Kaskus

Story

vigojinggoAvatar border
TS
vigojinggo
Living in Batu City (life stories)
Trit ini berisi kisah sepasang pengantin baru yang memutuskan untuk memulai kehidupan baru di kota Batu

Quote:


Sejak jaman kuliah aku sudah jatuh cinta dengan kota Batu hingga aku berangan angan ingin tinggal di sana suatu saat nanti , kini setelah tahun demi tahun berlalu akhirnya aku berhasil juga mewujudkan anganku yang dulu kuanggap terlalu muluk itu , selepas menikah pada bulan Mei tahun 2018 kumulai kehidupan baru di kota Batu bersama istriku yang baru saja lulus kuliah , kami berdua sudah muak bertahun tahun tinggal di Jakarta yang selalu saja semrawut tak karuan , kami ingin hidup yang singkat ini dipenuhi rasa damai , tentram dan bahagia seperti selayaknya berada di surga , dan kami selalu meyakini dengan hati bahwa surga itu berada di kota Batu , suatu kota yang indah dan ideal untuk membangun kehidupan secara manusiawi.

Aku Vigo dan istriku Aline dengan ini akan menuliskan sekelumit kehidupan sederhana kami di kota Batu , kisah demi kisah akan kami tuangkan secara berkala dan apa adanya.

Quote:



Quote:


Quote:


Quote:

Diubah oleh vigojinggo 06-06-2024 21:51
JabLai cOYAvatar border
mukagedekAvatar border
jundi666Avatar border
jundi666 dan 92 lainnya memberi reputasi
87
300.4K
3.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
vigojinggoAvatar border
TS
vigojinggo
#1774
TONARI TOMODACHI part 1
Sudah setengah tahun lebih gw tinggal di Kyoto sama anak istri gw , awalnya emang sempet merasakan shock culture tapi sekarang udah terbiasa hidup ala Jepang.

Membiasakan diri hidup ala Jepang berarti harus menempatkan perspektif seperti orang Jepang , tak cuma harus paham bahasa tapi juga harus mengerti tata krama , kebiasaan , tradisi dan sosial kultur orang orang Jepang , itu agar mudah untuk membaur dengan orang orang Jepang karena mereka pada dasarnya mau membuka diri sama gaijin asalkan bisa menempatkan diri sebaik baiknya.

Di Kyoto gw udah membaur dengan banyak orang Jepang mulai dari tetangga di lingkungan hingga teman teman berbagai latar belakang entah di kampus atau dimanapun , sekarang gw mau mendata siapa saja tetangga dan teman teman yang udah cukup akrab sama gw selama tinggal di Kyoto.

PARA TONARI GW :

Pak Ryuji Matsumoto

Tetangga sebelah rumah gw yang bernama Pak Ryuji ini seorang duda yang lama ditinggal anak istrinya , sehari hari Pak Ryuji membuka depot izakaya tak jauh dari rumahnya , depot izakaya itu sempit sederhana dengan hidangan murah meriah , yang datang ke situ orang orang perantauan pekerja menengah bawah , kalo sedang kumpul di izakaya suasana terasa hangat dengan berbagai obrolan dan candaan ringan sambil minum bir merk Asahi atau Sapporo , kalo sedang makan di situ gw harus mengarang ngarang cerita agak cabul agar orang orang bisa ketawa ngakak.

Kakek Nenek Nakahara

Sepasang lansia tak jauh dari rumah gw membuka kios dagashi yang jualannya cuma jajan snack sama permen , gw sama Aline sering mampir situ buat njajan milih sendiri ambil yang banyak ditaruh keranjang kecil murah meriah , permen yang ngetop di Indonesia adalah merk Marukawa , Glico , Morinaga , Lotte dll , kalo siang - sore banyak anak anak kecil jajan rame rame ke situ , semuanya dilayani dengan ramah oleh kakek nenek Nakahara yang selalu tersenyum dan sering mengudang Dewa kalo sedang gw ajak , selain itu di kios juga ada gachapon semacam kapsul isi mainan pake koin.

