TS
Ariel.Matsuyama
[FanFic] Dragon Ball Legacy
![[FanFic] Dragon Ball Legacy](https://dl.kaskus.id/arielmatsuyama.files.wordpress.com/2021/06/dbl-new-logo.png)
Dragon Ball Legacy (ドラゴンボールレガシー)
Genre:Action | Shounen | Drama
Spoiler for Episode List:
Episode 1: First Of All
[[Act 01]] [[Act 02]]
[[Act 03 (End)]]
Episode 2: Saiyan Yang Tangguh
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 3: Melawan Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 4: Kekuatan Besar Akuma Melawan Mata Ryugan
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 5: Masa Lalu Yang Pahit
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 6: Kembalinya Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Final Episode: Akhir Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
[[Act 01]] [[Act 02]]
[[Act 03 (End)]]
Episode 2: Saiyan Yang Tangguh
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 3: Melawan Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 4: Kekuatan Besar Akuma Melawan Mata Ryugan
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 5: Masa Lalu Yang Pahit
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Episode 6: Kembalinya Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Final Episode: Akhir Sang Penghancur
[[Act 01]] [[Act 02 (End)]]
Spoiler for Theme Song & BGM:
Theme Song:
-Sky (Cross Roads Version) - Fripside
Opening Theme: Menit ke Menit ke 00:00 - 02:12
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Hero - Unlimits
Opening Theme 2: Menit ke 00:00 - 01:15
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Everlasting - Fripside
Ending Theme: Menit ke 00:00 - 01;43
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Cha La Head Cha La - Flow
Last Episode (Series) Theme: Menit ke 00:00 - 03:31
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
BGM:
-Power of Victory
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Go Beyond The Limits
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
-Selfish Secret
Watch and Listen Full Here
Download with YTmp3
Spoiler for Realms:
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 02-09-2022 10:14
amekachi dan tien212700 memberi reputasi
2
11.4K
Kutip
29
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
Ariel.Matsuyama
#11
Spoiler for Episode 1 Act 3 (End):
Amon menyunggingkan senyum sinis. Ditahannya cahaya energi itu dengan kedua telapak tangannya dan melemparkannya ke atas hingga meledak hebat di langit.
“A-apa???” Goten yang melihatnya pun terkejut.
“Boleh juga kau, anak muda,” ucap Amon.
“Grrghh…,” geram Goten. Ia lalu mengepal seluruh jarinya dan menekuknya kedua lengannya hingga membentuk sudut siku-siku. “Graaaaa!!!”
Cahaya putih langsung menyelimuti tubuh Goten. Cahaya itu perlahan berubah menjadi kuning. Rambut Goten pun terangkat naik.
“Graaaaa!!!” Goten masih berteriak sambil mengeluarkan energi yang ada di dalam tubuhnya.
Rambut Goten yang terangkat naik tadi berubah warna menjadi kuning. Alisnya juga berubah warna menjadi kuning dan bola matanya beralih rupa menjadi hijau. Kedua tangan Goten sekarang sudah tidak mengepal lagi dan berdiri tegak lurus dengan aura kuning menyelimuti tubuhnya. Kini, ia merasa beberapa kali lipat lebih kuat dibanding sebelumnya.
“I-itu kan … Super Saiyan?” terka Amon.
Goten menatap tajam Amon dan berkata, “Kau akan membayar semua perbuatanmu!”
Goten langsung melesat kencang ke udara dan meninju Amon dengan tangan kanannya. Serangan yang sangat cepat itu membuat Amon melenting sangat jauh.
Goten memasang kuda-kuda. Ia menaruh kedua tangannya di samping pinggangnya dan terarah ke belakang dengan posisi jari seperti menggenggam sesuatu namun tidak bersentuhan. Cahaya putih kebiruan muncul di tengah-tengah tangannya yang seperti menggenggam sesuatu itu. Kini, tangannya menggenggam cahaya tersebut.
“Kaa… Mee… Haa…,” teriak Goten. Cahaya digenggamannya makin besar. “Mee… HAAA!!!”
Goten langsung melepaskan cahaya itu ke depan atas. Cahaya itu melesat cepat ke arah Amon yang sedang kelelahan di udara dan meledak hebat.
