- Beranda
- Stories from the Heart
My Wife Become Idol
...
TS
rienoir
My Wife Become Idol
Halo apa kabar kaskuser. Lagi nyantai-nyantai ane jadi pingin nulis karya orisinil pertama ane setelah sebelumnya menulis beberapa fanfic. Dalam fiksi ini saya menantang diri saya untuk membuat cerita dengan latar belakang yang membosankan yang dibumbui kejadian supranatural, sebuah kisah tanpa banyak drama dan plot berbelit namun tetap bisa dinikmati pembaca. Doakan saya supaya berhasil dalam menulisnya cerita ini, mohon dukungan para pembaca juga untuk tidak menjadi Silent Reader agar saya dapat menilai kinerja saya melalui respon kalian.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka, kesamaan nama maupun kejadian mungkin hanya kebetulan meski ada beberapa yang terinspirasi, serta illustrasi yang diberikan hanya untuk memberikan gambaran saja. Silahkan dinikmati dan tolong saya jangan dibully.
Judul : My Wife Become Idol
Genre : Romance, Comedy
Rating : 18+

PROLOG
Namaku Janiel Tjioekarsa, seorang pria normal berusia 36 Tahun. Kehidupanku berjalan sangat indah dan nyaman, memiliki penghasilan menarik, punya waktu yang fleksibel, dan aku memiliki seorang istri yang sangat kucintai bernama Graciella Angelim. Wanita cantik berpipi tembam yang kutetapkan sebagai pendamping hidupku sepuluh tahun yang lalu ketika usianya masih dua puluh dua Tahun.
Kehidupan pernikahan kami sangat indah, meski belum dikaruniakan keturunan kami tetap bisa menikmati kehidupan pernikahan kami dengan bahagia. Tetapi semua hal tersebut berubah dalam satu malam ketika dia berubah menjadi seorang idol.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka, kesamaan nama maupun kejadian mungkin hanya kebetulan meski ada beberapa yang terinspirasi, serta illustrasi yang diberikan hanya untuk memberikan gambaran saja. Silahkan dinikmati dan tolong saya jangan dibully.
Judul : My Wife Become Idol
Genre : Romance, Comedy
Rating : 18+

Spoiler for "index":
Quote:
PROLOG
Namaku Janiel Tjioekarsa, seorang pria normal berusia 36 Tahun. Kehidupanku berjalan sangat indah dan nyaman, memiliki penghasilan menarik, punya waktu yang fleksibel, dan aku memiliki seorang istri yang sangat kucintai bernama Graciella Angelim. Wanita cantik berpipi tembam yang kutetapkan sebagai pendamping hidupku sepuluh tahun yang lalu ketika usianya masih dua puluh dua Tahun.
Kehidupan pernikahan kami sangat indah, meski belum dikaruniakan keturunan kami tetap bisa menikmati kehidupan pernikahan kami dengan bahagia. Tetapi semua hal tersebut berubah dalam satu malam ketika dia berubah menjadi seorang idol.
Diubah oleh rienoir 30-10-2024 13:22
bukhorigan dan 3 lainnya memberi reputasi
4
812
Kutip
13
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rienoir
#6
Chapter 3 - Misfortune in Disguise
Spoiler for "":
Aku duduk sendiri pada sebuah meja restoran buffet menikmati sarapan pagi. Sebuah potongan daging dada ayam, ditemani sosis sapi dan beberapa lembar bacon asin aku lahap menggunakan garpu dan pisau. Ketika aku menyeruput teh english breakfast, seorang wanita berpakaian gombrong dengan kacamata hitam menarik bangku yang ada di sudut lain dari meja makanku. "Apa yang kau lakukan, duduk diselah sana." Ujarku tanpa mengeluarkan kata-kata hanya dengan gerakan bibir berkomat-kamit tidak jelas dan berlebihan serta tatapan mata mengarah kesebuah meja kosong yang ada tidak jauh dariku.
Dibalik kacamata hitam tersebut aku merasakan tatapan tajam menusuk tenggorokanku. Mulutnya berkomat-kamit seperti melepaskan kutukan tetapi aku dapat dengan lancar memahami setiap perkataannya. Dia duduk membanting bokongnya keatas bangku lalu dengan lahap melahap semua makanan yang diambilnya dalam waktu singkat. Tubuhnya yang pendek serta berat badan yang cepat bertambah membuat sosok istriku menjaga pola makannya, dia hanya makan sepertiga dari porsi makan wajar yang biasa aku ambil jadi ketika dia selesai makan ketika aku masih mengunyah adalah hal yang wajar.
