TS
Ariel.Matsuyama
[FanFic] Dragon Ball Legacy
![[FanFic] Dragon Ball Legacy](https://dl.kaskus.id/arielmatsuyama.files.wordpress.com/2021/06/dbl-new-logo.png)
Dragon Ball Legacy (ドラゴンボールレガシー)
Genre:Action | Shounen | Drama
Spoiler for Episode List:
Episode 1: First Of All
[[Act 01]] [[Act 02]]
[[Act 03 (End)]]
Episode 2: Saiyan Yang Tangguh
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 3: Melawan Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 4: Kekuatan Besar Akuma Melawan Mata Ryugan
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 5: Masa Lalu Yang Pahit
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 6: Kembalinya Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Final Episode: Akhir Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
[[Act 01]] [[Act 02]]
[[Act 03 (End)]]
Episode 2: Saiyan Yang Tangguh
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 3: Melawan Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 4: Kekuatan Besar Akuma Melawan Mata Ryugan
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 5: Masa Lalu Yang Pahit
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 6: Kembalinya Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Final Episode: Akhir Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Spoiler for Theme Song & BGM:
Theme Song:
-Sky (Cross Roads Version) - Fripside
Opening Theme: Menit ke Menit ke 00:00 - 02:12
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Hero - Unlimits
Opening Theme 2: Menit ke 00:00 - 01:15
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Everlasting - Fripside
Ending Theme: Menit ke 00:00 - 01;43
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Cha La Head Cha La - Flow
Last Episode (Series) Theme: Menit ke 00:00 - 03:31
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
BGM:
-Power of Victory
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Go Beyond The Limits
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Selfish Secret
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
Spoiler for Realms:
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 02-09-2022 10:14
amekachi dan tien212700 memberi reputasi
2
11.5K
Kutip
29
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#13
Spoiler for Episode 2 Act 2 (End):
Super Saiyan 2? Hebat juga kau bisa menguasainya,!” ucap Arz. Ia memegangi dagunya dan kemudian tersenyum miring.
“Bisa kita lanjutkan pertarungan ini sekarang?” tanya Ariel dengan nada dingin.
Arz tersenyum sinis. “Baik! Apapun perubahanmu, aku tidak akan kalah!!!”
Arz pun meluncur ke arah Ariel. Ariel menyongsongnya, hingga akhirnya mereka berdua mengadu serangan fisik berupa pukulan dan tendangan dengan gerakan yang sangat cepat.
“Hebat juga Super Saiyan 2-mu! Mampu menandingi kekuatan dan kecepatanku!” ucap Arz sambil terus menghindari serangan demi serangan Ariel yang datang ke arahnya.
Ariel hanya tersenyum miring sembari menyerang Arz serta sesekali bertahan dari serangan balasan Arz yang berupa pukulan dan tendangan.
Beberapa lama kemudian, Ariel melihat celah pada pertahanan Arz. Secepat mungkin Ariel melancarkan tendangan lurus ke sana, persis di dada Arz. Akibatnya, Arz pun terlempar cukup jauh.
Ariel lalu mengeluarkan bola energi warna kuning dari kedua telapak tangannya secara beruntun yang langsung menyerang Arz hingga meledak beberapa kali di tubuhnya. Arz pun terjatuh ke tanah.
“Tcih! Sial!” Arz meludahkan darah dari mulutnya.
Ariel menekuk lengan kanannya dan mengepalnya persis beberapa inchi di depan bahu serta mengalirkan energi yang sangat besar di sana. Tak berselang lama, cahaya biru dengan percikan listrik muncul melapisi kepalan tangan Ariel. Ia lalu meluruskan tangannya ke depan dengan posisi telapak tangan membuka.
“Cyclone Blaster!!” teriak Ariel.
Cahaya di tangan Ariel langsung membesar dan memanjang lurus seraya meluncur ke arah Arz yang sedang susah payah berdiri.
Begitu sudah berdiri dengan sempurna, Arz yang terkejut langsung refleks mengadu cahaya ‘Cyclone Blaster’ yang dikeluarkan Ariel yang tiba di hadapannya itu dengan cahaya merah yang ia keluarkan di kedua telapak tangannya.
Arz menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong cahaya merah yang ia keluarkan tersebut sembari berteriak keras dan panjang.
Adu tenaga terlihat sangat sengit dan tidak mau kalah satu sama lain. Sampai pada akhirnya, Ariel berhasil memenangkan adu tenaga tersebut. Cahaya Cyclone Blaster milik Ariel terus maju dan sukses meluluh lantakkan Arz. Sebelum tubuhnya hancur, Arz berteriak sangat keras.
