- Beranda
- Stories from the Heart
TOMATO STRAWBERRY
...
TS
men.in.back
TOMATO STRAWBERRY
Jika aku bukanlah aku apakah kau masih mencintaiku
Spoiler for image:
Quote:
sebuah kisah cinta sederhana sepasang kekasih
Genre : romantic fantasi
Penulis : Gilang
Genre : romantic fantasi
Penulis : Gilang
Quote:
CHAPTER 1
Dimensi PART 1
Hari ini sopir angkot itu merasa kesal dengan celotehan istrinya, ia terus saja mengeluarkan kata-kata kasar hampir di setiap ucapannya, istrinya marah besar karena uang belanjanya makin hari makin berkurang, ia menyuruh suaminya untuk lebih giat dalam bekerja, dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik, ia berpikir memang ada benarnya juga karena mulai sepi penumpang semenjak ada angkutan umum lainnya,
“nasib-nasib”, katanya mengeluh.
Tiba-tiba ia melihat keramaian di terminal angkot yang akan ia tuju, seorang pria menghampirinya, membentangkan tangannya memberhentikannya yang sedang melaju santai
“tolong pak, emergensi!” pekiknya,
“ada apa pak?”, tanya si sopir penasaran,
“ada anak SMP tertabrak truck”, tambah bapak itu,
si sopir memang sedang kesal, tapi ia sebenarnya orang yang baik hati, disamping itu ia memiliki anak yang seumuran korban, dan ia memutuskan untuk membantunya, membawa ke rumah sakit terdekat. Ia langsung memarkirkan mobilnya di sebelah kerumunan orang yang membantu bocah malang tersebut.
“bapak-bapak, Ibu-Ibu, tolong bantu naikan saja ke angkot saya”, pintanya tulus. Semua orang yang berada disitu langsung membantu si korban, mengangkatnya ke angkot,
“siapa yang mau ikut menemani?”, tanyanya global. Kerumunan orang-oarang itu saling pandang.. lalu anak SMP wanita dengan seragam yang sama dengan korban datang menerobos diantara kerumunan,
“saya, saya, biar saya pak”, tanpa basa basi ia menghambur masuk ke dalam angkot,
“ayo pak, tolong pak.. kita harus cepat demi keselamatannya!”. Si sopir langsung menancap gasnya, tanpa lihat kanan kiri.
“sabar ya Za kamu pasti selamat”, ujar gadis itu sambil terus menangis.
Si sopir akhirnya menghentikan mobilnya di depan UGD rumah sakit terdekat, si korban langsung di bawa oleh tim medis yang memang sigap untuk situasi seperti ini, gadis cantik itu berlari mengkikuti korban bersama si sopir sampai ia dihentikan oleh petugas rumah sakit, karena batas wilayah penjenguk atau pembantu korban hanya sampai di situ. Mereka berdua menunggu di tempat yang telah di sediakan, lalu gadis itu menghubungi wali kelas korban agar segera menghubungi orang tua korban.
“sepertinya adik temannya?”, tanya si supir angkot
“ya pak, dia teman baik saya”, jawab si gadis sambil terus memegang buku matematika yang ia pinjam dari si korban. Murung.
“baiklah, kalau begitu, saya pulang dulu ya dik, karena saya harus kembali bekerja”, ucapnya, pamit.
“tolong terima ini pak”, gadis itu memasukan uang lima ratus ribu rupiah ke kantong kemeja si sopir angkot,
“maaf pak saya memaksa, dan tidak menerima penolakan, jadi mohon bapak terima!”, tambahnya memaksa.
Si supir sangat berterimakasih, ia tidak menyangka perbuatan baiknya berbuah manis.
“oia pak, saya boleh minta nomor telepon bapak?”, tanya gadis itu,
“ada dik, tapi untuk apa ya?”, jawabnya sambil merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponsel bututnya dan mereka saling bertukaran nomor.