Namun, setelah ledakan mereda, terlihat Amon yang menggenggam kedua tangannya dengan seluruh tubuh diselimuti cahaya biru. Hal itu tentu saja membuat Goten sangat terkejut.
“La-lagi-lagi….” Goten tercekat.
“Kau hebat juga, anak muda. Bisa memaksaku mengeluarkan kekuatan terpendamku!” ujar Amon. “Sekarang, waktunya pembalasan!”
Amon pun meluncur cepat ke arah Goten yang ada di bawah. Begitu mencapai jarak yang dapat dijangkaunya, Amon segera menyarangkan tinju bertubi-tubi ke perut Goten. Belum cukup sampai di situ, Amon mengkombinasikan tinjuan dengan tendangan yang terfokus pada titik-titik vital tubuh Goten. Goten yang menerima serangan-serangan itu tak mampu berkutik. Terakhir, Amon menendang perut Goten dengan sangat keras, mengakibatkan Goten memuntahkan air dari mulutnya dan terlempar jauh ke belakang, menabrak dua bukit hingga tembus ke belakang bukit-bukit tersebut.
Amon terbang menghampiri Goten. Ia melayang persis beberapa meter di atas Goten yang sedang berusaha bangkit.
“Lebih baik kau menyerah saja! Kondisimu sudah seperti itu. Jadilah budak Akuma, maka aku akan mengampunimu!” Amon memberikan penawaran.
“AKU TIDAK MAU MENJADI BUDAK!!!” teriak Goten penuh amarah. Ia lalu mengepalkan kedua tangannya di samping pinggang dan mengeluarkan energi yang jauh lebih besar lagi.
Aura kuning langsung menyelimuti tubuh Goten. Aura tersebut berbeda dengan sebelumnya, karena ada percikan listrik di sekelilingnya. Aura itu membuat tanah yang dipijaki Goten bergetar, retak, dan puing-puingnya melayang ke atas. Rambut Goten juga jadi makin runcing dan bagian belakangnya terangkat lebih ke atas.
“GRAAAAAA!!!” teriak Goten. Tanah yang dipijakinya retak semakin dalam dan berjejak besar.
“Hmm….” Amon memegangi dagunya. “Mungkinkah dia akan semakin kuat?”
Setelah Goten berhenti berteriak, ia pun meluncur cepat ke atas dan berhasil meninju dagu Amon yang belum siap. Tapi, serangan Goten berikutnya yang terarah pada perut Amon, berhasil Amon tangkis, hingga akhirnya mereka berdua beradu jurus pukulan dan tendangan dengan sangat cepat.
“Bagaimana? Ini adalah Super Saiyan 2,” ucap Goten setelah menangkis tendangan miring Amon yang terarah ke kepalanya menggunakan punggung tangan kirinya.
“Kau menarik.” Amon tersenyum miring.
Dari kejauhan, Ariel yang sedang menyaksikan jalannya pertarungan hanya bisa melihat gelombang-gelombang energi dari serangan Goten dan Amon yang saling berbenturan.
“Sepertinya mulai menarik,” ucap Ariel dingin sambil melipat kedua tangannya di dada.
Tapi tiba-tiba Ariel merasakan energi Ki yang cukup kuat di sekitarnya yang membuat ia menoleh ke sana ke mari. Namun, ia tidak menemukan siapapun.
“Energi milik siapa ini?” gumam Ariel kebingungan.
“Hya hya hya hyaaa!!!” Amon berkali-kali mengeluarkan cahaya energi berbentuk bulat pipih berwarna biru dari kedua telapak tangannya yang terarah pada Goten.
Namun, itu semua mampu ditepis oleh Goten berkali-kali. Setelah itu ia terbang cepat ke arah Amon dan langsung menyarangkan pukulan berulang kali dengan kedua tangannnya secara bergantian pada beberapa bagian tubuh Amon. Terakhir, Goten menendang keras dada Amon hingga terlempar dan masuk ke dalam laut.
Goten dengan napas terengah-engah menghampiri tempat Amon jatuh dan menjaga jarak beberapa meter. “Berhasil kah?” gumamnya.