Ketika menyentuh tanah, cahaya energi milik Ariel itu menimbulkan ledakan yang sangat besar dengan radius ledakan sekitar 200 meter dan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Karena radius yang sangat besar itu, Ariel secepat mungkin menghampiri lalu memapah Goten dan terbang sangat tinggi.
Tak lama, radius ledakan mereda. Di tempat Arz berdiri sebelumnya terlihat kosong, tidak ada jejak Arz sama sekali di pengelihatan Ariel, bahkan energi Ki-nya sudah tidak terasa. Ariel pun tersenyum tipis melihatnya.
Sementara itu, di suatu tempat bernama ‘Holy Palace’ yang terletak di langit, para dewa yang disebut ‘Hakaishin’ sedang mengadakan ‘rapat’ setelah mendapat cerita dari seorang dewa agung bernama ‘Daishinkan’ kalau ada bangsa Saiyan setengah iblis dari Semesta 12 yang mengacak-acak Zen-Oh Palace dan membuat Zen-Oh tak berkutik serta akan kembali lagi untuk membunuh Zen-Oh setelah menghancurkan seluruh alam semesta. Zen-Oh berjanji akan memberikan hadiah yang menarik bagi siapa saja yang berhasil menangkap Akuma, terutama Hakaishin. Baru Semesta 12 dan 10 yang dihancurkan oleh Akuma yang membuat para dewa di Semesta tersebut tak bisa berbuat apa-apa.
Para Hakaishin itu duduk di kursi dengan posisi mengitari meja. Masing-masing dari mereka memiliki rupa yang aneh: Ada yang seperti kucing, tikus, gajah, rubah, badut, bahkan robot. Hanya ada satu yang bentuknya seperti manusia, yaitu Hakaishin bernama ‘Heles’. Meski memiliki rupa yang aneh, tapi mereka semua memiliki dua tangan dan dua kaki layaknya manusia.
Para Hakaishin itu mengenakan benda seperti syal di leher mereka dan celana dengan jubah pinggang di depannya yang menjulur ke bawah. Masing-masing benda mirip syal dan jubah pinggang mereka memiliki motif dan warna yang berbeda-beda.
Para Hakaishin ditemani para ‘Angel’ di belakang mereka. Wujud para Angel semuanya sama: seperti manusia namun berkulit kebiruan. Yang membedakan hanya bentuk kepala, gaya rambut, muka, dan tubuh mereka saja.
Pakaian para Angel adalah baju yang dilapisi jubah yang menjulur ke bawah dengan motif dan warna yang berbeda-beda. Celana mereka semuanya sama yaitu celana yang bentuknya seperti ‘rok’ panjang. Mereka memiliki lingkaran persis di belakang kepala mereka dan membawa tongkat dengan bulatan seperti bola yang dilingkari cincin.
Para Hakaishin terlihat sangat serius membahas rapat mereka. Setelah cekcok dengan Hakaishin berwujud kucing gemuk berwarna ungu, Hakaishin berbentuk kucing kurus berkulit ungu pula memukul meja rapat yang membuat para peserta rapat tegang.
“Biar aku yang menangkap Akuma!” seru Hakaishin kucing kurus bernama ‘Beerus’ tersebut.
“Pokoknya tetap tidak bisa!” bantah Hakaishin kucing gemuk yang tadi cekcok dengan Beerus, namanya ‘Champa’. “Kau pikir kau sehebat Tuan Zen-Oh dan para pengawalnya, bahkan Tuan Daishinkan sampai kau sangat percaya diri bisa menangkap Saiyan Iblis terkuat macam Akuma?!”
“Jadi kau meremehkanku? Aku ketua dalam rapat ini, jadi keputusanku mutlak!” tandas Beerus.
Hakaishin berbentuk badut berkulit putih menyanggah, “Meski keputusanmu mutlak, tapi tetap harus disetujui oleh kita semua yang sedang rapat ini.”
“Berisik kau, Belmod!” bentak Beerus.
“Beerus, apa kau tidak ingat dengan apa yang dilakukan Akuma di Semesta 12?” kata Gene, Hakaishin berwujud ikan berkulit biru kehijauan dengan telinga seperti sirip dan beberapa bagian tubuh bersisik. “Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Untungnya ada ilmu berpindah tempat.”
“Ya, benar! Untung saja, ada ilmu berpindah tempat bagi kita Hakaishin dan para Angel serta dewa-dewa lainnya. Yaa walapun konsekuensinya harus kehilangan tempat tinggal,” imbuh Belmod.