“baik nanti saya akan hubungi bapak, tolong simpan, saya Sherly”, ujar si gadis,
“baik dik, saya Karto”, tapi untuk apa ya dik?, tanyanya semakin penasaran,
“ayah saya sedang membutuhkan sopir pribadi, bapak akan saya rekomendasikan”,
pucuk di cinta bulanpun tiba, sudah jatuh tertimpa mas murni teriaknya dalam hati. Ia sangat bersyukur sudah di beri uang, ia juga akan segera memiliki perkerjaan yang lebih layak seperti yang istrinya selalu inginkan, semua itu berkat keikhlasannya membantu orang lain.
**
Sulit untuk tidak membuka mata karena sinar terang memaksa menembus kelopak mata bocah malang itu, mau tak mau ia membuka matanya perlahan menghalau sinar yang begitu terang dengan sebelah tangannya, ia mencoba duduk dengan lengan kanannya sementara yang kiri tetap menghalau sinar yang menyilaukan pandangannya, pandangannya berkeliling, hanya padang rumput hijau dengan satu pohon besar sejauh apapun ia memandang yang ia lihat adalah rerumputan hijau setinggi mata kakinya. Ia terkejut melihat sesosok tubuh di sampingnya entah dari mana asalnya
Dimensi PART 1
Hari ini sopir angkot itu merasa kesal dengan celotehan istrinya, ia terus saja mengeluarkan kata-kata kasar hampir di setiap ucapannya, istrinya marah besar karena uang belanjanya makin hari makin berkurang, ia menyuruh suaminya untuk lebih giat dalam bekerja, dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik, ia berpikir memang ada benarnya juga karena mulai sepi penumpang semenjak ada angkutan umum lainnya,
“nasib-nasib”, katanya mengeluh.
Tiba-tiba ia melihat keramaian di terminal angkot yang akan ia tuju, seorang pria menghampirinya, membentangkan tangannya memberhentikannya yang sedang melaju santai
“tolong pak, emergensi!” pekiknya,
“ada apa pak?”, tanya si sopir penasaran,
“ada anak SMP tertabrak truck”, tambah bapak itu,
si sopir memang sedang kesal, tapi ia sebenarnya orang yang baik hati, disamping itu ia memiliki anak yang seumuran korban, dan ia memutuskan untuk membantunya, membawa ke rumah sakit terdekat. Ia langsung memarkirkan mobilnya di sebelah kerumunan orang yang membantu bocah malang tersebut.
“bapak-bapak, Ibu-Ibu, tolong bantu naikan saja ke angkot saya”, pintanya tulus. Semua orang yang berada disitu langsung membantu si korban, mengangkatnya ke angkot,
“siapa yang mau ikut menemani?”, tanyanya global. Kerumunan orang-oarang itu saling pandang.. lalu anak SMP wanita dengan seragam yang sama dengan korban datang menerobos diantara kerumunan,
“saya, saya, biar saya pak”, tanpa basa basi ia menghambur masuk ke dalam angkot,
“ayo pak, tolong pak.. kita harus cepat demi keselamatannya!”. Si sopir langsung menancap gasnya, tanpa lihat kanan kiri.
“sabar ya Za kamu pasti selamat”, ujar gadis itu sambil terus menangis.
Si sopir akhirnya menghentikan mobilnya di depan UGD rumah sakit terdekat, si korban langsung di bawa oleh tim medis yang memang sigap untuk situasi seperti ini, gadis cantik itu berlari mengkikuti korban bersama si sopir sampai ia dihentikan oleh petugas rumah sakit, karena batas wilayah penjenguk atau pembantu korban hanya sampai di situ. Mereka berdua menunggu di tempat yang telah di sediakan, lalu gadis itu menghubungi wali kelas korban agar segera menghubungi orang tua korban.
“sepertinya adik temannya?”, tanya si supir angkot
“ya pak, dia teman baik saya”, jawab si gadis sambil terus memegang buku matematika yang ia pinjam dari si korban. Murung.
“baiklah, kalau begitu, saya pulang dulu ya dik, karena saya harus kembali bekerja”, ucapnya, pamit.
