- Beranda
- Stories from the Heart
[CERBUNG] BLOOD FACTOR
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aurora..
#14
Kemoterapi pertama
Hari itu adalah hari di mana Agnes pertama kali menjalani kemoterapi untuk mengobati leukemia akut yang dideritanya. Di dalam ruangan berwarna putih bersih yang tenang, Agnes terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan jarum infus yang menancap di tangannya. Suasana di sekelilingnya terasa sunyi, tetapi di dalam hatinya, gelombang emosi bergejolak ganas.
Agnes menatap wajah Papa Filipus dan Dion yang duduk di samping brankar, tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Walaupun raut wajah mereka terlihat tegar, Agnes bisa merasakan kesedihan yang tertahan di dalam hati mereka berdua, terutama di dalam hati Papa Filipus.
"Papa, aku takut..." kata Agnes dengan nada cemas
Dengan lembut, Papa Filipus pun menggenggam tangan Agnes.
"Kamu nggak boleh takut, sayang. Kamu harus menyerahkan segala ketakutanmu kepada Tuhan, karena Tuhan pasti mencintai kamu", kata Papa Filipus
Mata Agnes pun mulai berkilau dengan air mata yang siap tumpah. Agnes menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menahan rasa takut yang menyelimuti hatinya.
"Tapi aku takut kalau aku jadi botak, Pa", kata Agnes, suara lembutnya sedikit bergetar-getar
"Nak, penampilan luar itu tidak penting. Yang penting itu hati dan jiwa kamu, Nak. Kalau hati dan jiwa kamu baik, kamu pasti cantik", jawab Papa Filipus
Dion pun ikut menambahkan.
"Betul sayang. Seperti apapun penampilan kamu, di mataku kamu tetap cantik kok", kata Dion sambil mengelus pipi Agnes yang putih bersih
Agnes bisa merasakan kehangatan tangan Dion, tetapi rasa takut masih menggelayuti pikirannya. Agnes kemudian menatap jauh ke arah langit-langit ruangan, berharap mendapatkan kekuatan dari tempat yang lebih tinggi.
Beberapa saat kemudian, sesi kemoterapi pun dimulai. Obat pertama yang diinjeksi adalah sitarabin, lalu diikuti oleh vinkristin. Agnes bisa merasakan aliran obat dingin yang masuk melalui selang infus, dan detik demi detik, pikirannya dipenuhi dengan rasa ingin tahu dan kekhawatiran.
Setelah beberapa saat, efek kemoterapi pun mulai terasa. Tubuh Agnes mulai dipenuhi rasa sakit dan pegal, seolah-olah ada ribuan paku yang menusuk-nusuk kulitnya. Selain itu, rasa mual yang luar biasa juga muncul, seolah-olah perut Agnes sedang dikocok sekuat tenaga.
"Dion, aku kok rasanya seperti ingin muntah ya?" tanya Agnes sambil meremas-remas selimut yang membalut tubuhnya
Mendengar kata-kata Agnes barusan, Dion pun langsung mengangguk.
"Sayang, aku panggilkan suster ya, biar kamu dikasih obat anti mual", kata Dion dengan nada penuh keprihatinan
Tak lama kemudian, seorang perawat pun datang untuk membawakan obat anti mual untuk Agnes. Setelah Agnes meminum obat itu, rasa ingin muntah perlahan-lahan mulai hilang, memberikan sedikit kelegaan bagi Agnes.
Bersambung
Agnes menatap wajah Papa Filipus dan Dion yang duduk di samping brankar, tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Walaupun raut wajah mereka terlihat tegar, Agnes bisa merasakan kesedihan yang tertahan di dalam hati mereka berdua, terutama di dalam hati Papa Filipus.
"Papa, aku takut..." kata Agnes dengan nada cemas
Dengan lembut, Papa Filipus pun menggenggam tangan Agnes.
"Kamu nggak boleh takut, sayang. Kamu harus menyerahkan segala ketakutanmu kepada Tuhan, karena Tuhan pasti mencintai kamu", kata Papa Filipus
Mata Agnes pun mulai berkilau dengan air mata yang siap tumpah. Agnes menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menahan rasa takut yang menyelimuti hatinya.
"Tapi aku takut kalau aku jadi botak, Pa", kata Agnes, suara lembutnya sedikit bergetar-getar
"Nak, penampilan luar itu tidak penting. Yang penting itu hati dan jiwa kamu, Nak. Kalau hati dan jiwa kamu baik, kamu pasti cantik", jawab Papa Filipus
Dion pun ikut menambahkan.
"Betul sayang. Seperti apapun penampilan kamu, di mataku kamu tetap cantik kok", kata Dion sambil mengelus pipi Agnes yang putih bersih
Agnes bisa merasakan kehangatan tangan Dion, tetapi rasa takut masih menggelayuti pikirannya. Agnes kemudian menatap jauh ke arah langit-langit ruangan, berharap mendapatkan kekuatan dari tempat yang lebih tinggi.
Beberapa saat kemudian, sesi kemoterapi pun dimulai. Obat pertama yang diinjeksi adalah sitarabin, lalu diikuti oleh vinkristin. Agnes bisa merasakan aliran obat dingin yang masuk melalui selang infus, dan detik demi detik, pikirannya dipenuhi dengan rasa ingin tahu dan kekhawatiran.
Setelah beberapa saat, efek kemoterapi pun mulai terasa. Tubuh Agnes mulai dipenuhi rasa sakit dan pegal, seolah-olah ada ribuan paku yang menusuk-nusuk kulitnya. Selain itu, rasa mual yang luar biasa juga muncul, seolah-olah perut Agnes sedang dikocok sekuat tenaga.
"Dion, aku kok rasanya seperti ingin muntah ya?" tanya Agnes sambil meremas-remas selimut yang membalut tubuhnya
Mendengar kata-kata Agnes barusan, Dion pun langsung mengangguk.
"Sayang, aku panggilkan suster ya, biar kamu dikasih obat anti mual", kata Dion dengan nada penuh keprihatinan
Tak lama kemudian, seorang perawat pun datang untuk membawakan obat anti mual untuk Agnes. Setelah Agnes meminum obat itu, rasa ingin muntah perlahan-lahan mulai hilang, memberikan sedikit kelegaan bagi Agnes.
Bersambung
servesiwi dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
![[CERBUNG] BLOOD FACTOR](https://s.kaskus.id/images/2024/09/15/9481769_20240915080034.jpg)