- Beranda
- Stories from the Heart
My Wife Become Idol
...
TS
rienoir
My Wife Become Idol
Halo apa kabar kaskuser. Lagi nyantai-nyantai ane jadi pingin nulis karya orisinil pertama ane setelah sebelumnya menulis beberapa fanfic. Dalam fiksi ini saya menantang diri saya untuk membuat cerita dengan latar belakang yang membosankan yang dibumbui kejadian supranatural, sebuah kisah tanpa banyak drama dan plot berbelit namun tetap bisa dinikmati pembaca. Doakan saya supaya berhasil dalam menulisnya cerita ini, mohon dukungan para pembaca juga untuk tidak menjadi Silent Reader agar saya dapat menilai kinerja saya melalui respon kalian.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka, kesamaan nama maupun kejadian mungkin hanya kebetulan meski ada beberapa yang terinspirasi, serta illustrasi yang diberikan hanya untuk memberikan gambaran saja. Silahkan dinikmati dan tolong saya jangan dibully.
Judul : My Wife Become Idol
Genre : Romance, Comedy
Rating : 18+

PROLOG
Namaku Janiel Tjioekarsa, seorang pria normal berusia 36 Tahun. Kehidupanku berjalan sangat indah dan nyaman, memiliki penghasilan menarik, punya waktu yang fleksibel, dan aku memiliki seorang istri yang sangat kucintai bernama Graciella Angelim. Wanita cantik berpipi tembam yang kutetapkan sebagai pendamping hidupku sepuluh tahun yang lalu ketika usianya masih dua puluh dua Tahun.
Kehidupan pernikahan kami sangat indah, meski belum dikaruniakan keturunan kami tetap bisa menikmati kehidupan pernikahan kami dengan bahagia. Tetapi semua hal tersebut berubah dalam satu malam ketika dia berubah menjadi seorang idol.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka, kesamaan nama maupun kejadian mungkin hanya kebetulan meski ada beberapa yang terinspirasi, serta illustrasi yang diberikan hanya untuk memberikan gambaran saja. Silahkan dinikmati dan tolong saya jangan dibully.
Judul : My Wife Become Idol
Genre : Romance, Comedy
Rating : 18+

Spoiler for "index":
Quote:
PROLOG
Namaku Janiel Tjioekarsa, seorang pria normal berusia 36 Tahun. Kehidupanku berjalan sangat indah dan nyaman, memiliki penghasilan menarik, punya waktu yang fleksibel, dan aku memiliki seorang istri yang sangat kucintai bernama Graciella Angelim. Wanita cantik berpipi tembam yang kutetapkan sebagai pendamping hidupku sepuluh tahun yang lalu ketika usianya masih dua puluh dua Tahun.
Kehidupan pernikahan kami sangat indah, meski belum dikaruniakan keturunan kami tetap bisa menikmati kehidupan pernikahan kami dengan bahagia. Tetapi semua hal tersebut berubah dalam satu malam ketika dia berubah menjadi seorang idol.
Diubah oleh rienoir 30-10-2024 13:22
bukhorigan dan 3 lainnya memberi reputasi
4
812
Kutip
13
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rienoir
#7
Chapter 4 - Unleash the Disaster
Spoiler for "":
Suara keras melengking tinggi membangunkanku dari atas sofa, dimana pada sisi lain ada seorang wanita sedang merintih saat merenggangkan otot-otot tubuhnya diatas ranjang seperti suara sirine ambulance. "Pita suaramu lebih kuat karena sering latihan vocal, kamu harus berlatih untuk mengatur volumenya." Ujarku bangkit berdiri menghampiri Graciella yang masih mengantuk.
Dia menarik dan menciumku seperti yang biasa kita lakukan dirumah, sebuah ciuman hangat pemberi semangat dipagi hari yang kadang dipenuhi gairah sehingga membuatnya selalu terburu-buru jika aku terlalu mengatur tempo untuk menjaga durasi. Rutinitas yang biasa kami lakukan sudah sekitar 2 minggu tidak terjadi, bahkan ciuman panas kini hanya menjadi kecupan hangat yang tidak pernah lebih dari tiga detik yang selalu kututup dengan ucapan i love you. "Kamu yakin gak mau itu?" Ujarnya sembari menggodaku sambil memberikan tatapan genit kearah bawah perutku dengan peningkatan erotisme mencapai ribuan persen.