Namun, hal tak terduga terjadi. Pusaran air tiba-tiba muncul di laut itu, dan makin lama makin besar. Dari tengah-tengah pusaran itu, Amon muncul sambil mengepalkan kedua tangannya yang ditekuk sejajar dengan pinggang. Ia berteriak keras hingga berubahlah auranya yang biru menjadi merah dengan listrik di sekelilingnya.
Goten terkejut melihatnya. Ia merasakan energi Ki yang sangat kuat terpancar dari tubuh Amon. Ia lalu mengumpulkan keberaniannya dan melesat ke bawah menuju Amon. Begitu sampai persis di hadapan Amon, Goten menyerangnya dengan pukulan dan tendangan beberapa kali yang ternyata dapat dihindari dengan sangat mudah oleh Amon.
Setelah menangkap tinju Goten, Amon memelintir tangan pemuda itu dan melemparkan tubuhnya hingga sangat jauh.
Amon langsung terbang cepat mengejar Goten yang terlempar, lalu meninju dada dan perut Goten berulang kali, setelah itu menendang dadanya hingga terlempar menuju pepohonan.
Pohon-pohon yang tertabrak tubuh Goten tumbang satu per satu. Ketika mendarat di tanah, tubuh Goten terguling-guling dan pakaiannya sobek di sana-sini. Luka lecet terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Cahaya kuning beserta aliran listrik yang melapisi tubuh Goten menghilang.
Amon terbang ke tempat Goten terjatuh. Ia lalu mengarahkan telapak tangannya ke depan dan muncullah sinar bulat berwarna kekuningan dari telapak tangannya tersebut.
“Sun Storm!” teriak Amon. Cahaya dari telapak tangannya memanjang dan meluncur cepat menuju Goten.
Begitu sinar tersebut mengenai tubuh Goten yang telah kembali berdiri, pemuda itu langsung berteriak kesakitan. Dan ketika cahaya menipis, tubuh Goten ambruk ke tanah dengan dipenuhi asap.
“Menyerahlah!” ujar Amon yang sudah ada di dekat Goten.
“A-aku … Ti-tidak akan … Me-menyerah!!” ucap Gotem sambil berusaha bangkit. “Mungkin ini yang terakhir!”
Goten mengepalkan kedua tangannya yang bergetar di samping pinggang.
“Masih mampu berdiri rupanya,” ucap Amon dengan tatapan meremehkan.
“Graaaaaa!!!” teriak Goten sembari mengeluarkan energi sampai melebihi batas kemampuannya. Bebatuan di sekitarnya pun melayang ke atas.
Cahaya kuning muncul melapisi tubuh Goten, dilengkapi dengan listrik disekelilingnya. Rambut Goten pun terangkat naik dan hanya menyisakan beberapa helai saja. Perlahan, rambut Goten memanjang. Rambut itu terus memanjang sampai ke pinggul. Tak lama, setelah alisnya menghilang, Goten berhenti berteriak. Sekarang, ia merasa tubuhnya berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Ia lalu menatap tajam Amon.
“Kau telah memaksaku sampai sejauh ini. MATILAH KAU!!!” Setelah mengakhiri kata-katanya dengan teriakan Goten melesat cepat dan melayangkan tinju ke wajah Amon.
“Ke-kekuatan a-apa ini??” ucap Amon yang wajahnya berpaling karena tinjuan Goten menempel di pelipisnya. Scouter-nya pun hancur karenanya.
Goten yang belum puas lalu menendang Amon tepat di perutnya hingga terlempar jauh.
Untungnya, Amon berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya di udara, jadi ketika Goten mengejarnya dan menyerangnya lagi, Amon mampu menepis serangan pemuda itu lalu membalasnya dengan serangkaian pukulan yang rupanya berhasil dimentahkan oleh Goten.
“A-apa???” Amon tak percaya semua serangan balasannya gagal.
“Bagaimana? Ini adalah wujud terakhirku, Super Saiyan 3!” Goten berkata dengan nada dingin kemudian tersenyum tipis.
“BERISIK!!” teriak Amon. Ia pun kembali menyerang Goten.
Namun, baik pukulan ataupun tendangan yang dilancarkan Amon, semuanya mampu dihindari dan ditepis dengan cepat oleh Goten.
