- Beranda
- Stories from the Heart
Ksatria Spardovh (Indonesian Superheroes)
...
TS
Ariel.Matsuyama
Ksatria Spardovh (Indonesian Superheroes)
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 21-10-2024 02:09
bukhorigan dan 4 lainnya memberi reputasi
5
290
Kutip
17
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#13
.::Episode 2: Komik::.
Update!!
Spoiler for Episode 2 Act 1:
Suatu malam di sebuah rumah yang tidak terlalu kecil, terlihat seorang pria yang tidak terlalu tua tengah menggambar sebuah 'komik' bertema 'aksi', dilihat dari gambarnya yang kebanyakan orang yang sedang berkelahi. Tapi, tak lama pria itu meremas kertas gambarnya dan membuangnya sembarangan.
"Sudah dua tahun aku belum dapat pekerjaan lagi. Menulis komik itu ternyata membosankan juga." Pria itu menghembuskan napas keras dan beranjak dari kursi empuk hitamnya lalu merebahkan diri di kasur kecil bersprei coklat.
Pria itu bernama 'Sulthon'. Dulunya, ia bekerja di sebuah garmen yang cukup sukses, sampai akhirnya ia diberhentikan karena perusahaan sedang mengadakan pengurangan karyawan. Sejak saat itu, ia hanya sibuk menulis komik dan ia unggah di sosial media. Kadang pembacanya ramai, tapi kadang sepi. Itulah yang membuat ia bosan. Terlebih, ia juga memiliki banyak hutang dan tak tahu kapan bisa membayarnya.
"Bosannyaaa...," gumam Sulthon. "Ide komik seperti apa lagi yang harus kutulis di tengah hidupku yang membosankan ini??"
Tak lama setelah itu, jam di kamar Sulthon berhenti berdetak. Kebetulan Sulthon yang menyadari hal tersebut merasa aneh. Jamnya rusak? Padahal baru tadi pagi ia membeli baterai.
"Apa kau mau hidupmu berubah?" Suara serak dan berat muncul di tengah kebingungan Sulthon.
Sulthon langsung menoleh ke berbagai arah, kemudian ia membuka gorden jendela dan melihat keluar. Tak ada siapa-siapa.
"Siapa kau? Keluarlah!" teriak Sulthon. "Bisa apa kau ingin hidupku berubah?"
"Aku bisa memberimu kekuatan! Kekuatan untuk merubah hidupmu!" kata suara serak nan berat itu lagi.
"Kalau begitu, buktikan!" teriak Sulthon.
"Kau harus mengikat kontrak denganku," kata suara tersebut. "Jika kau setuju, maka aku bisa merubah hidupmu."
"Baiklah, bagaimana caranya?" tanya Sulthon.
"Katakan Mundusk aku setuju dengan kontraknya!"
Sulthon mendesah. "Ya ampun, itu saja? Oke, Mundusk aku setuju dengan kontraknya!"
Setelah itu, dari lantai rumah Sulthon muncul cahaya hitam yang langsung masuk ke dalam tubuh Sulthon. Sulthon dibuat berteriak karenanya. Tak lama kemudian, waktu kembali berjalan normal, terlihat dari jam dinding di rumah Sulthon yang tadi berhenti berdetak kini kembali berdetak. Untuk sesaat, mata Sulthon berubah menjadi hitam secara keseluruhan. Mundusk telah merasukinya. Jiwa Sulthon kini telah bercampur dengan jiwa Mundusk dan menciptakan sosok yang baru. Itulah yang terjadi jika Mundusk merasuki manusia.
Pagi menjelang... Sulthon berjalan-jalan di sebuah komplek perumahan. Rumah-rumah di komplek tersebut terbilang sangat besar dan mewah. Sulthon memang suka berjalan-jalan sambil melihat-lihat rumah disini dan berharap suatu saat memiliki salah satunya.
Tiba-tiba, Sulthon berhenti di dekat salah satu rumah. Rumah berdesain minimalis dengan cat putih meski tidak semuanya putih. Rumah bak istana itu memiliki tiga lantai.
Sulthon tersenyum sinis, di kedua tangannya mendadak muncul dua batang pensil dan beberapa kertas mengelilingi Sulthon. Dengan cepat, Sulthon menggambar adegan-adegan di kertas-kertas tersebut. Tidak lama setelah itu, seorang ibu-ibu muda berambut pendek keluar dari rumah diikuti oleh bapak-bapak muda berkaos abu-abu.