“Pokoknya, aku yang akan menangkap Akuma hidup atau mati!” tegas Beerus.
“Begini saja, kau kami biarkan maju duluan. Kalau kau kalah, kami ada di belakangmu, Beerus!” ucap Hakaishin berwujud wanita dengan topi silinder hitam bergaris emas dan motif bujur sangkar berwarna oranye serta putih pada permukaan topi. Dia adalah Heles.
Beerus memegang dagunya dan berpikir sebentar. “Hmm… Baiklah. Tapi, hadiah dari Tuan Zen-Oh tetap jatuh kepadaku!”
Para Hakaishin saling pandang karenanya.
“Baiklah,” ucap Heles yang kemudian memandang para peserta rapat satu persatu. “Bagaimana yang lain? Setuju?”
Para peserta rapat saling pandang dan beberapa dari mereka ada yang berbisik-bisik.
“Aku masih tidak yakin denganmu, Beerus!” ujar Champa sambil menatap Beerus. “Yang akan kita hadapi adalah orang yang tidak bisa dilenyapkan oleh kekuatan Tuan Zen-Oh, dia hanya bisa mati jika kita membunuhnya secara langsung. Ayolah, jangan sok kuat!”
“Diam kau!” teriak Beerus. “Aku setuju dengan keputusan Heles! Yang setuju silahkan angkat tangan!”
Satu per satu Hakaishin angkat tangan meski ada beberapa yang angkat tangan tapi masih ragu-ragu dengan keputusan itu.
“Baiklah, rapat selesai!” ucap Beerus.
Villa Crom, Kota Metro Utara, Minggu 2 Januari tahun 788, pukul 09:00 pagi.
Di villa besar nan megah itu, Ariel, Goten, dan seorang pemuda berambut belah tengah warna biru bernama ‘Trunks’ sedang menikmati hari libur mereka dengan ditemani banyak camilan dan tiga gelas cokelat panas yang masing-masing dapat bagian satu untuk mengusir dinginnya udara di villa tersebut. Sambil menikmati camilan dan cokelat panas, mereka berbincang-bincang tentang banyak hal serta perihal pertarungan Ariel dan Goten dengan dua orang Saiyan dari Semesta 12 kemarin. Trunks terlihat kaget begitu mengetahui kalau ada orang yang bisa menghancurkan alam semesta. Trunks bilang mereka harus menyiapkan diri dari sekarang untuk melawan orang itu demi mempertahankan alam semesta.
“Berarti harus latihan lebih keras lagi ya…,” ucap Goten yang kemudian merebahkan diri di lantai dengan kedua tangan di lipat di belakang kepala.
“Ya!” ujar Trunks. “Kau saja kalah oleh anak buah dari Akuma dan menggunakan Super Saiyan 3 untuk bisa menang. Jika anak buahnya saja sudah sekuat itu, bagaimana dengan Akuma?”
“Jika Akuma sudah muncul, akulah yang akan melawannya!” sela Ariel.
“Tidak!” bantah Goten. “Aku akan berlatih lebih keras dengan Tuan Vather dan akan mengalahkan Akuma!”
“Kau lebih baik tidur saja!” tandas Ariel.
“Apa katamu???” kata Goten sebal.
“Cukup!” sela Trunks. “Kita semua lah yang akan melawan Akuma. Aku yakin Akuma bukanlah lawan sembarangan!”
“Hmph!” dengus Goten sambil memalingkan wajahnya.
“Oh iya, Ariel, apakah kau sudah punya pacar?” tanya Trunks.
“Tidak,” jawab Ariel dingin.
“Apa traumamu masih belum hilang?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Baik baik… Tapi, mau sampai kapan kau tidak punya pendamping? Kita ini harus menikah dan membangun keluarga. Jika tidak, apa kata orang-orang atau sanak saudara kita nanti? Bisa-bisa kita jadi bahan omongan mereka. Aku saja sudah punya pendamping.”
“Lalu, apa itu penting bagiku? Untuk apa aku memusingkan tanggapan orang yang tidak memberiku makan dan tidak memenuhi kebutuhanku sehari-hari.”
“Yaa terserah kau saja sih. Goten saja sebentar lagi akan menyatakan cinta pada gadis pujaannya.”
“Pasti ditolak!”
“Apanya?” Trunks menautkan alisnya.
“Goten,” jawab Ariel singkat.