"Ya sebenernya sih kepingin, aku kan udah dua minggu puasa."
"Oh gitu, jadi kamu makin kepingin karena aku jadi Katarina rupanya."
Hanya pembohong bermulut manis yang berkata sanggup untuk menolak seorang wanita cantik yang siap bercinta dengannya. Meskipun aku hanya mencintai istriku seorang, tapi tinggal sekamar dengan wanita lain yang sangat cantik yang tidur sengan pakaian tipis tanpa bra dapat membangkitkan hasrat liar. Berhari-hari aku selalu menahan hasrat tersebut dengan menjaga diri serta jarak aman, serta memandang senyuman manis yang berasal dari gambar wallpaper pada handphone.
"Lah aku berjuang mati-matian kalau digoda terus juga takut tergoda sayang. Makanya aku mau pesan kamar lain, tapi sayang sekali kapal ini sudah full booked."
"Ya sebenernya aku sih gak papa kok, kamunya kan tetap sama. Sejujurnya aku juga udah kangen." Perkataan tersebut membangkitkan sesuatu yang lembut menjadi keras, dia melihat kejadian tersebut dan memanggilku untuk naik keatas kasur untuk menemaninya. Hubungan intim antara suami dan istri adalah sesuatu yang wajar, meski tubuhnya adalah wanita lain tetapi dia tetaplah Graciella Angelim yang kukenal. "Aku serius loh, kan cuma kamu yang bisa sama aku."
Akupun menghampirinya dengan gagah perkasa, membaringkan tubuhnya dibawah tubuhku. Kedua tangannya membelai dan melingkari leherku, memberikan belaian lembut dari jari jemari lentiknya dan berhenti ketika memegang kedua belah pipiku. Selembar selimut lebar aku bentangkan membungkus tubuhnya seperti membedong bayi, dia mencoba memberontak tetapi aku lebih kuat dan menyekapnya dalam pelukanku. "Setiap memikirkannya aku tersiksa, aku tahu ini kamu tetapi rasanya berbeda. Tapi sekarang bisa memeluk kamu dari balik selimut saja sudah membuatku puas."
Dia tersenyum manis menatapku yang memeluknya dari punggung. Ketika wajahnya menoleh, Graciella memberikan kecupan kepada dahiku sambil berkata "terima kasih Janiel telah menjadi pria yang bisa kupercaya." Dan kamipun berciuman dan setelah tiga detik aku melepaskannya karena rasa canggungnya masih tetap ada. Entah sampai kapan kecanggungan ini berkepanjangan, aku hanya bisa berharap dan berdoa agar mendapat kekuatan sampai dia kembali ke tubuh aslinya.
Kapal pesiar kami sampai kepada perhentian pertama, sebuah negara diutara indonesia yang terkenal dengan tom yum sebagai makanan khasnya. Kapal akan berlabuh disini selama dua hari satu malam, para penumpang diberi kebebasan untuk mengelilingi kota. Graciella terlihat begitu semangat tetapi aku harus mematahkan semangat tersebut dengan memberikan fakta foto passport yang tidak sesuai dengan penampilannya saat ini.
"Kamu tidak bisa keluar sayang, selain karena passport, penampilanmu pasti akan menarik media jika ada yang post di social media."
"Ya, apalagi group band Especial sedang asian tour dan konser di Thailand. Akan sangat lucu kalau aku bertukar posisi menggantikan Katarina yang asli dan tampil diatas panggung."
"Bagaimana kau mengetahuinya? Kok Yakub belum memberitahu aku kabar ini."
"Makanya bikin social media, kalau mereka gak follow aku mereka pasti gak tahu kabar kamu sama sekali." Balasnya sambil memperlihatkan poster dari akun official Katarina yang akan konser persis hari ini. Dia juga memperlihatkan banyak foto album kita berdua dan foto candid yang dia ambil ketika aku sedang beraktivitas. Lalu dia menyalakan kamera dan mengambil foto kami berdua tanpa persetujuanku.