“tolong terima ini pak”, gadis itu memasukan uang lima ratus ribu rupiah ke kantong kemeja si sopir angkot,
“maaf pak saya memaksa, dan tidak menerima penolakan, jadi mohon bapak terima!”, tambahnya memaksa.
Si supir sangat berterimakasih, ia tidak menyangka perbuatan baiknya berbuah manis.
“oia pak, saya boleh minta nomor telepon bapak?”, tanya gadis itu,
“ada dik, tapi untuk apa ya?”, jawabnya sambil merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponsel bututnya dan mereka saling bertukaran nomor.
“baik nanti saya akan hubungi bapak, tolong simpan, saya Sherly”, ujar si gadis,
“baik dik, saya Karto”, tapi untuk apa ya dik?, tanyanya semakin penasaran,
“ayah saya sedang membutuhkan sopir pribadi, bapak akan saya rekomendasikan”,
pucuk di cinta bulanpun tiba, sudah jatuh tertimpa mas murni teriaknya dalam hati. Ia sangat bersyukur sudah di beri uang, ia juga akan segera memiliki perkerjaan yang lebih layak seperti yang istrinya selalu inginkan, semua itu berkat keikhlasannya membantu orang lain.
**
Sulit untuk tidak membuka mata karena sinar terang memaksa menembus kelopak mata bocah malang itu, mau tak mau ia membuka matanya perlahan menghalau sinar yang begitu terang dengan sebelah tangannya, ia mencoba duduk dengan lengan kanannya sementara yang kiri tetap menghalau sinar yang menyilaukan pandangannya, pandangannya berkeliling, hanya padang rumput hijau dengan satu pohon besar sejauh apapun ia memandang yang ia lihat adalah rerumputan hijau setinggi mata kakinya. Ia terkejut melihat sesosok tubuh di sampingnya entah dari mana asalnya
Spoiler for INDEX:
INDEX
CHAPTER 1 DIMENSI PART 1
CHAPTER 2 DIMENSI PART 2
CHAPTER 3 DIMENSI PART 3 DAN SHERLY
CHAPTER 4 PENGACAU
CHAPTER 5 IBU
CHAPTER 6 MERRY
CHAPTER 7 PERTEMUAN PERTAMA
CHAPTER 8 SHERLY DEWASA
CHAPTER 9 CEMBURU
CHAPTER 10 TUNANGAN
CHAPTER 11 SHERLY MULAI...
CHAPTER 12 ALAM BAWAH SADAR
CHAPTER 13 INGGRIT
CHAPTER 14 INGGRIT PART 2
CHAPTER 15 SUARA MERDU
CHAPTER 16 TRAGIS MELANDA
CHAPTER 17 JATI DIRI SEBENARNYA
CHAPTER 18 LUNA
CHAPTER 19 SHERLY MENGHILANG
CHAPTER 20 KERINDUAN
CHAPTER 21 ANTON SEBENARNYA
CHAPTER 22 SHERLY MENGETAHUI
CHAPTER 23 GRAND OPENING
CHAPTER 24 MERIAH MENCEKAM
END!
CHAPTER 1 DIMENSI PART 1
CHAPTER 2 DIMENSI PART 2
CHAPTER 3 DIMENSI PART 3 DAN SHERLY
CHAPTER 4 PENGACAU
CHAPTER 5 IBU
CHAPTER 6 MERRY
CHAPTER 7 PERTEMUAN PERTAMA
CHAPTER 8 SHERLY DEWASA
CHAPTER 9 CEMBURU
CHAPTER 10 TUNANGAN
CHAPTER 11 SHERLY MULAI...
CHAPTER 12 ALAM BAWAH SADAR
CHAPTER 13 INGGRIT
CHAPTER 14 INGGRIT PART 2
CHAPTER 15 SUARA MERDU
CHAPTER 16 TRAGIS MELANDA
CHAPTER 17 JATI DIRI SEBENARNYA
CHAPTER 18 LUNA
CHAPTER 19 SHERLY MENGHILANG
CHAPTER 20 KERINDUAN
CHAPTER 21 ANTON SEBENARNYA
CHAPTER 22 SHERLY MENGETAHUI
CHAPTER 23 GRAND OPENING
CHAPTER 24 MERIAH MENCEKAM
END!
