- Beranda
- Stories from the Heart
TOMATO STRAWBERRY
...
TS
men.in.back
TOMATO STRAWBERRY
Jika aku bukanlah aku apakah kau masih mencintaiku
Spoiler for image:
Quote:
sebuah kisah cinta sederhana sepasang kekasih
Genre : romantic fantasi
Penulis : Gilang
Genre : romantic fantasi
Penulis : Gilang
Quote:
CHAPTER 1
Dimensi PART 1
Hari ini sopir angkot itu merasa kesal dengan celotehan istrinya, ia terus saja mengeluarkan kata-kata kasar hampir di setiap ucapannya, istrinya marah besar karena uang belanjanya makin hari makin berkurang, ia menyuruh suaminya untuk lebih giat dalam bekerja, dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik, ia berpikir memang ada benarnya juga karena mulai sepi penumpang semenjak ada angkutan umum lainnya,
“nasib-nasib”, katanya mengeluh.
Tiba-tiba ia melihat keramaian di terminal angkot yang akan ia tuju, seorang pria menghampirinya, membentangkan tangannya memberhentikannya yang sedang melaju santai
“tolong pak, emergensi!” pekiknya,
“ada apa pak?”, tanya si sopir penasaran,
“ada anak SMP tertabrak truck”, tambah bapak itu,
si sopir memang sedang kesal, tapi ia sebenarnya orang yang baik hati, disamping itu ia memiliki anak yang seumuran korban, dan ia memutuskan untuk membantunya, membawa ke rumah sakit terdekat. Ia langsung memarkirkan mobilnya di sebelah kerumunan orang yang membantu bocah malang tersebut.
“bapak-bapak, Ibu-Ibu, tolong bantu naikan saja ke angkot saya”, pintanya tulus. Semua orang yang berada disitu langsung membantu si korban, mengangkatnya ke angkot,
“siapa yang mau ikut menemani?”, tanyanya global. Kerumunan orang-oarang itu saling pandang.. lalu anak SMP wanita dengan seragam yang sama dengan korban datang menerobos diantara kerumunan,
“saya, saya, biar saya pak”, tanpa basa basi ia menghambur masuk ke dalam angkot,
“ayo pak, tolong pak.. kita harus cepat demi keselamatannya!”. Si sopir langsung menancap gasnya, tanpa lihat kanan kiri.
“sabar ya Za kamu pasti selamat”, ujar gadis itu sambil terus menangis.
Si sopir akhirnya menghentikan mobilnya di depan UGD rumah sakit terdekat, si korban langsung di bawa oleh tim medis yang memang sigap untuk situasi seperti ini, gadis cantik itu berlari mengkikuti korban bersama si sopir sampai ia dihentikan oleh petugas rumah sakit, karena batas wilayah penjenguk atau pembantu korban hanya sampai di situ. Mereka berdua menunggu di tempat yang telah di sediakan, lalu gadis itu menghubungi wali kelas korban agar segera menghubungi orang tua korban.
“sepertinya adik temannya?”, tanya si supir angkot
“ya pak, dia teman baik saya”, jawab si gadis sambil terus memegang buku matematika yang ia pinjam dari si korban. Murung.
“baiklah, kalau begitu, saya pulang dulu ya dik, karena saya harus kembali bekerja”, ucapnya, pamit.
“tolong terima ini pak”, gadis itu memasukan uang lima ratus ribu rupiah ke kantong kemeja si sopir angkot,
“maaf pak saya memaksa, dan tidak menerima penolakan, jadi mohon bapak terima!”, tambahnya memaksa.
Si supir sangat berterimakasih, ia tidak menyangka perbuatan baiknya berbuah manis.
“oia pak, saya boleh minta nomor telepon bapak?”, tanya gadis itu,
“ada dik, tapi untuk apa ya?”, jawabnya sambil merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponsel bututnya dan mereka saling bertukaran nomor.