Dia terlihat menikmati makanan yang disediakan pihak restoran dan makan dengan lahap dipenuhi suara sambil menggoyangkan tubuhnya dengan tarian kecil. Usai menghabiskan porsi yang dipiringnya diapun bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya kembali ke meja buffet dan mengambil makanan dalam jumlah besar. "Apa lihat-lihat, aku lagi bad mood jadi lapar." Sahutnya kepadaku membuatmu menghela nafas panjang dan kembali menyeruput teh hangat diatas meja.
Dia kembali berdiri dan melangkahkan kakinya kembali ke meja buffer, aku mendadak mencoba menghentikan tindakan istriku yang makan berlebihan di pagi hari. "Sayang kamu makan berlebihan, nanti sakit perut." Ujarku berbisik kepadanya.
"Aku belum kenyang, terus kenapa kamu dekat-dekat? Bukannya takut jadi gosip." Dia menyahut mengambil beberapa potong sosis dan bacon sampai piringnya penuh.
Akupun menggeleng-gelengkan kepala dan kembali ketempat duduk setelah mengambil semangkuk puding coklat. Dan ketika istriku kembali ke mejanya dia tersenyum bahagia melahap semua makanan yang diambilnya. Dengan tubuh sekurus itu dan nafsu makan yang sangat besar tentu saja dia menjadi perhatian dari tamu wanita lain yang iri dengan nafsu makannya. Tiba-tiba saja aku merasa tidak mengenal sosok wanita yang adalah istriku. "Wah luar biasa, aku baru kenyang sekarang. Perutku sampai kencang." Dia menepuk-nepuk perutnya yang agak membelendung dan mengusapnya memutar disertai helaan nafas puas.
"Ini pertama kalinya aku makan sebanyak ini, aku jadi ingin cemilan penutup." Reflek tanganku menangkap tangannya agar dia menghentikan langkahnya. Aksi tersebut menjadi perhatian karena istriku berada ditubuh dengan aura bintang dan sangat menarik perhatian, dan magnet penarik perhatian kepadanya meningkat ketika dia berhasil membersihkan setiap makanan yang tersedia diatas mejanya. "Kenapa pegang-pegang nanti dilihat orang lain gimana!" Ujarnya tanpa suara dengan mulut komat kamit yang dapat kubaca dengan jelas.
"Miss you drop this." Ujarku mempertahankan harga diriku dihadapan semua orang yang memperhatikan Graciella. Aku mengangkat sebuah kacamata hitam dan memberikan bends tersebut kepadanya. "Sudah cukup makannya, memang kamu gak takut gemuk." Aku berkomat-kamit memberi isyarat.
"Kapan lagi aku bisa makan sebanyak ini, ini kesempatan buat aku. Kamu duduk aja sana nonton aku makan." Balasnya dengan gerakan bibir secara acak. Nafsu makan yang tidak biasa ini membuatku ragu kalau sosok Katarina dihadapanku adalah benar istriku Graciella.
Dia kembali duduk menikmati kue-kue dan makanan ringan yang manis. Melahapnya sambil berjoged-joged bahagia seperti biasa ketika sesuatu yang nikmat masuk kedalam mulutnya. Dia istriku tetapi juga bukan, tapi aku juga perlu mencari tahu apa yang terjadi pada Katarina asli. Ketika dia sedang asik melahap aku mengirimkan pesan kepada Yakub untuk membantuku mencari kabar tersebut.
"Yang bener aja lu cuk. Gue bisa dianggep stalker nanti. Emang kenapa sih lu pengen tau soal Katarina? Lu kan sudah punya Graciella. Janganlah kau tiru-tiru itu si Petra."
"Bilang aja kita ada rencana untuk ngundang mereka lagi, kan cuma ngomong doang belum disuruh bayar."
"Oh gue sangka lu udah mulai ketularan gila. Oke nanti gue aturin ya." Ujar Yakub dan diapun menutup telefon. Katarina maksudku Graciella menatap kearahku dengan menggigit ujung garpunya dan membuat pose seksi, biasanya aku tersenyum akan keimutan yang membuatku merasa gemas dengan pipi tembamnya, tetapi tatapannya kali ini sangat berbeda dan membuat detak jantungku seperti meledak dan rasa bergejolak tersebut memanggil memori di pagi hari sehingga menegangkan benda yang ada dibalik celanaku.