Diubah oleh men.in.back 02-01-2016 19:23
anasabila memberi reputasi
2
76K
Kutip
147
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
men.in.back
#123
Quote:
CHAPTER 22
Sherly mengetahui
Seluruh tabungan Riza hampir habis untuk membangun kafenya, ia meremas-remas rambut dengan kedua tangannya di depan laptop yang selalu setia menemani untuk berpusing-pusing ria menghadapi semua pekerjaannya.
“aku akan selesai jika kafe ini sepi pengunjung,” gumamnya.
“Apa aku harus menghubungi Merry untuk bergabung. Berapa aku harus menggajinya?” Riza berpikir untuk mengajak Merry bergabung, karena semua usahanya dulu maju karena buah tangan, dan kegeniusan Merry,
“ah sudahlah.” Riza berpikir itu tidak mudah, ia mungkin harus berurusan lagi dengan Luna nantinya, akan semakin rumit akhirnya.
Hari itu sangat sejuk di kota Bandung, beberapa hari ini hujan terus menghampiri kota kembang tersebut.
Riza baru saja bangun dari tidurnya, itu lebih siang dari biasanya
“Grit..!! Tolong buatkan aku kopi!,” pekiknya, di depan kamar Inggrit, namun tak ada jawaban, Riza mengetok lembut memanggil-manggil adiknya.
Akhirnya pintu di bukakan.
“Sherly!???” Riza hampir terpental di buatnya, ternyata Sherly menginap semalam di rumahnya.
“mana Inggrit?” tanya Riza gugup,
“dia kuliah pagi”, jawab Sherly cuek, sambil menguap,
“kamu tadi mau apa? Kopi? Aku akan buatkan,” tanya Sherly,
“ti.. Tidak.. A.. Aku..” belum menuntaskan kalimat Sherly kembali masuk ke kamar Inggrit untuk cuci muka.
“kamu tunggu di teras aja,” teriaknya dari dalam kamar,
“O.. Oke, maaf merepotkan,” Sherly tak menjawab.
Di teras rumah Riza suasananya lebih sejuk. Embun di tiap ujung daun dan rumput, serta gemercik air menetes sisa hujan semalam.
“ini kopimu," Ucap Sherly datar.
"Terima kasih, Sher,”
Lalu Sherly duduk menyilangkan kakinya di kursi teras sebelah Riza, ia meminum kopi susu.
pagi-pagi Riza beruntung si suguhi pemandangan indah d sampingnya, Sherly hanya menggunakan baju kaus panjang, tanpa celana, hanya menggunakan short di dalamnya.
“apa benar semua yang di ceritakan Inggrit,” tanyanya singkat penuh arti.
“kebenaran tentang apa?” jawab Riza balik menanyakan
“semuanya! Bahwa kamu adalah kakak kandung Inggrit dan kekayaanmu di tarik semua oleh Luna?”, tanya Sherly lagi.
Riza menghela nafas panjang, ia lega bahwa Inggrit belum menceritakan jati dirinya kepada Sherly.
Karena ia merasa belum waktunya, ia harus menata ulang semua sampai semuanya berjalan dengan baik.
“ya benar,” jawab Riza singkat, “aku sedang membangun kafe ku sendiri.. Jadi..”
“aku tahu!” potong Sherly.
“Inggrit menceritakannya padaku, kapan mulai opening? Aku akan menjadi pengunjung pertamamu,” tambahnya tersenyum lembut,
“kamu akan kuberi diskon untuk jus anehmu itu,” balas Riza tertawa kecil,
“itu minuman kesehatan, bagus untuk tubuhku,” lanjut Sherly,
“tubuhmu sudah bagus tanpa meminum jus aneh itu,” lanjut Riza, melihat ke arah tubuh Sherly,
“hei! Kemana arah matamu, dasar mesum!” pekiknya tertawa,
“loh, salahkan tubuhmu, kenapa mataku yang..” elak Riza,
“aku bersumpah akan menyirammu dengan kopi, jika kau terus memandangiku!” potong Sherly, lalu mereka berdua tertawa dan hanyut dalam perbincangan hangat.
