga Bu Nikmah dan keluarganya. Makanya Aku dan Pak Bram inisiatif cepat pulang.

Sampai di Pol Damri jam satuan, kemudian kami berangkat ke bandara Lombok Internasional Airpot (LIA) jam 4 sore. Tiba di bandara jam 5 sore. Keberangkatan pesawat kami menuju Bandara Juanda Surabaya Pukul 09.15 menit. Kami ya cuman duduk-duduk aja di bandara sambil lihat orang lalu lalang. Kuselonjorkan kakiku ku lihat ada satu keluarga duduk di samping duduk ku. Yang ku ketahui ini cewek masih muda. Kutaksir umurnya 25an lebih. Namanya Erin.

“Mbak mau kemana?'” tanyaku

“inih mau pulang ke Malaysia, habis liburan dari Bali selama 4 hari di lombok 3 hari”

“Oh, hehehe waktunya pulang kembali kerja”

“Iyah waktunya pulang, uang udah habis, waktunya cari lagi hahaha….”

“Hahaha….”

“Mau ke mana Pak?” Hmm.. masih muda gini aku dipanggil bapak-bapak.

“Mau pulang ke Jawa, di Kediri.”

“Aku pernah ke Jawa waktu preweding di Jogja, candi Prabanan juga,”

“Oh di Jogja, di Malboroo ya?”

“Iya… ”

“Ke Magelang, Candi Borobudur juga?”

“Iya ke sana juga. Datukku kan asalnya dari magelang”

“Sekarang masih hidup?”

“Ya sudah tiada, hahaha….”

“Ini anak kamu ya Mbak?”

“Iya anak kecil ini anakku yang satu ini”

“Coba anak kecil itu bahasa Malaysianya apa, San”? tanya Pak Bram.

“Anak Keeeciiil….”

“Bukan, tapi Budak Keciil”

Hahaha kami dan Erin ini tertawa-tawa kayak sahabat karib saja padahal baru bertemu.

“Kalau Mbak ini mau kemana?” tanya Erin ke cewek berkerudung pink.

“Mau ke Blitar”

“Blitar mana Mbak?” tanyaku penasaran.

“Blitar….. dekat ini….”

“Kok sendirian” tanya Erin.

“Iyah dijemput suami kok.”

“Hmm. Mbak umurnya berapa kok sudah menikah” tanya Erin.

“Iya 20 tahun”.

“Hah umur segitu udah kimpoi? Aku aja umur 25an hehehe. Tuaa,” tanya Erin keheranan.

“Namanya orang pesantren jadi umur segitu udah dinikahkan, adikku umur 17an malah udah nikahkan.”

“Oh…”

“Aku berangkat dulu” kata gadis pink tadi.

“Iyah… “ jawab Erin.

Lima menit kemudian, Erin dan keluarganya udah berangkat. “Duluan Pak”. Sambil senyum. “Iya”. Sambil menunggu buka, ku coba beli kopi di mesin otomatis. Kumasukkan uang 5 ribuan, uangnya kembali masuk, eh, ternyata kalau uangnya tidak melipat sedikit pun, baru mesinya mau menerima uangnya, hehehe.

Jam 09.20 pesawat berangkat dari Bandara Lombok, ketika di penerbangan ini ada terasa yang tidak seperti biasanya, waktu perjalanan penerbangan jadi memakan waktu lama, Pesawat goyang. Selama melintasi awan mendung dan petir kilat. Aku dan Pak Bram hanya berdoa dan konsentrasi untuk membuat perjalanan pesawat ini dijauhkan dari gangguan dan semua penumpang agar tetap selamat sampai tujuan bandara Juanda.

Tiba di bandara Juanda jam 10 malam, keluar bandara kami langsung cari bus Damri yang menuju ke Pol bis. Karena banyak sekali calo di mana-mana. Di pol bis kami cari warung soto dulu hehehe.. Di bandara Lombok tadi perutku hanya kuisi roti dan air mineral, baru di pol ini kuisi nasi. Setelah selesai makan kami cari bus jurusan Madiun. Sampai di Nganjuk di hari Rabu jam setengah 3 pagi.

Aku sekalian mandi di rumahnya Pak Bram, dan makan sahur di sana. Jam 3 pagi kuputuskan langsung pulang ke Kediri. Walaupun sebenarnya aku disuruh istirahat dulu, pulangnya nanti saja. Karena aku nggak suka merepotkan orang, aku pulang naik sepeda motor vega merahku, jalanan masih petang dan sepi, kesempatan ku pacu laju gas motorku sampai di rumah jam 4 pagi.


regmekujo
regmekujo memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.