- Beranda
- Stories from the Heart
INGATLAH | S.1: "Lisan Yang Buram"
...
TS
tyrodinthor
INGATLAH | S.1: "Lisan Yang Buram"

Quote:
Spoiler for Peta:
Diubah oleh tyrodinthor 20-05-2020 03:12
pakisal212 memberi reputasi
1
734
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tyrodinthor
#3
THE NEWS
Spoiler for Tokoh:
"Modim..."
Ah, suara itu lagi. Dan aku lagi-lagi melayang-layang hingga terjatuh.
"Modim!!",
Aku terbangun!
"Modim, cepat! Kita bereskan lapak dan kemasi barang-barang di kemah!", teriak Ain membangunkanku.
Aku pun bingung dan bertanya, "Ada apa tergesa-gesa, Ain?".
Sambil mengangkat beberapa piala dan pot dari perunggu, Ain berkata, "Kudengar sejumlah pemberontak mulai bergerak di Urislem menuju Kavish! Dalam waktu kurang dari 5 jam akan tiba di Dammeseq".
Aku melihat Hasa, Mirdin, Samir, dan Dhahab sedang bergegas berkemas. Aku bertanya, "Dimana ayah?".
Lalu Dhahab menyahut, "Beliau sudah berangkat ke perbatasan bersama-sama para penyair itu".
Aku pun membereskan tembikar-tembikar dan lampu. Kulihat matahari sudah sepenggalahan dan para saudagar lain sudah bersiap-siap dengan rombongan unta dan kudanya. Aku bertanya pada Ain, "Kenapa ayah berangkat lebih dahulu?".
Ain menjawab, "Karena ayah orang Ahavah, Modim".
Aku pun bingung, "Memangnya pemberontak di Urislem itu orang-orang Ahavah?".
Ain menjawab, "Tidak tahu. Tapi bisa jadi".
"Ayo sudah siap semua!! Kemahnya lekas digulung", teriak Mirdin dari luar bersama beberapa unta dan barang-barang dagangan.
Aku pun bergegas keluar dan kulihat beberapa orang Naziru berkerumun di alun-alun. Kami pun berangkat melewati kerumunan. Di sana, seorang pendeta Naziru berkhotbah,
"Wahai penduduk Dammeseq! Kita tidak usah takut. Para pemberontak itu tidak akan berhasil merangsek masuk ke kota Dammeseq! Mereka akan ditumpas oleh legiun suci Terra Alba di Kavish!".
Kami terus berjalan melewati kerumunan dengan beberapa rombongan saudagar lainnya. Lalu kami mendengar seseorang berteriak kepada sang pendeta, "Bapa! Benarkah kaisar Phocus telah mati terbunuh?".
Orang lain juga berteriak, "Tapi yang membunuh kaisar Phocus bukanlah pemberontak! Dia adalah sang Maitreya yang telah datang kembali!".
Sementara yang lain juga berteriak, "Kamu jangan sok tahu! Pembunuhnya juga seorang penganut Naziru, saudara seiman kita".
Yang lain pun berteriak, "Maksudmu? Apakah Tuhan kita mengajarkan untuk membunuh seorang penguasa tiran?".
Sang Pendeta pun berkata,
"Dengarlah, saudara-saudara Naziru-ku! Yang memberontak di Urislem adalah pasti orang-orang Urislem, mereka selalu ingin merebut kota suci itu! Sementara itu, kaisar Phocus terbunuh oleh bangsawan yang akan menumpas pemberontak Urislem! Maka dari itu, kita jangan gentar dan tak perlu berpecah-belah".
Beberapa orang lainnya berdebat di dalam kerumunan. Mirdin memberi isyarat agar kita tidak usah menghiraukan dan tetap melanjutkan perjalanan.
Sesampainya kami di perbatasan negeri, tampak sejumlah pasukan Almak dan petugas censorAlba telah berbaris. Seorang petugas bertanya, "Saudagar?".
Aku pun menjawab, "Benar. Kami saudagar tuan Mahzor. Ini surat jaminannya dan surat pajaknya".
Petugas itu berkata, "Kami tidak perlu surat-surat itu. Kami hanya mau memeriksa apakah ada senjata tajam dalam rombongan kalian".
Beberapa petugas memeriksa rombongan kami. Setiap barang-barang bawaan di masing-masing unta kami diperiksa tanpa kecuali. Petugas itu berkata kepada kami, "Meskipun kalian satu etnis dengan kami, kami tidak boleh lengah. Saudagar kalian adalah seorang Ahavah, dan kami harus menjunjung tinggi martabat Kaisar".
Aku pun tiba-tiba mengkhawatirkan ayah angkatku, dan bertanya kepada petugas itu, "Memangnya ada apa dengan orang-orang Ahavah sebelum kami?".
Petugas itu menjawab, "Mereka melarikan diri ke sana", sambil menunjuk ke arah timur.
Aku bertanya, "Apa maksud tuan?".
Petugas itu menjawab, "Orang-orang Ahavah telah kabur dari pagi buta ke sana, menurutmu kemana lagi kalau bukan ke Persae?".
Aku bertanya lagi, "Memangnya kenapa dengan Persae? Bukankah negeri ini sudah berdamai dengan mereka?".
Petugas itu melotot ke arahku, lalu Ain berkata kepadanya, "Lantas, bagaimana dengan seorang saudagar Ahavah yang bernama tuan Mahzor? Beliau sudah seperti ayah bagi kami".
Petugas itu berkata, "Kalian tanya saja dengan petugas censor di pos menara itu. Aku tidak punya data-datanya. Mereka yang punya. Setiap orang yang melintasi perbatasan tidak akan luput dari mata mereka".
Aku dan Ain pun bergegas ke pos menara tsb. Kami diberi sejumlah perkamen bertuliskan nama-nama orang yang melintasi perbatasan hari ini. Kami pun tidak menemui nama ayah dan para penyair tsb.
"Tolong tuan beritahukan tentang orang Ahavah yang bernama tuan Mahzor. Beliau bersama orang-orang Almak melintas pagi ini", ujar Ain.
Mereka pun bertanya siapa saja orang Almak yang bersama ayah angkatku. Kami pun menjawab sepengetahuan kami, yaitu tuan Khabar dan Ashmar. Dan mereka tidak menemukan informasi tentang mereka. Salah seorang petugas censor berkata, "Mungkin ayah kalian sudah bergabung dengan pemberontak di Urislem".
Aku menjawab, "Tidak mungkin. Ayahku bukan seorang radikal, tuan. Beliau hanya berdagang di negeri ini".
Petugas lainnya menyambung, "Apakah orang yang bernama tuan Mahzor itu seorang yang saleh dalam beribadah?".
Kami pun mengangguk. Dia melanjutkan, "Maka sudah jelas jawabannya. Mereka pasti ke kota suci Urislem".
Kami tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak mungkin ayah kami seradikal itu. Tapi, nama mereka tidak terdaftar dalam daftar orang-orang yang melintasi perbatasan hari ini.
"Bukit Mara, Ain!", bisikku kepada Ain.
"Bukit Mara?", tanya Ain.
Aku menjawab, "Ya! Aku semalam mendengar beliau diajak oleh tuan Khabar ke Bukit Mara".
Ain menjawab, "Tapi, Modim. Kita tidak mungkin kembali menyusul ke sana. Bukit Mara itu masih sekitar 1 jam dari Dammeseq, berarti 3 jam dari sini!".
Aku terdiam. Mungkin itu sebabnya beliau mempercayakan barang dagangannya kepadaku dan Ain. Kurasa memang aku harus menyelamatkan harta-benda ayah angkatku dan menjaga Ain putra kandungnya.
Aku pun menjawab, "Baiklah, ayo berkemas. Kita kembali melanjutkan perjalanan. Kurang dari 4 hari kita akan tiba di kampung".
Lalu aku meminta secarik papirus kepada para petugas censor, "Tuan-tuan. Jika tuan-tuan bersedia, kami ingin menulis pesan untuk ayah kami jika beliau melewati perbatasan".
Mereka menjawab, "Memangnya ayahmu akan melewati perbatasan? Dia pemberontak, hahahaa...".
Ain menjawab, "Tidak, tuan. Kami tahu ayah kami bukan seorang radikal. Kami hanya memohon menitipkan pesan kepada beliau melalui tuan".
Petugas itu menyuruh rekannya, "Ambil pena dan papirus!".
Aku pun menulis dalam bahasa Almak,
"Ayah, kami menunggu di kampung. Berhati-hatilah.
Ditulis oleh Ain dan Modim".
Kami pun bersama rombongan dagang kami melanjutkan perjalanan. Kami mulai melintasi gurun pasir yang sangat gersang dan bukit pasir berliku.
Ain berkata, "Aku akan pulang, ayah!".
Diubah oleh tyrodinthor 20-05-2020 03:14
0