“ayo ke kafemu, aku mau lihat dekorasinya apa bisa menyaingi AA kafe,” ajak Sherly.
“oke.. Sepertinya tak akan menyaingi AA kafe, tapi setidaknya mereka kehilangan satu pelanggan cantiknya di sana,”
“apa maksudmu, semua gadis yang datang ke sana cantik-cantik, hanya saja tidak lebih cantik dariku,” Sherly melantur,
“aku setuju.. “ ujar Riza terkekeh.
Mereka berdua lalu pergi menggunakan mobil Sherly, Riza sangat senang mengemudikannya di dalamnya harum parfum khas Sherly.
“kamu akan membunuh kita berdua, jika kamu memejamkan mata pada saat menyetir,” protes Sherly.
Riza hanya tersenyum, ia membayangkan jika menikahi Sherly, mereka akan bepergian untuk berlibur berdua, mengendarai mobil bersama, tertawa riang bersama, menginap di sebuah vila dan..
“hey, apa yang kamu pikirkan!?” pekik Sherly mengerutkan keningnya. Riza tak menyadari tampang aneh keluar di wajahnya.
..
“Wow! Kafenya bagus!!” kata Sherly sesampainya mereka di kafe milik Riza.
Ia meregangkan badannya seperti orang baru bangun tidur, lalu ia berlari kecil menuju sudut ruangan yang mengarah langsung ke panorama pegunungan, ia berdiri di ujung balkon yang hanya di batasi pagar.
“ini keren!” pekiknya, ia memejamkan mata, untuk merasakan sejuknya suasana pagi itu. Riza hanya tersenyum memandanginya, ia duduk menopang dagu di kursinya.
“suatu saat kaulah yang mengelola kafe ini, bersamaku..” gumamnya
sambil terus memandangi Sherly.
Lalu Sherly berhambur duduk di sebelah Riza, matanya berbinar memandang Riza serius, ada maksud dan tujuan di matanya.
“apa?” tanya Riza, Sherly wajahnya berseri-seri semakin mendekati wajah Riza.
“aku akan membantumu mengelola kafe ini,” katanya pelan,
“apa!??” Riza tercengang, berdehem serius “boleh saja, tapi.. “ belum sempat menuntaskan kalimatnya,
“anggap saja aku sedang pelatihan untuk bahan skripsiku nanti, tak usah memikirkan berapa kamu akan menggajiku!” potongnya, sepertinya Sherly bisa membaca pikiran Riza.
Riza mengangguk ragu. “ya kita coba saja, aku memang sedang mencari Manajer untuk mengelola tempat ini,” jelas Riza, yang memang sebetulnya ia sedang membutuhkan orang untuk mengelola kafenya, ya, orang tegas dan pintar seperti Merry, namun ia percaya bahwa Sherly juga bisa, dan lagi pula ia tak perlu menggajinya.
Raut wajah Sherly seperti sedang memikirkan sesuatu, dan ia tersenyum senyum sendiri, mungkin ia memikirkan bagaimana jika ia mengelola kafe, ia akan mengatur semua ini dan itu.
Beberapa hari lagi kafe akan grand opening, Riza harus memikirkan siasat untuk menarik pengujung memperkenalkan kafenya.
...
“kau serius kak?” tanya Inggrit pada kakaknya di teras rumahnya,
“ya begitulah, dia benar-benar menginginkannya, lagi pula tak ada salahnya kan?” jawab Riza, Inggrit terdiam sejenak,
“dia pasti bisa sih, dia sangat pintar, kakak hanya perlu mengajarinya sedikit,” jawab Inggrit yakin, “dan kakak juga sekaligus Pendekatan lagi dengannya!” ujarnya senang, keduanya tertawa kecil.
