- Beranda
- Stories from the Heart
TOMATO STRAWBERRY
...
TS
men.in.back
TOMATO STRAWBERRY
Jika aku bukanlah aku apakah kau masih mencintaiku
Spoiler for image:
Quote:
sebuah kisah cinta sederhana sepasang kekasih
Genre : romantic fantasi
Penulis : Gilang
Genre : romantic fantasi
Penulis : Gilang
Quote:
CHAPTER 1
Dimensi PART 1
Hari ini sopir angkot itu merasa kesal dengan celotehan istrinya, ia terus saja mengeluarkan kata-kata kasar hampir di setiap ucapannya, istrinya marah besar karena uang belanjanya makin hari makin berkurang, ia menyuruh suaminya untuk lebih giat dalam bekerja, dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik, ia berpikir memang ada benarnya juga karena mulai sepi penumpang semenjak ada angkutan umum lainnya,
“nasib-nasib”, katanya mengeluh.
Tiba-tiba ia melihat keramaian di terminal angkot yang akan ia tuju, seorang pria menghampirinya, membentangkan tangannya memberhentikannya yang sedang melaju santai
“tolong pak, emergensi!” pekiknya,
“ada apa pak?”, tanya si sopir penasaran,
“ada anak SMP tertabrak truck”, tambah bapak itu,
si sopir memang sedang kesal, tapi ia sebenarnya orang yang baik hati, disamping itu ia memiliki anak yang seumuran korban, dan ia memutuskan untuk membantunya, membawa ke rumah sakit terdekat. Ia langsung memarkirkan mobilnya di sebelah kerumunan orang yang membantu bocah malang tersebut.
“bapak-bapak, Ibu-Ibu, tolong bantu naikan saja ke angkot saya”, pintanya tulus. Semua orang yang berada disitu langsung membantu si korban, mengangkatnya ke angkot,
“siapa yang mau ikut menemani?”, tanyanya global. Kerumunan orang-oarang itu saling pandang.. lalu anak SMP wanita dengan seragam yang sama dengan korban datang menerobos diantara kerumunan,
“saya, saya, biar saya pak”, tanpa basa basi ia menghambur masuk ke dalam angkot,
“ayo pak, tolong pak.. kita harus cepat demi keselamatannya!”. Si sopir langsung menancap gasnya, tanpa lihat kanan kiri.
“sabar ya Za kamu pasti selamat”, ujar gadis itu sambil terus menangis.
Si sopir akhirnya menghentikan mobilnya di depan UGD rumah sakit terdekat, si korban langsung di bawa oleh tim medis yang memang sigap untuk situasi seperti ini, gadis cantik itu berlari mengkikuti korban bersama si sopir sampai ia dihentikan oleh petugas rumah sakit, karena batas wilayah penjenguk atau pembantu korban hanya sampai di situ. Mereka berdua menunggu di tempat yang telah di sediakan, lalu gadis itu menghubungi wali kelas korban agar segera menghubungi orang tua korban.
“sepertinya adik temannya?”, tanya si supir angkot
“ya pak, dia teman baik saya”, jawab si gadis sambil terus memegang buku matematika yang ia pinjam dari si korban. Murung.
“baiklah, kalau begitu, saya pulang dulu ya dik, karena saya harus kembali bekerja”, ucapnya, pamit.
“tolong terima ini pak”, gadis itu memasukan uang lima ratus ribu rupiah ke kantong kemeja si sopir angkot,
“maaf pak saya memaksa, dan tidak menerima penolakan, jadi mohon bapak terima!”, tambahnya memaksa.
Si supir sangat berterimakasih, ia tidak menyangka perbuatan baiknya berbuah manis.
“oia pak, saya boleh minta nomor telepon bapak?”, tanya gadis itu,
“ada dik, tapi untuk apa ya?”, jawabnya sambil merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponsel bututnya dan mereka saling bertukaran nomor.
“baik nanti saya akan hubungi bapak, tolong simpan, saya Sherly”, ujar si gadis,
“baik dik, saya Karto”, tapi untuk apa ya dik?, tanyanya semakin penasaran,
“ayah saya sedang membutuhkan sopir pribadi, bapak akan saya rekomendasikan”,
pucuk di cinta bulanpun tiba, sudah jatuh tertimpa mas murni teriaknya dalam hati. Ia sangat bersyukur sudah di beri uang, ia juga akan segera memiliki perkerjaan yang lebih layak seperti yang istrinya selalu inginkan, semua itu berkat keikhlasannya membantu orang lain.
