Kaskus

Story

kiocatra919Avatar border
TS
kiocatra919
Sang Paku Bumi
Diubah oleh kiocatra919 09-06-2025 08:39
mantu.borosAvatar border
hallohaAvatar border
pulaukapokAvatar border
pulaukapok dan 6 lainnya memberi reputasi
7
3K
39
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
kiocatra919Avatar border
TS
kiocatra919
#3
Perjalanan Mistis ke Sumbawa

Sore jam 2an, ada pesan masuk WhatApps dari Pak Bram. Isinya pesan mengajak diriku ke Sumbawa untuk menangani pasiennya. Sore itu langsung ku jawab ok bisa, kebetulan kuliahku libur ada sebulanan setelah UTS semester tujuh. Itung-itung sekalian jalan-jalan refresing biar tambah muda hahaha…


Juma’at malam segera kupersiapkan apa yang harus kubawa. Karena aku nggak punya powerbank buat cas HP di perjalanan. Segera ku meluncur malam itu cari powerbank dan sekalian nge-print revisian bab 3 skripsiku.


Pagi-pagi segera ke rumah temenku Ryan tetangga desa, titip revisian skripsi biar diantar dia ke rumah dosen. Sebetulnya hari Sabtu aku sudah janjian ke rumah dosen pembimbing kami. Karena hari-hari ini kuliah libur, biar cepat selesai, harus ke rumah dosen. Setelah urusanku selesei dengan Ryan, kupersiapkan tas ranselku dan jaket terus meluncur ke Nganjuk dengan sepeda motor Vega merahku. Sampai di Nganjuk satu jam-an. Sesampai di rumah Pak Bram segera kuparkirkan motorku di sebelah tokonya, Senyam-senyum kulihat raut muka Pak Bram melihatku dari dalam tokonya.


“Langsung masuk rumah aja..!,” suara adik Pak Bram di samping Toko yang menyapaku.

“Iya..,” sahutku, segera kutaruh ranselku dan duduk di kursi kayu panjang di samping toko.


“Gimana? Udah siaap nanti? Hehehe,” tanya Pak Bram kepadaku.

“Dah siaaplah segala kemungkinan yang terjadi,” jawabku.

Udah siap sih kita di sana. Kalau diserang dukun, karena kita mengobati pasien sakitnya karena dibuat orang kena gangguan guna-guna dukun. Otomatis kita bakal dapat imbasnya dapat serang dari dukun dalam perjalanan.

Mau berangkat ke terminal ke Surabaya eh dapet barengan dari tetangga depan rumah Pak Bram. Alhamdulillah sampai di Pol Bunga Rasih. Tempat bis ini dekat tol jembatan. Lokasinya strategis tapi sayang bangunanya kurang dirawat. Walaupun bisnya bagus-bagus. Penjaga tempat ini Mas Zar mengeluhkan banyak yang datang, baru masuk ke tempat ini tiba-tiba balik lagi, pulang.


“Oh.. Itu masalahnya banyak kiriman dari saingan bisnis travel ini di depan itu. Banyak jin yang menghalangi orang yang mau datang menyewa bis jadi selalu nggak jadi sewa padahal udah datang ke tempat ini,” terang Pak Bram.

“Owh gitu… Kasian yang kerja di sini kalo nggak dapat orderan bus pariwisata ini mau apa makan apa sopir yang menghidupi anak istrinya? Kalo saya nggak papa karna cuman jaga sini,” kata Mas Zar.

“Gini saja. Tempat ini saya bersihkan gangguan kiriman dari dukun saingan PO Bis ini,” saran Pak Bram dan segera mengerahkan tangannya kayak menarik mengambil sesuatu dan mengikat jin-jin kiriman si dukun dan mengislamkanya.


“Pak, saya minta nomornya kalo-kalo ada sesuatu.”

“ini nomor W.A saya, kalau ada sesuatu hubungi saja nggak usah sunggakan.”

“Baik”

“Di sini Mas sering dapat gangguan penghuni sini nggak?” tanya Pak Bram

“Iya sering biasanya bis-bis di sini kalau malam goyang-goyang sendiri kalau penghuni di sini mau ngajak bercanda”

“Itu Kuntilanak di sana yang suka gangguinmu, tapi nggak bahaya karena kuntilanak nggak punya power dan suka usil saja hahaha…” kata Pak Bram sedang jelasin.