“baik nanti saya akan hubungi bapak, tolong simpan, saya Sherly”, ujar si gadis,
“baik dik, saya Karto”, tapi untuk apa ya dik?, tanyanya semakin penasaran,
“ayah saya sedang membutuhkan sopir pribadi, bapak akan saya rekomendasikan”,
pucuk di cinta bulanpun tiba, sudah jatuh tertimpa mas murni teriaknya dalam hati. Ia sangat bersyukur sudah di beri uang, ia juga akan segera memiliki perkerjaan yang lebih layak seperti yang istrinya selalu inginkan, semua itu berkat keikhlasannya membantu orang lain.
**
Sulit untuk tidak membuka mata karena sinar terang memaksa menembus kelopak mata bocah malang itu, mau tak mau ia membuka matanya perlahan menghalau sinar yang begitu terang dengan sebelah tangannya, ia mencoba duduk dengan lengan kanannya sementara yang kiri tetap menghalau sinar yang menyilaukan pandangannya, pandangannya berkeliling, hanya padang rumput hijau dengan satu pohon besar sejauh apapun ia memandang yang ia lihat adalah rerumputan hijau setinggi mata kakinya. Ia terkejut melihat sesosok tubuh di sampingnya entah dari mana asalnya
Dimensi PART 1
Hari ini sopir angkot itu merasa kesal dengan celotehan istrinya, ia terus saja mengeluarkan kata-kata kasar hampir di setiap ucapannya, istrinya marah besar karena uang belanjanya makin hari makin berkurang, ia menyuruh suaminya untuk lebih giat dalam bekerja, dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik, ia berpikir memang ada benarnya juga karena mulai sepi penumpang semenjak ada angkutan umum lainnya,
“nasib-nasib”, katanya mengeluh.
Tiba-tiba ia melihat keramaian di terminal angkot yang akan ia tuju, seorang pria menghampirinya, membentangkan tangannya memberhentikannya yang sedang melaju santai
“tolong pak, emergensi!” pekiknya,
“ada apa pak?”, tanya si sopir penasaran,
“ada anak SMP tertabrak truck”, tambah bapak itu,
si sopir memang sedang kesal, tapi ia sebenarnya orang yang baik hati, disamping itu ia memiliki anak yang seumuran korban, dan ia memutuskan untuk membantunya, membawa ke rumah sakit terdekat. Ia langsung memarkirkan mobilnya di sebelah kerumunan orang yang membantu bocah malang tersebut.
“bapak-bapak, Ibu-Ibu, tolong bantu naikan saja ke angkot saya”, pintanya tulus. Semua orang yang berada disitu langsung membantu si korban, mengangkatnya ke angkot,
“siapa yang mau ikut menemani?”, tanyanya global. Kerumunan orang-oarang itu saling pandang.. lalu anak SMP wanita dengan seragam yang sama dengan korban datang menerobos diantara kerumunan,
“saya, saya, biar saya pak”, tanpa basa basi ia menghambur masuk ke dalam angkot,
“ayo pak, tolong pak.. kita harus cepat demi keselamatannya!”. Si sopir langsung menancap gasnya, tanpa lihat kanan kiri.
“sabar ya Za kamu pasti selamat”, ujar gadis itu sambil terus menangis.
Si sopir akhirnya menghentikan mobilnya di depan UGD rumah sakit terdekat, si korban langsung di bawa oleh tim medis yang memang sigap untuk situasi seperti ini, gadis cantik itu berlari mengkikuti korban bersama si sopir sampai ia dihentikan oleh petugas rumah sakit, karena batas wilayah penjenguk atau pembantu korban hanya sampai di situ. Mereka berdua menunggu di tempat yang telah di sediakan, lalu gadis itu menghubungi wali kelas korban agar segera menghubungi orang tua korban.
“sepertinya adik temannya?”, tanya si supir angkot
“ya pak, dia teman baik saya”, jawab si gadis sambil terus memegang buku matematika yang ia pinjam dari si korban. Murung.