**
Sulit untuk tidak membuka mata karena sinar terang memaksa menembus kelopak mata bocah malang itu, mau tak mau ia membuka matanya perlahan menghalau sinar yang begitu terang dengan sebelah tangannya, ia mencoba duduk dengan lengan kanannya sementara yang kiri tetap menghalau sinar yang menyilaukan pandangannya, pandangannya berkeliling, hanya padang rumput hijau dengan satu pohon besar sejauh apapun ia memandang yang ia lihat adalah rerumputan hijau setinggi mata kakinya. Ia terkejut melihat sesosok tubuh di sampingnya entah dari mana asalnya
Dimensi PART 1
Hari ini sopir angkot itu merasa kesal dengan celotehan istrinya, ia terus saja mengeluarkan kata-kata kasar hampir di setiap ucapannya, istrinya marah besar karena uang belanjanya makin hari makin berkurang, ia menyuruh suaminya untuk lebih giat dalam bekerja, dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik, ia berpikir memang ada benarnya juga karena mulai sepi penumpang semenjak ada angkutan umum lainnya,
“nasib-nasib”, katanya mengeluh.
Tiba-tiba ia melihat keramaian di terminal angkot yang akan ia tuju, seorang pria menghampirinya, membentangkan tangannya memberhentikannya yang sedang melaju santai
“tolong pak, emergensi!” pekiknya,
“ada apa pak?”, tanya si sopir penasaran,
“ada anak SMP tertabrak truck”, tambah bapak itu,
si sopir memang sedang kesal, tapi ia sebenarnya orang yang baik hati, disamping itu ia memiliki anak yang seumuran korban, dan ia memutuskan untuk membantunya, membawa ke rumah sakit terdekat. Ia langsung memarkirkan mobilnya di sebelah kerumunan orang yang membantu bocah malang tersebut.
“bapak-bapak, Ibu-Ibu, tolong bantu naikan saja ke angkot saya”, pintanya tulus. Semua orang yang berada disitu langsung membantu si korban, mengangkatnya ke angkot,
“siapa yang mau ikut menemani?”, tanyanya global. Kerumunan orang-oarang itu saling pandang.. lalu anak SMP wanita dengan seragam yang sama dengan korban datang menerobos diantara kerumunan,
“saya, saya, biar saya pak”, tanpa basa basi ia menghambur masuk ke dalam angkot,
“ayo pak, tolong pak.. kita harus cepat demi keselamatannya!”. Si sopir langsung menancap gasnya, tanpa lihat kanan kiri.
“sabar ya Za kamu pasti selamat”, ujar gadis itu sambil terus menangis.
Si sopir akhirnya menghentikan mobilnya di depan UGD rumah sakit terdekat, si korban langsung di bawa oleh tim medis yang memang sigap untuk situasi seperti ini, gadis cantik itu berlari mengkikuti korban bersama si sopir sampai ia dihentikan oleh petugas rumah sakit, karena batas wilayah penjenguk atau pembantu korban hanya sampai di situ. Mereka berdua menunggu di tempat yang telah di sediakan, lalu gadis itu menghubungi wali kelas korban agar segera menghubungi orang tua korban.
“sepertinya adik temannya?”, tanya si supir angkot
“ya pak, dia teman baik saya”, jawab si gadis sambil terus memegang buku matematika yang ia pinjam dari si korban. Murung.
“baiklah, kalau begitu, saya pulang dulu ya dik, karena saya harus kembali bekerja”, ucapnya, pamit.
“tolong terima ini pak”, gadis itu memasukan uang lima ratus ribu rupiah ke kantong kemeja si sopir angkot,
“maaf pak saya memaksa, dan tidak menerima penolakan, jadi mohon bapak terima!”, tambahnya memaksa.
Si supir sangat berterimakasih, ia tidak menyangka perbuatan baiknya berbuah manis.
“oia pak, saya boleh minta nomor telepon bapak?”, tanya gadis itu,
“ada dik, tapi untuk apa ya?”, jawabnya sambil merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponsel bututnya dan mereka saling bertukaran nomor.