Goten kemudian mendaratkan tendangan cepat dan keras ke perut Amon yang membuat Amon mencelat jauh ke belakang. Setelah itu Goten mengeluarkan bola-bola energi dari kedua telapak tangannya berulang kali yang terarah pada Amon dan meledak satu per satu di tubuh Amon hingga Amon tersimpuh di tanah.
“Tcih! Sial!” gerutu Amon. Ia lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke depan.
Dari telapak tangan Amon keluarlah sinar berwarna kekuningan yang meluncur cepat ke arah Goten.
Goten yang melihat hal itu segera memasang kuda-kuda rendah dan menempelkan kedua tangannya yang terlihat seperti mencengkram sesuatu di samping pinggang yang mengarah ke belakang seperti sebelum-sebelumnya. Cahaya putih kebiruan muncul di tengah-tengah kedua tangan Goten yang terlihat seperti menggenggam tersebut. Cahaya energi itu makin lama makin besar.
“KAMEHAMEHAAA!!!” teriak Goten seraya melesatkan cahaya yang ada di tangannya itu ke depan.
Cahaya tersebut pun meluncur dan beradu dengan cahaya kekuningan yang keluar dari telapak tangan Amon. Angin yang sangat kencang pun berhembus dan menyapu apapun di sekelilingnya akibat efek dari benturan cahaya milik Goten yang disebut ‘Kamehameha’ dan cahaya milik Amon bernama ‘Sun Storm’.
Goten terus menambah tenaganya sambil mendorong kuat gelombang Kamehameha miliknya. Begitu juga dengan Amon. Hal itu terjadi selama beberapa saat.
Sampai pada akhirnya, Goten lah yang memenangkan adu tenaga itu. Kamehameha Goten pun berhasil mengenai tubuh Amon yang membuat Amon mengeluarkan teriakan yang sangat memilukan, sebelum akhirnya terkapar di tanah setelah gelombang Kamehameha yang menyerangnya menghilang. Baju tempur Amon hancur serta celananya sobek di mana-mana, tubuhnya dipenuhi lebam serta lecet.
Goten langsung tersimpuh di tanah. Rambutnya kembali ke bentuk normal dengan warna hitam, begitu juga alisnya yang kembali muncul, dan matanya yang berwarna hijau kembali menjadi warna hitam. Setelah itu ia ambruk di tanah.
“Egh… egh.” Goten hanya bisa menggerakkan jemarinya. Fisiknya sudah terlalu lelah dan kehabisaan tenaga. Saat itu, Ariel terbang ke arahnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Ariel.
“Se-sepertinya,” jawab Goten yang kemudian tersenyum.
Tiba-tiba Ariel merasakan energi Ki yang ia rasakan sebelumnya mendekat persis di belakangnya.
“Energi Ki ini lagi. Sebetulnya Ki milik siapa yang daritadi kurasakan ini?” gumam Ariel.
Tak lama, terdengar suara tepuk tangan dengan ritme pelan di belakang Ariel. Ariel pun menoleh ke arah asal suara yang tak jauh darinya itu.
Suara tepuk tangan tersebut berasal dari seorang pria berambut hitam yang bagian atas serta belakangnya berdiri. Ia mengenakan baju ketat hitam lengan pendek yang dilapisi rompi baja dominan biru dan cokelat lengkap dengan jubah pinggang, sarung tangan serta sepatu biru. Ekor kera warna cokelat terlihat melilit pinggangnya. Ia memakai Scouter berlensa merah.
“Kemampuan yang benar-benar dahsyat. Rekanku Amon bisa ditumbangkan,” ucap pria itu.
“Energi Ki itu memancar dari orang ini rupanya,” gumam Ariel. “Siapa kau?” tanyanya kemudian.
“Namaku Arz,” jawab pria tersebut. “Aku sudah melihat semuanya dari jauh. Bangunkan dia yang terkapar itu untuk melawanku!” tunjuknya pada Goten.
![kaskus-image]()
Ariel melirik Goten sebentar, kemudian ia memutar bola matanya ke pria bernama ‘Arz’ itu lagi. “Apa?? Dia sudah tidak berdaya. Jika kau mau, lawanlah aku!”