Goten yang mendengarnya pun tidak terima dan menyela pembicaraan, “Enak saja! Begini begini, aku ini tampan, tahu! Aku tidak kalah darimu dalam soal mendapatkan hati gadis-gadis!”
Ariel memangku kedua tangannya sambil memejamkan mata. “Kau pikir para gadis hanya melihat ketampanan saja? Itu pun jika kau memang tampan.”
“Apa katamu!!!” geram Goten.
“Sudah sudah…,” sela Trunks. “Lebih baik doakan saja Goten agar bisa mendapatkan hati gadis pujaannya.”
“Betul sekali!” Goten mengacungkan jempolnya.
Sementara Ariel yang masih memejamkan matanya hanya mendengus.
“Oh iya, latihan dengan Tuan Vather-nya hari ini saja!” Goten bangkit dari rebahannya dan mengeluarkan kepingan bulat warna merah dan menekan tombol di permukaannya.
Seketika, tubuh Goten pun menghilang dan membuat Trunks terkejut.
“H-hey!” ucap Trunks.
Ariel yang membuka matanya dan melihat hal itu, mengeluarkan benda yang sama. Ia lalu menekan tombolnya dan menghilang seperti Goten.
“Ya ampun mereka itu… Aku sendirian deh,” keluh Trunks.
=***=
Ariel dan Goten yang menghilang tadi ternyata tiba di sebuah tempat dengan banyak awan. Tempat itu terlihat sangat luas dengan rumput yang menghampar indah.
Goten terkejut melihat Ariel ada di sampingnya. “Lho? Kenapa kau ikut?”
“Memangnya kau pikir kau saja yang ingin menjadi kuat?!” balas Ariel.
Goten menghela napas panjang. “Yaa… Yaa… Yaa…”
Ariel dan Goten kemudian berjalan menuju bangunan yang sangat megah seperti istana yang terbuat dari emas. Begitu sampai di depan pintu istana tersebut, kedua pemuda itu disambut oleh seorang wanita berkulit cokelat dan berambut putih yang dihiasi daun cokelat dan lingkaran emas. Wanita itu mengenakan baju hitam yang memperlihatkan bagian pusarnya, selendang putih, dan jubah pinggang putih yang menutupi celana batas pahanya. Wanita itu terlihat sangat cantik.
“Eh, Ariel? Goten? Ada perlu apa?” tanya wanita itu.
“Aku ingin bertemu Tuan Vather, Nona Serafina,” jawab Goten.
“Oh, baiklah. Silahkan masuk!” ucap Serafina yang kemudian membukakan pintu istana yang berukuran sangat besar itu.
Goten mengangguk. Ia dan Ariel pun masuk ke dalam. Setelah jalan beberapa langkah, akhirnya sampai lah mereka berdua di depan singgasana yang ditempati oleh makhluk seperti manusia berjenis kelamin pria yang cebol dan bertelanjang dada dengan celana pendek merah dan aksesoris emas di beberapa bagian tubuhnya. Rambutnya memiliki sedikit warna merah, bola mata sekaligus bulu matanya berwarna hijau, daun telinganya agak panjang ke belakang, dan di sekitar kedua matanya ada garis yang membentuk kotak. Di belakang kepalanya terdapat lingkaran seperti gigi roda dengan warna emas. Makhluk itu ditemani beberapa perempuan cantik yang memakai pakaian yang sama seperti wanita yang menyambut Ariel dan Goten, hanya saja warnanya berbeda-beda. Di kepala masing-masing wanita itu ada bulatan emas.
“Ada apa, Ariel? Goten?” tanya makhluk bertelanjang dada tadi.
“Kami ingin latihan, Tuan Vather,” jawab Goten. “Kami harus lebih kuat untuk menghadapi orang bernama Akuma.”
“Akuma? Siapa itu?” tanya Vather.
![kaskus-image]()
Created by: Mr.Thonie
“Aku tidak tahu pasti siapa dia. Tapi yang jelas, katanya dia orang yang sangat kuat,” ungkap Goten.
“Hmm… Baiklah!” Vather kemudian turun dari singgasananya dan berjalan ke salah satu pintu yang ada di sana. Goten dan Ariel mengikutinya.
Pada saat yang sama, Akuma terlihat sedang terbang di lorong dimensi, sampai akhirnya ia masuk ke lubang kotak yang menempel di sisi kiri permukaan lorong dimensi itu dan keluar dari lorong dimensi tersebut serta mendarat di padang rumput yang luas dan di sekitarnya terdapat banyak bukit.