Segera aku memalingkan wajah daripadanya, rasanya sungguh memalukan terangsang kepada wanita lain tetapi disatu sisi dia juga adalah istriku yang sah jadi seharusnya hal-hal romantisme rumah tangga adalah hal yang wajar bagi kami. "Hus, berhenti berpikir kotor." Ujarku kepada diriku sendiri sembari menghalau awan pikiran yang menciptakan bayangan kejadian yang belum pernah terjadi.
"Ahh." sebuah suara keluar dari mulut Graciella dan dia langsung berdiri dan pergi meninggalkanku sendiri. Aku ingin memanggil dan menanyakan ada apa yang terjadi tetapi tetap harus membatasi tindakanku.
Langkah cepat kuambil untuk menyusulnya dan bertanya "kenapa?" Dengan nada kecil dan lanjut mendahului didepannya.
Merasa terhalangi dia segera mendorong tubuhku dan menyelak tanpa berkata apapun. Langkah kakinya menjadi semakin cepat kearah toilet, dan ketika dia masuk pintu tersebut tidak sampai dua detik dia keluar lagi dan melangkah dengan hentakan kaki yang keras. Dia berjalan mengarah ke toilet yang ada disudut lain, tetapi ketika sampai disana dia langsung keluar lagi dan mencoba menarik pintu pada toilet khusus disabilitas. Pintu tersebut terkunci dan ada orang menjawab dari dalam dan sambil menahan sakit pada perutnya Graciella terduduk dilantai dan berteriak "Please help! Emergency!".
Dia terjongkok didepan pintu meminta pertolongan kepada Tuhan dan saat itu juga aku paham dengan situasinya. Segera aku memasuki toilet pria dan mengecek kedalam dan kutemui tidak ada orang satupun. Aku membantunya berdiri dan dengan segera dia berlari kedalam kesebuah bilik tertutup dan langsung berteriak keras mengeluarkan rasa sakit yang harus ditahan. "I'm sorry sir my wife is inside for emergency issue. Thanks for your understanding." Ujarku kepada seorang pria yang mencoba masuk ke toilet yang terlihat tidak senang ketika aku menahannya untuk menggunakan fasilitas umum ini, namun ketika didengarnya suara wanita berteriak dari dalam dia segera memakluminya dan berpindah ke toilet yang lain.
"Oppa." Ujarnya memanggilku dari dalam bilik ketika aku berjaga didepan pintu. Aku menoleh masuk kedalam dan menjawabnya. "Oppa aku minta tolong. Bawakan celana pengganti, tadi keburu terlambat.". Apakah garis kehidupan sedang bermain-main denganku saat ini? Semua kejadian aneh seakan sedang dirangkum menjadi satu moment membuatku kehabisan kata-kata. Logikaku kembali berhenti bekerja dan aku melihat sekeliling dan cukup ramai, cukup mustahil untuk mengambil celana dalam pengganti untuknya.
"Buang saja celana dalamnya dan tutupi dengan bajumu. Nanti aku yang akan menjagamu." Diapun keluar membuka pintu dengan topi yang agak diturunkan untuk menutupi kedua matanya, sebuah kacamata hitam dan masker langsung dikenakan dan langkah kaki seribu mendahului sementara aku berjaga dibelakangnya mengamati mata-mata yang mencoba menatap istriku secara tidak senonoh.
Dalam waktu singkat kami kembali ke kamar, dengan lega dia berbalik badan dan memeluk aku dengan tubuhnya yang berbeda. Dadanya yang besar menekan dadaku, serta keningnya sukses menghantam hidung dikarenakan perbedaan tinggi badan yang signifikan dari tubuhnya yang asli. Tinggi normal Graciella adalah 157cm, sementara Katarina memiliki tinggi badan 168cm, kedua cairan merah dengan bau besi mengalir dari hidungku akibat ulahnya.
"Aku tidak menyangka metabolismenya secepat itu. Pantas saja aku bisa makan banyak tanpa takut gemuk, tubuh ini benar-benar idaman setiap wanita." Jelasnya sambil mengobati hidungku yang terluka.
"Tetap saja bukan berarti kamu bisa makan berlebihan seperti itu. Kita tetap harus mencari cara supaya kamu kembali normal. Aku tidak bisa beradaptasi dengan keadaan ini."