“baik nanti saya akan hubungi bapak, tolong simpan, saya Sherly”, ujar si gadis,
“baik dik, saya Karto”, tapi untuk apa ya dik?, tanyanya semakin penasaran,
“ayah saya sedang membutuhkan sopir pribadi, bapak akan saya rekomendasikan”,
pucuk di cinta bulanpun tiba, sudah jatuh tertimpa mas murni teriaknya dalam hati. Ia sangat bersyukur sudah di beri uang, ia juga akan segera memiliki perkerjaan yang lebih layak seperti yang istrinya selalu inginkan, semua itu berkat keikhlasannya membantu orang lain.
**
Sulit untuk tidak membuka mata karena sinar terang memaksa menembus kelopak mata bocah malang itu, mau tak mau ia membuka matanya perlahan menghalau sinar yang begitu terang dengan sebelah tangannya, ia mencoba duduk dengan lengan kanannya sementara yang kiri tetap menghalau sinar yang menyilaukan pandangannya, pandangannya berkeliling, hanya padang rumput hijau dengan satu pohon besar sejauh apapun ia memandang yang ia lihat adalah rerumputan hijau setinggi mata kakinya. Ia terkejut melihat sesosok tubuh di sampingnya entah dari mana asalnya
Spoiler for INDEX:
INDEX
CHAPTER 1 DIMENSI PART 1
CHAPTER 2 DIMENSI PART 2
CHAPTER 3 DIMENSI PART 3 DAN SHERLY
CHAPTER 4 PENGACAU
CHAPTER 5 IBU
CHAPTER 6 MERRY
CHAPTER 7 PERTEMUAN PERTAMA
CHAPTER 8 SHERLY DEWASA
CHAPTER 9 CEMBURU
CHAPTER 10 TUNANGAN
CHAPTER 11 SHERLY MULAI...
CHAPTER 12 ALAM BAWAH SADAR
CHAPTER 13 INGGRIT
CHAPTER 14 INGGRIT PART 2
CHAPTER 15 SUARA MERDU
CHAPTER 16 TRAGIS MELANDA
CHAPTER 17 JATI DIRI SEBENARNYA
CHAPTER 18 LUNA
CHAPTER 19 SHERLY MENGHILANG
CHAPTER 20 KERINDUAN
CHAPTER 21 ANTON SEBENARNYA
CHAPTER 22 SHERLY MENGETAHUI
CHAPTER 23 GRAND OPENING
CHAPTER 24 MERIAH MENCEKAM
END!
CHAPTER 1 DIMENSI PART 1
CHAPTER 2 DIMENSI PART 2
CHAPTER 3 DIMENSI PART 3 DAN SHERLY
CHAPTER 4 PENGACAU
CHAPTER 5 IBU
CHAPTER 6 MERRY
CHAPTER 7 PERTEMUAN PERTAMA
CHAPTER 8 SHERLY DEWASA
CHAPTER 9 CEMBURU
CHAPTER 10 TUNANGAN
CHAPTER 11 SHERLY MULAI...
CHAPTER 12 ALAM BAWAH SADAR
CHAPTER 13 INGGRIT
CHAPTER 14 INGGRIT PART 2
CHAPTER 15 SUARA MERDU
CHAPTER 16 TRAGIS MELANDA
CHAPTER 17 JATI DIRI SEBENARNYA
CHAPTER 18 LUNA
CHAPTER 19 SHERLY MENGHILANG
CHAPTER 20 KERINDUAN
CHAPTER 21 ANTON SEBENARNYA
CHAPTER 22 SHERLY MENGETAHUI
CHAPTER 23 GRAND OPENING
CHAPTER 24 MERIAH MENCEKAM
END!
Diubah oleh men.in.back 02-01-2016 19:23
anasabila memberi reputasi
2
76.1K
Kutip
147
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
men.in.back
#115
Quote:
CHAPTER 21
Anton sebenarny
TING TONG!!!,
bell kamar Sherly memaksanya untuk bangun, kepalanya masih berat karena semalam terlalu banyak minum.
Ia berjalan ke pintu kamar hotel sempoyongan sambil memegangi kepala,
“permisiii.. Room servis!”, suara seorang laki-laki dari luar kamar,
“maaf pak, kembali lagi nanti siang”, jawab Sherly, “maaf mbak, aku membawakan pesananmu dari seseorang”, tegasnya,
akhirnya Sherly membuka pintu, pelayan itu memberikan segelas jus tomat mix Strawberry, Sherly hanya menerimanya dan kembali ke tempat tidurnya, sambil mengingat-ingat bagai mana cara ia pulang ke hotel dan siapa yang memesankan minuman favoritnya ini, ia tidak sadar tadi malam ia di bantu Riza sampai ke kamar hotel, tapi ia tidak yakin apakah itu mimpi atau apa, tenggorokannya terasa kering, ia mengambil air mineral di lemari sudut, kemudian jatuh secarik kertas, ia mengambilnya dan sepertinya dia mengenal tulisan itu..
