- Beranda
- Stories from the Heart
INGATLAH | S.1: "Lisan Yang Buram"
...
TS
tyrodinthor
INGATLAH | S.1: "Lisan Yang Buram"

Quote:
Spoiler for Peta:
Diubah oleh tyrodinthor 20-05-2020 03:12
pakisal212 memberi reputasi
1
734
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tyrodinthor
#1
THE PRICE
Spoiler for Tokoh:
"Modim..."
"Suara misterius itu lagi....", kali ini aku merasa tubuhku melayang ke tengah-tengah dan perlahan jatuh cukup cepat. Aku pun tersentak dari tidur siangku. "Ugh, lagi-lagi suara misterius itu masuk mimpiku membangunkanku", ucapku dalam hati.
Aku beranjak dari tembikarku. Kulihat pasar ini tidak lagi menarik bagiku. Orang-orang yang hidup di tahun 608 ini terlalu sibuk membicarakan harga bawang Persae.
"Hei, culas! Mau berapa lagi kau naikkan harganya?", teriak seorang pembeli kepada pedagang bawang. "Ini sudah menjadi harga umum, orang-orang Ahavah itu juga menjualnya di harga ini!", jawab sang pedagang.
Begitu kuamati dengan cermat pembeli itu, "Oh, rupanya si Hasa", ucapku dalam hati.
Hasa pun berkata kepada pedagang itu, "Sudahlah, tak akan kubeli lagi bawang darimu".
"Oh, terima kasih! Aku hanya menjual bawangku dengan harga terbaik, karena bawangku bawang dari Persae yang sangat bagus", jawab sang pedagang.
"Hei Hasa, kemarilah kau!", aku memanggil Hasa.
"Oh, Modim!", jawab Hasa bergegas kepadaku. Kulihat raut wajahnya masam sekali, aku pun bertanya, "Untuk apa kamu mencari bawang Persae?".
Hasa menjawab, "Kau tahu? Aku disuruh berkeliling membeli bahan-bahan masakan oleh ayahmu, tuan Mahzor. Beliau berkata bahwa malam ini akan ada perjamuan tamu agung dari Mizar".
Mizar... oh itu kota yang sangat terpencil. Kudengar sedikit tentang kota itu dari orang-orang, katanya kota itu merupakan kota orang-orang Ahavah. Tapi aku tidak tahu jika ayah angkatku punya kenalan di kota itu. Lalu kutanya Hasa, "Apakah mereka orang-orang Ahavah?".
Hasa menjawab, "Tidak, mereka orang-orang Almak seperti kita. Hanya saja kebetulan mereka katanya menganut kepercayaan yang sama dengan ayahmu".
Hasa melanjutkan sambil menenteng beberapa karung daging domba yang dibelinya, "Tentu kamu tahu bukan, Modim? Tuan Mahzor ayahmu sangat suka berdiskusi tentang hikmah yang terkandung dalam kitab Hora'ah. Kudengar dari beliau jika para tamu dari Mizar ini orang-orang yang sangat saleh, beliau bersedia mendengar petuah dan hikmah dalam kitab suci itu dari mereka".
Aku terkejut mendengarnya dan bertanya, "Hah? Apa katamu, Hasa?".
"Tentu saja hikmah di dalam kitab suci Hora'ah, bukankah orang-orang Ahavah mempercayai Hora'ah adalah firman Tuhan yang diberikan kepada nabi Neshama?", ujar Hasa.
Aku menyahut, "Maksudku, apakah tidak berbahaya membahas kitab itu di kota ini?".
Aku cukup risau dengan kota Dammeseq ini. Sebenarnya di kota ini, orang-orang Ahavah dilarang masuk. Beruntung ayah angkatku, tuan Mahzor, memperoleh izin dari petugas censordi perbatasan. Alasannya karena beliau memang berniat untuk berdagang. Alasan yang terutama tentu berkat etnis kami juga, orang-orang Almak.
Para bangsawan dan adipati Almak memiliki kekuasaan otonom di sekitar perbatasan. Para adipati Almak ini dengan mudah memberikan surat jaminan semacam visa perlindungan kepada ayah angkatku, karena beliau membawa kami, orang-orang Almak yang menjadi karyawan rombongan dagang beliau. Trik ini cukup efektif. Banyak saudagar kaya Ahavah lainnya yang menggunakan trik ini untuk bisa masuk negeri Terra Alba ini. Tentu negeri ini juga senang dapat pendapatan pajak dan sewa lahan untuk berdagang dari kami.
Aku pribadi tidak suka sistem di negeri Terra Alba ini, tapi apa boleh buat. Peraturan di negeri ini memang kacau, tapi bukankah dimana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung. Sejumlah teroris Ahavah seringkali terlibat dalam penjarahan di negeri ini, sehingga para pendatang Ahavah di kota-kota besar seperti Dammeseq, Senneh, Mishshiru, dan termasuk kota suci Urislem dan Raqmu sangat dibatasi. Stigma yang diskriminatif ini memiliki dasar hukum yang kuat menurut Kaisar Phocus, penguasa di Terra Alba ini.
"Aku tidak tahu, Modim. Kurasa aman-aman saja. Mungkin mereka juga pedagang seperti ayahmu", jawab Hasa. Aku cuma mengangkat rendah bahuku saja. Aku tidak begitu tahu urusan ayah angkatku.
Hasa bertanya kepadaku, "Ngomong-ngomong Modim, kamu tahu bawang Persae ini orang-orang jual di harga 40 chrysos, padahal kemarin masih 32 chrysos".
"Ah, tidak kau, tidak Samir, tidak Dhahab, tidak Mirdin, tidak orang-orang Naziru, semua membicarakan bawang Persae", ketusku.
Hasa berkata sambil tertawa, "Sudah kuduga, orang sebijak dirimu tidak akan tertarik membicarakan harga bawang. Memang, orang-orang terlalu duniawi saat ini. Harga sutra dan dupa akan selalu menjadi daya tarik bagi mereka, sedangkan kita, harga kafan pun tidak lebih layak untuk kita bicarakan".
Aku pun tersenyum, "Bukankah perang antara Terra Alba dengan Persae sudah lama selesai?".
Hasa berkata dengan raut mata tajam, "Tampaknya lebih dari sekedar perang".
"Apa maksudmu?", tanyaku kepada Hasa.
"K-I-A-M-A-T, Modim!",
Aku terdiam. Memang benar, aku dengar dari banyak orang bercerita bahwa kiamat sudah dekat. Apalagi kudengar kota ini sering terjadi gempa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Tapi wajah serius Hasa membuatku sedikit merinding. Aku bertanya padanya, "Apakah harga bawang naik merupakan tanda-tanda kiamat juga, Hasa?".
Seketika Hasa tertawa dan menepuk bahuku, "Hahahaa.. Kamu takut, Modim??".
Baru saja bulu kudukku berdiri, sekarang basah karena kesal. Aku sontak menarik rambutnya dan berteriak di telinga Hasa, "Tuhan tidak akan memikirkan harga bawang!". Tapi Hasa kembali menjewer telingaku dan berteriak, "Tapi Dia memikirkan nasib kita!".
Aneh memang, padahal kulihat para saudagar Persae yang berdagang di kota Dammeseq ini tenang-tenang saja. Kenapa harga bawang mereka naik? Kebanyakan dari mereka yang heboh dengan kenaikan harga bawang Persae adalah orang-orang Naziru di negeri ini. "Kehebohan itu tentu membuat bawang ikut heboh, bukan?", ucapku dalam hati.
Aku menasehati Hasa, "Wahai Hasa. Coba kamu ke arah barat altar alun-alun Dammeseq. Di sana ada banyak saudagar Persae dekat kebun Zaitun. Mungkin kamu dapat harga miring jika tawar-menawar langsung dengan pedagang bawang mereka".
Mata Hasa mendelik ke atas, "Kenapa aku tidak kepikiran ya?". Lalu dia tersenyum dan menarik pelana keledainya. Dia berkata kepadaku sambil menjentikkan jarinya, "Aku akan ke sana!".
"Bagus, daripada kamu mengeluh terus", jawabku.
Hasa bertanya balik, "Lantas kamu mau kemana?".
"Tidak kemana-mana, ayah memintaku mengawasi toko manik-manik ini selama seminggu terakhir. Kalau penjualan menurun minggu ini, maka minggu depan lapak manik-manik ini mau ditutup".
Hasa mengangkat barang-barang belanjaannya ke atas keledainya sambil berkata, "Aku ingin sekali sepertimu, cukup menjadi pengelola. Aku sudah bosan sebenarnya jadi kuli biasa seperti ini".
Aku pun tersenyum kepadanya, "Kita, manusia, tidak akan pernah tahu akan dimana kita lahir dan akan menjadi apa. Aku pun tidak tahu jika aku akan terlahir sebagai anak yatim dan diasuh oleh ayahku, begitu pula aku tidak tahu aku akan menjadi pengelola toko karena kemurahan hati dan kepercayaan ayahku kepadaku".
Hasa menatapku cukup serius dan aku melanjutkan,
"Seandainya aku bisa memilih nasib, akan kupilih menjadi petani bawang Persae, akan kupanen banyak supaya kamu tidak mengeluhkan harganya".
Hasa pun tersenyum, "Berarti musim di Persae sedang paceklik".
"Barangkali", kataku.
Sambil menarik keledainya, Hasa berkata kepadaku, "Seandainya orang-orang di dunia ini bijak seperti kamu, Modim. Tentu dunia akan lebih baik daripada sekedar tawar-menawar harga bawang".
Entahlah. Apakah aku sebegitu bijak baginya?
Diubah oleh tyrodinthor 20-05-2020 03:17
0