"Mas, sini!" Ibu-ibu itu memanggil Sulthon sambil mengibas-ngibaskan jari.
Sulthon tersenyum dan segera menghampiri si ibu-ibu. Kertas yang mengelilinginya kini menjadi buku dengan lembaran tipis.
"Mulai hari ini, rumah saya jadi punya mas," ucap ibu-ibu itu.
Sulthon tersenyum miring. "Terimakasih."
"Sekarang, waktunya makan, mas," kata ibu-ibu itu lagi, sebelum akhirnya ia dan si bapak-bapak berubah menjadi 'kue pie'.
Sulthon tertawa dengan nada jahat, kemudian mengambil kedua pie tersebut dan langsung memakannya sampai habis. "Sekarang, semua keinginanku tinggal kujadikan komik. Hahahahaha!"
Kediaman Mahawira pukul 15:51.
Daritadi, Bella yang duduk di ruang tengah tertawa-tawa sendiri sambil membaca komik berjudul 'Komik Sinting'. Salah satu adegan favorit Bella adalah ketika tokoh utama komik itu yang bentuknya serigala chibi tertimpa pohon saat sedang bernyanyi. Tapi, serigala itu terus bernyanyi walau suaranya buruk dan pohon itu terus memantul yang membuat sang serigala lama kelamaan menjadi gepeng.
Andra yang kebetulan lewat langsung berhenti begitu mendengar tawa keras Bella. "Apa yang kau tertawakan?" tanyanya.
"Eh, Andra." Bella sejenak berhenti membaca. "Aku lagi baca Komik Sinting. Lucu deh. Kamu harus baca! Biar tidak serius terus bawaannya. Hihihi..."
"Kau ini, selalu saja suka dengan hal bodoh," jawab Andra. Lalu ia melenggang pergi.
Bella mengangkat bahunya dan meneruskan kegiatan membacanya serta kembali tertawa-tawa.
Sementara Andra yang sudah sampai di pintu sebuah ruangan, menempelkan jempolnya pada sensor yang ada di permukaan pintu tersebut hingga pintu itu bergeser dan Andra segera masuk ke dalamnya lalu duduk di kursi busa berlapis kulit berwarna hitam. Jaket yang biasa ia kenakan nampak tergantung di tempat gantungan baju yang bentuknya menyerupai akar pohon. Ruangan tersebut memiliki dekorasi campuran antara ukiran serta aksesoris sihir kuno dan teknologi canggih.
Baru satu minggu Andra menjadi Ksatria Spardovh, tapi ia sudah diangkat ke level yang lebih jauh, bekerja dibawah Markas Utama. Karena di tahun ini baru Andra saja yang menjadi Saga, jadi para Mundusk yang belum bertemu dengannya masih menganggap sang Harimau Surga adalah legenda para Ksatria. Setelah sekian lama dicari pemakainya, baru sepuluh tahun lalu lah Elderiz Hijau dipercayakan pada Andra yang dilatih khusus oleh kakeknya setelah ia dipakaikan Elderiz itu sesaat di tangannya dan Elderiz tersebut menyala. Bukan hanya menyala, tapi di Elderiz itu langsung muncul mata, hidung, dan mulut serta berkata kalau Andra pantas menjadi Harimau Surga yang baru.
"Andra! Aku merasakan aura Mundusk!" Elderiz Hijau yang ada diatas meja tiba-tiba berbicara.
"Baik, ayo pergi!" Andra berdiri lalu mengambil jaketnya dan keluar dari ruangan tersebut.
Sementara itu, di sebuah cafe, terlihat dua orang muda-mudi tengah menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Setelah selesai makan, si pemuda yang memiliki rambut merah dan berpakaian serba merah memainkan gitar merah yang sebelumnya ada disamping bangkunya.
Sambil bermain gitar, si pemuda bersenandung, "Bila kau menjadi milikku, kan kurelakan semua sisa hidupku. Kan kujadikan kau ratuku, di tempat yang paling indah ... Di hidupku!"
Pemudi yang bersamanya langsung bertepuk tangan. Ia mengenakan pakaian serba biru dan berambut kuning. "Hebaat!! Suara kamu bagus banget," ucapnya sembari tersenyum lebar.