"Oppa setidaknya aku ingin bersenang-senang sementara. Hahaha.. bisa fashionable tanpa harus bersusah payah, punya bentuk tubuh ideal tanpa menjaga pola makan yang menyiksa, serta tubuh atletis dengan stamina yang kuat. Pasti aku sekarang aku hebat urusan diranjang." Ujarnya sembari menatapku disertai tatapan genit yang mencoba memangsaku. Dia mendekatkan wajahnya kepadaku, menutupi pandangan mataku dengan tangannya dan memberikan kecupan hangat dan membiarkan mengulum bibirku. Teknik yang sama namun sensasi yang berbeda, aku menginginkan istriku tetapi jiwaku menolaknya sehingga rasa sesak pada dada menghanyut.
"Sejujurnya menyakitkan jika mengetahui seorang suami menjadi semakin tertarik istri ketika istrinya menjadi lebih cantik. Aku bersyukur kamu mencintaiku apa adanya, bahkan aku bisa jujur mengatakan kalau aku tidak keberatan maupun merasa dikhianati jika kamu mengekspresikan cintamu kepadaku seperti biasa."
"Yang kucintai hanya kamu seorang. Meski kamu berkata seperti itu, aku tetap tidak bisa menerimanya." Tanganku menggenggam erat kedua tangannya memainkan jari-jari lentik dan membandingkannya dengan jari-jemari empuk yang suka mengusap pipiku.
"Masih jadi wanita kau pasti bisa terima, coba aku jadi pria yang menjabat jadi gabener." Membayangkannya saja membuatku jijik dan sambil berteriak pelan aku memintanya untuk tidak membuat simulasi aneh. Sebagai mahluk visual aku dapat dengan mudah menggambarkan segala sesuatu didalam kepala, dan bayang-bayang yang memuakan terbesit sehingga membuatku ingin muntah.
Dibalik kacamata hitam tersebut aku merasakan tatapan tajam menusuk tenggorokanku. Mulutnya berkomat-kamit seperti melepaskan kutukan tetapi aku dapat dengan lancar memahami setiap perkataannya. Dia duduk membanting bokongnya keatas bangku lalu dengan lahap melahap semua makanan yang diambilnya dalam waktu singkat. Tubuhnya yang pendek serta berat badan yang cepat bertambah membuat sosok istriku menjaga pola makannya, dia hanya makan sepertiga dari porsi makan wajar yang biasa aku ambil jadi ketika dia selesai makan ketika aku masih mengunyah adalah hal yang wajar.
Quote:
Original Posted By ""

Dia terlihat menikmati makanan yang disediakan pihak restoran dan makan dengan lahap dipenuhi suara sambil menggoyangkan tubuhnya dengan tarian kecil. Usai menghabiskan porsi yang dipiringnya diapun bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya kembali ke meja buffet dan mengambil makanan dalam jumlah besar. "Apa lihat-lihat, aku lagi bad mood jadi lapar." Sahutnya kepadaku membuatmu menghela nafas panjang dan kembali menyeruput teh hangat diatas meja.
Dia kembali berdiri dan melangkahkan kakinya kembali ke meja buffer, aku mendadak mencoba menghentikan tindakan istriku yang makan berlebihan di pagi hari. "Sayang kamu makan berlebihan, nanti sakit perut." Ujarku berbisik kepadanya.
"Aku belum kenyang, terus kenapa kamu dekat-dekat? Bukannya takut jadi gosip." Dia menyahut mengambil beberapa potong sosis dan bacon sampai piringnya penuh.
Akupun menggeleng-gelengkan kepala dan kembali ketempat duduk setelah mengambil semangkuk puding coklat. Dan ketika istriku kembali ke mejanya dia tersenyum bahagia melahap semua makanan yang diambilnya. Dengan tubuh sekurus itu dan nafsu makan yang sangat besar tentu saja dia menjadi perhatian dari tamu wanita lain yang iri dengan nafsu makannya. Tiba-tiba saja aku merasa tidak mengenal sosok wanita yang adalah istriku. "Wah luar biasa, aku baru kenyang sekarang. Perutku sampai kencang." Dia menepuk-nepuk perutnya yang agak membelendung dan mengusapnya memutar disertai helaan nafas puas.