“baiklah, kalau begitu, saya pulang dulu ya dik, karena saya harus kembali bekerja”, ucapnya, pamit.
“tolong terima ini pak”, gadis itu memasukan uang lima ratus ribu rupiah ke kantong kemeja si sopir angkot,
“maaf pak saya memaksa, dan tidak menerima penolakan, jadi mohon bapak terima!”, tambahnya memaksa.
Si supir sangat berterimakasih, ia tidak menyangka perbuatan baiknya berbuah manis.
“oia pak, saya boleh minta nomor telepon bapak?”, tanya gadis itu,
“ada dik, tapi untuk apa ya?”, jawabnya sambil merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponsel bututnya dan mereka saling bertukaran nomor.
“baik nanti saya akan hubungi bapak, tolong simpan, saya Sherly”, ujar si gadis,
“baik dik, saya Karto”, tapi untuk apa ya dik?, tanyanya semakin penasaran,
“ayah saya sedang membutuhkan sopir pribadi, bapak akan saya rekomendasikan”,
pucuk di cinta bulanpun tiba, sudah jatuh tertimpa mas murni teriaknya dalam hati. Ia sangat bersyukur sudah di beri uang, ia juga akan segera memiliki perkerjaan yang lebih layak seperti yang istrinya selalu inginkan, semua itu berkat keikhlasannya membantu orang lain.
**
Sulit untuk tidak membuka mata karena sinar terang memaksa menembus kelopak mata bocah malang itu, mau tak mau ia membuka matanya perlahan menghalau sinar yang begitu terang dengan sebelah tangannya, ia mencoba duduk dengan lengan kanannya sementara yang kiri tetap menghalau sinar yang menyilaukan pandangannya, pandangannya berkeliling, hanya padang rumput hijau dengan satu pohon besar sejauh apapun ia memandang yang ia lihat adalah rerumputan hijau setinggi mata kakinya. Ia terkejut melihat sesosok tubuh di sampingnya entah dari mana asalnya
Spoiler for INDEX:
INDEX
CHAPTER 1 DIMENSI PART 1
CHAPTER 2 DIMENSI PART 2
CHAPTER 3 DIMENSI PART 3 DAN SHERLY
CHAPTER 4 PENGACAU
CHAPTER 5 IBU
CHAPTER 6 MERRY
CHAPTER 7 PERTEMUAN PERTAMA
CHAPTER 8 SHERLY DEWASA
CHAPTER 9 CEMBURU
CHAPTER 10 TUNANGAN
CHAPTER 11 SHERLY MULAI...
CHAPTER 12 ALAM BAWAH SADAR
CHAPTER 13 INGGRIT
CHAPTER 14 INGGRIT PART 2
CHAPTER 15 SUARA MERDU
CHAPTER 16 TRAGIS MELANDA
CHAPTER 17 JATI DIRI SEBENARNYA
CHAPTER 18 LUNA
CHAPTER 19 SHERLY MENGHILANG
CHAPTER 20 KERINDUAN
CHAPTER 21 ANTON SEBENARNYA
CHAPTER 22 SHERLY MENGETAHUI
CHAPTER 23 GRAND OPENING
CHAPTER 24 MERIAH MENCEKAM
END!
CHAPTER 1 DIMENSI PART 1
CHAPTER 2 DIMENSI PART 2
CHAPTER 3 DIMENSI PART 3 DAN SHERLY
CHAPTER 4 PENGACAU
CHAPTER 5 IBU
CHAPTER 6 MERRY
CHAPTER 7 PERTEMUAN PERTAMA
CHAPTER 8 SHERLY DEWASA
CHAPTER 9 CEMBURU
CHAPTER 10 TUNANGAN
CHAPTER 11 SHERLY MULAI...