“kunti lama tidak berjumpa, kamu tidak berubah, masih saja menyukai jus aneh itu. maaf aku hanya bisa membantumu dari dimensi yang berbeda, yang perlu kamu ketahui, aku masih ada di dekatmu.. ,
nb : kalau kita berjumpa lagi tolong cepat kembalikan buku matematikaku, aku memerlukannya :P
Riza”.
Sherly tersenyum, walau itu terasa mustahil, ia sepertinya mempercayainya.
Ia meraba surat itu, seakan sedang meraba barang berharga, di situ jelas tertera tanda tangan Riza.
“sepertinya aku mulai gila”, gumamnya tersenyum,
“maaf Riza aku menduakanmu”, tambahnya memandang langit-langit.
Memang tak bisa dipungkiri Anton membuatnya jatuh cinta hingga membuatnya seperti ini, ia menyukai Anton karena ia pikir sangat banyak kesamaan sifat antara Riza Dan Anton.
Esoknya Sherly memutuskan untuk pulang lalu menjumpai Inggrit, dan Anton/Riza, sampai hari ini ia tidak mengetahui bahwa Inggrit adalah adik Riza.
Sesampainya di Jakarta, ia berjalan menuju restoran ia melupakan sarapannya karna sibuk dengan kopernya, ia memesan semangkuk sup dan sedikit nasi putih.
“boleh aku duduk di sini?”, suara wanita mengagetkannya dari belakang, Sherly menoleh dan mempersilahkan Luna duduk dan memasang wajah keras.
Luna duduk layaknya putri raja, dengan pengawal di sampingnya,
“apa maumu?”, tanya Sherly ketus.
Luna membeberkan semuanya.
“kenapa kau pikir ia jujur bahwa dia bukan dirinya?”, tanya Sherly santai.
“Sorot matanya yang lembut, cara ia bicara, dari caranya tak mengenalku, SEMUANYA! Di... Dia bukan Antonku!”, jawabnya pahit, Terlihat menahan air matanya.
Sherly terdiam.
“jadi siapa Anton sebenarnya?”, tanya Sherly,
“aku tidak tahu, sepertinya dia terobsesi padamu, kau pasti masih mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu”, jelas Luna.
Tentu saja Sherly masih mengingatnya ketika itu Anton mengejarnya dengan susah payah.
**
Keadaan pemakaman di malam itu sangat mencekam, hujan deras hampir menenggelamkan seluruh penghuni alam bawah tanah, suara halilintar menggelegar dengan sekejap menerangkan kemudian kembali gelap, terus berulang.
sesosok tubuh yang baru saja di kuburkan bangkit merangkak sampai ke sudut pohon besar untuk berteduh, mayat Riza terduduk lemah, di penuhi lumpur, dan dibasahi hujan yang deras, kemudian ia berteriak.
“bukankah tadi aku baru saja mati karena meminum racun! Kenapa aku tidak mati saja TUHAAAANN!!!!”,
Anton yang berada di tubuh Riza berteriak memohon, tanpa di sadari ia berada di tubuh orang lain.
**
Inggrit menata kamar barunya, ia menaruh hiasan-hiasan di meja sudut, menata letak perabotan, dan membereskan semua pakaiannya, setelah selesai mengganti cat kamarnya menjadi ungu cerah.
“kamu ini masih gadis atau janda grit?”, ejek Riza, mirip lagu dangdut,
“apa maksudmu kak!? Ungu bukan berarti janda!”, bantah adiknya.
Mereka menempati rumah modern minimalis di pinggiran kota, dengan suasana sejuk, nyaman, dan bersih. Vero juga datang untuk membantunya, mereka berdua bercakap-cakap di teras.
Bzzz.. Bzzz..
Ponsel Inggrit, Sherly meneleponnya.
“kaaaak.. Kakak.. Sherly meneleponku”, teriaknya, Riza menghampirinya di teras,
“hallo, Sher?”
“kamu di mana grit?”
“ehhh.... A.. Aku di... Di kampus”
“ke AA kafe ya, ada yang mau kubicarakan”
“sekarang?”
