- Beranda
- Stories from the Heart
[CERBUNG] BLOOD FACTOR
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aurora..
#19
Rambut Agnes digunduli
Di kamar tidurnya, Agnes duduk di kursi dengan pandangan mata yang kosong. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah menjalani kemoterapi di rumah sakit. Rambut panjang berkilaunya yang dulu menjadi kebanggaannya kini rontok dalam jumlah banyak dan terus menipis, membuat hatinya semakin teriris-iris.
Papa Filipus berdiri di belakang Agnes dengan alat cukur di tangannya, bersiap-siap untuk menggunduli sisa-sisa rambut di kepala Agnes.
Dion berdiri di sudut ruangan, matanya tak lepas dari Agnes. Dion tahu, ini adalah momen yang sangat berat bagi kekasihnya. Di samping Dion, Sesil duduk di lantai dengan wajah penuh kebingungan, menatap rambut kakaknya yang perlahan-lahan jatuh ke lantai.
"Pa, kenapa rambut Kak Agnes digunduli?" tanya Sesil dengan sangat polos
Papa Filipus pun menghentikan gerakannya sejenak, menoleh ke arah Sesil. Dengan suara tenang, Papa Filipus pun berkata.
"Rambut Kakak rontok banyak karena obat-obatan yang diberikan sama dokter, Nak. Papa gunduli supaya Kak Agnes merasa lebih nyaman", kata Papa Filipus dengan nada lembut
Air mata pun mulai menggenang di kedua bola mata Agnes.
"Aku nggak pernah berpikir aku bakalan kehilangan rambutku seperti ini", kata Agnes lirih, suaranya bergetar menahan tangis
Dion pun berjalan mendekat dan menggenggam tangan Agnes, mencoba memberinya kekuatan.
"Sayang, penampilan luar itu nggak penting buat aku, yang penting adalah hati dan jiwa kamu. Kamu tahu itu, kan?" kata Dion dengan nada lembut
Agnes pun tersenyum tipis, tapi air matanya jatuh satu persatu. Ia menundukkan kepala saat Papa Filipus mulai mencukur. Setiap helai rambut yang jatuh membuat hatinya semakin teriris-iris. Tangisnya semakin terdengar, walaupun ia berusaha menahannya. Dion berlutut di sampingnya, tetap menggenggam tangannya dengan erat.
"Sayang, nangis saja yang keras sayang, nggak apa-apa. Kamu sudah sangat kuat untuk menghadapi semua ini", bisik Dion, memeluknya dari samping
Papa Filipus pun melanjutkan dengan hati-hati, walaupun tampak jelas bahwa ia sedang menahan air matanya. Setelah beberapa menit, rambut Agnes kini benar-benar habis. Kepala Agnes kini benar-benar bersih dari rambut, dan air matanya terus mengalir deras.
"Papa, aku nggak mau kelihatan gundul kayak gini. Aku malu..." kata Agnes, terisak
Papa Filipus pun segera memeluk putrinya.
"Nak Dion kan sudah bilang berkali-kali, penampilan luar itu nggak penting. Yang penting adalah hati dan jiwa kamu. Percaya sama Papa, kamu itu cantik luar dalam", kata Papa Filipus
Sesil, yang sedari tadi diam memperhatikan, berdiri dan ikut memeluk kakaknya.
"Kak Agnes nggak usah malu. Mau Kakak gundul atau nggak, aku tetap sayang Kakak..." kata Sesil
Agnes pun tersenyum lemah, mengusap air matanya. Dukungan dari keluarganya dan Dion membuatnya merasa sedikit lebih kuat, walaupun rasa takut itu masih ada. Ia tahu, dalam pertempuran ini, dia tidak berjuang sendirian.
Dengan suara yang bergetar-getar, Dion pun menambahkan.
"Kita semua di sini buat kamu, sayang. Kita akan hadapi ini bareng-bareng", kata Dion
Agnes pun mengangguk pelan, walaupun air matanya masih berlinang. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit lebih siap untuk menghadapi perjalanan panjang yang masih terbentang di depannya.