Keluarga Yamada

Rumah keluarga Yamada berseberangan sama rumah gw , mereka keluarga kelas menengah yang hidup pas pasan , sang ayah kerja kantoran , sang ibu dirumah , anaknya cowok SMA agak nakal sering dimarahi , anaknya cewek SMP pendiam suka menyendiri di tepi sungai , sang ayah dan ibu paling sering ngasih bantuan gw entah minjemin barang2 , sepeda dan juga membagi makanan apapun , kalo Dewa ada di luar rumah mereka akan mengudang gemas lihat tampang lucunya Dewa sampe diuleng uleng.

Pak Yohe Nishiyama

Pak Yohe seorang polisi lingkungan yang tiap malam keliling patroli naik sepeda , dia sering menemukan orang orang bermasalah di sekitar jembatan sungai / jalan raya , biasanya cewek minggat atau orang mau bunuh diri berkali kali ditemukan Pak Yohe yang kemudian sering diceritakan saat gw lagi mampir posnya yang tak jauh dari rumah gw , Pak Yohe juga selalu antusias tiap kali gw menceritakan apapun tentang indonesia dan dia penasaran ingin liburan ke Bali cuma gara gara gw ceritain cewek cewek bule berjemur di pantai gak pake kutang.

Pak Tatsuo Miyamizu

Seorang tukang ramen gerobak keliling yang selalu lewat lingkungan gw tiap malem , tempat mangkalnya di parkiran danchi apartemen tua yang tak jauh dari rumah gw , kalo mangkal situ Pak Tatsuo sering bunyiin seruling khas tukang ramen yang membuat orang orang berdatangan , ramennya enak harganya murah orangnya ramah wajar kalo pelanggannya sangat banyak.

Mbak Naoko Tachibana

Mbak Naoko kerja jadi kasir konbini minimarket lingkungan gw , dia selalu kerja shift malam akhirnya gw jadi kenal dia gara gara sering beli apa saja ke situ , kalo tengah malem dia kumpulin bento / onigiri yang gak laku buat dibagiin gembel2 yang datang lewat belakang konbini , itu adalah kebaikannya Mbak Naoko yang tidak mau menuruti perintah manager untuk membuang makanan harian yang gak laku.

Mbak Mayumi Ito

Keluarga Mbak Mayumi punya warung bento yang sehari hari dia urus bersama kakaknya , kadang gw beli bento ke situ tapi yang bikin gw jadi akrab sama Mbak Mayumi adalah antusiasmenya tentang Indonesia , dia pikir orang Indonesia hidupnya enak santai gak ada beban sampe dia pengen pindah Indonesia gara2 tv Jepang selalu nayangin hal hal menyenangkan tentang Indonesia , setelah gw ceritain Indonesia apa adanya dia akhirnya paham bahwa Indonesia tak lebih baik daripada Jepang.

Pak Yashida Nagasawa

Seorang bapak yang membuka depot wagashi manisan kue di lingkungan gw , kalo mampir situ Pak Yashida sering ceritain aneka wagashi yang disajikan berbeda tiap musim , dia juga selalu cerita sejarah Jepang dengan antusias dan sempat ngasih lihat foto2 leluhurnya sejak era Meiji , gw juga pernah ngasih Pak Yashida jajanan khas Indonesia macam brem , graul , dodol , madu mongso dll , dia bilang rasanya aneh.

Mbak Haruka Fujiwara

Mbak Haruka seorang guru SD lingkungan gw , asalnya dari Fukushima dan ia sudah kehilangan rumah serta keluarganya saat terjadi tsunami tahun 2011 , gw sering ketemu Mbak Haruka di depot izakaya dan dia selalu ceritain kisah hidupnya yang tragis hingga harus susah payah melanjutkan hidup pindah2 kota , dia ngekos di rumah kecil lantai 2 dekat rumah gw tapi kosnya gak ada kamar mandi jadi dia harus mandi di tempat pemandian umum.

Pak Hiroshi Kunimura

Deket jalan raya ada tukang takoyaki / okonomiyaki yang namanya Pak Hiroshi , badannya besar bertato karena dia bekas Yakuza dari Osaka yang udah insyaf , kalo mampir warungnya gw suruh dia cerita perjalanan hidupnya jaman dulu dimana dia sering terlibat aksi kekerasan antar geng , Pak Hiroshi pernah dipenjara belasan tahun dan kesulitan melanjutkan hidup karena statusnya distigma negatif hingga keluarganya menjauh , Pak Hiroshi kemudian pindah ke Kyoto dan membuka warung setelah sebelumnya pernah belajar membuat takoyaki / okonomiyaki dalam pelatihan napi mandiri.

Mas Shunsuke Honemura

Mas Shunsuke yang asalnya dari Oita membuka kakigori warung es serut yang hanya buka saat musim panas , saat musim lainnya dia membuka yatai angkringan gerobak yang jualan oden dan segala makanan murah meriah , yang mampir situ orang orang perantauan pekerja kelas bawah dan pegawai kantoran , selain itu juga ada gerombolan banci dan pramuria yang biasa mampir tengah malam.

Kakek Hideyoshi Miyata

Seorang kakek sebatang kara tinggal tak jauh dari rumah gw , kakek Hideyoshi pensiunan pegawai negeri yang hidupnya sederhana , awalnya dia agak kurang suka lihat orang asing kayak gw tinggal di lingkungan tapi setelah ketemu saat festival musim panas dia jadi ramah sama gw , apapun tentang kebudayaan dan tradisi Jepang selalu dia jelaskan tiap kali gw tanya , kalo malem dia ngajak tetangga minum sake bareng di rumahnya biar gak kesepian , gw ikut minum berkali kali sambil gw ceritakan tentang budaya dan tradisi Indonesia.

Keluarga Nanami

Keluarga terkaya di lingkungan gw adalah keluarga nanami yang rumahnya besar , luas dan serba tradisional karena warisan turun temurun dari leluhur , saat di rumahnya diadakan acara kumpul lingkungan gw diajak ikutan dan terbengong bengong melihat barang2 tradisional di rumah keluarga Nanami yang merupakan keturunan samurai , ada berbagai katana , zirah , lukisan ukiyo e , shamisen , koto , boneka hina , okiku dan barang2 kuno lain yang terpajang dimana mana , sementara di pekarangan ada kebun zen , lentera batu , kolam koi dan beraneka bonsai.

Pak Shigeru Minakawa

Tiap sore tukang ubi bakar bernama Pak Shigeru lewat lingkungan gw naik pikep jualan ubi yang dibakar di tungku belakang , ubinya besar makan sekali langsung mblenger gak laper lagi sampe malem.

Pak Sukirno Widiatmojo

Ternyata di lingkungan gw juga ada orang Indonesia yang telah menjadi warga negara Jepang , Pak Sukirno dari Kulonprogo merantau ke jepang sejak era 90an bersama keluarganya , dia jadi guru bahasa Inggris di SMA Jepang dan sekarang udah hampir pensiun , Pak Sukirno yang membantu gw adaptasi lingkungan hingga dapat berbaur dengan semua warga , dari Pak Sukirno gw juga dapat informasi toko khusus Indonesia di pinggiran Kyoto yang akhirnya sering gw sambangi buat cari produk Indonesia macam sambel , terasi , kluwek , cabe , brem , dodol , wingko , ketan dll

Mas Eiji Yamazaki

Mas Eiji bekas anggota geng motor urakan yang udah insyaf , dia membuka toko dorayaki di depan rumahnya yang rame disambangi anak anak sekolahan , gw sering diceritain masa lalunya yang penuh kekerasan sering tawuran antar geng motor dan berkali kali masuk penjara , ia juga sering dipecat kerjaan sebelum akhirnya buka toko dorayaki meneruskan usaha ayahnya yang telah meninggal.

Dik Takashi Abe

Dik Takashi cuma pemuda SMA yang sering menyendiri di tepi sungai sambil menggambar komik , tiap lewat sungai sore hari gw selalu ketemu dia sedang menggambar tokoh tokoh komik , pas ngobrol dia bilang cita citanya jadi mangaka dan sering mengirim karya komiknya ke penerbit tapi tak pernah diterima.

Mbak Megumi Sato

Mbak Megumi janda beranak dua yang rumahnya sebelah lapangan dekat rumah gw , gara gara Aline sering menyuapi Dewa makan di lapangan akhirnya jadi akrab sama Mbak Megumi yang anak keduanya juga masih balita , tiap sore Aline dan Mbak Megumi sering ngobrol membahas resep makanan Jepang Indonesia hingga berkali kali memasak bersama.

Dik Mariko Hayashibara

Dik Mariko cuma gadis SMA yang kebetulan sering jalan bareng sama gw tiap kali berangkat kampus / sekolah yang searah , walaupun agak pemalu tapi lama lama dia terbiasa ngobrol sama gw atau makan bareng di depot izakaya , dia sebenarnya memendam masalah keluarganya yang berantakan dan sering ribut hingga berkali kali dia terpaksa tidur di kuil , untuk menyemangati dia gw selalu kasih motivasi agar lulus SMA dulu setelah itu bisa merantau keluar kota entah kerja atau kuliah.

Mbak Aoi Yunichiro

Dekat lapangan ada warung taiyaki yang dibuka Mbak Aoi di depan rumahnya , warungnya rame terus mulai buka sore sampe tutup malem , anaknya Mbak Aoi masih TK sering main ke lapangan dan gw kasih jajanan Indonesia macam2 jadi Mbak Aoi kadang juga ngasih taiyaki gratis kalo lihat Dewa lagi disuapin makan di lapangan.

Mbak Kumiko Kanzaki

Mbak Kumiko Kanzaki janda tak punya anak yang asalnya dari Yamagata , sehari hari dia kerja jadi pegawai depot udon dekatnya pos polisi dan tiap malam selalu duduk menyendiri di tepi sungai sambil merokok , gw mengenal dia gara gara sering makan udon di depot jadi kalo pas gw ketemu dia di tepi sungai kadang gw temani ngobrol , setelah cukup akrab dia gak canggung ceritain masa lalunya yang pernah jadi pramuria di Tokyo , rumah tangganya berantakan karena suaminya sering melakukan kekerasan , setelah cerai Mbak Kumiko memilih pindah ke Kyoto karena keluarganya di Yamagata sudah menjauhi setelah tahu dia jadi pramuria.

Pak Homer

Gak ada yang tahu siapa nama aslinya tapi orang2 memanggilnya Homer karena mukanya mirip tokoh kartun Homer Simpson , sebenarnya Pak Homer ini cuma gembel yang tinggal di gubuk triplek dekat sungai , kerjaannya jadi pemulung ngumpulin kaleng botol minuman duitnya cuma cukup buat makan harian , hobinya mancing di sungai ikannya dimasak sendiri dan gw kadang mampir gubuknya ditawari ikan , Pak Homer menyimpan masa lalu kelam yang gak mau diceritain tapi dia punya semangat untuk hidup , kalo gw bawain sebotol sake dia langsung seneng minum bareng gw di dalam gubuknya sambil gw ceritain tentang Indonesia.

Nenek Pachinko

Pak Homer punya tetangga sesama gembel yang dipanggil Nenek Pachinko , itu karena si nenek keranjingan main pachinko sampe duit hasil kerjanya jadi pemulung selalu ludes , kalo gak punya duit Nenek Pachinko numpang makan di gubuknya Pak Homer.

Dik Akane Matsukawa

Dekatnya rumah keluarga Nanami ada rumahnya keluarga Matsukawa yang dihuni seorang ibu dan anak gadisnya yang bernama Akane , warga di lingkungan tak ada yang akrab dengan Akane apalagi gw yang cuma orang asing , gw cuma tahu Akane yang tampak murung tiap malam selalu keluar rumah minum sake botol kecil di tepi sungai , hanya saat itu saja Akane keluar rumah karena sehari hari dia selalu mengurung diri dalam kamar alias hikikomori , menurut gosip Akane jadi begitu akibat semasa SMP menjadi korban perundungan.

Mas Satoshi Kojima

Seorang pria lajang bernama Mas Satoshi sehari hari bekerja jadi tukang antar gas , dia tinggal di danchi apartemen tua dan sering ketemu gw saat makan ramen gerobakan , lama lama kami jadi cukup akrab hingga saat gw ajak minum bir di izakaya dia menceritakan masa lalunya yang berantakan , ternyata dia minggat meninggalkan keluarganya alias jouhatsu karena tertekan dengan hidupnya yang menjadi pengangguran , selama bertahun tahun Mas Satoshi minggat tak tahu lagi kabar keluarganya , dulu ia minggat di Kamagasaki Airin Chiku lalu berpindah ke Kyoto yang dirasanya lebih tentram.

Miss Suzi

Di jalan raya dekat lingkungan gw ada bar kecil yang selalu rame tiap malem , bar itu khusus waria banci dimana tiap malam selalu ada pertunjukan konser banci nyanyi , salah satu artisnya adalah Miss Suzi yang kenal sama gw gara gara sering ketemu di yatai , tampilannya agak aneh tapi dia orang yang baik tidak macam macam sama orang asing kayak gw.

Mas Seiji Matsubara

Mas Seiji seorang duda punya anak laki masih SD , rumahnya dekat sungai sehari hari buka warung jualan kare , soba dll , kalo warungnya tutup dia mancing di sungai bareng Pak Homer dan akhirnya kenal sama gw gara gara ikutan minum sake bareng , ternyata dia pernah kerja di Jogja menjadi pegawai proyek kontraktor Jepang yang akhirnya harus terhenti karena Jogja terkena gempa pada tahun 2006 , Mas Seiji bilang dia kangen makan gudeg , sambel krecek sama geplak yang sudah belasan tahun gak pernah makan lagi , dia langsung sumringah pas gw beliin beberapa gudeg kalengan dari toko khusus Indonesia.

Dik Shota & Dik Ryota

Kakak beradik Shota dan Ryota masih sekolah SD tempat tinggalnya di danchi apartemen tua , ibu mereka janda yang kerja di Osaka jadi sehari hari mereka terbiasa mengurus diri sendiri , kalo sore mereka sering main bisbol di lapangan dekat rumah gw sambil gw tonton , kalo sedang kehabisan duit kiriman mereka biasanya mencari cari duit recehan yang jatuh di kolong mesin minuman , karena kasihan gw kadang nraktir makan ramen gerobak atau ngasih duit seperlunya buat beli makan.

Dik Chihiro Honekami

Seorang gadis lajang asal Hokkaido bernama Chihiro kerja jadi pegawai di tempat pachinko tepi jalan raya , gw kenal dia gara gara beberapa kali nyobain main pachinko sambil diajarin sama dia , sifatnya periang tapi ternyata hidupnya penuh masalah yang dia ceritain pas lagi makan bareng gw di yatai , dia bilang orang tuanya cerai dan ayahnya sering menghajar sejak dia masih kecil hingga remaja , lalu dia minggat luntang lantung di Shibuya dan kemudian malah jadi pramuria sebelum akhirnya pindah ke Kyoto kerja di tempat pachinko walau gajinya gak seberapa , tapi meskipun hidupnya penuh masalah dia selalu tampak riang.

Dik Fumiko Matsugawa

Seorang gadis lajang bernama Dik Fumiko bekerja di lembaga kursus bahasa Jepang untuk orang asing , gw udah bisa ngomong bahasa Jepang tapi belum bisa baca tulis huruf kanji kataikana hiragana jadi Dik Fumi terus mengajari gw secara privat karena gw males ikut kursus bareng orang2 asing dari berbagai negara , seminggu 3x dia datang ke rumah gw ngajarin baca tulis huruf Jepang sambil gw kasih jajanan khas Indonesia macam2 , kadang dia bawain gw sekardus apel besar dari kampungnya di Aomori yang terkenal sebagai daerah penghasil apel terbaik di Jepang.

Ajay Vindukar

Ajay orang India seumuran gw yang udah bertahun tahun tinggal di Kyoto , dulu dia orang miskin dari Mumbai sampe akhirnya dia punya kesempatan kuliah animasi di universitas Seika Kyoto , lulus dari situ Ajay diterima kerja di studio anime Kyoto Animation dan hidupnya mulai membaik , dia tinggal di danchi apartemen tua jadi kenal gw gara gara sering ketemu pas makan ramen gerobakan.

Muhammad Fayyaz

Fayyaz temannya Ajay sesama animator lulusan Seika yang juga kerja di Kyoto Animation , dia berasal dari Karachi Pakistan dan sangat taat memegang ajaran Islam , karena itulah Fayyaz tidak mau makan ramen karena kuahnya kaldu babi dan dagingnya juga babi yang diharamkan dalam agama Islam , sehari hari Fayyaz lebih suka makan di depotnya Mas Seiji yang akhirnya sering ketemu gw sambil ngobrol apa saja.

Dik Shinichi Yanagisawa

Dik Shinichi yang tampak murung ngekos di rumah lantai 2 sama kayak Mbak Haruka , hidupnya penuh masalah hingga dia minggat dari rumahnya di Saga dan kemudian bekerja di Kyoto sebagai pegawai toko baju Uniqloo bagian gudang , kalo malem pulang kerja dia ngerokok sendirian di lapangan dekat rumah gw jadi kadang gw samperin duduk bareng sambil ngobrol , entah apa masalah hidupnya dia gak mau cerita tapi dia bilang sedang menulis naskah novel untuk dikirimkan ke penerbit , hanya menulis novel yang dia harapkan bisa merubah nasibnya jadi gw terus menyemangati dan juga menceritakan novel novel Indonesia untuk referensi.

Pak Ryuichi Nikaido

Di lingkungan gw ada kuil Buddha Zen kecil yang dijaga seorang biksu bernama Pak Ryuichi , orangnya ramah sering ikut minum sake atau jalan jalan keliling lingkungan menyapa warga , kalo gw main ke kuil Pak Ryuichi nawarin teh hijau sambil ngajak ngobrol apa saja , Pak Ryuichi suka main catur Sogi tapi gw gak paham cara mainnya , sering juga Pak Ryuichi menulis haiku dan tanka yang merupakan puisi tradisional khas Jepang , pas Dewa gw ajak ke kuil Pak Ryuichi memberi jimat kecil dalam kantung kain yang katanya buat keberuntungan.

Pak Kohei Nakayama

Selain beragama Buddha warga di lingkungan gw sebagian beragama Kristen yang gerejanya berada di pinggir jalan raya , Pak Kohei seorang pastur di gereja itu yang sering keliling lingkungan menyapa warga , biasanya Pak Kohei mampir makan di izakaya atau yatai jadi gw sering ketemu ngobrol bareng tentang apa saja , Pak Kohei sangat antusias gw ceritain tentang Indonesia apalagi kakeknya pernah dikirim ke Jawa menjadi tentara yang akhirnya tak pernah kembali ke Jepang.

Mas Yoshida Sawamura

Seorang pria kantoran lajang bernama Mas Yoshida mengontrak rumah tak jauh dari rumah gw , pulang kerja dia sering makan di yatai atau izakaya sambil minum bir hingga larut malam jadi gw lama lama makin akrab sama dia , Mas Yoshida asalnya dari Takehara laut pedalaman Seto yang merantau ke Kyoto untuk bekerja di perusahaan ekspedisi , dia orang yang humoris tapi merasa lelah dengan hidupnya yang terlalu sibuk , dia ingin bisa santai tapi tak pernah ada waktu buat liburan karena bosnya melarang cuti , hiburannya Mas Yoshida hanyalah kumpul sama orang orang di izakaya sambil bercandaan tentang apa saja terutama hal hal yang agak cabul , gw sering ngasih lihat foto2 artis Indonesia yang seksi dan dia selalu minta fotonya dikirim ke ponselnya mungkin buat bahan coli sebelum tidur.

Mbak Nita Damayanti

Sesama orang Indonesia jika kebetulan ketemu di luar negeri akan selalu saling kenal , gw kenal Mbak Nita yang asalnya dari Bandung gara gara kebetulan ketemu di stasiun , dia tinggal di apartemen luar lingkungan gw dan bekerja jadi jurnalis untuk NHK Kyoto , anak dan suaminya tinggal di Indonesia sementara Mbak Nita baru beberapa tahun tinggal di Kyoto , dia megang mobil kantor sering ngajakin gw , Aline dan Dewa jalan jalan keliling Kyoto atau wisata ke kota2 sekitar hingga ke danau Biwa.

Keluarga Tanigaki

Keluarga Tanigaki adalah pemilik rumah yang gw kontrak , sang ayah yang kerja kantoran juga menjadi semacam ketua RT yang selalu menginisiasi warga untuk gotong royong dalam kegiatan apapun seperti kerja bakti atau persiapan festival membuat hiasan dan kuil jinjing buat pawai , sementara sang ibu dibantu anak gadisnya yang masih SMA membuka warung kecil depan rumah yang menjual aneka gorengan seperti tempura , kroket , tofu dll.

Matsuo Kimura

Matsuo seorang duda seumuran sama gw tapi hidupnya gak jelas gara gara keranjingan main pachinko sama lotre dan pacuan kuda , asalnya dari Shizuoka dan dia ngekos di rumah 2 lantai sama kayak Mbak Haruka
Diubah oleh vigojinggo 24-09-2023 02:18
kenzzz
jembloengjava
zoekyvalkrye
zoekyvalkrye dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.