“Iya bener suka ngajak bercanda itu ngganguin saya tapi nggak pernah nampak,” ujar Mas Zar.

“Dan di belakang sini ada jin Fasiq di belakang bangunan ini yang kuat energinya yang bisa buat bahaya,” sambung Pak Bram sambil menunjuk ke arah selatan.

Segera Pak Bram menyuruhku menarik jin Fasiq itu. Langsung kutarik, sekalian di ikat dan islamkan. Kusuruh jaga tempat ini kalau ada serangan-serangan jugaku beri senjata dan kutambah power jin ini.

“Mas Islam ya…. ” tanya Pak Bram

“Iya, Islam tapi jarang sholat,” jawab Mas Zar.

Itulah ujian orang yang bekerja terlalu mencari hal dunia sampai melupakan akhirat, batinku. Kalau hidup ini hanya sementara amal kita sedikit, kita di akhirat nggak punya apa-apa. Andai kita di siksa sampai hari kiamat di alam Barzah karena sering meninggalkan sholat. Kan kasihan dan ngeri membayanggakan azab dan murka Allah.


Jam setengah 6 kita berdua berangkat dari Surabaya. Naik bus yang kusukai adanya pengamen yang melantunkan lagu-lagu dalam perjalanan pelipur capek di perjalanan. Tapi kok sayangnya yang dilantunkan kok selalu lagu mellow sedih-sedih hmm… Sepanjang 2 lagu yang dinyanyikan. Sampai di rumah makan pemberhentian istirahat bus. Keponakan Bu Nikmah yang kerja di proyek PLTU dekat rumah makan ini, segera mengambil Aqua yang sudah kuisi dengan energi do’a. untuk mengobati adiknya cewek yang nakal di Malang. Biar nurut sama orang tua dan semoga menjadi wanita yang sholehah.

Sampai di Bali pagi jam 4an. Ada pemeriksaan KTP setelah keluar pelabuhan, tetapi tidak seketat yang kukira. Hanya di cek KTP sebentar dan langsung naik lagi ke bus. Terlihat bangunan rumah warga dan pure-pure di sepanjang perjalanan.


Ketika sampai di pelabuhan Padang Bai nunggu sampai sore baru dapat kapal besar. Di bis kulihat dua anak kecil perempuan Bu Rohmah yang selalu ceria dalam perjalanan. Dua-duanya suka nyanyi seperti ibunya. Bu Rohmah ini sebelum punya anak pernah kerja di Arab Saudi udah lama. Dan udah haji bolak-balik. Dia cerita setelah suaminya meninggal ketika di Jakarta Bu Rohmah ini pernah ngamen. Waktu itu Bu Rohmah kepikiran ingin membelikan kaset lagu untuk anaknya kebetulan ia tidak punya uang. Ketika ngamen, yang melihat Bu Rohmah ini yang memang suaranya merdu dan bagus, tau-tau dikasih orang uang ratusan ribu lembaran di amplop, Bu Rohmah senang sekali dan sangat bersyukur bisa membelikan kaset lagu untuk kedua anaknya.

“Hai Om…,” sapa Ina anaknya paling kecil, sambil ambil duduk di sebelahku.

“Adik jangan ganggu om yang lagi tidur,” kata Henna anaknya yang umur 5 tahun sedang menghampiri adiknya.

“Mau roti ini?” Kuambilkan 3 roti selai stroberi di tasku.

“Mamak, aku dikasih roti sama om yang pakai jaket itu,” kata Ina memberitahu ibunya di kursi belakang bis.

“Bilang makasih sama om, nak,” perintah ibunya.

“Makasih, Om”

“Iya sama-sama,” Kulihat kedua anak itu suka dengan roti itu. Baru kupejamkan mata si Henna menghampiriku.

“Om.. Om.. Rotinya enaak sekali.”

“Mau lagi? Ini masih ada,” Kuambilkan roti satu plastik semua di tasku berikan ke anak yatim itu.

“Mamak, aku di kasih lagi roti sama Om,” sambil berlari menuju ibunya di belakang.

“Makasih Om, semoga Allah melindungimu dan menjagamu,” kata Bu Rohmah mendo’akanku.

“Amiin” kataku di dalam hati.

Jenuh juga di dalam bis terus, tetap belum berangkat juga. Akhirnya aku keluar dari dalam bis. Dan duduk di pinggir pelabuhan, sambil menikmati pemandangan laut dan kapal-kapal. Setengah jam kemudian kuhampiri Pak Bram yang dari tadi katanya lagi ngecas HP di kamar mandi.

“Sini san..,” kulihat dari samping toilet, Pak Bram melambaikan tangan memanggilku dari warung makan.

“San mau Kopi ??”

“Nggak..” Ada-ada saja Pak Bram ini, aku yang lagi libur puasa ditawarin kopi kalo ngajak bercanda. Hahaha.

“Udah ku pesankan nasi 2 bungkus. Yang satu buat kamu buka magrib nanti.”

“Siip,” kataku sambil mengamati warung ini.

Di warung ini yang melayani pembeli gadis remaja, yang salah satu masih seumuranku 21 tahunan perkiraanku. Aku baru duduk di kursi warung gadis-gadis ini udah heboh sambil curi-curi pandang ke arahku. Kudengar gadis-gadis ini sedang membicarakanku di dapurnya sambil berkata “ras jawa-ras jawa”. Emang kenapa kalau aku orang Jawa pikirku kan sama sajalah.

“Coba cek san bisnya udah mau berangkat masuk ke kapal belum?”

“Oke,” kataku sambil berlalu menuju bis. Baru keluar dari pintu samping warung. Ada 2 gadis itu saling dorong-dorongan di samping pintu dekat sampingku, yang salah satu gadis didorong, gadis yang seumuranku. Aku berhenti dan menatap kedua gadis itu, pasti pikirku gadis cewek yang seumuranku itu ingin kenalan denganku. Aku terdiam sebentar ku pandangi dua gadis itu senyam-senyum sambil memandangiku paras wajahku. Hah, godaan, batinku. Langsung saja aku buang muka cuek pergi menuju bis takut kalo ketinggalan bis.

“Om, bisnya udah mau masuk kapal belum??,” tanyaku kepada sopir bus.

“Itu udah keluar, udah mau masuk kapal ini,” sambil menunjuk truk-truk yang keluar dari kapal laut.

Segera ku kembali warung dan ambil powerbank yang ku cas dari tadi. Sambil kulihat sekilas gadis tadi yang menyukaiku. Kelihatan menundukkan muka tidak berani memandang.

Di kapal yang kutumpangi ini terlihat cukup besar, senangnya naik kapal laut. Bisa melihat pemandangan pulau-pulau dan gunung hehehe. Aku segera ambil duduk di kursi belakang kapal. Pak Bram duduk di kursi depanku sambil makan nasi bungkus tadi. Di kapal ini video yang di putar di TV LCD lagunya Via Vallen terus dari lagu berjudul Sayang sampai lagu N.D.X yang dinyanyikan Via Vallen jika sudah habis lagunya diulang lagi. Sering-sering lagu galau di putar.

Setelah 4 jam kemudian, baru kemudian di ganti film hantu kuntilanak, setelah itu lanjut ganti yang diputar film horor Azis kepergok Pocong. Hehehe.. nonton film horor komedi Indonesia memang bisa dijadikan pelipur rasa jenuh di kapal. Kurasakan ombak di kapal ini kok nggak wajar. Penumpang kapal yang lain tetap tenang konsentrasi menonton film tak menghiraukan bahaya maut menghampirinya, ombak makin besar dan sewaktu-waktu bisa mengoyak kapal sampai terbalik tenggelam. Pak Bram sudah konsentrasi mencoba menetralisir air di bawah kapal, ketika aku coba turun tangga lihat di tempat bagasi bis dan truk. Air udah ada yang masuk di kapal. Aku langsung ambil duduk di kursi tadi dan konsentrasi menulis lafadz Allah di hati mencoba mengarah kan jari lantai kapal dan menetralisir ombak air dan sholawat ku baca terus-menerus. Alhamdulillah usaha kami berdua menetralisir airnya udah tenang.