"Ini pertama kalinya aku makan sebanyak ini, aku jadi ingin cemilan penutup." Reflek tanganku menangkap tangannya agar dia menghentikan langkahnya. Aksi tersebut menjadi perhatian karena istriku berada ditubuh dengan aura bintang dan sangat menarik perhatian, dan magnet penarik perhatian kepadanya meningkat ketika dia berhasil membersihkan setiap makanan yang tersedia diatas mejanya. "Kenapa pegang-pegang nanti dilihat orang lain gimana!" Ujarnya tanpa suara dengan mulut komat kamit yang dapat kubaca dengan jelas.
Quote:
Original Posted By ""

"Miss you drop this." Ujarku mempertahankan harga diriku dihadapan semua orang yang memperhatikan Graciella. Aku mengangkat sebuah kacamata hitam dan memberikan bends tersebut kepadanya. "Sudah cukup makannya, memang kamu gak takut gemuk." Aku berkomat-kamit memberi isyarat.
"Kapan lagi aku bisa makan sebanyak ini, ini kesempatan buat aku. Kamu duduk aja sana nonton aku makan." Balasnya dengan gerakan bibir secara acak. Nafsu makan yang tidak biasa ini membuatku ragu kalau sosok Katarina dihadapanku adalah benar istriku Graciella.
Dia kembali duduk menikmati kue-kue dan makanan ringan yang manis. Melahapnya sambil berjoged-joged bahagia seperti biasa ketika sesuatu yang nikmat masuk kedalam mulutnya. Dia istriku tetapi juga bukan, tapi aku juga perlu mencari tahu apa yang terjadi pada Katarina asli. Ketika dia sedang asik melahap aku mengirimkan pesan kepada Yakub untuk membantuku mencari kabar tersebut.
"Yang bener aja lu cuk. Gue bisa dianggep stalker nanti. Emang kenapa sih lu pengen tau soal Katarina? Lu kan sudah punya Graciella. Janganlah kau tiru-tiru itu si Petra."
"Bilang aja kita ada rencana untuk ngundang mereka lagi, kan cuma ngomong doang belum disuruh bayar."
"Oh gue sangka lu udah mulai ketularan gila. Oke nanti gue aturin ya." Ujar Yakub dan diapun menutup telefon. Katarina maksudku Graciella menatap kearahku dengan menggigit ujung garpunya dan membuat pose seksi, biasanya aku tersenyum akan keimutan yang membuatku merasa gemas dengan pipi tembamnya, tetapi tatapannya kali ini sangat berbeda dan membuat detak jantungku seperti meledak dan rasa bergejolak tersebut memanggil memori di pagi hari sehingga menegangkan benda yang ada dibalik celanaku.
Segera aku memalingkan wajah daripadanya, rasanya sungguh memalukan terangsang kepada wanita lain tetapi disatu sisi dia juga adalah istriku yang sah jadi seharusnya hal-hal romantisme rumah tangga adalah hal yang wajar bagi kami. "Hus, berhenti berpikir kotor." Ujarku kepada diriku sendiri sembari menghalau awan pikiran yang menciptakan bayangan kejadian yang belum pernah terjadi.
"Ahh." sebuah suara keluar dari mulut Graciella dan dia langsung berdiri dan pergi meninggalkanku sendiri. Aku ingin memanggil dan menanyakan ada apa yang terjadi tetapi tetap harus membatasi tindakanku.
Langkah cepat kuambil untuk menyusulnya dan bertanya "kenapa?" Dengan nada kecil dan lanjut mendahului didepannya.
Merasa terhalangi dia segera mendorong tubuhku dan menyelak tanpa berkata apapun. Langkah kakinya menjadi semakin cepat kearah toilet, dan ketika dia masuk pintu tersebut tidak sampai dua detik dia keluar lagi dan melangkah dengan hentakan kaki yang keras. Dia berjalan mengarah ke toilet yang ada disudut lain, tetapi ketika sampai disana dia langsung keluar lagi dan mencoba menarik pintu pada toilet khusus disabilitas. Pintu tersebut terkunci dan ada orang menjawab dari dalam dan sambil menahan sakit pada perutnya Graciella terduduk dilantai dan berteriak "Please help! Emergency!".