“minggu depan!! Ya sekarang lah, cepat, gak pake kura-kura”
“bye”
TUT.
Setelah merundingkan dengan Riza, Inggrit dan Vero menuju AA kafe mengendarai roda dua milik Vero.
...
Seseorang dengan nafas terbatuk-batuk memperhatikan mereka dari jauh, “aku akan mengambil kembali tubuhku!! Dasar pencuri sialan!”, ucapnya penuh kedengkian.
...
Vero meninggalkan Inggrit ketika mereka sampai di kafe, ia harus kembali ke kantor karena tadi ia hanya izin sebentar pada atasannya. Wajah Sherly hari ini sangat muram, seperti gadis yang datang tamu bulanannya di hari pertama.
Inggrit hanya tersenyum simpul melihatnya.
“kok mendadak banget, Sher. Ada yang penting?”, tanyanya cepat.
“ya ada yang janggal di hatiku , Grit, aku akan mulai bercerita!”, ungkap Sherly pelan.
Ia menceritakan semua yang ia rasakan selama ini, dan juga bercerita tentang pertemuannya dengan Luna di bandara, Inggrit hanya terus memperhatikanya dengan seksama, ia tak mau melewatkan satu hal pun sambil terus menyesap kopi hitam, dan menghisap rokoknya.
Inggrit tak tahu apa yang harus ia katakan, ia berpikir untuk tidak membuka rahasianya saat ini.
Tiba-tiba ia berhenti berbicara, ia melihat seseorang yang sangat mirip Riza baru saja menaiki taksi.
“Ri.. Riza?”, ujarnya pelan namun begitu terkejut.
Ia begitu saja pergi dengan tergesa-gesa, tanpa memperdulikan Inggrit yang memanggilnya berulang-ulang, ia berhambur ke mobilnya yang di parkir tidak jauh dari tempat duduknya tadi.
Pandangannya hanya pada taksi yang di naiki orang yang sangat-sangat mirip dengan Riza, ia melaju cepat tanpa ia tahu apa yang ia kejar sebenarnya.
tiba-tiba ia menghentikan laju mobilnya di jalanan perumahan yang sepi.
Ia baru saja membuang-buang waktunya, ia baru tersadar Riza sudah tiada, ia harusnya menerima itu sejak dulu, kepalanya bersandar pada kemudi, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
“ya Tuhan, apa yang kulakukan, aku benar-benar sudah gila. Benar-benar sudah.. ”, ujarnya pelan.
Sherly kembali ke kafe, dan terduduk diam di depan Inggrit, Inggrit hanya terdiam melihat sahabatnya seperti itu.
Pandangan Sherly benar-benar seperti mayat, kosong, Inggrit memeluknya sebelum ia sempat menangis, menangis tersedu di pelukan Inggrit,
“mengapa Riza tidak pergi saja, Grit, kenapa ia selalu menghantui hari-hariku”, ungkapnya terisak-isak di antara tangisnya.
**
Riza membuka kafe terbuka tidak jauh dari rumahnya, ia mengambil sudut bangunan yang mengarah langsung ke panorama kota Bandung, Made mengerjakan semua proyeknya itu, untuk urusan ini Made sangat mahir, ia selalu punya ide cemerlang dalam mendekor sebuah kafe atau bar.
Bangunan itu berdiri di samping tebing yang curam, agar pengujung dapat melihat langsung dengan mata telanjang keindahan kota Bandung beserta bukit-bukit yang ada di depannya.
Sangat berbeda dengan AA kafe yang berada di tengah kota.
Inggritlah nanti yang akan menjadi manajer di kafe ini, karena ia kuliah di bidang yang sama dengan tugasnya di kafe.
Riza menghubungi karyawannya yang dulu pernah bekerja dengannya, semua mantan karyawannya antusias dan langsung menyetujui ketika Riza mengajak kembali untuk bekerja sama, karena mereka semua sudah muak dengan peraturan dan sifat arogansi dari pimpinan mereka yang di rekomendasikan oleh Luna.
Anton sebenarny
TING TONG!!!,
bell kamar Sherly memaksanya untuk bangun, kepalanya masih berat karena semalam terlalu banyak minum.
Ia berjalan ke pintu kamar hotel sempoyongan sambil memegangi kepala,
“permisiii.. Room servis!”, suara seorang laki-laki dari luar kamar,
“maaf pak, kembali lagi nanti siang”, jawab Sherly, “maaf mbak, aku membawakan pesananmu dari seseorang”, tegasnya,
akhirnya Sherly membuka pintu, pelayan itu memberikan segelas jus tomat mix Strawberry, Sherly hanya menerimanya dan kembali ke tempat tidurnya, sambil mengingat-ingat bagai mana cara ia pulang ke hotel dan siapa yang memesankan minuman favoritnya ini, ia tidak sadar tadi malam ia di bantu Riza sampai ke kamar hotel, tapi ia tidak yakin apakah itu mimpi atau apa, tenggorokannya terasa kering, ia mengambil air mineral di lemari sudut, kemudian jatuh secarik kertas, ia mengambilnya dan sepertinya dia mengenal tulisan itu..
“kunti lama tidak berjumpa, kamu tidak berubah, masih saja menyukai jus aneh itu. maaf aku hanya bisa membantumu dari dimensi yang berbeda, yang perlu kamu ketahui, aku masih ada di dekatmu.. ,
nb : kalau kita berjumpa lagi tolong cepat kembalikan buku matematikaku, aku memerlukannya :P
Riza”.
Sherly tersenyum, walau itu terasa mustahil, ia sepertinya mempercayainya.
Ia meraba surat itu, seakan sedang meraba barang berharga, di situ jelas tertera tanda tangan Riza.
“sepertinya aku mulai gila”, gumamnya tersenyum,
“maaf Riza aku menduakanmu”, tambahnya memandang langit-langit.
Memang tak bisa dipungkiri Anton membuatnya jatuh cinta hingga membuatnya seperti ini, ia menyukai Anton karena ia pikir sangat banyak kesamaan sifat antara Riza Dan Anton.
Esoknya Sherly memutuskan untuk pulang lalu menjumpai Inggrit, dan Anton/Riza, sampai hari ini ia tidak mengetahui bahwa Inggrit adalah adik Riza.
Sesampainya di Jakarta, ia berjalan menuju restoran ia melupakan sarapannya karna sibuk dengan kopernya, ia memesan semangkuk sup dan sedikit nasi putih.
“boleh aku duduk di sini?”, suara wanita mengagetkannya dari belakang, Sherly menoleh dan mempersilahkan Luna duduk dan memasang wajah keras.
Luna duduk layaknya putri raja, dengan pengawal di sampingnya,
“apa maumu?”, tanya Sherly ketus.
Luna membeberkan semuanya.
“kenapa kau pikir ia jujur bahwa dia bukan dirinya?”, tanya Sherly santai.
“Sorot matanya yang lembut, cara ia bicara, dari caranya tak mengenalku, SEMUANYA! Di... Dia bukan Antonku!”, jawabnya pahit, Terlihat menahan air matanya.
Sherly terdiam.
“jadi siapa Anton sebenarnya?”, tanya Sherly,
“aku tidak tahu, sepertinya dia terobsesi padamu, kau pasti masih mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu”, jelas Luna.
Tentu saja Sherly masih mengingatnya ketika itu Anton mengejarnya dengan susah payah.
**
Keadaan pemakaman di malam itu sangat mencekam, hujan deras hampir menenggelamkan seluruh penghuni alam bawah tanah, suara halilintar menggelegar dengan sekejap menerangkan kemudian kembali gelap, terus berulang.
sesosok tubuh yang baru saja di kuburkan bangkit merangkak sampai ke sudut pohon besar untuk berteduh, mayat Riza terduduk lemah, di penuhi lumpur, dan dibasahi hujan yang deras, kemudian ia berteriak.
“bukankah tadi aku baru saja mati karena meminum racun! Kenapa aku tidak mati saja TUHAAAANN!!!!”,
Anton yang berada di tubuh Riza berteriak memohon, tanpa di sadari ia berada di tubuh orang lain.
**
Inggrit menata kamar barunya, ia menaruh hiasan-hiasan di meja sudut, menata letak perabotan, dan membereskan semua pakaiannya, setelah selesai mengganti cat kamarnya menjadi ungu cerah.
“kamu ini masih gadis atau janda grit?”, ejek Riza, mirip lagu dangdut,
“apa maksudmu kak!? Ungu bukan berarti janda!”, bantah adiknya.
Mereka menempati rumah modern minimalis di pinggiran kota, dengan suasana sejuk, nyaman, dan bersih. Vero juga datang untuk membantunya, mereka berdua bercakap-cakap di teras.