“aku akan bernyanyi di kafemu, yei..” tambah Inggrit,
“itu ide yang bagus,” jawab Riza tersenyum lembut.
Sherly mengetahui
Seluruh tabungan Riza hampir habis untuk membangun kafenya, ia meremas-remas rambut dengan kedua tangannya di depan laptop yang selalu setia menemani untuk berpusing-pusing ria menghadapi semua pekerjaannya.
“aku akan selesai jika kafe ini sepi pengunjung,” gumamnya.
“Apa aku harus menghubungi Merry untuk bergabung. Berapa aku harus menggajinya?” Riza berpikir untuk mengajak Merry bergabung, karena semua usahanya dulu maju karena buah tangan, dan kegeniusan Merry,
“ah sudahlah.” Riza berpikir itu tidak mudah, ia mungkin harus berurusan lagi dengan Luna nantinya, akan semakin rumit akhirnya.
Hari itu sangat sejuk di kota Bandung, beberapa hari ini hujan terus menghampiri kota kembang tersebut.
Riza baru saja bangun dari tidurnya, itu lebih siang dari biasanya
“Grit..!! Tolong buatkan aku kopi!,” pekiknya, di depan kamar Inggrit, namun tak ada jawaban, Riza mengetok lembut memanggil-manggil adiknya.
Akhirnya pintu di bukakan.
“Sherly!???” Riza hampir terpental di buatnya, ternyata Sherly menginap semalam di rumahnya.
“mana Inggrit?” tanya Riza gugup,
“dia kuliah pagi”, jawab Sherly cuek, sambil menguap,
“kamu tadi mau apa? Kopi? Aku akan buatkan,” tanya Sherly,
“ti.. Tidak.. A.. Aku..” belum menuntaskan kalimat Sherly kembali masuk ke kamar Inggrit untuk cuci muka.
“kamu tunggu di teras aja,” teriaknya dari dalam kamar,
“O.. Oke, maaf merepotkan,” Sherly tak menjawab.
Di teras rumah Riza suasananya lebih sejuk. Embun di tiap ujung daun dan rumput, serta gemercik air menetes sisa hujan semalam.
“ini kopimu," Ucap Sherly datar.
"Terima kasih, Sher,”
Lalu Sherly duduk menyilangkan kakinya di kursi teras sebelah Riza, ia meminum kopi susu.
pagi-pagi Riza beruntung si suguhi pemandangan indah d sampingnya, Sherly hanya menggunakan baju kaus panjang, tanpa celana, hanya menggunakan short di dalamnya.
“apa benar semua yang di ceritakan Inggrit,” tanyanya singkat penuh arti.
“kebenaran tentang apa?” jawab Riza balik menanyakan
“semuanya! Bahwa kamu adalah kakak kandung Inggrit dan kekayaanmu di tarik semua oleh Luna?”, tanya Sherly lagi.
Riza menghela nafas panjang, ia lega bahwa Inggrit belum menceritakan jati dirinya kepada Sherly.
Karena ia merasa belum waktunya, ia harus menata ulang semua sampai semuanya berjalan dengan baik.
“ya benar,” jawab Riza singkat, “aku sedang membangun kafe ku sendiri.. Jadi..”
“aku tahu!” potong Sherly.
“Inggrit menceritakannya padaku, kapan mulai opening? Aku akan menjadi pengunjung pertamamu,” tambahnya tersenyum lembut,
“kamu akan kuberi diskon untuk jus anehmu itu,” balas Riza tertawa kecil,
“itu minuman kesehatan, bagus untuk tubuhku,” lanjut Sherly,
“tubuhmu sudah bagus tanpa meminum jus aneh itu,” lanjut Riza, melihat ke arah tubuh Sherly,
“hei! Kemana arah matamu, dasar mesum!” pekiknya tertawa,
“loh, salahkan tubuhmu, kenapa mataku yang..” elak Riza,
“aku bersumpah akan menyirammu dengan kopi, jika kau terus memandangiku!” potong Sherly, lalu mereka berdua tertawa dan hanyut dalam perbincangan hangat.