Si pemuda tersenyum malu. "Ah.. Bukan apa-apa." Lalu menggaruk-garuk kepalanya.
"Tapi, lebih bagus lagi suara suamiku," kata si gadis.
Mendengarnya, si pemuda langsung shock. "Lho? Kata kamu, kamu masih single?"
Tiba-tiba datang seorang pria berpakaian parlente yang ternyata adalah Sulthon. "Istriku... Kau cantik sekali," katanya. "Kau cantik hari ini, dan aku... Suka." Ia bersenandung.
"Ah... Aku jadi makin cinta," ucap si gadis. "Oh iya, Dody, kenalin, dia Sulthon, suamiku."
Bukan main panas dan hancurnya hati si pemuda merah bernama Dody itu. Padahal yang ia tahu sebelumnya gadis bernama 'Deby' yang ia ajak kencan tersebut tak pernah menyinggung tentang suami sama sekali. Dody merasa ia telah dipermainkan.
"Apa-apaan nih?!" teriak kesal Dody.
Sulthon tersenyum licik. Saat itu, tiba-tiba saja Dody berubah menjadi buah 'apel'. Ya, semua itu sudah ditulis oleh Sulthon di komiknya yang mana adegan terakhirnya Dody menjadi apel. Sulthon sudah memperhatikan mereka berdua dari salah satu meja cafe ketika memasuki cafe. Kecantikan Deby membuat Sulthon tak tahan ingin memilikinya. Dan sekarang, itu semua sudah menjadi nyata, dan kesadaran Deby sudah ia setting agar hanya mencintainya. Setelah Sulthon memakan apel itu, ia dan Deby langsung keluar dari cafe.
Akan tetapi, kesenangan Sulthon tiba-tiba terganggu ketika Andra menembakkan lampu laser kecil berbentuk lonjong berukiran huruf kuno di dahi Deby. Setelah tak terjadi apapun, Andra dengan cepat menembakkan lampu lasernya ke dahi Sulthon. Saat itu juga, kedua mata Sulthon berubah seluruhnya menjadi hitam.
"Tcih! Ksatria Spardovh bajingan!" teriak Sulthon.
Andra melirik Deby. "Lari!"
"Tapi, dia suamiku!" sergah Deby.
Tanpa disadari Andra, Sulthon melompat ke atap dan lari.
Begitu menyadari dan melihatnya, Andra langsung melompat ke atap juga dan mengejar Sulthon.
"Sebenarnya ada apa ya??" monolog Deby.
"Sudah dua tahun aku belum dapat pekerjaan lagi. Menulis komik itu ternyata membosankan juga." Pria itu menghembuskan napas keras dan beranjak dari kursi empuk hitamnya lalu merebahkan diri di kasur kecil bersprei coklat.
Pria itu bernama 'Sulthon'. Dulunya, ia bekerja di sebuah garmen yang cukup sukses, sampai akhirnya ia diberhentikan karena perusahaan sedang mengadakan pengurangan karyawan. Sejak saat itu, ia hanya sibuk menulis komik dan ia unggah di sosial media. Kadang pembacanya ramai, tapi kadang sepi. Itulah yang membuat ia bosan. Terlebih, ia juga memiliki banyak hutang dan tak tahu kapan bisa membayarnya.
"Bosannyaaa...," gumam Sulthon. "Ide komik seperti apa lagi yang harus kutulis di tengah hidupku yang membosankan ini??"
Tak lama setelah itu, jam di kamar Sulthon berhenti berdetak. Kebetulan Sulthon yang menyadari hal tersebut merasa aneh. Jamnya rusak? Padahal baru tadi pagi ia membeli baterai.
"Apa kau mau hidupmu berubah?" Suara serak dan berat muncul di tengah kebingungan Sulthon.
Sulthon langsung menoleh ke berbagai arah, kemudian ia membuka gorden jendela dan melihat keluar. Tak ada siapa-siapa.
"Siapa kau? Keluarlah!" teriak Sulthon. "Bisa apa kau ingin hidupku berubah?"
"Aku bisa memberimu kekuatan! Kekuatan untuk merubah hidupmu!" kata suara serak nan berat itu lagi.
"Kalau begitu, buktikan!" teriak Sulthon.