Sekitar 25 menit kemudian kapal terombang-ambing semakin ngeri.. Air makin meninggi di sisi kapal karena goncangan ombak makin besar. Karena kami tahu ini ombaknya tidak wajar ada gangguan dari bawah laut yaitu dari kerajaan bawah laut jin kafir. Aku dan Pak Bram langsung baca dzikir sampai silsilah Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah wa Syattariah dan tidak lupa baca Do’a Rofitoh ke Guruku Mursyidku.

Alhamdulillah ngak sampai satu menit. Gejolak gelombang air reda dan tenang, kapal melaju cepat kembali. Di penglihatan terawangan dari Pak Bram banyak cahaya turun di sekitar kapal mungkin ini bantuan dari Kyaiku. Untuk urusan kerajaan jin laut bukan urasan kami, tetapi udah urusan kyaiku. Normalnya selama perjalan kapal ini 4 jam-an. Namun karena terjadi gangguan, kapal yang kutumpangi ini sampai merapat di pelabuhan sampai hampir 7 jam-an. Luar biasa.

Kapal udah mulai merapat di Pelabuhan Mataram, Lombok. Kami melanjutkan perjalanan bis menuju Pol Bis untuk oper bis menuju Sumbawa. Sampai di Pol bis ini sekitar jam 10 an malam. Kami istirahat di sana sebentar sambil menunggu bis bongkar barang-barang. Alhamdulillah dapat makan nasi kotak yang di bagikan oleh sopir bis. Itung-itung buat sahur. Hehehe

Keamanan di Pol ini bagus, dari tadi kulihat ada tentara yang memantau pembongkaran barang-barang untuk di pindah ke bus lain. Sambil makan sahur di depan ruko kami bincang-bincang dengan penumpang lain namanya Pak Doni dari Jombang, yang bekerja di proyek Sumbawa.

“Ini minum Aqua dulu, Pak” kata pak Bram sambil menyodorkan air Aqua.

“Iya-iya, makasih”

“Asalnya dari mana Pak?

“Dari Nganjuk saya, ini Mas Hasan dari Kediri”

“Oh tetangga sendiri toh hehehe…. Emang mau kemana Pak??,” tanya Pak Doni

“Mau ke Sumbawa..,” jawab Pak Bram yang sudah selesei makan nasi kotak.

“Ada perlu apa ke sumbawa?,” tanya Pak Doni yang terlihat raut mukanya masih penasaran melihat kami berdua.

“Mau ke…” jawab Pak Bram yang jadi bingung mau jelasinnya.

“Ah sesama orang Jawa kok, nggak papa.”

“Sebenernya ada pasien sakit suruh mengobati”

“Oh.. gitu… Istri saya juga sakit beberapa hari, kata kenalanku yang dari pondok itu di buat sakitnya dari tetangga rumah yang punya ilmu, dia mengingatkanku agar hati-hati”

“Nama istrimu siapa… coba ku cek??”

“Namanya….. binti….. ”

“Benar istrimu sakit dibuat orang, itu tetangga rumahmu pelakunya.”

“Oh benar berarti kata kenalanku.”

Sebenarnya itu yang buat sakit istrinya masih saudaranya, Pak Doni cerita, waktu itu saudara wanitanya sering bawa lelaki ke rumahnya. Dan Pak Doni mengingatkanya agar segera menikah. Ketika di Sumbawa tempat kerjanya Pak Doni mendapat kabar bahwa saudaranya menikah, tetapi menikahnya secara siri. Dan kebetulan Pak Doni tidak bisa menghadiri pernikahannya. Mungkin sebab itu, suami saudaranya mengirimkan santet ke istri Pak Doni. Apa enaknya pikirku menikah siri ujung-ujungnya yang jadi korban wanitanya, di umpamakan peribahasa habis manis cepat dibuang sayang.

“Ku cabut saja ilmunya dari sini biar nggak ganggu istrimu, tapi kemungkinan dia kalau ilmunya hilang bisa cari bantuan dukun untuk mengirim guna-guna santet”

“Iya tolong dibantu saya Pak Bram. Ada nomor HP ??”

“Ada W.A saya aja kalau ada apa-apa chat saja.”

“Aku diberi tulisan oleh kenalanku yang dari pondok. Rajah itu kusimpan di jaketku, karena di proyek sering ada gangguan makhluk halus. Menurut Pak Bram gimana itu?”

“Rajah itu isinya jin, mending jin itu diislamkan agar tidak bahaya efek sampingnya ke Bapak dan Keluarga”

“Jadi rajah itu isinya Jin,” Pak Doni penasaran.

“Iya… memang jin. San, tarik isi rajah itu dan islamkan, suruh jaga dan melindungi Pak Doni dan keluarganya! Perintah Pak Bram kepadaku yang dari tadi asik menyimak cerita Pak Doni dari tadi.

“Oke… ” kata ku, sambil langsung konsentrasi Lafazd Allah kutulis di hatiku. Hawa energi menyelimuti tubuhku getarannya. Dan tanganku kuarahkan ke saku Pak Doni, dan telapak tanganku kurasakan menggenggam sesuatu, lalu kutarik dan kuarahkan kan ke lantai. Dan kuikat jin itu lalu diislamkan. Dan aku perintah jaga Pak Doni dan keluarganya tak lupa kupersenjatai dan ditambah powernya.

“Udah San?” tanya Pak Bram.

“Sudah ”

“Makasih Mas,” kata Pak Doni sambil menyalamiku katanya sebagai perkenalan. Hehehe

“Mas Hasan kelihatanya masih muda belum menikah ya??”

“Belum Pak,” jawabku. “Oh ya kalau ada-ada apa-apa di proyek Pak Doni bisa langsung hubungi Pak Bram biar ditarik Pak Bram.”

“Iya nantiku hubungi.”

“Mas Hasan ini masih kuliah,” kata Pak Bram menimpali pembicaraan.

“Oh .. Bapak dan Mas Hasan ini apa dari pondok??”

“Bukan aku dan Mas Hasan ini, ikut Majelis Dzikir Thoriqoh di Tuban”

“Oh Majlis Dzikir, kalau Thoriqoh itu gimana Pak”

“Thoriqoh itu ya memperbaiki lahir batinnya amal ibadah, menjalankankan syariat dan hakikat secara bersama dalam beribadah.”

“Kapan-kapan tak main ke Nganjuk bisa menemui Pak Bram di sana.”

“Bisa .. Datang aja nggak papa kok. Santai aja… Hehehe…”

Baru ngobrol-ngobrol, sopir bus sudah teriak “Berangkat!”. Kami segera naik bus dan ada kejadian lucu, bahwa ada bapak-bapak yang meninggalkan surat nikahnya di POL Bis tadi, yang di temukan anggota TNI yang mengamankan pemberhentian bus tersebut.

Setelah bus jalan beberapa kilometer, mataku sudah mulai terlelap tidur. Bangun-bangun udah mau nyeberang ke kapal, ini aku jadi sudah menyeberang ke-3 kalinya menaiki kapal laut menuju Sumbawa. Baru masuk kapal, aku langsung menuju kamar kecil di bawah tangga, yang kusadari tadi ku tahan sejak di bus. Kapal ini enak tempatnya kursinya sofa panjang bisa buat tidur. Dan layar LCD-nya disetel film SpiderMan-3.

“San, beli nasi tuh buat sahur, ini uangnya” kata Pak Bram menyuruhku beli nasi bungkus.

“Nggak usah, perutku dah kenyang inih,” kataku alasan agar tidak dibelikan.

“Nggak papa, udah beli aja…”

“Ini nasi apa Pak?,” sambil kutunjuk bungkusan kertas minyak.

“Itu nasi goreng…”

“Kalo yang ini??”

“Yang ini nasi ayam..”

“Ambil yang ini aja Pak.”