Bzzz.. Bzzz..
Ponsel Inggrit, Sherly meneleponnya.
“kaaaak.. Kakak.. Sherly meneleponku”, teriaknya, Riza menghampirinya di teras,
“hallo, Sher?”
“kamu di mana grit?”
“ehhh.... A.. Aku di... Di kampus”
“ke AA kafe ya, ada yang mau kubicarakan”
“sekarang?”
“minggu depan!! Ya sekarang lah, cepat, gak pake kura-kura”
“bye”
TUT.
Setelah merundingkan dengan Riza, Inggrit dan Vero menuju AA kafe mengendarai roda dua milik Vero.
...
Seseorang dengan nafas terbatuk-batuk memperhatikan mereka dari jauh, “aku akan mengambil kembali tubuhku!! Dasar pencuri sialan!”, ucapnya penuh kedengkian.
...
Vero meninggalkan Inggrit ketika mereka sampai di kafe, ia harus kembali ke kantor karena tadi ia hanya izin sebentar pada atasannya. Wajah Sherly hari ini sangat muram, seperti gadis yang datang tamu bulanannya di hari pertama.
Inggrit hanya tersenyum simpul melihatnya.
“kok mendadak banget, Sher. Ada yang penting?”, tanyanya cepat.
“ya ada yang janggal di hatiku , Grit, aku akan mulai bercerita!”, ungkap Sherly pelan.
Ia menceritakan semua yang ia rasakan selama ini, dan juga bercerita tentang pertemuannya dengan Luna di bandara, Inggrit hanya terus memperhatikanya dengan seksama, ia tak mau melewatkan satu hal pun sambil terus menyesap kopi hitam, dan menghisap rokoknya.
Inggrit tak tahu apa yang harus ia katakan, ia berpikir untuk tidak membuka rahasianya saat ini.
Tiba-tiba ia berhenti berbicara, ia melihat seseorang yang sangat mirip Riza baru saja menaiki taksi.
“Ri.. Riza?”, ujarnya pelan namun begitu terkejut.
Ia begitu saja pergi dengan tergesa-gesa, tanpa memperdulikan Inggrit yang memanggilnya berulang-ulang, ia berhambur ke mobilnya yang di parkir tidak jauh dari tempat duduknya tadi.
Pandangannya hanya pada taksi yang di naiki orang yang sangat-sangat mirip dengan Riza, ia melaju cepat tanpa ia tahu apa yang ia kejar sebenarnya.
tiba-tiba ia menghentikan laju mobilnya di jalanan perumahan yang sepi.
Ia baru saja membuang-buang waktunya, ia baru tersadar Riza sudah tiada, ia harusnya menerima itu sejak dulu, kepalanya bersandar pada kemudi, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
“ya Tuhan, apa yang kulakukan, aku benar-benar sudah gila. Benar-benar sudah.. ”, ujarnya pelan.
Sherly kembali ke kafe, dan terduduk diam di depan Inggrit, Inggrit hanya terdiam melihat sahabatnya seperti itu.
Pandangan Sherly benar-benar seperti mayat, kosong, Inggrit memeluknya sebelum ia sempat menangis, menangis tersedu di pelukan Inggrit,
“mengapa Riza tidak pergi saja, Grit, kenapa ia selalu menghantui hari-hariku”, ungkapnya terisak-isak di antara tangisnya.
**
Riza membuka kafe terbuka tidak jauh dari rumahnya, ia mengambil sudut bangunan yang mengarah langsung ke panorama kota Bandung, Made mengerjakan semua proyeknya itu, untuk urusan ini Made sangat mahir, ia selalu punya ide cemerlang dalam mendekor sebuah kafe atau bar.
Bangunan itu berdiri di samping tebing yang curam, agar pengujung dapat melihat langsung dengan mata telanjang keindahan kota Bandung beserta bukit-bukit yang ada di depannya.
Sangat berbeda dengan AA kafe yang berada di tengah kota.
Inggritlah nanti yang akan menjadi manajer di kafe ini, karena ia kuliah di bidang yang sama dengan tugasnya di kafe.
Riza menghubungi karyawannya yang dulu pernah bekerja dengannya, semua mantan karyawannya antusias dan langsung menyetujui ketika Riza mengajak kembali untuk bekerja sama, karena mereka semua sudah muak dengan peraturan dan sifat arogansi dari pimpinan mereka yang di rekomendasikan oleh Luna.
0
Kutip
Balas