Akuma menoleh ke sana ke mari dengan tatapan dingin, lalu bertanya, “Kau yakin, Amon dan Arz mati di sini?”
“Ya.” Akuma menjawab pertanyaan yang ia tanyakan sendiri. Namun, suaranya terdengar lebih berat. “Pelacakanku tak mungkin salah. Mereka memang mati disini, di Semesta ke-7. Ngomong-ngomong, setelah ini kita berurutan saja mendatangi setiap semesta?”
“Entah mengapa aku lebih senang mendatanginya secara acak,” jawab Akuma yang kemudian terbang tinggi.
Akuma terus terbang dan akhirnya tiba di pusat kota Metro Barat.
“Aku akan tuntaskan tugas dua anak buah bodoh-ku itu sekarang juga,” ucap Akuma sambil memangku kedua tangan di dada kemudian tersenyum sinis.
“Bisa kita lanjutkan pertarungan ini sekarang?” tanya Ariel dengan nada dingin.
Arz tersenyum sinis. “Baik! Apapun perubahanmu, aku tidak akan kalah!!!”
Arz pun meluncur ke arah Ariel. Ariel menyongsongnya, hingga akhirnya mereka berdua mengadu serangan fisik berupa pukulan dan tendangan dengan gerakan yang sangat cepat.
“Hebat juga Super Saiyan 2-mu! Mampu menandingi kekuatan dan kecepatanku!” ucap Arz sambil terus menghindari serangan demi serangan Ariel yang datang ke arahnya.
Ariel hanya tersenyum miring sembari menyerang Arz serta sesekali bertahan dari serangan balasan Arz yang berupa pukulan dan tendangan.
Beberapa lama kemudian, Ariel melihat celah pada pertahanan Arz. Secepat mungkin Ariel melancarkan tendangan lurus ke sana, persis di dada Arz. Akibatnya, Arz pun terlempar cukup jauh.
Ariel lalu mengeluarkan bola energi warna kuning dari kedua telapak tangannya secara beruntun yang langsung menyerang Arz hingga meledak beberapa kali di tubuhnya. Arz pun terjatuh ke tanah.
“Tcih! Sial!” Arz meludahkan darah dari mulutnya.
Ariel menekuk lengan kanannya dan mengepalnya persis beberapa inchi di depan bahu serta mengalirkan energi yang sangat besar di sana. Tak berselang lama, cahaya biru dengan percikan listrik muncul melapisi kepalan tangan Ariel. Ia lalu meluruskan tangannya ke depan dengan posisi telapak tangan membuka.
“Cyclone Blaster!!” teriak Ariel.
Cahaya di tangan Ariel langsung membesar dan memanjang lurus seraya meluncur ke arah Arz yang sedang susah payah berdiri.
Begitu sudah berdiri dengan sempurna, Arz yang terkejut langsung refleks mengadu cahaya ‘Cyclone Blaster’ yang dikeluarkan Ariel yang tiba di hadapannya itu dengan cahaya merah yang ia keluarkan di kedua telapak tangannya.
Arz menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong cahaya merah yang ia keluarkan tersebut sembari berteriak keras dan panjang.
Adu tenaga terlihat sangat sengit dan tidak mau kalah satu sama lain. Sampai pada akhirnya, Ariel berhasil memenangkan adu tenaga tersebut. Cahaya Cyclone Blaster milik Ariel terus maju dan sukses meluluh lantakkan Arz. Sebelum tubuhnya hancur, Arz berteriak sangat keras.
Ketika menyentuh tanah, cahaya energi milik Ariel itu menimbulkan ledakan yang sangat besar dengan radius ledakan sekitar 200 meter dan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Karena radius yang sangat besar itu, Ariel secepat mungkin menghampiri lalu memapah Goten dan terbang sangat tinggi.
Tak lama, radius ledakan mereda. Di tempat Arz berdiri sebelumnya terlihat kosong, tidak ada jejak Arz sama sekali di pengelihatan Ariel, bahkan energi Ki-nya sudah tidak terasa. Ariel pun tersenyum tipis melihatnya.
Sementara itu, di suatu tempat bernama ‘Holy Palace’ yang terletak di langit, para dewa yang disebut ‘Hakaishin’ sedang mengadakan ‘rapat’ setelah mendapat cerita dari seorang dewa agung bernama ‘Daishinkan’ kalau ada bangsa Saiyan setengah iblis dari Semesta 12 yang mengacak-acak Zen-Oh Palace dan membuat Zen-Oh tak berkutik serta akan kembali lagi untuk membunuh Zen-Oh setelah menghancurkan seluruh alam semesta. Zen-Oh berjanji akan memberikan hadiah yang menarik bagi siapa saja yang berhasil menangkap Akuma, terutama Hakaishin. Baru Semesta 12 dan 10 yang dihancurkan oleh Akuma yang membuat para dewa di Semesta tersebut tak bisa berbuat apa-apa.
Para Hakaishin itu duduk di kursi dengan posisi mengitari meja. Masing-masing dari mereka memiliki rupa yang aneh: Ada yang seperti kucing, tikus, gajah, rubah, badut, bahkan robot. Hanya ada satu yang bentuknya seperti manusia, yaitu Hakaishin bernama ‘Heles’. Meski memiliki rupa yang aneh, tapi mereka semua memiliki dua tangan dan dua kaki layaknya manusia.
Para Hakaishin itu mengenakan benda seperti syal di leher mereka dan celana dengan jubah pinggang di depannya yang menjulur ke bawah. Masing-masing benda mirip syal dan jubah pinggang mereka memiliki motif dan warna yang berbeda-beda.
Para Hakaishin ditemani para ‘Angel’ di belakang mereka. Wujud para Angel semuanya sama: seperti manusia namun berkulit kebiruan. Yang membedakan hanya bentuk kepala, gaya rambut, muka, dan tubuh mereka saja.
Pakaian para Angel adalah baju yang dilapisi jubah yang menjulur ke bawah dengan motif dan warna yang berbeda-beda. Celana mereka semuanya sama yaitu celana yang bentuknya seperti ‘rok’ panjang. Mereka memiliki lingkaran persis di belakang kepala mereka dan membawa tongkat dengan bulatan seperti bola yang dilingkari cincin.
Para Hakaishin terlihat sangat serius membahas rapat mereka. Setelah cekcok dengan Hakaishin berwujud kucing gemuk berwarna ungu, Hakaishin berbentuk kucing kurus berkulit ungu pula memukul meja rapat yang membuat para peserta rapat tegang.
“Biar aku yang menangkap Akuma!” seru Hakaishin kucing kurus bernama ‘Beerus’ tersebut.
Spoiler for Beerus:
“Pokoknya tetap tidak bisa!” bantah Hakaishin kucing gemuk yang tadi cekcok dengan Beerus, namanya ‘Champa’. “Kau pikir kau sehebat Tuan Zen-Oh dan para pengawalnya, bahkan Tuan Daishinkan sampai kau sangat percaya diri bisa menangkap Saiyan Iblis terkuat macam Akuma?!”
Spoiler for Champa:
“Jadi kau meremehkanku? Aku ketua dalam rapat ini, jadi keputusanku mutlak!” tandas Beerus.
Hakaishin berbentuk badut berkulit putih menyanggah, “Meski keputusanmu mutlak, tapi tetap harus disetujui oleh kita semua yang sedang rapat ini.”
“Berisik kau, Belmod!” bentak Beerus.
Spoiler for Belmod:
“Beerus, apa kau tidak ingat dengan apa yang dilakukan Akuma di Semesta 12?” kata Gene, Hakaishin berwujud ikan berkulit biru kehijauan dengan telinga seperti sirip dan beberapa bagian tubuh bersisik. “Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Untungnya ada ilmu berpindah tempat.”
Spoiler for Gene:
“Ya, benar! Untung saja, ada ilmu berpindah tempat bagi kita Hakaishin dan para Angel serta dewa-dewa lainnya. Yaa walapun konsekuensinya harus kehilangan tempat tinggal,” imbuh Belmod.
“Pokoknya, aku yang akan menangkap Akuma hidup atau mati!” tegas Beerus.
“Begini saja, kau kami biarkan maju duluan. Kalau kau kalah, kami ada di belakangmu, Beerus!” ucap Hakaishin berwujud wanita dengan topi silinder hitam bergaris emas dan motif bujur sangkar berwarna oranye serta putih pada permukaan topi. Dia adalah Heles.
Spoiler for Heles:
Beerus memegang dagunya dan berpikir sebentar. “Hmm… Baiklah. Tapi, hadiah dari Tuan Zen-Oh tetap jatuh kepadaku!”
Para Hakaishin saling pandang karenanya.
“Baiklah,” ucap Heles yang kemudian memandang para peserta rapat satu persatu. “Bagaimana yang lain? Setuju?”
Para peserta rapat saling pandang dan beberapa dari mereka ada yang berbisik-bisik.
“Aku masih tidak yakin denganmu, Beerus!” ujar Champa sambil menatap Beerus. “Yang akan kita hadapi adalah orang yang tidak bisa dilenyapkan oleh kekuatan Tuan Zen-Oh, dia hanya bisa mati jika kita membunuhnya secara langsung. Ayolah, jangan sok kuat!”
“Diam kau!” teriak Beerus. “Aku setuju dengan keputusan Heles! Yang setuju silahkan angkat tangan!”
Satu per satu Hakaishin angkat tangan meski ada beberapa yang angkat tangan tapi masih ragu-ragu dengan keputusan itu.
“Baiklah, rapat selesai!” ucap Beerus.
Villa Crom, Kota Metro Utara, Minggu 2 Januari tahun 788, pukul 09:00 pagi.
Di villa besar nan megah itu, Ariel, Goten, dan seorang pemuda berambut belah tengah warna biru bernama ‘Trunks’ sedang menikmati hari libur mereka dengan ditemani banyak camilan dan tiga gelas cokelat panas yang masing-masing dapat bagian satu untuk mengusir dinginnya udara di villa tersebut. Sambil menikmati camilan dan cokelat panas, mereka berbincang-bincang tentang banyak hal serta perihal pertarungan Ariel dan Goten dengan dua orang Saiyan dari Semesta 12 kemarin. Trunks terlihat kaget begitu mengetahui kalau ada orang yang bisa menghancurkan alam semesta. Trunks bilang mereka harus menyiapkan diri dari sekarang untuk melawan orang itu demi mempertahankan alam semesta.
Spoiler for Trunks:
“Berarti harus latihan lebih keras lagi ya…,” ucap Goten yang kemudian merebahkan diri di lantai dengan kedua tangan di lipat di belakang kepala.
“Ya!” ujar Trunks. “Kau saja kalah oleh anak buah dari Akuma dan menggunakan Super Saiyan 3 untuk bisa menang. Jika anak buahnya saja sudah sekuat itu, bagaimana dengan Akuma?”
“Jika Akuma sudah muncul, akulah yang akan melawannya!” sela Ariel.
“Tidak!” bantah Goten. “Aku akan berlatih lebih keras dengan Tuan Vather dan akan mengalahkan Akuma!”
“Kau lebih baik tidur saja!” tandas Ariel.
“Apa katamu???” kata Goten sebal.
“Cukup!” sela Trunks. “Kita semua lah yang akan melawan Akuma. Aku yakin Akuma bukanlah lawan sembarangan!”
“Hmph!” dengus Goten sambil memalingkan wajahnya.
“Oh iya, Ariel, apakah kau sudah punya pacar?” tanya Trunks.
“Tidak,” jawab Ariel dingin.
“Apa traumamu masih belum hilang?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Baik baik… Tapi, mau sampai kapan kau tidak punya pendamping? Kita ini harus menikah dan membangun keluarga. Jika tidak, apa kata orang-orang atau sanak saudara kita nanti? Bisa-bisa kita jadi bahan omongan mereka. Aku saja sudah punya pendamping.”
“Lalu, apa itu penting bagiku? Untuk apa aku memusingkan tanggapan orang yang tidak memberiku makan dan tidak memenuhi kebutuhanku sehari-hari.”
“Yaa terserah kau saja sih. Goten saja sebentar lagi akan menyatakan cinta pada gadis pujaannya.”
“Pasti ditolak!”
“Apanya?” Trunks menautkan alisnya.
“Goten,” jawab Ariel singkat.
Goten yang mendengarnya pun tidak terima dan menyela pembicaraan, “Enak saja! Begini begini, aku ini tampan, tahu! Aku tidak kalah darimu dalam soal mendapatkan hati gadis-gadis!”
Ariel memangku kedua tangannya sambil memejamkan mata. “Kau pikir para gadis hanya melihat ketampanan saja? Itu pun jika kau memang tampan.”
“Apa katamu!!!” geram Goten.
“Sudah sudah…,” sela Trunks. “Lebih baik doakan saja Goten agar bisa mendapatkan hati gadis pujaannya.”
“Betul sekali!” Goten mengacungkan jempolnya.
Sementara Ariel yang masih memejamkan matanya hanya mendengus.
“Oh iya, latihan dengan Tuan Vather-nya hari ini saja!” Goten bangkit dari rebahannya dan mengeluarkan kepingan bulat warna merah dan menekan tombol di permukaannya.
Seketika, tubuh Goten pun menghilang dan membuat Trunks terkejut.