Bersambung
Papa Filipus berdiri di belakang Agnes dengan alat cukur di tangannya, bersiap-siap untuk menggunduli sisa-sisa rambut di kepala Agnes.
Dion berdiri di sudut ruangan, matanya tak lepas dari Agnes. Dion tahu, ini adalah momen yang sangat berat bagi kekasihnya. Di samping Dion, Sesil duduk di lantai dengan wajah penuh kebingungan, menatap rambut kakaknya yang perlahan-lahan jatuh ke lantai.
"Pa, kenapa rambut Kak Agnes digunduli?" tanya Sesil dengan sangat polos
Papa Filipus pun menghentikan gerakannya sejenak, menoleh ke arah Sesil. Dengan suara tenang, Papa Filipus pun berkata.
"Rambut Kakak rontok banyak karena obat-obatan yang diberikan sama dokter, Nak. Papa gunduli supaya Kak Agnes merasa lebih nyaman", kata Papa Filipus dengan nada lembut
Air mata pun mulai menggenang di kedua bola mata Agnes.
"Aku nggak pernah berpikir aku bakalan kehilangan rambutku seperti ini", kata Agnes lirih, suaranya bergetar menahan tangis
Dion pun berjalan mendekat dan menggenggam tangan Agnes, mencoba memberinya kekuatan.
"Sayang, penampilan luar itu nggak penting buat aku, yang penting adalah hati dan jiwa kamu. Kamu tahu itu, kan?" kata Dion dengan nada lembut
Agnes pun tersenyum tipis, tapi air matanya jatuh satu persatu. Ia menundukkan kepala saat Papa Filipus mulai mencukur. Setiap helai rambut yang jatuh membuat hatinya semakin teriris-iris. Tangisnya semakin terdengar, walaupun ia berusaha menahannya. Dion berlutut di sampingnya, tetap menggenggam tangannya dengan erat.
"Sayang, nangis saja yang keras sayang, nggak apa-apa. Kamu sudah sangat kuat untuk menghadapi semua ini", bisik Dion, memeluknya dari samping
Papa Filipus pun melanjutkan dengan hati-hati, walaupun tampak jelas bahwa ia sedang menahan air matanya. Setelah beberapa menit, rambut Agnes kini benar-benar habis. Kepala Agnes kini benar-benar bersih dari rambut, dan air matanya terus mengalir deras.
"Papa, aku nggak mau kelihatan gundul kayak gini. Aku malu..." kata Agnes, terisak
Papa Filipus pun segera memeluk putrinya.
"Nak Dion kan sudah bilang berkali-kali, penampilan luar itu nggak penting. Yang penting adalah hati dan jiwa kamu. Percaya sama Papa, kamu itu cantik luar dalam", kata Papa Filipus
Sesil, yang sedari tadi diam memperhatikan, berdiri dan ikut memeluk kakaknya.
"Kak Agnes nggak usah malu. Mau Kakak gundul atau nggak, aku tetap sayang Kakak..." kata Sesil
Agnes pun tersenyum lemah, mengusap air matanya. Dukungan dari keluarganya dan Dion membuatnya merasa sedikit lebih kuat, walaupun rasa takut itu masih ada. Ia tahu, dalam pertempuran ini, dia tidak berjuang sendirian.
Dengan suara yang bergetar-getar, Dion pun menambahkan.
"Kita semua di sini buat kamu, sayang. Kita akan hadapi ini bareng-bareng", kata Dion
Agnes pun mengangguk pelan, walaupun air matanya masih berlinang. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit lebih siap untuk menghadapi perjalanan panjang yang masih terbentang di depannya.
Bersambung
rizkync108 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup
![[CERBUNG] BLOOD FACTOR](https://s.kaskus.id/images/2024/09/15/9481769_20240915080034.jpg)