"Kau harus mengikat kontrak denganku," kata suara tersebut. "Jika kau setuju, maka aku bisa merubah hidupmu."
"Baiklah, bagaimana caranya?" tanya Sulthon.
"Katakan Mundusk aku setuju dengan kontraknya!"
Sulthon mendesah. "Ya ampun, itu saja? Oke, Mundusk aku setuju dengan kontraknya!"
Setelah itu, dari lantai rumah Sulthon muncul cahaya hitam yang langsung masuk ke dalam tubuh Sulthon. Sulthon dibuat berteriak karenanya. Tak lama kemudian, waktu kembali berjalan normal, terlihat dari jam dinding di rumah Sulthon yang tadi berhenti berdetak kini kembali berdetak. Untuk sesaat, mata Sulthon berubah menjadi hitam secara keseluruhan. Mundusk telah merasukinya. Jiwa Sulthon kini telah bercampur dengan jiwa Mundusk dan menciptakan sosok yang baru. Itulah yang terjadi jika Mundusk merasuki manusia.
Pagi menjelang... Sulthon berjalan-jalan di sebuah komplek perumahan. Rumah-rumah di komplek tersebut terbilang sangat besar dan mewah. Sulthon memang suka berjalan-jalan sambil melihat-lihat rumah disini dan berharap suatu saat memiliki salah satunya.
Tiba-tiba, Sulthon berhenti di dekat salah satu rumah. Rumah berdesain minimalis dengan cat putih meski tidak semuanya putih. Rumah bak istana itu memiliki tiga lantai.
Sulthon tersenyum sinis, di kedua tangannya mendadak muncul dua batang pensil dan beberapa kertas mengelilingi Sulthon. Dengan cepat, Sulthon menggambar adegan-adegan di kertas-kertas tersebut. Tidak lama setelah itu, seorang ibu-ibu muda berambut pendek keluar dari rumah diikuti oleh bapak-bapak muda berkaos abu-abu.
"Mas, sini!" Ibu-ibu itu memanggil Sulthon sambil mengibas-ngibaskan jari.
Sulthon tersenyum dan segera menghampiri si ibu-ibu. Kertas yang mengelilinginya kini menjadi buku dengan lembaran tipis.
"Mulai hari ini, rumah saya jadi punya mas," ucap ibu-ibu itu.
Sulthon tersenyum miring. "Terimakasih."
"Sekarang, waktunya makan, mas," kata ibu-ibu itu lagi, sebelum akhirnya ia dan si bapak-bapak berubah menjadi 'kue pie'.
Sulthon tertawa dengan nada jahat, kemudian mengambil kedua pie tersebut dan langsung memakannya sampai habis. "Sekarang, semua keinginanku tinggal kujadikan komik. Hahahahaha!"
Kediaman Mahawira pukul 15:51.
Daritadi, Bella yang duduk di ruang tengah tertawa-tawa sendiri sambil membaca komik berjudul 'Komik Sinting'. Salah satu adegan favorit Bella adalah ketika tokoh utama komik itu yang bentuknya serigala chibi tertimpa pohon saat sedang bernyanyi. Tapi, serigala itu terus bernyanyi walau suaranya buruk dan pohon itu terus memantul yang membuat sang serigala lama kelamaan menjadi gepeng.
Andra yang kebetulan lewat langsung berhenti begitu mendengar tawa keras Bella. "Apa yang kau tertawakan?" tanyanya.
"Eh, Andra." Bella sejenak berhenti membaca. "Aku lagi baca Komik Sinting. Lucu deh. Kamu harus baca! Biar tidak serius terus bawaannya. Hihihi..."
"Kau ini, selalu saja suka dengan hal bodoh," jawab Andra. Lalu ia melenggang pergi.
Bella mengangkat bahunya dan meneruskan kegiatan membacanya serta kembali tertawa-tawa.
Sementara Andra yang sudah sampai di pintu sebuah ruangan, menempelkan jempolnya pada sensor yang ada di permukaan pintu tersebut hingga pintu itu bergeser dan Andra segera masuk ke dalamnya lalu duduk di kursi busa berlapis kulit berwarna hitam. Jaket yang biasa ia kenakan nampak tergantung di tempat gantungan baju yang bentuknya menyerupai akar pohon. Ruangan tersebut memiliki dekorasi campuran antara ukiran serta aksesoris sihir kuno dan teknologi canggih.