CHAPTER 12 ALAM BAWAH SADAR
CHAPTER 13 INGGRIT
CHAPTER 14 INGGRIT PART 2
CHAPTER 15 SUARA MERDU
CHAPTER 16 TRAGIS MELANDA
CHAPTER 17 JATI DIRI SEBENARNYA
CHAPTER 18 LUNA
CHAPTER 19 SHERLY MENGHILANG
CHAPTER 20 KERINDUAN
CHAPTER 21 ANTON SEBENARNYA
CHAPTER 22 SHERLY MENGETAHUI
CHAPTER 23 GRAND OPENING
CHAPTER 24 MERIAH MENCEKAM
END!
Diubah oleh men.in.back 02-01-2016 19:23
anasabila memberi reputasi
2
76.1K
Kutip
147
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
men.in.back
#109
Quote:
CHAPTER 19
Sherly menghilang
Sudah dua minggu sejak kejadian di apartemen Riza terjadi, belum ada tanda-tanda keberadaan Sherly, ponselnya tidak pernah aktif, Inggrit memberanikan diri mengunjungi rumahnya, karena ia tak tega melihat kakaknya terus memasang wajah murung.
Rumah Sherly hampir sebesar istana, ia memiliki halaman dan kebun yang sangat luas, pagar membentengi hampir setengah tinggi rumahnya, tiang-tiang penyangga besar, tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah kerajaan di negeri dongeng, Inggrit sudah sering melihat rumahnya, ketika mengantarnya bersama kakaknya belum lama ini, atau ketika ia sedang berbagi taksi, tetapi belum pernah masuk walau sekali, ia memanggil satpam yang sepertinya sedang tidur, satpam itu terkejut ia jatuh dari tempat duduknya mungkin ia berpikir majikannya, ternyata bukan, ia menghela nafas lega lalu menghampiri Inggrit.
“ada yang bisa di bantu non?”, ia bertanya sopan,
“Sherly ada pak?”, jawab Inggrit. “oh non Sherly..
...
“Ke Bali? Sendiri?”, Inggrit terkejut.
“ya begitu non, dia selalu sendiri kalau sedang liburan, kan dia jomlo non” bisiknya mengejek,
“bapak tahu di mana ia biasa menginap?”...
“di mana ya..?”
..
Inggrit menyodorkan uang seratus ribuan. Mata si satpam berubah menjadi hijau, menyeringai lebar dan langsung menyambar uang di tangan Inggrit.
“Di Dinasty hotel non, daerah, kut.. Kutai, apa ya?”, ia mengingat-ingat,
“Oooohh, Kuta!”, teriak Inggrit, “yaaaa, itu, itu, betul non”
...
Bandara Soekarno Hatta, pagi itu sudah mulai ramai, mengingat waktu menunjukkan jam 09.00 pagi sudah hampir siang, Riza baru saja sampai, Inggrit mengantarnya, ia tidak ikut ke Bali karena ia tak mau merusak pertemuannya nanti, Riza berencana untuk menemui Sherly di Bali setelah ia tahu bahwa Sherly berada di sana.
“hati-hati ya kak”, Inggrit memeluknya manja,
“kalau urusannya sudah selesai cepat pulang, aku takut sendirian di apartemen”, tambahnya, bibirnya merajut, terlihat sedih.
Riza memegang wajah adiknya, “ya, kamu baik-baik ya, jangan sampai ada pacarmu itu di rumah, kalau sampai itu terjadi kalian berdua akanku bunuh, jelas?”, bisiknya mengancam, lalu tersenyum lembut,
“iyaaaa, itu tak akan terjadi, kakak tenang saja!”, jawab Inggrit manja,
lalu mencium pipi dan kening kakaknya. Riza pun pergi...
...
Suasana di pulau dewata memang menakjubkan, baru saja Riza menginjak bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, ia sudah di suguhkan dengan keindahan khas pulau dewata, bangunan dan ukiran-ukiran batu di setiap sudut bandara, alunan musik tradisional khas bali dan orang-orang Bali yang memakai pakaian adat, banyak turis berdatangan dari berbagai negara.
Ini sudah yang ke sekian kalinya Riza mengunjungi pulau dewata, untuk urusan bisnis ataupun sekedar berlibur.
“pak Anton!!”, suara pria memanggil melambaikan tangan
“ya, pak Made”, jawab Riza. Orang itu kemudian mendekati Riza. Made adalah teman baik Riza dulu, sekaligus rekan bisnisnya, Made adalah pengrajin ukiran kayu jati, dan kolektor barangan antik, Dialah orang yang mendekor AA kafe hingga menjadi kafe yang sejuk namun eksotis.
Ia datang untuk menjemput Riza, karena Riza tidak tahu dan tidak pernah menginap di Dinasty hotel sebelumnya, mereka berdua bercanda sebentar lalu menuju parkiran bandara, dan langsung menuju hotel,
“aku bawakan oleh-oleh untuk pak Made”, ucap Riza sambil menunjukkan arloji mewah,
“wahhh. Merepotkan saja nih, pasti mahal ini pak Anton”, ucapnya dengan logat Bali,
“enggak ini Cuma sepuluh ribu pak”, jawab Riza asal-asalan.
“sepuluh ribu jam plastik mainan anak saya itu pak!”, tambah Made. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Setiba mereka di hotel, Riza langsung memesan kamar yang bersebelahan dengan kamar Sherly, ia telah mendapatkan informasi dari Made, yang lebih dulu menyelidikinya.
Riza berpisah dengan Made dan langsung menuju kamarnya karena terlalu lelah, ia melihat sekeliling hotel, ia di suguhkan suasana tropis modern masih dengan ukiran-ukiran batu, dengan taman luas yang membentang tepat di depan kamarnya, kolam angsa dengan jembatan mungil, dan kursi taman yang serasi dengan bebatuan sungai di tepi-tepi kolam.
Ia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, ia tak mau Sherly tahu secepat ini, begitu pintu terbuka secepat kilat ia masuk kamar, ia melihat-lihat ruangannya, interiornya persis dengan apartemennya, ia penasaran pada pintu kaca yang membentang luas di depannya, ia membuka kordennya.. Kolam angsa yang tadi ia lihat tepat berada di depan kamarnya. Tiba-tiba..
Sherly melintas...
Ia langsung mundur menyudut dibalik korden
KLEK..
Suara kamar sebelah menutup pintu, baru saja masuk. Mengapa Riza sangat ketakutan, ia seperti penjahat yang melihat polisi datang, jantungnya berdegup, ia sepertinya tak yakin dengan yang dilakukannya bahkan ia belum menyusun kata untuk berbicara dengan Sherly, jika saja waktu dapat berputar kembali, ia lebih memilih, tak memeluk wanita itu.
Sherly merebahkan tubuhnya di tempat tidur ia baru saja makan siang, membeli beberapa camilan dan minuman alkohol ringan, pikirannya melayang jauh tak bertepi, masih saja di bayang-bayangi kejadian itu, sulit melupakan hal yang bahkan ia tak mau mengingat, tapi semakin ia menghindari bayangan kejadian itu malah semakin mendekat dan terus berputar di pikirannya.
Berlibur pun tak ada gunanya, selama dua minggu ini ia bahkan tak pernah tertidur pulas, baginya ini adalah liburan terhambar dalam Sejarah hidupnya.
Ia bangkit duduk dan membuka minuman pertamanya hari ini...
...
Setelah menghabiskan empat botol, kemudian ia terlelap tidur.
...
“kakak sudah bertemu dengannya?”, tanya Inggrit lewat telepon,
“sudah”, jawab Riza singkat,
“lalu?”, tanyanya lagi,
“kakak gak yakin, melihatnya saja nyawaku seakan lepas!”, jawab Riza lesu,
“hey.. Jadilah pria sejati, dia menyukaimu kenapa kau harus takut kak, temui dan bicara padanya!”,
Inggrit memaksa,
“kakak di mana, berisik banget?”, tambahnya, “aku di jalan Legian, nongkrong di kafe, sekaligus cuci mata lihat-lihat cewek bule seksi”, jawab Riza terkekeh,
“dasar mesum gila! Cepat kembali ke hotel, ini sudah hampir tengah malam”, pintanya perhatian,
“yaaa.. Bawel! udah dulu ya..”, Riza mengakhiri panggilannya.
Sherly menghilang
Sudah dua minggu sejak kejadian di apartemen Riza terjadi, belum ada tanda-tanda keberadaan Sherly, ponselnya tidak pernah aktif, Inggrit memberanikan diri mengunjungi rumahnya, karena ia tak tega melihat kakaknya terus memasang wajah murung.
Rumah Sherly hampir sebesar istana, ia memiliki halaman dan kebun yang sangat luas, pagar membentengi hampir setengah tinggi rumahnya, tiang-tiang penyangga besar, tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah kerajaan di negeri dongeng, Inggrit sudah sering melihat rumahnya, ketika mengantarnya bersama kakaknya belum lama ini, atau ketika ia sedang berbagi taksi, tetapi belum pernah masuk walau sekali, ia memanggil satpam yang sepertinya sedang tidur, satpam itu terkejut ia jatuh dari tempat duduknya mungkin ia berpikir majikannya, ternyata bukan, ia menghela nafas lega lalu menghampiri Inggrit.
“ada yang bisa di bantu non?”, ia bertanya sopan,
“Sherly ada pak?”, jawab Inggrit. “oh non Sherly..
...
“Ke Bali? Sendiri?”, Inggrit terkejut.
“ya begitu non, dia selalu sendiri kalau sedang liburan, kan dia jomlo non” bisiknya mengejek,
“bapak tahu di mana ia biasa menginap?”...
“di mana ya..?”
..
Inggrit menyodorkan uang seratus ribuan. Mata si satpam berubah menjadi hijau, menyeringai lebar dan langsung menyambar uang di tangan Inggrit.
“Di Dinasty hotel non, daerah, kut.. Kutai, apa ya?”, ia mengingat-ingat,
“Oooohh, Kuta!”, teriak Inggrit, “yaaaa, itu, itu, betul non”
...
Bandara Soekarno Hatta, pagi itu sudah mulai ramai, mengingat waktu menunjukkan jam 09.00 pagi sudah hampir siang, Riza baru saja sampai, Inggrit mengantarnya, ia tidak ikut ke Bali karena ia tak mau merusak pertemuannya nanti, Riza berencana untuk menemui Sherly di Bali setelah ia tahu bahwa Sherly berada di sana.
“hati-hati ya kak”, Inggrit memeluknya manja,
“kalau urusannya sudah selesai cepat pulang, aku takut sendirian di apartemen”, tambahnya, bibirnya merajut, terlihat sedih.
Riza memegang wajah adiknya, “ya, kamu baik-baik ya, jangan sampai ada pacarmu itu di rumah, kalau sampai itu terjadi kalian berdua akanku bunuh, jelas?”, bisiknya mengancam, lalu tersenyum lembut,
“iyaaaa, itu tak akan terjadi, kakak tenang saja!”, jawab Inggrit manja,
lalu mencium pipi dan kening kakaknya. Riza pun pergi...
...
Suasana di pulau dewata memang menakjubkan, baru saja Riza menginjak bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, ia sudah di suguhkan dengan keindahan khas pulau dewata, bangunan dan ukiran-ukiran batu di setiap sudut bandara, alunan musik tradisional khas bali dan orang-orang Bali yang memakai pakaian adat, banyak turis berdatangan dari berbagai negara.
Ini sudah yang ke sekian kalinya Riza mengunjungi pulau dewata, untuk urusan bisnis ataupun sekedar berlibur.
“pak Anton!!”, suara pria memanggil melambaikan tangan
“ya, pak Made”, jawab Riza. Orang itu kemudian mendekati Riza. Made adalah teman baik Riza dulu, sekaligus rekan bisnisnya, Made adalah pengrajin ukiran kayu jati, dan kolektor barangan antik, Dialah orang yang mendekor AA kafe hingga menjadi kafe yang sejuk namun eksotis.
Ia datang untuk menjemput Riza, karena Riza tidak tahu dan tidak pernah menginap di Dinasty hotel sebelumnya, mereka berdua bercanda sebentar lalu menuju parkiran bandara, dan langsung menuju hotel,
“aku bawakan oleh-oleh untuk pak Made”, ucap Riza sambil menunjukkan arloji mewah,
“wahhh. Merepotkan saja nih, pasti mahal ini pak Anton”, ucapnya dengan logat Bali,
“enggak ini Cuma sepuluh ribu pak”, jawab Riza asal-asalan.
“sepuluh ribu jam plastik mainan anak saya itu pak!”, tambah Made. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Setiba mereka di hotel, Riza langsung memesan kamar yang bersebelahan dengan kamar Sherly, ia telah mendapatkan informasi dari Made, yang lebih dulu menyelidikinya.
Riza berpisah dengan Made dan langsung menuju kamarnya karena terlalu lelah, ia melihat sekeliling hotel, ia di suguhkan suasana tropis modern masih dengan ukiran-ukiran batu, dengan taman luas yang membentang tepat di depan kamarnya, kolam angsa dengan jembatan mungil, dan kursi taman yang serasi dengan bebatuan sungai di tepi-tepi kolam.
Ia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, ia tak mau Sherly tahu secepat ini, begitu pintu terbuka secepat kilat ia masuk kamar, ia melihat-lihat ruangannya, interiornya persis dengan apartemennya, ia penasaran pada pintu kaca yang membentang luas di depannya, ia membuka kordennya.. Kolam angsa yang tadi ia lihat tepat berada di depan kamarnya. Tiba-tiba..
Sherly melintas...
Ia langsung mundur menyudut dibalik korden
KLEK..
Suara kamar sebelah menutup pintu, baru saja masuk. Mengapa Riza sangat ketakutan, ia seperti penjahat yang melihat polisi datang, jantungnya berdegup, ia sepertinya tak yakin dengan yang dilakukannya bahkan ia belum menyusun kata untuk berbicara dengan Sherly, jika saja waktu dapat berputar kembali, ia lebih memilih, tak memeluk wanita itu.
Sherly merebahkan tubuhnya di tempat tidur ia baru saja makan siang, membeli beberapa camilan dan minuman alkohol ringan, pikirannya melayang jauh tak bertepi, masih saja di bayang-bayangi kejadian itu, sulit melupakan hal yang bahkan ia tak mau mengingat, tapi semakin ia menghindari bayangan kejadian itu malah semakin mendekat dan terus berputar di pikirannya.
Berlibur pun tak ada gunanya, selama dua minggu ini ia bahkan tak pernah tertidur pulas, baginya ini adalah liburan terhambar dalam Sejarah hidupnya.
Ia bangkit duduk dan membuka minuman pertamanya hari ini...
...
Setelah menghabiskan empat botol, kemudian ia terlelap tidur.
...
“kakak sudah bertemu dengannya?”, tanya Inggrit lewat telepon,
“sudah”, jawab Riza singkat,
“lalu?”, tanyanya lagi,
“kakak gak yakin, melihatnya saja nyawaku seakan lepas!”, jawab Riza lesu,
“hey.. Jadilah pria sejati, dia menyukaimu kenapa kau harus takut kak, temui dan bicara padanya!”,
Inggrit memaksa,
“kakak di mana, berisik banget?”, tambahnya, “aku di jalan Legian, nongkrong di kafe, sekaligus cuci mata lihat-lihat cewek bule seksi”, jawab Riza terkekeh,
“dasar mesum gila! Cepat kembali ke hotel, ini sudah hampir tengah malam”, pintanya perhatian,
“yaaa.. Bawel! udah dulu ya..”, Riza mengakhiri panggilannya.
Diubah oleh men.in.back 02-01-2016 08:16
0
Kutip
Balas