Kaskus

Story

aurora..Avatar border
TS
aurora..
[CERBUNG] BLOOD FACTOR
[CERBUNG] BLOOD FACTOR
Sumber Gambar:Koleksi pribadi gue


Quote:


Quote:
Diubah oleh aurora.. 14-10-2024 14:18
amekachiAvatar border
bobibotaktakAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan 19 lainnya memberi reputasi
20
2.1K
51
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
aurora..Avatar border
TS
aurora..
#17
Pemberitahuan untuk Bu Monica
Dion duduk sendirian di luar kamar Agnes, tangannya gemetar saat menatap ponselnya. Ia mengerti, bahwa mengirim pesan kepada Bu Monica, salah satu guru mereka, bukanlah hal yang mudah, tetapi ini harus dilakukan untuk memberitahu Bu Monica terkait penyakit yang diderita oleh Agnes. Mengetik setiap kata terasa seperti memikul beban berat di dadanya.

Setelah menarik napas dalam-dalam, Dion pun mulai mengetik pesan singkat yang sarat emosi di aplikasi hijau di ponselnya.

[Selamat siang Bu Monica] Dion

[Bu Monica, saya ingin memberitahu bahwa Mbak Agnes divonis menderita leukemia akut dan harus menjalani kemoterapi secara rutin] Dion

[Mohon pengertiannya jika Mbak Agnes sering tidak masuk sekolah] Dion

Setelah pesan terkirim, Dion pun menatap kosong ke layar ponsel, berharap Bu Monica dapat merespons dengan sesuatu yang menenangkan. Waktu terasa berjalan lambat, seolah-olah setiap detik adalah satu beban baru yang menambah kecemasan di hatinya.

Tak lama kemudian, ponsel Dion pun bergetar. Dengan cepat, dia membuka balasan dari Bu Monica.

[Terima kasih sudah memberitahu saya, Mas Dion] Bu Monica

[Ini kabar yang sangat menyedihkan] Bu Monica

[Tolong sampaikan kepada Mbak Agnes bahwa kami semua di sekolah mendoakan kesembuhannya] Bu Monica

[Kami akan berdiskusi dengan sekolah mengenai bagaimana kami bisa mendukungnya selama masa kemoterapi ini] Bu Monica

[Fokuskan perhatian pada kesehatannya, kami akan berikan keringanan terkait tugas-tugas sekolah] Bu Monica

Membaca pesan tersebut, Dion merasakan sedikit kelegaan, walaupun tidak sepenuhnya bisa menghilangkan kekhawatiran yang terus menghantui. Ia mengerti, bahwa ini baru awal dari perjalanan panjang yang harus dilalui Agnes. Ketidakpastian tentang masa depan terus menggelayuti pikirannya, tetapi setidaknya dukungan dari sekolah bisa memberikan sedikit kemudahan bagi Agnes.

Keesokan harinya, di sekolah, Dion datang untuk bertemu langsung dengan Bu Monica. Wanita itu menyambutnya dengan senyuman hangat, meskipun jelas dari matanya bahwa dia juga merasa terpukul dengan kabar penyakit Agnes.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Bu Monica dengan penuh perhatian.

Dion pun menghela napasnya, mencoba menahan emosi yang memuncak.

"Agnes baik-baik Bu. Tapi, waktu kemoterapi baru saja dimulai, Agnes sudah mulai merasakan efek sampingnya", kata Dion dengan nada emosional

Bu Monica mengangguk penuh simpati.

"Mbak Agnes itu gadis yang tangguh. Saya yakin dia akan melaluinya dengan baik, meskipun ini tentu tidak mudah", kata Bu Monica

Mereka berbicara sebentar mengenai rencana ke depan. Bu Monica berjanji akan membantu memastikan bahwa Agnes tidak ketinggalan pelajaran, meski fokus utamanya adalah kesehatan. Mereka sepakat bahwa sekolah akan mendukung Agnes dengan memberikan keringanan dalam hal tugas, ujian, dan kehadiran.

Dion merasa sedikit lebih tenang saat meninggalkan ruang guru. Di balik kesedihannya, ada harapan bahwa dengan dukungan dari guru dan teman-teman, Agnes tidak akan merasa sendirian dalam perjuangan melawan leukemia. Meskipun tantangan besar masih menanti di depan, Dion bertekad untuk berada di sisi Agnes, memberi semangat di setiap langkah perjalanannya.

Di rumah sakit, ketika Dion kembali menemani Agnes, dia menceritakan apa yang disampaikan Bu Monica. Agnes tersenyum lemah, meskipun jelas dia merasa lega dengan dukungan dari sekolah.

"Aku nggak mau ketinggalan pelajaran..." kata Agnes dengan suara pelan

"Aku akan berusaha sebisa mungkin", lanjut Agnes

Dion pun mengangguk, menggenggam tangan Agnes erat-erat.

"Kamu nggak akan ketinggalan, sayang. Kita semua di sini untuk dukung kamu", kata Dion dengan lembut

Agnes pun menatapnya, matanya penuh dengan kelelahan, tetapi juga keberanian yang tidak pernah pudar. Walaupun perjalanan ini masih panjang dan penuh ketidakpastian, Agnes mengerti, bahwa mereka akan menghadapi semua ini bersama.

Bersambung
Diubah oleh aurora.. 14-10-2024 08:02
kakekane.cell
kakekane.cell memberi reputasi
1
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.