"Itu dihapus nanti bahaya, jadi skandal gak lucu."
"Tenang aja aku gak akan upload, lagian paling kamu disangka photoshop. Lagipula inikan momen unik yang harusnya bisa diabadikan." Lalu diapun mulai banyak mengambil foto selfie dari berbagai gaya menggunakan aku sebagai background. Juga mengambil beberapa gambar full body memperlihatkan lekuk tubuh indah dengan memamerkan perut yang rata dengan otot perut menambah keindahannya. "Astaga kalau aku lahir secantik ini kayaknya belum tentu kita menikah."
"Ya aku juga sadar diri waktu mengejar kamu."
"Maksud kamu aku gak cantik?!" Wanita mahkluk ajaib yang tidak bisa diukur menggunakan skala apapun, semakin aku mencoba memahaminya semakin aku bodoh dibuatnya, tetapi semakin aku bahagia didalam keterbatasan karena masih banyak hal yang perlu kupahami dari istriku.
"Yang aku bosan. Coba cari jalur belakang gih." Ujarnya dan akupun langsung menolak dengan tegas.
Akhirnya kamipun mendaratkan kaki diatas dermaga, Graciela dengan kacamata hitam, masker, dan topi untuk menyamarkan wajahnya berjalan dibawah teriknya sinar matahari. Penampilannya yang memukau menjadi perhatian public dan banyak orang mendekatinya bahkan untuk sekedar mencuri gambar.
"You're so pretty." Ujar seorang wanita muda yang mengajaknya foto bersama memberikan kameranya kepadaku. Dia pikir aku ini bodyguardnya apa.
"Thank you, but you are pretier." Balas Graciella tersenyum manis kearah wanita tersebut. Sifatnya yang rendah hati dan suka menaburkan kata-kata positif kepada orang lain, sifat yang membuatku jatuh hati tetap terpancar meski wujudnya lain. Graciella mengambil kamera miliknya dari tanganku dan mengajak wanita itu melakukan foto bersama, aksinya mengundang rombongan lain untuk mengajaknya foto bersama.
Datang waktunya ketika ada sekumpulan pemuda yang tersenyum-senyum malu berniat mengajaknya untuk berfoto bersama. Aku mengambil kamera mereka dan memfoto dengan asal sehingga memberikan gambar yang buram, saat mereka mencoba protes aku meninggikan nada suara dan berkata "she is my wife, male go away." Ujarku memamerkan cincin pernikahan yang terpasang pada jari manis kami berdua.
Graciella memeluk erat tanganku dan tanpa sengaja buah dadanya yang besar menyentuh lenganku. Kekenyalan yang kurasakan membuat tubuh bergejolak dan ingin segera melepaskannya, tetapi melihat banyak pria berlalu lalang terpana akan kecantikannya, aku menahan diri dari pikiran-pikiran kotor yang terbesit. "Terakhir kali kamu melindungi aku seperti ini ketika kita baru berpacaran. Ingat tidak?" Ujar Graciella meletakan kepalanya pada pundakku.
"Sifat ramahmu pernah membuat orang lain salah sangka. Itu pertama kali aku terpaksa menggunakan teknik Judo dijalanan."
Sambil tertawa dan mencubit pipiku dengan gemas dia membalas "wajar saja kamu membalas. badannya saja jauh lebih besar darimu dan dia berkali-kali memukulmu. Sejujurnya aku sudah mengambil gunting untuk menolongmu saat itu."
"Ya aku melihatnya, itulah sebabnya aku membanting dia. Senjata tajam akan menjadi perkara dan hukumannya bisa lebih panjang."
"Aku baru tahu ternyata kamu melakukan itu untuk melindungi aku ya"
"Tentu saja, pukulannya lemah dan mudah ditepis. Aku sama sekali tidak merasa terancam saat itu, sebenarnya jika kamu tidak mengambil gunting saat itu aku tidak perlu masuk ke ruang tahanan." Ujarnya terkejut dan merasa bersalah atas tindakannya. "Tapi kamu sudah membayar kesalahanmu dengan menemaniku seumur hidup. Jadi aku tidak pernah membahasnya lagi."
Sambil bergandengan tangan kita berkeliling pasar menyantap beberapa makanan khas daerah, dan berhenti ditempat wisata dan area perbelanjaan. Wanita memiliki energy cadangan untuk saat-saat seperti ini, tetapi kehabisan tenaga ketika harus membawa barang belanjaan mereka kembali. Kita berjalan ke hotel terdekat untuk mencari tempat penginapan, karena terlalu jauh untuk kembali ke pasar pesiar sekarang dan lagi jalanan terlihat sangat macet karena memasuki jam sibuk. Beberapa hotel terdekat sudah coba kami kunjungi tetapi mereka semua sedang full booked, akhirnya kita memutuskan untuk beristirahat sejenak di cafe dan beristirahat sebentar disana.
Graciella berkeliling untuk melihat-lihat dan setelah beberapa jam berlalu aku menunggu dia tidak kunjung kembali. Aku mencoba menghubunginya melalui handphone, sepertinya sinyalnya buruk sehingga dia tidak merespon. "Apa dia sedang di WC seperti waktu itu ya? Dia makan banyak sekali dari tadi." Ujarku sembari tempat duduk untuk menunggu. Satu jam berlalu tetapi tidak ada kabar sama sekali, aku mulai resah dan berkeliling ke WC terdekat yang ada dilobby tidak jauh dari main hall hotel tersebut.
Berkali-kali aku mencoba memanggil namanya dan tidak terdapat respon sama sekali, dan setelah satu jam berlalu, tiba-tiba segerombolan orang berbaju jas hitam keluar dari pintu main hall dan berjalan melewatiku dan membentuk pagae agar memberi ruang bagi mereka berjalan. Wajah oriental seperti orang korea, aku hanya berspekulasi mereka adalah rombongan staff group band Especial yang akan konser didekat sini.
"Janiel-ssi. Suara yang kukenal secara samar-samar aku dengar dari rombongan tersebut. Wanita cantik bertubuh tinggi semampai berjalan diantara tiga wanita lain yang sama cantiknya dengan dia. Gadis itu melambai-lambai tangan kearahku dan aku membalas melambaikan tangan kearahnya memberikan senyum. Tidak kusangka kita akan bertemu dengan Katarina dan gerombolannya ditempat ini, sungguh suatu kebetulan dia tidak bertemu dengan Graciella, pasti akan terjadi kehebohan jika mereka bertemu. Langkah mereka sangat celat dan tergesa-gesa dan ketika aku melihat jam waktu sudah menunjukan jam 6 sore dan sepertinya mereka bersiap untuk ketempat konser.
"Astaga mereka mirip sekali, untung saja Graciella memotong rambutnya jadi pendek sehingga aku bisa membedakannya." Akupun mencoba mendekat kearah pintu WC wanita dan mendadak pintu tersebut terbuka dan aku melihat Graciella berteriak terkejut ketika melihatku didepannya. "Kamu lama banget, kalau nanti wasir gimana." Kataku kepadanya yang sedang terjongkok shock setelah berteriak menggemaskan sebelumnya.
Kuulurkan tanganku agar dia dapat menggapainya untuk membantunya bangkit berdiri, tetapi dia tidak menyambut uluran tanganku. Ketika aku mendekat dan ingin menyentuh pundaknya dia mencoba menghindar dan bergumam menggunakan bahasa korea yang aku tidak terlalu pahami. Aku memperhatikan sosok tersebut dari atas sampai bawah memeriksa semua ornamen yang sudah terpasang disertai makeup yang membuat kecantikannya semakin bersinar, akupun menarik ujung rambutnya sampai putus dan dia terlihat kesakitan ketika rambut panjangnya aku ambil. "Oh my God." Bumi terasa berhenti berputar dan tarikan grafitasi gagal untuk menahan jiwaku untuk tetap menapak pada permukaan bumi.
Dia menarik dan menciumku seperti yang biasa kita lakukan dirumah, sebuah ciuman hangat pemberi semangat dipagi hari yang kadang dipenuhi gairah sehingga membuatnya selalu terburu-buru jika aku terlalu mengatur tempo untuk menjaga durasi. Rutinitas yang biasa kami lakukan sudah sekitar 2 minggu tidak terjadi, bahkan ciuman panas kini hanya menjadi kecupan hangat yang tidak pernah lebih dari tiga detik yang selalu kututup dengan ucapan i love you. "Kamu yakin gak mau itu?" Ujarnya sembari menggodaku sambil memberikan tatapan genit kearah bawah perutku dengan peningkatan erotisme mencapai ribuan persen.
"Ya sebenernya sih kepingin, aku kan udah dua minggu puasa."
"Oh gitu, jadi kamu makin kepingin karena aku jadi Katarina rupanya."
Hanya pembohong bermulut manis yang berkata sanggup untuk menolak seorang wanita cantik yang siap bercinta dengannya. Meskipun aku hanya mencintai istriku seorang, tapi tinggal sekamar dengan wanita lain yang sangat cantik yang tidur sengan pakaian tipis tanpa bra dapat membangkitkan hasrat liar. Berhari-hari aku selalu menahan hasrat tersebut dengan menjaga diri serta jarak aman, serta memandang senyuman manis yang berasal dari gambar wallpaper pada handphone.
"Lah aku berjuang mati-matian kalau digoda terus juga takut tergoda sayang. Makanya aku mau pesan kamar lain, tapi sayang sekali kapal ini sudah full booked."
"Ya sebenernya aku sih gak papa kok, kamunya kan tetap sama. Sejujurnya aku juga udah kangen." Perkataan tersebut membangkitkan sesuatu yang lembut menjadi keras, dia melihat kejadian tersebut dan memanggilku untuk naik keatas kasur untuk menemaninya. Hubungan intim antara suami dan istri adalah sesuatu yang wajar, meski tubuhnya adalah wanita lain tetapi dia tetaplah Graciella Angelim yang kukenal. "Aku serius loh, kan cuma kamu yang bisa sama aku."
Akupun menghampirinya dengan gagah perkasa, membaringkan tubuhnya dibawah tubuhku. Kedua tangannya membelai dan melingkari leherku, memberikan belaian lembut dari jari jemari lentiknya dan berhenti ketika memegang kedua belah pipiku. Selembar selimut lebar aku bentangkan membungkus tubuhnya seperti membedong bayi, dia mencoba memberontak tetapi aku lebih kuat dan menyekapnya dalam pelukanku. "Setiap memikirkannya aku tersiksa, aku tahu ini kamu tetapi rasanya berbeda. Tapi sekarang bisa memeluk kamu dari balik selimut saja sudah membuatku puas."
Dia tersenyum manis menatapku yang memeluknya dari punggung. Ketika wajahnya menoleh, Graciella memberikan kecupan kepada dahiku sambil berkata "terima kasih Janiel telah menjadi pria yang bisa kupercaya." Dan kamipun berciuman dan setelah tiga detik aku melepaskannya karena rasa canggungnya masih tetap ada. Entah sampai kapan kecanggungan ini berkepanjangan, aku hanya bisa berharap dan berdoa agar mendapat kekuatan sampai dia kembali ke tubuh aslinya.
Kapal pesiar kami sampai kepada perhentian pertama, sebuah negara diutara indonesia yang terkenal dengan tom yum sebagai makanan khasnya. Kapal akan berlabuh disini selama dua hari satu malam, para penumpang diberi kebebasan untuk mengelilingi kota. Graciella terlihat begitu semangat tetapi aku harus mematahkan semangat tersebut dengan memberikan fakta foto passport yang tidak sesuai dengan penampilannya saat ini.
"Kamu tidak bisa keluar sayang, selain karena passport, penampilanmu pasti akan menarik media jika ada yang post di social media."
"Ya, apalagi group band Especial sedang asian tour dan konser di Thailand. Akan sangat lucu kalau aku bertukar posisi menggantikan Katarina yang asli dan tampil diatas panggung."
"Bagaimana kau mengetahuinya? Kok Yakub belum memberitahu aku kabar ini."
"Makanya bikin social media, kalau mereka gak follow aku mereka pasti gak tahu kabar kamu sama sekali." Balasnya sambil memperlihatkan poster dari akun official Katarina yang akan konser persis hari ini. Dia juga memperlihatkan banyak foto album kita berdua dan foto candid yang dia ambil ketika aku sedang beraktivitas. Lalu dia menyalakan kamera dan mengambil foto kami berdua tanpa persetujuanku.
"Itu dihapus nanti bahaya, jadi skandal gak lucu."
"Tenang aja aku gak akan upload, lagian paling kamu disangka photoshop. Lagipula inikan momen unik yang harusnya bisa diabadikan." Lalu diapun mulai banyak mengambil foto selfie dari berbagai gaya menggunakan aku sebagai background. Juga mengambil beberapa gambar full body memperlihatkan lekuk tubuh indah dengan memamerkan perut yang rata dengan otot perut menambah keindahannya. "Astaga kalau aku lahir secantik ini kayaknya belum tentu kita menikah."
"Ya aku juga sadar diri waktu mengejar kamu."
"Maksud kamu aku gak cantik?!" Wanita mahkluk ajaib yang tidak bisa diukur menggunakan skala apapun, semakin aku mencoba memahaminya semakin aku bodoh dibuatnya, tetapi semakin aku bahagia didalam keterbatasan karena masih banyak hal yang perlu kupahami dari istriku.
"Yang aku bosan. Coba cari jalur belakang gih." Ujarnya dan akupun langsung menolak dengan tegas.
Akhirnya kamipun mendaratkan kaki diatas dermaga, Graciela dengan kacamata hitam, masker, dan topi untuk menyamarkan wajahnya berjalan dibawah teriknya sinar matahari. Penampilannya yang memukau menjadi perhatian public dan banyak orang mendekatinya bahkan untuk sekedar mencuri gambar.
"You're so pretty." Ujar seorang wanita muda yang mengajaknya foto bersama memberikan kameranya kepadaku. Dia pikir aku ini bodyguardnya apa.
"Thank you, but you are pretier." Balas Graciella tersenyum manis kearah wanita tersebut. Sifatnya yang rendah hati dan suka menaburkan kata-kata positif kepada orang lain, sifat yang membuatku jatuh hati tetap terpancar meski wujudnya lain. Graciella mengambil kamera miliknya dari tanganku dan mengajak wanita itu melakukan foto bersama, aksinya mengundang rombongan lain untuk mengajaknya foto bersama.
Datang waktunya ketika ada sekumpulan pemuda yang tersenyum-senyum malu berniat mengajaknya untuk berfoto bersama. Aku mengambil kamera mereka dan memfoto dengan asal sehingga memberikan gambar yang buram, saat mereka mencoba protes aku meninggikan nada suara dan berkata "she is my wife, male go away." Ujarku memamerkan cincin pernikahan yang terpasang pada jari manis kami berdua.
Graciella memeluk erat tanganku dan tanpa sengaja buah dadanya yang besar menyentuh lenganku. Kekenyalan yang kurasakan membuat tubuh bergejolak dan ingin segera melepaskannya, tetapi melihat banyak pria berlalu lalang terpana akan kecantikannya, aku menahan diri dari pikiran-pikiran kotor yang terbesit. "Terakhir kali kamu melindungi aku seperti ini ketika kita baru berpacaran. Ingat tidak?" Ujar Graciella meletakan kepalanya pada pundakku.
"Sifat ramahmu pernah membuat orang lain salah sangka. Itu pertama kali aku terpaksa menggunakan teknik Judo dijalanan."
Sambil tertawa dan mencubit pipiku dengan gemas dia membalas "wajar saja kamu membalas. badannya saja jauh lebih besar darimu dan dia berkali-kali memukulmu. Sejujurnya aku sudah mengambil gunting untuk menolongmu saat itu."
"Ya aku melihatnya, itulah sebabnya aku membanting dia. Senjata tajam akan menjadi perkara dan hukumannya bisa lebih panjang."
"Aku baru tahu ternyata kamu melakukan itu untuk melindungi aku ya"
"Tentu saja, pukulannya lemah dan mudah ditepis. Aku sama sekali tidak merasa terancam saat itu, sebenarnya jika kamu tidak mengambil gunting saat itu aku tidak perlu masuk ke ruang tahanan." Ujarnya terkejut dan merasa bersalah atas tindakannya. "Tapi kamu sudah membayar kesalahanmu dengan menemaniku seumur hidup. Jadi aku tidak pernah membahasnya lagi."
Sambil bergandengan tangan kita berkeliling pasar menyantap beberapa makanan khas daerah, dan berhenti ditempat wisata dan area perbelanjaan. Wanita memiliki energy cadangan untuk saat-saat seperti ini, tetapi kehabisan tenaga ketika harus membawa barang belanjaan mereka kembali. Kita berjalan ke hotel terdekat untuk mencari tempat penginapan, karena terlalu jauh untuk kembali ke pasar pesiar sekarang dan lagi jalanan terlihat sangat macet karena memasuki jam sibuk. Beberapa hotel terdekat sudah coba kami kunjungi tetapi mereka semua sedang full booked, akhirnya kita memutuskan untuk beristirahat sejenak di cafe dan beristirahat sebentar disana.
Graciella berkeliling untuk melihat-lihat dan setelah beberapa jam berlalu aku menunggu dia tidak kunjung kembali. Aku mencoba menghubunginya melalui handphone, sepertinya sinyalnya buruk sehingga dia tidak merespon. "Apa dia sedang di WC seperti waktu itu ya? Dia makan banyak sekali dari tadi." Ujarku sembari tempat duduk untuk menunggu. Satu jam berlalu tetapi tidak ada kabar sama sekali, aku mulai resah dan berkeliling ke WC terdekat yang ada dilobby tidak jauh dari main hall hotel tersebut.
Berkali-kali aku mencoba memanggil namanya dan tidak terdapat respon sama sekali, dan setelah satu jam berlalu, tiba-tiba segerombolan orang berbaju jas hitam keluar dari pintu main hall dan berjalan melewatiku dan membentuk pagae agar memberi ruang bagi mereka berjalan. Wajah oriental seperti orang korea, aku hanya berspekulasi mereka adalah rombongan staff group band Especial yang akan konser didekat sini.
"Janiel-ssi. Suara yang kukenal secara samar-samar aku dengar dari rombongan tersebut. Wanita cantik bertubuh tinggi semampai berjalan diantara tiga wanita lain yang sama cantiknya dengan dia. Gadis itu melambai-lambai tangan kearahku dan aku membalas melambaikan tangan kearahnya memberikan senyum. Tidak kusangka kita akan bertemu dengan Katarina dan gerombolannya ditempat ini, sungguh suatu kebetulan dia tidak bertemu dengan Graciella, pasti akan terjadi kehebohan jika mereka bertemu. Langkah mereka sangat celat dan tergesa-gesa dan ketika aku melihat jam waktu sudah menunjukan jam 6 sore dan sepertinya mereka bersiap untuk ketempat konser.
"Astaga mereka mirip sekali, untung saja Graciella memotong rambutnya jadi pendek sehingga aku bisa membedakannya." Akupun mencoba mendekat kearah pintu WC wanita dan mendadak pintu tersebut terbuka dan aku melihat Graciella berteriak terkejut ketika melihatku didepannya. "Kamu lama banget, kalau nanti wasir gimana." Kataku kepadanya yang sedang terjongkok shock setelah berteriak menggemaskan sebelumnya.
Kuulurkan tanganku agar dia dapat menggapainya untuk membantunya bangkit berdiri, tetapi dia tidak menyambut uluran tanganku. Ketika aku mendekat dan ingin menyentuh pundaknya dia mencoba menghindar dan bergumam menggunakan bahasa korea yang aku tidak terlalu pahami. Aku memperhatikan sosok tersebut dari atas sampai bawah memeriksa semua ornamen yang sudah terpasang disertai makeup yang membuat kecantikannya semakin bersinar, akupun menarik ujung rambutnya sampai putus dan dia terlihat kesakitan ketika rambut panjangnya aku ambil. "Oh my God." Bumi terasa berhenti berputar dan tarikan grafitasi gagal untuk menahan jiwaku untuk tetap menapak pada permukaan bumi.
PREV CHAPTER
Diubah oleh rienoir 30-10-2024 13:23
putinpurchinov memberi reputasi
1
Kutip
Balas