“Hahaha… Begitu ya?” Arz lalu menekan tombol Scouternya dan benda itu pun menunjukkan angka 500.000.000 di lensanya. “Daya tempurmu mengagumkan. Apa bisa lebih dari itu?”
“Bagaimana jika kita membuktikannya?!” tantang Ariel.
“Dengan senang hati,” balas Arz.
Ariel lalu memapah Goten menjauh dan menyandarkan tubuh Goten di salah satu pohon rindang. “Kau tunggu di sini! Aku akan menghadapi orang sok kuat itu!” ucapnya.
Goten mengangguk lalu tersenyum. “Hehe… Suka-suka kau saja!”
“Bisa kita mulai?” tanya Arz ketika Ariel sudah kembali ke tempat sebelumnya.
Tanpa basa-basi, Ariel langsung mengeluarkan energi di tubuhnya hingga tubuhnya dilapisi cahaya putih lalu melesat terbang ke arah Arz.
“A-apa???” Goten yang melihatnya pun terkejut.
“Boleh juga kau, anak muda,” ucap Amon.
“Grrghh…,” geram Goten. Ia lalu mengepal seluruh jarinya dan menekuknya kedua lengannya hingga membentuk sudut siku-siku. “Graaaaa!!!”
Cahaya putih langsung menyelimuti tubuh Goten. Cahaya itu perlahan berubah menjadi kuning. Rambut Goten pun terangkat naik.
“Graaaaa!!!” Goten masih berteriak sambil mengeluarkan energi yang ada di dalam tubuhnya.
Rambut Goten yang terangkat naik tadi berubah warna menjadi kuning. Alisnya juga berubah warna menjadi kuning dan bola matanya beralih rupa menjadi hijau. Kedua tangan Goten sekarang sudah tidak mengepal lagi dan berdiri tegak lurus dengan aura kuning menyelimuti tubuhnya. Kini, ia merasa beberapa kali lipat lebih kuat dibanding sebelumnya.
“I-itu kan … Super Saiyan?” terka Amon.
Goten menatap tajam Amon dan berkata, “Kau akan membayar semua perbuatanmu!”
Spoiler for Super Saiyan Goten:
Goten langsung melesat kencang ke udara dan meninju Amon dengan tangan kanannya. Serangan yang sangat cepat itu membuat Amon melenting sangat jauh.
Goten memasang kuda-kuda. Ia menaruh kedua tangannya di samping pinggangnya dan terarah ke belakang dengan posisi jari seperti menggenggam sesuatu namun tidak bersentuhan. Cahaya putih kebiruan muncul di tengah-tengah tangannya yang seperti menggenggam sesuatu itu. Kini, tangannya menggenggam cahaya tersebut.
“Kaa… Mee… Haa…,” teriak Goten. Cahaya digenggamannya makin besar. “Mee… HAAA!!!”
Goten langsung melepaskan cahaya itu ke depan atas. Cahaya itu melesat cepat ke arah Amon yang sedang kelelahan di udara dan meledak hebat.
Namun, setelah ledakan mereda, terlihat Amon yang menggenggam kedua tangannya dengan seluruh tubuh diselimuti cahaya biru. Hal itu tentu saja membuat Goten sangat terkejut.
“La-lagi-lagi….” Goten tercekat.
“Kau hebat juga, anak muda. Bisa memaksaku mengeluarkan kekuatan terpendamku!” ujar Amon. “Sekarang, waktunya pembalasan!”
Amon pun meluncur cepat ke arah Goten yang ada di bawah. Begitu mencapai jarak yang dapat dijangkaunya, Amon segera menyarangkan tinju bertubi-tubi ke perut Goten. Belum cukup sampai di situ, Amon mengkombinasikan tinjuan dengan tendangan yang terfokus pada titik-titik vital tubuh Goten. Goten yang menerima serangan-serangan itu tak mampu berkutik. Terakhir, Amon menendang perut Goten dengan sangat keras, mengakibatkan Goten memuntahkan air dari mulutnya dan terlempar jauh ke belakang, menabrak dua bukit hingga tembus ke belakang bukit-bukit tersebut.
Amon terbang menghampiri Goten. Ia melayang persis beberapa meter di atas Goten yang sedang berusaha bangkit.
“Lebih baik kau menyerah saja! Kondisimu sudah seperti itu. Jadilah budak Akuma, maka aku akan mengampunimu!” Amon memberikan penawaran.
“AKU TIDAK MAU MENJADI BUDAK!!!” teriak Goten penuh amarah. Ia lalu mengepalkan kedua tangannya di samping pinggang dan mengeluarkan energi yang jauh lebih besar lagi.
Aura kuning langsung menyelimuti tubuh Goten. Aura tersebut berbeda dengan sebelumnya, karena ada percikan listrik di sekelilingnya. Aura itu membuat tanah yang dipijaki Goten bergetar, retak, dan puing-puingnya melayang ke atas. Rambut Goten juga jadi makin runcing dan bagian belakangnya terangkat lebih ke atas.
“GRAAAAAA!!!” teriak Goten. Tanah yang dipijakinya retak semakin dalam dan berjejak besar.
“Hmm….” Amon memegangi dagunya. “Mungkinkah dia akan semakin kuat?”
Setelah Goten berhenti berteriak, ia pun meluncur cepat ke atas dan berhasil meninju dagu Amon yang belum siap. Tapi, serangan Goten berikutnya yang terarah pada perut Amon, berhasil Amon tangkis, hingga akhirnya mereka berdua beradu jurus pukulan dan tendangan dengan sangat cepat.
“Bagaimana? Ini adalah Super Saiyan 2,” ucap Goten setelah menangkis tendangan miring Amon yang terarah ke kepalanya menggunakan punggung tangan kirinya.
Spoiler for Super Saiyan 2 Goten:
“Kau menarik.” Amon tersenyum miring.
Dari kejauhan, Ariel yang sedang menyaksikan jalannya pertarungan hanya bisa melihat gelombang-gelombang energi dari serangan Goten dan Amon yang saling berbenturan.
“Sepertinya mulai menarik,” ucap Ariel dingin sambil melipat kedua tangannya di dada.
Tapi tiba-tiba Ariel merasakan energi Ki yang cukup kuat di sekitarnya yang membuat ia menoleh ke sana ke mari. Namun, ia tidak menemukan siapapun.
“Energi milik siapa ini?” gumam Ariel kebingungan.
“Hya hya hya hyaaa!!!” Amon berkali-kali mengeluarkan cahaya energi berbentuk bulat pipih berwarna biru dari kedua telapak tangannya yang terarah pada Goten.
Namun, itu semua mampu ditepis oleh Goten berkali-kali. Setelah itu ia terbang cepat ke arah Amon dan langsung menyarangkan pukulan berulang kali dengan kedua tangannnya secara bergantian pada beberapa bagian tubuh Amon. Terakhir, Goten menendang keras dada Amon hingga terlempar dan masuk ke dalam laut.
Goten dengan napas terengah-engah menghampiri tempat Amon jatuh dan menjaga jarak beberapa meter. “Berhasil kah?” gumamnya.
Namun, hal tak terduga terjadi. Pusaran air tiba-tiba muncul di laut itu, dan makin lama makin besar. Dari tengah-tengah pusaran itu, Amon muncul sambil mengepalkan kedua tangannya yang ditekuk sejajar dengan pinggang. Ia berteriak keras hingga berubahlah auranya yang biru menjadi merah dengan listrik di sekelilingnya.
Goten terkejut melihatnya. Ia merasakan energi Ki yang sangat kuat terpancar dari tubuh Amon. Ia lalu mengumpulkan keberaniannya dan melesat ke bawah menuju Amon. Begitu sampai persis di hadapan Amon, Goten menyerangnya dengan pukulan dan tendangan beberapa kali yang ternyata dapat dihindari dengan sangat mudah oleh Amon.
Setelah menangkap tinju Goten, Amon memelintir tangan pemuda itu dan melemparkan tubuhnya hingga sangat jauh.
Amon langsung terbang cepat mengejar Goten yang terlempar, lalu meninju dada dan perut Goten berulang kali, setelah itu menendang dadanya hingga terlempar menuju pepohonan.
Pohon-pohon yang tertabrak tubuh Goten tumbang satu per satu. Ketika mendarat di tanah, tubuh Goten terguling-guling dan pakaiannya sobek di sana-sini. Luka lecet terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Cahaya kuning beserta aliran listrik yang melapisi tubuh Goten menghilang.
Amon terbang ke tempat Goten terjatuh. Ia lalu mengarahkan telapak tangannya ke depan dan muncullah sinar bulat berwarna kekuningan dari telapak tangannya tersebut.
“Sun Storm!” teriak Amon. Cahaya dari telapak tangannya memanjang dan meluncur cepat menuju Goten.
Begitu sinar tersebut mengenai tubuh Goten yang telah kembali berdiri, pemuda itu langsung berteriak kesakitan. Dan ketika cahaya menipis, tubuh Goten ambruk ke tanah dengan dipenuhi asap.
“Menyerahlah!” ujar Amon yang sudah ada di dekat Goten.
“A-aku … Ti-tidak akan … Me-menyerah!!” ucap Gotem sambil berusaha bangkit. “Mungkin ini yang terakhir!”
Goten mengepalkan kedua tangannya yang bergetar di samping pinggang.
“Masih mampu berdiri rupanya,” ucap Amon dengan tatapan meremehkan.
“Graaaaaa!!!” teriak Goten sembari mengeluarkan energi sampai melebihi batas kemampuannya. Bebatuan di sekitarnya pun melayang ke atas.
Cahaya kuning muncul melapisi tubuh Goten, dilengkapi dengan listrik disekelilingnya. Rambut Goten pun terangkat naik dan hanya menyisakan beberapa helai saja. Perlahan, rambut Goten memanjang. Rambut itu terus memanjang sampai ke pinggul. Tak lama, setelah alisnya menghilang, Goten berhenti berteriak. Sekarang, ia merasa tubuhnya berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Ia lalu menatap tajam Amon.
“Kau telah memaksaku sampai sejauh ini. MATILAH KAU!!!” Setelah mengakhiri kata-katanya dengan teriakan Goten melesat cepat dan melayangkan tinju ke wajah Amon.
“Ke-kekuatan a-apa ini??” ucap Amon yang wajahnya berpaling karena tinjuan Goten menempel di pelipisnya. Scouter-nya pun hancur karenanya.
Goten yang belum puas lalu menendang Amon tepat di perutnya hingga terlempar jauh.
Untungnya, Amon berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya di udara, jadi ketika Goten mengejarnya dan menyerangnya lagi, Amon mampu menepis serangan pemuda itu lalu membalasnya dengan serangkaian pukulan yang rupanya berhasil dimentahkan oleh Goten.
“A-apa???” Amon tak percaya semua serangan balasannya gagal.
“Bagaimana? Ini adalah wujud terakhirku, Super Saiyan 3!” Goten berkata dengan nada dingin kemudian tersenyum tipis.
Spoiler for Super Saiyan 3 Goten:
“BERISIK!!” teriak Amon. Ia pun kembali menyerang Goten.
Namun, baik pukulan ataupun tendangan yang dilancarkan Amon, semuanya mampu dihindari dan ditepis dengan cepat oleh Goten.
Goten kemudian mendaratkan tendangan cepat dan keras ke perut Amon yang membuat Amon mencelat jauh ke belakang. Setelah itu Goten mengeluarkan bola-bola energi dari kedua telapak tangannya berulang kali yang terarah pada Amon dan meledak satu per satu di tubuh Amon hingga Amon tersimpuh di tanah.
“Tcih! Sial!” gerutu Amon. Ia lalu mengarahkan telapak tangan kanannya ke depan.
Dari telapak tangan Amon keluarlah sinar berwarna kekuningan yang meluncur cepat ke arah Goten.
Goten yang melihat hal itu segera memasang kuda-kuda rendah dan menempelkan kedua tangannya yang terlihat seperti mencengkram sesuatu di samping pinggang yang mengarah ke belakang seperti sebelum-sebelumnya. Cahaya putih kebiruan muncul di tengah-tengah kedua tangan Goten yang terlihat seperti menggenggam tersebut. Cahaya energi itu makin lama makin besar.
“KAMEHAMEHAAA!!!” teriak Goten seraya melesatkan cahaya yang ada di tangannya itu ke depan.