“H-hey!” ucap Trunks.
Ariel yang membuka matanya dan melihat hal itu, mengeluarkan benda yang sama. Ia lalu menekan tombolnya dan menghilang seperti Goten.
“Ya ampun mereka itu… Aku sendirian deh,” keluh Trunks.
=***=
Ariel dan Goten yang menghilang tadi ternyata tiba di sebuah tempat dengan banyak awan. Tempat itu terlihat sangat luas dengan rumput yang menghampar indah.
Goten terkejut melihat Ariel ada di sampingnya. “Lho? Kenapa kau ikut?”
“Memangnya kau pikir kau saja yang ingin menjadi kuat?!” balas Ariel.
Goten menghela napas panjang. “Yaa… Yaa… Yaa…”
Ariel dan Goten kemudian berjalan menuju bangunan yang sangat megah seperti istana yang terbuat dari emas. Begitu sampai di depan pintu istana tersebut, kedua pemuda itu disambut oleh seorang wanita berkulit cokelat dan berambut putih yang dihiasi daun cokelat dan lingkaran emas. Wanita itu mengenakan baju hitam yang memperlihatkan bagian pusarnya, selendang putih, dan jubah pinggang putih yang menutupi celana batas pahanya. Wanita itu terlihat sangat cantik.
“Eh, Ariel? Goten? Ada perlu apa?” tanya wanita itu.
“Aku ingin bertemu Tuan Vather, Nona Serafina,” jawab Goten.
“Oh, baiklah. Silahkan masuk!” ucap Serafina yang kemudian membukakan pintu istana yang berukuran sangat besar itu.
Spoiler for Serafina:
Goten mengangguk. Ia dan Ariel pun masuk ke dalam. Setelah jalan beberapa langkah, akhirnya sampai lah mereka berdua di depan singgasana yang ditempati oleh makhluk seperti manusia berjenis kelamin pria yang cebol dan bertelanjang dada dengan celana pendek merah dan aksesoris emas di beberapa bagian tubuhnya. Rambutnya memiliki sedikit warna merah, bola mata sekaligus bulu matanya berwarna hijau, daun telinganya agak panjang ke belakang, dan di sekitar kedua matanya ada garis yang membentuk kotak. Di belakang kepalanya terdapat lingkaran seperti gigi roda dengan warna emas. Makhluk itu ditemani beberapa perempuan cantik yang memakai pakaian yang sama seperti wanita yang menyambut Ariel dan Goten, hanya saja warnanya berbeda-beda. Di kepala masing-masing wanita itu ada bulatan emas.
“Ada apa, Ariel? Goten?” tanya makhluk bertelanjang dada tadi.
“Kami ingin latihan, Tuan Vather,” jawab Goten. “Kami harus lebih kuat untuk menghadapi orang bernama Akuma.”
“Akuma? Siapa itu?” tanya Vather.
Spoiler for Vather:

Created by: Mr.Thonie
“Aku tidak tahu pasti siapa dia. Tapi yang jelas, katanya dia orang yang sangat kuat,” ungkap Goten.
“Hmm… Baiklah!” Vather kemudian turun dari singgasananya dan berjalan ke salah satu pintu yang ada di sana. Goten dan Ariel mengikutinya.
Pada saat yang sama, Akuma terlihat sedang terbang di lorong dimensi, sampai akhirnya ia masuk ke lubang kotak yang menempel di sisi kiri permukaan lorong dimensi itu dan keluar dari lorong dimensi tersebut serta mendarat di padang rumput yang luas dan di sekitarnya terdapat banyak bukit.
Akuma menoleh ke sana ke mari dengan tatapan dingin, lalu bertanya, “Kau yakin, Amon dan Arz mati di sini?”
“Ya.” Akuma menjawab pertanyaan yang ia tanyakan sendiri. Namun, suaranya terdengar lebih berat. “Pelacakanku tak mungkin salah. Mereka memang mati disini, di Semesta ke-7. Ngomong-ngomong, setelah ini kita berurutan saja mendatangi setiap semesta?”
“Entah mengapa aku lebih senang mendatanginya secara acak,” jawab Akuma yang kemudian terbang tinggi.
Akuma terus terbang dan akhirnya tiba di pusat kota Metro Barat.
“Aku akan tuntaskan tugas dua anak buah bodoh-ku itu sekarang juga,” ucap Akuma sambil memangku kedua tangan di dada kemudian tersenyum sinis.
To Be Continued
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 04-06-2023 00:16
0
Kutip
Balas