Baru satu minggu Andra menjadi Ksatria Spardovh, tapi ia sudah diangkat ke level yang lebih jauh, bekerja dibawah Markas Utama. Karena di tahun ini baru Andra saja yang menjadi Saga, jadi para Mundusk yang belum bertemu dengannya masih menganggap sang Harimau Surga adalah legenda para Ksatria. Setelah sekian lama dicari pemakainya, baru sepuluh tahun lalu lah Elderiz Hijau dipercayakan pada Andra yang dilatih khusus oleh kakeknya setelah ia dipakaikan Elderiz itu sesaat di tangannya dan Elderiz tersebut menyala. Bukan hanya menyala, tapi di Elderiz itu langsung muncul mata, hidung, dan mulut serta berkata kalau Andra pantas menjadi Harimau Surga yang baru.
"Andra! Aku merasakan aura Mundusk!" Elderiz Hijau yang ada diatas meja tiba-tiba berbicara.
"Baik, ayo pergi!" Andra berdiri lalu mengambil jaketnya dan keluar dari ruangan tersebut.
Sementara itu, di sebuah cafe, terlihat dua orang muda-mudi tengah menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Setelah selesai makan, si pemuda yang memiliki rambut merah dan berpakaian serba merah memainkan gitar merah yang sebelumnya ada disamping bangkunya.
Sambil bermain gitar, si pemuda bersenandung, "Bila kau menjadi milikku, kan kurelakan semua sisa hidupku. Kan kujadikan kau ratuku, di tempat yang paling indah ... Di hidupku!"
Pemudi yang bersamanya langsung bertepuk tangan. Ia mengenakan pakaian serba biru dan berambut kuning. "Hebaat!! Suara kamu bagus banget," ucapnya sembari tersenyum lebar.
Si pemuda tersenyum malu. "Ah.. Bukan apa-apa." Lalu menggaruk-garuk kepalanya.
"Tapi, lebih bagus lagi suara suamiku," kata si gadis.
Mendengarnya, si pemuda langsung shock. "Lho? Kata kamu, kamu masih single?"
Tiba-tiba datang seorang pria berpakaian parlente yang ternyata adalah Sulthon. "Istriku... Kau cantik sekali," katanya. "Kau cantik hari ini, dan aku... Suka." Ia bersenandung.
"Ah... Aku jadi makin cinta," ucap si gadis. "Oh iya, Dody, kenalin, dia Sulthon, suamiku."
Bukan main panas dan hancurnya hati si pemuda merah bernama Dody itu. Padahal yang ia tahu sebelumnya gadis bernama 'Deby' yang ia ajak kencan tersebut tak pernah menyinggung tentang suami sama sekali. Dody merasa ia telah dipermainkan.
"Apa-apaan nih?!" teriak kesal Dody.
Sulthon tersenyum licik. Saat itu, tiba-tiba saja Dody berubah menjadi buah 'apel'. Ya, semua itu sudah ditulis oleh Sulthon di komiknya yang mana adegan terakhirnya Dody menjadi apel. Sulthon sudah memperhatikan mereka berdua dari salah satu meja cafe ketika memasuki cafe. Kecantikan Deby membuat Sulthon tak tahan ingin memilikinya. Dan sekarang, itu semua sudah menjadi nyata, dan kesadaran Deby sudah ia setting agar hanya mencintainya. Setelah Sulthon memakan apel itu, ia dan Deby langsung keluar dari cafe.
Akan tetapi, kesenangan Sulthon tiba-tiba terganggu ketika Andra menembakkan lampu laser kecil berbentuk lonjong berukiran huruf kuno di dahi Deby. Setelah tak terjadi apapun, Andra dengan cepat menembakkan lampu lasernya ke dahi Sulthon. Saat itu juga, kedua mata Sulthon berubah seluruhnya menjadi hitam.
"Tcih! Ksatria Spardovh bajingan!" teriak Sulthon.
Andra melirik Deby. "Lari!"
"Tapi, dia suamiku!" sergah Deby.
Tanpa disadari Andra, Sulthon melompat ke atap dan lari.
Begitu menyadari dan melihatnya, Andra langsung melompat ke atap juga dan mengejar Sulthon.
"Sebenarnya ada apa ya??" monolog Deby.
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 21-10-2024 03:35
0
Kutip
Balas