Dia terjongkok didepan pintu meminta pertolongan kepada Tuhan dan saat itu juga aku paham dengan situasinya. Segera aku memasuki toilet pria dan mengecek kedalam dan kutemui tidak ada orang satupun. Aku membantunya berdiri dan dengan segera dia berlari kedalam kesebuah bilik tertutup dan langsung berteriak keras mengeluarkan rasa sakit yang harus ditahan. "I'm sorry sir my wife is inside for emergency issue. Thanks for your understanding." Ujarku kepada seorang pria yang mencoba masuk ke toilet yang terlihat tidak senang ketika aku menahannya untuk menggunakan fasilitas umum ini, namun ketika didengarnya suara wanita berteriak dari dalam dia segera memakluminya dan berpindah ke toilet yang lain.
"Oppa." Ujarnya memanggilku dari dalam bilik ketika aku berjaga didepan pintu. Aku menoleh masuk kedalam dan menjawabnya. "Oppa aku minta tolong. Bawakan celana pengganti, tadi keburu terlambat.". Apakah garis kehidupan sedang bermain-main denganku saat ini? Semua kejadian aneh seakan sedang dirangkum menjadi satu moment membuatku kehabisan kata-kata. Logikaku kembali berhenti bekerja dan aku melihat sekeliling dan cukup ramai, cukup mustahil untuk mengambil celana dalam pengganti untuknya.
"Buang saja celana dalamnya dan tutupi dengan bajumu. Nanti aku yang akan menjagamu." Diapun keluar membuka pintu dengan topi yang agak diturunkan untuk menutupi kedua matanya, sebuah kacamata hitam dan masker langsung dikenakan dan langkah kaki seribu mendahului sementara aku berjaga dibelakangnya mengamati mata-mata yang mencoba menatap istriku secara tidak senonoh.
Dalam waktu singkat kami kembali ke kamar, dengan lega dia berbalik badan dan memeluk aku dengan tubuhnya yang berbeda. Dadanya yang besar menekan dadaku, serta keningnya sukses menghantam hidung dikarenakan perbedaan tinggi badan yang signifikan dari tubuhnya yang asli. Tinggi normal Graciella adalah 157cm, sementara Katarina memiliki tinggi badan 168cm, kedua cairan merah dengan bau besi mengalir dari hidungku akibat ulahnya.
"Aku tidak menyangka metabolismenya secepat itu. Pantas saja aku bisa makan banyak tanpa takut gemuk, tubuh ini benar-benar idaman setiap wanita." Jelasnya sambil mengobati hidungku yang terluka.
"Tetap saja bukan berarti kamu bisa makan berlebihan seperti itu. Kita tetap harus mencari cara supaya kamu kembali normal. Aku tidak bisa beradaptasi dengan keadaan ini."
"Oppa setidaknya aku ingin bersenang-senang sementara. Hahaha.. bisa fashionable tanpa harus bersusah payah, punya bentuk tubuh ideal tanpa menjaga pola makan yang menyiksa, serta tubuh atletis dengan stamina yang kuat. Pasti aku sekarang aku hebat urusan diranjang." Ujarnya sembari menatapku disertai tatapan genit yang mencoba memangsaku. Dia mendekatkan wajahnya kepadaku, menutupi pandangan mataku dengan tangannya dan memberikan kecupan hangat dan membiarkan mengulum bibirku. Teknik yang sama namun sensasi yang berbeda, aku menginginkan istriku tetapi jiwaku menolaknya sehingga rasa sesak pada dada menghanyut.
"Sejujurnya menyakitkan jika mengetahui seorang suami menjadi semakin tertarik istri ketika istrinya menjadi lebih cantik. Aku bersyukur kamu mencintaiku apa adanya, bahkan aku bisa jujur mengatakan kalau aku tidak keberatan maupun merasa dikhianati jika kamu mengekspresikan cintamu kepadaku seperti biasa."
"Yang kucintai hanya kamu seorang. Meski kamu berkata seperti itu, aku tetap tidak bisa menerimanya." Tanganku menggenggam erat kedua tangannya memainkan jari-jari lentik dan membandingkannya dengan jari-jemari empuk yang suka mengusap pipiku.
"Masih jadi wanita kau pasti bisa terima, coba aku jadi pria yang menjabat jadi gabener." Membayangkannya saja membuatku jijik dan sambil berteriak pelan aku memintanya untuk tidak membuat simulasi aneh. Sebagai mahluk visual aku dapat dengan mudah menggambarkan segala sesuatu didalam kepala, dan bayang-bayang yang memuakan terbesit sehingga membuatku ingin muntah.
PREV CHAPTER
NEXT CHAPTER
Diubah oleh rienoir 30-10-2024 13:22
putinpurchinov dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas