- Beranda
- Stories from the Heart
[CERBUNG] BLOOD FACTOR
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aurora..
#13
Hasil yang ditunggu-tunggu
Sekitar satu hari setelah Agnes menjalani pengambilan sumsum tulang, suasana di kamar Agnes terasa penuh dengan aura kecemasan. Agnes, yang dulunya selalu ceria dan penuh semangat, kini terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan wajah yang pucat pasi. Di sampingnya, Sesil menggenggam erat-erat tangan Agnes, berusaha memberikan semangat untuk kakaknya. Di sudut kamar, Papa Filipus dan Dion tampak berdiri dengan raut wajah cemas, menunggu kabar dari dokter.
Tiba-tiba, pintu kamar Agnes terbuka, dan Dokter Dita pun melangkah masuk. Ekspresi serius di wajah Dokter Dita menandakan bahwa kabar yang akan disampaikan tidaklah baik.
"Maaf, kami harus mengabarkan berita buruk ini ke kalian semuanya", kata Dokter Dita dengan nada serius
Dion, yang sangat gelisah, tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Berita buruk apa, Dok?" tanya Dion
"Menurut hasil pengambilan sumsum tulang, Mbak Agnes terdiagnosis menderita leukemia", jawab Dokter Dita, suaranya datar tetapi penuh empati
Setelah mendengar kata-kata dokter Dita barusan, Agnes merasa sangat terperanjat, seolah-olah dunia ini berhenti berputar.
"Ini tidak mungkin..." gumam Agnes, air matanya mengucur deras
Dion pun sudah tidak mampu lagi menahan emosinya.
"Dok! Ini tidak mungkin Dok! Agnes tidak mungkin kena kanker Dok! Agnes itu masih muda!" protes Dion dengan nada marah
Dokter Dita berusaha menghadapi situasi yang semakin tegang ini dengan tenang. Dokter Dita mengerti betapa sulitnya menerima kenyataan ini, terutama bagi seorang remaja seperti Agnes.
"Begini Mas, kanker itu tidak hanya menyerang orang-orang yang sudah tua saja. Remaja dan anak-anak juga bisa terkena kanker, dan jenis kanker yang paling banyak menyerang remaja dan anak-anak adalah leukemia", jelas Dokter Dita, berusaha memberikan penjelasan yang masuk akal
Suasana di dalam kamar Agnes semakin penuh dengan isak tangis dari Agnes, Dion dan Papa Filipus. Sesil hanya bisa melihat orang-orang di sekitarnya dengan raut wajah bingung. Sesil melihat semua orang menangis, dan dengan tatapan polosnya, Sesil pun bertanya kepada Papa Filipus.
"Pa, kenapa semua orang nangis? Bukannya Kakak pasti cepat sembuh?" tanya Sesil, suaranya polos tanpa beban, tanpa menyadari betapa pahitnya kenyataan yang sedang dihadapi
Kata-kata Sesil barusan menegaskan betapa tulus dan jujurnya hati seorang anak kecil. Papa Filipus pun menunduk, hatinya terasa seperti teriris-iris setelah ia mendengar ucapan Sesil barusan.
"Sayang, kadang-kadang hal-hal yang tidak baik bisa terjadi tanpa kita inginkan. Yang penting, sekarang kita semua harus rajin berdoa dan berusaha, biar Kakak cepat sembuh", jawab Papa Filipus, berusaha menahan tangisnya supaya tidak pecah di depan kedua putrinya tersebut
Walaupun sedang dalam keadaan yang sangat lemah, Agnes merasa dikuatkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya barusan. Di dalam hatinya, Agnes bertekad kuat untuk berjuang melawan penyakitnya.
Bersambung
Tiba-tiba, pintu kamar Agnes terbuka, dan Dokter Dita pun melangkah masuk. Ekspresi serius di wajah Dokter Dita menandakan bahwa kabar yang akan disampaikan tidaklah baik.
"Maaf, kami harus mengabarkan berita buruk ini ke kalian semuanya", kata Dokter Dita dengan nada serius
Dion, yang sangat gelisah, tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Berita buruk apa, Dok?" tanya Dion
"Menurut hasil pengambilan sumsum tulang, Mbak Agnes terdiagnosis menderita leukemia", jawab Dokter Dita, suaranya datar tetapi penuh empati
Setelah mendengar kata-kata dokter Dita barusan, Agnes merasa sangat terperanjat, seolah-olah dunia ini berhenti berputar.
"Ini tidak mungkin..." gumam Agnes, air matanya mengucur deras
Dion pun sudah tidak mampu lagi menahan emosinya.
"Dok! Ini tidak mungkin Dok! Agnes tidak mungkin kena kanker Dok! Agnes itu masih muda!" protes Dion dengan nada marah
Dokter Dita berusaha menghadapi situasi yang semakin tegang ini dengan tenang. Dokter Dita mengerti betapa sulitnya menerima kenyataan ini, terutama bagi seorang remaja seperti Agnes.
"Begini Mas, kanker itu tidak hanya menyerang orang-orang yang sudah tua saja. Remaja dan anak-anak juga bisa terkena kanker, dan jenis kanker yang paling banyak menyerang remaja dan anak-anak adalah leukemia", jelas Dokter Dita, berusaha memberikan penjelasan yang masuk akal
Suasana di dalam kamar Agnes semakin penuh dengan isak tangis dari Agnes, Dion dan Papa Filipus. Sesil hanya bisa melihat orang-orang di sekitarnya dengan raut wajah bingung. Sesil melihat semua orang menangis, dan dengan tatapan polosnya, Sesil pun bertanya kepada Papa Filipus.
"Pa, kenapa semua orang nangis? Bukannya Kakak pasti cepat sembuh?" tanya Sesil, suaranya polos tanpa beban, tanpa menyadari betapa pahitnya kenyataan yang sedang dihadapi
Kata-kata Sesil barusan menegaskan betapa tulus dan jujurnya hati seorang anak kecil. Papa Filipus pun menunduk, hatinya terasa seperti teriris-iris setelah ia mendengar ucapan Sesil barusan.
"Sayang, kadang-kadang hal-hal yang tidak baik bisa terjadi tanpa kita inginkan. Yang penting, sekarang kita semua harus rajin berdoa dan berusaha, biar Kakak cepat sembuh", jawab Papa Filipus, berusaha menahan tangisnya supaya tidak pecah di depan kedua putrinya tersebut
Walaupun sedang dalam keadaan yang sangat lemah, Agnes merasa dikuatkan oleh kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya barusan. Di dalam hatinya, Agnes bertekad kuat untuk berjuang melawan penyakitnya.
Bersambung
Diubah oleh aurora.. 19-09-2024 02:55
cichlidmania dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup
![[CERBUNG] BLOOD FACTOR](https://s.kaskus.id/images/2024/09/15/9481769_20240915080034.jpg)