“ayo ke kafemu, aku mau lihat dekorasinya apa bisa menyaingi AA kafe,” ajak Sherly.
“oke.. Sepertinya tak akan menyaingi AA kafe, tapi setidaknya mereka kehilangan satu pelanggan cantiknya di sana,”
“apa maksudmu, semua gadis yang datang ke sana cantik-cantik, hanya saja tidak lebih cantik dariku,” Sherly melantur,
“aku setuju.. “ ujar Riza terkekeh.
Mereka berdua lalu pergi menggunakan mobil Sherly, Riza sangat senang mengemudikannya di dalamnya harum parfum khas Sherly.
“kamu akan membunuh kita berdua, jika kamu memejamkan mata pada saat menyetir,” protes Sherly.
Riza hanya tersenyum, ia membayangkan jika menikahi Sherly, mereka akan bepergian untuk berlibur berdua, mengendarai mobil bersama, tertawa riang bersama, menginap di sebuah vila dan..
“hey, apa yang kamu pikirkan!?” pekik Sherly mengerutkan keningnya. Riza tak menyadari tampang aneh keluar di wajahnya.
..
“Wow! Kafenya bagus!!” kata Sherly sesampainya mereka di kafe milik Riza.
Ia meregangkan badannya seperti orang baru bangun tidur, lalu ia berlari kecil menuju sudut ruangan yang mengarah langsung ke panorama pegunungan, ia berdiri di ujung balkon yang hanya di batasi pagar.
“ini keren!” pekiknya, ia memejamkan mata, untuk merasakan sejuknya suasana pagi itu. Riza hanya tersenyum memandanginya, ia duduk menopang dagu di kursinya.
“suatu saat kaulah yang mengelola kafe ini, bersamaku..” gumamnya
sambil terus memandangi Sherly.
Lalu Sherly berhambur duduk di sebelah Riza, matanya berbinar memandang Riza serius, ada maksud dan tujuan di matanya.
“apa?” tanya Riza, Sherly wajahnya berseri-seri semakin mendekati wajah Riza.
“aku akan membantumu mengelola kafe ini,” katanya pelan,
“apa!??” Riza tercengang, berdehem serius “boleh saja, tapi.. “ belum sempat menuntaskan kalimatnya,
“anggap saja aku sedang pelatihan untuk bahan skripsiku nanti, tak usah memikirkan berapa kamu akan menggajiku!” potongnya, sepertinya Sherly bisa membaca pikiran Riza.
Riza mengangguk ragu. “ya kita coba saja, aku memang sedang mencari Manajer untuk mengelola tempat ini,” jelas Riza, yang memang sebetulnya ia sedang membutuhkan orang untuk mengelola kafenya, ya, orang tegas dan pintar seperti Merry, namun ia percaya bahwa Sherly juga bisa, dan lagi pula ia tak perlu menggajinya.
Raut wajah Sherly seperti sedang memikirkan sesuatu, dan ia tersenyum senyum sendiri, mungkin ia memikirkan bagaimana jika ia mengelola kafe, ia akan mengatur semua ini dan itu.
Beberapa hari lagi kafe akan grand opening, Riza harus memikirkan siasat untuk menarik pengujung memperkenalkan kafenya.
...
“kau serius kak?” tanya Inggrit pada kakaknya di teras rumahnya,
“ya begitulah, dia benar-benar menginginkannya, lagi pula tak ada salahnya kan?” jawab Riza, Inggrit terdiam sejenak,
“dia pasti bisa sih, dia sangat pintar, kakak hanya perlu mengajarinya sedikit,” jawab Inggrit yakin, “dan kakak juga sekaligus Pendekatan lagi dengannya!” ujarnya senang, keduanya tertawa kecil.
“aku akan bernyanyi di kafemu, yei..” tambah Inggrit,
“itu ide yang bagus,” jawab Riza tersenyum lembut.
0
Kutip
Balas