Cahaya tersebut pun meluncur dan beradu dengan cahaya kekuningan yang keluar dari telapak tangan Amon. Angin yang sangat kencang pun berhembus dan menyapu apapun di sekelilingnya akibat efek dari benturan cahaya milik Goten yang disebut ‘Kamehameha’ dan cahaya milik Amon bernama ‘Sun Storm’.
Goten terus menambah tenaganya sambil mendorong kuat gelombang Kamehameha miliknya. Begitu juga dengan Amon. Hal itu terjadi selama beberapa saat.
Sampai pada akhirnya, Goten lah yang memenangkan adu tenaga itu. Kamehameha Goten pun berhasil mengenai tubuh Amon yang membuat Amon mengeluarkan teriakan yang sangat memilukan, sebelum akhirnya terkapar di tanah setelah gelombang Kamehameha yang menyerangnya menghilang. Baju tempur Amon hancur serta celananya sobek di mana-mana, tubuhnya dipenuhi lebam serta lecet.
Goten langsung tersimpuh di tanah. Rambutnya kembali ke bentuk normal dengan warna hitam, begitu juga alisnya yang kembali muncul, dan matanya yang berwarna hijau kembali menjadi warna hitam. Setelah itu ia ambruk di tanah.
“Egh… egh.” Goten hanya bisa menggerakkan jemarinya. Fisiknya sudah terlalu lelah dan kehabisaan tenaga. Saat itu, Ariel terbang ke arahnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Ariel.
“Se-sepertinya,” jawab Goten yang kemudian tersenyum.
Tiba-tiba Ariel merasakan energi Ki yang ia rasakan sebelumnya mendekat persis di belakangnya.
“Energi Ki ini lagi. Sebetulnya Ki milik siapa yang daritadi kurasakan ini?” gumam Ariel.
Tak lama, terdengar suara tepuk tangan dengan ritme pelan di belakang Ariel. Ariel pun menoleh ke arah asal suara yang tak jauh darinya itu.
Suara tepuk tangan tersebut berasal dari seorang pria berambut hitam yang bagian atas serta belakangnya berdiri. Ia mengenakan baju ketat hitam lengan pendek yang dilapisi rompi baja dominan biru dan cokelat lengkap dengan jubah pinggang, sarung tangan serta sepatu biru. Ekor kera warna cokelat terlihat melilit pinggangnya. Ia memakai Scouter berlensa merah.
“Kemampuan yang benar-benar dahsyat. Rekanku Amon bisa ditumbangkan,” ucap pria itu.
“Energi Ki itu memancar dari orang ini rupanya,” gumam Ariel. “Siapa kau?” tanyanya kemudian.
“Namaku Arz,” jawab pria tersebut. “Aku sudah melihat semuanya dari jauh. Bangunkan dia yang terkapar itu untuk melawanku!” tunjuknya pada Goten.
Spoiler for Arz:

Created by: Mr.Thonie
Ariel melirik Goten sebentar, kemudian ia memutar bola matanya ke pria bernama ‘Arz’ itu lagi. “Apa?? Dia sudah tidak berdaya. Jika kau mau, lawanlah aku!”
“Hahaha… Begitu ya?” Arz lalu menekan tombol Scouternya dan benda itu pun menunjukkan angka 500.000.000 di lensanya. “Daya tempurmu mengagumkan. Apa bisa lebih dari itu?”
“Bagaimana jika kita membuktikannya?!” tantang Ariel.
“Dengan senang hati,” balas Arz.
Ariel lalu memapah Goten menjauh dan menyandarkan tubuh Goten di salah satu pohon rindang. “Kau tunggu di sini! Aku akan menghadapi orang sok kuat itu!” ucapnya.
Goten mengangguk lalu tersenyum. “Hehe… Suka-suka kau saja!”
“Bisa kita mulai?” tanya Arz ketika Ariel sudah kembali ke tempat sebelumnya.
Tanpa basa-basi, Ariel langsung mengeluarkan energi di tubuhnya hingga tubuhnya dilapisi cahaya putih lalu melesat terbang ke arah Arz.
To Be Continued
Diubah oleh Ariel.Matsuyama 03-08-2021 11:32
0
Kutip
Balas