Sambil makan kunikmati tayangan film SpiderMan di kapal. Ada 2 TV LCD yang di pasang di ruangan ini. Di sebelah pojok kanan dan kiri, kalo yang di depanya ada tempat manggung Band. Makan tanpa minum kurang pas, akhirnya pasti belilah minum. Sayangnya di kapal camilan snack dan aqua maupun minuman yang lain digenjot harganya dijual mahal. Penjualnya menawarkan kepadaku kopi hangat hanya 5 ribu satu gelas plastik. Dan secangkir kopi pun yang terbeli. Karena memang aku tak punya uang untuk beli yang harganya mahal-mahal. Hahaha

Kulihat Pak Bram udah tidur nyenyak di kursi panjang. Langsung aja aku ambil posisi tidur malam di kapal ini.

“San, bangun… kapalnya udah mau merapat..”

“Emm.. huah…. ” rasa kantukku masih aja walaupun udah bangun sambil kucek-kucek mataku.

Aku langsung keluar ruangan dan duduk di kursi meja bundar melingkar. Sambil menerawang cahaya kelap-kelip pelabuhan. Merenungi setiap hikmah yang bisa dipetik dari setiap langkah-langkah kaki selama perjalanan ini. Inilah perjalanan taqdir hidupku, terus bimbinglah di setiap gerak dan gerik langgakahku menuju-Mu ya Rob. Entah Tuhan mau memberi pelajaran apa, sampai-sampai aku ke Pulau Lombok ini. Di kapal ini aku menyebrang kira-kira 2 setengah jam-an sampai di pelabuhan NTB.

Sampai di perempatan kecamatan Utan, kami berdua turun dari bis. Kulihat jam di layar HP Androidku dah jam 4 pagi, warga sekitar sini tampak pulang dari mushola setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Kutaruh 2 kardus besar dan kecil yang isinya kardus besar isinya berambang untuk oleh-oleh dari Nganjuk dan kardus kecil isinya air mineral yang sudah di isi energi Do’a dari rumah Pak Bram. Baru lima menitan duduk menselonjorkan kaki di pos, udah ada jemputan motor Scoopy yang dinaiki adiknya bu Nikmah.

“Gantian ya naiknya,” kata adiknya Bu Nikmah sambil memindah kerdus.

“Aku duluan San… nggak papakan kamu di Pos nunggu di sini dulu??”

“Iya nggak papa…”

Sampai di tempat Bu Nikmah ini, Kulihat rumahnya model panggung dan di bawahnya di pakai buat ternak ayam dan angsa. Mbak Piah menyapa kami yang baru datang. Mbak Piah ini memperkenalkan diri bahwa dia kakaknya Bu Nikmah. Dan tempat yang kami tuju ini rumahnya Mbak Piah. Bu Nikmah tinggal di sini beserta anaknya yang kecil umur 3,5 tahun. Dan anaknya yang besar masih SD di pondokan di Jawa. Bu Nikmah sendiri sudah pernah didongkrak atau bahasa kerennya rukyah oleh Pak Bram waktu di Malang, jawa Timur.

“Kalo mau mandi, langsung aja ke kamar belakang di turun tangga…” kata bu Nikmah menghampiri kami yang sedang duduk-duduk di lantai kayu.

“Kamar tidurnya di sebelah itu, kalo mau istirahat”

“Ah di sini saja, istirahatnya nggak papa kok”

“Takutnya nggak kerasan di rumah ini, seperti kakaknya suaminya Nikmah ini, baru sampai di sini, kaget dindingnya kayu, katanya nggak mau tidur di rumah ini takut diintip orang” cerita Mbak Piah yang membuat Aku dan Pak Bram ketawa-ketawa.

“Iya memang keadaanya seperti ini rumah ini” timpal Bu Nikmah.

“Benar, nggak papa kok… Kami tidur di sini udah bagus, Aku dan Mas Hasan ini malah pernah tidur di alas hutan, kuburan, emperan toko itupun hampir satu bulan ketika perjalanan Lelaku Ngedan”. Terang Pak Bram menyakinkan Bu Nikmah, Mbak Piah dan suaminya Mbak Piah yang dari tadi menyimak pembicaraan.

“San, ke kamar mandi sana??” kata Pak Bram sambil menyulut Rokoknya dan masih nimbrung ngobrol sama Suami Mbak Piah.

naufal2006
aguzblackrx
Araka
Araka dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.